Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.
Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi
Until we meet again by cyancosmic
Enjoy!
Ask 4. What's wrong with you?
Suara langkah menjejak keras hingga menimbulkan bunyi gaduh di tangga sepagi ini hanya berarti satu orang bagi Kirishima. Menurunkan tangan dari onigiri yang dibelinya di minimarket, ia pun beranjak menuju ke pintu depan. Sebelum sempat membukakan pintu, seseorang sudah mendorongnya pelan dan menunjukkan wajah.
"Ohayou.."
"Oha—" Kirishima berhenti sejenak sebelum menatapnya, manik merahnya terbelalak sedikit sementara tangannya bergerak untuk membukakan pintu bagi bocah yang menunjukkan kepalanya itu, "Deku-kun!"
Mengangguk pelan Deku beranjak masuk, namun Kirishima mengangkatnya dan memeluk bocah itu. Ekspresinya berubah khawatir ketika ia membantu si bocah untuk melepaskan sepatu dari kakinya. "Kau sudah bisa berjalan? Jangan terlalu memaksakan diri! Nanti kakimu sakit."
"Kalau sedikit, bisa," jawab Deku dengan senyuman di wajahnya.
Masih dengan ekspresi khawatir Kirishima berkata, "Tapi kau berjalan dari stasiun sampai ke sini 'kan?" Tangannya memegangi kaki si bocah dan memberikannya pijatan ringan, "Kau tidak boleh memaksakan diri, Deku-kun. Memang bisa segera berjalan itu baik, tapi kakimu belum kuat untuk menahan beban lama-lama."
"Aku tidak berjalan dari stasiun," jawab Deku sementara Kirishima membawanya masuk, seolah lupa ada seorang lagi di belakang bocah itu. Untunglah si bocah menyadarinya dan menoleh padanya dari balik bahu sang hero, "Katsuki menggendongku sampai depan pintu."
Sebelum Kirishima berkomentar, Katsuki sudah lebih dulu menghampiri keduanya. Diambilnya si bocah dari tangan Kirishima dan didudukkannya di kursi makan sebelum ia berjalan ke dapur. Dibukanya kulkas dan dikeluarkannya botol susu untuk dituangkan isinya ke dalam gelas. Ia meletakkannya di depan Deku dan memaksanya menghabiskan isi gelas sebelum merapikan sisanya di dapur.
Melihat Deku yang tengah menghabiskan isi gelasnya, Kirishima pun bergabung di meja makan. Ditariknya kursi dan diambilnya kembali onigiri yang belum selesai dihabiskannya. Ia mengamati sementara Deku menurunkan gelasnya dan beristirahat sejenak sebelum mengosongkan isi gelas.
"Kenapa Deku?" Kirishima berkata begitu melihat bocah itu mengernyit dan menatap gelasnya yang belum juga habis. "Kau tidak suka susu?"
"S-suka," cicitnya pelan sambil menunduk menatap gelas, "suka."
Kirishima mengangkat alis. Ia tersenyum maklum, mengerti mengapa bocah itu tidak suka rasanya. Terkadang rasa susu sapi murni tak seenak susu sapi yang biasa dijual di minimarket. Didorong rasa kasihan, ia pun menunjuk dirinya sendiri sambil berkata, "Mau kubantu menghabiskan?"
Deku mengangkat kepala dan menatap Kirishima sejenak. Ia menimbang tawaran itu sebelum menggeleng. "Tidak. Aku akan menghabiskannya."
"Baiklah kalau begitu," ucap Kirishima sembari menghabiskan onigirinya dan mengeluarkan onigiri baru dari plastik belanjaannya. Saat ia melakukannya, seseorang menjitak pelan kepalanya sehingga Kirishima menoleh. Seharusnya ia tidak perlu melakukannya karena hanya satu orang yang sifatnya seperti itu. "B-B-Bakubro!"
Katsuki memberikan ekspresi mengancam padanya sebelum mengambil tempat duduk di samping si bocah. Ia menunggu hingga bocah itu menurunkan gelas yang sudah kosong dan meletakkannya di meja. Baru setelahnya ia mengacak-acak rambut si bocah dan menyingkirkan gelas dari hadapannya.
"Anak ini butuh kalsium, rambut sialan!" Katsuki akhirnya berkata sambil menggoyang-goyang kepala Deku, "Jadi jangan kau rebut jatahnya!"
"Habis sepertinya Deku-kun tidak suka," protes Kirishima sambil menghabiskan onigirinya yang berisi telur, "Tapi syukurlah sudah habis, ya Deku-kun?"
Deku mengangguk sambil tersenyum bangga. Di sampingnya Katsuki mendecih sedikit sembari mengguncang kepalanya. Kirishima yang melihatnya malah tertawa kecil dan berkata, "Apa rencanamu hari ini, Deku-kun? Bermain seharian di sini?"
"Dia akan ikut terapi siang ini," ujar Katsuki menggantikannya menjawab. "Tapi selama itu, Bakazawa akan menemaninya bermain."
Sebelum Kirishima dapat menimpali, pintu ruang kaca mendadak terbuka. Bersama dengan itu, seorang pria berambut ikal hitam berantakan muncul sambil menghampiri keduanya. Menguap lebar pria itu mengucapkan selamat pagi asal-asalan sebelum mendekat ke meja makan. Ia pun berkata, "Aku akan menemaninya. Tentunya kalau kau tidak keberatan aku mengajaknya patroli."
"Kau apa?"
Aizawa pun menyingkirkan tangan Katsuki dan mengganti dengan tangannya sendiri. Memamerkan cengirannya pria itu berkata, "Halo, Deku! Mau ikut patroli hari ini?"
"Halo, Shocchan!"
"Tunggu! Patroli?" Katsuki berkata sembari menyingkirkan tangan Aizawa. "Kenapa kau harus patroli, Bakazawa? Bukannya harusnya kau mengerjakan dokumenmu yang bertumpuk?"
"Benar kata Bakubro," Kirishima berkata saat melihat pria itu berjalan dan sibuk di dapur. Dihampirinya pria itu dan berkata "Soal patroli apa tidak sebaiknya diserahkan pada kami saja, Aizawa-san?"
Aizawa yang tengah menjaring air menoleh sebentar dan berkata, "Kalian punya pekerjaan lain untuk dilakukan, bukan? Jangan pusingkan aku! Aku hanya akan berpatroli di sekitar sini sebentar. Bersama Deku-kun tentunya."
"Dia tidak akan ikut denganmu, Bakazawa!" Katsuki membalas dengan sinis. Ia mendecih sebelum berkata, "Apa boleh buat, terpaksa kutitipkan di penitipan anak."
"Tapi Aizawa-san setelah meeting kami masih bisa lanjut berpatroli," lanjut Kirishima yang ikut menimpali. "Lagipula, meeting dengan team Endeavor takkan berlangsung lama. Kami hanya akan menentukan target dan—"
"Tidak perlu memaksakan diri," jawab Aizawa sambil menepuk bahu Kirishima. "Kalian dengarkan saja apa yang hendak disampaikan Endeavor dan tim nya, baru laporkan padaku. Kuduga ini bukan urusan sepele kalau sampai orang tua pemarah itu sampai mengajukan aliansi dan meminta bantuan kita."
Di belakangnya, Katsuki mendengus hingga membuat keduanya menoleh. Melihat keduanya rekannya kebingungan, Katsuki pun berkata, "Orang itu mengandalkan orang lain? Dunia hampir kiamat sepertinya."
Aizawa memandang pemuda satu itu. Ia menghela napas dan berkata, "Tidak juga, kurasa langkah yang diambilnya sangat tepat. Di situasi berbahaya seperti ini, aku sendiri tak akan mengirimkan staff ku untuk bekerja sendirian. Terutama kau, Bakugou."
Katsuki menatapnya sebelum menyipitkan mata, "Kau meremehkanku, orang tua sialan?"
"Aku tidak berkata demikian, tapi ada saat di mana pro hero sekalipun bisa lengah dan berakhir dengan kejadian yang mengancam nyawa," Aizawa berkata sambil menyesap kopinya, "sudah banyak sekali kejadian seperti itu, apalagi belakangan ini."
"Mungkin kau sudah pikun," Katsuki kembali berkata, "Tapi mereka itu orang-orang yang kukirim sendiri ke sel, tak mungkin aku kalah dari—"
"Pikiran semacam itu yang harus kau waspadai, Bakugou," ucap Aizawa tenang, "kalau ada quirk yang dapat meniadakan program anti quirk, maka kau harus waspada dengan kemampuan mereka. Kemungkinan mereka disokong oleh seseorang dan bisa saja salah satu di antara mereka mampu melipat gandakan kemampuan. Bagaimana kalau salah satu dari mereka berhasil menghabisimu?"
"Itu musta—"
"Kau mungkin belum mendengar," ujar Aizawa sambil menggoyangkan cangkirnya, "tapi Muscular yang sebelumnya ditangkap olehmu dan Red Riot kini bebas dan dalam beberapa hari saja ia sudah menyerang banyak hero."
"Dia hanya penjahat yang membanggakan otot," komentar Katsuki sambil menyangga kepala dengan tangannya, "tidak ada yang perlu dicemaskan."
"Yang perlu kau cemaskan," ujar Aizawa sambil menunjuknya, "adalah dia menyerang para hero dalam sosok asli mereka, tanpa jubah kepahlawanan yang biasa mereka kenakan."
Kirishima yang ikut mendengarkan terbelalak ngeri sementara Katsuki menyipit. Tangannya mengepal sementara ia tidak berkomentar. Hingga akhirnya Aizawa meneruskan ceritanya dan berkata, "Para pro hero diserang di rumah bersama dengan keluarga mereka. Entah bagaimana mereka menemukan data para hero termasuk di mana mereka tinggal."
"Sampai seperti itu—"
"Ya, makanya," ujar Aizawa sambil menunjuk keduanya, "Kalian berdua juga hati-hati saat beraksi! Sedapat mungkin hindari pertarungan yang tak perlu dan apabila berhadapan dengan lawan yang tak bisa dikalahkan, lebih baik segera memanggil bantuan. Jangan beraksi sendiri!"
Aizawa mengakhirinya dengan menatap Katsuki penuh arti. Sementara yang ditatap hanya menyipitkan mata dengan tangan terkepal. Tidak ada di antara keduanya yang berbicara lagi setelahnya. Aizawa meninggalkan tempat dan mencuci cangkir di dapur sementara Katsuki mengangkut anak di sampingnya. Dipeluknya bocah itu sebelum beranjak ke pintu dan memakai sepatunya. Seperti katanya tadi, berhubung Aizawa tidak bisa menjaga bocah itu, ia tidak punya pilihan selain menitipkan Deku ke tempat penitipan anak.
Berjalan kaki, Katsuki menggendong si bocah di bahunya. Tidak ada dari keduanya yang bicara hingga akhirnya mereka tiba di tempat penitipan. Saat Katsuki sudah menyerahkan Deku pada pemilik penitipan anak, tiba-tiba bocah itu terdiam di tempat.
"Deku-kun?" Pemilik penitipan menatapnya bingung. "Ada apa? Ayo masuk!"
Deku menatap kakinya cukup lama hingga membuat Katsuki menghentikan langkah. Sikapnya yang tiba-tiba diam membuat Katsuki berbalik dan membungkuk sedikit. Kedua tangannya menyentuh tangan bocah itu dan berkata, "Ada apa? Kau ketinggalan sesuatu?"
Deku menggeleng membuat kerutan di dahi Katsuki bertambah. Baru kali ini ia melihat bocah itu sampai diam tak bersuara.
"Mainanmu tertinggal?" Katsuki bertanya sambil menyentuh bahu bocah itu.
Sekali lagi Deku menggeleng hingga membuat Katsuki bingung. Ada apa sebenarnya? Ia hendak bertanya kembali sebelum menyadari sesuatu. Disentuhkannya tangannya ke dahi Deku dan ia berkata, "Apa kau sakit?"
Tapi itu pun dijawab Deku dengan gelengan kepala. Bocah itu tidak sakit apa-apa. Tapi Katsuki sendiri tidak mendapat jawaban soal sikap bocah itu sebelumnya. Mungkinkah ini hanya kecemasannya saja yang berlebihan?
Satu tangannya menyentuh kembali kepala Deku dan mengacak rambutnya. Baru setelahnya pemuda berambut pirang itu bangkit berdiri dan berbalik. Setelah berpamitan pada si pemilik, Katsuki pun melanjutkan langkah dan keluar dari ambang pintu. Ia tak lagi mengacuhkan tatapan Deku dan berjalan kembali ke kantornya.
Ketika ia belum terlalu jauh dari tempat penitipan, ia mendengar sedikit ribut-ribut di belakangnya. Mengira tak ada hubungannya, Katsuki pun mengabaikannya dan terus berjalan. Ia terus melangkah hingga mendengar seseorang menyebutkan panggilan yang begitu akrab di telinganya.
"Deku-kun! Tunggu!"
Menoleh, Katsuki hampir tidak bisa memercayai matanya. Anak yang ditinggalkannya di penitipan tahu-tahu mengejarnya. Ekspresi wajah dan kekhawatirannya membuat Katsuki bingung. Namun ia tak bisa memikirkannya lama-lama, terlebih ketika melihat bocah itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan bunyi berdebum keras.
Hanya saja ia salah besar mengira bocah itu akan menyerah dan menangis. Walaupun memang bocah itu meringis dan kedua matanya berkaca-kaca, bocah itu kembali berdiri. Kakinya gemetar namun bocah itu memaksakan diri melangkah. Tangan terulur, tidak mau menyerah. Melihatnya membuat Katsuki berhenti berdiam diri dan langsung menghampiri.
Pemilik penitipan itu menghampiri Deku dan menahan bahu si bocah. Namun anak kecil itu menolak dan meronta sekalipun si pemilik berusaha membujuknya. Ia baru berhenti bergerak ketika Katsuki tepat di depan dan menghampirinya. Berlutut di sampingnya sambil menatap bocah itu.
"Kenapa?"
Bila sebelumnya ia meronta ingin menghampiri, kali ini Deku hanya bisa tertunduk. Menatap kaki tanpa berani menjawab pertanyaan Katsuki. Bahkan pemilik penitipan sampai tidak berkata-kata melihat keduanya.
"Cepat katakan!" Katsuki berkata dengan nada mengancam. "Apa maumu sebenarnya?"
Walaupun sudah diancam, bukannya menjawab bocah itu malah memalingkan wajah. Sikapnya malah membuat Katsuki semakin jengkel. Berdiri dari tempatnya, Katsuki pun berkata, "Baiklah! Kalau tidak mau jawab, kutinggal!"
Mendengar akan ditinggal barulah Deku mengangkat kepala. Menatap pemuda yang sudah berbalik hendak meninggalkannya, bocah itu berteriak, "Katsuki!"
Katsuki menoleh. Ia menatap bocah itu dengan menyipitkan mata. "Apa?"
Deku balas menatapnya, namun ia kembali menundukkan kepala lagi. Ragu-ragu untuk berkata. Sikapnya membuat Katsuki kembali berbalik dan melangkahkan kaki. Akibatnya Deku pun bingung. Melihat Katsuki semakin menjauh ia pun berteriak, "Katsuki! Jangan pergi!"
Katsuki menghentikan kaki dan ia menoleh. Bukannya seorang bocah tegar yang dilihatnya, melainkan bocah yang sudah berlinangan air mata. Melihatnya membuat Katsuki berbalik. Langkah yang awalnya lambat pun semakin cepat hingga akhirnya ia berada di hadapan bocah itu.
Frustasi, kesal dan tidak mengerti, Katsuki akhirnya memeluknya. Saking bingungnya ia pun berkata, "Ada apa sebenarnya denganmu? Apa yang sakit?"
Deku menggeleng, bukan jawaban yang mencerahkan Katsuki. Namun kedua tangan bocah itu memeluk lehernya erat dan terus menangis. Melihatnya Katsuki pun mengerutkan dahi. Diangkatnya bocah itu sementara punggungnya ditepuk pelan. Pada si pemilik penitipan ia terpaksa berkata, "Maaf, sepertinya aku tidak jadi menitipkannya hari ini. Dia sedang rewel sepertinya."
Si pemilik awalnya kebingungan. Namun ia tidak mempermasalahkannya dan berkata, "Tidak masalah, Bakugou-kun. Sepertinya Deku-kun tidak ingin berpisah denganmu."
Menghela napas, Katsuki pun berkata, "Biasanya dia tidak rewel seperti ini, entah apa yang terjadi."
"Wah, ada apa denganmu, Deku-kun?" Sang pemilik kembali bertanya dan sama-sama bingung. "Apa dia mengkhawatirkanmu, Bakugou-kun?"
"Hm?"
"Itu lho," ujar sang pemilik lagi, "Di televisi banyak diberitakan bahwa para hero diserang oleh penjahat, bukan? Apa menurutmu Deku-kun menonton berita tentang itu?"
Mengerjap pelan, Katsuki teringat pembicaraan mereka sebelumnya. Tapi ia tak yakin bahwa bocah ini menangis karena khawatir padanya. Ia sendiri ragu bocah ini mengerti apa yang dia dan tim nya bicarakan tadi pagi.
"Mungkin tidak," ujar Katsuki pelan. "Kalau begitu, kubawa dulu anak ini."
Sang pemilik mempersilakan tanpa banyak bertanya lagi. Ia pun permisi dan segera kembali ke tempat berhubung masih banyak pekerjaannya di dalam. Katsuki hanya mengangguk dan membiarkannya pergi hingga akhirnya tinggal mereka berdua. Menghela napas, ia pun kembali melangkah dan melanjutkan perjalanan.
"Hei," panggil Katsuki sementara mereka berjalan, "kau sakit?"
Menyadari bahwa Katsuki tengah mengajaknya bicara, Deku pun mengangkat kepalanya dari bahu pemuda itu. Menggeleng pelan sebelum kembali menenggelamkan kepalanya. Kedua tangannya melingkari leher Katsuki erat, enggan melepaskannya.
Bergumam sedikit, Katsuki pun kembali menebak. "Kau lapar?"
Sekali lagi gelengan diberikan di bahunya. Ini membuat Katsuki semakin bingung. Semua pertanyaannya dijawab dengan gelengan semata. Tak ada satu pun dugaannya yang tepat. Setahunya anak-anak hanya menangis kalau sakit atau lapar. Tapi apa yang menyebabkan anak berumur delapan tahun menangis seperti ini?
Pemilik penitipan anak bilang bahwa bocah ini tidak ingin berpisah dengannya. Tapi Katsuki tidak yakin. Sehari-hari pun ia terpaksa menitipkannya karena harus bekerja dan belum pernah bocah ini menangis. Lalu apa bedanya hari ini dengan hari-hari biasa?
Apa jangan-jangan... Ah! Tapi itu 'kan tidak mungkin. Anak sekecil ini mana mungkin mengkhawatirkan orang dewasa, bukan? Terlebih orang seperti dia yang mendapat gelar hero nomor satu. Pasti salah.
Menghela napas, Katsuki terpaksa mengusap-usap kepala bocah itu. Dibiarkan bocah itu memeluknya erat sementara ia berjalan membawanya pulang. Seperti biasa, keduanya melewati jalan gang yang tak terlalu ramai pengunjung, yang akan membawa mereka ke tepi jalan besar tempat kantor berada. Katsuki sendiri melangkah tanpa banyak bicara hingga ia merasakan sesuatu yang membuatnya berhenti melangkah.
Tepat di pintu keluar gang, seseorang berdiri menghalangi jalannya. Orang itu bertubuh cukup besar sehingga tak ada celah tersisa. Tubuhnya bungkuk dan ketika mereka bertatapan, orang itu menyebutkan namanya.
"Bakugou... Katsuki."
Katsuki menyipitkan mata. Ia tak yakin pernah mengenal sosok seperti ini di lingkungannya. Memang, namanya bukan rahasia umum dan siapapun sudah mengenalnya sebagai juara di festival olahraga UA waktu itu. Hanya saja hal tersebut sudah berlalu sepuluh tahun lamanya dan hampir tak ada orang yang menghubungkan Ground Zero dengan pemuda bernama Bakugou Katsuki.
Merasakan adanya bahaya yang dipancarkan orang itu, Katsuki menepuk kepala Deku sejenak. Diturunkannya bocah itu dari pelukannya sementara ia berkata, "Kau tunggu di sini, Deku!"
Menggumam, Deku mengangkat kepala dan menatap ke ujung gang. Manik hijaunya mengamati orang yang berdiri menghalangi jalan dengan waspada. Bahkan tangan mungilnya memegangi Katsuki, menahannya.
Sayangnya Katsuki tak memahaminya. Ia menepuk pelan tangan bocah itu dan melepaskannya. Dengan langkah santai, pemuda itu menghampiri orang tersebut dan berkata, "Kau ada perlu denganku?"
Sebelum menjawab, pria bertubuh besar yang menghalangi jalan itu menunjukkan senyum lebar. Sikapnya membuat Katsuki mundur selangkah, waspada. Hanya sebelum ia bisa mengambil jarak lebih jauh, pria besar itu melompat dan dengan cepat berada di sampingnya. Menyadari itu, Katsuki segera bergerak, menggunakan tangan menahan pukulan.
Tenaga yang dihasilkan pria bertubuh besar itu melebihi dugaannya. Tubuh Katsuki terhempas ke samping, menabrak bangunan dengan nyaring dan meninggalkan lubang di bangunan tersebut. Terbatuk dan telinga berdenging, Katsuki pun terpaksa berdiri.
Sekali lagi dengan kecepatan yang di luar dugaannya, pria itu menyerang Katsuki dan menghantamnya membabi buta. Perut, bahu, tangan, kaki, punggung, hampir semua bagian tak ada yang berhasil ditahan. Walaupun kecepatan mereka sama Katsuki tak bisa menahannya tanpa membuat dirinya sendiri terlempar.
Serangan terakhir di perutnya membuatnya terlempar keluar dan menabrak dinding. Sekali lagi bunyi berdebum yang memekakkan telinga bergaung di gang yang sempit. Dengan dua rumah di antara gang yang berlubang akibat pertarungan mereka, orang-orang pun mulai panik. Telinga Katsuki yang sudah berdengung menjadi semakin tidak nyaman mendengar teriakan orang-orang di sekitarnya.
"Berisik sekali," gumamnya setelah memuntahkan darah dari mulutnya. Kepalanya berdarah terkena benturan dan kemungkinan ada luka dalam di perutnya akibat benturan tadi. Hanya saja Katsuki tetap bangkit dan menggerakkan tangannya. Ia menatap si penjahat yang berjalan mendekat ke arah mereka dan berkata, "Kau sudah selesai?"
Pria itu menatapnya dan tertawa keras mendengar pertanyaan Katsuki. Dengan mengejek ia berkata, "Belum. Aku belum selesai, hero nomor satu. Kau harus sabar menunggu."
"Kukira semua penjahat sudah mengenal temperamenku," ujar Katsuki sembari mengarahkan tangannya ke arah pria itu, "bahwa aku bukan orang yang sabar."
Katsuki melompat dan dengan cepat menghantam pria besar itu dengan ledakan. Percikan api pun muncul dari tubuh pria itu namun dengan cepat berakhir. Melihatnya membuat Katsuki terpaksa melompat mundur, sebelum pria itu menarik tangannya. Terkejut, Katsuki menggerakkan kaki untuk menendang sebelum diayun hingga terlontar ke ujung gang dan bergesekan dengan tanah.
"K-Katsuki!"
Dengan panik, bocah yang sebelumnya diturunkan Katsuki berlari menghampirinya. Tangan mungilnya menyentuh baju Katsuki dan sangat panik ketika melihat darah menempel di kedua tangan. Tubuhnya bergetar terlebih melihat Katsuki terluka.
Sementara itu, penjahat yang menyerangnya tertawa semakin keras melihat pemuda yang ditumbangkannya terlempar begitu jauh. Dengan santai ia berjalan menghampiri Katsuki sementara suaranya yang keras terus bergema.
"Ternyata semua hero sama saja," ujar orang itu dengan tertawa lebar. "Kalian para pro hero tak bisa apa-apa tanpa baju perang kalian. Kalian bagaikan badut cosplay yang membawa senjata."
Katsuki punya seribu satu kalimat kalau ingin balas menyindir sebetulnya. Sayang saat ini mulutnya penuh dengan darah. Terbatuk pelan, ia berusaha bangkit dengan sikunya. Ia menyadari bahwa Deku masih di sampingnya, namun ia tak bisa meminta bocah itu mundur berhubung penjahat di hadapannya sudah berada di hadapan mereka.
Melihat sosoknya dari dekat membuat Katsuki memiliki gambaran tentang penyerangnya. Pantas saja semua serangannya tidak ada yang masuk. Penjahat satu ini membungkus seluruh tubuhnya dengan otot dan otot itu memberinya tambahan kecepatan juga kekuatan yang ia butuhkan untuk membunuh para hero. Bahkan berkat ototnya lah penjahat itu memperoleh namanya.
"Muscular rupanya," Katsuki berkata sambil terbatuk pelan, "hampir saja aku tak mengenalimu yang terbungkus otot begitu."
Muscular, pria besar berambut pirang itu tertawa mendengar ucapan Katsuki, "Senang mendengar bahwa kau masih mengenaliku, Ground Zero. Aku khawatir kau sudah melupakan musuh-musuh yang pernah kau tangkap sebelumnya."
Mendengus, Katsuki pun berkata, "Sejujurnya akulah yang khawatir bahwa kau sudah lupa padaku. Kukira berada di tahanan selama delapan tahun membuat ingatanmu berkarat bahwa kemampuanmu tak ada artinya bagiku."
"Hah!" Pria itu kembali menertawakan ucapan Katsuki. Matanya membelalak lebar saat ia menunjuknya dan berkata, "Tentu! Delapan tahun lalu, aku bisa dikalahkan olehmu karena kau mengenakan seragam hero mu dengan berbagai peralatan penunjangnya."
"Oh," jawab Katsuki tenang, "jadi karena itu kau jadi pengecut dan memilih untuk menyerang para hero tanpa persiapan?"
Gantian, Muscular mendengus mendengar ucapan Katsuki. Ia pun berkata, "Apa pun katamu, Ground Zero, itu tak mengubah fakta bahwa kalian para hero tak bisa apa-apa tanpa peralatan di tubuh kalian. Kalian hanya pecundang."
"Bukannya kalian yang pecundang?" Katsuki balas berkata, "Menyerang hero dan keluarganya, bahkan untuk penjahat sekalipun itu benar-benar tindakan pengecut."
"Aku tidak peduli pendapatmu," Muscular berkata sambil menggerakkan tangannya dan menghantamkannya ke tubuh Katsuki. Membuatnya tanah di sekelilingnya berlubang dengan pemuda yang memuntahkan darah, "Karena kau akan mati di sini."
"K-K-Katsuki!"
Menjerit, Deku mencoba menghampiri pemuda yang terbaring itu. Hanya sebelum ia mendekat, seseorang menarik tudung jaket bocah itu dan mengangkatnya. Membuat kaki si bocah melayang-layang menaiki angin.
"Kukira Shigaraki hanya bercanda," ujar pria itu sambil mengangkat Deku di atas kepalanya, "saat dia mengatakan bahwa Ground Zero punya anak."
"Lepaskan! Lepaskan aku!" Deku berusaha meronta dan menggerakkan tangannya. "Lepaskan!"
"Aku bisa melepaskanmu kalau kau melawan, Nak, kau tak mau melawan?" Muscular berkata sambil membawa Deku mendekat padanya. "Aku tidak suka anak kecil yang hanya bisa berteriak tanpa melakukan apa-apa."
Menatap pria besar itu dengan marah, Deku berusaha menggerakkan tangannya. Dengan kedua tangannya ia berusaha meninju pria besar itu sementara kakinya berusaha menendang. Namun kedua kaki maupun tangannya tak ada yang sanggup mencapai pria itu dan malah membuat pria yang menontonnya bosan.
"Kau benar-benar hanya anak yang bisa bicara, ya? Apa Ground Zero sama sekali tidak mengajari bagaimana caranya bertempur?" Muscular berkata sambil menggenggam tangan Deku dan membuat bocah itu berteriak saking nyeri. "Kalau ia tidak mau mengajarimu, biar kuajarkan cara memukul yang benar!"
Dengan cepat tangan Muscular bergerak ke arahnya. Deku melihat pukulan akan datang, namun ia tak bisa mencegah. Ia ngeri membayangkannya, hanya dia tak mau menutup mata. Ia tak akan lari.
Pukulan yang ia tunggu ternyata tak pernah datang. Tinju yang mengarah padanya tertahan tepat beberapa mili di depan wajahnya. Ada tangan lain yang menahan tangan pria itu dan mencengkeramnya erat hingga pria itu menjerit dan melepaskannya.
"Son of a b****," orang itu berkata dengan kepala berlumuran darah, "sasaranmu itu aku, bukan? Kenapa kau harus mengganggu anak kecil lemah sepertinya?"
Meraung kesakitan, pria besar itu pun mundur selangkah setelah tangannya dilepaskan oleh Katsuki. Matanya menyipit, menatap Katsuki yang sebelumnya tidak bisa bergerak. Ia yakin ia sudah memberikan pukulan penghancur dengan seluruh kekuatan ototnya. Tak mungkin pemuda ini masih bisa bangkit.
"Tadinya aku mau bersabar," ujar Katsuki sambil berjalan menghampiri, "tapi kau cukup keterlaluan."
Melihat Katsuki mendekat, Muscular pun menyelubungi seluruh tubuhnya dengan Muscle Augmentation miliknya. Ia meningkatkan Durability ototnya berkali-kali lipat seiring dengan setiap langkah yang diambil Katsuki. "Hah? Coba saja! Tanpa baju perangmu kau takkan bisa—"
Perkataannya terputus saat Katsuki menghantamkan tinjunya ke tubuh orang itu dan menjatuhkannya. Bahkan otot-otot yang menyelubungi pria itu tak kuat menahan serangan hingga meledak dan menampilkan tubuh aslinya. Sebelum ia sempat menggunakan Muscle Augmentationnya lagi, Katsuki menghantamkan kembali tinjunya dan kali ini tepat mengenai perut hingga membuat Muscular berteriak kesakitan.
Tak cukup hanya itu, Katsuki kembali mengumpulkan ledakan di tangannya. Seperti Red Gauntlet, dihantamkannya tinjunya berulang kali pada Muscular. Semakin lama gerakannya semakin cepat dan ledakan yang dihasilkan terus mengenai Muscular bertubi-tubi. Ia bahkan tidak menyadari bahwa lawannya sudah tumbang dan terus memukulinya.
Ketika ledakan di tangannya sudah berhenti, barulah ia sadar bahwa lawannya sudah tak bisa bergerak. Perlahan, ia pun bangkit dan mundur. Terengah-engah seperti kehabisan napas ia berdiri menatap lawan.
"Ke...napa?"
Manik merah memicing sementara kedua tangan Katsuki mengepal. Siap menghantam pria itu bila masih menjadi ancaman.
"Padahal...," ujar pria itu terbata-bata, "kau tidak mengenakan seragam."
Masih sambil mengatur napas, Katsuki berkata, "Dasar bodoh!"
Muscular tidak menjawab. Tidak punya tenaga untuk bertanya kembali. Untungnya Katsuki masih berbaik hati menjelaskan.
"Beberapa hero menggunakan seragam untuk meningkatkan kekuatan," ujar Katsuki, "tapi ada juga yang menggunakannya untuk mengendalikan kekuatan."
Kelihatannya Muscular tak mendengarkan. Menghela napas, Katsuki pun berbalik. Baru saja ia hendak melangkah, bocah yang ia cari sebelumnya langsung menubruknya, membuatnya jatuh terduduk. Refleks, ia pun memaki jengkel sambil meneriakkan nama bocah itu, "Deku!"
Sebelum Katsuki sempat melanjutkan dengan umpatan, bocah itu sudah memeluknya erat. Tanpa banyak bicara si bocah menyembunyikan wajahnya di bahu Katsuki sementara tetes-tetes air mata mengalir membasahi pundak sang hero nomor satu. Menghela napas, Katsuki meletakkan tangannya di kepala si bocah, mengusapnya pelan.
"Kau terluka?" Ia bertanya sambil mengusap kepala si bocah, "Apa dia menyakitimu?"
Gelengan terasa di bahunya namun Deku tidak mengangkat kepalanya. Ia tetap diam sambil memeluk Katsuki.
"Syukurlah kalau kau baik-baik saja," jawab Katsuki akhirnya. Ia pun bangkit berdiri sambil membawa bocah itu di pelukannya. Hanya saja bocah itu menolak yang membuat Katsuki semakin bingung. Frustasi ia pun membentak bocah itu dan berkata, "Kau ini kenapa sebenarnya? Apa maumu? Jangan membuatku jengkel!"
Dibentak membuat Deku kaget. Namun bocah itu tidak mengatakan apa pun. Sebaliknya butiran airmatanya semakin deras yang membuat Katsuki menyesal sudah memarahinya. Sang hero nomor satu pun menatap langit, berharap langit memberinya belas kasihan. Tangannya mengusap wajah sebelum kembali menatap si bocah.
Dengan suara yang lebih pelan ia berkata, "Deku, kemari!"
Sekali lagi bocah itu menggeleng yang membuat amarahnya nyaris meledak, lagi. Hanya teringat airmata bocah itu, ia pun berusaha menahan diri. Menghela napas Katsuki kembali mengulangi pertanyaannya.
"Ini ketiga kalinya aku bertanya," ujar Katsuki dan ia berusaha sesabar mungkin saat mengucapkannya, "apa yang salah denganmu sebenarnya? Kau sakit? Kau lapar? Kau ingin sesuatu? Apa? Jangan hanya menangis saja! Kau—"
Menyadari ia justru menumpahkan seluruh kejengkelannya, Katsuki langsung berhenti. Bukannya semakin lega, ia malah semakin putus asa melihat banyaknya airmata yang mengalir menuruni pipi gembil bocah itu. Tak punya pilihan, ia pun menyerah dan berjongkok untuk membantu menghapus airmatanya.
"Maaf," gumam pemuda itu. "Aku salah sudah memarahimu."
Manik hijau Deku mengerjap pelan saat mendengar suara Katsuki.
"Aku tidak mengerti," ujar pemuda itu lagi, "kenapa kau menangis seperti ini."
Kepala bocah itu terangkat dan ia menatap Katsuki yang balas memandanginya. Kali ini ia tidak melihat amarah di wajah pemuda itu. Sebaliknya, ia melihat pemuda itu menatapnya seperti hampir menangis.
"Kau mau memberitahuku?"
Mendengarnya membuat si bocah menghapus airmatanya. Menggunakan kedua tangan, ia menggosok-gosok matanya agar airmatanya berhenti. Ketika tangisannya berhenti, ia pun menatap sang hero nomor satu dan menyentuh wajahnya.
Terbata-bata akhirnya ia berkata, "Shocchan bilang... kau dalam bahaya, Katsuki."
Katsuki mengerjap-ngerjap dan ia memutar bola matanya. Memang pagi ini mereka sempat membahas hal itu, tapi masa sih bocah ini menangis gara-gara itu?
"Mereka mengincarmu," ujar bocah ini sambil berusaha menahan airmata yang hendak mengalir. "Dan kau terluka parah."
Mengerjap pelan, Katsuki tidak membantah. Ia sengaja mengalah untuk tahu berapa banyak penjahat yang berada di sekitarnya. Kalau ia menunjukkan perlawanan dan menang tiba-tiba pasti penjahat lain akan datang dan mengepungnya sebelum ia mengalahkan Muscular. Tak pernah ia bayangkan bahwa sikapnya justru membuat bocah ini khawatir. Tahu begitu langsung saja ia kalahkan penjahat itu.
"Dan aku hanya bisa menjerit," ucap bocah itu sambil menangis. "Aku tak bisa apa-apa."
Mendengar itu Katsuki terdiam. Ia menatap si bocah.
"Aku ingin menolong Katsuki," kata bocah itu lagi, "tapi tanganku bahkan tidak sampai dan tenagaku payah. Padahal aku ada di sana."
Tanpa mengatakan apa pun, Katsuki menaruh satu tangannya di atas kepala bocah itu. Dalam satu tarikan singkat, ia menarik bocah itu dan memeluknya erat. Untunglah kali ini si bocah tidak meronta dan menangis pelan.
"Wow," ujar Katsuki akhirnya, "para hero pro pasti akan malu kalau mendengar kata-katamu, Deku."
"K-Katsuki?"
"Menyelamatkanku?" Katsuki berkata sambil memeluknya erat. "Kau lupa bahwa aku ini hero nomor satu?"
"T-tapi Katsuki berdarah," gumam bocah itu, "Katsuki nyaris tewas."
"Itu hanya akting! Lagipula sudah kubilang aku ini hero nomor satu," potong Katsuki. "Penjahat kacangan seperti ini takkan membunuhku. Kau tidak perlu menyelamatkanku."
"Katsuki!"
"Aku tidak mau diselamatkan olehmu." Katsuki mengulangi dengan penekanan. "Jangan coba-coba melakukannya!"
Deku menatapnya sebelum menundukkan kepala. Bocah itu menggigit bibir bawahnya. Kesal dan marah, karena tidak bisa melakukan sesuatu. Juga, tidak diizinkan melakukan sesuatu. Semuanya karena ia tidak bisa melakukannya. Karena ia... lemah.
"Tapi kalau kau bersikeras," ujar Katsuki lagi, "aku tahu seseorang yang bisa kau selamatkan."
Suara Katsuki membuat Deku menoleh dan menatapnya bingung. Ia mengerjap dan menunjuk dirinya sendiri "Aku? Bisa menyelamatkan?"
Mengangguk, Katsuki berkata, "Hanya kau yang bisa. Kau mau menyelamatkannya?"
Manik hijau menatapnya ragu, namun pada akhirnya bocah itu mengangguk pelan.
"Mau berjanji padaku?" Katsuki mengangkat jari kelingking di hadapan bocah itu, "bahwa kau akan selalu menyelamatkannya kalau aku meminta?"
Deku menatapnya pelan sebelum mengangguk lagi. Mengikuti Katsuki, ia pun mengangkat jari mungilnya dan mengaitkan kelingkingnya pada tangan Katsuki. "Aku janji. Tapi siapa yang harus kuselamatkan?"
"Kau tidak tahu? Ada seseorang yang selalu di dekatku, bukan?"
Menggerakkan kepala pelan, Deku menatap Katsuki. Dahinya berkerut sebelum berkata, "Ei-chan?"
Menggeleng Katsuki menatapnya jengkel, "Dan juga bukan Bakazawa, tak perlu repot-repot menebak tua bangka itu."
Deku berpikir keras sebelum berkata, "Mama Katsuki?"
"Yang benar saja," Katsuki hampir menjerit mendengar kepayahan bocah ini menebak, "nenek sihir itu bahkan tak ada di sampingku saat ini. Bagaimana bisa kau menyelamatkan orang yang tak ada?"
Sekali lagi bocah itu berpikir dan ia berkata, "Tapi yang ada di sampingmu saat ini hanya a... ku?"
Katsuki mengangkat alis dan menunjuknya. "Nah!"
"Aku?"
Sekali ini Katsuki mengangguk dan berkata, "Kau."
"Tapi—"
"Kalau terjadi hal seperti ini lagi," ujar Katsuki sambil menyentuhkan tangannya di kepala bocah itu, "kau harus menyelamatkan dirimu. Aku benar-benar mengandalkanmu."
"Tapi, Katsuki..." Deku berkata lagi. Ingin protes. Kenapa ia harus menyelamatkan dirinya sendiri? Apakah karena ia lemah? Karena ia tidak bisa apa-apa sehingga Katsuki memintanya pergi?
"Kalau tidak," Katsuki berkata lagi, "aku akan sangat marah. Sangat-sangat marah."
Untuk sesaat, Deku tertegun. Ekspresi Katsuki saat itu bukan ekspresi orang yang jengkel. Ekspresi itu pertama kali dilihatnya saat mereka berhadapan dengan slime dan Katsuki jengkel karena ia kotor dan berantakan. Tapi sama seperti sebelumnya, Katsuki tidak terlihat marah. Justru pemuda itu terlihat sangat sangat takut dan sedih.
"Mengerti?"
Manik hijau masih menatap Katsuki. Beberapa saat lamanya hingga akhirnya ia menunduk. Bertanya-tanya apakah ia yang lemah ini masih dapat melindungi pemuda itu dari kesedihan?
"Hei?" Katsuki berkata lagi, menuntut jawaban. "Kau mengerti tidak?"
Deku menatapnya lama sebelum berkata, "Ya, Katsuki."
.
.
.
(t.b.c)
A.N:
Horee! Masih dapet satu chapter sebelum Liburan berakhir! Apa kabar, semua? Cyan di sini. Masih dengan Katsudeku! Nggak nyangka chapter ini cepet banget tapi ane sendiri jujur nggak sabar berhubung banyak hero yang akan bergabung.
Aniway untuk :
el-vtrich : iyaaa, Katsuki onii-chan uda jauh lebih lembut. Dia uda nggak bisa marah-marah, kalau marah-marah nanti diserang airmata segede biji K.O ditempat langsung. Walaupun heeh, tsundere makes Katsuki, Katsuki XD
Nah! Untuk... kenapa Deku ada di reruntuhan, kenapa Katsuki nangis, pasti bakal kejawab seiring ceritanya bertambah. Sehabis chapter ini kita mulai kupas satu persatu, setelah tim inteligen bergabung :D
hanazawa kay :bener gak tuh, Bang Katsuki? (sikut-sikut si Abang, terus buru-buru kabur, takut ditembak pake AP Cannon) tapi ehem, sebagai author saya informasikan bahwa Bang katsuki emang sayang pake banget sama Deku. (*dikejer Katsuki ! help)
Hm, soal Deku punya quirk, Katsuki sendiri yakin dia nggak quirkless sih XD jadi kita percaya aja sama penilaian protagonis tapi mirip antagonis kita ini.
Also, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D
For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD
Cheers,
Cyan.
