Please baca AN dan ngereview, karena amat sangat penting sekali untuk Hyuna.

Chapter 07

Home

Minhyung mengajak Jaemin menyebrang jalan dan duduk disebuah cafe bernuansa santoniri. Jaemin jadi adem lihatnya.

"Mau apa?" tanya Minhyung sebelum ke kasir. Jaemin meletakkan jari telunjuknya pas dibagian dagu, memasang pose berpikir yang membuat Jaemin lucu berkali-kali lipat dari biasanya.

"Eum... Mocca." kata Jaemin setelah menimbang-nimbang pilihan yang ada. Minhyung mengangguk dan meminta anak sekolah itu untuk mencari tempat duduk.

Jaemin memilih spot yang baik. Namja muda itu berjalan kelantai atas, duduk ditempat yang langsung menghadap ke jalanan Seoul dan gedung perusahaan Jeno.

Sedikitnya ia mendapat pemandangan yang lebih baik daripada menghadap ke kasir.

Omong-omong, karena tadi menyinggung nama Jeno. Jaemin jadi penasaran...

Apa Jeno sudah selesai dengan rapatnya?

Apa memang Jeno itu sebegitu kaku, hingga tidak peduli dengan cinta yang diberikan?

Kenapa Jeno mau saja menerima perjodohan dengannya yang bahkan anak sekolahan?

Dan, juga... apa Jeno dulu famous?

Sejujurnya, Jaemin jadi tertantang untuk mencairkan hati seorang Jeno. Walaupun, ia belum memastikan hatinya kepada Jeno sendiri. Tapi, tetap saja, ia penasaran dengan sikap Jeno yang berbeda dengan fisiknya.

Ayolah... siapapun juga akan mengatakan kalau Jeno itu tipe-tipe cowok playboy pada masa sekolahan, dan melepas penat dengan clubbing hingga subuh mendatang.

Wajah yang terpahat sempurna, dengan mata yang menatap tajam nan dalam, rahang yang tegas, belum lagi badan yang proporsional.

Jaemin saja kalau melihat fisik, Jeno pasti sudah diurutan pertama yang diincar. Masalahnya, Jaemin tidak mau berhubungan dengan orang yang bisa menyakiti orang lain.

"Sudah menunggu lama?"

Jaemin memalingkan wajahnya, menatap Minhyung yang tengah membawa nampan, memberikan segelas mocca untuk Jaemin,

"Belum. Gedung milik Jeno memiliki berapa tingkat?" tanya Jaemin basa-basi. Tidak peduli dengan Minhyung yang tengah meletakkan sepiring kentang goreng diantara mereka.

"Dua puluh? Dua puluh lima? Entahlah... Hyung sendiri hanya pernah naik sampai delapan belas." kata Minhyung yang membuat Jaemin melongo.

"Hanya?"

Minhyung mengangguk, "Itupun masih kurang. Menurut hyung pasti lebih dari duapuluh." kata Minhyung lalu mencomot kentang goreng tersebut.

"Dimakan Na Jaemin." kata Minhyung yang dibalas dengan anggukan oleh Jaemin.

"Hyung, sudah berapa lama bekerja dengan Jeno?" tanya Jaemin basa-basi.

"Sejak Jeno masih menjadi kepala divisi keuangan. Sekitar enam tahun yang lalu. Tapi, aku ini sahabatnya sejak enam belas tahun yang lalu." kata Minhyung yang membuat Jaemin melongo.

Seberapa tebal mental Minhyung untuk tetap sabar kepada Jeno?

Apa ia juga sanggup?

"Tunggu sebentar, Jaeminnie." kata Minhyung yang mengangkat teleponnya. Jaemin hanya mengangguk pelan, dengan tatapan masih menatap gedung tersebut.

"Kami? Cafe depan kantor. Kenapa memangnya?"

"Ck. Jangan mengkhawatirkan Jaemin. Dia baik-baik saja bersamaku. Bahkan, sedang nyemil kentang goreng disini." kata Minhyung sembari mengedipkan sebelah matanya ke Jaemin.

Jaemin hanya terkekeh geli, lalu mengambil kentang goreng dan memakannya dengan baik.

"Dia akan segera datang." kata Minhyung lalu melihat kearah jalanan dengan tatapan geli.

Jaemin hanya mengerjapkan matanya beberapa kali, sebelum akhirnya dirinya terkonek karena, melihat Jeno berdiri didepan tangga dengan nafasnya sedikit mengebu-ngebu.

"Wow man... aku tidak tahu kamu akan berlari sekencang ini." kata Minhyung yang bahkan tidak beranjak darisana.

"Aku menyuruhmu menjaganya bukan membawanya keluar dari kantor apalagi ruanganku." kata Jeno dengan datar, lalu duduk disamping Jaemin.

"Iya... Jaemin-ah, sepertinya kamu berhasil. Aku pergi dulu ya." kata Minhyung lalu segera meninggalkan tempat tersebut.

Jeno mengambil alih tempat duduk Minhyung, "Kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Jeno dengan nada khawatir. Jaemin tersenyum kecil lalu menggeleng. Ia benar-benar tidak kenapa-napa.

GREP

"Hyung..." kata Jaemin dengan lirih saat Jeno membawanya kepelukan hangat Jeno.

"Jangan begini. Jangan kabur lagi. Aku khawatir." kata Jeno dengan pelan.

"Aku tidak kabur, hyung. Aku hamya tidak mau mau berbuat apa diruangan milik hyung. Jadi, Minhyung hyung mengajakku keluar." kata Jaemin dengan kekehan geli.

"Intinya jangan kemana-mana tanpa persetujuanku. Kamu itu adalah rumah bagiku. Kamu paham kan?" tanya Jeno yang melepaskan Jaemin dari pelukannya lalu menuju ke lengan atas Jaemin.

"Aku paham, hyung." kata Jaemin yang tersenyum manis. Jeno ikut tersenyum.

"By the way, kamu jadi bicara sopan begitu." kata Jeno yang membuat Jaemin kikuk.

Ia sendiri juga tidak tahu kenapa. Tapi, mungkin ini hanya berlaku pada Jeno dan Minhyung tentunya.

Continue

AN:

# Maafkeun aku telat update lagiiii... TT

# Sakit ini mendera perutku terus-terusan.

# Review juseyoooooo