-Akan Kulakukan-

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T semi M (?)

Pair : GenmaKaka

Warning : Sho-ai, Angst ringan, Semi Canon, Typo(s), dsb.

Chapter 5

-Sakit-

.

.

.

.

.

TING

.

TING

.

TING

.

TING-TING-TING-TING-TING

"Haahhhhh... berisik! Hentikan Kaka―"

"Apa ?"

"..."

"..."

"..."

"Err.. Genma?"

"Masuk. Biar kuobati."

Menghela napas, adalah hal pertama yang dilakukan oleh seorang calon Hokage setelah mendapat 'perintah mutlak' dari teman baiknya. Perintah ? Teman baik ? Kenapa pula ia harus menurut pada orang yang bahkan statusnya saja adalah sebagai tahanan Konoha ?

Hey, dia adalah Hatake Kakashi, shinobi ternama yang tak lama lagi akan memikul beban desa dengan gelar Rokudaime di punggungnya.

Jadi .. Teman baiknya itu pasti orang yang sangat berharga, sampai-sampai ia tak bisa untuk menolak perintah, permintaan, atau apapun itu dalam bentuk lainnya dari si sahabat. Yah, termasuk kontak fisik.

Kakashi pun tak mengerti.

Akhirnya sang Hatake menuruti kemauan temannya, Genma. Ia masuk ke dalam sel, duduk di samping pria itu sambil berusaha memikirkan kata yang pas agar Genma tak memarahinya. Ia tahu Genma khawatir, Genma akan selalu khawatir jika Kakashi melukai dirinya sendiri.

Mungkin ini memang salahnya, Genma sampai terbangun di hari yang bahkan terlalu dini untuk dibilang fajar. Sebenarnya lelaki bersurai perak itu tak bermaksud demikian, ia hanya bosan menunggu pagi datang lebih dari tiga jam. Entah kenapa akhir-akhir ini dirinya tak dapat tidur dengan tenang. Jika biasanya ia tidur lima sampai enam jam ketika malam, sekarang berkurang jauh menjadi dua hingga tiga jam saja.

Dan kali ini, di pagi buta yang masih begitu jauh untuk seekor ayam membangunkan warga dengan suara kokoknya, Kakashi sudah berada di samping Genma setelah.. yah, menyentil tiang sel berulang kali hingga berdenting nyaring. Wajar jika Genma terbangun.

Memilih diam, lelaki bermarga Shiranui meraih tangan Kakashi yang terlihat sedikit membiru. Wajahnya menampilkan raut kesal ketika melihat hasil dari ulah kurang kerjaan temannya itu. Ia tak suka, ia benci jika Kakashi terluka. Terutama jika si calon Hokage yang melakukannya sendiri. Seinci saja kulit mulus Kakashi tergores setelah menjalani misi, ia sudah merasa kesal sampai-sampai ingin menghabisi musuh yang dengan berani melukai tubuh orang yang ia kasihi tersebut.

Namun sekarang Kakashi malah dengan sengaja menyakiti dirinya sendiri. Siapa yang tidak kesal ?

"Itu akan segera membaik, tidak perlu diobati." Kakashi membuka suara. Ia mengerti Genma khawatir, dan walaupun jarinya terasa sakit sekarang, tapi ia tak merasa butuh penanganan medis.

"Ck-" Melihat kearah jam dinding, Genma mengernyit. "Jarimu mungkin akan segera membaik, tapi kepalamu tidak. Ini pukul 03.00 pagi, Ka-ka-shi."

Mata Kakashi melirik ke arah yang sama. Benar, ia tak seharusnya membangunkan Genma, walau sebenarnya ia tak bermaksud begitu. Lelaki bernetra kelabu gelap itu tertawa kaku menyembunnyikan rasa bersalahnya. "Ah.. Maaf, kau jadi terbangun"

"Baka. Bukan itu."

"Huh ?"

Genma menghela napas. Agak jengkel rasanya. Tidak kah Kakashi sadar kalau dirinya sedang khawatir ? Dan orang itu malah meminta maaf karena telah membangunkannya di hari sepagi i―

―tunggu, Kakashi bangun tengah malam lagi ?

Genma terbelalak, tangan Kakashi yang dipegangnya terlepas begitu saja.

"Kakashi, berapa jam kau tidur ? Kau― apa insomnia mu kambuh ? Kepalamu sakit ? Atau mimpi itu datang lagi ? Kalau kau sudah berada disini pukul tiga pagi dengan pakaian lengkap seperti itu― jangan bilang kau tidak tidur semalaman. Kau tahu, aku tidak akan diam saja jika kau berani menyentuh aspirin lagi."

"A.." Kakashi sweet drop. Sejak kapan lelaki yang dekat dengannya ini bisa bicara panjang lebar begitu ? Hah .. ia baru ingat. Genma tak bisa untuk tidak diam jika sedang khawatir padanya. Tapi itu bukan hal buruk, pikirnya. Jika ada orang yang cemas sampai separah itu, berarti dia menyayangimu, iya 'kan?

Kakashi tertawa kecil memikirkannya, yang tanpa sadar membuat Genma menampakkan raut kesal.

"Aku tidak bercanda, Kakashi"

Mendengarnya, Kakashi tertawa lagi. "Yare yare, aku baik-baik saja Genma. Kau tak perlu khawatir."

Genma mengangkat satu alis, tanda herannya akan sikap Kakashi. Apanya yang lucu ? "Kau tidak bohong 'kan ?"

"Tidak"

"Lalu kenapa kau tertawa ?"

"Eh.." Kakashi tertawa kaku sambil menggaruk kepala belakangnya. "Bukan apa-apa."

Sang pria dengan rambut coklat menyipitkan mata. Ia tak percaya pada Kakashi, namun pikirannya itu segera ia kesampingkan saat teringat alasannya menyuruh Kakashi masuk. "Bagaimana cara mengobati memar ?" Genma meraih tangan teman lamanya lalu memperhatikan warna kebiruan yang bersarang di jemari lelaki itu.

"Hh.. sudahlah Genma, aku seorang jounin, ingat ? Memar seperti itu bukan masalah." Kakashi menarik tangannya dari Genma, kemudian membaringkan tubuh dengan menyilangkan tangan di belakang kepalanya sebagai bantalan. "Lagi pula―" Ia menguap.

Genma mengerjap. Kakashi mengantuk ?

"―lebih baik kau tidur. Ini masih terlalu pagi, tahanan."

Dan Genma sukses dibuat jengkel. Ditambah Kakashi menyebutkan kata 'tahanan' dengan nada mengejek. Memangnya siapa yang sudah membangunkannya sepagi ini huh?

Namun sekarang ia melihat Kakashi mulai memejamkan mata. Sepertinya si Hatake itu mengantuk. Melihat orang yang disayanginya tidur seperti itu membuat rasa kesalnya sejak awal perlahan menjadi runtuh, berganti dengan ketenangan yang seakan berkata "Dia akan baik-baik saja". Hingga bibirnya mengukir senyum. Semoga Kakashi memang baik-baik saja ..

"Bangunkan aku pukul 08.00, aku tak mau Raidou kebingungan mencariku."

"Mencarimu ? Untuk apa ?"

"Menjemputmu"

Genma mengerjap.

"Ah, juga Yasu"

"..."

Kakashi bilang apa tadi ?

"Kakashi, apa maksud―"

Suara dengkuran halus bervolume rendah membuat Genma menggantungkan ucapannya. Ia berdecak, namun akhirnya tersenyum.

Kakashi sudah tidur. Disini. Di sampingnya.

Senang sekali rasanya. Ia tahu Kakashi tidak bisa tidur semalaman di rumahnya, tapi disini, di dalam sebuah sel gelap yang dingin, Kakashi tertidur lelap dengan mudah di sampingnya.

Ikut merebahkan diri, Genma mengecup puncak kepala Kakashi lembut. "Oyasumi". Lalu berusaha sekali lagi untuk tenggelam ke dunia mimpi.

Tanpa menyadari satu pria lain disana sedang tertawa kecil memperhatikan sikap mereka.

.

.

.

Pukul 08.00. Di kantor Hokage.

Seorang jounin bersurai coklat spike dengan bekas luka di wajah, tengah berdiri tegap di hadapan sang Hokage, bermaksud menanyakan suatu hal yang mengganggunya selama dua hari ini. Penyebabnya adalah Kakashi. Kakashi yang tanpa dosa mendatangi rumahnya malam-malam dan menyampaikan sebuah misi yang masih rancu, menggantung, dan membuat pria yang biasa dipanggil 'Raidou' itu penasaran setengah mati.

Bukan ia tak mengerti, ia hanya ingin menyelaraskan logikanya dengan ucapan si Hatake itu kepada Godaime. Raidou tak mau jika asumsinya selama dua hari ini ternyata salah kaprah. Dasar Kakashi, kenapa ninja jenius seperti dia suka sekali membuat orang jengkel ?

"Hokage-sama"

"Ada apa, Raidou ? Mana Kakashi ?"

Pria bermarga Namiashi itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ano.. itu dia. Aku tidak tahu dimana Kakashi-san, tapi aku ingin menanyakan susuatu yang berkaitan dengannya."

"Huh ? Tentang misi kalian ?" Tsunade menghela napas, kesal. Harusnya 'kan si Hatake itu sudah menjelaskan semuanya pada Raidou. Apa saja yang dilakukannya eh? "Hah.. jadi dia belum memberitahumu."

"Hm." Raidou mengangguk. "Dua hari lalu Kakashi-san datang dan bertanya apa aku keberatan jika ada seseorang yang akan tinggal bersamaku di apartemen, lalu ia bilang hari ini aku harus ikut dengannya. Kukira itu ada hubungannya dengan Yasu-san― ma-maksudku Ojima Yasu" Dirinya merasa canggung ketika mengucap nama Yasu, entah kenapa.. "Karena Kakashi-san juga menyebutkan namanya sebelum pergi."

Setelah mendengar penjelasan Raidou, Tsunade menghela napas lagi. Ia kemudian membuka laci meja kerjanya dan mengambil dua lembar kertas. Tanpa basa-basi lagi sang Hokage kelima memberikan dua kertas itu kepada Raidou yang langsung menerimanya dengan tatapan heran.

"Form laporan ?"

"Ya. Cari Kakashi dan berikan satu kertas itu padanya. Kau akan menjemput Yasu dan mengawasinya sampai masa karantina berakhir. Kuharap kalian berdua dapat berteman baik. Mengerti ?"

Otak Raidou memproses cepat perintah Godaime, secepat munculnya pertanyaan yang datang begitu saja dalam otaknya. Jadi Yasu dan Genma sudah dibebaskan ? Kenapa cepat sekali ? Lalu dimana ia dapat menemukan Kakashi ? "Ha`i, tapi―"

"SHIZUNE, BAWAKAN AKU TEH PANAS!"

"Baiiikkkkk~"

"Hokage-sama tapi―"

"Kau akan mendapat jawabannya dari Kakashi nanti. Sekarang pergi dan biarkan aku memulai pekerjaanku!"

"B-baik.." Raidou mendecak dalam hati, walau sebenarnya ia takut pada bentakkan Tsunade barusan. Tapi ia tetap merasa jengkel, bahkan Hokage sekali pun tak menjelaskan misinya sampai tuntas hanya karena―

karena tumpukan file yang terlihat mengerikan ..

Hah .. wajar saja Hokage bersikap seperti tadi.

Tapi dimana ia bisa menemukan Kakashi ?

Tidak adakah orang di dunia ini yang dapat membantunya sampai jelas ?

"Raidou-san ?"

Sang pria tersentak. Sepanjang jalan di koridor Hokage ini ia hanya melangkah sambil melamun, hingga ia disapa oleh seorang wanita yang sudah tak asing lagi baginya. Wanita dengan paras manis, dilengkapi seutas senyum yang membuat wajah itu terlihat semakin menawan saat bibir mungilnya menyapa.

"Shizune" Raidou membalas senyum, kemudian menatap dua mata besar yang terfokus pada dua mutiara hitam yang seakan berkilau. Sangat indah. Pria mana yang tidak terpikat melihat suguhan Tuhan yang memukau seperti itu ?

"Untuk Tsunade-sama ?" Ia menunjuk pada cangkir kosong dan seteko kecil teh panas yang dialasi nampan alumunium. Suguhan 'perintah' dari sang Hokage. Ia juga masih ingat betapa kencangnya teriakan Tsunade dari dalam ruangan agar dibawakan hidangan kesukannya di pagi hari.

Shizune mengangguk, lalu melirik kearah tangan kanan Raidou yang menggenggam dua lembar kertas laporan. Wanita itu bisa menebak― "Pasti untuk Kakashi-kun." Ia terkikik geli.

Sang Namiashi menggaruk canggung tengkuknya, agak heran bagaimana wanita yang ditemuinya ini bisa tahu. Tapi itu bukan hal aneh, mengingat Shizune adalah tangan kanan Tsunade sendiri. "Ah .. benar. Tapi, aku tidak tahu dimana dia." Ia tertawa kikuk.

"Jika kau sudah mencari di rumah dan juga area latihan, kusarankan kau langsung pergi ke tempat Genma-san dan Yasu-san." Sebuah senyum kembali tertera diwajahnya.

Raidou menaikkan satu alis, bingung. "Maksudmu .. Penjara ?"

"Yup. Baiklah, Raidou-san, aku duluan. Tsunade-sama bisa memarahiku nanti. Jaa~"

"... jaa"

Jounin itu termangu. Kakashi .. di jam sepagi ini ? Mustahil. Bahkan seisi Konoha tahu si calon Hokage bersurai perak itu tidak pernah untuk tidak absen dalam hal 'terlambat'. Mana mungkin ia sudah berada disana. Dan juga .. untuk apa pula ?

"Argghhh .. kenapa semua ini malah menimbulkan pertanyaan baru ?"

.

.

.

Dalam sebuah sel gelap dan sunyi yang sebelumnya terusik oleh kegaduhan kecil dari seorang calon Hokage, kini seorang pria bersurai hijau terang tengah duduk sambil memikirkan kata-kata Kakashi. Ya, ia juga ikut terbangun saat suara dentingan nyaring menggema, tapi ia memilih untuk pura-pura tidur. Ia tidak akan rela mengabaikan momen untuk memperhatikan kelakuan dua temannya dalam diam.

Namun sekarang, ia tidak bisa untuk tidak menanyakan perihal ucapan Kakashi kepada Genma. Yah walaupun nanti Genma akan tahu kalau ia mendengar seluruh pecakapan mereka tadi pagi. Ia terkekeh.

"Genma-kun, kau tidak membangunkan Kakashi? Sekarang sudah jam 08.00 lewat."

Yang ditanya, lelaki berparas tampan dengan dua bola mata coklat senada dengan rambutnya, bangun dari posisinya semula untuk duduk dan menatap pria yang sedang tidur. "Biar saja, dia tidak tidur semalaman ka..." Hingga ia sadar sesuatu. "Hey! Aku tahu kau bangun semalam!"

Anak bermarga Ojima itu tertawa pelan menanggapi Genma. "Maaf .. aku tidak ingin mengganggu kalian berdua"

Mata Genma membulat. 'Kalian berdua' ? Berarti benar .. sejak kapan dia bangun ? "A-apa saja yang― kau dengar ?"

"Semuanya. Aku juga tahu saat kau mengucapkan 'Oyasumi' dan ..." Yasu sengaja menggantung kalimatnya, menunggu reaksi Genma yang sudah terlihat ketakutan.

"Oke oke .. baiklah, kumohon jangan beritahu dia tentang apapun itu. Yasu, kumohon mengertilah―"

"Ha`i ha`i Genma-kun, kau tenang saja, aku tidak akan memberitahukan hal ini pada Kakashi-san."

Wajah Genma tak yakin, tapi ia mencoba percaya. Semoga saja rekannya ini bisa menjaga rahasia. "Kau .. sungguh ?"

"Hm" Yasu mengangguk pasti, Genma bernapas lega. "Tapi jawab dulu pertanyaanku, apa kita akan dibebaskan hari ini ?"

"Soal itu .. aku tidak tahu. Tapi sepertinya begitu."

"Tapi kenapa ?"

"Entahlah" Genma mengangkat bahu singkat.

"Hh .. begitu ya. Tapi kurasa itu bukan hal buruk, kau jadi bisa dengan bebas mendekati Kakashi-san, ya kan ?"

"Hey, kalian. Kenapa tidak membangunkanku ? Jam berapa sekarang ?"

DEG

Kakashi .. sudah bangun ?

"Jam .. delapan lewat.. lima belas .. Kakashi-san." Yasu yang menjawab. Ucapnya begitu saja, masih antara percaya dan tak percaya.

Sedangkan Genma masih mematung dengan wajahnya yang benar-benar pucat. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya lemas. Kami-sama .. semoga Kakashi tidak mendengar pembicaraan mereka.

Tapi bagaimana kalau Kakashi memang mendengarnya ? Apa yang harus ia lakukan ? Butiran keringat mulai membasahi pelipisnya.

"Genma, kenapa kau tidak membangunkanku ?"

"A-aku.."

"Ah, Genma-kun lupa, Kakashi-san. Dia juga belum lama bangun kok, iya `kan Genma-kun ?"

Bohong. "A-ah .. iya. Maafkan aku"

"Hh.. ya sudahlah." Kakashi bangun, meregangkan ototnya sebentar, lalu berdiri dan berjalan menuju pintu sel. "Aku pergi dulu," Ia membuka pintu jeruji itu kemudian melangkah keluar. "tapi sepertinya orang yang mencariku sudah tiba"

Genma dan Yasu saling pandang.

"Kakashi-sannn .. ternyata benar kau ada disini. Ah, ohayou gozaimasu Genma, Yasu-san"

Raidou datang.

Yasu membalas "Ohayou, Raidou-san" sedangkan Genma hanya mengangguk.

"Tidak ada 'selamat pagi' untukku ?" Jounin berambut perak mengambil mimik sedih yang dibuat-buat. Menyebabkan wajah Raidou merengut kesal luar biasa. Namun tetap mengiyakan, meski masih ditekuk sebal.

"Ohayou. Kakashi-san kau keterlaluan. Kau membuat kepalaku dipenuhi pertanyaan tanpa jawaban yang jelas hingga pagi ini."

Tanpa beban calon Hokage yang dikenal denga nama 'Kakashi' ini menggaruk kepala belakangnya sambil tertawa kecil. "Eh .. ahaha. Yare-yare, gomen na.."

Twitch

"Kakashi-sannnn .. Ayolah, bahkan Hokage ke-lima pun tidak menjelaskannya sampai tuntas. Jika bukan Shizune yang memberitahuku tentang keberadaanmu saat ini mungkin aku sudah pingsan karena kelelahan mengelilingi desa. Lagi pula―" Raidou melirik pintu sel yang sedikit terbuka. "―apa yang kau lakukan disini ? Sepagi ini ? Kalau kau tidak kesiangan bukankah lebih baik kau menjemputku dan menjelaskan misi kita hari ini ?"

Wow

Raidou meracau

"Hentikan Raidou. Kau dengar? Kakashi sudah minta maaf. Aku yakin seisi Konoha tahu kebiasaan Kakashi yang sering terlambat. Dan hari ini, dia baru saja bangun beberapa menit sebelum kau datang. Jadi tarik kata-katamu itu."

Hening. Tak ada yang berani bersuara. Siapa sangka Raidou akan mengumpat sepanjang itu ? Dan siapa sangka juga kalau Genma yang akan menanggapinya dengan se-menyeramkan itu ? Atau mungkin Raidou sudah lupa, sikap over protective Genma pada Kakashi sudah terjadi sejak dulu.

Seharusnya ia tidak mengomel, atau lebih tepatnya protes, pada Kakashi di depan sahabat lamanya tersebut. Karena jika Genma sudah marah, tak ada yang dapat meredakan emosinya. Hanya Kakashi yang bisa, itupun kalau dia ada di desa.

"A-ano.. gomen.. aku.."

"Maa maa .. Sudahlah. Raidou, aku benar-benar minta maaf, aku tidak menyangka kau sampai kesusahan seperti ini. Dan Genma, maaf melibatkanmu."

Raidou bernapas lega, untung Kakashi cepat menengahi. Ia mengangguk dengan ekspresi bersalah, sementara Genma tak merespon.

"Kurasa sebaiknya kita menghadap Tsunade-sama untuk mengambil―"

"Tidak perlu, kakashi-san. Tadi tepat pukul delapan aku sudah menemuinya untuk menanyakan kejelasan misi hari ini. Tapi dia malah memberikanku kertas laporan ini.." Raidou memotong dengan penekanan pada kata 'tepat' dan 'delapan'. Menyindir `eh ? Satu tangannya mengeluarkan dua lembar kertas serupa yang kini sudah digulung rapi olehnya, lalu memberikan satu untuk Kakashi. "...dan ia juga bilang untuk menanyakan sisanya padamu."

Kakashi mengambil kertas itu. "Hmm, souka. Baiklah .."

"Jadi ?"

"Jadi kita langsung membawa dua orang ini menghadap Tsunade-sama. Kau akan mengawasi Yasu hingga masa karantina selesai dan aku akan mengurus Genma."

Dua pria yang disebutkan namanya terkejut.

"Sama seperti yang aku pikirkan" Raidou mengangguk-angguk.

"Kami merasa di-anak-tiri-kan" Sindir Genma. Sebenarnya ia senang, namun Kakashi tidak memberitahukan apapun padanya selama dua hari dirinya di bui. Tapi ya sudahlah ..

Seperti biasa, Kakashi akan tertawa kecil seperti merasa bersalah― padahal tidak. "Maaf, nanti di rumah aku akan menjelaskannya." Lelaki bermata abu gelap itu membuka pintu sel dan menunggu sahabat serta teman barunya untuk keluar.

"Tidak perlu. Aku sudah tahu tanpa harus kau menjelaskannya." Genma keluar, diikuti Yasu dari belakang.

Setelah keduanya keluar, Kakashi menutup dan mengunci pintu jeruji dengan cekatan. Nampak sekali ia bersemangat. Wajah tertutup masker hitam miliknya pun terlihat berseri.

.

.

.

"Sampai kapan masa karantina ini berlangsung ?"

"Tak lama, Raidou. Karena aku rasa warga Konoha dapat menerima mereka dengan cepat."

"Ha`i"

"Kalian dibubarkan"

Raidou dan Yasu keluar dari ruang kerja Hokage, hanya berdua, karena Kakashi tahu betul kalau dirinya akan ditahan beberapa saat oleh sang Godaime. Dan Genma ? tentu saja menunggu Kakashi.

"Ada yang ingin kubicarakan." Tsunade memulai.

"Aku tahu" Namun berikutnya Kakashi melihat Genma beranjak keluar dari ruangan itu. "Genma, kau mau kemana ? Tetaplah disini."

Pria bersurai coklat sebahu menatap Kakashi bingung. "Aku menunggu di luar saja, urusan negara tak seharusnya aku ketahui `kan ?"

"Tidak, kau tetap disini. Aku memaksa."

Genma heran .. 'bersikeras sekali dia ?'

Namun ia segera mengganti ekspresi bingungnya dengan sebuah seringai. "Hoo.. jadi kau sudah bisa memaksa 'eh ?"

"Ya. Dan tidak usah mengalihkan pembicaraan. Aku ingin kau menemaniku disini"

"Kenapa ?"

"Karena aku ingin"

"Berikan alasan lebih lo―"

BRAAKKKK

"..."

"Sudah? Apa perdebatan kalian sudah selesai ?" Tsunade, memasang senyum termanisnya yang― ampuh membuat dua orang dihadapannya bergidik ketakutan. Setelah menyebabkan serangan jantung mendadak serta latihan mental setelahnya, bahkan Sai dan Yamato yang kebetulan lewat depan ruangan itu juga ikut terkena 'kejutan tiba-tiba' dari sang Hokage ke-lima.

"H-ha`i"

"Bagus. Genma, kau boleh ikut mendengar, jangan buat Kakashi memulai perdebatan lagi"

Pria yang disebutkan namanya mengangguk.

"Kakashi, aku ingin mendengar laporanmu tentang perintah para tetua itu."

"Ah, ano .. sebenarnya aku― masih mencari"

Genma memperhatikan. Topik ini mulai mencuri perhatiannya.

"Kau bercanda ? Sejak kau kembali ke desa para tetua kolot itu terus menerorku masalah pendamping dirimu. Kenapa mereka tidak langsung menemuimu saja dan menghadapi jawaban menyebalkanmu itu dengan telinga mereka sendiri ? Ck."

Dua mata coklat karamel Genma terbelalak, dirinya seakan tersambar sengatan listrik. Sakit, panas, namun tak sanggup mengucap. Apa dia bilang ? Pendamping ? Jadi yang didengarnya saat itu benar ? Kakashi akan ...

"Maafkan aku, tapi bukankah aku memiliki banyak waktu ?"

"Memang, itulah kenapa aku kesal. Mereka bilang jika kau tak kunjung memberi perkembangan.. mereka yang akan menentukan."

Tidak mungkin. Kau pasti bercanda.

"Kakashi, banyak wanita dari klan Hyuuga yang layak menjadi pendampingmu."

Tidak boleh, Kakashi .. Kakashi tidak akan setuju `kan ?

"Setidaknya temui mereka, kau mungkin akan menemukan pilihanmu."

Jangan...

"Baiklah, akan ku usahakan."

Oh Kami .. Kenapa Kakashi begitu menurut ? Dan kenapa lelaki itu masih belum sadar kalau aku menyukainya ?

"Jangan buat aku menunggu. Kalian boleh pulang."

.

.

.

Wusshh~

Atmosfer dingin berhembus cukup kencang. Awan-awan kelabu datang dan saling berkumpul membentuk gumpalan kapas besar yang siap menjatuhkan jutaan rintik air tanpa pamrih. Menghantam aspal, tanah, pepohonan, juga atap-atap rumah yang di huni para makhluk berwujud sempurna.

Tanpa balas, memberi kehidupan untuk setiap jiwa di bumi. Tulus, menyalurkan kesejukan walau enggan didekati. Itulah hujan. Meski para insan berkata hujan sebagai rahmat, meski mereka selalu merindukan datangnya tetesan air dari langit di saat kemarau, dan meski banyak sekali orang yang mengklaim dirinya mencintai hujan.. mereka tetap menjauhi. Mereka berlindung, berteduh .. layaknya hujan yang mereka elu-elukan adalah hal yang harus dihindari.

Shiranui Genma, bahkan merasa dirinya lebih rendah dari pemikirannya tentang hujan saat ini. Cuaca dengan intensitas gelap berlebih, menusuk suasana hatinya lebih dalam lagi. Lihatlah para orang-orang itu .. mereka yang memandang dengan tatapan 'menjijikkan'. Menatap sinis, benci, layaknya ia adalah musuh.

Belum lagi jika mengingat hal tadi ...

'Kakashi, banyak wanita dari klan Hyuuga yang layak menjadi pendampingmu'

Ugh, sial.

Sakit sekali rasanya.

Tidak, ia tak peduli dengan para manusia yang mencibirnya sepanjang jalan, atau berbisik saat dirinya melewati rute yang ramai akan penduduk Konoha. Namun pria di sampingnya ini .. pria yang dicintainya sejak lama sekali, tak lama lagi akan memiliki pendamping. Dan ia harus senang untuk hal itu.

Ha.. menyebalkan.

"Genma, kau tak apa ?" Dua iris abu gelap itu menatap Genma penuh cemas. "Jangan khawatir, mereka akan mengerti. Tenanglah .."

Sakit. Ya, seperti ini rasanya. Mungkin sampai kapan pun lelaki pujaannya ini tak akan menyadari. Namun ia tetap membalas, membalas ke-ambigu-an Kakashi dengan senyuman.

"Lebih baik kita bergegas, sepertinya hujan tak dapat menunggu lebih lama"

Genma mengangguk, lalu melangkah lebih cepat mengekor di belakang Kakashi.

.

"Duduklah, anggap rumahmu sendiri. Dan untuk kamarmu, sebenarnya aku sudah menyiapkannya sejak hari pertama kau datang. Jadi kau bisa beristirahat .."

Pria bersurai coklat mengangkat satu alisnya. "Huh? Secepat itu? Tak usah repot-repot Kakashi, aku bisa tidur dimana saja" Ia kemudian duduk di salah satu sofa dan merebahkan tubuhnya disana. "Ahh.."

"Aku sudah menyiapkannya dan kau bilang begitu ? Hh.. kau jahat sekali" Pura-pura terluka. Jurus ampuh Kakashi yang tak pernah gagal ia lakukan. Bukan tak pernah gagal untuk membuat orang-orang percaya, melainkan tak pernah gagal untuk menciptakan reaksi jengah tiap orang yang ia beri 'jurus'nya itu.

Tapi tidak dengan Genma. Justru candaan Kakashi ini membuat hatinya yang sebelumnya merasa perih, sekarang jadi sedikit melunak. Lucu sekali, kenapa bisa secepat itu berubah ? "Aku memang jahat." Sebuah seringai muncul di wajahnya.

"Maa .. Kalau begitu kau tidur di luar. Aku tidak mau ada orang 'jahat' di rumahku."

Genma yang sedang berbaring menengok kearah Kakashi, dan begitu pula sebaliknya. Mereka saling tatap. Melempar pandang satu sama lain seakan mereka sedang ikut kontes tatap-menatap. Hingga beberapa saat, lalu pecah dengan tawa keduanya.

"Ahaha.. itu tidak lucu, baka. Lagi pula sejak kapan kau jadi melankolis begitu ?"

"Aku tidak melankolis, dan jika tidak lucu lalu kenapa kau tertawa?" Kakashi mendengus.

Sahabat lamanya itu tertawa lagi.

Lambat laun suasana menjadi hening. Diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Kakashi merasa senang karena dapat kembali berkumpul dengan Genma. Namun otaknya juga tak dapat memungkiri beratnya beban perintah yang wajib ia laksanakan. Jika dirinya sudah menemukan orang yang akan menjadi pendampingnya nanti, sudah dipastikan ia akan dipersulit dengan hal-hal yang menyebalkan. Dan jika sudah begitu tak ada lagi waktu untuk sekedar bersenda gurau dengan orang yang kini berbaring dihadapannya.

Lalu untuk apa ia susah-susah membawa Genma kembali ke Konoha dan mengeluarkannya dari penjara kalau tidak bisa bersama seperti dulu ?

Sedangkan Genma, pikirannya kembali kalut memikirkan hal yang sama, namun tak persis. Sampai kapan pun perasaannya tidak akan berubah. Ia akan tetap dan selalu mencintai Kakashi. Namun jika takdir harus memisahkan status persahabatan mereka karena perihal 'pendamping' itu, Genma tak dapat menyangkal. Ia harus dan harus rela Kakashi memiliki pendamping. Karena itu yang terbaik ..

Yah .. mungkin ia dapat membantunya menemukan orang yang cocok ? Sakit memang, tapi jika itu untuk Kakashi, ia tak apa.

"Kakashi, aku ingin bertanya. Mungkin sedikit pribadi, tapi.. kalau boleh aku tahu.."

"Masalah pendamping ?"

Shiranui itu terkejut, namun ia segera bangkit dan bersikap biasa. Tubuhnya ia sandarkan pada sofa, lalu menatap Kakashi yang duduk bersebrangan dengannya. "Kau benar-benar akan ke tempat para Hyuuga itu?"

Kakashi menutup matanya. Tak ingin menjawab sedikit pun. Namun ia tahu Genma tak suka diacuhkan. "Mau tak mau."

"Apa itu.. harus? Maksudku, aku bisa membantu jika tak ada wanita Hyuuga yang―"

"Aku lebih suka bersama denganmu dari pada para wanita itu."

Genma terbelalak. Ia pasti salah dengar. Ya, tak mungkin Kakashi mengatakan itu `kan ?

"Kakashi aku serius, aku bisa membantu―"

"Aku juga serius."

Mata Genma membulat tak percaya.

"Genma, sebenarnya aku tak menginginkan pendamping itu. Tapi para tetua menyebalkan terus meneror Tsunade-sama dan aku tidak tega. Tsunade-sama juga bilang aku tidak dapat dilantik menjadi Hokage berikutnya kalau aku belum memiliki pendamping." Kakashi menghela napas. "Hah.. tidak jadi Hokage pun tidak apa-apa, asal aku bisa bersamamu."

Tes

Tes

Drrrsssss

Hujan.

Ah .. sejuknya.

Ia tak sanggup berkata apa-apa lagi. Kata-kata Kakashi barusan seperti menariknya menuju kebahagiaan esok. Hanyut dalam rasa cinta mendalam seperti rintik hujan yang teramat mencintai bumi. Tapi mungkinkah ? Ia ingin, ingin membuka pintu awal dari si pemilik untuk menggenggam ikatan yang lebih erat.

Hah.. masa bodoh dengan semua itu. Intinya sekarang ia merasa bahagia, dan tak ada seorang pun yang berhak mengganggu kebahagiaannya ini.

"Aku juga"

Dan senyum tulus mengembang di wajah satu sama lain.

"Suki da"

"Apa ? Kau bilang apa tadi ? Aku tidak dengar."

"Tidak, lupakan saja"

"Aku tahu kau mengatakan sesuatu, Genma."

"Tidak, diluar hujan, mungkin hanya perasaanmu saja."

"Aku serius."

Genma menyeringai. "Aku juga serius Kakashi~"

"Ap―"

"Ahh aku ingin tidur sebentar, kamarku disana kan?" Genma berdiri, lalu berjalan memasuki kamar yang ia tunjuk tanpa menunggu jawaban dari Kakashi. Meninggalkan temannya itu sendirian yang masih diselimuti rasa penasaran sekaligus kesal.

"Aku yakin tadi dia mengatakan sesuatu." Kakashi bergumam sambil mengingat-ingat. "Tsuki? Tidak. Su.. su.. su.." Ia terbelalak. "Suki..."

Dengan cepat ia langsung berlari ke kamar Genma dengan teriakkannya yang tak biasa. "Genmaaaa katakan sekali lagi!"

.

.

.

.

.

TBC

Ahh gomen na sai, hontou gomen, Ara telat banget updatenya Dx Tapi Ara usahain untuk chapter depan gak akan setelat ini. Janji :'D

Thanks to kamizukyz yang masih setia untuk bantu ara mengoreksi fic abal ini *bungkuk2*

Ditunggu reviewnya readers-san

Keterangan :

*Tsuki : Bulan