The First
Wanna Date, Babe?
Jeno menggulung lengan kemeja putihnya dibalik meja kantor. Sehabis mengantar Jaemin pulang, ia langsung kembali kekantornya. Banyak laporan yang belum ia baca dan ditandatangani.
Workaholic.
Dan, karna workaholicnya ia belum mendapatkan pasangan sampai sekarang ini. Lagian, Jeno juga berpikir ia masih muda, berkarir sukses lalu mencari pasangan juga belum terlambat. Tapi, manusia tidak pernah puas, setelah mendapatkan karir yang gemilang, ia terus mengembangkannya.
"Bagaimana dengan perjodohannya?"
Jeno terkejut, ia mendelik kepada namja yang berdiri diambang pintu ruangannya dengan santai.
"Berjalan dengan baik." Jawab Jeno seadanya. Sejujurnya, kepalanya juga telah bercabang, ia harus memikirkan karir, perusahaan, orangtua, dan tentu saja Jaemin.
"Aku penasaran. Apa kamu memiliki fotonya?"
"Untuk apa kamu mengetahuinya, Minhyung-ah. Besok akan kubawa kemari, kamu bisa bertanya padanya sesuka hatimu." kata Jeno sambil menutup berkas tersebut dan menarik berkas yang lain, memulai untuk membacanya.
Minhyung yang merupakan sahabat dan sekretaris Jeno itu berbinar, "Jinjjayo?" tanya namja tersebut yang sepertinya sangat antusias. Jeno hanya mengangguk, lalu, menandatangani berkas tersebut setelah ia membacanya, dan mengambil berkas lainnya.
"YA! Jeno-ah, tinggalkan berkas-berkas tersebut, ada yang perlu aku tanyakan padamu." kata Minhyung dengan mudahnya ia duduk disofa. Memiliki atasan sekaligus sahabat seperti Jeno itu sedikit membosankan.
Jeno tidak menjawab panggilan Minhyung, ia dengan mudahnya membaca laporan dikursi kebanggaannya.
"Sialan... Jeno-ah! Tinggalkan pekerjaanmu." umpat Minhyung yang tidak tahan dengan kelakuan Jeno. Apa kehidupannya hanya seputar ini saja? Kantor, rumah, meeting, laporan, berkas, dan tentu saja yang terbaru tapi, masih dipertimbangkan menurut Minhyung adalah Jaemin.
"Aku sudah meninggalkan berkas ini tadi. Sekarang, sudah saatnya aku mengurusi semua ini." jawab Jeno tak lama setelah Minhyung mengumpat. Jeno bukannya tidak tahu sedaritadi Minhyung ingin menariknya dari kursi tersebut.
"Jika si Jaemin itu tahu sikapmu begini, kurasa Jaemin bisa mencari yang lain." ucap Minhyung dengan sarkas. Jeno menyunggingkan senyumannya.
'Aku tidak sependapat denganmu, Minhyung. Aku memiliki firasat Jaemin tidak akan meninggalkanku sama sekali.' batin Jeno.
Minhyung menghela nafas, berbicara dengan Jeno itu sama dengan berbicara dengan patung. Jeno tidak akan kemana-mana jika sudah berurusan dengan tugas kantornya. Ia yakin, jika ia berkeliling dengan puas dikantor ini, sampai ia kembali keruangan ini, Jeno juga akan tetap dalam posisi begitu.
"Jeno-ah, kapan kau berniat membawanya kencan?" tanya Minhyung tanpa sadar, ia hanya penasaran.
Jeno membeku sesaat, kencan? Ia belum pernah berpikiran begitu, lagian ia juga baru saja bertemu bukan? Apa tidak terlalu terburu-buru mengajaknya berkencan?
"Jika kamu mengajaknya kencan, pastikan kamu harus menjadi lebih humoris, anggap saja kamu kembali kemasa-masa sekolahmu. Jangan dibawa serius. Kamu bisa dicap membosankan oleh Jaemin." ceramah Minhyung sebelum mengecek ponselnya.
Jeno berhenti, "Dating?" tanya Jeno sambil menatap wajah Minhyung yang membalas dengan sebuah anggukan.
"Yup. Dating. Ajak saja si Jaemin entah kemana gitu, menikmati moment kalian berdua." kata Minhyung tanpa melihat wajah Jeno, ia sedang berbalas pesan dengan kekasihnya omong-omong.
Minhyung terkikik geli. Jeno memicing melihat reaksi Minhyung. 'He is going to be crazy.' batin Jeno.
"Dari Taeyong?" tanya Jeno.
Minhyung mengangguk dengan antusias. Pacarnya ini jarang-jarang mau mengirimnya sebuah pesan.
"Taeyong menggodamu lagi? Sekarang apa?" tanya Jeno sambil menutup berkas ditangannya, dan menarik berkas dimeja kerjanya.
"Tidak perlu tahu." balas Minhyung dengan sarkas, ia mengetik beberapa kalimat diponselnya dan mengirimnya kepada Taeyong.
"Baby Minhyung!"
Percayalah... itu bukan suara Jeno. Jeno tidak akan memanggil Minhyung dengan begitu. Itu adalah suara dari pintu ruang kerja Jeno.
"HYUNG!" Pekik Minhyung setelah mengetahui siapa yang datang. Siapa lagi kalau tak lain dan tak bukan adalah Taeyong. Minhyung segera bangkit dari tempat duduknya dan menyambar kepelukan kekasih yang tampangnya mirip dengan Jack Frost.
Taeyong membalas pelukan Minhyung tak kalah erat. "Sudah lama menunggu, Baby?" tanya Taeyong basa-basi. Jeno merolling eyes, ini adalah kejadian yang ia nikmati selama bertahun-tahun seja ia memegang jabatan terpenting disini. Dimana, Taeyong selalu menjemput Minhyung untuk pulang kerumah Minhyung bersama.
"Sedikit. Hyung tahu, Jeno itu membosankan. Ia tidak bisa mencairkan keadaan." Curhat Minhyung dengan kerucutan imut diwajahnya. Menambah efek manis dimata Taeyong.
"Hyung tahu. Makanya, hyung berharap pasangannya tidak bosan dengan sikap Jeno." balas Taeyong dan mengecup singkat hidung bangir kekasihnya. Minhyung memejam mata dengan sebuah senyuman terlukis diwajahnya.
Jeno? Sudahlah, ia sedaritadi menjadi laler disini. Heol! Padahal ini adalah ruang pribadinya, kenapa ia tidak bisa menendang mereka berdua keluar dari sini?
"Jika aku berpacaran dengan Jeno, bisa dipastikan 2 hari kemudian, aku akan memutuskan hubungan dengan dia. Terlalu kaku." kata Minhyung sambil mendelik kepada namja yang menjadi topik hangat sejoli ini.
"Untungnya, baby Minhyung denganku. Kamu tidak merasa bosan kan?" tanya Taeyong, ia cukup sadar, Minhyung itu tipe pacar yang perlu diperhatikan setiap saat, ia juga cukup manja, selain itu, Minhyung itu... memiliki banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Untung Taeyong memiliki banyak kekayaan, jadi dia tidak akan langsung tekor.
"Tentu tidak. Hyung, baby Minhyungie ingin ice cream." kata Minhyung dengan nada manja. Tuh kan! Taeyong bilang juga apa.
"Vanilla kan? Tenang, hyung sudah membelinya, sekarang ada dimobil hyung." jawab Taeyong yang berhasil mengeluarkan senyuman yang cerah -menurut Taeyong- diwajah kekasihnya itu.
"Really? Let's go, hyungie." kata Minhyung yang langsung menyeret Taeyong untuk segera pulang -Lebih tepatnya sih ice cream-, melupakan eksistensi Jeno disana.
"JENO-AH! AKU DULUAN!" Pekik Taeyong yang tidak bisa menjaga keseimbangannya disaat Minhyung menariknya.
Jeno hanya menatap datar pintu kerjanya terbuka dengan bebas. 'Mereka ini...' batin Jeno yang berdiri untuk menutup pintunya. Ia menutup berkas laporannya yang terakhir.
Ia menarik ponselnya, memandangi dengan lama ponsel tersebut.
"Bodohnya aku... Kenapa aku tidak meminta nomor telepon atau tidak ID sosmednya saja?" gerutu Jeno sambil menatap kesal ponselnya. Namun, sedetik kemudian, Jeno segera menyambar jas yang ada dikursi kantornya dan keluar dari ruangannya.
_The_First_
Jeno masuk kedalam rumah dengan tergesa-gesa. Ia tahu cara lain yang dapat ia tempuh selain menunggu pertemuannya dengan Jaemin selanjutnya.
"Eomma," panggil Jeno dengan raut keraguan diwajahnya. Ia hanya menyembulkan wajahnya dibalik pintu.
"Ya, Jeno?" tanya sang ibu sambil menutup buku yang sedang ia baca.
"Bisa minta tolong?" tanya Jeno dengan ragu-ragu, si ibu mengangguk dengan antusias, anaknya ini jarang-jarang sekali meminta pertolongan kepadanya.
"Ada apa, Jen?" tanya sang ibu dengan lembut. Jeno masuk kedalam kamar orangtuanya yang masih tampak rapi, ia bahkan lupa kapan terakhir kali ia mengunjungi kamar ini?
"Apa eomma memiliki nomor telepon Jaemin?" tanya Jeno setelah ia memantapkan tekadnya.
"Kamu tidak memintanya kepada Jaeminnie? Omo! Sebenarnya apa yang kamu lakukan saat bersamanya?" omel sang ibu yang sepertinya tangan telah gatal untuk menoyor kepala anaknya ini.
"Kami ke tempat sepi. Yah... walaupun masih ada segelintir orang disana. Eomma juga tahu bukan? Kalau aku itu kaku, aku tidak berpikir sampai kesana." ucap Jeno dengan tegas.
"Cari tahu sendiri di ponsel eomma. Kamu itu, prediksi eomma selalu tepat. Cuek, kaku, workaholic. Bagaimana bisa kamu memiliki pasangan?" omel sang ibu, Jeno tidak peduli dengan semua itu, yang terpenting Jaemin dijodohkan dengannya dan ia menginginkan nomor teleponnya dan ID sosmednya.
Jeno mengutak-atik ponsel ibunya, beruntung sekali ia dikaruniai ingatan yang cukup tahan lama, atau tidak mungkin ia akan dicerewetin lagi.
"Okay. Eommaya, gomawo..." kata Jeno lalu sedikit memberi kecupan diwajah ibunya. Jeno bertekad akan mengirim pesan kepada Jaemin besok.
_The_First_
Day 01
Jeno hanya menatap layar ponsel tersebut, ia ingin mengetik pesan. Tapi, apa?! Memegang ponsel saja ia tak berani.
Jadi, hari itu, tekadnya batal.
Day 02
Jeno menghembuskan nafas kuat-kuat, 'Kali ini harus berhasil.' batin Jeno, segera ia menyambar ponselnya.
'Na Jaemin...' -deleted
'Jaemin-ah,...' -deleted
'Jaeminnie, ini Lee Jeno hyung. Masih ingat?' -deleted
'Jaemin-ah, ini Lee Jeno hyung. Masih ingat?' -deleted
Pada akhirnya, Jeno tidak jadi mengirim satu pesanpun kepada Jaemin ini.
Day 03
Jeno kali ini bertekad mengirim pesan kepada Jaemin.
'Na Jaemin, apa kamu masih ingat dengan hyung? Ini Lee Jeno hyung.' -send
Jeno merasakan bahwasanya degupan jantungnya begitu cepat. Ia bahkan merasa jantungnya akan meledak sebentar lagi.
Demi Na Jaemin, seorang Lee Jeno tidak bisa konsentrasi untuk mengerjakan pekerjaannya, sekarang semuanya terbengkalai. Na Jaemin, kau sungguh memiliki kekuasaan seperti apa sehingga Lee Jeno yang workaholic bisa seperti itu?
'Tentu gue ingat ama hyung. Anyway, ada apa?'
Lee Jeno menahan nafas. Rasanya ia seperti berada dilangit ketujuh saat Na Jaemin membalas pesannya. Selanjutnya yang terjadi adalah...
'Begini. Apa besok kamu memiliki wantu luang? Hyung ingin mengajakmu jalan-jalan.'
'Jalan-jalan? Tentu bisa. Kapan?'
'Bagaimana kalau sehabis pulang sekolah? Hyung akan menjemputmu. Sekolahmu SOPA kan?'
'Ya, hyung. Hyung juga tamatan darisana, kan?'
'Ya... Kalau begitu, Na Jaemin, hyung tutup chatnya. Hyung ada meeting.'
'Baik, hyung. Selamat bekerja.'
Kemudian, yang terjadi adalah Jeno meloncat-loncat seperti anak kecil yang membingungkan Minhyung yang entah kapan masuk keruangannya.
The End
# Akhirnya Up setelah sekian lama....
# Fyi, ada pasangan Taemark. Sweet gak sih Taeyongnya?
# Iseng iseng nih, Hyuna mau tanya menurut kalian dari 3 chapter ini kalian lebih menyukai moment Nomin yanh mana?
