A.N:
This is just a short story aside from main story. No particular reason it's just to highlight Katsudeku cuteness XD
Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.
Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi
Until we meet again by cyancosmic
Enjoy!
Ask 2.5 What did you call me?
Bunyi langkah kaki menaiki tangga bergema hingga ke dalam ruangan. Mendengarnya, Aizawa mengangkat kepala sebelum kembali fokus dengan kegiatannya. Meskipun begitu, ketika menyadari siapa pemilik langkah kaki tersebut, pandangan matanya kembali tertuju ke layar laptop. Bahkan ia tidak menoleh ketika pintu terbuka dan menampilkan kedua staf, sekaligus pro-hero di bawah asuhannya.
"Oh, Aizawa-san!" Pemuda berambut merah dan bergigi hiu lebih dulu memasuki ruangan. Ia mencopot boots dari kaki dan mengangkatnya untuk disatukan dengan seragam kerjanya. Ketika ia berjalan melewati meja makan ia kembali berkata, "Laporannya belum selesai?"
Aizawa selalu menjadi Aizawa. Ia bergumam sedikit dengan satu tangan menyangga dahi. "Begitulah. Kerusakan di terowongan yang disebabkan hero nomor satu kita berdampak lebih besar dari yang kuduga. Bahkan Best Jeanist menyindirku karena aku tidak bisa mengendalikan hewan liar yang kubesarkan di agensiku." Ia melanjutkan mengetik jumlah angka di layar laptop sebelum pandangannya beralih. "Sebaiknya kau tidak membangunkannya, Bakugou! Deku baru saja tertidur."
Sosok berseragam yang didominasi warna hitam itu ber 'Hah' terlebih dulu. Sama seperti Kirishima, tangannya pun menenteng sepatu sementara ia berjalan melewati ruang tamu. Ketika melihat sosok yang dimaksud Aizawa, ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan ke ruang ganti.
"Kenapa dia bisa ketiduran jam segini?" Katsuki berkata sambil meletakkan sepatunya. "Ini baru jam delapan malam. Bocah itu biasanya baru tidur jam sepuluh."
Tanpa menoleh Aizawa lanjut berkata, "Jam sepuluh terlalu malam untuk bocah."
"Bukan urusanmu," jawab Katsuki dari balik ruang ganti, "lagipula, ia sendiri baru mengantuk pukul sepuluh. Entah apa yang kalian lakukan hari ini sampai ia tertidur sebelum makan malam."
Mendengar itu, Aizawa kembali berkata, "Begitu? Padahal kami hanya bereksprerimen dengan pancake sesuai intruksi yang kulihat online."
"Pancake?"
"Yep," Aizawa menjawab santai. "Masih ada banyak. Kami membuatnya khusus untuk kalian berdua."
"Wah, benarkah?" Kirishima berkata sambil berjalan keluar dari ruang ganti. Mengenakan baju sehari-hari, pemuda itu mengambil kursi di hadapan Aizawa dan menatap tumpukan pancake yang tersaji di hadapannya. Ia mencubit satu di antaranya dan mencoba rasanya. "Rasanya tidak buruk. Tapi kenapa kalian membuat sebanyak ini?"
"Ah—"
"Bisa ditebak," Katsuki akhirnya turut bergabung dalam pembicaraan setelah selesai berganti baju. "Kau membeli terlalu banyak bahan."
Mengalihkan pandangan dari laptop Aizawa pun berkata, "Kalian berdua berlebihan. Ini tidak banyak untuk ukuran kalian, apalagi kalian habis berpatroli seharian."
Katsuki mencibir mendengarnya. Ia mengangkat satu pancake dan memasukkannya ke dalam mulut. "Omong kosong. Bilang saja kau sudah muak karena kebanyakan pancake dan memaksa kami berdua menghabiskannya."
Mengerjap pelan Aizawa menoleh pada hero nomor satu itu dan menunjuknya. "Kau tahu, Bakugou, terkadang kemampuanmu membaca pikiran membuatku takut."
"Jadi benar?" Kirishima berkata sambil tertawa. Seperti Katsuki, ia pun mengambil pancake yang ada di atas meja dan berkata, "Kukira kau tidak punya waktu senggang, Aizawa-san? Tapi bisa-bisanya kau membuat pancake sebanyak ini?"
"Yah—"
Sebelum terlibat lebih jauh dalam percakapan yang baginya tak penting, Katsuki pun akhirnya ia bangkit dari kursi dan menuju ke ruang tamu. Bersandar pada sofa, ia menggerakkan tangan untuk mengguncang satu-satunya bocah yang berada di ruangan, mengabaikan peringatan Aizawa.
"Oi, Deku!" Ia berkata sambil mengguncangnya pelan. "Ayo pulang!"
"Hei!" Aizawa kembali menoleh padanya. "Sudah kukatakan anak itu baru saja tidur. Biarkan saja!"
"Berisik, Bakazawa!" Katsuki membalasnya dengan panggilan khas nya untuk sang atasan. "Sudah kubilang anak ini belum makan malam."
"Dia sudah menghabiskan dua pancake sebelum tidur," ujar Aizawa. "Kau bangunkan pun belum tentu ia masih bisa makan setelah ini."
"Pancake itu camilan bukan makan malam," Katsuki balas berkata, "Minimal dia harus makan makanan yang tepat sebelum pergi tidur."
Kirishima dan Aizawa saling bertatapan. Mereka menggelengkan kepala sebelum salah satunya berkomentar, "Paling-paling kau hanya kecewa karena Deku tidur tanpa sempat memakan masakanmu. Terkadang kau punya sifat yang kekanakan sekali, Bakubro!"
"Tutup mulutmu, rambut sialan!" Katsuki berkata dengan jengkel. Sekali ini ia tak mau memperpanjang perdebatannya dengan Kirishima dan lebih memprioritaskan bocah kecil yang masih tidur lelap. Diguncanganya lagi bocah yang tertidur di sofa itu dan berkata, "Deku! Ayo bangun, kalau tidak kutinggal!"
Mendengar suara Katsuki ditambah dengan guncangan yang diberikan di tubuhnya berulang kali membuat kelopak mata bocah itu bergetar. Perlahan, kelopak matanya terangkat dan mengerjap pelan. Ia menatap Katsuki dengan setengah mengantuk dan berkata, "Katsuki..."
"Kau sudah bangun, bocah sial?" Katsuki berkata sambil mengangkat si bocah dan meletakkannya di kedua tangan. "Kau mau pulang tidak?"
"Pulang," gumam Deku sembari menyandarkan kepala mungilnya ke bahu Katsuki. "Mau."
"Bagus," balas Katsuki sambil meletakkan satu tangan di kepala bocah itu. "Mana jaketmu?"
Masih sedikit mengantuk, Deku mengulangi ucapan Katsuki. Namun manik hijaunya yang mengantuk tak bisa disembunyikan, sehingga kelopak matanya tertutup dan kepalanya bersandar kembali di bahu Katsuki.
"Sudah kubilang, bocah itu masih mengantuk," Aizawa berkata sambil menyerahkan jaket yang dicari Katsuki sebelumnya. "Biarkan bocah itu tidur, Bakugou! Dia lelah karena menyelesaikan sesi latihan di terapis dan membuat pancake."
Mendecak kesal, Katsuki menyampirkan jaket ke bahu bocah itu. Sembari melakukannya ia berkata, "Siapa yang mengajaknya membuat pancake setelahnya? Pasti ini idemu, Bakazawa !"
"Seenaknya saja menuduh," Aizawa berkata sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Walaupun begitu ia berkata, "Kau tidak mau membawa pancake bagianmu?"
"Tidak."
"Tapi Deku khusus membuatnya untukmu."
"Persetan dengan siapa yang membuatnya," balas Katsuki. Diletakkan Deku sebentar sementara ia mengenakan jaket untuk menghadapi udara dingin di luar. "Kau saja yang habiskan, rambut sialan! Kau bilang kau sangat lapar tadi."
"Tidak masalah buatku," jawab Kirishima sambil mengambil pancake kedua, "aku bisa menaruhnya di kulkas dan memakannya untuk sarapan besok."
Menoleh ke arah Kirishima, Aizawa berkata, "Kenapa hal itu tidak terpikirkan olehku sebelumnya?"
Katsuki mendecih pelan sementara Kirishima tertawa. Begitu selesai menngenakan jaket, diambilnya Deku kembali dan dipakaikannya topi yang menutupi telinga untuk menghalau udara dngin. Selesai dengan perlengkapannya ia pun berjalan menuju ke teras.
Ketika ia tengah mengenakan sepatu dan menyandarkan Deku pada rak sepatu, atasannya menghampiri mereka. "Kau tidak bawa mobil hari ini?"
"Belakangan ini kau semakin pikun ya, Bakazawa" jawab Katsuki sembari menali sepatu, "Kau lupa bahwa mobilku diservis karena diserang salah satu penjahat?"
Aizawa mengangkat alis. Dengan nada terkejut ia berkata, "Yang benar?"
"Justru seharusnya aku yang bertanya," balas Katsuki sambil bangkit berdiri. Ia membungkuk sedikit untuk mengambil Deku dan kembali meletakkan bocah itu di kedua tangan dengan kepalanya bertengger di bahu. "Sampai kapan Mei Hatsume menyandera mobilku?"
Sembari mengacak-acak rambut ikalnya Aizawa pun menghela napas. "Gawat! Aku lupa bahwa kita mengirimkannya pada Mei Hatsume."
"Apa maksudnya itu?"
"Artinya," Aizawa berkata sambil bersandar di rak sepatu, "siap-siaplah membeli mobil baru dibanding mengharapkan mobil lamamu kembali."
"Hah?"
Sebelum Katsuki sempat menyemburnya, Aizawa lebih dulu meletakkan satu tangan di kepala si bocah. Diusap-usapnya kepala bocah itu sementara ia berkata, "Sampai besok, Deku! Baik-baik dengan Bakugou, ya?"
"Orang tua sialan—"
Masih mengantuk, Deku menggeliat sedikit sebelum menatap Aizawa. Ia menggerakkan tangan mungilnya dan berkata, "Bye-bye, Shocchan!"
"Shocchan?"
"Ah, itu aku," ujar Aizawa sambil memamerkan gigi putihnya pada Katsuki. "Dia memanggilku Shocchan sekarang setelah aku memberitahu bahwa dia boleh memanggilku Shota."
"Kau memberitahunya apa?"
Aizawa mengangkat alis sembari memamerkan cengiran kemenangan dan mengabaikan pertanyaan Katsuki sepenuhnya. Ia tertawa mengejek sebelum berbalik ke dalam. Ketika melihat Kirishima ia berkata, "Oh, kau juga dipanggilnya Ei-chan setelah memberitahu namamu bukan, Kirishima?"
Kirishima yang tak ikut serta dalam pembicaraan mengangkat kepala. Walaupun sedikit bingung ia berkata sembari mengunyah pancake, "Yam, gurasa begyitu..(Ya, kurasa begitu.)"
"Oi, Bakugou," ujar Aizawa sebelum pemuda yang memiliki quirk ledakan dan bergelar hero nomor satu itu keluar dari kantor, "mungkin seharusnya kau memberitahu nama depanmu. Siapa tahu Deku akan memberikanmu nama panggilan khusus."
"Aizawa-san," Kirishima akhirnya ikut menimpali, "Bakubro sudah mengingatkan Deku agar memanggilnya Katsuki."
"Benarkah?" Aizawa kembali berkata. "Oh, well, berarti ia takkan mengganti namamu kalau begitu. Ya sudah! Terima saja, Katsuki."
"Jangan panggil-panggil namaku sembarangan!" Katsuki berteriak dengan jengkel. Ia mendengus sekali sebelum membuka pintu untuk keluar dan membantingnya. Setelah di luar pun ia masih bisa mendengar suara tawa atasannya yang begitu riang. Dengan kesal ia mendecih sebelum menuruni tangga dan menyusuri jalanan.
Udara malam di musim dingin terasa begitu menusuk kulit. Bahkan Katsuki yang sudah dibalut jaket tebal saja masih menggigil. Sebenarnya, jarak stasiun dan kantor agensi yang menaunginya tidak terlalu jauh, hanya udara dingin membuatnya menisik ulang pertimbangannya soal jauh dekat. Terlebih ketika ia membawa seorang bocah hati, ia bertanya-tanya apakah si bocah tidak kedinginan di udara semacam ini. Dan walaupun enggan, ia terpaksa mengakui bahwa perkataan atasannya ada benarnya. Ia seharusnya membawa mobil hari ini.
Well, tak ada gunanya menyesali keadaan. Dibanding mengeluh karena tak membawa kendaraan, Katsuki memilih untuk berjalan lebih cepat. Udaranya memang masih dingin tapi setidaknya ia telah separuh jalan menuju stasiun dan hanya tinggal sedikit lagi ketika si bocah yang ada di pelukannya mengangkat kepala. Kelopak matanya masih separuh terbuka ketika ia menggumamkan namanya.
Katsuki pun menyentuhkan dagu pada kepala si bocah dan ia berkata, "Ada apa, Deku?"
"Pancake," ujarnya tiba-tiba. "Untuk Katsuki."
Alis terangkat dan pemuda berambut pirang itu pun berkata, "Oh, kau sendiri yang membuatnya?"
Menggeleng, Deku pun berkata, "Bersama Shocchan."
Sekali lagi Katsuki terdiam. Ia mendengarkan ucapan si bocah dan berkata, "Hei, Deku! Kenapa kau selalu memberikan akhiran –chan untuk nama orang?"
Menggumam pelan Deku hanya berkata, "Tidak boleh?"
"Tidak." Katsuki berkata tegas. "Panggil mereka dengan benar. Eijirou dan Shota."
"Ei... chan," gumam si bocah pelan, "Sho... cchan."
Kali ini alis Katsuki menukik tajam. Walaupun begitu, ia menahan diri untuk tidak menyemprot seorang bocah yang masih mengantuk. Berusaha menyamakan kata-katanya dengan logika si bocah ia berkata, "Hanya anak-anak balita yang masih memanggil nama orang dengan embel-embel –chan. Memangnya kau itu masih balita?"
Menyadari nada jengkel di suara Katsuki, bahkan Deku yang mengantuk pun bergumam pelan. Di sela-sela kesadarannya ia pun berkata, "Bukan... anak kecil."
"Betul, kau bukan anak kecil," ujar Katsuki sambil menepuk punggungnya. "Jadi panggil mereka dengan benar. Atau panggil nama keluarga mereka sekalian."
Sekali lagi Deku menggumam dan berkata, "Ya... Katsuki."
Suaranya membuat Katsuki terdiam. Ia berhenti berjalan dan berkata, "Barusan... kau memanggilku apa?"
Setengah mengantuk, Deku berkata, "Ka...tsuki."
"Hei! Kau itu lebih muda dariku. Tidak seharusnya kau memanggilku begitu." Ia berkata sambil menyentuh kepala bocah itu dengan tangannya. "Panggil orang sesuai dengan umurmu."
Deku yang kebingungan menggerakkan kepala. Ia masih mengantuk dan nyaris tidak mendengar ucapan Katsuki. Ia ingin mengucapkan sesuatu namun ia sangat mengantuk. Akhirnya mulutnya terkatup dan ia pun kembali terlelap.
"Jadi harusnya kau memanggilku apa?" tanya Katsuki yang tak menyadari bahwa Deku sudah tertidur. Ketika tidak mendengar suara apa pun, pemuda pirang itu terpaksa mengguncang bocah di pelukannya dan memanggil namanya. "Deku? Deku?"
Terlelap, begitu damai, Deku tak juga terbangun sekalipun Katsuki menyentuh kepalanya. Sedikit jengkel, Katsuki pun terpaksa lanjut berjalan. Dengan kedua tangan memeluk erat si bocah, ia turun menuju ke stasiun kereta. Beberapa saat lamanya ia menunggu kereta bersama dengan beberapa orang yang juga turut mengantri. Dipasangnya masker di wajah untuk menghindari seseorang mengenalinya sebagai Ground Zero.
Tak lama kemudian, kereta yang ia tunggu akhirnya tiba. Ia menunggu hingga pintu terbuka dan melangkah masuk hendak mencari bangku yang kosong. Sayang semua kursi sudah terisi sehingga ia tak punya pilihan selain berdiri di dekat pintu. Punggungnya disandarkan pada pegangan sementara ia memeluk si bocah erat.
Pintu tertutup dan kereta pun melaju. Untuk membunuh waktu hingga kereta tiba di stasiun tujuan, Katsuki mengarahkan pandangannya pada iklan yang diputar di atas pintu. Sejauh ini tak ada hal yang menarik mengenai iklan yang terpampang sehingga ia mengamatinya dengan pandangan bosan. Namun suara seorang bocah membuatnya kembali tersadar dan menoleh.
"Katsuki..."
Mendengar namanya dipanggil, Katsuki kembali menyentuhkan wajahnya ke kepala si bocah. "Apa, Deku?"
"Ka...tsuki," gumam bocah itu lagi, "Ka...tsuki..."
Setelah ucapan itu, tidak ada suara yang terdengar, namun Katsuki sudah cukup mendengar jelas. Ia pun mendengus nyaris tertawa bila ia tidak menutup mulutnya. Begitu ia berhasil menguasai diri, ia pun berdehem dan sekali lagi ia menyentuhkan pipinya ke rambut bocah di pelukannya.
"Sudahlah." Katsuki berkata sambil menyandarkan kepalanya ke kepala Deku. "Dasar anak kecil."
.
.
.
(t.b.c)
A.N:
Holla semua! Cyan di sini! Tenang, ini bukan kerasukan. Ini fic pendek yang lebih tepat disebut ekstra menurut ane, karena kebetulan dapet idenya dadakan dan pengen dijalanin aja XD
Sebelum bahas review, izinkan saya mengucapkan 'Selamat Idul Fitri 1440H, mohon maaf lahir dan batin.' Selamat merayakan hari kemenangan untuk yang sudah berpuasa dan mohon maaf apabila saya ada salah kata lisan maupun tulisan selama ini.
Aniway, untuk :
hanazawa kay : Holla Kay XD apa kabar? Senangnya ketemu lagi di fandom BnHA XD Lol, iya, Deku yang lagi nangis, bikin pengen ikut nangis. UwU don't kraii Deku T^T, Baku onii-chan memang galak, tapi nggak jahat kok :D
El-Vtrich : Holla El-san, nah, Katsuki tsundere itu memang uda rahasia umum satu agensi, kalo nggak tsundere bukan Kacchan namanya XD
Also thanks again to all of you who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D
For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD
Cheers,
Cyan.
