Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.

Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi

Until we meet again by cyancosmic

Enjoy!


Ask 5. Where are you?

Kabut tebal berwarna putih menghalangi pandangan. Saking pekatnya tak ada yang dapat Katsuki rasakan selain udara. Kemana pun tangannya bergerak, hanya udara yang dapat dikecapnya. Hanya kakinya yang merasakan pijakan kuat tempatnya berdiri.

'Di mana ini?' pikirnya sambil terus melangkah dan merentangkan tangan. Dingin terasa begitu tangannya bersentuhan dengan kabut namun ia terus melanjutkan perjalanan.

Ketika ia tengah melangkah tanpa arah, sesuatu melesat di sampingnya. Membuat kabut di sekelilingnya lenyap dan pandangannya lebih jelas. Kali ini ia bisa melihat seseorang dengan rambut ikal acak-acakan berlari. Dari belakang ia melihat bahunya yang tak terlalu lebar, tubuh juga tangan dan kaki yang kurus.

Melihat orang itu berlari melewatinya, ia pun memacu kecepatan. Kedua kakinya mulai mengayun bersama kedua tangan, mengejar orang itu. Alhasil dalam sekejap ia berhasil mendapatkan dan menyentuh bahunya. Dipaksanya orang itu menoleh dan ketika ia mengangkat kepala untuk melihat wajahnya, orang itu berkata,

"Ka*****!"

Katsuki membuka matanya tiba-tiba. Ia mengerjap-ngerjap sebelum menyadari di mana ia berada. Membiasakan diri dengan keremangan di kamarnya, ia pun bangkit dengan satu tangan memegangi kepalanya yang berkeringat.

Rasa sakit menyerang kepalanya hingga ia mengernyit. Namun beberapa saat kemudian rasa sakit itu menghilang begitu juga dengan bayangan yang ia lihat sebelumnya. Ia pun mengangkat kepala, menengadah, berharap dengan begitu gambaran tersebut akan kembali padanya.

Ini kesekian kalinya ia melihat mimpi yang sama. Selalu saja ia berada di tengah kabut dengan seseorang yang berlari melewatinya. Orang yang anehnya terasa familiar untuknya. Sayang setiap kali ia mencoba melihat wajahnya, mimpi ini selalu berakhir. Hanya orang itu selalu menyebutnya dengan panggilan khusus yang tak bisa diingatnya.

Menghela napas Katsuki pun berbalik dan hendak berbaring kembali. Namun ketika melihat sosok di sampingnya yang berbaring memunggunginya ia pun berhenti. Satu tangannya menyangga kepala sementara ia mengangkat selimut menutupi sosok mungil itu. Tangannya yang lain diselipkan di antara rambut hijaunya dan dielusnya pelan.

Di samping Katsuki, boneka Allmight berpindah tempat sementara bocah ini memeluk gulingnya erat. Ia pun mengambil boneka itu dan meletakkannya di samping tempat tidur. Setelahnya ia membiarkan kepalanya mengenai bantal sebelum kembali mengelus rambut hijau yang lembut itu.

Ketenangan melingkupinya seiring dengan setiap belaian. Dalam hati ia bertanya-tanya bagaimana quirk bocah itu dapat bekerja sedemikian rupa padanya. Membuatnya gelisah setiap kali tak berada di dekat bocah itu dan menyelubunginya dengan kedamaian ketika melihatnya dekat. Baru kali ini ada quirk yang bekerja seperti itu padanya. Bahkan sejak pertama kali ia menemukannya, bocah itu sudah menyerangnya dengan quirk tersebut.

Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah pengaruh quirk ini akan luntur suatu saat nanti? Mungkinkah bila suatu saat muncul seseorang yang mengaku sebagai orang tuanya ia akan terbebas dari pengaruhnya? Mungkin ketika ia menyerahkan bocah ini?

Mungkinkah?

Ataukah justru pengaruh quirk ini akan semakin kuat? Begitu kuat hingga membuatnya tak bisa menyerahkan bocah ini. Bahkan lebih memilih menyembunyikannya dibanding membiarkan orang lain merebut bocah ini darinya.


Suara hentakan yang lebih nyaring dari biasa membuat Kirishima menghentikan upaya membuat teh untuk para tamunya. Kepalanya bergerak sedikit sementara tamu-tamu yang sudah duduk di ruang tamu menatap dengan gelisah. Melihat reaksi para tamu, ia pun kembali tersenyum menenangkan dan berkata, "Jangan khawatir! Itu bukan musuh. Paling-paling itu—"

Pintu terbuka dengan bunyi berdebum keras. Walaupun para tamunya orang-orang yang sudah terbiasa melihat situasi apa pun, tetap saja mereka memandang waspada. Terlebih ketika melihat sosok anak kecil yang muncul dari balik pintu diikuti dengan pemuda pirang yang tampaknya siap menyemburkan amarah.

"Ohayou!"

"Ohayou!" Para tamu dan Kirishima kompak menjawab serempak begitu anak kecil itu mengucapkan salamnya. Pandangan mereka langsung tertuju pada bocah itu tentunya hingga pemuda di belakangnya kembali berteriak.

"For f***'s sake!"

Seperti biasa umpatanlah yang mengawali semua ucapan si pemuda yang tengah meletakkan payung dan mengayun-ayunkannya untuk mengusir sisa air hujan. Setelah dirasanya kering baru ditumpuknya payung itu di samping berdesakan dengan payung milik yang lain. Sembari mengumpat ia berkata, "Hujannya deras sekali! Sialan!"

Setelah melepas sepatu barulah ia menyadari tatapan para tamu yang tertuju padanya. Alisnya terangkat dan ia memandanginya satu persatu sebelum berjalan melewati ruang keluarga. Namun ia berhenti ketika melihat Deku diam memandangi salah seorang tamu mereka. Disentuhkannya satu tangan ke kepala anak kecil itu sambil berkata, "Deku! Lepas dulu jaketmu!"

Anak itu hampir tidak mendengar. Manik hijaunya begitu terpana dengan sayap merah di punggung salah satu tamu mereka. Bahkan menyadari tatapannya, sang tamu iseng menggerakkan sayap dan membuat anak itu ternganga, terpesona pada sayapnya.

Melihat itu, Deku bergerak semakin ingin mendekat pada tamunya. Namun Katsuki keburu menahan dan mengangkat bocah itu ke sofa. Dibantunya bocah itu melepaskan jaket bertudung warna hijau yang ia kenakan. Baru setelahnya ia membawa bocah itu melewati ruang makan dan meletakkannya di samping Kirishima. Untunglah saat melihat rekannya, perhatian bocah itu teralih dan sebagai gantinya ia memandangi Kirishima yang tengah sibuk menyediakan teh.

"Ei-chan, ada yang bisa kubantu?" Ia menawarkan sambil menyembulkan kepalanya dari balik kabinet. "Aku bisa membawakannya kalau mau."

"Terima kasih, Deku-kun!" Kirishima berkata sambil memamerkan giginya, "Tapi ini berat, jadi biar aku saja yang melakukannya."

Deku masih memandanginya dan menatap dari balik kabinet. Ia mengamati saat Kirishima mengangkat nampan yang berisi cangkir itu untuk dibawa ke meja makan. Diikutinya pemuda itu sementara manik hijaunya kembali mengamati tamu-tamu yang sudah menempati tempatnya.

"Sini!" Katsuki berkata sambil mengangkatnya dan memeluknya erat. Ia berjalan melewati meja makan menuju ke ruangan kaca. Didorongnya pintu di ruangan itu, melewati kepompong berwarna kuning yang melintang di tengah-tengah ruang. Dengan sengaja Katsuki menginjak kepompong itu, membuat penghuninya mengeluarkan kepala dan melewatinya menuju ke sofa. Didudukkannya Deku di sofa sementara ia berkata, "Kau bermain di sini dulu, mengerti?"

Bocah itu mengangguk pelan. Katsuki memberikannya boneka Allmight dari dalam tas yang langsung disambutnya tanpa banyak bertanya. Namun begitu melihat kepompong kuning menghampiri Katsuki dengan wajah pucat kurang tidur yang ia kenal, ia pun kembali tersenyum. Mengangkat tangan ia berkata, "Ohayou, Shocchan!"

Mendengar itu, Aizawa berhenti bergerak. Ditatapnya bocah itu sebelum melambaikan tangan membalas si bocah. Melepaskan diri dari kepompong kuningnya, pria itu mendekat pada Deku dan si pemuda pirang. Diusapkannya kepala bocah itu dan berkata, "Ohayou, Deku! Pagi sekali kau datang!"

Ia mengangguk, "Katsuki yang membangunkanku pagi-pagi."

"Ah," Aizawa melirik pemuda pirang itu dari sudut matanya, "Katsuki, ya? Ya, ya, dia memang rajin sekali membangunkan orang."

Satu tangan Katsuki mengangkat tangan Aizawa dari atas kepala si bocah sebelum melemparkannya. Ia menatap Aizawa dan berkata, "Jangan pegang-pegang!"

"Overprotektif sekali," komentar Aizawa sembari mendecak. Ia pun berbalik dan menguap lebar sembari berjalan menuju pintu. Ketika ia tinggal selangkah lagi tiba di pintu, ia pun berkata, "Siapa di luar?"

"Endeavor," jawab Katsuki sembari mengikutinya. "Dan perwakilan Hero Safety Public Comission."

Aizawa menatapnya lagi. Ia menghela napas dan mendorong pintu. Matanya langsung tertuju ke ruang makan di mana empat tamunya duduk. Masih dengan gayanya yang santai ia menghampiri mereka dan berkata, "Well, aku tak punya tempat untuk menikmati kopiku."

Tertawa, hero yang memiliki sayap merah di punggungnya bangkit berdiri dan berkata, "Silakan pakai tempatku, Eraser Head! Maafkan kelancangan kami yang datang sepagi ini sebelum jam buka kantor."

"Duduklah, Hawk!" Aizawa berkata sambil berjalan ke dapur dan kembali menjaring air. Sikapnya tetap santai walau semua perbuatannya terus diamati oleh keempat tamunya. Ia mengisi air dengan santai sembari berkata, "Kau tidak datang bersama anakmu, Endeavor?"

Endeavor tidak menjawab. Ia menatap Katsuki terlebih dulu baru berkata, "Bukankah kau mengenal generasi mereka dengan sangat baik?"

Aizawa menggerakkan kepalanya tidak mengambil pusing. Ia tahu bahwa sama sepertinya, hero nomor dua asuhan Endeavor itu juga sulit diatur. Sedikit banyak ia bisa mengerti walau hubungannya dan hero nomor satu asuhannya masih jauh bersahabat.

Sembari menunggu air matang, ia pun berjalan kembali ke meja makan menatap keempat tamunya. Pandangannya tertuju pada Kirishima dan Katsuki terlebih dulu sebelum berkata, "Apa ini ada hubungannya dengan keputusan meeting yang kalian lakukan sebelumnya?"

"Kurang lebih begitu," jawab sang hero yang dipanggil Hawk itu, "kami datang terkait laporan soal Muscular."

Bergumam sedikit, Aizawa mengambil jarak dari meja makan. Ia menunjuk Katsuki dengan ibu jari dan berkata, "Itu hasil kerja Ground Zero di sana."

"Kami tidak menanyakan itu, Eraser Head," salah satu dari staff Endeavor menjawab. Dikeluarkannya data-data penelitian dan ia berkata, "Yang ingin kami katakan justru kejadian setelah ini."

"Jangan bilang kalau kalian kebobolan lagi?" Kirishima menimpali.

"Bukan, bukan soal itu," Hawk kembali berkata, mencairkan suasana. "Hanya, orang itu mengatakan hal yang menarik saat ditangkap sehingga kami rasa perlu menyampaikannya."

Aizawa menyipitkan mata, begitu juga dengan Katsuki dan Kirishima. Tanpa perlu diminta, Hawk membaca keingintahuan mereka. Melanjutkan perkataannya pria dengan sayap merah di punggungnya itu berkata, "Katanya All for One sudah bangkit."

Baik Aizawa maupun Katsuki tak ada yang berbicara. Keduanya menatap Hawk dengan dahi berkerut seolah tak percaya. Hanya satu orang di antara mereka yang masih bisa berbicara walau harus tergagap saat mengucapkannya.

"T-T-Tunggu!" Kirishima akhirnya berkata, "B-bukankah penjahat itu sudah mati? Ground Zero yang mengalahkannya waktu itu. Ya 'kan, Bakubro?"

Katsuki tidak menjawab. Ia tetap bungkam dengan kedua tangan tersilang di depan dadanya. Menatap para hero yang ada di ruangan ia menyipitkan mata.

"Justru itu," ujar Endeavor sembari bangkit dan mendekat pada sang hero nomor satu yang berdiri membelakangi pintu kaca, "kami ingin tahu, benarkah Ground Zero sudah menghabisi penjahat itu?"

Menggantikan Katsuki, Aizawa lah yang menjawab. Masih dengan sikap santai, pria itu berkata, "Aku mengerti kenapa kalian semua ragu. Tapi aku yang menggiringnya keluar waktu itu, jadi tak mungkin salah. Orang itu benar-benar All for One karena aku masih bisa merasakan sisa quirk nya ketika membawanya keluar."

Sekali lagi Hawk mencoba menenangkan kedua pihak yang saling beradu pendapat. Ia berkata, "Sudah! Kami bukan datang untuk mencurigaimu, Eraser Head! Kami juga mengira bahwa Muscular hanya menakut-nakuti kita yang tengah sensitif dengan kebangkitan League of Villains ini. Terlebih penjara-penjara banyak yang dibobol sekalipun memiliki pengamanan anti quirk. Makanya kami memastikan bahwa All for One yang dikatakannya hanya gertakan saja."

Mendengar itu bukannya bernapas lega, Katsuki malah mendenguskan tawa. Sikapnya membuat para tamu, mentor juga rekannya menoleh padanya dengan mengerutkan dahi. Dan ia pun tak sungkan mengemukakan pendapatnya untuk mereka.

"Kau salah tempat, elang bodoh," ujar Katsuki dengan kedua tangan dilipat di depan dada, "kalau kau ingin memastikan kebenarannya, tidakkah lebih baik kau tangkap para penjahat itu satu persatu daripada menanyai kami?"

"Tidak, Ground Zero," balas Hawk sambil bangkit berdiri dengan tenang dan menyentuh pundaknya, "kau lah satu-satunya yang berhadapan dengan penjahat itu tanpa ditemani seorang pun. Justru kami ingin tahu, apa yang kau lakukan di sana? Apa yang membuatmu memenangkan pertarungan itu?"

Katsuki menggerakkan bahu, "Hanya tinju dan pukulan biasa, tidak ada yang lain."

"Kau yakin?" Hawk bertanya. "Hanya itu?"

"Apa yang kau harapkan?" Katsuki bertanya, "Kau ingin aku memberitahumu bahwa aku memiliki quirk lain yang lebih superior dibanding All for One? Kuberitahu kalian, quirk milikku hanya explotion dan itu sudah cukup untuk mengalahkannya."

Semua yang hadir memandang Katsuki tanpa berkedip. Tak ada yang bersuara setelahnya paling tidak hingga Hawk menghampiri dan menepuk-nepuk punggungnya. Ia berkata singkat, "Baiklah kalau kau berkata begitu!"

"Hawk!"

"Sudahlah, Endeavor-san," Hawk berkata sambil berjalan ke arahnya, "kita juga tidak punya bukti bahwa All for One belum dikalahkan. Lagipula Ground Zero ada benarnya, tidak seharusnya kita bersantai di sini sementara para penjahat itu berkeliaran dan menyebar berita bahwa All for One akan bangkit."

Endeavor tampak tidak setuju dengan Hawk. Namun keduanya berpandangan cukup lama, seolah berbicara melalui pandangan mata. Pada akhirnya Endeavor mengalihkan tatapan dengan decakan sebal sementara Hawk menghela napas.

Tepat ketika mereka tengah berhenti bercakap-cakap, suara air yang tengah dimasak berbunyi nyaring. Mendengarnya, Kirishima segera bergerak untuk mematikan teko. Ia berinisiatif menumpahkan air di dalamnya ke dalam cangkir berisi kopi yang telah disiapkan Aizawa berhubung atasannya masih sibuk berdiskusi serius dengan para tamu mereka.

"Tapi Hawk," Aizawa berkata setelah mereka berhenti sejenak, "kedatanganmu bukan hanya untuk menyampaikan soal ini, 'kan? Bagaimana dengan hal yang kuminta kau selidiki sebelumnya?"

Hawk mengangkat alis dan ia kembali beranjak ke meja makan. Ia menempati kursinya kembali dan berkata, "Ah, ya, soal itu juga. Aku sudah menyelidiki tempatnya seperti permintaanmu dan menemukan banyak hal menarik."

"Kau memintanya menyelidiki sesuatu, Aizawa-san?" Kirishima yang paling dekat dengannya kembali bicara. "Apa yang kau minta ia selidiki?"

"Artikel mengenai kota hantu," kata Hawk sambil membuka laptop di atas meja makan dan menyalakannya, "juga daftar semua quirk yang dimiliki para pro hero menggunakan database pemerintah."

Kirishima baru saja hendak bertanya ketika Katsuki mendekat dan berdiri di belakang pria bersayap itu. Satu tangannya menyentuh pinggiran meja, nyaris menggebraknya, hingga membuat Hawk menoleh. Walaupun sepertinya ia tak menyadarinya dan berkata, "Apa yang kau temukan?"

Mengerjap pelan Hawk hanya tertawa kecil. Pria itu mengetikkan kata sandi untuk laptopnya terlebih dahulu dan menunggu beberapa saat sebelum menunjukkan hasil penemuannya. Sembari menunggu ia berkata, "Aku mencoba memetakan kota dan menyalinnya kembali dengan peta kota sekarang. Belum selesai karena yang kupetakan baru sedikit, tapi cukup menarik."

"Apa yang menarik?"

"Yang menarik adalah aku menemukan bahwa jalan masuknya tidak hanya satu," ucap Hawk sambil menelusuri laptop dan menyajikan gambar peta yang ia maksud untuk diperlihatkan pada hadirin. "Mungkin kalau pemetaan ini selesai, kita akan tahu berapa banyak pintu masuk yang berhubungan dengan kota Musutafu."

"Dan apa artinya bila banyak pintu masuknya?" Kirishima mendadak bicara. "Apakah itu yang menyebabkan para penjahat kebanyakan lari ke gorong-gorong belakangan ini?"

"Persis!" Hawk menunjuknya dan tersenyum lebar. "Aku pun memikirkan hal yang sama, beberapa penjahat yang kukejar pun melarikan diri ke sana."

Katsuki menyipitkan mata. Ia memerhatikan peta yang dibuat oleh Hawk dengan menumpuk gambarnya di atas peta kota yang asli. Bila melihat peta, lokasi tempat ia masuk dan tempat ia berjalan, maka seharusnya ada pintu keluar lain tak jauh dari sana. Belum lagi tempat yang ia gunakan sudah hancur karena pilar berwarna hijau yang menyangganya sudah tak ada. Apakah hal yang sama juga terjadi di tempat lain?

"Yang menarik adalah, semua kota yang ditinggalkan memiliki banyak kesamaan dengan kota yang kita tinggali sekarang. Beberapa poster yang ada juga mengiklankan produk yang mirip dengan yang kita gunakan." Hawk kembali menjelaskan dengan bersemangat. "Hanya saja kalau begitu timbul pertanyaan, siapa yang tinggal dan bagaimana caranya hingga kota itu bisa terkubur di dalam?"

"Itulah yang kami minta kau ungkapkan," timpal Aizawa. Ia menghela napas dan berkata, "Lalu soal quirk yang kutanyakan? Adakah orang yang memiliki quirk yang dapat menghilangkan ingatan?"

"Untuk pro hero, saat ini tak ada," jawab Hawk. "Hanya untuk instansi pemerintahan sendiri, aku tak bisa membantumu karena beda departemen. Mungkin Tsukauchi bisa membantumu."

"Akan kutanyakan padanya," balas Aizawa sambil mengangguk. "Terima kasih atas informasimu, Hawk."

Hero yang bersayap itu mengangkat bahu dan berkata, "Bukan masalah, tapi tidak masalah 'kan kalau aku terus menyelidikinya?"

"Sesuka—"

Sebelum Aizawa menyelesaikan kalimatnya, Katsuki sudah memutari meja makan dan menyentuh pundaknya. Pemuda itu memberikan sedikit tekanan pada sang atasan sebelum berkata, "Kurasa kita harus bicara."

Menyipitkan mata, Aizawa diam sebentar sebelum berkata, "Di luar kalau begitu."

Katsuki tak menjawab. Ia berbalik lebih dulu, berjalan melewati ruang tamu menuju ke pintu keluar. Ditariknya pintu itu sebelum melewatinya. Baru setelah beberapa saat, Aizawa meninggalkan para tamu dan mengikutinya.

Ketika ia sudah berada di luar, pemuda asuhannya itu tengah mencengkeram pegangan di tangga. Tanpa menoleh ke arahnya, pemuda berambut pirang itu berkata, "Kau meminta orang-orang pemerintah itu mengeceknya."

Aizawa mengacak-acak rambut, "Bukannya kau yang minta?"

Berbalik, Katsuki pun berkata, "Apa saja yang kau katakan pada mereka?"

Menatap pemuda yang dibesarkan di agensinya itu Aizawa terdiam untuk beberapa saat. Menyadari ke mana arah pembicaraan mereka, Aizawa pun berkata, "Kalau soal anak yang hilang, aku tidak mengatakannya pada mereka. Kau tidak perlu khawatir soal itu."

Katsuki menyipitkan mata sebelum mendecih.

"Satu-satunya yang kuberitahukan hanyalah kepolisian setempat yang ada di sana dengan mengkategorikannya sebagai anak hilang. Tapi tidak kukatakan bahwa aku menemukannya di kota yang terkubur," ungkap Aizawa sembari bersadar pada sisi pagar yang lain. "Lagipula aku juga tidak yakin bahwa anak itu adalah anak yang berasal dari kota yang tertimbun."

"Baguslah kalau kau mengerti." Katsuki berkata sambil melewati orang itu. Digenggamnya pegangan pintu dan berkata, "Aku masuk du—"

"Yang tidak kumengerti," potong Aizawa sebelum Katsuki masuk ke dalam, "adalah sikapmu, Bakugou. Sikapmu yang tak ingin seorang pun mengetahui keberadaan anak itu."

"Omong kosong!" Katsuki berkata tanpa belas kasihan. "Kalau memang begitu aku takkan membiarkanmu menanyakan panti asuhan atau pihak kepolisian mengenai anak ini."

Aizawa melipat tangannya. Manik hitamnya menyipit memandangi Katsuki cukup lama. Sebelum akhirnya ia berkata, "Kuharap begitu."

Mendengus pelan, Katsuki pun mendorong pintu. Ia baru melewati ambang pintu ketika mendengar suara jeritan memekikkan telinga. Suara yang letaknya tak jauh dari kantor mereka berada.

Sebelum Katsuki bergerak, Aizawa sudah lebih dulu menuruni tangga yang menghubungkan kantornya yang ada di lantai dua. Melihatnya, Katsuki pun hendak mengikuti. Namun ia menyempatkan diri untuk masuk ke dalam terlebih dulu. Dipanggilnya Kirishima dan hanya satu kata yang ia perintahkan pada pemuda itu. "Jaga Deku!"

Tanpa mendengar komentar rekannya, Katsuki mengikuti Aizawa. Sama seperti sang atasan, ia pun belum mengganti baju sehari-harinya dengan seragam tempurnya yang biasa. Hanya suara jeritan yang didengarnya tak mungkin menunggunya berganti baju lebih dulu. Mungkin hal itu juga yang menjadi pertimbangan sang atasan sehingga keduanya memilih langsung berlari di tengah hujan deras yang mengguyur daerah sekitar.

Berkat langkahnya yang cepat, ia berhasil menyusul atasannya. Ketika ia tiba di lokasi, ia cukup kaget melihat kemunculan makhluk-makhluk buruk rupa dengan mulut lebar dan otak segar menonjol di kepala mereka. Warna mereka beragam, namun jumlah mereka yang banyak cukup membuat Katsuki dan Eraser Head menganga.

"Lima puluh—tidak, seratus," ujar Eraser Head ketika melihat banyaknya jumlah makhluk-makhluk itu, "bagaimana—"

Katsuki tidak perlu menghitungnya untuk tahu bahwa jumlah musuhnya sangat banyak. Ketika salah satu Nomu menghadang di depan Aizawa, tanpa ragu ia meninju makhluk tersebut dengan explotion miliknya. Tinjunya yang kuat berhasil membuat satu Nomu melayang menjauhi mereka sekaligus membuat Nomu yang lain menyadari keberadaannya.

Tahu bahwa mereka akan segera dikepung, ia meminta Aizawa mundur dan berkata, "Bakazawa, telepon rambut sialan! Katakan padanya untuk membawa Endeavor dan timnya ke tempat ini."

"Anak ingusan!" Aizawa berkata sambil mengeluarkan ponsel yang untungnya berada di kantung bajunya. "Tanpa perlu kau beritahu pun aku sudah berniat demikian."

Tak punya waktu untuk mendebat, Katsuki langsung mengarahkan serangannya pada Nomu lain yang hendak menyerang Aizawa. Satu tangannya bersinar dan ia meneriakkan jurus yang sudah sangat terkenal sejak ia mengikuti pertandingan halang rintang. "Howitzer—"

Menyadari adanya kekuatan besar yang akan menyerang mereka, para Nomu itu memindahkan sasaran. Dengan seluruh inderanya mereka memusatkan serangan pada orang yang sejak tadi tidak mengeluarkan ancaman. Orang yang tengah menelepon dan lebih mudah dikalahkan.

"Impact!"

Ledakan di tangan Katsuki menghancurkan beberapa Nomu dalam sekali tembak. Namun bukan hanya itu, Eraser Head yang dikira tak berdaya pun berhasil menumbangkan beberapa yang mencoba menyerangnya. Ia berjongkok di atas tumpukan Nomu yang dikalahkan dengan ponsel menempel pada telinga. Mulutnya masih berkomat-kamit memberitakan apa yang terjadi pada rekan yang ia telepon sementara Katsuki menghalau satu persatu yang datang dengan kekuatannya.

"Ini tak ada habisnya," gerutu Katsuki. Beberapa Nomu yang tak ia hancurkan kembali bangkit sehingga ia tak punya pilihan selain menghancurkan bagian kepalanya.

"Memang," Aizawa menjawab. Sembari memasukkan tangannya di saku celana, pria bergelar Eraser Head itu kembali berkata, "Tidakkah kau heran, Bakugou? Ini kedua kalinya para Nomu disebar di wilayah Musutafu."

"Apa?" Katsuki berteriak. Posisinya sedikit jauh dari Aizawa kala itu, "Aku tidak bisa mendengarmu, Bakazawa!"

Aizawa tak berkata apa pun lagi. Ia menyipitkan mata, berusaha memikirkan mengapa serangan Nomu untuk kedua kalinya juga terjadi di kota Musutafu. Dalam beberapa minggu ini, ia belum pernah mendengar adanya serangan di kota lain. Serangan Muscular pun terjadi di Musutafu seolah para penjahat itu sedang mengejar sesuatu.

Dering telepon menghentikan lamunannya. Ia pun segera menempelkan ponselnya di telinga sembari sesekali menghindar dari serangan Nomu yang luput dari pengawasan Ground Zero. "Ya? Bagaimana?"

Baru saja ia hendak mendengar, Nomu kembali menyerangnya sehingga jemarinya menekan layar. Terkejut, Aizawa buru-buru menangkap ponselnya tepat ketika suara Kirishima terdengar. Sepertinya tanpa sadar ia menekan tombol loudspeaker di ponselnya.

"Aizawa-san, kami tidak bisa ke sana," Kirishima berkata. "Di sekitar sini juga muncul banyak Nomu. Aku sampai tidak—" Terdengar suara jeritan yang membuat Aizawa berhenti bergerak. Wajahnya pucat. Terlebih ketika suara Kirishima terdengar beberapa saat kemudian dan berkata, "Oh, tidak! Deku! Tunggu!"

"Ada apa dengannya?" Aizawa berkata. "Kirishima? Ada apa dengannya?"

Sebelum Aizawa menjawab, seseorang melewatinya. Tanpa menoleh ke belakang ia tahu bahwa pemuda itu berlari meninggalkan para Nomu di belakang juga dirinya. Melihat pemuda itu meninggalkan lokasi, para Nomu mengejarnya tanpa banyak bicara walaupun sesekali sang pemuda akan menghancurkan mereka satu persatu.

Melihatnya, Aizawa pun bergegas menyusulnya. Di belakang pemuda itu, sesekali ia akan menggunakan perban di tangannya dan menarik salah satu Nomu sebelum menghancurkannya. Walaupun aksinya tak banyak gunanya karena pemuda asuhannya itu sudah menghancurkan lebih dari setengah Nomu selama perjalanan.

Mereka tiba di jalan besar tempat kantor berada. Melihatnya, Aizawa sampai tak bisa bicara. Bila seratus Nomu saja sudah banyak, kali ini ia melihat makhluk yang mirip dengan makhluk itu namun dua kali lebih besar. Bertangan banyak, bersayap, dengan otak mencuat keluar dari kepala dan gigi bagaikan piranha, makhluk itu berkeliaran dan membuat kepanikan.

"Ini—"

"Oi! Jangan diam saja di sana!" Pria bersayap merah besar melayang di atas kepala Aizawa dan menembak beberapa Nomu dengan bulu sayapnya yang kemerahan, "Mereka ini banyak sekali. Paling tidak seorang sepuluh."

"Hawk!" Aizawa berkata ketika melihatnya. Namun ia tak lama-lama memusingkan pria itu berhubung Nomu sudah mendekat dan menyerangnya.

Di belakangnya, bau nitrogliserin menyebar di udara disusul dengan ledakan beruntun yang menghancurkan beberapa Nomu di sekelilingnya. Menyusul setelahnya ia mendengar orang itu berteriak, "Deku!"

Menyadari itu, Aizawa ikut mencari-cari. Ia mengira akan melihat bocah kecil berlari menghampiri Ground Zero. Hanya ia tak melihatnya dan sedikit banyak ia mulai khawatir. Pastinya hal ini pula yang dirasakan oleh pemuda asuhannya itu.

Mendecak kesal, Katsuki terus menerus menghancurkan Nomu. Sambil melakukannya, ia mencari-cari sosok berambut hijau yang seharusnya mudah dikenali. Hanya saja, karena tak menemukannya berulang kali ia terpaksa menghancurkan Nomu yang menghalangi pandangan. Bahkan saking tidak sabarnya ia berteriak, "Deku! Di mana kau?"

"B-B-Bakubro!"

Rekan Katsuki menghampirinya dan mendekat. "Deku-kun keluar, tapi ia menghilang. Aku mencoba mengikuti jejaknya tapi—"

Katsuki tak lagi mendengarkan. Ia berlari meninggalkan Kirishima dan terus mencari. Namun sesekali ia akan berhenti dan berteriak memanggil namanya.

Tak jauh darinya, Hawk yang berada paling dekat dengan Aizawa mendekat. Keduanya mengamati Endeavor yang bahkan tak mengeluarkan keringat saat menghabisi para Nomu. Semua Nomu yang mendekatinya akan langsung hancur menjadi abu.

"Ini aneh," Hawk berkata di samping Aizawa, "bagaimana caranya mereka mereproduksi Nomu dalam waktu singkat? Belum ada dua minggu sejak mereka bebas, bagaimana—"

"Itu juga pertanyaanku," Aizawa menimpali sambil sesekali menghindari serangan. "Jumlah ini terlalu banyak, belum lagi mereka dikerahkan di kota Musutafu. Seperti katamu, jangan-jangan mereka mengincar U.A?"

"Tapi jarak dari kantormu ke U.A masih cukup jauh, bukan? Kenapa mereka tidak langsung menyerang U.A saja?" Hawk kembali berkata. "Sebanyak ini pasti—"

"Mungkin karena pengamanan U.A diperketat?"

"Tidak," ucap seseorang yang bergabung dengan mereka dan menimbulkan kobaran api yang besar. "Tujuan mereka hanya satu. Bukankah itu yang dikatakan salah satu penjahat yang kau interogasi?"

Aizawa menoleh pada Hawk dan Endeavor. Ia menatap keduanya sebelum berkata, "Rupanya masih ada yang kalian sembunyikan."

"Bukannya menyembunyikan sih," Hawk berkata sambil menggaruk-garuk pipinya, "hanya kami tidak yakin."

Manik hitam Aizawa yang menyipit menuntut jawaban membuat Hawk tak bisa mengelak. Ia mengangkat tangan tanda menyerah dan berkata, "Para penjahat itu mengincar Katsuki Bakugou. Itu yang mereka katakan."


"Bakubro! Bakubro tunggu!" Kirishima mengikutinya berlari menyusuri gang dan jalan di sekitar kantor. Terengah-engah, akhirnya ia berhasil menyusul Katsuki dan ia berkata, "Kurasa Deku-kun tak mungkin lari sejauh ini. Kakinya tak mungkin kuat berlari sejauh ini."

"Deku!" Katsuki masih terus berteriak memanggilnya. "Deku! Di mana kau?"

Kirishima ingin menghentikannya namun ia tak punya pilihan selain ikut mencari. Lagipula ini salahnya karena ia luput mengawasi bocah itu. Ia yang lengah karena tak mengira bocah itu akan begitu nekat di tengah hujan sederas ini.

"Bakubro, bagaimana kalau kita mencari ke sebelah sana? Siapa tahu—"

Ucapannya terputus dan terdengar suara pekikan. Mendengarnya Kirishima pun memucat. Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada Deku? Bagaimana kalau Nomu menangkapnya dan terjadi sesuatu padanya?

Mendengar suara itu, Katsuki langsung berlari. Beberapa Nomu sempat menghalangi, namun ia menyingkirkan mereka hampir tanpa hambatan. Ia terus memacu kecepatannya dengan sesekali memanggil bocah itu.

"Deku!" Suaranya mulai terdengar putus asa. "Deku! Di mana—"

Suaranya terputus ketika melihat kabut putih menyebar di sekitarnya. Bersamaan dengan itu, es melapisi seluruh permukaan bangunan dan tanah di dekatnya. Lapisan es tebal yang akan menghancurkan siapapun yang menyentuhnya.

"Giant Ice Wall."

Suara itu terdengar dari balik kabut diikuti dengan suara langkah seseorang yang semakin mendekat. Menyadari itu, Katsuki menghentikan langkah dan menunggu. Setidaknya ia punya dugaan siapa orang yang berada di balik kabut ini.

"Katsuki!"

"Oh!" Pemuda dengan rambut dwiwarna menoleh pada anak kecil di pelukannya. Ia menurunkan anak itu begitu mereka berhasil keluar dari lapisan es dan membiarkan anak itu menghambur pada pemuda pirang di hadapan mereka. "Rupanya kau mengenalnya."

Tanpa banyak bicara, Katsuki langsung menarik anak itu dan memeluknya erat. Selama sesaat ia diam sebelum mendorong anak itu dan berkata, "Kau baik-baik saja? Mereka melukaimu?"

Deku menggeleng. "Aku baik-baik saja."

Biarpun berkata begitu, Katsuki tak semudah itu percaya. Tanpa banyak bicara, pemuda itu memutar-mutar Deku dan mengecek siku maupun lututnya. Walaupun seharusnya ia tahu melihat penampilan anak itu masih bersih seperti sebelum ia meninggalkannya.

Setelah ia mulai tenang, ia pun berkata, "Kau basah! Mana jaketmu?"

"Um, tertinggal," jawab Deku ragu-ragu. "Tapi Katsuki—"

"Bagaimana kalau kau sampai sakit?" Katsuki berkata dengan suara tinggi yang membuat bocah itu terdiam. Sementara itu ia menghapus sisa tetesan air dari kepala bocah itu dengan lengan bajunya. "Tunggulah sebentar, setelah ini kita pulang!"

"Deku-kun! Syukurlah kau baik-baik saja! Aku khawatir sekali." Kirishima berkata ketika berhasil menyusul Katsuki dan melihat bocah itu berada di pelukan rekannya. Ia hendak melanjutkan perkataannya, namun terhenti saat menyadari kehadiran orang lain. Sedikit terkejut ia berkata, "T-Todoroki? Bagaimana—"

Mendengar namanya dipanggil, pemuda berambut dwiwarna dengan manik berlainan warna yang tengah menyingkirkan debu dari jaket jins yang ia kenakan pun berhenti. Ia menatap Kirishima dan berkata, "Aku diminta orang tua itu bergabung."

"Oh begitu," Kirishima berkata sambil menghampirinya, "kukira kau tak datang tadi. Syukurlah kalau begitu."

"Ya," jawab pemuda itu sambil mendekat dan memberikan satu tatapan curiga pada Katsuki. "Tadinya aku hendak mengkonfirmasi sesuatu, tapi tidak jadi."

"Soal apa?"

"Perkataan penjahat yang sebelumnya ditawan," Todoroki Shouto berkata. "Ia mengatakan satu hal yang membuatku sulit memercayainya."

Kirishima mengerutkan dahi. Satu-satunya penjahat yang ditangkat mereka baru-baru ini hanyalah Muscular. Namun ia tidak menimbulkan keributan berarti yang membuat hero nomor dua itu harus datang sendiri.

"Ia bilang hero nomor satu kita punya kelemahan besar," ujar Todoroki sambil menatap pemuda itu. "Dan setelah melihatnya, aku tahu apa kelemahannya."

"Bagaimana dia bisa bilang begitu?" Kirishima bingung. "Bukankah dia dikalahkan oleh Bakubro? Bagaimana—"

"Benar 'kan?" Todoroki berkata sambil menatapnya. "Kau juga mengakuinya?"

Katsuki tidak menjawab. Ia menatap Todoroki dengan tatapan membunuh yang sudah dilatihnya sejak mereka bersekolah di U.A. Kedua tangannya mencengkeram Deku erat, seolah pemuda di hadapannya akan merebut bocah itu darinya.

"Bahwa anak ini adalah kelemahan terbesarmu."


A.N:

Yay! 1 lagiii buat menemani akhir liburan XD hope you guys enjoy it! Finally bang dispenser akhirnya muncul. To be honest, saya uda pengen banget munculin doi dari ask 2 pas mereka diserang slime, terus ke ask 3 pas Nomu muncul pertama kali, juga ask 4 pas mau meeting, tapi semuanya gak jadi T^T akhirnya baru bisa muncul sekarang. Susah sekali dapet scene yang pas buat abang satu itu biar gantengnya nggak ilang. Btw saya juga suka pake banget sama Hawk XD

Aniway:

hanazawa kay: hahaha, syukurlah kalo Kay percaya! Bang Katsuki percaya banget bahwa ada quirk yang bikin dia gak tenang macem itu. Semoga quirknya nggak menyerang kamu juga :P

el-vtrich: hola El-chan, seneng banget baca reaksi kamu, itu sesuai yang aku harepin :D dan memang di chapter sebelumnya itu aku juga suka banget. Deku nya nangis sementara Katsuki gak bisa diemin dan malah marah-marah, yang bikin makin salah, tapi aku juga senyum-senyum, mereka emang penuh fluff.

Oh, kalo Kirishima sih uda pasti, best buddy banget, juga baru tau kalo dia good nanny juga :D Deku juga suka banget sama dia selain sama Katsuki, haha. Malah di tim itu, kayaknya Deku suka ketiganya dan vice versa.

Soal Shouto, tentu ajaaaaa! Seperti yang aku bilang di atas, dari awal aku uda pengen masukin abang satu itu T^T tapi karena scenenya kayaknya gak masuk, jadinya aku revised terussss, sampe sekarang, finally bisa munculin si abang dan Giant Ice Wall nya. :P (Ngomong-ngomong, dia masuk aliansi gak ya?:P)

Also, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D

For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD

Cheers,

Cyan.