Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.
Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi
Until we meet again by cyancosmic
Enjoy!
Ask 6. Do you understand?
"Kami pulang!"
Aizawa menoleh dari balik meja makan dan mengamati ketika kedua staffnya muncul di ambang pintu teras. Ia bergumam sedikit sebelum mengembalikan perhatiannya ke laptop. Tidak lagi memerhatikan ketika kedua karyawannya itu masuk ke dalam sembari menjinjing sepatu mereka.
"Halo, Deku-kun!" Kirishima yang lebih dulu melewati ruang tamu berkata. "Sedang menonton apa?"
"Umh," Deku menyahut pelan dengan kedua matanya tetap terpaku pada televisi. "Allmight."
Kirishima mengangkat alis, "Allmight? Oh! Memangnya ada film Allmight yang ditayangkan semalam ini? Episode yang mana Deku-kun?"
Deku kembali bergumam pelan sebelum menjawab. "Melawan penjahat, penculik teman Allmight."
"Oh, episode itu," Kirishima kembali berkata. "Itu episode awal-awal 'kan? Tepat saat-saat kemunculan Sir Night Eye. Aku juga suka episode yang itu. Bahkan sampai kurekam dan kutonton berkali-kali."
Sekali lagi Deku mengangguk dengan kepala tetap tertuju pada televisi di ruang tamu. Ia tak lagi memerhatikan ucapan Kirishima. Sebagai gantinya, Aizawa lah yang menyahut dan berkata, "Ini juga keempat kalinya dia menonton episode yang sama."
Kirishima yang bersandar di belakang sofa sampai terkejut mendengarnya. "Empat kali? Deku-kun, kau tidak bosan?"
Deku menggeleng pelan dan kembali sibuk menonton. Ia tak lagi mendengarkan ucapan Kirishima. Sebagai gantinya partner Ground Zero yang murah senyum itu menoleh pada Aizawa dan berkata, "Ada perkembangan setelah penyerangan kemarin, Aizawa-san?"
"Tidak ada," jawab Aizawa. "Masih sama seperti sebelumnya, League of Villains tidak terdeteksi di mana pun."
"Mereka benar-benar menyamarkan persembunyiannya dengan baik," komentar Kirishima. Namun lagi-lagi ia beralih pada bocah yang tengah sibuk menonton TV dan berkata, "Aniway, Deku-kun, kemarin itu bagaimana ceritanya sampai kau bisa bertemu dengan Todoroki?"
Bukannya menjawab, bocah berambut hijau itu berkonsentrasi penuh pada tontonannya. Manik hijaunya takkan berpaling hingga seseorang mengambil remote TV dan mematikannya tanpa banyak bertanya. Barulah saat itu pandangan si bocah berpaling, mencari-cari penyebab televisi yang ditontonnya tiba-tiba padam.
"Mau sampai kapan kau menonton episode yang sama terus, bocah sialan?"
"Katsuki!" Deku berkata ketika melihat pemuda berambut pirang memegang remote yang menjadi sumber permasalahannya. Bergegas turun dari sofa, Deku mengejar pemuda yang sedang berjalan ke ruang ganti itu. "Katsuki, remotenya!"
Ucapannya diabaikan sepenuhnya oleh pemuda itu. Dengan sengaja, ia meletakkan remote TV di atas kulkas sehingga Deku tak bisa meraihnya. Sementara ia sendiri masuk ke ruang ganti dan berganti pakaian.
Melihat itu Deku menatap ke atas. Tanpa perlu mengulurkan tangan, bocah itu tahu bahwa tingginya takkan sanggup mencapai bagian atas kulkas. Ia pun berbalik, mencari-cari benda yang dapat membuatnya mencapai ketinggian tersebut.
"Sini! Biar kuambilkan!" Kirishima berkata sambil mendekat pada kulkas. "Dasar Bakubro!"
Mengulurkan tangan sedikit, Kirishima berhasil meraih remote yang sebelumnya diletakkan Katsuki di atas kulkas. Diberikannya remote tersebut pada Deku yang menerimanya dengan gembira. Setelah mengucapkan terima kasih singkat, bocah itu langsung berlari ke ruang tamu untuk menyalakan kembali televisi.
Melihat bocah itu sangat bersemangat, Kirishima pun mengikuti dan duduk di sampingnya. Ia menatap bocah yang kembali menempati sofa dengan tenang itu dan berkata, "Deku-kun suka sekali pada Allmight, ya?"
Mengangguk pelan, bocah itu berkata, "Suka."
Alis Kirishima terangkat dan ia berkata, "Yah, dia memang idola semua anak laki-laki. Dulu aku dan Bakubro pun sangat mengidolakannya. Apalagi dia juga pernah mengajar di sekolah kami."
Tertarik, Deku pun mengalihkan perhatiannya dari televisi. Ia menoleh pada Kirishima dan berkata, "Katsuki dan Ei-chan juga suka Allmight?"
Kirishima mengangguk. "Walaupun kelihatannya seperti itu, Bakubro juga sangat mengidolakan Allmight lho! Apalagi dulu Allmight yang memberikan medali saat ia memenangkan turnamen olahraga di tingkat pertama."
Deku terpana mendengarnya. Ia baru saja hendak melanjutkan pertanyaannya ketika seseorang mengangkat tubuhnya dari sofa dengan kedua tangan. Terkejut, ia pun menoleh dan menemukan pemuda berambut pirang yang baru saja mereka bicarakan ada di belakangnya dengan ekspresi jengkelnya yang biasa.
"Kau tidak mau pulang, Deku? Masih mau mengobrol dengan rambut sialan ini?"
"Katsuki," panggil Deku saat melihatnya. "Mau pulang."
"Bagus," ucap Katsuki sambil menurunkan bocah itu ke lantai dan berkata, "Sana ambil ransel dan pakai jaketmu kalau begitu!"
Mengangguk, Deku pun segera berlari memutari ruang tamu untuk mengambil jaket dan ransel yang tergeletak sebelumnya. Dikenakannya jaket hijau bertopi kelinci miliknya sebelum memakai ranselnya. Ketika sudah selesai ia menghampiri Katsuki kembali dan memeluk kakinya. "Sudah!"
Sekali lagi Katsuki bergumam bagus, sembari mengacak-acak rambut si bocah. Ia pun mengangkat kepala dan berkata, "Aku duluan, Bakazawa, Rambut sialan!"
Aizawa hanya menggumam sementara Kirishima melambaikan tangan padanya. Namun reaksi keduanya sangat berbeda ketika mendengar bocah yang digandeng Katsuki berkata, "Sampai besok! Ei-chan! Shocchan!"
"Sampai besok!" Keduanya menyahut bersamaan walaupun menggunakan panggilan yang berbeda untuk bocah itu.
"Ayo, Deku!" Katsuki kembali berkata. Didorongnya pintu depan dan ditahannya agar bocah itu bisa melenggang keluar. Ia baru melepaskannya ketika Deku sudah melewati ambang pintu. Bersama-sama mereka menuruni tangga dan berjalan di pinggir.
Jalanan masih cukup ramai sore itu sehingga Katsuki mengingatkan bocah itu agar tak melepaskan tangannya yang dipatuhi bocah itu dengan menganggukkan kepala. Setelah berjalan sepuluh menit, mereka akhirnya tiba di stasiun. Berhubung tengah berada di jam sibuk, Katsuki mengangkat bocah itu dan memeluknya erat.
"Ramai," gumam bocah itu ketika melihat sekelilingnya. Kedua tangannya melingkari leher Katsuki dengan nyaman sementara kepalanya bertengger di bahu pemuda itu.
"Memang," jawab Katsuki yang tengah mengenakan masker dan topi yang menutupi telinga. "Pegang erat-erat, Deku! Jangan sampai jatuh!"
Sekali lagi Deku mengangguk sementara Katsuki berjalan masuk ke dalam stasiun. Setelah menempelkan kartunya sekali, ia pun masuk ke dalam dan menuju ke peron. Sesampainya di sana, ia menunggu hingga kereta tujuannya tiba sambil mengamati para pengunjung yang terus berdatangan.
Kereta yang ia tunggu tiba tak lama kemudian. Bersama dengan para pengunjung yang lain, ia pun masuk ke dalam dan mengambil tempat agak ke dalam agar tidak terhimpit. Satu tangannya memeluk Deku erat, sementara tangannya yang lain memegang pegangan di kereta. Sekali lagi ia mengingatkan bocah itu agar tidak melepaskan pegangannya sebelum pintu kereta ditutup dan membawa mereka ke tempat tujuan.
Setelah tiga stasiun berlalu, Katsuki membawa Deku keluar dari kereta. Ketika melihat stasiun tujuannya tidak begitu ramai, ia pun menurunkan bocah itu dan membiarkannya berjalan sendiri. Meskipun begitu, ia tetap menggandeng bocah itu, memastikan agar bocah itu tak lepas dari pandangannya hingga mereka keluar dari stasiun. Barulah saat itu ia melepaskan pegangannya pada si bocah dan membiarkannya berjalan di depannya.
Ia sudah mengatakan agar bocah itu tidak berjalan lebih jauh dari dua meter yang langsung dipatuhi oleh si bocah. Hanya tetap saja manik merahnya tak pernah lepas dari bocah itu. Sesekali ia akan memaksa bocah itu berhenti dan menggandengnya saat mereka harus menyeberang jalan. Barulah ketika mereka melewati pemukiman yang aman dari mobil, ia kembali melepaskan bocah itu dan membiarkannya berjalan sendiri.
Ketika mereka hampir sampai di kompleks apartemennya, Deku tiba-tiba berjongkok di salah satu pojokan tempat petugas kebersihan mengambil sampah. Melihatnya, Katsuki bergegas menghampiri bocah itu dan berkata, "Ada apa, Deku? Kakimu sakit?"
Mendengar namanya dipanggil, Deku mengangkat kepala. Ia memanggil Katsuki dan menunjuk benda yang diamatinya dari tadi. "Katsuki! Itu!"
Mendekat, Katsuki pun ikut berjongkok di sampingnya. Diamatinya benda yang ditunjuk bocah itu sebelum memberikan komentar. Ketika menyadari benda apa yang menarik perhatian bocah itu, ia pun segera bangkit berdiri dan sambil menyentuh kepala bocah itu, ia berkata, "Biarkan saja! Ayo pergi!"
"Tapi, Katsuki," ujar bocah itu ragu-ragu sembari menunjuk boneka beruang berwarna beige terang dan mengenakan kostum yang didominasi warna hitam dengan tanda X berwarna oranye di bagian dada. Di matanya, boneka itu mengenakan penutup mata berwarna hitam. Walaupun tidak persis tapi boneka ini jelas meniru replika seragam Ground Zero. "Bonekanya..."
"Biarkan saja," jawab Katsuki tak acuh sambil berbalik dan mulai berjalan. "Terkadang memang banyak yang begitu."
"Umm..."
"Ayo cepat!" Katsuki berkata lagi begitu ia sudah agak jauh dari bocah itu. "Nanti kutinggal nih!"
Deku ragu-ragu. Ia bangkit berdiri namun pandangannya masih tertuju pada si boneka beruang. Dicobanya menoleh pada Katsuki namun pemuda itu terus saja berjalan, tak peduli pada boneka yang terabaikan itu. Ia pun mencoba berjalan, takut bahwa Katsuki akan meninggalkannya. Walaupun begitu, matanya lagi-lagi tertuju pada si boneka dan membuatnya melangkah begitu pelan hingga Katsuki terpaksa berhenti.
"Deku!" Katsuki akhirnya berbalik berhubung bocah yang ditunggunya tak juga beranjak. "Ayo!"
Menyadari bahwa Katsuki mulai tak sabaran membuat Deku mengambil tindakan. Tanpa ragu bocah itu mengulurkan tangan dan mengambil boneka yang seharusnya tergeletak di tempat sampah itu. Diangkatnya boneka yang kepalanya oleng karena hampir putus itu dan ia mengerutkan dahi. Tangan boneka itu pun hampir copot dengan busa yang nyaris keluar.
"Katsuki," panggilnya sambil mengangkat boneka itu, "rusak."
Katsuki sampai kehabisan kata-kata melihat bocah itu sudah mengambil boneka yang sebelumnya dibuang ke tempat sampah. Ia sudah mengatakan padanya untuk mengabaikan boneka itu tapi si bocah tidak mendengarkan. Sekarang lihat masalah yang ia perbuat. Sedikit jengkel, Katsuki pun meletakkan tangannya di dahi. Ia berniat untuk memarahi bocah itu tadinya, namun melihat ekspresi bingung bocah itu amarahnya justru menguap. Sebagai gantinya ia mendekat pada si bocah dan berjongkok sedikit saat meminta boneka yang diambil bocah itu.
"Sudah rusak begini," ujarnya sembari memutar-mutar si boneka. Kondisinya sudah cukup parah, kepalanya nyaris lepas sementara tangannya juga sudah putus. Sepertinya boneka ini terlalu sering digunakan oleh pemilik sebelumnya. "Bagaimana memperbaikinya coba?"
"Um..." Deku mendekat sembari bersandar padanya. Katsuki melihat kerutan di dahi bocah itu ketika ia berkata, "tidak bisa diperbaiki, Katsuki?"
Menghela napas, Katsuki menyerahkan boneka itu pada Deku dan berkata, "Bisa, tapi merepotkan. Sebaiknya kau taruh kembali boneka itu di tempatnya!"
Sekilas bocah itu menatap Katsuki dan kekecewaan terlihat jelas di wajahnya. Melihatnya, Katsuki tahu bahwa penolakan hanya akan membuat bocah ini merajuk sepanjang hari. Karena itu ia menghela napas dan sekali lagi menaruh tangannya di kepala. Apa bocah ini bisa tidak merepotkannya barang sekali saja?
"Begini ya," Katsuki akhirnya berkata, mencoba menjelaskan, "kuperbaiki pun boneka itu takkan bisa utuh seperti baru. Lehernya akan banyak jahitan begitu juga tangannya. Kau pakai main sebentar juga pasti rusak. Kau yakin mau boneka seperti itu?"
Deku mengerjap sebentar sebelum menjawab, "Iya. Aku akan menjaganya baik-baik, Katsuki."
"Kau tidak akan bisa membawanya seperti membawa boneka Allmight-mu lho!" Katsuki kembali mengingatkan. "Boneka Allmightmu bisa kau bawa dan kau tendang ke mana pun. Tapi tidak dengan boneka ini. Kau hanya bisa menaruhnya di lemari dan memandanginya saja. Kau mau begitu?"
Sekali lagi ditatapnya boneka itu. Untuk sesaat Deku tampak memikirkan perkataan Katsuki. Tak lama kemudian ia pun mengangkat kepalanya dan mengangguk kuat-kuat. "Iya," jawabnya tanpa ragu, "tidak apa."
Katsuki heran karena bocah itu begitu keras kepala kali ini. Biasanya ia tidak pernah memaksakan kehendaknya dan selalu mengikuti apapun perintahnya. Jarang sekali Katsuki menghadapi kekeraskepalaan bocah itu hanya karena sebuah boneka yang sudah dibuang oleh pemilik lamanya.
"Begini," ujar Katsuki sambil menatap si bocah, masih belum mau menyerah, "kalau kau taruh kembali boneka itu di tempatnya, aku akan membelikanmu dua mainan baru. Bagaimana?"
Deku memandangnya bingung. Ditatapnya boneka beruang di pelukannya sekali lagi sebelum menatap balik Katsuki. Kalau Katsuki mengira bahwa Deku akan menyerah maka ia salah besar. Bocah itu tetap menggeleng dan berkata, "Aku mau yang ini saja."
Mendengarnya Katsuki tak tahan lagi. Ia pun menghardik si bocah dan membuat bocah itu mengerjap bingung. Pada akhirnya, Katsuki menghela napas dan ia mengacak-acak rambutnya sendiri sebelum berbalik pada bocah keras kepala di belakangnya. "Kau itu—"
Manik hijau Deku menatapnya. Bocah itu menundukkan kepalanya, menatap boneka beruang yang ia peluk erat-erat. Tangan mungilnya melingkari boneka itu dan dengan suara yang berupa gumaman, ia berkata, "Tapi... aku mau yang ini. Boleh 'kan, Katsuki?"
Melihat si bocah menghadapinya dengan takut-takut membuat pengendalian diri Katsuki kembali. Walaupun sejumlah sumpah serapah sudah berada di ujung lidah, ia memilih untuk menelannya. Mungkin tidak masalah bila sekali-kali ia mengabulkan permintaan anak itu.
Akhirnya dengan terpaksa Katsuki berkata, "Kau mengambil milik orang lain, kau tahu? Kalau suatu saat pemiliknya mengambil kembali, kau harus menyerahkannya. Apa kau mengerti?"
Deku mengerjap pelan. "Iya. Aku mengerti."
Katsuki tak yakin bocah ini mengerti. Ia tak yakin bila waktunya tiba kelak, bocah itu akan sanggup menyerahkan boneka beruang yang ia ambil sebelumnya. Bila bocah itu begitu keras kepala untuk mengambil si boneka, ia yakin menyerahkan boneka pun takkan semudah yang dikatakannya. Tapi mungkin, ia bisa menggunakannya untuk mengajari si bocah itu agar berhenti keras kepala dan mendengarkan kata-katanya.
"Ya sudah," jawab Katsuki akhirnya, "pegang erat-erat, nanti kita perbaiki di rumah."
Manik hijau yang semula dirundung kabut itu kembali berbinar. Sembari menatap Katsuki, bocah itu mengangguk kuat-kuat. "Ya!"
Sesuai instruksi, bocah itu memegangi boneka beruang yang didapatnya erat-erat hingga mereka tiba di rumah. Barulah saat itu ia meletakkan si boneka di meja sementara Katsuki memintanya mencuci tangan. Sedikit tergesa-gesa, Deku pun mematuhi perintahnya dan segera kembali untuk berjaga di samping si boneka. Dengan tenangnya ia duduk mengawasi, sementara Katsuki menyiapkan makan malam.
Waktu berjalan tanpa mereka sadari. Setelah selesai makan malam dan mandi, barulah Katsuki kembali ke ruang tamu. Diambilnya boneka yang sebelumnya tergeletak begitu saja sementara ia mengeluarkan peralatan jahit. Di sampingnya, Deku mengamatinya dengan hati-hati saat Katsuki memeriksa bonekanya.
"Bisa diperbaiki, Katsuki?" Bocah itu bertanya di sampingnya. "Bisa?"
"Tsk!" Katsuki hanya menggumam pelan sambil menyentuh kepala bocah itu. Ia menyalakan televisi yang tengah menayangkan film Allmight dan berkata, "Nonton saja sana! Jangan ganggu aku!"
Tanpa banyak bicara, si bocah mengikuti ucapan Katsuki. Duduk dengan tenang, bocah itu kembali menonton film kesukaannya. Meskipun demikian, sesekali ia akan memerhatikan pemuda yang tengah berkutat dengan jarum dan benang di sampingnya. Sepertinya rumit karena berkali-kali Katsuki mengerutkan dahi dan mengamit benang dengan mulutnya. Ia sempat khawatir bila Katsuki tak sanggup memperbaikinya namun kekhawatirannya lenyap tatkala melihat bonekanya utuh dengan kepala dan tangan yang sudah tersambung.
"Selesai? Sudah selesai, Katsuki?"
"Belum!" Katsuki menjawab sambil beranjak dari sofa. Boneka itu sudah dijahit dan ditambal namun ia takkan memberikan boneka kotor ke tangan Deku. Karena itu dimasukkannya si boneka ke dalam mesin cuci dan tanpa banyak bicara ia langsung mencuci boneka itu.
Selama itu, Deku mengikutinya ke mana pun. Ia mengikuti Katsuki ke mesin cuci dan mengamati ketika Katsuki memasukkan boneka itu ke mesin. Ia juga mengamati saat boneka itu berputar-putar di dalam mesin cuci dan menungguinya hingga mesin berhenti berputar.
"Hei!" Katsuki mengingatkannya ketika melihat bocah itu berjongkok dan mengamati di depan mesin cuci. "Bonekanya tidak akan ke mana-mana! Sana kembali ke tempatmu!"
"Umh," Deku berkata sambil menatap mesin cuci yang masih berputar. "Tapi aku juga mau membantu."
"Tidak ada yang bisa kau lakukan di sini," Katsuki berkata sambil mengangkat bocah itu dan mendudukannya kembali di sofa. "Kalau mau membantu sebaiknya kau duduk di sofa dan jangan bergerak selangkah pun dari sana!"
Biarpun sedikit gelisah, Deku mematuhi perintah Katsuki. Sesekali ia akan menoleh ke belakang, mengamati Katsuki yang terkadang bolak balik ke ruang cuci sambil membawa sejumlah cucian. Namun begitu Katsuki menoleh padanya, bocah itu akan bersembunyi di balik sofa dan berpura-pura asyik menonton.
Tiga puluh menit kemudian, mesin pun berhenti. Melihat air dan busanya sudah tidak ada, Katsuki mengambil boneka itu dari mesin dan memasukkannya ke pengering. Kurang lebih selama sepuluh menit ia membiarkan boneka itu dikeringkan sebelum mengeluarkannya. Baru saat itu ia membawa boneka tersebut ke ruang keluarga dan memberikannya pada bocah yang sudah sabar menanti.
"Nih!" Ia berkata sambil menyerahkan boneka yang sudah bersih itu pada Deku. "Hati-hati dengan kepalanya! Aku tidak mahir menjahit."
Berseru gembira, bocah itu pun menerima boneka yang didapatnya dari Katsuki. Dipeluknya boneka itu erat sembari mengucapkan terima kasih. Ia pun berseru riang dan membawa bocah itu untuk ikut menonton bersamanya.
Melihat betapa riangnya bocah itu menerima mainan barunya, Katsuki pun mendecak pelan sambil berkata, "Dasar bocah!"
Deku hanya tertawa sambil memamerkan cengirannya pada Katsuki. Melihatnya, Katsuki hanya menggelengkan kepala. Mengambil tempat di sampingnya, Katsuki mengambil remote dan memindahkan channel. Berkali-kali ia memindahkan channel namun tak menemukan film yang menarik. Menyerah, ia pun berpaling pada Deku dan mengamati bocah yang sibuk dengan mainan barunya itu.
"Deku," panggil Katsuki sambil meletakkan tangannya di rambut si bocah, "anak laki-laki harusnya tidak bermain boneka."
Mendengar namanya dipanggil Deku pun menoleh. Ia memeluk boneka barunya dan berkata, "Kenapa?"
"Kenapa?" Katsuki mengulangi pertanyaannya, "Karena itu seperti perempuan."
Deku menatap bonekanya sekali lagi dan berkata, "Memangnya anak laki-laki tidak boleh suka Ground Zero?"
"Hah?" Katsuki bingung mendengarnya. "Siapa bilang anak laki-laki tidak boleh suka Ground Zero?"
"Tapi," jawab Deku sambil menatap Ground Zero beruang di tangannya, "yang kusukai itu Ground Zero-nya, walaupun bentuknya beruang."
Katsuki menatapnya selama beberapa saat. Pada akhirnya ia memilih untuk membuang muka dan mendengus. Ia tidak bisa membantah kalau bocah itu sudah berkata demikian. Jadi akhirnya ia kembali mencari-cari channel dan menonton sembari membiarkan bocah itu asyik dengan boneka barunya.
Malam pun semakin larut namun acara televisi justru semakin seru untuk Katsuki. Ketika ia hendak melanjutkan menonton, kepala Deku terantuk mengenai tubuhnya pelan. Ia pun menoleh ke samping dan menemukan bocah itu terpejam dengan kedua tangan memeluk boneka beruangnya. Sepertinya ia harus memindahkan bocah itu dulu sebelum melanjutkan menonton.
Dengan hati-hati ia menyangga kepala Deku dengan satu tangan sementara ia mengangkat bocah itu di pelukannya. Ia berhasil mendudukkan bocah itu di satu tangan dan baru saja hendak mengambil Ground Zero si beruang ketika resepsionis di apartemen menghubunginya.
Agak bingung, Katsuki terpaksa mengangkat telepon. Walau sedikit repot, ia menekan tombol penerima yang menghubungkan dirinya dengan resepsionis. Setelah mengucapkan salam singkat dan meminta maaf telah mengganggunya, resepsionis itu berkata bahwa dia punya tamu yang menunggunya di bawah.
Katsuki menjawab bahwa ia tidak mengharapkan kehadiran seorang pun dan meminta mereka untuk pulang saja. Sang resepsionis pun menyampaikan pesannya, hanya saja ia mendengar suara tangisan anak-anak yang diikuti dengan suara marah sang Ibu. Samar-samar ia menangkap percakapan mereka seperti,
"Makanya sudah kubilang untuk menjaganya baik-baik..."
"Mama yang membuangnya tanpa bilang-bilang..."
"Tapi itu karena..."
Mendengar itu, Katsuki pun tahu siapa tamunya. Menghela napas, ia pun memanggil si resepsionis melalui receiver dan mengatakan bahwa ia akan menemui tamunya di bawah. Si resepsionis pun menyampaikan ucapannya dan barulah teriakan-teriakan itu berhenti.
Setelah mematikan receiver, Katsuki mengambil Deku dan Ground Zero yang baru saja dicuci dan diperbaiki. Ia mengguncang Deku pelan dan membuat bocah itu terbangun. Diserahkannya Ground Zero pada bocah itu sementara ia beranjak keluar dari apartemen.
Melihat gelagat Katsuki, Deku pun ikut heran. Di luar langit tampak gelap, namun Katsuki mengenakan sandal dan memakaikan juga sandal padanya. Ia sedikit bingung, tapi ia tidak membantah ketika Katsuki membuka pintu dan berjalan ke luar.
Meski begitu ia tak dapat menghentikan diri untuk bertanya, "Kita mau ke mana, Katsuki?"
Menggumam pelan Katsuki hanya menjawab, "Ada yang ingin bertemu."
"Siapa?"
Katsuki tak langsung menjawab. Ia cukup lama bungkam hingga tiba di depan pintu lift. Ditekannya tombol dan lift pun terbuka. Begitu keduanya sudah masuk ke dalam lift dan Katsuki menekan lantai tujuan, barulah pemuda itu kembali bersuara.
"Ingat apa yang kukatakan tadi?"
Deku menatapnya bingung. "Memangnya apa yang Katsuki katakan?"
"Soal boneka itu bukan milikmu," ujar Katsuki lagi. "Ingat?"
Selama beberapa saat Deku menatapnya. Beberapa kali ia mengerjap dan menggerakkan kepala, sedikit bingung. Biasanya bila ia bersikap demikian, Katsuki akan menerangkan lebih lanjut. Tapi kali ini Katsuki tidak berkata apa pun dan menunggu reaksinya.
"Iya," jawab Deku akhirnya. "Ingat."
Mengangguk, Katsuki merapatkan pelukannya pada bocah itu. Diusap-usapnya punggung si bocah sementara mereka menunggu hingga lift berhenti dan pintunya terbuka. Ketika itu, barulah ia melangkah keluar dari lift dan berjalan ke resepsionis.
Sesampainya di sana, seorang ibu dan dua anak laki-laki sudah berdiri di depan meja resepsionis. Sang resepsionis membungkuk pelan sebelum menyerahkan tamunya. Katsuki hanya mengucapkan terima kasih singkat sebelum berbalik dan menatap ketiga tamu yang tak diundang itu.
Kelihatannya ketiga tamu itu tak mengenalinya sebagai hero nomor satu dan hanya membungkuk singkat sebelum menyampaikan maksudnya. Ibu dari kedua anak itu berbicara lebih dulu dan begitu melihat boneka di pelukan Deku barulah ia berkata, "Maaf mengganggu Anda selarut ini, tapi aku Ibu dari kedua anak ini dan anak-anak ini ingin mengambil kembali boneka yang telah kubuang sebelumnya. Hanya saja kebetulan anak Anda memungutnya terlebih dulu. Kedua anakku mengikuti kalian dan akhirnya sampai di sini."
"Ah, ya," jawab Katsuki sembari memerhatikan bocah di pelukannya. Ia menurunkan Deku dari tangannya dan membiarkan bocah itu berdiri di samping tanpa beranjak selangkah pun. Namun dengan sengaja ia berkata, "Deku?"
Kepala bocah itu terangkat mendengar Katsuki memanggil namanya. Satu tangannya memeluk Ground Zero beruang, sementara tangannya yang lain melingkari kaki Katsuki. Ia menatap Katsuki tanpa bicara.
"Ah! Guro!" Anak laki-laki yang satu berkata sambil menunjuk beruang di pelukan Deku. "Mama, itu Guro! Itu milikku!"
"Bukan! Itu milikku!" Anak laki-laki yang satunya berkata. "Jangan mengaku-ngaku sebagai milikmu!"
"Tapi—"
Sang Ibu langsung menengahi sebelum anaknya bertengkar di hadapan orang tak dikenal. Sembari menjewer telinga keduanya, sang Ibu berjongkok, menyamakan langkah dengan Deku. Dengan senyum manis di wajah, wanita itu berkata, "Nak, maukah kau memberikan boneka itu kembali?"
Cengkeraman tangan Deku di kaki Katsuki semakin menguat. Bukannya mengangguk, bocah itu membuang muka dan menyembunyikan diri di balik Katsuki. Ia tidak menjawab namun tindakannya sudah jelas. Ia tidak mau memberikan bonekanya kembali.
"Mama!"
Sang Ibu bingung melihat Deku enggan mengembalikannya, namun kedua anaknya juga sangat menginginkan boneka itu. Ia menatap Deku kembali dan berkata, "Nak, bagaimana kalau kubelikan yang baru sebagai ganti yang kau pegang? Kedua anakku menginginkan boneka lama mereka."
Setelah sekian lama menyembunyikan diri di balik kaki Katsuki, Deku akhirnya menunjukkan wajah. Bocah itu memang lebih pendek dibanding kedua anak yang lain. Namun ia jauh lebih keras kepala dibanding anak-anak lain, terlebih ketika ia berkata, "Aku mau yang ini. Aku tidak butuh yang baru."
"Nak?"
"Kalian sudah membuangnya," bocah itu berkata lagi sambil mencengkeram celana jeans yang dikenakan Katsuki. "Kenapa menginginkannya kembali?"
"Aku yang tak sengaja membuangnya," jawab sang Ibu, "karena kukira anak-anakku tak membutuhkannya lagi."
Deku menggeleng. "Kalian juga tidak merawatnya baik-baik. Tapi aku dan Katsuki mencuci dan memperbaikinya untuk dirawat baik-baik. Jadi kenapa aku harus memberikannya pada kalian?"
"Karena itu milik kami!" Dua bocah yang lain berkata berbarengan. Keduanya menghampiri Deku dan berdiri di kiri kanannya, mencoba menarik boneka itu darinya secara paksa. Namun Deku memeluknya erat sehingga kedua bocah itu tak bisa mendapatkannya. "Kembalikan!"
Salah satu anak mencoba menjenggut rambutnya dan anak yang lain menarik tangannya. Sang Ibu mulai panik dan langsung turun tangan untuk menghentikan kedua anaknya. Namun Katsuki lebih dulu bertindak. Ia mengambil dan langsung menggendong Deku hingga kedua anak yang hendak menyerang Deku tidak bisa melakukannya.
Kemudian ia berkata dengan suara yang jelas, "Deku! Kembalikan!"
Mengerjap, Deku menatap Katsuki lama sebelum menggelengkan kepala. "Tidak."
"Aku sudah bilang padamu sebelumnya," Katsuki kembali berkata, "Kalau pemiliknya datang, kau harus mengembalikannya dan kau bilang kau mengerti."
Deku menatap Katsuki lama setelahnya. Ekspresinya berubah dan bibirnya mengerucut. Kekeraskepalaannya berubah menjadi kemarahan dan tak lama kemudian airmata mulai turun di pipi si bocah.
Tidak ada yang berani berbicara setelah menyaksikan bocah itu diam karena dimarahi Katsuki. Sang ibu dan kedua anaknya mengira bahwa mereka akan menyaksikan anak itu merengek dan semakin enggan untuk mengembalikan bonekanya. Namun betapa terkejutnya mereka ketika Deku menyerahkan boneka yang sedari tadi dipeluknya tanpa banyak bicara.
"A-ah, terima kasih," jawab sang Ibu yang menerima boneka itu. "Aku pasti akan membelikan boneka yang baru, aku—"
Perkataan sang Ibu terputus ketika melihat bocah itu berbalik dan memeluk leher pemuda berambut pirang yang entah merupakan kakak atau ayahnya itu. Kepalanya dibenamkan di leher pemuda itu dan ia tidak lagi menatap pada ketiga tamunya. Pada saat itu barulah tangis si bocah pecah hingga membuat sang Ibu dan kedua anaknya kembali terkejut.
"A-ano..."
"Ah," Katsuki mengerutkan dahi. Ia mencoba mengusap-usap rambut hijau Deku, namun tangis bocah itu tak juga berhenti. Ia pun menghela napas sebelum berbalik pada sang Ibu. "Tidak perlu. Anak ini tidak butuh boneka sebetulnya."
"Tapi..."
"Sudahlah," jawab Katsuki sambil memeluk bocah kecil di pelukannya. "Kalau sudah tidak ada urusan lagi, aku duluan."
Sang Ibu pun membungkuk sekali lagi untuk berterima kasih yang ditanggapi Katsuki dengan menganggukkan kepala. Setelahnya, Katsuki langsung berbalik dan kembali masuk ke dalam lift. Selama ia menekan tombol dan menunggu hingga lift datang, bocah itu masih saja terus menangis membuat Katsuki tak tahu harus berkata apa. Bahkan ketika lift datang dan mengangkut mereka bocah itu tetap tak berhenti menangis.
"Sudah kubilang 'kan," Katsuki berkata lagi sambil mengusap punggung bocah itu, "seharusnya kau tidak perlu memungutnya."
Mendengar ucapan Katsuki, Deku akhirnya mengangkat sedikit kepalanya. Ia masih terisak namun masih bisa menjawab, "Tapi, kukira mereka takkan pernah datang."
"Mana mungkin?" Katsuki berkata sambil menghela napas. Ia menempelkan kartu akses pada pintu apartemen dan mendorongnya hingga terbuka. Sambil membawa bocah yang masih menangis itu masuk akhirnya ia berkata, "Berhenti menangis! Kau membuatku pusing!"
Walaupun masih terisak, bocah itu mendengar perkataan Katsuki. Ia mencoba menghapus airmatanya sekalipun airmata masih terus mengalir menuruni pipinya. Akhirnya Katsuki mengulurkan tisu dan membantunya menghapusnya.
"Hanya satu boneka saja," jawab Katsuki sambil menghapus bekas airmata di wajah bocah itu dan mencubit hidungnya, "sampai menangis begini! Padahal kau bisa membeli yang baru."
Airmatanya sudah mengering, namun bocah itu masih tampak kecewa. Sembari menunduk, ia berkata, "Aku tidak butuh yang baru."
"Ya sudah, kalau begitu tidak akan kubelikan," jawab Katsuki lagi. "Jangan menyesal, ya!"
"Aku... mau Ground Zero yang tadi," ucap Deku sambil menundukkan kepala dan lagi-lagi airmatanya mengalir. "Aku akan merawatnya baik-baik dibanding mereka. Tapi kenapa aku harus memberikannya?"
Katsuki menatapnya kali ini. Bila biasanya ia akan langsung menyambar ucapan bocah itu, kali ini ia tak melakukannya. Ia menunggu hingga bocah itu selesai bicara.
"Memangnya kenapa kalau mereka pemiliknya?" Deku kembali bertanya. "Mereka juga membeli boneka itu dan membuangnya. Kenapa tidak mereka beli saja yang baru dibanding mengambil kembali boneka yang sudah mereka buang?"
"Karena...," Katsuki akhirnya berkata sambil menghapus airmata yang mengalir di wajah bocah itu, "mereka juga menyayangi boneka yang kau ambil. Apa kau tidak mengerti?"
"Tapi..."
"Kau yang baru sebentar bersama boneka itu sudah menangis seperti ini," jawab Katsuki. "Lalu bagaimana dengan kedua anak yang bonekanya kau rebut? Apa kau lebih suka bila kau tidur memeluk boneka itu sementara dua anak lain menangis karena tidak bisa memeluk boneka yang kau ambil?"
Mengerjap pelan, Deku akhirnya menunduk. "Jadi... bagi Katsuki lebih baik aku yang menangis."
"Bukan begitu maksudku, bodoh!" Katsuki berkata dengan jengkel. Dicubitnya hidung si bocah kuat-kuat dan ia berkata, "Maksudku adalah kau merebut milik seseorang dan membuat orang lain sedih. Hal semacam itu hanya dilakukan oleh penjahat, bukan dilakukan oleh anak kecil yang mengagumi Allmight."
"Penjahat?"
"Betul," jawab Katsuki. "Kau mau jadi penjahat?"
Deku menggeleng pelan. "Tidak mau. Aku mau jadi hero seperti Katsuki, Ei-chan, maupun Shocchan!"
"Oh ya? Mana mungkin kau bisa jadi sepertiku?" Katsuki berkata lagi, sengaja memanas-manasi. "Aku ini hero, jadi aku pasti akan mengembalikan apa yang bukan milik—"
Katsuki tiba-tiba terdiam. Sikapnya membuat Deku menatapnya dan menggerakkan kepala. Bocah itu pun mencoba memanggilnya. "Katsuki?"
Manik merah Katsuki mengerjap dan menatap bocah di hadapannya. Ia tidak mengatakan apa pun dan terdiam memandangi bocah di hadapannya. Melihat kekhawatiran bocah itu barulah ia menggerakkan tangan, menepuk-nepuk kepalanya.
"Tidak." Katsuki menjawab. "Jangan jadi hero sepertiku!"
Deku menggerakkan kepalanya, tidak mengerti. Ia masih ingin bertanya tapi Katsuki sudah menjauh dari sofa. Pemuda itu melarikan diri ke dapur sehingga Deku terpaksa puas dengan jawaban yang diberikan.
Sementara itu di dapur, Katsuki mengambil minuman yang ia simpan di dalam kulkas. Ditenggaknya minuman itu sementara kepalanya disandarkan pada kabinet. Cukup lama ia diam dan tertunduk menatap lantai.
Bodohnya dia. Ia kira ia sedang memberi pelajaran pada Deku, tanpa menyadari bahwa dirinya lah yang sedang diuji. Sama seperti boneka beruang tadi, suatu saat pemilik bocah itu akan datang dan mengambilnya. Saat itu, ia sendiri tak yakin apakah ia dapat menyerahkannya seperti yang Deku lakukan hari ini.
Padahal ia yang lebih dewasa dan ia tahu bahwa mengambil apa yang bukan miliknya bukanlah hal yang akan dilakukan seorang hero. Ia sendiri yang mengajarkan pada Deku untuk tak mengambil milik orang lain. Tapi, bukankah ia juga melakukan hal yang sama?
Kelak bila saatnya datang, ia sendiri ragu. Apakah ia dapat bersikap seperti Deku dan merelakan bocah itu?
Tepat ketika ia sibuk memikirkan jawaban, bocah yang ia tinggalkan turun dari sofa dan menghampirinya. Tangan mungilnya menyentuh kaki Katsuki dan mengguncangnya pelan. Dengan ekspresi khawatir bocah itu memanggilnya, "Katsuki?"
Melihatnya, Katsuki pun berhenti berpikir macam-macam. Ia berbalik dan meletakkan satu tangannya di kepala bocah itu. Sembari berjongkok, ia pun berkata, "Ada apa lagi, Deku?"
"Katsuki baik-baik saja?" Ia berkata dengan cemas. "Katsuki?"
Satu tangan Katsuki menekan kepala si bocah dan membuatnya tertunduk. Ia juga mengacak-acak rambut Deku sebelum bangkit berdiri dan membawa bocah itu di pelukannya. Tangannya mencengkeram erat bocah itu sementara wajahnya dibenamkan di bahu si bocah.
"Katsuki?"
Sekali lagi Katsuki tak menjawab. Deku masih ingin bertanya tapi ia menahan diri. Ia tak mengatakan apa pun lagi dan membiarkan Katsuki beristirahat di bahunya. Satu tangan bocah itu terangkat dan mengusap-usap rambut pirangnya.
'Biarlah. Untuk sekali ini saja'. Katsuki bergumam pada dirinya sendiri. 'Hingga tiba saatnya, aku menyerahkannya...'
.
.
.
(T.B.C)
A/N:
Holla All! Kembali lagi dengan Cyan di sini. Sekarang saia uda pindah ke tempat yang lebih nyaman buat laptop an, hopefully produktivitas makin meningkat :P Doakan aja ya?
Aniway :
El-Vtrich : Holla, El-san, aku setuju, Tuan hero nomor satu kita ini emang uda jatuh cinta pake banget sampe nggak bisa ngelepasin Deku. Tapi tetep aja tsundere nya kambuh dan dia nggak mau ngaku bahwa dia suka. Harus Deku yang suka sama dia :P Sedikit spoiler, walaupun ini Family, aku nggak mau Deku jadi bocah terus, jadi uda pasti dia akan jadi dewasa. Tapi kapan, di mana, dan bagaimana nya, aku nggak akan bilang :P
Dan teruntuk abang dispenser kita tersayang dan tuan hero nomor dua, beruntungnya kali ini Deku lagi suka sama beruang Ground Zero, jadi doi gak muncul. Tapi bang dispenser harus hati-hati, jangan ampe kena quirk Deku, kayak Tuan hero nomor satu kita XD
hanazawa kay : o-ow, itu gawat Kay-chan, itu nggak ada obatnya. Sekali kena quirk Deku, Kay bakalan jadi posesif terus sama Deku. Yang merepotkan, yang posesif sama Deku bukan cuman kamu, tapi abang hero nomor satu kita T_T
Aku turut berduka, Kay-chan :P
Also, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D
For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD
Cheers,
Cyan.
