-Akan Kulakukan-

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T semi M (?)

Pair : GenmaKaka

Warning : Sho-ai, Angst ringan, Semi Canon, Typo(s), dsb.

Chapter 4

-Obat-

.

.

.

.

.

Gelap

Sepi

Dingin

Jadi begini rasanya .. Tahanan eh ? ini bahkan lebih sunyi dari yang mereka bayangkan. Meski cuaca kelewat cerah di luar sana sanggup membuat para insan menyipitkan mata demi melindungi indra penglihat dari cahaya yang menusuk, kejadiannya berbanding terbalik dengan yang dialami dua tahanan ini.

Dalam sel yang mereka tempati keadaannya begitu gelap, hanya membiarkan sedikit sinar mentari masuk lewat sela-sela jendela jeruji besi berukuran kecil. Cukup untuk sekedar memberi sedikit kehangatan dalam ruangan. Dan untuk penerangan, terdapat dua lilin yang terletak bersebrangan dari sel mereka.

Yah .. walau berada dalam satu ruangan sunyi seperti itu, namun tak ada seorang pun diantara mereka yang berniat membuka pembicaraan.

Shiranui Genma dan Ojima Yasu. Dua orang yang baru genap sehari ini resmi menjadi tahanan Konoha. Dari pada mengisi kekosongan suara dengan sebatas obrolan, mereka lebih memilih diam sambil duduk bersandar pada dinding dan memejamkan mata, lalu hanyut terbawa pikiran masing-masing.

Namun perhatian keduanya teralih saat mendengar suara langkah kaki yang kian jelas. Yasu membuka mata tanpa merubah posisi duduknya, menunggu dengan sabar si pemilik suara pijakan. Tapi tidak dengan pria di sampingnya, orang itu bersikap tak acuh, mempertahankan posisi nyamannya hingga suara tadi berhenti.

"Kakashi-san ?"

Genma terbelalak

"Konnichiwa"

Orang yang dipanggil 'Kakashi' tersenyum. Genma yang akhirnya menaruh perhatian karena terkejut, melempar tatapan bingung kepada orang itu. "Mau apa kau ?"

"Aku membawa makan siang, kau tidak lihat ?" Jawab Kakashi sembari menunjuk meja dorong kecil dengan dua rak berisi makanan diatasnya.

"Memang kemana penjaga yang biasanya mengantar makanan ?"

"Mereka ada.."

Hening, Yasu dan Genma saling pandang. Jawaban singkat Kakashi dapat dikategorikan tidak masuk akal sebenarnya. Namun kemudain mereka melihat Kakashi mengeluarkan sebuah kunci.

Dan membuka pintu sel.

Mau apa dia ?

"Oi, untuk apa kau repot-repot membukanya ? Para petugas itu biasanya memasukan makanan lewat ba―"

KRIETT

Oh Tuhan..

Genma tak percaya, Kakashi masuk kedalam sel dan merapatkan pintunya seperti semula. Apa dia sehat? Sungguh, siapa orang yang sampai masuk kedalam sel hanya untuk mengantar makanan ? Genma tidak habis pikir dengan temannya itu. "―baka."

"Huh ?"

"Kau bodoh. "

"Kakashi-san, kau tidak perlu sampai masuk hanya untuk mengantar makan siang."

"Hh.. Karena penjaga itu bilang, kalian tidak boleh keluar. Jadi biar aku saja yang masuk."

"..."

"..."

Dia ..

Aneh

"Hh~" Akhirnya para tahanan itu pasrah, terbesit sebuah kalimat 'aku tidak mengerti' dalam benak mereka.

Tak mempedulikan pikirannya, Genma dan Yasu menerima makanan yang diberikan Kakashi. Si pria berambut perak kemudian mengambil posisi duduk disamping Genma. "Bagaimana proses pemeriksaannya ?"

Yasu menelan makanannya sebelum menjawab. "Tidak terlalu buruk, Kakashi-san. Tadinya kupikir aku akan disiksa seperti saat Iwa."

"Kau berlebihan Yasu-san" Kakashi tersenyum. "Konoha tidak sekejam yang kau bayangkan"

"Ha`i" Anggukan mantap Yasu beserta senyumannya membuat Kakashi tersenyum kembali.

"Ah, benar. Aku tidak terkejut Ibiki menjadi kepala penginterogasi, dari dulu dia memang terkenal sadis."

"Hm ? Ibiki ya .. Dia tidak sadis, hanya saja jutsu yang ia gunakan untuk memaksa para tawanan berbicara memang sedikit kejam. Kau ditangani olehnya ?" Kakashi menoleh, memandang ekspresi datar Genma yang terlihat tak tertarik dengan makanannya.

"Seharusnya.. Ya. Tapi tidak jadi karena dia langsung dijemput beberapa anbu."

Mengernyit, Kakashi manaikan satu alis. "Kau kecewa ?"

"Yah .." Genma menarik seringai. "Sebenarnya aku sudah menyiapkan diri kalau-kalau dia berniat menyiksaku. Ternyata tidak jadi."

"Masokis"

"Aku tidak masokis, Kakashi."

"Ya ya terserah.

Beberapa saat kembali terisi tanpa suara, tidak sesunyi sebelumnya, kali ini terdengar dentingan sendok dan piring yang tak sengaja bersentuhan saat dua diantara tiga orang dalam sel itu berusaha menghabiskan santapan mereka. Sedangkan satu orang lainnya mulai terbawa suasana dingin hingga tubuhnya reflek bersandar pada dinding dan memejamkan mata.

Namun ada yang aneh dari suara yang tertangkap indera pendengaran Kakashi.

"Gochicousama desu~ heee Genma-kun, kenapa kau malah mengaduk-ngaduk makananmu ?"

Kakashi membuka mata. Begitu ya .. Lelaki berambut coklat itu ternyata hanya memainkan makanannya sejak tadi, mengaduk-ngaduk hingga terdengar suara desis sendok yang menggesek permukaan piring.

"Tak apa, Yasu."

"Habiskan makananmu. Kau tidak suka dengan menunya ? Atau tidak enak ? Nanti biar kusuruh koki itu untuk menggantinya."

"Tidak, bukan begitu Kakashi. Aku hanya sedang tidak nafsu makan"

"Apa yang kau pikirkan ?"

"Hanya .. masalah kecil. Sudahlah. Memang kau sendiri sudah makan ? Dan bukankah seharusnya kau tidak disini ?"

"Hh.. dasar. Belum, aku tidak selera. Dan soal itu .. aku cuma ingin menjauh sejenak dari gulungan-gulungan membosankan dikantor hokage."

Genma terkekeh mendengarnya, sedangkan Yasu hanya tersenyum. Genma kemudian menyingkirkan makanannya, lalu meluruskan kedua kaki dan menepuk pelan pahanya. "Kemarilah Kakashi"

Si empunya nama tak bergeming. Ia tahu temannya sedang berusaha membuatnya rileks dari berbagai hal yang dilaluinya. Sesaat dia ingin membaringkan tubuh disana, dengan kaki Genma sebagai bantalan kepalanya. Ia ingin, rasanya sangat nyaman berada disana.

Tapi tidak mungkin ia melakukan itu dihadapan orang lain kan ?

Matanya melirik singkat kearah Yasu, dan dibalas dengan senyum manisnya. Seakan mengerti dengan sikap diam si calon Rokudaime, Yasu pun berkata "Ah .. jangan hiraukan aku, Kakashi-san. Aku sudah terbiasa dengan hal itu."

Hal itu ?

Hal .. maksudnya .. ?

Ck, sial. Kakashi sadar. Pasti yang dimaksud pria bersurai hijau itu adalah kedekatannya dengan Genma. Sudah berapa kali Yasu melihat 'hal itu' seperti yang ia bilang ? Jangan-jangan .. Yasu juga melihat saat dikediamannya kemarin, saat ia tidur dengan tangan Genma mengusap lembut kepalanya ..

Tidak mungkin.

Wajah Kakashi memerah akan hal itu, menampilkan rona tipis dari balik masker. Untuk sesaat ia merasa bersyukur karena kain hitam yang tak pernah absen menutupi wajahnya, sanggup menyembunyikan raut dengan guratan merah disana.

Tapi, tetap saja. Genma dapat membaca semuanya dengan jelas.

"Hah .. dasar." Dengan satu tangan, Genma menarik paksa Kakashi hingga teman lamanya itu terbaring ke pangkuannya. Kakashi yang tidak siap menerima perlakuan tadi langsung memberontak, mencoba bangkit. Namun Genma kembali menariknya.

Tak menyerah, Kakashi mencoba lagi, hingga beberapa kali. Dan beberapa kali juga lah Genma menariknya lagi. Sampai akhirnya Kakashi menyerah.

"Aku tahu kau tidak tidur semalam. Jadi diamlah."

"Cih .."

Yasu tertawa maklum.

.

.

.

"Nona Tsunade, anda sudah membaca laporan dari Kakashi-san ?"

Shizune, wanita cantik yang memiliki surai dan netra hitam senada, saat ini sedang menundukkan diri bersama Hokage kelima dan berkas-berkasnya yang setia.

Ia duduk di sisi kiri Tsunade, menggendong Tonton―babi kecil peliharaannya―dengan tangan kiri, dan tangan kanannya sibuk melingkari rangkaian kata pada file yang menumpuk. Yah .. mengevaluasi laporan misi, bentuk usahanya dalam meringankan beban Tsunade, walau rasanya mustahil.

"Ya. Aku sudah membacanya."

Fokus Shizune beralih. Pulpen yang dipegangnya rela ia letakan hanya demi mendapatkan jawaban. "Jadi .. ?"

"Dasar" Sang Hokage melepas karbon dioksida dengan malas. "Seperti sudah direncanakan saja"

"Ah.. anda benar." Shizune tertawa canggung.

"Tunggu apa lagi ? Jemput dia sekarang. Setidaknya aku punya alasan sementara untuk mengabaikan kertas-kertas ini."

"Ha'i"

.

.

.

"Genma ?"

"Hmm ?"

"Dia benar-benar sudah tidur ?"

Sekilas, orang yang ditanya melirik pria disampingnya. Yasu sudah terlelap, berbaring dengan tangan kiri sebagai penyangga kepalanya. Genma tidak aneh melihat hal itu, Yasu memang selalu merasa kantuk setelah makan.

Walau sebenarnya tidak bagus untuk langsung tidur, tapi Genma tidak melarangnya. Karena walau dilarang pun tetap tidak berpengaruh. Toh Yasu juga selalu menjaga kesehatannya, jadi Genma tidak terlalu merasa khawatir.

"Sudah."

"Cepat sekali" Mata Kakashi terpejam. Ia merasa ada tangan hangat mengelus lembut kepalanya. Lagi. Untuk kesekian kalinya. Dan ia tidak keberatan Genma melakukan itu. Karena ia juga menginginkanya.

Meski ia sadar, bukan hal yang wajar bagi dua lelaki melakukan hal sedekat ini. Sedalam, atau sejauh apapun ikatan sahabat, tetap saja hal itu dianggap aneh. Karena tak semua orang mengerti dengan hal itu. Yang mereka tahu hanyalah cara memandang buruk, mencap negatif hal-hal diluar normal, dan sebisa mungkin menjauhi orang-orang yang dianggap sebagai 'virus' bagi hidup mereka. Tanpa berusaha mengerti atau bahkan mencari tahu keadaan yang sebenarnya.

Ia dan Genma bersahabat. Tapi dirinya tak merasakan hal buruk saat berada sedekat ini dengan Genma. Justru ia merasa nyaman, ia senang. Masa bodoh dengan tanggapan orang di luar sana.

"Jadi .. apa yang membuatmu tidak tidur ?" Pria berambut coklat itu menunduk, memandang wajah damai Kakashi yang terbaring di pangkuannya.

"Hanya .. beberapa perintah mengerikan dari Hokage."

"Begitu ?" Genma menyeringai. "Kalau boleh aku tahu, perintah macam apa yang kau anggap 'mengerikan' itu, Rokudaime-sama ?" Tangannya masih membelai surai perak Kakashi, sebelum jounin itu memiringkan posisi tidurnya membelakangi Genma.

Si mantan pembunuh bayaran terkekeh. Ia tahu Kakashi tidak akan suka dengan sebutan 'Rokudaime' atau semacamnya. Terlebih jika hal itu dimaksudkan untuk menggodanya.

"Katakan lagi dan aku tak akan menemuimu."

Genma terkekeh lagi. "Ha'i ha'i .. aku minta maaf."

Kakashi menghela napas berat. "Sepertinya aku tidak pantas menjadi Hokage."

"Kau― apa ? Jangan bercanda kakashi, tidak ada orang yang―"

"Kau tidak mengerti."

Genma bungkam

"A-aku .. tidak seharusnya menjadi Hokage. Meski kau atau bahkan setiap orang didunia ini berkata tidak ada orang yang lebih baik selain diriku, aku tetap tidak layak." Matanya sendu, kelam. Kilasan memori itu terulang kembali di kepalanya. Begitu dalam dirinya merasuki klise lama. Jelas. Sangat jelas. Membawanya jatuh dalam kenangan yang menikam jiwanya sekali lagi.

"Sebutan 'Hokage' sama sekali tidak cocok untukku. Kau tahu kan ? Alat perang seperti aku ini akan selamanya menjadi alat. Menjadi senjata hidup yang tak kenal belas kasihan. Dan itu akan lebih baik untukku ketimbang merangkul rakyat dengan tangan hangat."

Benci. Genma kesal melihat Kakashi seperti ini. Dua netra yang sangat ia suka, kini berubah menjadi pilu. Bahkan ia juga ikut merasakannya. Hatinya seakan tersayat mendengar perkataan Kakashi.

"Aku tak seperti Tobirama-sama yang berkharisma. Atau Hiruzen-sama yang berhati lembut. Atau Minato-sensei―" Kakashi tercekat. Hatinya terasa perih ketika nama sang guru tak sengaja meluncur dari mulutnya. Ia tak sanggup melanjutkan.

Sejak dulu, Genma mengerti satu hal. Tak ada yang membuat Kakashi menjadi seperti ini selain bayangan dulu. Ingatan mengerikan tentang kematian teman-temannya. Dan ia, dengan cara apapun akan merubah Kakashi seperti biasanya. Menarik orang yang sangat ia sayangi hingga terbebas dari belenggu masa lalu.

Perlahan Genma mengulurkan tangan. Membalikkan tubuh penerus hokage itu seperti semula, lalu menatap matanya. "Kau pikir―" Satu tangannya mengelus puncak kepala Kakashi.

"―Obito akan senang dengan ucapanmu itu ?"

Tak ada jawaban

Dengan sabar tangan kiri Genma terus membelai helaian perak Kakashi. Membenamkan tangan pada surai halus itu dan membiarkan beberapa menyelinap keluar lewat sela-sela jarinya. "Coba bayangkan bagaimana reaksi bocah Uchiha itu jika mendengar ucapanmu tadi."

Lagi, Kakashi menutup mata. Mengingat Obito bukan hal yang menyenangkan baginya. Tapi ia mencoba, karena semuanya sudah berubah. Obito .. telah menaruh kepercayaan terbesarnya. Keinginan. Juga beban ambisi. Untuk dirinya seorang Hatake Kakashi.

"Kau tahu ? Aku sudah meminta Naruto untuk menjadi Hokage"

"Maksudku sebagai Hokage ketujuh"

"Dan kau, yang akan menjadi Hokage keenam, kakashi"

Genma mengulas senyum. Menyambut Kakashi yang telah membuka mata lagi. "Kau bisa sampai di titik ini karena masa lalumu. Dan langkah yang akan kau ambil, itu menentukan masa depanmu. Kau tidak ingin mengecewakan teman-temanmu 'kan, Kakashi ?"

Indah. Perasaan hangat menyeruak kedalam hati Kakashi. Melihat senyuman Genma .. dan kalimatnya yang menenangkan .. membuat Kakashi tersentuh. Ia mengerti. Tak ada yang perlu ditakutkan. Obito, Rin, juga sensei .. mereka percaya padanya.

"Kau bisa, Kakashi. Dan Kau tahu itu. Kita semua tahu."

Ya, tu benar. Kini Kakashi yakin untuk mengambil langkah ini. Dan itu berkat Genma. Genma yang akan selalu ada untuknya, seperti dulu.

Menatap wajah lelaki diatasnya, sorot kelamnya melunak. Pandangan sendu jounin itu berubah menjadi tenang. Ia lega. Dan dengan senyuman lembutnya, terucap sebuah kata yang membuat Genma ikut mengukir senyum. "Terima kasih, Genma."

"Syukurlah .."

Kakashi tertawa kecil. "Ma .. kurasa aku akan benar-benar berusaha mulai sekarang."

"Tentu saja. Kau itu harus bekerja keras karena mejadi Hokage tidak semudah yang―"

"Bukan itu"

Genma mengerjap.

"Yang kumaksud adalah .. berusaha mengeluarkanmu dari sini. Ah, pria yang sedang tidur disana juga." Kakashi melirik singkat kearah Yasu yang sedang terbang ke alam mimpi. Lalu menatap Genma lagi, kali ini dengan lengkungan senyum tulus― dari balik masker tentunya.

Tak bereaksi, Genma hanya balas menatap Kakashi. Ia bingung harus mengatakan apa. Sejujurnya ia ingin. Ia ingin bisa menghirup udara segar diluar sana dengan suasana Konoha yang memukau. Juga dengan berada di sisi Kakashi .. hidupnya akan terasa lengkap.

Tapi .. haruskah ? Kakashi akan menjadi Hokage. Orang nomor satu di Konoha yang menjadi panutan dan junjungan setiap warganya. Mana mungkin ia tega menjadi pengganggu untuk temannya itu. Berusaha mengeluarkan dirinya dari penjara, tentunya akan menimbulkan rumor-rumor di kalangan masyarakat. Jangan karena alasan 'teman lama', calon Hokage dapat membebaskan tahanan sesukanya. Memuakkan. Ia tidak mau berita buruk itu beredar.

Dan juga, jika memang Kakashi dapat membebaskannya dari sini, satu-satunya keinginan untuk berada di sisi pria berambut silver itu sepertinya mustahil. Seorang mantan napi apalagi bekas pembunuh bayaran, tidak pantas untuk dekat dengan Hokage `kan ? Jadi lebih baik ia tetap berada di sini dari pada bergantung pada Kakashi dan membuatnya berurusan dengan Godaime.

"Itu tidak perlu. Jangan mengotori tanganmu untuk mengeluarkanku dari sini."

"Tidak bisa. Keputusanku sudah bulat dan kau harus setuju."

"A.." Dasar kakashi. Satu-satunya orang yang dapat membuat Genma bahagia memang keras kepala. Terlebih jika itu urusan yang menyangkut tentang dirinya. Ah .. rasanya ia semakin sayang pada orang ini. "Hh.. aku tidak ingin merepotkanmu, Kakashi. Tapi perlu kau ingat, jangan memaksakan diri. Aku baik-baik saja disini."

Senyum teduh mengembang di wajah Kakashi. "Bersabarlah ..."

Beberapa saat mereka saling pandang dan hanya mengulum senyum. Sampai Kakashi mulai terpejam lagi. Sakit kepalanya mulai kambuh. Entah mengapa sejak kepulangannya ke Konoha kepalanya sering berdenyut sakit. Hingga ia rela menelan beberapa butir asprin demi meredakan nyeri di kepalanya. Padahal obat adalah poin kedua dari daftar yang paling ia hindari setelah rumah sakit.

Hari ini―tepatnya siang ini― ia merasa kepalanya membaik. Jadi ia putuskan untuk berhenti meminum obat itu. Lagi pula persediaan aspirinnya sudah habis, dan ia benar-benar malas untuk sekedar mampir ke apotek. Aroma obat sangat tidak bersahabat dengan hidungnya.

Dan sekarang, sakit di kepalanya malah terasa kembali.

"Kau kenapa ?"

Kakashi tersentak. Matanya terbuka dan melihat Genma memasang raut khawatir. Sial. Apa sejelas itu ? Ia sudah berusaha menahan rasa sakitnya, tapi kenapa Genma dapat mengetahui itu ?

"Kau baik-baik saja ? Kakashi ?"

"... ya" Kakashi bangkit, bersandar pada dinding. Sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa sakit di kepalanya itu―

"Kau mau jujur atau aku akan memakimu sekarang ?"

―yang sialnya gagal dilakukan.

"Hah.. yare yare! Aku butuh aspirin"

"As..pirin ?" Mata Genma melebar. "Hey, sudah berapa butir yang kau telan ?! Katakan! Ck, baka! Jadi kau mulai beralih ke obat-obatan ? Begitu ? Saat kepalamu sakit itu tandanya kau butuh istirahat, bodoh! Jangan pikir obat adalah jalan satu-satunya untukmu, ck!"

"Sudah jujur pun tetap dimaki"

"Jawab."

"Hh.. Enam butir. Dua saat baru sampai dirumah, dua saat sore, dan dua sebelum tidur."

Genma tersentak lagi.

"Aku tidak bisa tidur. Sama sekali. Jangan salahkan aku, sakit kepala itu benar-benar menyiksa."

Hati Genma sakit mendengarnya. Kakashi yang ia tahu .. tidak akan sampai begini. Ini sudah berlebihan untuk batas seorang Kakashi, karena ia tahu temannya itu sangat anti terhadap obat. Sebenarnya hal apa yang mampu membuat orang jenius seperti Kakashi sampai rela melakukan hal yang dihindarinya ?

"Kashi.."

Aura mencekam mengitari sekeliling Genma. Membuat Kakashi sedikit ngeri. Ia tahu benar apa yang akan terjadi jika keadaannya sudah begini. Di antaranya..

"A-apa ?"

.. telinganya akan berdarah karena Genma tanpa ampun memarahinya.

Atau..

"Bagian mana yang sakit ?"

.. Genma akan puasa bicara padanya hingga beberapa minggu.

"Di-sini" Dengan perasaan was-was Kakashi menyentuh area kepalanya yang terasa sakit. Seraya menyiapkan diri takut-takut Genma akan segera meledak atau mengucap kata 'jangan ganggu aku hingga beberapa minggu'. Astaga, kepalanya makin sakit memikirkan itu.

"Migrain"

Kakashi mengangguk kecil.

"Sou"

Ini dia, Kakashi memejamkan mata, menunggu kelanjutan kata itu. Tapi ..

Ia tak mendengar apa-apa. Tidak, sama sekali tidak. Namun ia merasa ada sebuah tangan menyentuh tengkuknya, lalu menariknya pelan.

Kakashi bingung, ia ingin membuka mata namun sesaat kemudian sesuatu membuatnya terkejut.

Genma mengecup kepalanya.

"Cepat sembuh"

Kakashi terbelalak.

"Setelah ini kau harus pulang dan istirahat. Yang kau butuhkan bukan obat, kau tahu itu `kan ?"

Ia .. tidak salah dengar `kan ? Bukan makian ataupun ungkapan sadis yang ia dapat, melainkan sebuah nasihat, nasihat yang tersirat kekhawatiran di dalamnya.

Dan juga .. Genma mengecup kepalanya. Me-nge-cup kepalanya. Tepat di sisi kiri area kepalanya yang terasa sakit. Bagian yang ia tunjuk saat Genma bertanya tentang letak sakit yang menyerangnya.

Juga yang membuat ia semakin terkejut, rasa nyeri itu hilang begitu saja setelah Genma mencium kepalanya. Ia tidak mengerti. Ini .. aneh. Bagai sebuah kiat yang mengulur keajaiban dan menarik rasa sakit disana.

Perasaan terkejut dan bingung bercampur jadi satu. Ia menatap Genma penuh tanya, ditambah rasa bersalah karena telah membuat pria itu cemas. Menundukkan kepala sebagai bentuk penyesalan, Kakashi memberanikan diri setelah menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. "Maaf.."

Namun jawaban dari Genma hanyalah tawa kecil yang membuat wajah tampan itu semakin menawan. Dan itu sukses membuat Kakashi tersipu, menciptakan reflek untuk mengalihkan pandangan dari pria didepannya.

Genma menyeringai. "Simpan permintaan maafmu itu, Kakashi. Aku tidak membutuhkannya. Yang ku ingin, jangan memaksakan diri lagi, ok ?"

Kakashi mengangkat kepalanya, menatap dua netra berpendar karamel yang tak redup dalam kegelapan. Dengan satu anggukan, Kakashi memberi senyum. Senyum atas kebahagiaan dirinya memiliki orang seperti Genma. "Kau bisa percaya padaku"

"Aku tahu." Genma tersenyum senang. Tanpa sadar satu tangannya meraih puncak kepala Kakashi, dan meletakkannya disana. Merasakan lembutnya helaian perak yang teramat indah itu menyentuh permukaan tangannya.

Namun ia segera sadar. Ia merasa takut dan agak canggung dengan apa yang ia lakukan. Tapi melihat respon Kakashi yang tidak menolak― seperti biasa―, ia membuang napas lega.

Genma mengacak rambut Kakashi seraya menarik senyum. Kakashi ikut tersenyum dengan perlakuan Genma. Meski agak aneh memang, tapi walau bagaimana pun ia merasa nyaman. Yah .. sebenarnya ia juga bingung, ia sungguh tak dapat menolak segala sentuhan dari Genma.

"A-ano.. maaf mengganggu waktu kalian, Kakashi-kun, Genma-san .."

DEG

"Aku.. akan kembali lagi nanti. Sekali lagi maaf, permisi"

Kakashi dan Genma mematung. Tangan yang sedang asyik mengacak rambut Kakashi ditarik oleh si pemilik dengan kikuk. Menyisakan atmosfer hening dalam ruangan itu.

Genma melihat si 'pengganggu' kini sedang membungkukkan diri sebagai permintaan maafnya. Ia juga melihat rona merah pada kedua pipi itu saat orang itu kembali menegakkan punggung dan berjalan keluar dengan canggung. Sampai Kakashi memanggilnya.

"Tunggu, Shizune!"

Ah, itu dia. Shizune ya .. gadis manis berambut hitam sebahu yang ia temui di ruangan hokage kemarin. Kalau tidak salah, Shizune itu seumuran dengannya `kan ?

Ia masih memperhatikan, ketika wanita itu berhenti saat namanya dipanggil oleh Kakashi. Sangat jelas terlihat wajahnya yang merah padam menampakkan mimik malu diatas rata-rata. Siapa suruh mengganggu waktu orang seenaknya eh ?

"Ada masalah apa ? Hokage tidak menyuruhmu datang tanpa alasan 'kan ?"

"Ettooo .. sebenarnya, a-aku kesini untuk mencarimu, Kakashi-kun. Nona Tsunade memintamu untuk menemuinya."

"Souka." Kakashi bangkit, berjalan menuju pintu sel.

Genma mengangkat satu alis.

"Bagaimana kau tahu aku ada disini ?" Keluar dari sel, pria berambut silver itu mengunci pintunya seperti semula. Berdiri di depan jeruji besi dan berhadapan dengan shizune.

Tetap diam, Genma tidak terlalu menyimak pembicaraan dua orang itu. Ia justru menyandarkan diri lagi pada dinding sambil memperhatikan mereka. 'Tidak penting', pikirnya.

"Aku sudah mencarimu kemana-mana, bahkan sampai ke area latihan. Tapi ternyata kau ada disini."

Lagi, Genma melihat bagaimana gadis itu mengungkapkan dirinya, mengerucutkan bibir tanda 'kesal'nya terhadap Kakashi. Agak jengkel melihatnya, melihat orang yang ia cintai sedang berbicara dengan seorang wanita ekspresif. Dan lagi pula, Shizune juga cantik. Ia harus waspada karena gadis itu bisa menjadi alasan kehancuran hatinya nanti. Jangan sampai Kakashi memiliki perasaan pada shizune. Tidak tidak.

Yah .. Tapi, itu hanya salah satu kemungkinan dari ribuan hal yang dapat terjadi. Jadi ia masih memiliki kesempatan untuk meraih kakashi-nya, mungkin.

"Ma .. aku sedang tidak enak badan. Kira-kira apa yang akan disampaikan Godaime ?"

"Nanti kau juga akan tahu sendiri, huh."

Hey, sikap macam apa itu ? Kenapa Shizune kelihatan akrab sekali dengan Kakashi ? Tidak mungkin. Mereka .. mereka hanya teman. Ya, hanya teman.

"Ah .. kuharap itu bukan perintah soal 'pendamping'ku."

Tunggu, apa ?

Pendamping ?

'Perintah' soal 'pendamping' Kakashi ?

"Ah..haha, aku tidak dapat memastikannya Kakashi-kun"

Genma melihat gadis itu terkekeh lalu mulai melangkahkan kakinya keluar, membimbing Kakashi agar tidak memperlambat tugasnya. Kami-sama .. apa yang mereka bicarakan ?

Pendamping apa ?

"Besok aku kesini lagi―atau nanti malam. Habiskan makananmu, Genma. Jaa."

"A.. um" Ia tersadar dari lamunannya, kemudian menanggapi dengan anggukan kecil. Kakashi sudah pergi, bersama Shizune yang menjemputnya untuk menghadap Hokage. Ia menghela napas berat.

Teka-teki dalam otaknya kembali meracau. Sebuah persoalan yang menimbulkan tanda tanya besar.

Pendamping itu... Shizune kah ?

Oh, bagus. Kepalanya sakit sekarang.

Dimana aspirinnya ?

.

.

.

"Hokage-sama"

"Kenapa lama sekali ?!"

"Ma-maaf. Aku tak dapat menemukannya dimanapun, ternyata Kakashi-kun sedang―"

"Sudahlah, kau boleh istirahat, Shizune."

"Ehh, hh.. baiklah."

Tsunade diam, menunggu hingga Shizune meninggalkan ruangannya. Ia tidak tega jika harus menahan gadis itu lebih lama, walaupun itu sudah menjadi tugasnya sebagai tangan kanan Hokage.

"Kakashi, mengenai laporanmu .. aku sudah memutuskan."

"Ha'i"

"Mereka berdua memang sudah seharusnya mendapatkan ini."

Kakashi menunggu..

"Shiranui Genma dan Ojima Yasu akan dibebaskan setelah proses pemeriksaan selesai."

"Hh.." Ia menghela napas. Tadinya Kakashi berniat meminta secara langsung masalah pembebasan temannya. Tapi syukurlah..

"Tapi ada satu hal"

"Satu hal ?"

"Setelah bebas, mereka tidak boleh langsung dibiarkan membaur dan menjadi warga Konoha begitu saja. Mereka harus dikarantina dan diawasi oleh seseorang secara dekat. Karena bagaimanapun, dua orang itu adalah mantan pembunuh bayaran. Aku tidak ingin meresahkan masyarakat akan kehadiran Genma dan Yasu di tengah-tengah mereka."

Souka. Kakashi setuju dengan hal itu.

"Dan kau yang akan mengawasi mereka"

Kakashi terbelalak.

"A-aku ?"

"Tentu saja. Kau satu-satunya orang yang mengenal Genma dengan baik. Kau keberatan ?"

"Tidak"

"Bagus. Lalu bagaimana dengan yang satunya ?"

"Sebenarnya .. aku tidak masalah. Tapi sepertinya Raidou lebih tepat dalam hal ini. Mereka cukup akrab."

"Baiklah, beritahu dia."

"Ha'i. Ada hal lain ?"

"Untuk hari ini cukup. "

"Baiklah, aku permisi."

Kakashi membalikkan tubuh dari hadapan Godaime dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu. Ia agak bingung sang Hokage langsung menerima usulannya mengenai Raidou yang akan mengawasi Yasu. Tapi, yah .. itu tidak penting. Ia harus bersyukur karena Tsunade tidak menanyakan perihal 'pendamping' yang ia perintahkan.

"Jangan jadikan alasan misi ini untuk melupakan masalah pendamping itu. Aku menunggu."

Setidaknya sampai Hokage menghentikan gerak tangannya pada gagang pintu dan membuatnya berbalik hanya untuk mengatakan "Ha'i"

Ia rasa Tsunade punya bakat menjadi paranormal.

.

.

.

Di sebuah apartemen yang bisa dibilang cukup besar, seorang lelaki bergaya rambut spike coklat sedang berusaha menghangatkan diri dalam kamarnya yang nyaman. Selimut tebal telah menunggunya dengan setia diatas ranjang, ditemani dua guling kesayangannya.

Kakinya bergerak terburu demi menerjang keatas kasur secepat mungkin. Tak sabar ingin merilekskan ototnya setelah seharian membantu dikantor hokage. Tapi keinginannya itu harus ia urungkan ketika mendengar suara ketukan di pintu apartemennya.

Ia berdecak. Kesal karena waktu istirahatnya mesti diundur. Lagi pula ini sudah malam, jika bukan hal penting, ia bersumpah akan mengusir tamunya tanpa basa-basi lagi.

"K-Kakashi-san.."

Mungkin, ia harus menelan sumpahnya kali ini.

"Aku .. mengganggu ?"

Ya! "Tidak, silahkan masuk."

Raidou membuka pintunya lebih lebar, memberi jalan untuk Kakashi memasuki rumah sewaannya. Ia mempersilahkan Kakashi duduk sementara ia mempersiapkan teh hangat untuk tamunya.

"Silahkan diminum, Kakashi-san" Pria dengan bekas luka diwajahnya, duduk berhadapan dengan Kakashi. Menunggu hal penting apa yang akan disampaikan si calon hokage ini.

"Terima kasih" Kakashi tersenyum, ia mulai tergoda dengan sajian hangat yang disuguhkan sang tuan rumah. "Aku hanya ingin menyampaikan misi dari Godaime. Maaf merepotkan."

"Ah .. tidak apa." Padahal dalam hati ia ingin merutuki langsung orang didepannya.

Satu tangan Kakashi meraih gagang cangkir lalu mengangkatnya, menggunakan tangannya yang lain sebagai alas cangkir yang sekarang terletak dipangkuanya. "Sebelumnya .." ia mulai bicara. "apa kau keberatan jika seseorang tinggal bersamamu disini ?"

Dua alis Raidou saling bertaut. "Misi ?"

"Tentu"

Raidou menimbang-nimbang. Jika itu adalah misi ia tidak keberatan. Tapi kenapa harus dia ? Lalu bagaimana jika orang yang akan ikut mendiami kediamannya adalah salah satu orang penting di Konoha ? Tunggu, kalau begitu orang tersebut berarti sedang menyamar bukannya ? Sampai harus repot-repot membaur dan tinggal di apartemennya. Ia tidak tahu bagaimana harus memperlakukan orang itu.

Hey hey! Tidak! Kenapa pikirannya jadi tidak rasional begini ?

"Tapi apartemenku tidak terlalu besar dan .."

"Tidak masalah"

Raidou bungkam. Kini ia tahu Kakashi sudah menetapkannya. Alasan apapun yang ia berikan tidak akan mempengaruhi apapun lagi. Ia menghela napas. "Baiklah .."

"Bagus" Kakashi tersenyum lagi, kemudian menyesap teh yang sejak tadi menunggu untuk mengaliri tenggorokannya.

Raidou mengamati Kakashi dengan seksama. Mengamati bagaimana pria seumurannya itu meminum teh begitu cepat. Menyisakan seperempat bagian cairan itu dan meletakkannya kembali di meja. Heh.. seperti biasa.

"Baiklah" Kakashi berdiri, membuat Raidou sedikit terkejut. "Kalau begitu aku pulang. Terima kasih untuk tehnya"

Dan Raidou benar-benar terkejut sekarang. Jadi Kakashi datang malam-malam mengganggu waktu santainya hanya untuk menanyakan itu ?

Ia berdiri, mengikuti Kakashi yang melangkah keluar sampai depan pintu.

"Dua hari lagi kau ikut aku. Kau harus menjemputnya, karena Yasu tidak bisa menemukan rumahmu sendirian." Tersenyum, Kakashi pergi meninggal Yasu yang masih mencerna perkataanya. "Jaa"

Tunggu dulu

Yasu ? Jemput ? Rumah ?

"Kakashi-san! Ka-kashi.. "

Terlambat, orang yang ia panggil telah pergi jauh dari tempatnya berdiri.

Jadi orang yang akan tinggal bersamanya adalah Yasu. Jika benar .. berarti Kakashi telah menulis laporan kemarin dengan sangat baik. Hingga Tsunade-sama menyetujui usulannya itu.

Ia tahu Kakashi sangat menginginkan Genma bisa kembali ke Konoha seperti dulu dan melepaskan status 'kriminal' miliknya. Awalnya ia ragu bagaimana Kakashi akan melakukannya, tapi setelah calon hokage itu bilang "Aku akan berkata apa adanya, dan itu cukup", ia percaya. Karena apapun itu, jika ia sudah berkata sedemikian yakin, itu berarti semua akan berjalan baik.

Kini Raidou mengerti. Dalam kamarnya yang nyaman sekarang pikirannya dapat lebih jernih. 'Berkata apa adanya' ya .. Benar. Menolong Kakashi sama saja menolong calon Hokage. Dan itu berarti sama saja menolong Konoha dari kekacauan.

Sebuah penghargaan,

Atau rasa kasihan ?

Pikirannya mulai kabur memikirkan itu. Rasa kantuk datang begitu cepat dan tanpa sadar ia mulai hanyut ke alam mimpi.

Mimpi tentang Yasu mungkin ?

.

.

.

.

.

TBC

YOSHHH! Chapter 4! YUHU~

Buat para readers dan reviewers yang udah ngikutin sampai chapter 4 ini Ara ucapin terima kasih banyak. Maaf kalo masih banyak typo atau tata bahasa yang ganjel dimata :D Ara gak terlalu pandai dalam menulis kaya gini :'D

Dan makasih juga untuk zuky-san yang gak bosen bantu Ara buat koreksi ni cerita. Arigatou~

Jangan lupa reviewnya ya minna :)

-Aoi Hasegawa

[Type text]