Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.

Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi

Until we meet again by cyancosmic

Enjoy!


Ask 3. What did I tell you before?

"Kau dengar tidak, Bakubro?"

Sedikit jengkel karena suara di ponsel dinyalakan hingga maksimum dan ditempelkan langsung ke telinga berhubung kedua tangannya penuh, Katsuki mengumpat. Suara umpatannya membuat beberapa orang yang lalu lalang menoleh ingin tahu. Penasaran mengapa seorang pemuda bermasker dan bertopi bisbol yang membawa anak kecil marah-marah di telepon.

"Aku tidak tuli, rambut sialan!" Katsuki akhirnya berkata setelah lebih tenang. "Aku dengar semuanya. Soal League of Villains yang melarikan diri dari sel mereka, 'kan?"

Menghela napas, rekannya yang tadi menelepon mengiyakan pertanyannya. Ia juga berkata, "Benar. Kejadiannya subuh tadi. Sel khusus tempat mereka ditahan meledak dan menghanguskan seluruh fasilitas tersebut berikut penjaganya. Karena itu saat ini kita mendapatkan tugas untuk menyelidiki tempat itu."

Katsuki menguap sedikit sebelum ia berkata, "Jadi itu sebabnya aku dipanggil di hari libur."

Mengangguk Kirishima berkata, "Ya, divisi pemerintah bekerja sama dengan U.A untuk menyelidiki kasus ini. Bahkan beberapa hero pro legendaris pun akan turut terlibat, salah satunya Allmight dan penerusnya, Lemillion."

Menyipitkan mata Katsuki mengulang perkataan Kirishima. Lemillion. Ia tahu hero pro yang satu itu. Sewaktu ia bersekolah di U.A, Lemillion yang merupakan seniornya adalah murid unggulan yang menduduki peringkat satu waktu itu. Katsuki tak merasa bahwa quirk sang hero adalah quirk yang hebat, tapi sudah pasti efektif untuk melawan musuh berhubung sampai sekarang Lemillion masih eksis sebagai pro hero di luar negeri.

"Bukankah Lemillion lebih aktif di luar negeri?" Katsuki akhirnya bertanya. "Kenapa dia ditarik kembali ke Jepang?"

"Bisa dibilang situasi Jepang saat ini dalam kondisi gawat bila League of Villains bebas." Rekannya kembali menjelaskan. "Aww, man, padahal kita bekerja keras memenjarakan mereka. Sekarang semuanya sia-sia karena sel khusus yang mereka tempati tahu-tahu dijebol begitu saja."

Menyipitkan mata, Katsuki sendiri merasa berita ini tak masuk akal. Sel yang digunakan untuk menahan penjahat sekelas League of Villains bukan sel sembarangan. Untuk urusan keamanan, mereka menggunakan bahan-bahan anti quirk. Dindingnya sendiri setebal satu meter dan pencahayaan dibantu oleh kaca setebal sepuluh sentimeter. Pintu-pintunya terbuat dari baja yang tahan benturan. Belum lagi semua sistem keamanan berfungsi baik, begitu pula dengan cctv yang tak pernah absen selama dua puluh empat jam. Lalu bagaimana caranya?

"Katsuki?"

Suara bocah yang membuat kedua tangannya penuh itu menarik perhatiannya. Manik merah Katsuki menatap sosoknya yang masih mengantuk itu sebelum berkata, "Kau sudah bangun, Deku?"

Dengan satu tangan menggosok kelopak mata bocah berambut hijau itu mengangguk pelan. Ia menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan sebelum berkata, "Di mana ini?"

"Stasiun," jawab Katsuki dengan kepala dimiringkan karena menyangga ponsel. Ia pun berkata, "Rambut sialan, kumatikan dulu. Penjelasannya menyusul setelah aku tiba di kantor."

Tanpa menunggu respon rekannya, Katsuki memindahkan Deku ke satu tangan sementara tangannya yang lain mengambil ponsel dan mematikannya. Dimasukkannya benda itu ke dalam saku jaket sebelum kembali memosisikan Deku di kedua tangannya. Ia berjalan menuruni tangga dan tiba di platform yang belum begitu ramai.

Kereta pun datang tak lama kemudian. Suasana di dalam pun masih sepi sehingga ia mendudukan Deku di salah satu bangku. Begitu bocah itu duduk dengan nyaman, baru ia melipat kedua tangan dan menyandarkan kepala pada pegangan kereta di sudut.

Bocah itu sendiri melongokkan kepalanya. Menatap kereta yang masih sepi dengan pandangan tertarik. Diamatinya pria dan wanita yang naik, anak sekolah berseragam sebelum perhatiannya tertuju pada pemuda di sampingnya. Jemari mungilnya menyentuh jaket yang dikenakan pemuda itu sebelum berkata, "Kita mau ke mana, Katsuki?"

Bergumam pelan Katsuki menjawab, "Kantor. Ada pekerjaan."

Menggerakkan kepala bocah itu kembali bertanya, "Pekerjaan?"

"Ya," jawab Katsuki yang mulai menguap. "Darurat."

Sembari menggerakkan kepala bingung, Deku mengulangi ucapannya. Ia berkata pada pemuda itu, "Pekerjaan darurat seperti apa?"

Mendengar pertanyaan Deku, Katsuki sekali lagi bergumam pelan. Dengan kelopak mata yang tertutup ia berkata dengan suara yang patah-patah, "Penjahat kabur. Harus ditangkap. Semacam itu."

Meskipun tidak terlalu jelas, Deku samar-samar bisa mengerti perkataannya. Bocah satu itu hendak melanjutkan pertanyaan, hanya melihat pemuda di sampingnya sudah memejamkan mata ia pun menahan diri. Kepalanya kembali bergerak menatap ke arah sebaliknya, mengamati penumpang yang naik saat kereta berhenti.

Di stasiun berikutnya banyak penumpang yang masuk ke dalam kereta. Kursi-kursi yang sebelumnya kosong mulai penuh terisi. Manik hijaunya mengamati mereka dengan tertarik, terlebih pada orang yang mengambil tempat di sampingnya.

Ia tidak bisa melihat wajahnya karena orang itu tengah membuka koran. Namun ia bisa melihat tangan keriput orang itu saat membuka korannya. Rambutnya yang panjang berwarna biru pucat keabuan dibiarkan tergerai. Sementara orang itu sendiri mengenakan jaket panjang yang menutupi setengah bagian kaki.

Ketika Deku memandanginya, orang itu menurunkan koran yang ia baca untuk menoleh ke samping. Saat itulah Deku dapat melihat wajahnya yang pucat dengan garis-garis hitam di bawah mata. Mata merah yang membuat Deku mengalihkan perhatian dengan acuh dan mencari hal lain untuk diperhatikan.

Orang yang duduk di sampingnya pun tak menaruh perhatian pada si bocah. Koran yang ia pegang kembali diangkat sementara ia sibuk membaca. Walaupun begitu matanya sempat melirik pada pemuda berambut pirang yang duduk di samping si bocah. Sepertinya ia tak asing dengan pemuda yang mengenakan topi dan bermasker itu.

Kereta pun lanjut berhenti di stasiun berikutnya. Sekali lagi beberapa penumpang memenuhi gerbong yang mereka tumpangi. Di antara para penumpang, dua orang hero yang tengah bertugas turut masuk ke dalam dan berdiri di hadapan Deku dan Katsuki. Keduanya mengenakan seragam hero mereka yang bagaikan seragam militer dan tengah sibuk membicarakan sesuatu.

"...sepagi ini..."

"...kabur dari sel..."

"Shiketsu turut serta..."

Keduanya masih terlihat mengantuk namun Deku tertarik mengamati keduanya. Manik hijaunya tak lepas dari mereka saat keduanya berbicara. Hingga akhirnya salah satu dari mereka menyadari pandangannya dan melambai yang langsung dibalas oleh bocah itu. Di sampingnya, rekan pemuda itu menyikutnya dan berkata, "Hentikan, Yoarashi!"

"Apa boleh buat, anak itu tertarik melihatku!" Ia berkata sambil menunjuk Deku. "Bukankah sebagai hero kita harus ramah dengan orang lain?"

"Tidak juga," rekannya yang berambut ungu menjawab dengan tidak tertarik. "Ground Zero saja tidak ramah, tapi tetap saja orang mengenalnya sebagai hero dan menyebutnya sebagai nomor satu."

"Ah, orang itu," balas rekannya yang bertubuh besar dan berambut cepak. "Apa dia juga bergabung dalam penyelidikan kali ini?"

Yang berambut ungu mengangguk dan berkata, "Kudengar begitu. Tapi dia bukan seseorang yang spesial. Aku pernah menghadapinya waktu tes lisensi dan ia tidak begitu hebat."

"Yang benar?"

Keduanya tertawa tanpa menyadari pandangan mata seseorang yang menguping pembicaraan mereka. Bahu orang itu bergetar hingga membuat Deku menoleh padanya. Namun ketika menyadari pandangan Deku, orang itu balas menatapnya dan memberikan tatapan mengancam.

Deku sendiri hanya mengerutkan dahi melihat dirinya ditatap tanpa mengerti pokok permasalahan yang terjadi. Namun bocah itu tidak memusingkannya lama-lama berhubung suara operator kereta menghentikannya. Berulang kali ia mendengar kata 'Musutafu' sehingga ia berinisiatif menepuk-nepuk bahu pemuda di samping untuk membangunkannya.

Ia tak sadar bahwa pemuda itu sudah terbangun beberapa saat yang lalu. Hingga sebelum ia menepuk atau memanggil namanya, Katsuki sudah lebih dulu bangkit. Kedua tangannya mengangkat Deku dan menaruhnya di bahu sebelum mendekat ke pintu.

Pintu kereta terbuka tak lama ketika ia tiba. Tak membuang waktu, Katsuki melangkah melewati ambang pintu. Saat itu Deku memanggil namanya dan membuatnya menyahut.

Perhatian Katsuki terlalu terfokus pada Deku sehingga tidak menyadari ada orang yang tersentak ketika mendengar namanya disebut. Bahkan koran yang selama ini dipegang oleh orang itu langsung diturunkan dan kedua matanya membelalak lebar saat menatap pintu. Terlebih ketika ia melihat pemuda berambut pirang dengan bocah berambut hijau yang sedari tadi duduk di sampingnya.

Ia ingin mengejar namun pintu kereta lebih dulu ditutup. Kereta pun melaju ke stasiun berikutnya hingga membuatnya terpaksa menggertakkan gigi. Tangannya mengepal sementara bibirnya mengucapkan berbagai umpatan. Terakhir ia mengucapkan nama pemuda itu sekali lagi.

"Katsuki...," ujarnya sambil menatap pemuda berambut pirang yang sudah nyaris hilang dari pandangan, "Bakugou."

Pemuda berambut pirang itu sendiri mengangkat kepala tiba-tiba. Sepertinya ia mendengar ada yang menggumamkan namanya, namun tidak ada seorang pun kecuali Deku yang mengenalnya. Tak mungkin ia salah mengenali suara Deku. Mungkin suara itu hanya perasaannya saja.

Tak mengambil pusing, Katsuki pun kembali berjalan. Seperti biasa, ia keluar dari stasiun dan berjalan kaki sepuluh menit menuju ke kantor. Suasana di luar masih begitu sepi dan belum banyak toko yang buka. Walaupun begitu ia menyempatkan diri mampir ke minimarket, membeli sesuatu untuknya dan Deku yang tak sempat sarapan tadi pagi.

Tepat sepuluh menit kemudian ia tiba di kantor. Hal pertama yang dilihatnya adalah Aizawa dengan kepompong tidur warna kuning tengah memasak air di dapur. Ia bahkan tak tahu harus berkata apa hingga Kirishima muncul tiba-tiba dan menyambutnya.

"Ohayou," Kirishima berkata pada keduanya. "Maaf mengganggumu di saat libur, Bakubro. Tapi ada hal darurat dan kami membutuhkan bantuanmu sehingga—"

"Dipersingkat saja, rambut sialan," ujarnya sembari melepas sepatu dan berganti sandal, "bagaimana kondisinya?"

Menggantikan Kirishima, Aizawa yang tengah menunggui air di panci menyahut. Ia berkata, "Seluruh komplotan League of Villains lolos. Penjaga di bangunan itu tewas seluruhnya. Ini merupakan bencana bagi seluruh negeri."

Mendengar itu Katsuki yang tengah melewati ruang sampai berhenti melangkah. Pandangannya tertuju pada Aizawa dan ia berkata, "Oi! Bukannya kau bilang bahwa fasilitas itu terkenal karena tingkat keamanannya berlapis-lapis? Bagaimana bisa penjaganya tewas semua sementara seluruh penjahat melarikan diri? Apakah ada pengkhianat?"

"Kemungkinan itu sedang diselidiki juga," timpal Kirishima. "Makanya kita diminta segera datang untuk menganalisa situasi."

Katsuki masih terdiam ketika mendengar jawaban Kirishima. Sembari mencuci tangan Deku ia membayangkan situasi para penjahat itu. "Bukankah mereka mengenakan pemancar yang ditanamkan langsung ke tubuh mereka?"

"Dilepas," Aizawa menjawab sambil menuangkan air ke dalam gelas dan menarik salah satu kursi di meja makan. "Entah bagaimana para penjahat itu tahu di mana kami menanamkan pemancarnya."

Mendecih pelan, Katsuki mendudukan Deku di bangku. Ia sendiri pun menarik kursi di samping bocah itu dan memberikan bakpao yang tadi dibelinya di supermarket. Begitu bocah itu sudah menggenggamnya barulah ia mengeluarkan satu dirinya sendiri. Ia tidak berkata apa pun dan sibuk mengunyah makanan.

"Setelah makan," ucap Aizawa yang memerhatikan keduanya, "kau harus menitipkan Deku ke penitipan anak, Bakugou."

Katsuki mengangkat kepala. Ia menatap Aizawa dan berkata, "Penitipan anak mana yang buka pukul tujuh pagi, Bakazawa?"

"Ada satu penitipan anak tak jauh dari tempat ini dan dekat pemukiman penduduk," balas Aizawa sambil menatap Deku yang sibuk meniup-niup bakpao miliknya, "pemiliknya sengaja buka pagi-pagi, karena banyak pekerja yang harus berangkat pagi."

"Apa kau tidak berpikir bahwa tempat penitipan semacam itu pasti favorit dan sudah penuh?" Katsuki bertanya sambil menggigit bakpaonya, mengabaikan panasnya uap yang mengepul. "Lagipula, kenapa aku harus menitipkannya kalau kau bisa menjaganya?"

Menghela napas Aizawa kembali berkata, "Kau lupa bahwa aku sendiri termasuk pro hero yang masih aktif. Kehadiranku pun diperlukan di sana untuk berjaga-jaga bila ada penjahat yang berkeliaran."

"Tapi—"

"Tidak ada tapi-tapian, Bakugou," potong Aizawa sebelum Katsuki dapat menyampaikan argumen. "Titipkan dia, atau tinggalkan dia di kantor. Pilihanmu!"

Ucapannya dipotong terlebih ia diperintah melakukan hal yang tidak ia sukai membuat Katsuki naik darah. Ia pun bangkit dari kursi, membanting meja dan sudah hendak menyemprot sang atasan. Ia tak peduli sekalipun logikanya tahu bahwa sang atasan merupakan pro hero yang dibutuhkan saat ini. Dan bukannya ia tidak menganggap pekerjaan itu tidak penting, hanya saja—

"Apa di penitipan aku bisa menonton Allmight?"

Suara Deku membuat ketiga laki-laki dewasa di ruangan menoleh padanya. Terlebih melihat manik hijaunya yang berkilauan saat membicarakan hero yang satu itu. Satu tangannya mengeluarkan boneka Allmight yang entah bagaimana didapatkannya dan berkata dengan ceria, "Apa mereka mau menayangkannya nanti?"

"Oh, kau suka Allmight, Deku?" Aizawa berkata sambil menunjukkan cengiran khasnya. "Kalau kau mau ke penitipan hari ini, aku akan mengajakmu bertemu hero yang satu itu. Bagaimana?"

"Benarkah?" Manik hijaunya semakin berkilau mendengar tawaran Aizawa.

"Tentu," jawab Aizawa sambil mengelus rambutnya. "Katsuki dan aku mengenalnya, dan kalau kau jadi anak baik di penitipan hari ini, aku akan membawamu menemuinya."

Dengan manik hijau yang berbinar-binar, anak itu sudah menjawab pertanyaan Aizawa. Sementara di sampingnya Kirishima mengerutkan dahi dan berkata, "Memangnya kapan kau mengenalkannya pada Allmight, Bakubro? Bahkan sampai membelikannya boneka Allmight?"

Katsuki menghela napas, "Salah satu acara TV sialan menayangkan soal Allmight dan mem brainwash anak ini."

Sekali ini Kirishima menatap Katsuki iba. Pandangannya tertuju pada sang atasan sebelum berkata, "Tapi memang kau sudah bicara pada Allmight soal ini? Bagaimana kalau dia tidak punya waktu?"

"Bisa kuatur," jawab Aizawa sambil mengangkat gelasnya. Kemudian ia melirik pada Katsuki yang menatap jengkel padanya. Sembari menyesap cairan di gelasnya ia berkata pada si bocah, "Kalau begitu, Deku, bagaimana kalau kau membantuku meyakinkan Ground Zero kita untuk membawamu ke penitipan?."

Katsuki sudah hendak menyemprot atasannya lagi. Namun begitu tangan Deku disentuhkan padanya dan memanggilnya. Bahkan sebelum bocah itu sempat menyatakan keinginannya Katsuki sudah menghela napas. Ia tahu penolakan hanya membuat bocah ini kecewa. Hal yang paling tidak diharapkannya.

"Katakan padaku di mana alamatnya, Bakazawa," ujar Katsuki sambil menghabiskan gigitan terakhir dari bakpaonya dan menenggak air yang disiapkan Kirishima. "Kalian duluan saja! Nanti aku menyusul."

Rekan dan atasannya kompak mengatakan 'Ya' yang diabaikan oleh Katsuki. Ia lebih dulu membawa Deku ke pelukannya dan berjalan keluar setelah mengenakan sepatu. Sembari menuruni tangga ia pun berbicara pada bocah itu.

"Dengar ya!" Ia berkata sehingga si bocah di pelukannya mengangkat kepala. "Aku tidak mau mendengar ada masalah saat aku menjemputmu nanti."

Menggerakkan kepala Deku berkata, "Masalah?"

"Ya, masalah," ulang Katsuki sembari berjalan menyusuri trotoar, menuju penitipan yang terletak di balik gang yang berlawanan dengan arah pulang, "semacam berkelahi dengan sesama anak penitipan, merusak mainan, atau hal-hal semacam itu."

"Aku takkan melakukannya," protes Deku.

"Bagus!" Katsuki berkata sambil mengusap kepalanya. "Dan jangan bermain permainan yang berbahaya. Aku akan sangat jengkel kalau kau terluka dan kotor."

Deku mengangguk. "Aku takkan kotor dan terluka."

Sekali lagi Katsuki bergumam 'bagus' sembari berjalan. Keduanya melewati jalan setapak sampai menemukan penitipan yang dimaksud Aizawa. Sambil memastikannya sekali lagi, Katsuki melewati halaman untuk masuk ke dalam. Ia bertemu dengan pemiliknya dan berbincang sebentar sebelum menyerahkan Deku. Setelah yakin bahwa penjaganya dapat dipercaya, ia pun menunjuk Deku dan berkata, "Awas kalau kau sampai membuat masalah!"

Deku tak mengatakan apa pun dan hanya melambaikan tangan. Melihatnya, sedikit perasaan tak nyaman menghantui Katsuki namun dengan cepat ia mengenyahkannya. Tanpa memandang bocah itu lagi, Katsuki berbalik dan meninggalkan tempat penitipan.


"Ah! Eraser Head! Ground Zero dan Red Riot!"

Seseorang terburu-buru menghampiri ketika melihat mereka bertiga datang ke lokasi kejadian. Bersamaan dengan itu, beberapa hero sudah mulai berkumpulan dan memulai analisa. Walaupun mendengar kemunculan pro hero legendaris bersama dengan hero nomor satu membuat beberapa pasang mata berbalik pada mereka.

"Terima kasih untuk kedatangan kalian," kata Detektif Tsukauchi atau True Man. "Namun sejujurnya tak banyak yang bisa didapatkan di sini."

"Tak masalah, Tsukauchi," jawab Eraser Head sembari berjalan dipandu oleh sang Detektif. "Beritahu kami apa saja yang kau temukan!"

"Well," ujar sang Detektif sambil mengangkat catatannya dan membaca, "Tak banyak. Kejadiannya sendiri terjadi pada pukul 4.35 dini hari dan hampir seluruh penjaga di sini tewas terkena serpihan atau sisa ledakan sehingga tak ada yang bisa kutanyai. Saat ini kami sedang mencoba mengecek cctv untuk melihat apakah ada petunjuk di sana."

Aizawa mengangguk. Ia menatap ke depan dan berkata, "Hal ini sudah kau sampaikan juga pada para pro hero yang berkumpul itu?"

Tsukauchi menurunkan catatannya. Ia menatap Aizawa dan berkata, "Selain kau dan Yagi, tidak ada."

Mengucapkan terima kasih singkat, Aizawa mendekat ke lokasi kejadian. Memang seperti yang diucapkan sang detektif, bangunan tersebut hancur lebur seolah-olah ada bom atom yang dijatuhkan di lokasi kejadian. Tapi kalau memang begitu, aneh bila para penjahatnya bisa kabur tanpa ada seorang pun yang tewas. Itu berarti para penjahat sudah melarikan diri saat ledakan terjadi.

Suara dering ponsel di sampingnya membuat Aizawa menoleh. Dilihatnya sang Detektif terkejut dan mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Begitu melihat layarnya sebentar, sang Detektif langsung menempelkan benda itu ke telinganya dan berkata, "Ya! Bagaimana hasil pengecekannya?"

Terdengar gumaman tak jelas dari ponsel diikuti dengan kerutan di dahi sang Detektif. Melihatnya, Aizawa sudah tahu apa yang disampaikan oleh tim investigasi sang Detektif. Dan dugaannya terbukti benar ketika sang Detektif menyampaikan bahwa seluruh kamera cctv tak berfungsi saat kejadian berlangsung.

"Sungguh aneh! Kejadiannya hanya sekitar lima menit," ujar sang Detektif setelah memasukkan kembali ponselnya. "Jeda antara cctv dimatikan hingga laporan mengenai adanya ledakan hebat terdeteksi di markas pusat. Sungguh pelarian diri yang tidak masuk akal!"

Aizawa tidak mengatakan apa pun. Ia tetap diam dan berjalan ke dalam kompleks bangunan. Kedua staffnya sudah lebih dulu meninggalkannya dan menyelidiki di dalam. Ia sendiri memilih untuk berdiam diri sambil berpikir.

Di League of Villains sendiri hanya ada satu orang yang memiliki quirk teleportasi, hanya saja di dalam fasilitas ini quirk tidak berfungsi dikarenakan seluruh area sudah diselubungi dengan program anti quirk. Sistem yang sama seperti quirk miliknya yang mampu menetralkan kemampuan quirk para penjahat. Bila program itu aktif, maka seluruh bangunan akan menjadi zona quirkless dan para penjahat itu takkan dapat mengaktifkan quirk mereka.

Memang ada kemungkinan alat itu dimatikan. Hanya saja ketika seseorang menonaktifkan program tersebut, pemerintah akan mendapatkan sinyal tersebut dan seluruh pro hero yang menerima sinyal akan langsung berkumpul. Faktanya, ia tidak mendapat laporan itu semalam dan sangat terkejut ketika mendengar berita bahwa fasilitas yang menahan penjahat khusus meledak. Terlebih, program itu juga masih aktif hingga saat ini. Jadi bagaimana mungkin para penjahat itu bisa mengaktifkan quirk dan melarikan diri?

"Oh, Yagi-san!"

Suara sang Detektif kembali menyadarkan Aizawa. Bersamaan dengan itu, seorang pria kurus kering berambut pirang berjalan menghampiri mereka. Penampilannya membuat tak seorang pun mengenalinya kecuali Aizawa dan sang Detektif.

"Eraser Head, Naomasa," ujar pria itu sambil mengangguk, "peristiwa yang sungguh di luar dugaan, bukan?"

Naomasa mengangguk. "Ya, pemerintah pusat pun sampai terguncang. Mereka memerintahkan agar kasus ini segera ditangani, bahkan sampai meminta bantuan semua hero untuk turut bergabung."

"Ya, kau sampai memanggil Lemillion untuk bergabung," ucap pria yang dipanggil Yagi itu sambil mengusap-usap dagu, "sepertinya kasus ini memang darurat. Walaupun menurutku, Ground Zero saja sudah cukup untuk mengatasi masalah ini. Bukan begitu, Eraser Head?"

Menghela napas Aizawa akhirnya berkata, "Sebagai gurunya, aku takjub kau tidak mengenal karakter muridmu dengan baik."

Yagi tertawa mendengar komentar Aizawa. "Ayolah! Walaupun temperamental, bukankah ia yang mengirimkan pimpinan League of Villains itu ke sel ini?"

"Ya," jawab Aizawa sambil menatap bangunan yang kini hancur lebur. Alisnya menukik tajam ketika ia berkata, "Sekalipun kedamaian itu hanya berlangsung lima tahun lamanya."

Menyetujui perkataan Eraser Head, Yagi pun ikut mengangguk. Ketiganya berjalan mendekat masuk ke dalam kompleks bangunan yang hanya menyisakan puing-puing semata. Memasang mata mencari petunjuk, ketiganya terus berdiskusi hingga bertemu dengan kedua staff Aizawa.

"Ada yang kau temukan?" Aizawa bertanya ketika dua anak buahnya menghampiri.

Kirishima menggeleng sebagai jawaban sementara Katsuki hanya diam. Meskipun begitu manik merahnya tertuju pada atasannya dan juga sang detektif. Ia menatap mereka sebelum berkata, "Pendeteksi quirk dan penetral quirk masih aktif."

"Ah, ya," jawab sang Detektif, "memang kedua alat itu masih bekerja ketika kami datang. Tak ada tanda-tanda bahwa program itu dinonaktifkan."

"Pendeteksi quirk menangkap adanya pergerakan quirk," ulang Katsuki. "Apa itu tidak cukup menjelaskan?"

Aizawa menatapnya beberapa kali sebelum berkata, "Kalau memang apa yang kau pikirkan sama denganku—"

Katsuki mengangguk membuat kerutan di dahi Aizawa semakin bertambah. Bukan hanya itu, sang Detektif pun tampaknya memikirkan kemungkinan tersebut sementara Yagi mengepalkan tangan. Belum pernah ada orang yang berhasil menggunakan quirk saat program penetral quirk aktif. Namun selalu ada yang pertama dari segala sesuatu.

"Ini bahaya," ungkap sang detektif, "kalau memang quirk semacam itu aktif, maka semua penjahat yang kita tangkap selama ini akan dibebaskan dengan mudah."

"Kalau begitu hanya ada satu cara," timpal Aizawa. "Tempatkan para hero untuk berjaga di sel penjahat. Kemudian minta bagian teknologi untuk segera mengembangkan program pertahanan di setiap fasilitas."

Sang Detektif mengangguk. Ia segera mengikuti saran Aizawa dan menelepon seseorang untuk menyampaikan pesan tersebut. Selesai menelepon ia kembali menghampiri Eraser Head dan berkata, "Usulmu sudah kusampaikan, kami akan bergerak cepat. Bersamaan dengan itu—"

Sebelum ia selesai bicara, ponselnya kembali berbunyi nyaris. Tak punya pilihan, ia pun merogoh saku untuk mengeluarkan benda tersebut dan melihat layarnya. Begitu menyadari siapa penelepon, ia permisi sebentar dan menjauh dari yang lain. Baru setelah ia mengambil sedikit jarak, ia menerima telepon.

"Apa?" Sang Detektif berkata pada peneleponnya. "Banyak Noumu di tengah kota?"

Suara sang Detektif membuat diskusi terhenti. Baik Aizawa, Yagi, maupun dirinya dan Kirishima langsung fokus menyimak. Keempatnya sama-sama mendengarkan dengan sikap berbeda. Aizawa mengerutkan dahi, Kirishima terkejut, Yagi tampak cemas, sementara Katsuki tampak tidak tertarik.

"Noumu?" Yagi mengulangi perkataan sang Detektif. "Dan bukan hanya satu?"

"Kenapa kau terkejut begitu?" Aizawa berkata padanya. "Kau pernah melawannya sekali. Makhluk itu bukan makhluk yang patut dicemaskan."

Di sampingnya Kirishima menimpali, "Tapi Aizawa-san, waktu itu Yagi-san saja harus melawannya dengan seluruh kekuatannya. Apabila Yagi-san saja harus melawannya seperti itu, maka Noumu bukan lawan bisa kita pandang sebelah mata."

"Aku tidak memandang remeh mereka," jawab Aizawa, "hanya saja—"

"Mereka berkeliaran di sekitar Musutafu?" Suara sang Detektif membuat Aizawa berhenti bicara. Terlebih ketika keempatnya melihat wajah sang Detektif dan menyadari ekspresinya yang kebingungan, "Kenapa di sana? Apa mereka berencana menyerang U.A Academy?"

Berbeda dengan Aizawa, mendengar kata ' Musutafu', Katsuki menyipitkan mata. Ia menatap sang Detektif, mendengarkan dengan saksama. Bahkan ia tidak mendengarkan perkataan Kirishima maupun Aizawa yang tengah berdiskusi sendiri.

"Tidak... ke arah U.A?" Sang Detektif makin bingung. "Ke arah ... pemukiman penduduk?"

"Pemukiman penduduk?" Kirishima tiba-tiba ikut mendengarkan. Ia menatap atasannya bersama rekan kerjanya, lalu berkata, "Tadi pagi bukankah kau bilang letak penitipan anak ada di dekat pemukiman penduduk?"

Aizawa menoleh dan berkata, "Memang. Tapi ada banyak pemukiman penduduk di Musutafu. Bukan berarti Noumu berada di pemukiman penduduk di dekat kantor."

"Tapi aneh," ujar Yagi yang tahu-tahu menimpali. "Noumu ditemukan di pemukiman penduduk? Bukankah harusnya ia mengincar hero? Kenapa harus di sana?"

Sekali ini Aizawa mengangkat bahu dan berkata, "Mungkin mereka ingin mempermaikan para hero? Maaf, aku tidak bisa membaca pola pikir para penjahat!"

Di sampingnya Kirishima hendak menimpali ketika Katsuki menyelaknya. Pemuda itu mendekat ke arah sang atasan dan ia berkata, "Apa kita masih harus menunggui Detektif itu? Kita akan kehilangan jejak para penjahat kalau terus menunggu di sini."

"Kau sudah menemukan jejaknya?" Aizawa bertanya. "Kulihat tak ada yang kau temukan selain seorang pengguna quirk yang tidak terpengaruh dengan program anti quirk."

"Well," Katsuki berkata lagi, "kita tahu di mana munculnya Noumu, bukan?"

Manik hitam Aizawa balas menatapnya. Selama beberapa saat keduanya saling bertatapan sebelum salah satu dari mereka menghela napas. Baru setelahnya pria yang lebih senior itu berkata, "Lakukan sesukamu!"

"Memang terserah padaku," jawab Katsuki cuek dan meninggalkan ketiganya. Ia bahkan melewati sang Detektif yang baru selesai menelepon, membuatnya bertanya-tanya mengapa sang hero nomor satu pergi begitu saja. Untunglah Aizawa berhasil menjelaskan sehingga ia tidak perlu berpamitan dengan pria itu.

Di belakangnya, sang Detektif menunjuk hero nomor satu yang sudah menghilang dari pandangan dan berkomentar, "Kukira kita bisa menyerahkan Noumu pada hero yang sedang berpatroli di daerah sana. Kenapa harus hero nomor satu yang kau kirim untuk menyelesaikan masalah Noumu?"

"Oh, itu—" Aizawa berkata sambil mengacak-acak rambut, "dia sendiri yang meminta."

"Dan kau menurut begitu saja?"

Di sampingnya Yagi tertawa mendengar ucapan Aizawa. Ia menepuk pundak sahabatnya dan berkata, "Kau tahu, kukira kau sudah berhasil menjinakkannya karena dia memilih untuk berada di agensimu. Aku tidak menyangka bahwa kau sama sekali tidak berkuasa mengatur bocah itu."

Menyingkirkan tangan Yagi, Aizawa berkata, "Kau sendiri tahu bahwa dia tak pernah mendengarkan orang lain dan cenderung meremehkan mereka."

"Memang benar." Yagi mengangguk setuju. "Tapi, kukira ia tidak tertarik pada Noumu? Apa yang membuatnya berubah pikiran?"

"Oh, itu pasti karena dia mencemaskan Deku."

"Deku?" Yagi menoleh pada Red Riot, yang juga merupakan asuhan Eraser Head, "Siapa itu Deku?"

"Bukan hal yang perlu kau cemaskan," Aizawa menimpali. "Deku bukan nama hero atau semacamnya. Dia hanya seorang bocah yang diurus oleh Ground Zero. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia pro hero."

Alis Yagi terangkat dan setengah tidak yakin ia berkata, "Ground Zero yang itu? Mengurus bocah? Kukira dia benci anak-anak?"

"Oh, ya, dia memang benci," Kirishima lagi-lagi menimpali, "setiap kali kami patroli pun dia selalu membuat semua anak pergi dengan lirikan mautnya. Tak heran ia tak sepopuler Shouto walaupun dia hero nomor satu."

"Sukar dipercaya." Sang Detektif akhirnya ikut menimpali sambil menggelengkan kepalanya.

"Begitulah," ucap Aizawa menyimpulkan. Kemudian tatapannya tertuju pada Yagi dan berkata, "Ngomong-ngomong Yagi, apa setelah ini kau ada urusan?"

Mendengar namanya dipanggil, Yagi pun menoleh pada Aizawa. Kepalanya bergerak bingung dan ia berkata, "Begitulah, aku ditunggu Grand Torino juga Lemillion untuk menjelaskan duduk perkara kasus ini. Kenapa memangnya?"

"Sibuk sekali sepertinya," gumam Aizawa sambil menguap. "Kalau begitu, hubungi aku bila kau punya waktu. Aku ada sedikit pekerjaan untukmu."

"Pekerjaan?" Yagi berkata sambil tertawa. "Aku sudah cukup sibuk dan kau masih hendak memberiku pekerjaan?"

Aizawa mengangkat alis, "Bukan pekerjaan berat semacam itu."

"Lalu?"

Sambil berjalan meninggalkan sahabat dan rekannya, Aizawa berbalik. Ia tak memberikan penjelasan lebih lanjut dan hanya berkata, "Katakan saja kapan kau senggang, Allmight. Aku akan mengajakmu mengurus anak-anak."


"Oh?"

Menjelang tengah hari, sang pemilik penitipan anak kebingungan. Pasalnya di depan pintunya, berdiri hero nomor satu yang sering muncul di televisi. Belum lagi sang hero tampak terengah-engah seolah habis berlari maraton. Meskipun akhirnnya ia menyingkir dan ia membiarkan hero nomor satu itu masuk ke dalam, "Ground Zero-san? Kenapa Anda di sini?"

Ground Zero tak langsung menjawab. Ia menatap sang pemilik dan beberapa anak yang mengerumuninya. Diambilnya napas perlahan-lahan dan berkata, "Deku?"

Sekali lagi ucapan Ground Zero membuat sang pemilik kebingungan. Namun berhubung ia berkawan cukup akrab dengan Present Mic, Eraser Head dan berbagai pro hero, akhirnya ia mengerti. Ia sudah berpengalaman mengenali mereka baik dalam seragam kerja maupun dalam pakaian sehari-hari. Makanya ia berkata, "Anak yang kau antar tadi pagi, ya?"

Kepala diangkat dan Ground Zero menyipitkan mata. Ia belum menjawab 'Ya', namun sang pemilik sudah lebih dulu melangkahkan kaki dan memintanya mengikuti. Ia pun tak punya pilihan selain mematuhi sang pemilik diikuti tatapan anak-anak yang penasaran padanya.

Rumah penitipan itu sendiri cukup luas. Ruang bermain untuk anak-anak kecil dipisah dengan anak-anak yang lebih besar, begitu pula jenis mainan yang disediakan. Namun ada satu ruangan besar, tempat makan sepertinya, di mana anak-anak yang lebih tua dan lebih muda disatukan. Hanya saja mereka tidak berhenti di salah satu ruangan itu, melainkan berjalan terus melewati ruangan-ruangan hingga tiba di ruangan terujung.

"Dia tidak banyak bicara dan terus menonton dari tadi," ujar sang pemilik sambil menggeser pintu yang terbuat dari kaca buram. "Tadi kami sudah mencoba untuk mengajaknya bergabung dengan anak yang lain, tapi dia menggeleng dan memilih untuk menonton di sini."

Ground Zero tidak mengatakan apa pun. Manik merahnya menelusuri ruangan yang mirip dengan kantor sang pemilik penitipan. Ada meja kerja dan berkas yang diatur sedemikian rupa di dalam, namun pandangan matanya langsung tertuju ke sofa. Tempat di mana seorang anak sedang duduk diam menatap televisi.

Ketika sang pemilik mempersilakannya masuk, ia pun segera mengikuti instruksinya. Melangkah pelan, Ground Zero mendekat pada sofa. Walaupun begitu, ketika mendengar langkah mendekat, anak itu menggerakkan kepala dan menoleh. Manik hijaunya langsung bertemu dengannya dan ekspresi bingung mewarnai wajah anak itu.

"Katsuki?"

Mendekat, Katsuki akhirnya tiba di dekat sofa. Tangannya yang masih berbalut sarung tangan disentuhkan pada pinggiran sofa sementara anak itu merangkak menghampiri. Ketika tangan anak itu menyentuhnya, barulah ia berkata, "Deku."

Deku tampak bingung. Kepalanya bergerak dan ia membuka mulutnya hendak bertanya. Namun semuanya dihentikan ketika ia melihat keringat mengalir turun di wajah pemuda itu. Ia mengerutkan dahi dan berkata, "Kau berkeringat, Katsuki?"

"Ah, ya," Katsuki berkata sembari mengenyahkan keringan di wajah dengan lengannya.

"Kau habis berlari?" Deku bertanya sambil mendekat pada sang hero dan menyentuh wajahnya. "Jauh?"

Katsuki tidak menjawab. Ia membiarkan bocah itu menyentuhnya. Ditatapnya bocah itu selama beberapa saat sementara si bocah terus mengusap wajahnya, menghapus keringat dengan ekspresi bingung. Tanpa ia sadari, satu tangannya melingkari pinggang bocah itu dan memerangkapnya begitu erat.

"Kau sudah selesai bermain, Deku?"

Tangan Deku yang tengah mengelap keringat pun berhenti. Ia menggerakkan kepala dan berkata, "Ya?"

Melihat Deku tak menjawab, Katsuki pun bangkit berdiri. Sambil mengangkat bocah itu di meletakkannya di bahu ia berkata, "Ayo pulang! Aku ingin menikmati liburanku."

"Oh!"

Tanpa banyak bicara keduanya keluar dari ruangan. Di depan mereka bertemu dengan pemilik penitipan dan Katsuki membungkuk sedikit untuk menyapanya. Untunglah sang pemilik tidak banyak bertanya dan mempersilakan Katsuki membawanya pulang. Hingga dalam waktu singkat, keduanya sudah berada di jalan menuju ke kantor.

"Tapi Katsuki," potong Deku sementara Katsuki membawanya berjalan, "kenapa kau terburu-buru berlari-lari menjemputku?"

Selama beberapa saat Katsuki menatapnya dan berkata, "Kau tidak ingat apa yang kukatakan tadi pagi?"

Deku menggerakkan kepala. Bola matanya berputar berusaha mengingat ucapan Katsuki. Begitu ia berhasil mengingatnya, bocah itu pun berkata, "Aku tidak membuat masalah."

Masih sambil berjalan Katsuki hanya berkata, "Omong kosong."

Mengerutkan dahi bocah itu kembali protes, "Aku benar-benar tidak membuat masalah, Katsuki. Sungguh!"

"Oh?" Katsuki kembali berkata dengan nada tertarik. "Jadi siapa anak nakal yang tak mau keluar dari ruang pemilik? Anak nakal yang membuatku terpaksa menjemputnya."

Tak bisa membantah, Deku pun menunduk. Ia tak mengatakan apa-apa dan bersembunyi di balik peledak yang ada di leher Ground Zero.

"Sudah kubilang jangan membuat masalah," ujar Katsuki pelan sembari berjalan. "Kerjamu hanya membuat masalah saja kalau aku tidak ada."

"Aku tidak begitu—"

"Iya, kau selalu begitu," potong Katsuki ketika mendengar protes anak itu. Tangannya mencengkeram erat anak itu dan memeluknya. "Selalu saja membuatku cemas."

Deku mengerjap pelan sementara kepalanya bergerak miring. "Katsuki?"

Katsuki tidak mengatakan apa pun lagi. Langkahnya terhenti hingga membuat Deku memanggil-manggil namanya. Satu tangannya mencengkeram erat sementara kepalanya dibenamkan di bahu bocah itu.

Ia sendiri tak tahu mengapa ia bertindak seperti ini. Berlari tanpa alasan, khawatir, hanya karena bocah itu tak berada di dekatnya. Padahal bocah itu quirkless, amnesia dan bahkan tidak bisa berjalan. Bocah merepotkan yang baginya tak berguna.

Tapi anehnya. Ketika bocah itu berada di dekatnya, ia kembali bernapas lagi. Ia kembali tenang dan tidak lagi terburu-buru. Suara dan sikap bocah itu menenangkannya. Betapapun paniknya ia sebelumnya.

Oh! Ia mengerti. Sama seperti kasus pembobolan penjara, selalu ada yang pertama dari segala sesuatu. Ini pun salah satunya.

Bocah ini tidak quirkless. Inilah quirk bocah itu. Walaupun quirk tersebut mungkin hanya ia seorang yang merasakan efeknya.

.

.

.

(t.b.c)


A.N:

Holla All! Cyan kembali! Saya harap sedikit fluff-fluff Katsudeku nggak akan bikin kalian diabetes. Aniway, untuk:

hanazawa kay: hm, kenapa Katsuki nggak dipanggil Kacchan? Kenapa ya, coba kita tanya Katsuki.

K(Katsuki): Hah? Panggilan kekanakan macam itu, untuk apa bocah itu memanggilku Kacchan?

C(Cyan) : tapi hero yang lain dipanggil dengan embel-embel chan, apa kau tidak iri, Hero nomor satu?

K: aku iri? Yang benar saja! Mereka dipanggil dengan embel-embel seperti itu karena mereka masih kekanakan. Jangan samakan standarku dengan standar mereka!

C: begitukah? Tapi kulihat kau sempat memaksa agar Deku memanggilmu Kacchan?

K: kapan aku begitu, penulis sialan? Kau mau naskah dan laptopmu kuhancurkan, hah?

C: (beres2), tidak, sampai jumpa kalau begitu. (Kabur, mengungsi ke tempat aman)

B-begitulah, Kay, sepertinya kita lanjutan interview kita lain kali. Ciaossu!

Also, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D

For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD

Cheers,

Cyan.