Chapter 05
"Disaster Date"
_The First_
Jeno terus bergerak gusar didalam mobil. Entah itu kedua tangannya yang tidak bisa diam terus menekan tombol on off untuk radio, ataupun menggetukkan jarinya disteer dengan bibir yang bergemeletuk.
Ia hanya mengatakan untuk keluar jalan-jalan. Tapi, kenapa menjadi terasa kencan bagi presdir Lee kita yang satu ini?
Jeno memutar mobilnya untuk memasuki kawasan sekolah yang pernah menjadi tempat belajarnya selama bertahun-tahun. Pria tampan itu memarkir mobilnya didaerah yang telah ditentukan, tanpa berniat untuk keluar.
'Jaemin, aku sudah sampai. Belajar yang rajin.'-Deleted message
Jeno menggigit bibirnya kasar. Kenapa mengirim pesan untuk Jaemin terasa sulit.
'Jae, hyung tunggu diparkiran.'-Sent
Jeno mendesah lega ketika ia berhasil mengirim pesan. Padahal, button sent terletak disebelah pojok bawah kanan ponselnya itu.
'Hyung sudah sampai ya? Cepet sekali. Gue lagi belajar, setengah jam baru selesai. Hyung akan menunggu gue apa gimana?'- Na Jaemin
Jeno tersenyum kecil. Mungkin, memang dianya yang terlalu cepat untuk mengajak Jaemin keluar.
'Hyung akan menunggumu. Hyung tidak keluar, mobil warna hitam sebelah pohon.'-Sent
Jeno mengulum senyumnya sendiri. Hanya saling berbalas pesan saja sudah membuat Jeno bahagia.
'Terserah hyung saja. Aku belajar dulu. Bye, hyunggg...'- Na Jaemin
Jeno tersenyum lagi. Kalau dia sedang diluar mobil bisa dicap kelainan mental dia.
Untuk menghabiskan setengah jam menunggu Jaemin, Jeno memilih untuk mengurus laporan pekerjaannya yang tertunda karena topik tentang 'Jaemin' terus melintas dikepalanya.
Jeno memeriksa laporannya menggunakan tab yang selalu ia bawa kemana saja.
Baru saja Jeno akan menelepon Minhyung, Minhyungnya sudah menelepon pria tampan ini.
"Halo,"
"Lee Jeno, apa kamu sudah tua hingga menjadi pikun?" Cerocos Minhyung yang bahkan tidak peduli dengan sapaan Jeno.
"Huh?"
"Ck. Dasar pikun. Hari ini kamu ada rapat dengan mitra kerjamu, Lee Donghyuck. Kau ingat?" tanya Minhyung yang membuat Jeno membola.
Sial!
Bagaimana bisa ia melupakan itu? Pertemuan penting mereka ini memang terjadi sehari setelah Jeno mengajak Jaemin keluar. Jeno benar-benar lupa dengan jalan-jalan, saking sibuknya di kantor.
"Apa bisa..."
"APA?! HAH?! MAKSUDMU APA BISA DIBATALKAN DAN DIGANTI KE HARI LAIN?!" Minhyung ngegas tanpa melihat kaca spion sama sekali.
"Sejenis seperti itu. Kamu tahu kan? Aku sedang di sekolah Jaemin, mengajak Jaemin jalan-jalan." kata Jeno yang masih calm dengan semuanya.
"NO! NO! NO! Rapat ini penting, Tuan Lee yang terhormat. Kurasa daya tampungmu itu masih ingat jika Lee Donghyuck akan terbang ke Jepang besok, dan meeting kita bisa diundur sampai dua bulan kedepan." kata Minhyung yang membuat Jeno semakin mendesah kecewa.
"Berapa lama meetingnya?" tanya Jeno sambil memijat pangkal hidungnya.
"Dua jam adalah minimalnya, presdir Lee."
"Baiklah. Aku akan kesana. Jika Donghyuck datang sebelum aku, kurasa kamu tahu harus bersikap bagaimana." kata Jeno yang membuat Minhyung memutarkan matanya dengan malas diseberang sana.
"Arrayo..." kata Minhyung dan menutup komunikasi mereka secara sepihak.
Tok
Tok
Tok
Jeno memalingkan wajahnya kekaca mobil, lalu tersenyum dan membuka kunci mobil.
"Hyung pasti lama menunggu kan? Ini sebotol susu pisang." kata Jaemin sambil menyerahkan sebotol susu pisang berukuran kecil setelah memastikan pintu mobil tertutup rapat dan dirinya duduk dengan nyaman.
"Terimakasih. Apa proses belajarmu lancar?" tanya Jeno hanya untuk basa-basi. Tidak mudah bagi Jeno untuk mencari topik.
"Kurasa iya. Entahlah... hyung kita akan kemana?" tanya Jaemin dengan semangat mengebu-ngebu.
Jeno langsung sedikit membeku. Ia menatap Jaemin dengan was-was.
'Ah... aku pasti akan mengecewakannya.' batin Jeno yang tidak sanggup jika melihat raut Jaemin berubah.
"Jaemin, heum... bagaimana kalau kita mampir ke kantor hyung dulu? Hyung baru ingat ada urusan yang tertinggal disana." kata Jeno dengan was-was.
Jaemin menatap Jeno dengan tatapan yang sulit diartikan. "Heum... boleh. Ada snack kan disana?" tanya Jaemin yang membuat Jeno tersenyum lega
"Ada." jawab Jeno yang membuat Jaemin terpekik senang.
"Jaemin, ini tadi eomma yang memberikan." kata Jeno sambil mengambil paper bag yang diletakkan dibelakang untuk Jaemin.
"Apa ini? Katakan terimakasih untuk eomma nanti." kata Jaemin yang membuat Jeno menganguk.
Chapter 05
To Be Continue
AN:
# Yeayyyy bisa up lagiiii
# Tahukah kalian kalau seorang author jika dihadapi dengan writer block adalah tantangan tersulit? Jadi, jika kalian membaca ini, pastikan di review yaaaaa
# See you next wednesdayyyy