"Chapter 02"

Let's Know More About Each Other

_The First_

Jaemin mengayunkan kakinya secara bergantian saat duduk disebuah bangku taman, menunggu Jeno kembali.

'Jeno-ya, Jaeminnie, kalian berdua pergilah keluar, hari ini bukankah cukup bagus untuk kalian mendekatkan diri satu sama lain.'

'Jeno-ya, jaga Jaeminnie baik-baik. Eomma tidak mau calon menantu eomma tergores satu lukapun.'

'Jaeminnie, jangan membuat Jeno terbebani. Cha! Have fun!'

Ia masih ingat serangkaian kata yang dikeluarkan oleh Mom, Dad dan eomma. Yup! Ibunya Jeno ia panggil dengan sebutan eomma, begitu juga dengan sebutan appa untuk ayahnya Jeno.

Jaemin menghela nafas karna bosan. Jeno entah kemana, sehabis keluar dari restoran itu, Jeno mengajaknya untuk ke taman yang tentunya cukup ramai. Lalu, Jeno dengan setinggi kebangsatannya, pamit untuk mengurus sesuatu.

Untuk penilaian Jeno dimata Jaemin sekarang, Jeno itu memiliki wajah yang diatas rata-rata, mirip seperti artis yang sedang naik daun, Lee Taeyong. Terus, suaranya itu... Ugh... Bikin Jaemin melting, suaranya yang terdengar berat, membuat Jaemin bisa merona kapanpun yang ia mau.

Sikap?

Postur tubuh?

Jaemin belum tahu. Sikap mungkin kaku diawal dan ceria diakhir bahkan usil, seperti cowok-cowok cool yang ada di novel yang sering ia dengar dari sekumpulan cewek yang menggosip didepan mejanya. Masalah postur tubuh... Ia juga belum tahu, kalau disuruh menerka, mungkin atletis?

"Na Jaemin, sudah menunggu lama? Maaf, tadi ada kolega appa yang menanyakan masalah proyek."

Sederetan kalimat itu membuat Jaemin tertarik dari dunia lamunannya. Panjang umur untuk Jeno, karna, di dunia lamunannya ia baru saja memikirkannya.

"Eh, tidak kok. Aku cukup have fun disini. Banyak kok yang membuatku terhibur." kata Jaemin, yang sebenarnya, sama sekali tidak ada yang menghiburnya. Inginnya sih... Jaemin mau langsung nyemprotin si Jeno. Tapi, susah ternyata.

Akhirnya, mereka berdua hanya diam-diaman. Tidak ada sepatah katapun yang keluar.

"Jeno hyung..."

"Hyung?"

"Kan loe lebih tua dari gue 2 tahun. Loe 20 kan? Gue baru 18, makanya gue panggil loe hyung." kata Jaemin yang mulai menunjukkan sikap aslinya. 'Gerah gue disuruh berbicara formal gitu. Masa bodo dengan penilaiannya.

"Oh... Ada apa, Jaemin?"

"Tidak ada. Hanya ingin nanya aja, kita begini terus sampai jam 10 malam. Bosannnnnn..." kata Jaemin yang tak sengaja meletakkan nada manja diakhir katanya.

'Sweet...'

"Jadi, Jaemin, mau kemana?" tanya Jeno yang benar-benar merasa canggung. Ia tidak tahu sama sekali tempat yang menarik untuk dikunjungi oleh anak seusia Jaemin. Bukannya ia tak pernah berumur 18, hanya saja, dunianya itu hanya seputar perpustakaan, dunia kerja, rumah, les, sekolah.

"Jae ingin... ke... tempat yang sepi, tapi, menenangkan. Disini terlalu ramai." kata Jaemin yang menatap ke langit sana.

"Tempat sepi?"

"Hyung... Temani Jae kesana, ke tempat sepi. Hyung tidak merasa disini terlalu ribut?" tanya Jaemin dengan nada bertanya. Jeno hanya menaggaruk kepalanya.

"Hyung ikut saja. Dijamin deh, hyung pasti menyukainya." kata Jaemin lalu menarik tangan Jeno untuk ke mobil lagi. Tentu saja, Jeno yang membawa mobil tersebut. Jaemin ingin sih, mungkin bisa ia meminta Jeno mengajarinya di lain hari.

Jeno hanya mengikuti instruksi Jaemin, entah kenapa Jeno merasa kedua bahunya tiba-tiba memberat, kedua otot lengannya terasa kaku seketika. "Astaga, hyung... Rilex aja. Jaemin gak gigit kok." Jaemin itu orangnya blak-blakan, kok. Jadi, sedikit saja berbeda, dia akan langsung mengatakannya.

"Tidak. Hyung hanya bingung saja. Na Jaemin, bukankah kamu masih berumur delapanbelas tahun? Kenapa kamu mau saja dijodohkan oleh Johnny appa." kata Jeno yang masih memakai kata aku-kamu gitu.

"Gue tahu gue delapanbelas. Daddy mengancam akan menyita seluruh fasilitas gue dan berada di bawah pengawasannya selama 5 bulan, jika tidak mau ikut perjodohan ini. Hyung, habis perempatan ini belok kiri." kata Jaemin diakhiri dengan bibir yang ia kerucutkan. Astaga, Jeno gemas dengan anak ini.

"Kamu tidak merasa terikat, Na Jaemin? Hyung tahu, remaja seusia kalian pasti ingin kebebasan tanpa terikat hubungan yang seperti ini." Jeno kembali membalas sambil memutar mobilnya sesuai permintaan Jaemin.

Jaemin mendengus, "Aku inginnya juga seperti itu. Tapi, mom memaksaku. Apalagi, daddy juga turun tangan. Dan,... hyung, bisa panggil aku Jaemin aja? Rasanya risih memanggil nama lengkapku."

"Hyung tidak akan mengekangmu, Jaemin. Jika ingin hang out dengan teman-temanmu, pergi saja. Tapi, pastikan appa, eomma dan hyung mengetahuinya dengan jelas, dimana kamu berada. Paham?" tanya Jeno yang menghentikan mobilnya karna, lampu merah menyala, lalu menatap Jaemin dalam.

Jaemin tercengang melihat Jeno yang menatapnya dalam. Omo! Tatapan itu seakan menyihirku untuk tidak bisa berkutik. "Ne, hyung." kata Jaemin dengan pelan dan akhirnya keadaan kembali sunyi.

_The First_

Jaemin menarik Jeno untuk berdiri ditepi danau buatan ini. Letaknya memang jauh dari restoran yang menjadi saksi bisu mereka berdua bertemu.

"Aahhh... Udah lama tidak kemari." kata Jaemin sambil merenggangkan kedua tangannya keatas. Menikmati heningnya tempat tersebut.

Jaemin menatap ke sebelahnya, tempat Jeno berdiri, menatap danau tersebut, "Hyung sendiri kenapa mau dijodohkan? Dilihat dari postur tubuh, gue rasa banyak yang mau dengan loe, hyung." kata Jaemin.

Jeno menyunggingkan sebuah senyuman, "Tidak ada alasan. Hyung hanya ingin membuat mereka berdua senang saja. Semasa seusiamu, Hyung lebih sering ke perpustakaan, belajar menjadi seorang pemimpin perusahaan yang bertanggung jawab. Sering mengikuti meeting dengan appa sebagai pemimpin rapat tersebut. Hyung rasa, masalah hubungan percintaan adalah hal yang terakhir akan hyung pikirkan."

"Daebak... Dad selalu memintaku untuk mengikuti meetingnya tetapi, gue selalu ngeles. Mungkin, sesekali gue harus mengikutinya." kata Jaemin.

"Jangan dipaksakan jika belum siap, Jaemin. Kamu akan tetap pergi kesana bagaimanapun juga. Pelan-pelan saja dan nikmati masa mudamu."

"Hyung, aku tidak percaya, akan dijodohkan denganmu. Aku kira, pasanganku akan bertingkah kasar, atau mungkin malas dalam mengerjakan sesuatu." kata Jaemin yang menatap Jeno.

"Hyung juga berpikir begitu awalnya. Rupanya kamu orang yang cukup blak-blakan ya. Penyuka keheningan. Aku tertarik untuk mengenalmu lebih jauh lagi, Na Jaemin" kata Jeno yang tak kalah menatap namja 18 tahun itu lebih dalam.

Jaemin menunduk, Jeno sadar gak sih, telah membuat Jaemin mengeluarkan rona merah dipipinya, apalagi jantungnya. Ahhhh... Jeno memang diluar pemikirannya.

"Aish... Hyung... Loe membuat gue malu." kata Jaemin sambil menutup wajahnya dengan sepasang tangan miliknya.

Jeno terkekeh, 'Anak ini benar-benar menggemaskan. Hidupku mungkin tak akan sama lagi dengan kemarin setelah ini.' batin Jeno yang melihat tingkah Jaemin.

"Mianhae, Jaemin. Ayo pulang. Appa, eomma bisa menceramahiku bila telat membawamu pulang. Ini juga sudah jam 9. Sudah waktunya, putri tidur." kata Jeno yang tidak puas untuk menjahili Jaemin sambil mengacak surai rambut Jaemin.

"Hyungggg... Berhenti berkata seperti itu pada gue." kata Jaemin yang tidak mau melepaskan tangannya.

Akhirnya setelah Jeno berkata ia tidak akan berbuat seperti itu lagi. Jaemin membuka tangannya, wajah yang masih memerah terlihat dengan samar karna, disinari kegelapan.

Jeno merapikan rambut Jaemin yang telah ia acak tadi, dan mengajak Jaemin pulang.

'Aku tertarik untuk mengenalmu lebih dekat lagi.'

Itulah kalimat yang terlintas dipikiran mereka berdua dengan telapak tangan yang saling bertautan.

NA

#Udah di-up. Maaf, jika tidak ada sweet-sweetnya sama sekali. Ada typo yang tertera disana, juga Hyuna minta maaf, soalnya keypad lagi sedikit error.

#Hyuna berterimakasih kepada kalian yang telah membaca, review, nge-fav bahkan nge-follow cerita ini. Gamsahamnidaaaaaaa *deepbow*

#Review pleaseeee