Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.
Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi
Until we meet again by cyancosmic
Enjoy!
Ask 1. Who are you?
Wanita berambut pirang keabuan yang sedang duduk di atas sofa memegangi kepalanya dengan ekspresi letih di wajah. Ia menatap putra tunggalnya yang baru saja melewatinya sambil memegang sebotol jus jeruk. Pandangan matanya menyiratkan banyak pertanyaan yang ingin dikemukakan pada sang anak.
"Begini," wanita itu berkata, "kalau-kalau kau tidak tahu, memelihara seorang balita itu tidak sama dengan memungut anjing atau kucing."
"Uh-huh," jawab putra tunggalnya acuh tak acuh dan meletakkan kembali jus yang baru saja ditenggak ke dalam kulkas. "Ngomong-ngomong, dia bukan balita, dia bocah berusia minimal delapan tahun. Jangan tertipu dengan penampilannya!"
"Baik," gumam si wanita, masih berusaha mengendalikan diri. "Jadi maksudku, merawat seorang bocah berusia delapan tahun dan merawat anjing atau kucing terlantar itu sama sekali berbeda."
Pemuda berambut pirang yang sama mengeluarkan beberapa bahan dari dalam kulkas. Ia mengeluarkan telur, daging dan beberapa sayur mayur yang disimpannya untuk beberapa hari. Sambil mulai mencuci ia pun berkata, "Aku memang tidak memelihara anjing atau kucing, wanita sialan! Aku takkan tahan dengan bulu-bulu mereka yang berceceran."
"Lantas karena itu kau akhirnya mengambil seorang anak?" Wanita itu berkata dengan lantang, menumpahkan semua rasa frustasinya. "Kalau ingin binatang peliharaan sebaiknya kau memelihara ikan atau kura-kura saja. Untuk apa, seorang pro hero aktif, tiba-tiba membawa pulang seorang anak?"
"Shut the f*** up!"
"Katsuki!" Sang Ibu balas membentak dan dengan nada tinggi ia berkata, "Untuk apa kau membawanya? Kau belum menikah , untuk apa kau mengambil anak itu? Apa jangan-jangan kau menghamili seorang gadis dan membuatnya melahirkan anakmu?"
"Apa kau sudah pikun, wanita sialan?" Katsuki balas berkata dengan jengkel. "Anak itu berusia delapan tahun. Memangnya kau pikir aku membuatnya umur berapa? Lagipula ia sama sekali tidak mirip denganku."
"Lantas mengapa kau membawanya?" Sang Ibu kembali bertanya dengan frustasi. "Kau tidak punya waktu untuk merawat seorang bocah di sela-sela jadwalmu yang padat."
"Siapa bilang aku takkan sempat?" tanya Katsuki sembari memecahkan telur yang tadi dikeluarkan dan mengumpulkannya di dalam mangkuk. "Time managementku sangat baik, jadi kata-kata seperti 'tak sempat' tidak ada dalam kamusku."
Di hadapannya, sang Ibu menghela napas. Ia beranjak dari sofa menuju ke dapur. Bersandar pada salah satu kabinet wanita itu kembali berkata, "Apa ini salah satu tugas dari agensi hero yang menaungimu? Kau terlibat dalam suatu misi dengan bocah ini?"
Masih sambil berkutat dengan urusan dapur, Katsuki kembali berkata, "Kenapa kau berpendapat begitu?"
"Karena aku tidak menemukan alasan yang masuk akal mengenai sikapmu," jawab sang Ibu lelah. "Aku tidak pernah mempermasalahkan kelakuanmu , mau memelihara binatang pun silakan, tapi tiba-tiba mengambil seorang anak tidak pernah terlintas dalam benakku. Apa sebenarnya yang kau sembunyikan?"
"Sudah kubilang aku tidak menyembunyikan apa pun," jawab Katsuki jengkel. "Lagipula binatang peliharaan dilarang di apartemenku."
"Jadi memang itu alasannya kau mengambil seorang anak?" Sang Ibu kembali bertanya dan mendekat pada Katsuki. "Karena kau tidak diizinkan memelihara binatang, kau tidak suka binatang yang berbulu, makanya kau memelihara seorang anak? Karena itu?"
"Kau sudah gila, ya?" Katsuki balas berkata. "Apa aku terlihat sebegitu depresi dan menginginkan binatang peliharaan di matamu?"
"Kalau begitu jelaskan padaku alasan sebenarnya."
"Tidak ada yang perlu kujelaskan," jawab Katsuki di sela-sela memotong sayuran. "Aku menemukan bocah itu dan tidak ada yang mengaku kehilangan anak."
"Kau bisa menitipkannya ke panti asuhan!"
"Panti asuhan terdekat sudah penuh," jawab Katsuki. "Kami tidak bisa memberikannya ke panti asuhan, jadi kuputuskan untuk—"
"Tapi itu bukan alasan hingga kau sendiri yang harus merawatnya," potong sang Ibu. "Apa kau sudah menyerahkannya pada kepolisian setempat untuk mencari orang yang kehilangan anak? Tidak mungkin ia lahir begitu saja tanpa seorang Ibu, 'kan?"
"Memang, kau pikir dia lahir dari apa? Batu?"
"Maksudku," ujar sang Ibu yang berdiri di samping dan melipat kedua tangan di depan dada, "biarkan kepolisian setempat mengurusnya dan bukan kau langsung. Apa kau kekurangan kerjaan sampai mereka memintamu merawat seorang bocah?"
"Hei!" Katsuki balas membantah. "Kau kira aku ini hero abal-abal yang hanya dapat mencari kucing atau anjing yang hilang? Apa TV di rumahmu rusak, wanita sialan? Sampai kau tidak tahu bahwa anakmu sendiri adalah hero nomor satu saat ini?"
"TV ku tidak rusak, tapi putraku sepertinya sudah gila," balas wanita itu dengan mata memicing. "Atau jangan-jangan, ia tidak gila, tapi agensinya yang gila."
"Sudah kubilang—"
"Apa jangan-jangan anak itu memiliki quirk berbahaya," potong sang Ibu. "Quirk berbahaya yang hanya dapat ditangani oleh hero yang menyandang gelar nomor satu saat ini."
"Demi Tuhan, anak itu quirkess," teriak Katsuki jengkel. "Sekarang, berhentilah menggangguku!"
Mitsuki Bakugou tertegun. Ia menatap putranya yang sudah berkutat kembali dengan pisau dan talenan. Masih tidak percaya ia mengulangi perkataan putranya, "Anak itu... quirkess? Bagaimana mungkin?"
"Dia tidak punya sendi tambahan di kakinya," balas Katsuki. "Jangankan menyakitiku, anak itu bahkan tidak bisa menjaga dirinya!"
Sekali lagi Mitsuki bungkam. Ia mendengarkan sementara punggungnya merileks. Perlahan ia bergumam pada dirinya sendiri, "Quirkess. Bagaimana—di zaman sekarang— bagaimana—"
Katsuki tahu bahwa sang Ibu masih mempertanyakan perihal bocah yang ia temukan beberapa hari lalu. Memang terdengar mustahil mendengar ada seseorang yang tidak memiliki kemampuan apa pun di saat quirk merupakan hal lumrah yang dianggap setara dengan anggota tubuh. Tidak memilikinya bisa dianggap sebagai cacat fisik. Lebih parah dibanding disabilitas manapun.
"Lantas kenapa?" Mitsuki kembali bertanya. Ia justru semakin tidak mengerti. "Aku tahu dirimu, kau bukan orang sebaik itu sampai mau merawat seorang anak, terlebih yang quirkess. Apa kau sedang mencari sensasi di media?"
"Kau benar-benar cerewet," balas Katsuki enggan mendebat lagi. Ia kembali fokus pada sayuran yang tengah ia masukkan ke panci. Sesekali tangannya akan mengaduk isi pancinya sementara pikirannya melanglang kembali ke beberapa hari sebelumnya. Untuk kebaikannya akhirnya ia membuka mulut dan bercerita.
"Reruntuhan? Apa yang sedang kau bicarakan, Ground Zero?" Atasan sekaligus senior di agensi, seorang pria dengan kaus santai berambut berantakan yang hampir pensiun sebagai pro hero itu berkata, "Aku tidak pernah mendengar reruntuhan di bawah gorong-gorong seperti yang kau ceritakan."
Ground Zero, hero pro yang disebut-sebut sebagai hero nomor satu saat ini, memandang atasannya sembari memicingkan mata. Sifatnya yang meledak-ledak sudah terkenal, bahkan atasan sekaligus gurunya selama bersekolah itu maklum. "Kau seharusnya lebih tahu dariku, dasar tua bangka!"
"Tua bangka," ulang sang atasan, "kosakata burukmu makin bertambah saja."
Frustasi, Ground Zero pun memukul meja. Ia sama sekali tidak percaya bahwa atasannya yang sudah lebih lama berkecimpung di dunia hero tidak tahu menahu soal reruntuhan yang ia maksud. Putus asa, Ground Zero memegangi kepalanya dan berkata, "Apa tidak ada referensi? Kau sama sekali tidak tahu mengenai kota yang terkubur di bawah kota Musutafu?"
"Tidak ada hal itu di buku sejarah maupun tata kota," jawab sang atasan, Eraser Head, yang tetap tenang menghadapi muridnya yang temperamen. "Dan tak ada pilar zamrud yang kau sebut dengan anak kecil yang tiba-tiba jatuh dari langit. Kau pasti salah."
"Tapi anak itu benar-benar ada di sana!"
"Dari ceritamu, kau tidak melihat anak itu terkubur di dalam pilarnya, bukan?" Eraser Head kembali berkata dengan kedua tangan terlipat di atas meja. "Berarti bisa saja kau salah. Anak itu bukan berasal dari reruntuhan yang kau maksud."
"Apa kau pikir anak itu jatuh dari atas begitu saja?" Katsuki balas berkata. "Demi Tuhan, bagaimana caranya? Tidak mungkin anak yang sedang bermain, tahu-tahu penasaran dengan gorong-gorong dan terjatuh."
"Itu terdengar lebih masuk akal untukku," tunjuk Eraser Head. "Akhirnya logikamu kembali, Ground Zero."
"Lalu bagaimana kau menjelaskan soal kakinya?" Katsuki berkata dengan mencondongkan tubuh ke dekat meja sang atasan. "Anak itu didiagnosis tidak menggunakan kakinya untuk waktu yang lama. Apa yang memungkinkan anak yang didiagnosis seperti itu berjalan sendirian dan jatuh ke dalam reruntuhan?"
Eraser Head tidak langsung menjawab. Selama sesaat ia bungkam sebelum bangkit berdiri dari kursi yang ia tempati. Memutari meja, ia mengambil telepon dan berkata,"Akan kutanyakan pada kepolisian setempat apabila ada yang melaporkan soal kehilangan, sementara itu kau dan Red Riot buatlah laporan terkait kejadian hari ini."
"Persetan dengan laporannya!" Katsuki berkata dengan tidak sabar. "Kau seharusnya mencari tahu soal reruntuhan yang terkubur. Apa alasannya hingga sesuatu sebesar itu disembunyikan dari mata publik?"
Menghela napas, pria yang rambut ikalnya diikat ke belakang itu berkata, "Pemerintah berhak melakukan apa pun yang mereka anggap perlu untuk kepentingan warganya. Mungkin saja itu proyek pemerintah yang terbengkalai dan—"
"Proyek pemerintah macam apa yang mengharuskan meninggalkan satu kota?" Katsuki balas bertanya dengan nada tinggi. "Proyek macam apa yang membuat pemerintah harus menguburnya dan membangun kota lain di atasnya? Kalau memang ini untuk kebaikan warga berikan padaku satu alasan bagus karena bagiku mereka lebih terlihat menyembunyikan kesalahan dibanding melindungi warga."
"Katsuki!"
Suara tinggi sang atasan membuat Katsuki bungkam. Walaupun begitu, ia belum menyerah. Ia hanya menunggu untuk membantah.
"Tidak ada gunanya berprasangka seperti itu," ujar sang atasan seraya meletakkan gagang telepon. "Lagipula tidak mungkin cacat semacam itu tidak tersebar di masyarakat. Mereka harus memiliki alasan yang bagus untuk membuat kami tutup mulut."
"Dan menurutmu apa alasannya, Bakazawa?"
Menatap lawan bicaranya, Eraser Head tidak mengatakan apa pun. Ia menghela napas sebelum berkata, "Melindungi warga. Hanya itu yang bisa kupikirkan."
"Menurutku tidak," balas Katsuki. "Bisa saja ini kecelakaan yang berusaha ditutupi pemerintah. Untuk menjaganya, pemerintah menggunakan seseorang dengan quirk yang dapat memanipulasi memori ke seluruh negeri hingga tak seorang pun tahu mengenai bencana tersebut."
Eraser Head menggelengkan kepala. "Tidak ada quirk yang dapat menggerakkan seluruh negeri, Bakugou. Dinginkan kepalamu!"
Katsuki ingin membantah namun ia tahu bahwa atasannya ada benarnya. Terlalu muluk bila mengatakan ada quirk yang dapat mempengaruhi satu negeri. Kalau ada orang seperti itu, tentunya ia takkan berkesempatan menjadi hero nomor satu.
Mendengarkan perintah sang atasan, Katsuki akhirnya berbalik. Didorongnya pintu kaca tempat sang atasan berada sementara ia berjalan menuju ke ruang tamu. Ia mencari-cari bocah yang ditinggalkannya di atas sofa sebelum ia mendengar langkah mendekat.
"Oh, kau sudah selesai?" Orang itu berkatasambil membawa sosok yang ia cari. Dengan santainya pemuda berambut merah dengan gigi seperti hiu tiu mengangkat bocah kecil yang berada di pelukannya dan berkata, "Lihat! Aku sudah membelikannya baju baru. Baju lamanya sangat kotor, jadi kami sekalian berbelanja dan mengganti baju."
Sekali lagi Katsuki menyipitkan mata melihat bocah yang ditemukannya saat misi sebelumnya. Bocah itu langsung berpaling dan menyembunyikan wajahnya. Sikapnya yang ketakutan membuat Katsuki sedikit jengkel. Namun ia tidak mau ambil pusing dan memilih untuk melewatinya.
Ia berjalan menuju ke ruangan yang disekat untuk menyimpan baju. Memandang Kirishima dan anak itu sejenak, ia pun berkata, "Kau sudah memeriksanya? Soal quirknya?"
Mendengar suara Katsuki, Kirishima kembali menggerakkan kepala. Sembari membawa si bocah dalam pelukan ia mendekat pada ruangan ganti. "Aku sudah memeriksakannya sesuai instruksimu. Tapi tidak ditemukan quirk seperti yang kau katakan."
Katsuki sempat terdiam saat ia hendak melepaskan resleting bagian atas bajunya. Sejenak ia teringat saat airmata tiba-tiba menetes ketika ia melihat bocah itu. Namun mengingat penjahat yang satunya mampu memanipulasi air, ia berpikir kemungkinan quirk si penjahatlah yang mengenainya. Sebagai gantinya ia berkata, "Jadi apa quirknya?"
Jawabannya tak datang secepat dugaan Katsuki. Kirishima tampak ragu-ragu sebelum berkata, "Soal itu..."
Tangannya memasukkan kaus melewati kepala dan mengenakannya. Dibantingnya pintu locker sebelum akhirnya ia berjalan meninggalkan ruangan. Ketika ia muncul, Kirishima masih berdiri di depan pintu dengan salah tingkah. Melihatnya Katsuki pun mengerutkan dahi. "Apa?"
"Anak ini...," ujar Kirishima sembari menatapnya ragu, "quirkess."
"Quirk— kau yakin?" Katsuki mengulangi ucapan Kirishima hingga pemuda itu mengangguk. "Bagaimana mungkin di zaman sekarang ini ada orang yang tak memiliki quirk? Mungkin dia belum mencapai usia empat tahun?"
"Berdasarkan keterangan dokter, usianya minimal delapan tahun," terang Kirishima. "Tapi di kakinya tidak ada sendi tambahan. Makanya anak ini bisa dikatakan—."
"Mana mungkin dia tidak punya quirk," bantah Katsuki. "Apa kalian sudah menyertakannya untuk mengikuti beberapa tes? Jangan bilang kau tidak mengikutinya dan hanya mengikuti ucapan sang dokter semata?"
"Ah, kami memang tidak melakukan serangkaian tes," Kirishima berkata. "Tapi dokter bilang, tanpa adanya sendi tambahan di jari kelingking kaki, quirk mustahil ditemukan. Makanya—"
Mendengarnya Katsuki langsung mendekat pada keduanya. Sedikit jengkel ia berkata, "Berikan bocah itu! Biar aku yang menanyai dokternya. Bodoh benar kau tidak menyertakannya dalam serangkaian tes hanya karena ucapan dokter itu."
"Aku sudah mencoba mengikutkannya dalam tes tapi dokter yang menanganinya bilang tidak ada gunanya," ujar Kirishima sembari menyerahkan si bocah dalam pelukan dengan hati-hati pada Katsuki. Namun bocah di pelukannya malah memeluknya semakin erat dan tak mau melepaskannya. "Err..."
Tangan bocah itu mencengkeram kaus yang biasa dikenakan Kirishima. Ekspresi wajahnya memberengut yang disembunyikan dari pandangan Katsuki. Dengan manik hijau yang berkaca-kaca ia menggelengkan kepala dan membenamkannya di dada Kirishima.
"O-ow," ujar pemuda itu sambil memeluk si bocah. "Sepertinya dia tidak mau, Bakubro."
Melihat tingkah bocah itu semakin membuat Katsuki jengkel. Dengan sedikit paksaan ia menarik tudung yang dikenakan dan mengakibatkan bocah itu semakin menguatkan pegangan tangannya pada Kirishima. Ia meringis sementara ekspresinya yang ketakutan tak dapat disembunyikan terlebih saat melihat sang hero.
Tepat saat Katsuki berusaha menarik si bocah, atasannya keluar dari balik pintu kaca. Dihampiri keduanya sebelum berkata, "Hentikan, Bakugou! Kau menakutinya."
"Jangan ikut campur, Bakazawa!" Katsuki balas membentaknya. "Gigi hiu sialan ini mengatakan bahwa anak ini quirkess, padahal tidak mungkin ada yang seperti itu. Kalau ada yang seperti ini—"
"Aku tidak mau tahu apa pendapatmu, tapi memaksa seseorang apalagi anak kecil, sama sekali tidak elegan untuk ukuran hero nomor satu," jawab Aizawa Shouta. Ia menarik Katsuki menjauh sedikit dari Kirishima dan si bocah, lalu berkata, "Ada yang perlu kukatakan pada kalian. Sepertinya kita akan bersama bocah ini sedikit lebih lama."
Menyipitkan mata Katsuki menatapnya, "Apa maksudmu?"
"Maksudku," lanjut Aizawa sambil menatap bocah di pelukan Kirishima, "Tidak ada laporan dari kepolisian Musutafu mengenai kehilangan anak. Aku juga mencoba menanyai kepolisian pusat mengenai laporan dalam beberapa bulan terakhir namun jawabannya tetap sama."
Alis Katsuki menukik tajam. Ia menatap sang atasan penuh arti sementara ia memutar otak. Tidak ada laporan soal kehilangan anak? Kalau begitu dari mana anak ini berasal?
"Yah, mungkin saja orang tuanya tidak mau melaporkannya atau anak ini berasal dari panti asuhan," lanjut Aizawa seolah dapat membaca ekspresi Katsuki. "Aku akan mulai menanyakannya pada lembaga-lembaga terkait. Tapi yang perlu kalian ketahui adalah kita tidak bisa menitipkannya sementara pada kepolisian dan panti asuhan."
"Eh? Kenapa?" Kirishima bertanya. "Kalau tidak di panti asuhan, lalu siapa yang akan merawatnya?"
"Kepolisian sibuk mengurus kasus lain, sementara panti asuhan di sekitar sini sudah penuh," lanjut Aizawa sambil menatap bocah di pelukan Kirishima. "Jadi untuk sementara, kita akan merawatnya bergantian hingga kita menemukan orang tua atau lembaga yang mau menerimanya."
Kedua bawahannya terdiam, namun tak mengeluarkan satu pun bentuk protes. Di sampingnya Katsuki mendengus dan berkata, "Apa kau menjelaskan bahwa anak ini quirkess, Bakazawa?"
Alis Aizawa terangkat dan berkata, "Mereka bertanya, aku terpaksa menjelaskan."
"Tak heran," jawab Katsuki sembari mengambil langkah mendekat pada Kirishima dan si bocah yang ada di pelukannya. Ia mengulurkan tangan dan berkata, "Berikan anak itu padaku, Kirishima!"
Rekan sekaligus sahabatnya tergagap mendengar permintaan Katsuki. Ia menatap hero nomor satu itu dan memosisikan si bocah di belakang punggung. "T-Tunggu, Bakubro! Kau mau apa?"
"Tidak ada yang mau merawatnya karena anak ini quirkess," balas Katsuki. "Berikan padaku! Akan kubawa dia menjalani serangkaian tes. Akan kucari tahu sendiri apa quirknya."
Di sebelahnya, sang atasan menyentuh pundaknya dan berkata, "Percuma saja, Bakugou. Aku tahu bahwa anak ini quirkess."
Katsuki menyipitkan mata sementara Aizawa kembali menjelaskan, "Untuk berjaga-jaga, sebelum kau membawanya masuk, aku mencoba menghapus quirk apa pun di tubuh bocah itu. Tapi aku tidak merasakan apa pun sehingga aku tahu bahwa quirk itu sendiri tidak pernah ada padanya."
Selama sesaat tidak ada yang bicara. Ketiganya hanya berpandangan, sementara Kirishima mencengkeram erat bocah di pelukannya. Ketiganya tetap terdiam hingga salah satunya mengeluarkan suara tawa yang mengintimidasi.
"B-Bakugou?"
Quirkess. Lelucon yang benar-benar tidak bisa dipercaya. Katsuki tak habis pikir bagaimana anak yang ia temukan bisa tidak memiliki quirk apa pun di tubuhnya. Di zaman seperti sekarang ini, benar-benar mustahil.
Tentunya, ia mengerti mengapa panti asuhan dan lembaga pemerintah apa pun memutuskan untuk menutup mata terhadap anak-anak yang tak memiliki bakat seperti itu. Ia sendiri akan bersikap sama bila berada di pihak pemerintah.
Hanya saja, ia tidak bisa mengerti. Dia—hero nomor satu, yang bahkan tidak peduli pada anak-anak yang ketakutan setiap melihatnya – berusaha menjaga sikap saat berhadapan dengan bocah berambut hijau quirkess itu. Melihat bocah itu bersembunyi di pelukan Kirishima membuatnya harus menahan diri mengucapkan kata-kata kasar yang biasa ia gunakan. Mendengarnya tidak diinginkan di mana pun membuatnya geram dan untuk alasan yang tidak bisa ia mengerti, ia justru tidak terima.
Aneh. Sejak bertemu anak ini, Katsuki tak lagi mengerti dirinya sendiri. Ia bahkan tak tahu mengapa ia meletakkan tangan di atas kepala bocah itu. Bahkan ia berkata, "Aku saja yang merawatnya."
Kedua rekannya menatap sang hero nomor satu dengan tidak percaya. Kirishima menganga lebar sementara Aizawa membelalakan mata. Keduanya kompak menyuarakan keheranan dengan cara yang berbeda.
"Seorang bocah quirkess takkan menjadi beban buatku," ucap Katsuki sambil mengulurkan tangan dan mengambil si bocah dari tangan Kirishima yang masih ternganga. "Hingga keluarganya ditemukan, bocah ini akan tinggal denganku."
"T-tapi Bakubro, bukannya aku tidak mengerti niat baikmu," Kirishima yang lebih dulu pulih akhirnya berkata, "hanya saja anak itu takut padamu. Bagaimana—"
Alis terangkat dan Katsuki menatap si bocah yang memberengut seolah menahan tangis, Pada bocah itu ia berkata, "Kenapa kau takut? Memangnya kau tidak tahu siapa aku?"
Manik hijau si bocah menatapnya ragu-ragu. Baik bocah itu dan rekannya sedikit terkejut dengan perubahan sikap sang hero. Namun keduanya tidak mengatakan apa pun. Si bocah sendiri menatapnya bingung. Hanya saat pandangan mereka bertemu,bocah itu justru mengalihkan pandangan. Dengan suara yang mirip dengan gumaman pelan bocah itu berkata, "Tahu."
Alisnya terangkat sementara Katsuki berkata. "Kalau sudah tahu, kenapa masih ketakutan?"
Sedikit ragu-ragu ia menatap Katsuki. Ketakutan membuatnya kembali menutup mulut dan menggelengkan kepala. Sayangnya Katsuki menggerakkan bocah itu dengan gerakan pelan dan berkata, "Kenapa diam? Kau yakin kau mengenalku"
Sebagai ganti bocah yang tak mau menjawab, Kirishima menghampiri keduanya. Satu tangan diletakkan di bahu Katsuki dan ia berkata, "Santai, Bakubro! Bocah ini tidak punya ingatan apa pun."
"Ha?"
"Dia tidak tahu siapa dirinya dan dia juga tidak mengenalmu." Kirishima lanjut berkata, "Aku yang memberitahunya bahwa kita ini agensi hero dan mengenalkannya dengan beberapa hero saat kau di dalam tadi."
Quirkess dan amnesia. Kurang sial apalagi bocah itu? Menemukan keluarganya bagaikan mencari jarum di antara tumpukan jerami. Bedanya, jerami yang bertumpuk terlalu banyak sehingga ia tak yakin akan menemukan keluarganya dalam waktu singkat.
"Err," Kirishima yang menyadari sikap Katsuki akhirnya angkat bicara, "Aku juga tak keberatan merawatnya. Kalau mau, kita bisa merawatnya bergantian dan—"
"Tidak," Katsuki dengan cepat menolak. "Tidak perlu. Aku akan merawat bocah ini."
"Tapi, Bakubro—"
"Tidak masalah selama dia quirkess, kehilangan ingatan dan tidak bisa berjalan." Katsuki berkata sambil mencengkeram erat bocah di pelukannya. "Bukan masalah besar untukku."
"Kau yakin?" Kirishima berkata ragu-ragu. "Kau 'kan tidak suka anak kecil."
"Memang," jawab Katsuki tak berusaha menutup-nutupi. "Aku tidak suka anak kecil, apalagi pada bocah yang senang berbohong."
"Bakubro, anak itu—"
"Kau tidak tahu apa-apa tentangku, tapi berani-beraninya kau asal bicara." Katsuki berkata sambil memberikan pandangan yang mengintimidasi bocah itu. Sikapnya membuat si bocah berusaha keras menjauhinya, namun Katsuki justru menariknya lekat. "Lalu apa yang kau tahu tentangku, bocah?"
Tidak berani menjawab, sang bocah memilih untuk menyembunyikan wajahnya dari Katsuki. Melihat itu Kirishima memutuskan untuk menginterupsi dan berkata, "J-jangan takut! Ingat yang kukatakan? Orang ini dipanggil Ground Zero, hero nomor satu sekaligus Symbol of Peace saat ini."
"Symbol of Peace?"
"Ya," ujar Kirishima sambil menunjuk Katsuki. "Symbol of peace itu orang-orang yang menjaga kedamaian di muka bumi dari para penjahat. Keren 'kan?"
Mendengar penjelasan Kirishima, manik zamrud si bocah pun mulai memancarkan sedikit harapan. Walau masih ketakutan, perlahan ia mulai menatap Katsuki. Kepalanya tak lagi tertunduk dan untuk pertama kalinya, mereka bertatapan tanpa membuang muka kemudian.
Satu tangan Katsuki akhirnya mampir di atas kepala si bocah menggantikan Kirishima. Kemudian ia berkata, "Kau sudah mengenalku sekarang."
"Um.."
"Kalau begitu sekarang giliranku," ujarnya sambil menatap si bocah. "Aku belum mengenalmu."
Si bocah menatapnya bingung. Ia menggerakkan kepala, meminta Katsuki menjelaskan lebih lanjut. Dan sepertinya Katsuki memahami reaksinya sehingga ia berkata,
"Siapa namamu?"
"Katsuki!"
Suara tersebut menyadarkannya dari lamunan. Perlahan ia menoleh ke samping dan melihat sang Ibu tengah memandangnya khawatir. Ia pun menghela napas dan kembali sibuk dengan sayur mayur yang tengah diolahnya.
"Begitulah," ujar Katsuki setelah selesai menceritakan pada sang Ibu mengenai asal usul bocah itu. "Aku hanya menampungnya sementara hingga ada yang muncul dan melaporkan bahwa ia kehilangan anak."
Menggelengkan kepala sang Ibu berkata, "Sampai sekarang aku masih tidak setuju bahwa seorang hero profesional sepertimu memilih untuk merawat anak-anak. Aku tidak mau kau memaksakan diri di tengah jadwalmu yang padat dan—"
"Sejak kapan kau mengkhawatirkanku, wanita sialan?" Katsuki berkata sambil memasukkan bahan-bahan makanan yang sudah dipotongnya ke dalam panci. Ditutupnya panci sementara ia berjalan menuju ke dapur dan mengeluarkan bahan lain beserta mangkuk adonan. "Ngomong-ngomong kalau kau tidak ingin membantu, sebaiknya kau pulang."
"Beraninya bicara begitu pada orang tuamu!" Sang Ibu berkata sambil menjitak kepala anaknya. Walaupun Katsuki menggerutu, ia tetap berdiri di samping sang anak dan kembali berkata, "Bagaimana kalau kau titipkan anak itu padaku? Biar aku saja yang merawat anak itu!"
Alisnya terangkat dan Katsuki berkata, "Tidak. Terima kasih."
"Aku serius. Seorang hero sepertimu tidak punya waktu untuk mengurus anak kecil, kau—"
Suara berdebum pelan membuat Katsuki berhenti mencampurkan adonan yang tengah ia olah. Sebelum sang Ibu sempat menanyakan apa yang tengah terjadi, ia sudah meninggalkan dapur dan melangkah cepat menuju ke kamar. Dibukanya pintu kamar dan dengan tergesa-gesa ia menghampiri sisi ranjang.
"Lagi-lagi!"
"A-aku, aku..."
"Bukankah sudah kukatakan untuk memanggilku bila kau mau turun dari ranjang?" Katsuki berkata sambil mengangkatnya ke pelukan. "Jauh lebih merepotkan untukku kalau kau hanya diam dan tahu-tahu terjatuh."
"M-maaf," ujar si bocah dengan kepala tertunduk. "Maaf, Ground Zero-san."
Mendengar permintaan maafnya membuat Katsuki menghela napas. Dengan si bocah di pelukannya, Katsuki beranjak keluar kamar. Ketika ia membuka pintu, ibunya sudah berdiri di depan dengan dahi berkerut. Walaupun pada akhirnya wanita itu menyingkir dan mengikuti Katsuki yang tengah mendudukan bocah itu di atas sofa.
Sementara Katsuki menyalakan televisi, wanita itu menghampirinya dan berkata, "Penawaranku masih berlaku kalau kau mau menitipkan bocah ini."
Manik merah Katsuki menatapnya dengan tajam. Sikap yang bagi Mitsuki sudah menjelaskan maksudnya. Sehingga tanpa banyak bicara ia mengangkat tangan dengan sikap menyerah dan berkata," Baiklah!Terserah padamu saja! Jangan datang dan menangis padaku kalau kau kerepotan mengurus anak nanti."
"Tidak akan," balas Katsuki cepat.
"Kita lihat saja!" Mitsuki berkata sambil berbalik. "Aku pulang dulu kalau begitu!"
Katsuki tidak mengatakan apa pun dan membiarkan wanita itu berjalan keluar. Pandangannya masih tertuju pada punggung wanita yang telah membesarkannya selama dua puluh lima tahun itu. Entah apa yang merasukinya hingga ia menolak bantuan wanita itu dan lebih memilih merawat si bocah sendiri. Ia pun tidak mengerti.
Menggelengkan kepala, Katsuki memutuskan untuk tidak ambil pusing. Ia kembali masuk ke dalam dan menghampiri sofa tempat bocah itu duduk tenang sambil menonton televisi. Bersandar di belakang sofa, ia pun berkata, "Ada masakan tertentu yang tak bisa kau makan?"
Mendengar pertanyaan dari sang hero nomor satu, bocah itu pun menoleh dan menggelengkan kepala. "Aku... makan apa saja."
"Begitu," jawab Katsuki sambil mengangkat alis. Pandangannya kembali tertuju pada si bocah yang tak bernama dan quirkess di hadapannya. Sekali lagi ia memikirkan alasan yang membuatnya mau mengurus bocah ini seorang diri.
"Umm, Ground Zero-san..."
Katsuki menoleh saat mendengar bocah itu memanggil namanya. Ia menunggu hingga bocah itu membuka mulut dan bersuara.
"Maafkan aku."
Satu alis terangkat, namun Katsuki tak berkomentar. Ia menunggu bocah itu melanjutkan ucapannya.
"Andai kedua kakiku cukup kuat," kata si bocah dengan kepala tertunduk. "Aku takkan merepotkanmu."
Itu bukan masalah besar sebetulnya bagi Katsuki. Namun ia setuju bahwa akan menguntungkan bila kedua kaki anak itu bisa digunakan.
"Andai aku punya quirk, atau pun memiliki ingatan," ujar bocah itu lagi, "maka aku takkan merepotkanmu."
Sekali ini Katsuki menatapnya dari balik sofa. Tangannya terulur pada si bocah dan ia berkata, "Kau cukup tahu diri juga."
Kepala tertunduk, bocah itu pun merengut. Ekspresi kesedihan tak lepas dari wajah sehingga Katsuki mengangkat tangannya dari kepala bocah itu. Sambil memutari sofa ia berkata, "Tapi anak sepertimu tak perlu memusingkan soal itu. Itu urusanku."
"Itu—"
"Aku yang memutuskan untuk melakukannya," jawab Katsuki seraya mengambil tempat di sampingnya. "Dan itu bukan karena anak kecil quirkess sepertimu."
Si bocah tidak mengucapkan apa pun. Kepalanya tertunduk sementara tangannya mengepal. Melihatnya, Katsuki pun sedikit jengkel dan berkata, "Gosh! Kau benar-benar tidak berguna, seperti deku saja."
Mendengar itu, si bocah pun berkata, "Aku... juga tidak mau seperti ini. Aku tidak mau merepotkan siapapun."
"Kalau tidak mau merepotkan," ujar Katsuki sambil meletakkan kembali tangannya, "paling tidak jangan termenung dan menyesali apa yang tidak ada padamu. Aku benci anak-anak seperti ini."
"T-tapi..."
"Menyesal tidak ada gunanya," lanjut Katsuki, "sebaiknya kau pikirkan apa yang bisa kau lakukan untuk anak quirkess dan tidak bisa apa-apa sepertimu."
"Itu..."
"Tidak harus sekarang," tambahnya. "Suatu saat nanti juga tak apa. Sekarang ini sebaiknya kau diam dan tidak berpikir macam-macam."
Manik hijau mengerjap, menatap Katsuki penuh tanda tanya.
"Mengerti?"
Tergagap bocah itu mengangguk kuat-kuat sementara Katsuki mengacak-acak rambutnya. Walaupun masih jengkel, Katsuki akhirnya berkata, "Dasar Deku!"
"Ng?"
"Apa?" Katsuki balas bertanya ketika melihat bocah itu menatapnya ingin tahu. "Keberatan bila aku memanggilmu Deku mulai dari sekarang?"
Terdiam. Bocah itu menggeleng pelan sebelum Katsuki menggumamkan suatu kata dan melangkah ke dapur. Ketika Katsuki sudah separuh jalan, si bocah berbalik dan mencoba menggunakan kedua lutut untuk menyangga tubuh. Dari balik sofa ia berkata, "Ground Zero-san..."
"Apalagi?"
"A-aku tidak suka paprika," ucap bocah itu lagi, "b-barusan aku melihat paprika di dapurmu, Ground Zero-san."
Katsuki mendengus mendengarnya. Namun dibanding mengindahkan soal paprika, ia malah berkata, "Kau masih memanggilku begitu. Apa kau tidak dengar wanita itu memanggilku apa tadi?"
Si bocah menggerakkan kepala. Satu gelengan di kepalanya berhasil membuat Katsuki mendecak kesal. Walaupun begitu manik hijaunya yang berbinar tahu bahwa Katsuki tidak sungguh-sungguh jengkel padanya.
Buktinya pemuda itu berkata, "Katsuki. Panggil aku Katsuki mulai sekarang."
.
.
.
(t.b.c)
A.N:
Deku = Written with different kanji, it can mean a wooden figure or puppet, used as an insult for someone who can't do or achieve anything. (by Wiki fandom Boku no Hero Academia, Izuku Midoriya)
Holla All! Kembali lagi dengan Cyan! Akhirnya memasuki masa liburan juga! Kembali lagi dengan Deku kecil dan Ground Zero-san kita. Btw, saya nggak tau Izuku suka paprika atau nggak, di profilnya nggak ada keterangan soal makanan yang nggak disuka. Hm...
Aniway, untuk :
El-Vtrich : holaaa EL-chan, aku juga suka sama Aroe banget. Kacchannya baik banget di sana. Tapi dekunya juga imut-imut. Aniway, hope you enjoy reading the fic XD
Aniway, hope you guys enjoy the story and if you mind let me know your opinion. It'll be fun to fangirling with you guys.
Cheers,
Cyan
