"Chapter 04"

Dillema

_The_First_

Jeno menatap lurus dokumen yang ada didepannya. Kedua telapak tangannya bertautan dan menyangga kepalanya. Terus menerus menatap lembaran kertas yang tak berdaya itu.

"Bisa bolong tuh kertas, jika terus-terusan kau liatin, Jeno." sahut sahabat Jeno, siapa lagi kalau bukan Minhyung.

"Baby, hyung akan telat jemput. Tahu kan rapat dengan appa itu bagaimana?" tanya sosok yang akhirnya dimunculin, Taeyong yang sedaritadi berada disamping Minhyung diambang pintu.

"Tahu, hyungie. Tapi, jangan lama-lama, ne? Ah! Kali ini Minhyung ingin bubble tea rasa choco dan sekotak brownies." kata Minhyung sambil memasang aegyo didepan Taeyong.

"Heum, jangan nakal-nakal, Minhyungie. Hyung pergi dulu." kata Taeyong sambil menyebar senyum tampan dan mengecup dahi Minhyung sebelum pergi.

Jeno?

Dia lebih baik berkutat dengan laporan didepannya. Walaupun, tak sepenuhnya otaknya menghadapi laporan itu. Karna, ada satu yang dipikirkan oleh Jeno.

Jaemin.

Dan, jalan-jalan mereka.

"Aku tahu, kamu tidak fokus, Tuan Lee. Jadi, katakan ada apa?" tanya Minhyung sambil duduk didepan Jeno dengan santai.

Jeno diam. Ia bingung sendiri dengan dirinya. Apa yang akan dipakainya nanti, saat kencan nanti? Apakah dia harus tetap nampak kaku, atau memilih untuk seperti anak sma?

"YA! Lee Jeno! Aku berbicara denganmu! Bukan dengan tembok!" pekik Minhyung yang tak sabar dengan tingkah laku sahabatnya ini. Ia sering berpikir, kenapa ia bisa memiliki sahabat yang berbanding terbalik dengannya 360 derajat.

"Jaemin..." kata Jeno dengan pelan. Hampir tak bisa didengar oleh Minhyung jikalau ruangan ini berisik.

"Ada apa dengan Jaemin?" tanya Minhyung dengan heran.

"Jalan-jalan..." kata Jeno dengan ngawur.

"OMO!!!" Pekik Minhyung langsung.

"Jangan katakan, kalau kamu meminta Jaemin untuk jalan-jalan denganmu?" tanya Minhyung setelah pekikkannya. Jeno mengangguk lesu, sedangkan Minhyung ia berdecak kagum.

Apa kekuatan yang dimiliki Jaemin hingga ia mampu membuat Jeno bertindak duluan? Ah! Semakin dibayangin, Minhyung ingin segera menemui si Jaemin ini.

"Lalu, kenapa kamu lesu begitu? Harusnya kamu bahagia?" tanya Minhyung yang semakin bingung dengan sahabatnya ini. Ia merasa, Jeno telah tercuci dengan perusahaan ini.

"Aku bingung untuk jalan-jalan dengan Jaemin nanti. Apakah aku harus bertindak seperti anak sma? Pakaianku harus casual atau tidak? Jaemin suka pergi ketempat ini atau itu ya?" tanya Jeno pada dirinya sendiri.

"Apa yang harus ditakuti? Jalanin saja, kamu sudah meminta Jaemin keluar." kata Minhyung dengan santai.

"Tapi,... satu yang harus kamu tahu..."

"Turuti keinginan Jaemin."

_The_First_

Jeno memilah pakaian yang bagaimana harus dipakai untuk jalan-jalan nanti.

"Ini... tidak... ini sudah lama sekali bajunya." kata Jeno lalu membuang pakaian tersebut dengan sembarang.

"Ini... mungkin iya. Tapi, terlalu mencolok." kata Jeno lalu membuang pakaian tersebut dengan sembarang part 2.

Ia terus melakukan hal tersebut, hingga kamarnya penuh dengan pakaian. Bahkan, sang ibu saja kaget. Jeno itu tipe pembersih, walaupun ia tidak melakukan kegiatan menyapu dsb, tapi, minimal ruangannya untuk tidur harus rapi, bukan seperti kapal pecah seperti ini.

"Mencari sesuatu, nak?" tanya sang ibu yang eksistensinya diabaikan oleh Jeno.

Jeno menghentikan kegiatan -mari-menghancurkan-kamarnya- segera menoleh wajah ibunya yang kebingungan.

"Eomma,..." cicit Jeno yang tak sadar ingin membuat sang ibu mencubiti pipinya. Walaupun, Jeno itu posisinya diatas, jika begini, sang ibu mana bisa untuk tidak berteriak tak jelas.

"Ada apa?" tanya sang ibu yang akhirnya memilih untuk berteriak nanti saja.

"Aku mengajak Jaemin keluar jalan-jalan sehabis pulang sekolah. Aku cukup bingung untuk memilih pakaian." kata Jeno yang dibalas dengan anggukan oleh ibunya.

"Jadi, sedang dilema nih ceritanya?" -sang ibu.

Jeno merengut, "Aku hanya menjaga perilaku Jaemin. Tidak lucu jika aku memakai pakaian pantai ke sekolahnya. Bisa gak ada muka si Jaemin nanti." kata Jeno.

"Kamu rencana mau membawanya kemana?" -sang ibu.

"Belum tahu. Mungkin... ke mall?" jawab Jeno dengan ragu. Sang ibu mendengus kesal.

"Kamu ingin mengajaknya keluar makan angin? Pulang sekolahnya itu kan jam makan siang, Jeno. Kamu mengertikan?" tanya sang ibu sambil memilah beberapa pakaian yang mungkin cocok dipakai oleh Jeno.

"Nih. Kamu pakai ini saja." kata sang ibu sambil melempar pakaian tersebut kepada Jeno.

Sang ibu menepuk dahinya dengan kuat, "Kamu tunggu eomma dibawah. Jangan kemana-mana, atau perjodohan kalian BATAL." kata sang ibu dengan nada ancaman.

Jeno hanya mengangguk patuh sambil membuka kemeja yang sedang ia pakai terganti dengan pakaian yang dipilih oleh sang ibu, lalu segera turun kebawah.

"Jeno, ini berikan kepada Nana sehabis pulang sekolah." kata ibu Jeno sambil menyerahkan sebuah paper bag, Jeno hanya mengangguk tanpa menanyakan isinya.

CUP

"Kalau begitu, eomma aku pergi dulu." kata Jeno sambil mengecup pipi kiri ibunya dengan cepat.

Sang ibu tersenyum, "Dia tidak akan berubah."

Dilemma Chapter

END

NA

# Akhirnya, up juga... Merasa kecewa? Iya tahu, Hyuna sekali up tidak beribu chap...

# Dibuat disaat lagi belajar untuk uasbn besok TT

# Next chap? Keknya tentang mereka keluar jalan-jalan?

# Review pleaseeee