-Akan Kulakukan-

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T semi M (?)

Pair : GenmaKaka

Warning : Sho-ai, Angst ringan, Semi Canon, Typo(s), dsb.

Chapter 6

-Tunggu apa lagi ?-

.

.

.

.

.

"Kakashi aku ingin keluar..."

"..."

"Kakashiiiii"

"Tunggu dulu"

"Ck, tunggu apa lagi?"

"..."

"Hey! Aku sudah lima hari di rumahmu dan kau masih tidak mengizinkanku keluar?!"

"Di luar hujan, bagaimana kau mau keluar Genma ?"

"Aku bukan anak kecil Kakashi! Aku harus berbaur dengan warga Konoha, ingat? Ck."

"... hh~ yare yare, setelah hujan reda kita keluar."

"Sungguh ?"

"Ya"

"Mestinya sejak lima hari lalu kau bilang begitu, baka."

.

.

.

"Irrashaimase~ ehhh? Kakashi-sama? Silahkan duduk ..."

Ichiraku Ramen. Kedai makan terlaris di Konoha yang menyajikan berbagai ramen lezat kesukaan si Pahlawan Perang Dunia Shinobi Ke empat, Uzumaki Naruto. Tak banyak yang berubah seingat Genma. Walau sudah belasan tahun ia tak pernah menapakkan kakinya di kedai ini, namun suasana dan perasaannya tetap sama― menjengkelkan.

Tidak, bukan karena ia tak menyukai ramen dan bau khasnya yang menggiurkan, bukan juga karena keadaan tempatnya yang ―kini― terpajang foto Naruto di sana-sini. Ia suka ramen, sungguh. Tapi ada satu hal yang membuatnya teguh untuk menarik diri jauh-jauh dari warung makan ini, yaitu ..

"Kakashi-sama~ mau pesan apa ?"

.. sang pelayan cantik anak tunggal si pemilik kedai.

"Kakashi saja Ayame, aku hanya warga Konoha sama sepertimu" Kakashi tersenyum, membuat matanya melengkung sempurna hingga berbentuk setengah lingkaran. Hiperbola. Dan muncul lah semburat merah di wajah perempuan yang dipanggil 'Ayame' oleh Kakashi tadi. "Seperti Genma juga.."

"Are .. Genma ? Siapa dia ?"

Yang disebutkan namanya memutar bola mata. Jengah. Sudah Genma duga Ayame akan lupa dengannya. Tapi biarlah, itu tidak penting.

"Kau .. tidak ingat Genma ?"

Ayame menggeleng kecil.

Kakashi menoleh ke arah Genma, dan menangkap perhatian lelaki itu yang juga balas menatapnya. Senbon tak bergerak, tatapan dingin Genma seolah bertanya 'Apa ?' pada Kakashi.

Si calon Hokage menaikkan satu alis, lalu menghela napas. Keras kepala sekali temannya ini. Kakashi ingin― tidak, bukan Kakashi yang mau, tapi memang sudah seharusnya, sudah semestinya Genma mengambil tindakan sendiri sebagai langkah awal untuk kembali menjadi warga Konoha seutuhnya. Bukannya Kakashi tidak mau memperkenalkan, tapi sahabatnya ini harus belajar yang namanya sosialisasi.

Alih-alih mengerti dengan sikap Kakashi, Genma menghela napas. Jika bukan untuk Kakashi... Arrghhh Genma tidak akan sudi !

"Aku Genma, Shiranui Genma. Osashiburi" Ia tersenyum kecil, diikuti Kakashi yang tersenyum puas lantaran 'perintah' kecilnya sudah terlaksana.

Tapi tunggu, wajah Ayame .. merona.. lagi ?

"Osashi― ehh? K-kau.. Kau Genma-san ? Genma-san yang itu ? Genma-san yang tak pernah lepas dari Kakashi-sama ? Genma-san yang.. yang.. yang.. Genma-san si Tokubetsu Jounin pengawal Yondaime Hokage ?"

"..."

"..."

"Ah, bisa aku pesan sekarang ? Setelah ini aku dan Genma harus ke Kantor Hokage secepatnya."

Genma bersyukur, sangat-sangat bersyukur karena Kakashi telah melindunginya dari percakapan yang diprediksi akan berujung pada berbagai pertanyaan menjengkelkan.

Tapi rasanya ada yang aneh dengan temannya itu.

"G-gomen nasai! Ka..kakashi-sama ingin pesan apa?"

"Miso ramen 2, 1 pedas. Topping naruto." Jawab Kakashi singkat.

Pria di sampingnya tercengang, namun sesaat kemudian bibirnya menarik senyum kecil. Senang. Ternyata Kakashi masih ingat ramen yang biasa mereka pesan saat dulu.

"Baik! Ano, aku minta maaf untuk yang tadi Kakashi-sama" Ujar Ayame seraya membungkuk meminta maaf, lalu cepat-cepat pergi untuk menyampaikan pesanan kepada sang ayah.

Tak lama dua ramen panas datang dan dua sahabat itu makan bersama dalam diam. Tak ada yang memulai pembicaraan, keduanya makan dengan tenang hingga sesi mengisi perut di siang hari yang agak dingin selesai.

.

.

Di perjalanan, dua lelaki sebaya itu masih setia pada sikap diam masing-masing. Genma tengah asyik mengedarkan pandangannya, mengamati Konoha yang terlihat sepi mengingat hujan baru saja berhenti. Tetes demi tetes embun terdengar membentur atap rumah, nyaring, silih berganti dengan suara langkah kaki-kaki mereka. Aroma khas tanah lembab sepeninggal hujan memenuhi rongga paru-paru. Nyaman, tapi tak begitu nyaman.

Genma melirik Kakashi sekilas, perasaannya kalut. Memang, biasanya mereka akan berdiam diri tanpa megucap apapun saat keadaan mendukung seperti sekarang. Menciptakan keheningan demi menikmati atmosfir sejuk adalah hal yang menyenangkan.

Tapi sikap diam Kakashi, entah kenapa pikirannya tidak enak sejak di kedai tadi. Diamnya bukan diam yang seperti biasa. Dingin. Tapi kenapa ? Apa yang salah ? Apa Kakashi cemburu ? Kakashi cemburu karena melihat wajah Ayame yang merona setelah 'perintah sosialisasi' itu dilakukan ? Ya. Kemungkinan besar memang begitu. Ditambah lagi Kakashi memang berubah sejak ia memperkenalkan diri.

Jadi, lelaki yang ia cintai ini sudah menemukan orang yang layak untuk dijadikan pendamping ?

Ah, tentu saja. Ayame gadis yang cantik, ramah, pintar memasak, dan yang terpenting .. dia perempuan.

Tapi Genma ingin memastikannya lagi. Harus.

"Kashi .. Ayame cantik."

"..."

"Dia tidak berubah sejak yang kuingat dulu."

"..."

"Menurutmu .. bagaimana ?"

"Bagaimana apanya ?"

"Hh .. kita sedang membicarakan Ayame, Kakashi. Dan kau tahu aku tidak memuji seseorang begitu saja."

"Lalu ?"

"Dia menyukaimu. Semua orang tahu itu. Kenapa kau tidak memillihnya saja ? Kau belum menemukan pendamping itu 'kan ?"

"..."

"Kakashi."

"Ck, bisakah kita tidak membahas wanita itu ? Kau tidak lihat ? Dia menyukaimu. Wajahnya langsung memerah setelah kau bicara padanya. Dan . ."

Genma tercengang. Prediksinya salah ?. "Tapi bukankah kau cemburu ?"

"Aku ? Cemburu ? Jangan bercanda Genma."

"Lalu kenapa sikapmu aneh sejak tadi ? Kau cemburu Kakashi, aku tidak mungkin salah."

"..."

Genma berdecak kesal, Kakashi tetap saja bungkam. Tapi ia tidak mungkin salah, tidak mungkin. Ayo berpikir Genma, berpikir.. Mungkinkah ..

Dalam sekejap netra karamel Genma membulat, memikirkan sebuah keajaiban kecil yang mungkin saja terjadi. Dan sedetik kemudian ekspresi terkejutnya langsung beubah menjadi seringai. "Kau.. cemburu padaku atau pada Ayame ?"

"..."

"..."

"Ghokh ohokk, ugh uhuk uhukk uhukkk" Kakashi terbatuk hebat.

"Kakashi ? Kakashi kau kenapa ? Hey .. Kakashiii"

"Ohokk ohokk uhukkk..."

Sepertinya pertanyaan Genma membuat Kakashi tersedak liurnya sendiri.

.

.

"Kau yakin baik-baik saja ? Aku bisa mengambilkan form itu untukmu, kau pulanglah."

Cemas, akhirnya setelah perjalanan dua lelaki tadi menuju kantor Hokage terhambat karena batuk ―lebih tepatnya tersedak― mendadak Kakashi, mereka berdua sampai di lokasi tujuan. Tapi rasa khawatir Genma terhadap pria di sampingnya ini belum juga hilang. Hey, siapa yang tidak khawatir ? tidak ada hujan tidak ada angin lalu tiba-tiba saja Kakashi, orang yang paling dicintainya, batuk hebat secara mendadak begitu ?

Dan parahnya lagi kejadian itu terjadi setelah Genma berupaya untuk mengorek sedikit kemungkinan tentang perasaan Kakashi. Sial. Bahkan ia sempat berpikir kalau Kakashi hanya berpura-pura tersedak untuk menghindar.

"A..ah, daijoubu desu. Lagipula kita sudah sampai disini. Ayo masuk."

Akhirnya Genma menurut, meski masih merasa was-was. Mereka berdua masuk dan sampai di depan ruangan Hokage, hingga dua lelaki itu melihat dua pria lainnya dari arah berlawanan yang kelihatannya― memiliki tujuan yang sama.

"Konnichiwa, Kakashi-san, Genma-kun" Yasu, pria berkaca mata dengan surai hijau terang menyapa Genma dan Kakashi dengan senyum ramahnya. Raidou yang mengawal ikut tersenyum menyapa.

Kakashi balas tersenyum, sedangkan Genma hanya mengangguk. Lima hari terasa lama juga ternyata.

"Ahh yokatta, aku kira kau sakit, Genma-kun."

Lirikan curiga Genma reflek menusuk Kakashi. "Siapa yang bilang begitu ?"

"Tidak ada, aku hanya berasumsi saja Genma-kun, karena kau belum terlihat sama sekali sejak kita dibebaskan." Pria itu tersenyum lagi.

Kena. Seringai di wajah Genma mengembang sempurna. "Tanyakan itu pada si posesif ini." Ekor matanya sarkastik menghujam Kakashi.

Gema tawa terdengar di antara mereka, minus Genma yang tetap setia pada seringainya sambil memperhatikan Kakashi. Berusaha mencari kemungkinan, lagi.

Sedangkan Kakashi, ia tertawa sambil menggaruk pelipisnya. Malu mungkin ? Akhirnya ke-empat orang tersebut sepakat untuk memasuki ruangan secara bersamaan. Sepertinya tidak apa. Lagi pula, kenapa form khusus pengawasan karantina harus Hokage yang menangani sih ?

"Form laporan?"

"Ha'i"

Kini Kakashi, Genma, Raidou dan Yasu sudah berjejer tepat di hadapan Hokage. Sepertinya mood Tsunade sedang tidak baik, batin Kakashi.

"Ini, sudah ku siapkan"

Kakashi mengambil dua lembar kertas itu lalu memberikan salah satunya pada Raidou. "Kami permisi"

"Ya. Kecuali Kakashi dan Genma, sisanya boleh pergi."

Hahhh~

Kakashi gelisah. Setelah Raidou dan Yasu benar-benar meninggalkan ruang kerja Hokage, Kakashi berharap Tsunade tidak akan mengulitinya hidup-hidup, atau setidaknya ia berharap masih memiliki sedikit tenaga untuk menulis surat wasiat jika Tsunade berniat akan menghabisinya dengan tsutenkyaku.

Maksudnya― lihat saja sekarang, cara Godaime itu menatap ―lebih tepatnya mengawasi― dua lelaki di hadapannya dengan tatapan mematikan. Mata coklatnya yang indah disipitkan begitu sinis, tajam, menyusuri inci demi inci hingga para makhluk adam itu merasa tercekik.

Keringat dingin mulai menetes dari pelipis Kakashi. Bahkan Genma, meski ini pengalaman pertama untuknya diperhatikan sekejam itu oleh sang Godaime, ia juga ikut merasakan aura membunuh beredar di sekeliling dirinya dan Kakashi. Sebenarnya ada apa ?

"Genma" Sang Hokage membuka topik.

"Ha`i"

"Kau menyukai Kakashi ?"

.

.

"Raidou-san, apa Kakashi-san dan Genma-kun akan dimarahi ?"

Raidou, menyamankan posisi duduknya di bawah salah satu pohon besar pada area latihan 3. Tubuh tegapnya disandarkan rileks bersinggungan dengan batang pohon itu. Mencari tempat kering setelah hujan memang sulit, syukurlah pohon besar ini melindungi sebagian tanah yang menjadi pijakannya. "Kenapa mereka harus dimarahi?"

"Karena.. sudah lima hari ?"

Dua buah kunai tanpa aba-aba dilesatkan Raidou dengan cepat ke arah Yasu, yang praktis dapat ditangkap si pria yang dituju dengan mudah. Namiashi muda itu tersenyum kecil. "Refleksmu bagus, aku ragu kau tidak bisa memegang senjata."

Semburat merah tipis muncul di wajah berkaca mata Yasu. Tangan kanannya menggaruk canggung belakang kepalanya yang tidak gatal. "A-ah.. itu hanya refleks." Kemungkinan besar otak Yasu melupakan pertanyaan yang diajukannya barusan. Dasar pujian tak berarti. Dan kenapa pula ia harus merasa senang ? "Aku sering berlatih dengan Genma-kun, dan yang tadi termasuk salah satu hasilnya. Meski hanya itu" Wajahnya murung seketika.

Kekehan halus meluncur santai dari mulut Raidou. "Tak apa Yasu-san. Aku akan melatihmu sampai kau bosan karena terlalu mahir nantinya, jika kau mau."

Oh bagus, Yasu benar-benar sulit mengontrol rona diwajahnya, lagi. Ia merutuk dalam hati. "Ha`i"

"Kau tau apa yang akan terjadi jika kunai-kunai itu saling bergesekan terus-menerus dengan cepat?"

Yasu mengerjap. "Tentu saja akan memercik api, dan sisi yang bergesekan akan semakin tajam."

"Itu dia. Ibaratkan Kakashi-san adalah kunai-kunai itu. Kau tahu apa yang sudah dialaminya hingga ia menjadi seperti sekarang ?"

"Hm." Yasu mengangguk kecil. "Aku tahu, Genma-kun sering menceritakannya dulu."

"Ya, syukurlah. Jadi kurasa kau tahu betapa beratnya deraan yang menimpa Kakashi-san. Tapi kau lihat ? Justru hal itu yang membuat dirinya berhasil seperti saat ini. Semakin ia berusaha melewati hari― semakin banyak cobaan yang dilaluinya― bagai percikan api, Kakashi-san akan muncul dan menyala diantara sisi-sisi gelap yang berusaha merenggutnya. Namun itu tak mudah, jika ia salah memilih jalan, percikan api yang membesar justru akan melahapnya dan membakar semuanya hingga menjadi abu."

"Apa.. dia pernah salah memilih jalan ?" Rasanya Yasu mulai mengerti alasan Genma menyayangi Kakashi, untuk melindungi.

"Hampir" Raidou tersenyum jengkel. "Si jenius menyebalkan itu pernah diam-diam menjadi bawahan Danzou. Tapi tak lama, karena kebenaran segera ia temukan dan akhirnya kembali menjadi anbu Hokage. Itu yang aku dengar."

Yasu menghela napas lega. "Hah.. yokatta"

"Tapi semua kejadian yang menimpanya membuat hati kecilnya mendingin. Semakin dingin dari sebelumnya. Ditambah kepergian Genma.." Raidou tak ingin melanjutkan kalimat itu. "Tapi kemudian ia kembali bangkit dengan kehadiran tim 7, meski itu juga tak lama. Kakashi-san adalah ninja yang berbakat, bahkan seisi Konoha dan para petinggi negara aliansi pun tahu kalau Kakashi-san akan menjadi Hokage berikutnya. Dan kau tahu kan menjadi Hokage itu tidak mudah ?"

Tawa kecil terdengar dari mulut Yasu. "Pasti sulit mempersiapkan segala hal ditengah sikapnya yang terlihat apatis."

Raidou balas tertawa. "Kau benar. Dia sudah sangat amat sering dimarahi Tsunade-sama" Ia memberi jeda. "Tapi seperti kunai tadi, justru sikapnya yang terlihat bertentangan itu akan semakin tajam ditambah omelan Tsunade-sama setiap hari. Ia akan melakukan semuanya, dengan caranya sendir, sampai tuntas. Itulah kenapa hanya Kakashi-san yang terlihat kebal dengan ekspresi sangar Godaime." Ia mengecilkan nada suaranya di akhir.

"Souka. Jadi meski Kakashi-san dan Genma-kun akan dimarahi habis-habisan di ruang Hokage, mereka akan baik-baik saja. Itu yang ingin kau katakan, Raidou-san ?"

Lawan bicaranya yang baru saja menjelaskan panjang lebar barusan kini tertawa kaku. Pertanyaan Yasu lebih terdengar seperti 'Kau terlalu berbelit-belit Raidou-san'

"Ahh.. gomen"

Yasu tertawa mendengarnya.

.

.

"A-aku.."

"Jadi kau benar-benar menyukainya ?"

"Tsunade-sama―" Kakashi berupaya membela...

"JAWAB GENMA!"

... namun terpotong dan tak berani melanjutkan.

Beberapa detik diselimuti keheningan, Tsunade tahu Genma tidak bisa menjawab, atau tidak ingin ?

"Shiranui Genma!"

"Aku―"

"Astaga! Aku kira makhluk berambut perak ini akan menyekapmu selamanya! Jadi benar, kau lebih suka berdiam diri dirumah ? Dan kau menyukai Kakashi yang selalu menyuruhmu begitu ? Kau menyukai hal itu ? Kami-sama .. kau seharusnya keluar dan berbaur dengan warga Konoha! Sungguh kalian ini.. cukup satu Kakashi yang menjengkelkan disini, jangan ditambah lagi dengan dirimu Genma!"

Sial. Genma bersumpah tidak akan membiarkan si Hatake itu menulis laporan sendiri tanpa pengawasannya. Bayangkan saja, jantungnya hampir saja meledak! Baka Kakashi! "Maafkan aku."

"Untuk hari ini dan seterusnya, aku tidak mau hujan atau tabiat introvert mu itu menjadi alasan tertulis di kertas laporan ini lagi."

"Ha'i"

"Kalian dibubarkan"

.

.

"Apa saja yang kau tulis selama ini hah? Kau keterlaluan Kakashi. Aku hampir terkena serangan jantung tadi." Protes Genma. Sungguh, betapa ia menyangka kalau Tsunade benar-benar mengetahui perasaannya pada Kakashi. Sial.

Si rambut perak tertawa kecil. "Tapi itu benar `kan ?"

"Benar.. apanya ?"

"Kau lebih suka berdiam diri di rumah dari pada harus berkeliaran di luar."

Genma hanya mendecih, walau pun yang dikatakan Kakashi memang benar adanya. Mereka berdua terus menyusuri jalan-jalan di Konoha. Tapak demi tapak langkah kaki mereka memijak tanah kelahiran keduanya. Banyak warga yang memperhatikan, mereka melihat, menelaah, namun jauh lebih bersahabat dari kali pertama Genma menginjakkan kaki setelah dibebaskan. Syukurlah, Genma merasa dapat diterima lagi di Konoha, walau belum sepenuhnya.

Hawa dingin yang awalnya menyentuh permukaan kulit, kini berubah menghangat. Sudah mulai petang, tapi Genma merasa langkah kaki mereka masih harus berlanjut lebih lama. Ia tak tahu, sebenarnya sejak tadi Genma hanya mengikuti kemana Kakashi akan membawanya. Namun mata coklat karamelnya langsung terbelalak ketika mendapati dirinya dan Kakashi berhenti didepan sebuah pemukiman.

Pemukiman elit. Dijaga ketat dan terlihat sepi.

Hyuuga mansion.

Kenapa ? Kenapa sesak sekali rasanya ? Oh Kami ...

Kakashi sungguh akan menemui para Hyuuga itu, disini, saat ini juga. Memilih dan menentukan pendamping untuk meneruskan garis keturunan Hatake. Dan Genma ? Tentu akan siap membantu dan setelah itu pergi sejauh mungkin dari keluarga kecil Kakashi.

Meski .. hatinya akan hangus terbakar dan menjadi abu yang memilukan. Lalu tertiup, hingga serpihan abu itu semakin menjauh dan hilang dari ingatan. Terlupakan oleh canda tawa Hatake-Hatake kecil yang akan melengkapi penderitaannya.

"Genma.. kau.. baik-baik saja ?"

Tidak Kakashi, lihat aku! "Tentu"

"Jika kau keberatan kita bisa―"

Ya! Ayo kita pergi! Hatiku mulai hancur.. "Tidak, ayo masuk"

"Tapi.."

Tapi apa ? Kau akan bilang kalau kau menyukai ku? "Sudahlah, kau akan menemukan pendampingmu disini."

Senyum. Hanya itu yang mampu mengelabuhi Kakashi hingga saat ini. Menghalangi ekspresi sakit yang amat mendalam pada diri sang Shiranui. Genma tahu ini akan terjadi, sangat tahu. Kakashi harus memiliki pendamping dan itu bukan dirinya. Kakashi butuh seorang perempuan, wanita yang layak.

"Baiklah"

Perasaan Genma tidak enak, jauh lebih buruk dari sebelumnya. Ada apa ini ? Sepanjang perjalanan para Hyuuga yang menyambut terus menatapnya dengan aneh. Tapi Kakashi .. Kakashi terlihat baik-baik saja. Apa tidak apa-apa jika Genma ikut masuk ?

"Kakashi, kurasa lebih baik kau sendiri saja. Para Hyuuga itu tidak menyukaiku."

Sang Hatake melirik sekitar. "Tenanglah, kau ingin membantuku bukan ?"

Ah benar, ia telah berjanji untuk membantu. Apapun yang akan terjadi ia tidak bisa mundur, tatapan para Hyuuga itu bukanlah apa-apa.

"Hizashi-sama" Kakashi tersenyum, lalu membungkuk memberi hormat. Genma di sampingnya juga melakukan hal yang sama.

"Ah, tidak usah terlalu formal Kakashi-kun" Pemimpin klan Hyuuga itu balas tersenyum, sangat ramah. "Silahkan masuk, kami senang menerima kehadiranmu, juga..."

"Genma, Shiranui Genma" Kakashi memperkenalkan temannya. Dan Genma langsung membungkuk lagi untuk memberi salam.

"Shiranui Genma, Hizashi-sama."

Untuk sesaat ayah dari Hinata itu terbelalak mendengar nama yang keluar dari dua pria dihadapannya, namun kemudian ia kembali tersenyum. "Souka, aku senang kau kembali, Shiranui-kun."

Genma tersentak. "Anda mengenalku ?"

"Tentu, kau dulu adalah Tokubetsu ninja pengawal elit Yondaime Hokage. Bagaimana aku tidak mengenalmu ?"

Sebuah senyum terpatri di wajah Genma. Senang sekali rasanya. Ia merasa diterima kembali, bahkan oleh seorang bangsawan seperti Hyuuga Hizashi. Mungkin Kakashi benar, tidak ada yang perlu di khawatirkan disini.

Atau belum..

"Aku kemari untuk menemani Kakashi, Hizashi-sama"

"Souka, kalau begitu ayo masuk. Makan malam sudah menunggu."

Mereka bertiga memasuki kediaman pemimpin klan Hyuuga itu. Suasananya tetap sama. Sepi, sunyi, namun terasa damai. Agak berbeda dengan saat di perjalanan tadi. Tak ada lagi para Hyuuga yang menatap aneh, semuanya ramah, meski dalam kondisi formal keluarga Hyuuga.

Di dalam ruangan, telah tersusun rapi perlengkapan jamuan tradisonal khas lengkap dengan berbagai hidangan di atasnya. Dua tatami di kiri dan tiga di kanan meja ikut menambah kesan sempurna dalam ruang makan tersebut.

Kakashi duduk di sudut kiri dengan Genma di sampingnya. Sedangkan Hizashi duduk berseberangan dengan Kakashi. Di sebelah kiri sang pemimpin klan adalah Hyuuga Sohaku, ayah dari wanita yang akan dikenalkan dengan Kakashi. Dan yang terakhir, wanita cantik berambut hitam pekat berkilau dengan mata khas Hyuuga, duduk di samping sang ayah dengan begitu anggun.

"Hyuuga Nao."

Jleb

Astaga ... Manis sekali! Cara wanita itu menyebut namanya, lalu senyuman yang merekah bagai bunga di musim semi, juga― hey! Wanita itu lebih dari sekedar kata layak untuk Kakashi. Etikanya sangat amat mencerminkan seorang putri. Sungguh, ini wanita yang benar-benar sempurna untuk Kakashi.

Juga sangat sempurna untuk menikam hati Genma.

Dua mata karamel Genma membola, Ia terbelalak. Hatinya sakit, hancur, jatuh ke jurang paling dalam dan membelah menjadi kepingan-kepingan tajam yang penuh luka. Ia bersyukur, sangat-sangat bersyukur karena wanita yang akan dikenalkan pada Kakashi adalah wanita yang pantas. Meski begitu, tetap saja walau ia merasa senang, hatinya tetap saja sakit. Dan ia masih harus berpura-pura bahagia.

Kami-sama.. sakit sekali rasanya.

Lelaki bersurai coklat itu berusaha meredam emosi, ia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Lalu melirik Kakashi. Dilihatnya orang yang paling dicintainya itu sedang memasang ekspresi seperti biasa. Memandang datar dan terkesan malas. Akhirnya Genma bisa tersenyum lagi setelah melihat Kakashi. Tapi tunggu, kenapa Kakashi hanya menatap seperti biasa ? Bukankah seharusnya ia tertarik pada wanita tadi ?

"Silahkan dinikmati, Kakashi-kun, Genma-kun." Hizashi berbicara, merebut atensi Genma dan Kakashi yang sedang melamun. Nao yang ternyata memerhatikan sikap dua pria itu pun tertawa kecil, manis sekali.

Dan akhirnya mereka berlima menyantap makanan-makanan lezat yang tersaji di atas meja. Sambil sesekali membicarakan hal yang ingin disampaikan sejak awal. Genma mempelajari satu hal, klan Hyuuga tidaklah se-disiplin yang ia bayangkan. Karena biasanya klan-klan terpandang yang menjunjung tinggi etika, melarang membicarakan apapun saat makan.

"Kakashi-kun, untuk kedepannya, kami berharap kau dan Nao dapat memiliki hubungan yang erat. "

"Tentu saja, Sohaku-sama" Kakashi tersenyum, lalu melirik kearah sang wanita sekilas, kemudian melanjutkan makan.

Genma diam.

"Tidak usah terlalu baku Kakashi-kun. Panggil saja dengan tambahan '-san' , atau kau boleh memanggilku 'Sohaku' saja jika kau mau"

Genma dan Kakashi yang sedang makan, dengan kompak mengerjap bersamaan. Kenapa ... Orang ini sedang merayu 'kah ? Atau sedang berusaha merebut hati Kakashi ? Bukankah seharusnya Kakashi yang bersikap begitu ?

Entahlah

"Ne, Kakashi-kun, aku .."

"Ha'i ? Nao-san ?"

"Ada yang ingin kubicarakan sebenarnya, maaf jika kau tersinggung.."

"Nao, jaga bicaramu!"

"Tapi ayah―"

"Tak apa Sohaku-san. Aku ingin mendengar hal yang ingin dikatakan oleh putrimu." Senyum ramah Kakashi berikan untuk melerai.

Nao mengangguk ragu. "A-apa setiap kau pergi, Genma-san selalu ikut ?"

Kakashi menaikan satu alis, Genma menghentikan makannya tiba-tiba, dan Hizashi terkejut.

"Ma-maksudku, kalian selalu bersama sejak dulu, iya 'kan ?"

"Lalu ?"

Perasaan tidak enak Genma mulai kembali. Ia meletakkan sumpit makannya di atas mangkuk dan mengangkat kepalanya, mencermati pembicaraan.

"Aku... hanya .. kau tahu ? Situasinya saat ini sudah berbeda, Kakashi-kun. Genma-san sekarang adalah.."

Kepala sang Shiranui menunduk dalam.

"..mantan pembunuh bayaran."

"Hentikan Nao." Sohaku memerintah, tapi tak didengar.

Si calon Hokage melirik sinis. Genma semakin menudukkan kepalanya.

"Dan.. dan .. aku.. tidak ingin hubungan kita nantinya.. a-akan terganggu oleh bisikan-bisikan warga Konoha yang menghina kehadiran Genma-san."

Genma marah, kesal, ia tahu pembicaraan ini akan mengarah kemana. Tapi ia tidak bisa mengelak, semua yang dikatakan Nao memang benar, dan ia tidak mungkin mencela wanita yang akan menjadi istri Kakashi, terlebih di depan sang ayah dan pemimpin klannya.

"Jadi .. jika kau tidak keberatan .."

"Hentikan Nao!" Bentak sang ayah.

Sial. Genma terus menggerutu dalam hati. Sebisa mungkin ia menahan emosinya untuk tidak meledak, tapi rasanya ia tak sanggup. Paras wanita itu memang cantik, kata-katanya manis, tapi ucapannya menyakitkan. Sialan. Dirinya tak tahu harus berbuat apa.

"Bisakah kau tidak melibatkan Genma-san lagi dalam hidupmu ?"

GRAB

Genma terkejut tatkala tangan kirinya disambar oleh Kakashi, pria itu langsung berdiri setelah mendengar ucapan putri Hyuuga tersebut dan menggenggam erat pergelangan tangan Genma.

"E-ehh, Kakashi-kun, maafkan aku! Sungguh aku tidak bermaksud―"

"Cukup. Genma, ayo pulang."

Pria bersurai coklat itu menurut. Kakashi marah, ia tahu itu. Tapi seharusnya Kakashi tidak perlu sampai semarah itu, yang dihina 'kan dirinya, bukan Kakashi.

"Kakashi-kun, kumohon kembalilah dan selesaikan makan malam ini. Aku sungguh minta maaf atas kelancangan Nao" Hizashi ikut berdiri.

Kakashi yang masih menggenggam tangan Genma menatap datar pria baya didepannya. "Aku tersanjung atas makan malam ini, Hizashi-sama. Tapi maaf, aku tidak bisa hidup bersama orang yang menginginkan aku menjauhi Genma. Sekali lagi aku minta maaf, aku tidak bisa melanjutkan rencana kita."

"Tidak, Kakashi-kun―"

"Nao, apa yang kau lakukan ?! Cepat minta maaf"

"Kakashi-kun, aku―"

"Satu hal lagi. Shiranui Genma, akan diterima lagi oleh masyarakat dan menjadi warga Konoha seperti dulu. Aku pastikan itu. Kami permisi" Tangan kanan Kakashi menarik tangan kiri Genma dan mereka bergegas pergi dari kediaman Hizashi.

"Kakashi-kun tunggu dulu!"

Yang dipanggil terus melangkahlan kakinya cepat-cepat bagai tak mendengar apapun

"Kakashi.. kun ..."

.

.

.

Pukul 09.00

Dua lelaki yang sebelumnya meninggalkan acara makan malam di kediaman Hyuuga, baru saja sampai di tempat tujuan mereka, rumah. Rumah Kakashi sebenarnya, tapi si pemilik selalu mengoceh ―Rumahku ini rumahmu juga, sama seperti dulu saat kita bergantian menginap di rumah masing-masing. Baka.― jika Genma mulai merasa tidak enak hati karena semua kebutuhan sudah disediakan oleh Kakashi.

Tanpa repot-repot membuka rompi jouninnya, Kakashi langsung menghempaskan diri ke sofa. Merebahkan diri lalu memejamkan matanya. Membiarkan Genma berjalan menuju mesin pendingin dan mengambil dua kaleng minuman yang diharapkan dapat menyegarkan pikirannya juga Kakashi.

"Hey" Pria bersurai coklat itu membuang senbonnya. Ia berdiri di samping sofa, disamping kepala Kakashi yang sedang berbaring, kemudian memberikan sekaleng minuman pada si rambut perak. "Ini."

Kakashi membuka mata dan mengambil minuman yang disodorkan Genma.

"Bangunlah, aku ingin duduk disana"

"Ch, kau kan bisa duduk ditempat lain, pergi sana."

"Tidak mau, bangun Kakashi!"

Salah satu hal yang paling disukai Genma : Mengganggu Kakashi. Tak peduli bagaimana suasana hati temannya ini, ia akan terus mengganggunya, menggodanya, juga mengejeknya sampai Kakashi jengkel setengah mati.

"Hey! Bisakah kau mencari tempat lain ? Tuan pengganggu ?"

Kena.

Genma menyeringai puas, lalu pura-pura kecewa. "Oh maaf, Kakashi-sama. Aku akan pergi." Ia melangkahkan kakinya untuk berpura-pura pergi.

Dan benar saja, dalam sekejap Kakashi bangun dari posisi tidurnya dan menarik kencang tangan Genma hingga jatuh terduduk ke sofa. "Ck. Kau dapatkan yang kau mau ?"

Tawa lepas sukses lolos dari mulut Genma. "Kau tidak perlu semarah itu Kakashi. Kau tahu ? Aku baik-baik saja."

"Ya, tapi aku tidak."

"Yang dikatakan wanita itu benar. Lagi pula aku―"

"Kau apa ?!"

Genma segera membungkam mulutnya rapat-rapat. Kakashi memang mengerikan saat sedang emosi. "Ha`i ha`i"

Kakashi membuka kaleng minumannya dan menenggak beberapa teguk, lalu meletakkannya di meja kecil yang terletak di samping sofa.

"Kakashi, sebaiknya kau tidur. Lupakan saja kejadian di mansion Hyuuga tadi, tidak usah kau pikirkan." Kaleng minuman yang diambil untuk dirinya sendiri bahkan belum dibuka, namun Genma meletakkan minuman itu di meja dan langsung berdiri. Seleranya hilang.

Agak ragu, namun tetap memberanikan diri, Genma mengacak rambut perak temannya itu dengan lembut, dan mengecupnya singkat.

Sontak Kakashi terkejut, rona kemerahan menghias wajahnya yang tertutup masker. Amarahnya yang menggebu-gebu sejak tadi, seakan lenyap begitu saja. Tanpa sadar ia menarik senyum. Namun sesaat kemudian ia melihat Genma berjalan menjauh tanpa mengatakan apapun.

"Genma― kau―"

Pemilik netra karamel itu menoleh. "Hm ?"

"Kau.. tidak..?"

"Tidak apa ?"

Kakashi berusaha mengusir jauh-jauh pikirannya. Entah, dia sendiri pun bingung kenapa perasaannya jadi tak menentu begini. "Tidak, lupakan. Aku tidur duluan. Kau jangan tidur terlalu larut"

Sebuah seringai nampak di wajah Genma. Semoga saja yang ia pikirkan tentang Kakashi memang benar, tapi ia tetap tak mau berharap banyak. Tadi saja .. anggaplah kecupan terima kasih atas sikap Kakashi di depan para Hyuuga. Dengan berani si Hatake itu membela dan menariknya pergi. Bahagia, sungguh.

Walau ia harus mengorbankan jantungnya yang hampir melompat keluar saat dirinya mencium Kakashi tadi. Hal itu adalah pertama kalinya Genma mengecup Kakashi yang masih dalam keadaan sadar, bangun. Biasanya ia hanya berani untuk melakukan hal seperti itu jika orang yang dicintainya tersebut sedang tidur.

Menyedihkan.

Pada akhirnya ia memilih tidur setelah mandi yang menyegarkan di malam hari. Menaiki kasur dan merapikan bantal, ia berniat menarik selimut, namun sesosok pria yang berdiri di depan pintu kamarnya membuatnya terkejut luar bisa.

"Baka Kakashi! Kau membuatku kaget!"

Sebuah guling bersarung putih diletakan di bahu kiri, Kakashi terlihat seperti sedang memanggul mayat. Kuso.

"Hh.. Ada apa ?"

Kakashi menggaruk pelipisnya. "Sebenarnya.. aku tidak bisa tidur sejak tadi. Bolehkah .."

Mata Genma membola. Ia tak percaya malam ini Kakashi memintanya untuk tidur bersama. Ia rasa akan mimpi indah malam ini. "T-tentu saja! Kemarilah!"

Kakashi menghampiri dan naik ke atas kasur, tepat disebelah Genma, tidak terlalu dekat, tidak juga jauh. Ia langsung membalik tubuhnya membelakangi Genma dan memeluk guling yang dibawanya tadi. Bagai keajaiban, rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya dengan cepat hingga matanya mulai terpejam. "Oyasumi"

Genma tersenyum senang, lalu memberikan pelukan hangat dari belakang. Menyebabkan dua netra abu gelap yang hampir tertutup menjadi terbelalak sempurna.

"Kau tidak keberatan ?"

Jantung Kakashi berdegup kencang. Ia ingin menjauh, ada yang tidak beres rasanya. Tapi tubuhnya tak mau menurut. "Ti-tidak. Lagi pula cuaca cukup dingin." Karena ia merasa nyaman.

Genma tersenyum lagi. "Oyasumi mou"

Dan sebuah kecupan singkat di bahu Kakashi mengawali mimpi indahnya pada malam yang dingin.

.

.

.

.

.

TBC

Keterangan :

-Tsutenkyaku : Tendangan tumit dengan memusatkan cakra di kaki yang mampu menghancurkan tanah sekitar. Seseorang bisa tewas jika terkena serangan ini secara langsung.