Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.
Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi
Until we meet again by cyancosmic
Enjoy!
Ask 2. What are you doing?
Bunyi decitan pintu yang digeser membuat pemuda berambut merah yang berada di dalam mengangkat kepala. Ia menunggu hingga sosok yang berada di balik pintu muncul. Begitu ia melihat sosok yang ia kenali, ia pun bangkit dari kursi dan menghampiri keduanya.
"Ohayou, Bakubro!" Ia berkata dengan ceria. Pandangannya kemudian teralih pada bocah kecil yang memeluk leher pemuda berambut ash blonde itu. Sambil memamerkan semua giginya, ia berkata, "Ohayou!"
Dengan suara yang mirip cicitan, bocah berambut hijau itu pun membalas sapaan selamat paginya. Kedua tangannya masih bertengger di bahu Katsuki, memeluk leher pemuda itu erat-erat. Manik hijaunya menyapu ruangan sebelum Katsuki membawanya masuk ke dalam.
"Apa kalian sudah sarapan?" Kirishima bertanya sambil mengikuti keduanya. Ia kembali menempati kursi yang ia duduki dan mengambil roti yang sebelumnya ia tinggalkan. "Kau mau separuh, Bakubro? Kau mau, adik kecil?"
"Singkirkan itu!" Katsuki berkata sambil mendudukan si bocah ke kursi. "Dan jangan panggil dia 'Adik kecil'. Dia bukan adikmu."
Memberengut, Kirishima balas berkata, "Lalu aku harus memanggilnya apa? Dia bahkan tak tahu siapa namanya."
"Deku!" Katsuki berkata sambil berjalan menuju ke loker. Ia berhenti sejenak di depan pintu dan berkata, "Perkenalkan dirimu!"
Bocah kecil yang dipanggil Deku mengangkat kepala mendengar ucapan Katsuki. Manik hijaunya mengikuti Katsuki sebelum berbalik pada pemuda bergigi hiu yang tengah menggigit sarapan paginya. Ia membungkuk sedikit dan berkata, "Katsuki memanggilku Deku. Senang berkenalan denganmu, Red Riot-san."
Kirishima nyaris tersedak mendengar bocah kecil itu memanggil nama heronya. Ia buru-buru mengambil air dan menghabiskannya dalam sekali teguk. Begitu tenggorokannya terasa lega, barulah ia tersenyum sedikit pada si bocah. Dengan satu tangan di sela-sela rambut hijau bocah itu ia berkata, "Kau bisa memanggilku Eijirou mulai sekarang. Tidak perlu repot-repot menggunakan nama hero-ku."
"Umm..."
"Bukankah Bakubro juga memberitahukan namanya padamu?"
Bocah itu mengangguk sedikit. Walaupun demikian perlahan ia mengangkat kepalanya dan berkata, "Salam kenal, Ei-chan."
Mengangguk, Red Riot pun mengacak-acak rambut si bocah. Sambil memasang senyum di wajah ia berkata, "Itu juga boleh."
Sebelum Deku sempat mengucapkan sesuatu, pintu ruang ganti lebih dulu terbuka dan pemuda berambut ash blonde dengan seragamnya yang didominasi warna hitam mendekati mereka. Ia menarik kursi dan duduk di sebelah Deku. Begitu ia sudah duduk dengan nyaman barulah ia berkata, "Panggilan Ei-chan itu menggelikan."
Menggerutu, Kirishima menoleh pada sang sahabat. Lalu ia berkata, "Kau hanya iri padaku, Bakubro."
"Untuk apa aku iri padamu?" Katsuki balas berkata.
"Ya, ya," jawab Kirishima acuh. Pandangannya kembali menatap bocah di pelukan Katsuki sebelum berkata, "Tapi ngomong-ngomong Bakubro, untuk apa kau membawa serta Deku-kun ke kantor? Apa kau berencana menjadikannya sidekick-mu?"
Katsuki memberikan satu tatapan jengah pada sahabatnya. Dengan satu tangan di atas rambut si bocah ia berkata, "Istirahat nanti aku mau membawanya ke terapis."
"Terapis?"
"Kakinya," ujar Katsuki sambil mengangkat tangan sementara kepalanya tertuju pada bocah itu. "Merepotkan harus mengangkutnya ke sana sini. Bahkan ke toilet saja dia tidak bisa sendiri."
Kirishima hanya memberikan suara tawa canggung ke arah keduanya. Namun tetap perhatiannya tertuju pada si bocah dan ia berkata, "Syukurlah, Deku-kun! Kau akan segera bisa berjalan lagi."
Deku mengangguk dan berkata, "Nanti aku takkan merepotkan Katsuki lagi."
Di sampingnya, Katsuki diam untuk beberapa saat. Ia menatap Deku sebelum mendengus jengkel dan mencubit pipi bocah itu. "Mana mungkin kau tidak merepotkan."
Tertawa melihat keduanya Kirishima kembali berkata, "Kau memang tidak jujur, Bakubro."
"Berisik, rambut sialan!" Katsuki menyemburnya.
Sekali lagi Kirishima hanya tertawa mendengar gerutuan sang sahabat. Ia mengambil cangkir berisi kopi yang berada tak jauh darinya dan mengangkatnya. "Ngomong-ngomong Bakubro, apa tidak kelamaan kalau kau mau membawanya sekarang? Bukankah terapisnya baru ada setelah jam istirahat?"
"Bukan masalah," jawab Katsuki sembari meletakkan satu tangan di atas kepala bocah berambut hijau Katsuki berkata, "Di sini dia bisa menonton siaran anak-anak sambil menunggu."
"Kau berencana meninggalkannya di sini?" Kirishima menatapnya tak percaya.
"Dibanding dia sendirian di apartemen," Katsuki menjawab sambil mengangkat bocah itu ke pelukannya. Ia berjalan menuju ke sofa dan meletakkan Deku di atasnya. "Setidaknya, Bakazawa bisa membantu mengurusnya ketika kita patroli."
Kirishima sampai kehilangan kata-kata mendengar hero nomor satu itu hendak memanfaatkan sang atasan sebagai pengurus anak. "Dia akan memotong gajimu, kau tahu?"
"Hah?" Katsuki balas berkata sambil memamerkan cengiran jahatnya. "Mana mungkin tua bangka itu menolak permintaanku? Kalau dia menolak, akan kucari agensi lain."
"Yeah! Yeah! Cobalah cari agensi lain yang mau menampung sifat jahatmu itu, Bakugou!" Seseorang tiba-tiba ikut dalam pembicaraan. Didorongnya pintu kaca yang memisahkan ruangan dan bergabung dengan kedua staffnya. "Aku ingin tahu apa ada agensi yang tahan dengan temperamenmu itu."
"A-a, Aizawa-san, Ohayou!" Kirishima buru-buru berkata. Tangannya menyenggol Katsuki dan berkata, "K-kami hanya bercanda! Ya 'kan, Bakubro?"
Katsuki mendecih. Ia duduk di sofa sambil menyalakan televisi dan mencari-cari saluran yang layak ditonton anak kecil. "Untuk apa aku bercanda? Orang tua itu 'kan tidak punya pekerjaan selain menunggui kantor."
"Yeah, mungkin kau mau menggantikanku menunggui kantor dan mengurus semua tagihan perbaikan setiap kali kau beraksi?" Aizawa berkata sambil menguap. Ia mendekat pada sofa dan bertatapan dengan bocah yang dirawat Katsuki. "Masih belum ada kabar soal anak ini?"
Menggantikan Katsuki, Kirishima kembali menjawab, "Aku sudah menghubungi Ingenium dan Chargebolt, tapi mereka juga tidak tahu soal anak hilang yang quirkless."
Menggumam dan menguap, Aizawa pun berkata, "Sepertinya kau akan terjebak lama dengan anak ini, Bakugou."
"Hah!" Katsuki berkata sambil beranjak dari sofa. "Sadar juga kau! Sebaiknya kau bayar lebih upah mengurus anak untukku. Aku tidak sudi bekerja sukarela."
"Bagaimana, ya," Aizawa berkata sambil berjalan ke kulkas dan membuka tutup botol susu. "Bukannya kau sendiri yang memutuskan untuk merawatnya?" Sambil mengangkat susu ia berkata, "Kau mau susu, bocah?"
Sebelum Kirishima sempat mengatakan sesuatu, Katsuki lebih dulu menyambar dengan berkata, "Jangan berikan dia susu terlalu banyak! Akan merepotkan kalau dia harus ke toilet, Bakazawa!"
Alis terangkat dan Aizawa tidak mengatakan apa pun. Ia menenggak susu terlebih dulu sebelum memasukkannya kembali ke kulkas. Dihapusnya sisa jejak susu dari bibirnya dan berkata, "Daripada kau menaruhnya di kantor, bukannya lebih baik dititipkan di penitipan saja? Memangnya gajimu kau pakai apa sampai tidak sanggup menitipkan anak di penitipan?"
Raut wajah sang hero nomor satu saat itu sedikit jengkel ketika ia menjawab, "Memang, tapi terapis untuk kakinya ada di dekat kantor. Untuk apa aku bolak balik ke rumah dan menjemputnya lebih dulu?"
"Kau yakin itu bukan alasan saja?" Aizawa kembali berkomentar. Ia mengambil tempat di belakang sofa dan menatap bocah berambut hijau. Bocah itu pun balas menatapnya dengan ekspresi ingin tahu. Setelah beberapa saat bertatapan ia berkata, "Bagaimana kalau kalian bawa saja bocah ini saat patroli?"
"Hah?"
"Oh! Ide bagus, Aizawa-san!" Kirishima menyambutnya dengan riang. Dengan cepat ia berlari ke samping sofa dan berkata, "Bagaimana Deku? Mau ikut dengan kami?"
Manik hijau Deku mengerjap. Ia menatap rekan kerja sang hero nomor satu itu dan bertanya, "Aku boleh ikut?"
"Tentu saja bo—"
"Tidak! Tidak! Dia tidak boleh ikut!" Katsuki dengan jengkel berkata. "Apa kalian berdua sudah gila? Memangnya kalian pikir patroli itu apa? Piknik?"
"Santai, Bakubro!" Kirishima berkata sambil menyentuh bahu sang sahabat. " Tidak apa 'kan? Jadwal patroli kita hanya di sekeliling kantor saja, tidak mungkin ada masalah yang muncul."
"Hah? Atas dasar apa kau berkata begitu, rambut sialan?" Katsuki menyingkirkan tangan Kirishima dan menghadapi atasannya. "Kau juga sudah pikun, Bakazawa? Memangnya kau kira patroli aman untuk anak-anak?"
"Kalau patroli saja tidak aman, untuk apa aku mempekerjakan hero nomor satu di agensiku?"
"Apa?"
Aizawa dengan tenangnya menyentuh kepala si bocah dan berkata, "Atau jangan-jangan, hero nomor satu kita tak punya kepercayaan diri untuk menjaga seorang bocah?"
Ucapannya membuat Katsuki menggertakkan gigi. Tentu saja pemuda itu ingin membalas dan Aizawa pun yakin sebentar lagi mulut pemuda itu akan menyemburkan kesopanan sinis setaraf bisa berbahaya. Sayang ia tak menyangka bahwa racun berbahaya itu akan dapat dinetralisir oleh seorang bocah.
"Um, aku... bisa menonton televisi," ujar Deku ketika mendengarnya ribut-ribut. "Sungguh!"
Ketiganya langsung terdiam. Bahkan Aizawa sendiri hanya menggaruk-garuk pipi, salah tingkah. Kirishima menatap Katsuki dan menyenggolnya sekali lagi. Berharap dengan demikian sahabatnya yang tak punya kepekaan itu bisa membaca situasi dan memperbaiki keadaan.
Katsuki sendiri tidak yakin sebetulnya. Tapi melihat bocah itu, terlebih setelah diyakinkan oleh rekan kerjanya, ia pun mendecak sebal. Ia benar-benar tidak punya pilihan.
"Tsk," ucap Katsuki akhirnya sambil beranjak ke pintu depan. "Terserahlah!"
Mendengar ucapan Katsuki, Kirishima mengerjap pelan. Ia dan Aizawa saling berpandangan sesaat sebelum keduanya menghampiri Deku. Dengan memamerkan cengirannya, hero pendamping Katsuki itu mengangkat Deku di pelukannya dan berkata, "Untung Katsuki mengizinkan."
Deku bergumam pelan sebelum berkata, "Apa tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa," jawab Kirishima menenangkan. "Kita berpatroli dengan hero nomor satu, apa yang perlu kita takutkan?"
Deku hendak mengucapkan sesuatu sebelum Katsuki kembali masuk ke dalam. Ia menarik Deku dari tangan Kirishima dan mengangkatnya. Dipeluknya erat bocah itu dan dengan nada jengkel ia berkata, "Mau sampai kapan kau melamun, Kirishima? Kau mau kutinggal patroli?"
Terlonjak, Kirishima pun langsung melesat menuju ke ruang ganti tanpa banyak bicara. Sementara itu, Aizawa yang masih berada di dekat mereka meletakkan satu tangannya di kepala Deku dan berkata, "Tolong jaga Bakugou untukku ya, Deku!"
Sebagai bentuk protes, Katsuki menghardiknya. Namun hero yang sudah berpengalaman itu hanya mengangkat tangan dan kembali ke ruangannya. Ia menutup pintu dan meninggalkan Katsuki bersama bocah kecil di pelukannya.
Ketika mereka sudah sendirian, Deku akhirnya berkata, "Umm... Katsuki..."
Mendengar suaranya, Katsuki pun menunduk.
"Terima kasih."
Mengerjap pelan, Katsuki menatap si bocah. Tanpa berkata apa pun ia mendengus dan mengalihkan perhatiannya. Ia tidak menyadari, bahwa jemarinya semakin erat memeluk bocah itu di dadanya. Untunglah tak lama kemudian Kirishima segera keluar dan bergabung.
Tepat pukul delapan, ketiganya keluar dari kantor dan berjalan kaki di sekitar kantor. Beberapa penduduk lokal yang sudah biasa dengan kehadiran mereka melewati tanpa banyak bertanya. Namun sesekali beberapa akan menoleh, terlebih begitu melihat sang hero nomor satu membawa bocah kecil di tangannya.
"Oi, rambut sialan!" Katsuki akhirnya berkata, "Apa mereka tidak punya kerjaan selain mengurusi orang lain? Lakukan sesuatu!"
"Apa yang bisa kulakukan?" Kirishima mengangkat bahu. "Lagipula ini baik untuk meningkatkan citramu di mata anak-anak. Dengan begini mereka takkan ketakutan lagi setiap melihatmu."
"Hah?"
"Kalau kau tidak suka, berikan Deku-kun padaku!"
"A—"
Tanpa permisi, Kirishima Deku dari tangan Katsuki dan meletakkannya ke bahu sendiri. Kedua tangan Deku diletakkan di atas kepalanya dan berkata, "Pegangan erat-erat, Deku-kun! Jangan sampai jatuh!"
Deku hanya mengangguk sementara Katsuki mendecak sebal. Hero nomor satu itu baru saja menggerakkan tangan untuk mengambil Deku kembali ketika ia mendengar suara jeritan seseorang. Tubuhnya langsung tegak dan kepalanya bergerak ke sumber suara. Satu tangannya terangkat, siap beraksi dan ia berkata, "Pegangi dia baik-baik, Kirishima!"
"Hah? Tung—"
Tanpa mendengarkan protes sang sahabat, ia menembak untuk menambah kecepatan dan meninggalkan keduanya. Berkat teknik 'Blast' yang ia kembangkan saat Perlombaan Lari Rintang di UA sebelumnya, ia berhasil tiba lokasi kejadian dalam sekejap mata. Dengan segera ia menganalisa situasi dengan mengamati sekeliling.
Ia memerhatikan banyak orang berlarian dari gang sempit yang terbentuk dari dua bangunan. Awalnya ia hendak menerobos lewat namun ia terpaksa menunggu hingga orang-orang menghilang. Ketika jalanan sudah lebih lega, ia pun memasuki gang untuk berhadapan dengan pelaku yang mengganggu ketenangan kota.
Di luar dugaan, pelakunya ternyata sejenis slime dengan seorang anak SMP terperangkap di dalam tubuhnya. Bola mata slime langsung melebar seolah mengetahui siapa dirinya. Tanpa banyak bicara, si penjahat langsung meninggalkan si anak SMP dan berlari ke gorong-gorong sebelum Katsuki sempat mencegahnya.
Mendecak kesal, Katsuki terpaksa menghampiri korban terlebih dulu. Ia membalikkan tubuh si anak SMP untuk menilai kondisinya. Ketika ia menyadari bahwa korban hanya tertidur, ia pun meminta bantuan warga untuk membawa korban ke klinik terdekat. Sementara itu ia mengecek jalur saluran air untuk memperkirakan ke mana si penjahat melarikan diri.
"Ground Zero!"
Suara rekannya membuat Katsuki menoleh. Pemuda berambut merah dengan bocah berambut hijau di bahu segera berlari kecil untuk mendekat padanya. Ketika keduanya sudah berada di samping, Kirishima lebih dulu berkomentar.
"Ada apa?"
"Penjahat kelas teri," ucap Katsuki sambil menggerakkan jemari untuk mengecek jalur saluran air melalui hologram yang diinstal di peledak tangannya. "Sejenis slime, kabur melalui gorong-gorong."
"Lagi?"
Jemari Katsuki berhenti bergerak, "Apa maksudmu dengan lagi?"
Kirishima mengangkat alis dan berkata, "Ini kedua kalinya dalam satu minggu. Para penjahat kelas teri kabur melalui gorong-gorong. Apa sebaiknya kita usulkan untuk menutup semua gorong-gorong di kota Musutafu ini?"
"Ide bagus," jawab Katsuki acuh sambil menghilangkan hologram dari pandangan. "Usulkan saja pada pemerintah."
Menghela napas di samping, Kirishima menatap Katsuki dan berkata, "Jadi? Sudah menemukan ke mana harus mengejarnya?"
Manik merah Katsuki menyipit dan ia berkata, "Mungkin. Ia tidak bisa berlari terlalu jauh."
"Kalau begitu aku—"
"Kau tunggu di sini!" Katsuki berkata sambil menutup peledak tangan. Ia mengecek satu persatu kondisi seragamnya dan berkata, "Biar aku saja yang mengejar!"
"Tapi—"
Tanpa mendengarkan protes rekannya, Katsuki langsung melesat. Keduanya hanya dapat mengamati punggung Katsuki sebelum ia benar-benar hilang dari pandangan. Setelahnya baru Kirishima menghela napas dan berbalik pada bocah kecil yang duduk di bahunya.
"Ah, well, sebentar lagi jam dua belas. Bagaimana kalau kita kembali ke kantor saja, Deku-kun?"
Deku mengangguk pelan mendengar pertanyaan Kirishima. Ia tidak banyak membantah ketika pemuda itu membawanya berjalan meninggalkan lokasi kejadian dan bergerak kembali ke kantor. Sesekali kepalanya akan bergerak, mengamati pemandangan di kanan kirinya. Namun sikap diamnya membuat pemuda berambut merah itu menyentuhkan tangan ke pipi gembilnya dan berkata, "Maaf ya, acara patrolinya jadi berantakan."
Mengerjap, Deku menggeleng. "Tidak apa."
"Memang tidak selalu damai, tapi biasanya kita bisa melihat hero nomor satu beraksi melawan penjahat." Kirishima menengadahkan kepalanya sambil berkata, "Hanya penjahatnya lebih dulu melarikan diri sehingga Ground Zero terpaksa mengejarnya."
Mengangguk, Deku mendengarkan ucapan Red Riot dengan penuh perhatian. Baru setelahnya ia berkata, "Ei-chan, kenapa Katsuki disebut sebagai hero nomor satu?"
"Eh?" Kirishima mengangkat kepala dan menatap bocah yang menempel di bahunya. "Memangnya Bakubro tidak terlihat seperti hero nomor satu?"
"Umm..."
Melihat Deku tidak menjawab, Kirishima pun tertawa. Satu tangannya disentuhkan ke kepala bocah itu dan ia berkata, "Mungkin ia tidak bercerita padamu, tapi dia hero yang berhasil menumbangkan penjahat paling kejam yang bahkan tidak bisa ditaklukkan hero berpengalaman."
"Penjahat seperti apa?"
Sembari memutar bola mata, Kirishima berkata, "Penjahat yang membuatnya mendapat gelar hero nomor satu itu memiliki lebih dari satu quirk. Ada berbagai quirk dalam dirinya dan saat menghadapinya, Katsuki sama sekali tidak gentar. Bisa dibilang hanya ia sendiri yang melawan penjahat itu tanpa didampingi siapapun."
Deku mengerutkan dahi, mencoba membayangkan situasi tersebut. "Penjahat yang memiliki lebih dari satu quirk? Hebat sekali."
"Ya, quirknya memungkinkan penjahat itu mengambil quirk lawan dan menjadikannya milik sendiri," jelas Kirishima sambil berjalan kembali ke kantor. "Salah satu quirknya membuat semua yang disentuhnya menjadi abu. Entah bagaimana Katsuki berhasil menghindar dari quirk semacam itu dan mengalahkannya."
Di kepalanya, si bocah tidak berkomentar. Ia tetap diam mendengarkan. Sikapnya yang tiba-tiba bungkam membuat Kirishima menunjuk pelan pipinya dan berkata, "Tidak perlu khawatir! Itu sudah berlalu."
Perlahan, jemari Deku memeluk dahi Kirishima. Kemudian ia berkata, "Hebat sekali, memiliki berbagai quirk."
"Deku-kun?"
"Andai dia mau memberikan satu quirknya," ujar bocah itu. "Pasti menyenangkan sekali."
"Er...," ucap Kirishima ragu-ragu, ia tak yakin harus berkomentar apa, "Deku-kun sangat ingin punya quirk, ya?"
Manik hijau Deku menatapnya dan ia mengangguk pelan. "Sepertinya menyenangkan apabila punya satu. Apa pun itu."
"Begitukah?" Kirishima berkata sambil menatap bocah yang bertengger di bahunya. "Menurutku, quirk bukan segalanya, Deku-kun."
"Ng?"
"Sama saja seperti orang yang memiliki tangan dan kaki," lanjut Kirishima sembari berbelok dan melewati perlintasan kereta api. Hero yang ramah itu melambai setiap kali berpapasan dengan anak yang mengenalinya dan terus berjalan. Sembari melakukannya ia berkata, "Ada orang yang dapat memanfaatkan dengan baik dan ada pula yang tidak."
Deku menggerakkan kepala mendengarkan.
"Punya quirk tidak selalu membuatmu lebih baik dari orang lain," terangnya, "tidak punya quirk bukan berarti kau manusia lemah yang tak berguna. Faktanya, orang tidak harus punya quirk untuk menolong orang yang membutuhkan."
Bocah kecil itu terdiam cukup lama. Beberapa saat kemudian barulah ia mengangguk. Tangan mungilnya memeluk Kirishima dan ia berkata, "Terima kasih, Ei-chan."
Tertawa, Kirishima menyentuhkan satu tangannya pada bocah itu. Ia masih terus berjalan ketika sesuatu muncul di hadapan mereka. Dengan segera ia menghentikan langkah dan menatap waspada. Jelas, sesuatu yang muncul tiba-tiba lebih sering berarti ancaman dibanding kawan.
Terdengar gumaman-gumaman tak jelas dan sesuatu yang menghalangi jalan pun mewujud. Sosoknya yang berbentuk cairan mulai meninggi hingga menghalangi terowongan yang akan mereka lalui. Melihatnya, Deku pun mengeratkan pegangan pada dahi Kirishima sementara pandangannya tertuju sepenuhnya pada sosok yang mewujud itu.
"Deku!" Kirishima bergumam pelan sambil memegangi tangan Deku erat. "Jangan lepaskan tanganmu!"
Bocah itu tidak mengatakan apa pun, namun jemarinya melekat erat pada Kirishima. Ia mengernyit ketika melihat sosok di depannya tertawa. Pupil hijaunya melebar seiring dengan setiap langkah yang diambil sosok itu.
"Pro hero, Red Riot!" Slime itu berkata saat melihat Kirishima. "Selamat siang! Senang bertemu denganmu."
Kirishima memaksakan senyum. Ia tahu bahwa ia tak boleh menunjukkan keraguan barang sedikit pun, terlebih pada penonton kecil di bahunya. Harus ia akui bahwa Slime bukan lawan favoritnya. Quirk perkerasan tak berguna bila berhadapan dengan musuh seperti slime kecuali dia bisa memadatkan lawan. Meski begitu ia tetap memasang kuda-kuda dan melakukan langkah favoritnya.
"Aku juga senang bertemu denganmu," ucap Kirishima sambil memamerkan cengiran dan menghantamkan tangannya, "terlebih kau menghampiriku di terowongan yang tak banyak orang."
"Begitukah," balas si slime dengan nada tak percaya, "padahal aku yakin kau dan aku sangat bertolak belakang dan quirkmu takkan banyak berguna bila melawanku."
Sekali lagi Kirishima tertawa dan ia berkata, "Begitukah? Aku tak yakin. Justru bagiku lebih mudah melawanmu di terowongan."
Mendengar gertakan Red Riot, Slime langsung melesat menuju ke arahnya. Dengan segera, Kirishima menghindar dan melayangkan serangan balasan pada lawan. Tentu saja slime takkan mempan dilawan dengan quirknya. Ia hanya dapat bertahan, memastikan musuh tidak memasuki teritori.
"Percuma, percuma," teriak si slime sambil tertawa. Dengan lentur, penjahat itu melilit kaki Kirishima yang mengeras. Namun secepat itu pula Kirishima menambah kekuatan dan mengayunkan kakinya. Membuat si slime menubruk terowongan dan mengalir hingga ke aspal. "Sial!"
"Ternyata kau tidak sepenuhnya cair," balas Kirishima sambil berlari untuk menghabisi lawan. Tangannya diperkeras hingga maksimum dan ia berkata,"Giliranku!Red Gauntlet!"
Sejumlah serangan yang kebanyakan berupa tinju tak terhingga dilayangkan Kirishima pada lawannya. Serangannya membuat dinding terowongan bergetar menahan tubrukan dan aspal yang dihantamnya berulang kali membentuk ceruk yang semakin melebar. Gerakannya yang cepat membuat Deku terlonjak-lonjak di pundaknya, namun bocah itu berusaha berpegangan sekuat tenaga. Hingga akhirnya aspal mulai retak dan Kirishima harus mundur untuk mencari pijakan yang lebih rata.
Melihat kehancuran yang luar biasa membuat Deku terperangah. Ia menggerakkan kepala mencari-cari si penjahat, namun karena tak menemukannya ia berkata,"Menangkah?"
Kirishima tidak menjawab. Manik merahnya menyisir area dengan cepat, mencari lawannya. Terlalu dini untuk menyebutnya sebagai kemenangan. Serangannya memang hebat, namun itu untuk lawan yang memiliki bentuk padat. Apabila lawannya memiliki bentuk fleksibel, ia tak yakin serangannya efektif.
Ketika ia tengah memasang mata, sesuatu melilit kaki dan dengan cepat menuju pinggangnya. Menyadari apa yang terjadi, ia segera melemparkan Deku dari pundaknya sebelum si slime memerangkap mereka berdua. Begitu bocah itu menubruk aspal dengan bunyi berdebum pelan, seluruh tubuh Red Riot sudah dilingkupi oleh slime hingga ia kesulitan bernapas.
Mengabaikan rasa sakit di tubuhnya, Deku menjerit memanggil sang hero. Namun suaranya justru membuat si slime menyadari kehadirannya. Ia pun mencoba menutup mulut namun sosok Red Riot yang berada di dalam slime dan tengah berusaha mencari udara membuatnya mengepalkan tangan. Dengan suara mencicit ia berkata, "Lepaskan Ei-chan!"
Sekali lagi slime tertawa dan menghampiri si bocah. "Ini? Tidak bisa, bocah cilik. Aku membutuhkannya. Jadi tunggulah dengan tenang di sana hingga aku menghabisi hero yang satu ini."
"Tidak!" Deku berteriak pada si slime. Bukannya duduk diam atau lari ke arah sebaliknya, bocah satu itu malah mendekat. Ia merangkak sekuat tenaga dengan lutut dan kedua tangannya. Diambilnya kerikil terdekat yang dapat ia raih dan dilemparkannya ke tubuh slime. "Lepaskan! Lepaskan Ei-chan!"
Si slime sekali lagi tertawa. Kerikil yang dilemparkan Deku hanya cukup untuk menggelitiknya saja. Di dalamnya, Red Riot masih berjuang sambil memegangi lehernya. Manik merahnya menatap bocah kecil yang berusaha menyelamatkannya dengan geram. Seharusnya ia melindungi bocah itu.
Mengabaikan udara di sekeliling, Red Riot pun mengeraskan seluruh tubuhnya. Kakinya dijejakkan ke tanah dan membuat langkah slime terpaku. Tepat di saat slime mulai panik karena tak dapat bergerak, hembusan angin kencang melintasi terowongan bersama dengan teriakan seseorang.
"Howitzer Impact!"
Serangan udara berkapasitas tinggi tepat mengenai slime yang sebelumnya memerangkap Red Riot. Tingginya tekanan udara membuat tubuh slime tercerai dan terhempas jauh ke belakang. Bersamaan dengan hilangnya cairan yang mengurungnya, Red Riot pun kembali bernapas lega. Begitu ia bebas, hal pertama yang dicarinya adalah bocah yang sebelumnya ia lemparkan dan berusaha menyelamatkannya. Namun bukan suaranyalah yang pertama kali bergema di terowongan.
"Deku!" Orang itu berteriak seraya mengangkat bocah yang berlumuran tanah dan aspal. "Apa-apaan kau ini? Kenapa bajumu kotor sekali?"
"K-Katsuki?"
"B-Bakubro," Kirishima turut mencicit mendengar suara jengkel Katsuki. "Aku yang melempar Deku-kun, makanya bajunya kotor."
"Apa-apaan tanganmu?" Katsuki kembali berkata, mengabaikan sepenuhnya ucapan Kirishima. Ia nyaris meledak begitu melihat tangan si bocah yang berlumuran tanah, aspal dan guratan. Belum lagi ketika ia melihat si bocah meringis, ditariknya lengan baju si bocah dan memperlihatkan luka lecet yang cukup dalam.
Bila biasanya ia marah-marah dan berteriak, kali ini Katsuki memilih untuk diam. Ia menyerahkan Deku pada Kirishima terlebih dulu sebelum menghampiri penjahat yang belum tuntas dikalahkan. Seraya berjalan ia berkata, "Mulai besok, kau tidak boleh ikut patroli lagi."
"K-Katsuki—"
Katsuki tak lagi mendengarkan. Ia mendekat pada slime yang perlahan-lahan mulai menyatukan kembali wujudnya. Tertatih-tatih si slime berusaha bangkit berdiri dan menggeram. Dengan penuh kebencian ia menatap Katsuki, namun sang hero tidak gentar.
"K-kurang ajar..." Slime itu berkata sekalipun matanya memandangi Katsuki waspada, terlebih pada sinar yang semakin terang di kedua tangan pemuda itu. "Kurang a—"
"Stun Grenade!"
Sebelum slime menyelesaikan ucapannya, sinar terang yang melingkupi tangan Katsuki diarahkan padanya. Tak dipungkiri, serangan itu membuatnya yang berwujud cairan sekalipun tak bisa mempertahankan keutuhan eksistensinya. Sosoknya menyebar menjadi tetes-tetes kecil dan efek ledakan membuat cairannya menguap dan kehilangan sebagain besar bobotnya. Ketika itu terjadi, Katsuki dengan mudah memasukkannya ke dalam botol dan memerangkapnya.
"Ah, tampaknya sudah selesai," gumam Kirishima ketika melihat Katsuki selesai mengumpulkan cairan ke dalam botol. Dihampirinya pemuda itu dan berkata, "Oi Bakubro, kalau sudah selesai sebaiknya kita kembali ke kantor sebentar lagi—"
Ucapan Kirishima terhenti begitu tangan Katsuki menutup mulutnya dan memandangnya marah. Melihatnya demikian, sungguh membuat nyalinya ciut, sehingga Kirishima memilih bungkam. Walaupun demikian, bukan berarti ia tidak tahu apa yang membuat Katsuki terlihat sangat marah.
"Sudah kukatakan tadi," Katsuki berkata dengan geram, "anak ini tidak perlu ikut patroli! Tapi kalian tidak mau dengar."
Rekan sekaligus sahabatnya itu ingin mengatakan sesuatu, tapi berhubung Katsuki membungkam mulutnya, ia pun tak punya banyak pilihan. Bola matanya bergerak-gerak berusaha mengisyaratkan agar Katsuki menurunkan tangannya. Sayang si pirang sepertinya tidak menyadari isyaratnya.
"Maaf...," gumam bocah kecil yang ada di pelukan Kirishima, "maaf, Katsuki."
Katsuki mengernyitkan dahi. Bulir-bulir airmata mengalir deras dari pipinya yang bulat. Bocah itu berusaha menghapus airmata menggunakan tangannya yang kotor dan membuat wajahnya lebih berantakan dari sebelumnya. Biarpun begitu Katsuki masih dapat menangkap cicitan yang ia gumamkan di balik airmata yang mengalir.
Kirishima yang melihatnya mulai panik. Ia mencoba mengusap-usap punggung bocah itu dan menenangkannya, tapi bocah itu terus saja menangis. Melihat upayanya tak berhasil, ia pun menoleh pada Katsuki, meminta bantuan.
Namun bukannya membantu, Katsuki justru tetap diam. Ia justru baru bergerak ketika bocah itu mengotori wajah dengan tangannya yang kotor. Tangannya menahan jemari mungil si bocah sementara ia mengambilnya dari pelukan Kirishima.
Begitu Katsuki melepaskan tangannya dari mulut Kirishima, pemuda itu langsung mengikuti sang sahabat. Ia memandang ngeri pada sahabatnya yang mengambil bocah yang masih menangis itu tanpa banyak bicara. Langkah kakinya berusaha mengejar sahabatnya dan ia berkata, "Bakubro, ini bukan salah Deku-kun! Aku yang kurang hati-hati dan dia bahkan mencoba menyelamatkanku. Dia—"
"Mencoba... menyelamatkanmu?"
Menelan ludah, Kirishima melihat bahwa upaya penyelamatannya tidak berjalan baik. Bukannya mereda, amarah Katsuki malah semakin meluap. Bahkan Kirishima sampai kehilangan kata-kata.
Katsuki sendiri tahu bahwa ia seharusnya tak marah pada rekannya. Semua ini hanya kecelakaan dan bukan berarti Kirishima tak sanggup melawan penjahat kacangan semacam slime. Namun ia sendiri tak tahu mengapa ia marah, terlebih melihat bocah itu kotor, berantakan dan terluka.
Pada akhirnya ia pun menahan diri. Kedua tangannya mencengkeram erat bocah yang masih menangis di pelukannya. Dan ia berkata, "Mau menangis sampai kapan?"
Begitu mendengar suara Katsuki, serta merta Deku menghentikan tangisnya. Airmatanya masih hendak tumpah, namun ia berusaha keras menahannya. Setidaknya ia sudah berusaha, meski tetes-tetes airmata mengkhianati dan membuat Katsuki harus menghapusnya sendiri.
"Lihat! Kau benar-benar kotor," Katsuki berkata sambil menyingkirkan noda hitam di wajah Deku. "Di kantor, kau harus mandi dan berganti baju sebelum menemui terapis."
Deku mengangguk, tidak membantah.
"Mulai besok, kau harus dengar kata-kataku."
Sekali lagi bocah itu mengangguk, walaupun sesekali ia akan menghapus airmata yang terlanjur mengalir.
"Dan jangan menangis," Katsuki berkata lagi. "Jangan mencoba menyelamatkan siapapun! Jangan lakukan apa pun!"
Mendengar itu tangisan Deku pun berhenti. Ia menatap Katsuki dengan kerutan di dahi dan mencoba memanggil namanya. Namun ia menahan diri ketika melihat raut wajah Katsuki.
"Demi Tuhan, kau itu quirkless," balas Katsuki. "Jadi jangan coba-coba melakukan apa pun tanpa seizinku! Kau mengerti?"
Manik hijau Deku menatapnya. Selama sesaat bocah cilik itu tidak mengatakan apa pun. Ia terus memandangi Katsuki hingga bocah akhirnya bocah itu menunduk. Lalu dengan suaranya yang nyaris berupa bisikan ia berkata, "Ya, Katsuki."
"Kuharap kau benar-benar mengerti," ujar Katsuki pelan.
Deku tidak menjawab. Matanya tertutup sementara tangannya mengepal erat, mencengkeram seragam yang dikenakan Katsuki. Airmatanya kembali mengalir, tapi tak ada yang dapat melihatnya kali ini. Selama ia tidak terisak, Katsuki takkan mendengarnya menangis.
.
.
.
(t.b.c)
A.N:
In case you need it :
Ingenium is hero name for Iida Tenya
Chargebolt is hero name for Kaminari Denki
Holla, all! Kembali dengan Cyan lagi. Seperti yang saya bilang, liburan sudah tiba dan sebisa mungkin saya usahain 1 cerita 1 hari XD Doakan aja kejadian kalo nggak males :P Aniway Red Riot on charge, dan saya suka waktu dia ngeluarin Red Gauntlet, kayaknya manly banget XD
Aniway for :
El-vtrich : O-o-owwww, quirk yang nakutin banget, ngehapus eksistensi seseorang, kesian Deku-chan kalo emang bener eksistensinya dihapus T_T Kasian juga semua orang yang kenal Deku sebelumnya kalo gtu, terlebih kasihan mami Inko dan Papi Allmight. Tapiii, bisa jadi bahwa itu yang terjadi di dunia Deku XD
Btw, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D
For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD
Cheers,
Cyan.
