Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.

Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi

Until we meet again by cyancosmic

Enjoy!


Ask 7. Doesn't it weird?

Harum roti yang baru dipanggang membuat anak kecil di pelukan Katsuki menggerakkan kepalanya ke samping. Manik hijaunya tertuju sepenuhnya pada sebuah toko kecil dengan kanopi untuk menaungi bagian terasnya dari panas. Pintu berbingkai kaca itu sengaja dibuka dan membuat beberapa orang yang lewat pun ikut menoleh menyaksikan pembuatnya yang baru selesai menata roti untuk di display.

"Katsuki~," tunjuknya sambil menoleh pada pemuda pirang yang menggendongnya. "Mau roti."

"Hah? Roti?" Katsuki berkata dengan tidak sabar berhubung ia sedang mengejar jadwal kereta. "Nanti saja."

"Um," Deku berkata, mencoba mengerti. Meskipun demikian matanya tetap terpaku pada barisan roti yang baru saja dipajang. Mereka sudah lewat cukup jauh, namun ia masih memandangi toko itu dari balik punggung Katsuki.

Melihatnya, Katsuki pun mendecak jengkel. "Nanti saja. Sudah kubilang 'kan? Kita akan terlambat naik kereta nanti."

"Um," jawabnya sambil mengangguk. "Iya."

Mendadak Katsuki berhenti melangkah. Alisnya berkerut dan ia melihat bahwa bocah kecil di pelukannya mulai merengut sembari mencengkeram jaket yang ia kenakan. Sembari mengusapkan telapak tangan ke wajah pemuda itu tahu ia tak punya pilihan. Ia pun berbalik dan kembali berjalan.

"Kita mau ke mana, Katsuki?" Bocah itu bertanya. "Stasiunnya di sana."

'Pakai sok mengajari pula!' batin Katsuki dalam hati. Walaupun begitu ia hanya mengacak-acak rambut anak kecil di pelukannya dan berkata, "Katanya mau roti. Tidak jadi? Kalau tidak jadi, ya sudah!"

"M-mau!" Deku berkata cepat. "Mau roti. Mau!"

Katsuki mendengus pelan sambil berjalan kembali ke toko roti yang ia lewati sebelumnya. Diturunkannya lebih dulu bocah di pelukannya sementara ia mengambil tray yang disediakan dan penjepitnya sebelum mengikuti Deku. Dibiarkannya bocah itu berkeliaran memandangi roti dan kue-kue khusus anak-anak di lapisan bawah sementara ia mengamati roti yang terlihat pedas.

"Katsuki, mau ini," ucap Deku sambil menunjuk roti berbentuk Allmight. Well, tidak persis menampilkan wajah pria itu, hanya saja bentuknya mirip. "Mau yang ini. Roti Allmight."

Tentu saja, apalagi yang Katsuki harapkan. Bocah ini hanya punya satu idola saja seumur hidupnya. Tidak heran, Roti Allmight pun akan menarik bagi bocah satu ini. Walaupun entah rasanya seperti apa.

Meski demikian, Katsuki mengambil satu roti dan menaruhnya di tray tanpa banyak bicara. Ia pun mengambil satu roti yakisoba yang konon rasanya sangat pedas dan menaruhnya di samping roti Allmight. Baru saja ia akan menuju ke kasir ketika ia melihat Deku masih mengitari pajangan roti seolah bocah itu belum puas bila Katsuki hanya membelikan satu.

Didekatinya bocah itu dan ia berkata, "Ada lagi yang kau inginkan, Deku?"

Ia sedikit terkejut ketika melihat bocah itu mengangguk. Namun lagi-lagi ia tak heran ketika mendengar bocah itu berkata, "Untuk Eicchan dan Shocchan. Pilihkan satu, Katsuki!"

"Hah? Kenapa aku harus membeli satu untuk mereka?" Katsuki berkata dengan jengkel. "Tidak makan roti pun mereka takkan mati."

Sepertinya Deku tidak mendengarkan ocehannya. Bocah itu malah sibuk sendiri dan mengamati roti satu persatu. Lagi-lagi Katsuki terpaksa mengikutinya dan membiarkan bocah itu berkeliling mencari roti. Dalam hati, ia ingin tahu roti seperti apa yang akan bocah itu berikan pada rekan kerja dan atasannya.

"Ini," tunjuk Deku ketika melihat roti berbentuk landak. "Ini untuk Eicchan."

Meski menentang pada awalnya, Katsuki mengambil tanpa banyak bicara. Tentu saja, bocah itu memberikan roti setelah menilai dari fisik dan sepertinya Red Riot memberikan kesan seperti landak untuknya. Namun seperti apa roti yang akan bocah itu berikan untuk atasannya? Katsuki tidak melihat roti berbentuk kepompong atau rumput laut yang menjuntai seperti rambut sang atasan.

"Yang ini," tunjuk bocah itu setelah dengan serius membaca tulisan di sampingnya. "Ini untuk Shocchan. Roti untuk orang lelah."

Alis Katsuki berkerut mendengarnya namun ia tak banyak membantah pilihan bocah itu. Memang di kertas di sampingnya dituliskan bahwa roti ini kaya akan gandum, telur dan anggur. Cocok untuk orang yang kecapaian saat bekerja atau tidak cukup istirahat. Sepertinya memang itu kesan si bocah untuk atasannya.

"Baiklah, sudah?" Katsuki akhirnya bertanya ketika melihat bocah itu kembali berkeliling untuk kesekian kali. "Deku?"

"Ini," tunjuk Deku akhirnya. "Mau ini juga, Katsuki."

"Kalau beli roti sebanyak ini, kau tidak bisa makan siang, tahu?" Katsuki berkata sembari berjalan mendekat padanya. "Memangnya kau sanggup makan semua roti ini?"

"Yang ini," tunjuk Deku, keras kepala. "Mau ini juga."

"Keras kepala sekali," gerutu Katsuki sambil menoleh pada roti pilihan si bocah. Lagi-lagi bocah itu membeli roti yang sama sekali di luar dugaan. Bila melihat bentuknya, roti berbentuk bulat dengan setengah warna merah dan setengahnya lagi putih itu mengingatkannya akan satu orang. "Kau yakin mau yang ini?"

"Mirip seperti Shouto," jawab bocah itu polos. "Siapa tahu dia datang hari ini."

"Mana mungkin dia datang," balas Katsuki. "Sudah, tidak perlu beli yang ini."

"Um~.."

Mendecak sebal Katsuki menunjuk Deku dan berkata, "Kalau dia tidak datang, kau yang habiskan rotinya, lho! Dan aku tidak mau tahu kalau kau sampai tidak bisa makan malam."

"Nanti bisa," jawabnya tidak mau kalah. "Bisa, Katsuki."

Sekali lagi Katsuki terpaksa mengalah. Diambilnya roti bulat dengan warna setengah putih dan merah itu dan dibawanya ke kasir bersama roti-roti yang lain. Ia mengeluarkan dompet sementara kasir menghitung makanan yang ia beli. Sementara ia membayar, Deku menatap pajangan berisi cake di samping kasir.

"Yang itu tidak boleh," ucap Katsuki seolah mengetahui bahwa bocah itu pasti akan memintanya membelikan cake juga. "Kau sudah punya dua."

Ucapannya sepertinya tak didengar oleh bocah itu. Namun Deku sendiri hanya memandangi pajangan cake dari balik kaca. Sementara itu Katsuki menyelesaikan pembayaran dan mengambil roti yang sudah dibungkus rapi. Baru saja ia hendak menarik bocah itu, seseorang keluar dari bagian dapur dan menggantikan kasir. Mereka bertatapan untuk sejenak dan seketika ia menyadari siapa orang itu.

"Bakugou!"

"Kau—," Katsuki berhenti sejenak. Teman sekelasnya yang satu ini hampir tidak pernah bicara dengannya. Ia mengenalnya hanya karena Kirishima mengatakan bahwa ada anak sekelas yang mahir membuat makanan manis. Lagipula Katsuki jarang melupakan wajah seseorang yang sudah dilihatnya. "Sato Rikido?"

"Wah, kau mengingatku dan bukan julukan aneh-aneh," ucap Sato sambil tertawa. Ia memandangi penampilan sehari-hari Katsuki. "Penglihatanmu memburuk?"

"Ini?" Katsuki berkata sambil menarik kacamatanya. "Tidak, hanya supaya tidak dikenali."

Sato tertawa, "Memang. Aku hampir tidak mengenalimu kalau kau menutupi wajah dengan masker dan kacamata seperti itu. Tapi rambut pirangmu mudah dikenali sebetulnya. Mungkin kau harus menutupinya dengan topi."

"Aku tahu," jawab Katsuki. Ia tak begitu dekat dengan teman sekelasnya itu dan sudah akan berlalu sehingga ia berkata, "Kalau begitu aku—"

"Oh, ngomong-ngomong kelas kita akan mengadakan reuni angkatan," ujar Sato seolah tak menyadari gelagat Katsuki. "Baru saja aku menerima emailnya kemarin. Apa kau akan datang?"

Reuni? Ia belum mengecek emailnya sebetulnya. Bukan tidak punya waktu, hanya saja tak ada yang penting sehingga ia seringkali mengabaikannya. Tapi bukannya mengakui Katsuki malah memilih untuk berkata, "Ah, aku tidak punya waktu untuk itu."

"Ah," ujar temannya sebelum Katsuki menjelaskan lebih lanjut, "menjadi hero nomor satu pasti selalu sibuk. Kukira hero nomor dua tahun ini pun takkan bisa datang dengan alasan yang sama."

Katsuki tak mengiyakan maupun menyanggah. Ia membiarkan temannya berasumsi sendiri. Meskipun saat ia di UA ia memiliki teman-teman yang cukup menyenangkan tetap saja aneh rasanya bertemu kembali setelah sekian lama menempuh jalan masing-masing. Entah apa yang harus ia katakan ketika setiap orang melabelinya sebagai hero nomor satu dan menanyakan bagaimana rasanya. Ia memang bangga akan gelarnya tapi bukan berarti ia senang ditanya-tanya.

"Katsuki, mau cake yang ini," ujar seorang anak yang tak menyadari bahwa Katsuki tengah berbicara dengan seseorang. "Boleh?"

Keduanya menoleh bersamaan dan melihat seorang bocah berambut hijau menunjuk cake berwarna hijau juga dan memiliki kuping seperti kelinci. Sangat menarik untuk ukuran bocah berusia delapan tahun. Bahkan Katsuki sampai harus berjongkok menyamakan tinggi untuk mengamati baik-baik pilihannya.

"Kau sudah punya dua, kapan kau akan memakan yang satu ini?" Katsuki balas bertanya, walaupun ia harus mengakui cake-cake yang dipajang menarik semua. "Tahu tidak kalau aku akan memasak Katsudon untuk makan malam? Aku bisa jengkel kalau kau tidak menghabiskan makan malam."

"Katsudon?" Manik hijau si bocah berbinar. "Mau Katsudon. Tapi mau cake."

"Kau banyak maunya hari ini," balas Katsuki jengkel. "Ya sudah, ambil satu kalau begitu."

"Buat Shocchan dan Eicchan—"

"Tidak!" Katsuki menjawab cepat. "Aku tidak akan membelikan lebih untuk mereka. Roti saja sudah cukup."

"Umh, besok kita mampir lagi?"

"Tidak!" Katsuki lagi-lagi berkata dengan cepat. "Kenapa kau suka sekali menghamburkan uangku dan membelikan sesuatu untuk orang lain?"

Deku sudah akan menjawab pertanyaan Katsuki ketika mendengar suara tawa Sato. Melihat ada orang asing di hadapannya, bocah itu pun bersembunyi di belakang kaki Katsuki sembari memandangi Sato dengan dahi berkerut khawatir. Kedua tangannya mencengkeram celana jeans yang dikenakan Katsuki erat.

"Keponakanmu?" Sato bertanya pada Katsuki. "Siapa namamu, Adik kecil?"

"Deku," jawab bocah itu sembari melirik Sato hati-hati.

"Deku-kun kalau begitu," ujar Sato sambil memberikan senyuman terbaiknya. "Ah, ya, kau mau satu ya. Bagaimana kalau kuberikan satu lagi bonus untukmu?"

Mengerjap pelan, bocah itu menggelengkan kepala. Masih sambil memegangi celana jeans Katsuki, Deku berkata, "Tidak. Nanti tidak bisa makan Katsudon."

Jawabannya membuat Sato tercengang. Tidak biasanya ada anak kecil yang menolak cake buatannya, apalagi bila diberikan satu sebagai tambahan. Tapi ia lebih terkejut ketika melihat Ground Zero yang digosipkan tidak menyukai anak kecil mau mengurus seorang bocah. Apalagi pemuda itu tampak bangga saat menyentuh rambut hijau si bocah dan menepuknya pelan.

"Kuambil cake yang ini saja kalau begitu," ujar Katsuki sambil menunjuk cake berwarna hijau.

"Baiklah," Sato berkata sembari mengambilkan cake yang telah dipilih oleh Deku. "Mau kuambilkan untuk Kirishima dan Aizawa sensei?"

"Ah, tidak usah," Katsuki berkata. "Tanganku tidak cukup untuk membawa lebih."

Sato tertawa lagi dan menyerahkan cake yang sudah dibungkusnya pada Katsuki. Baru ia berkata, "Baiklah, untuk Deku-kun saja kalau begitu. Kapan-kapan mampir lagi ya, Deku-kun?"

Deku mengangguk. Katsuki menyerahkan bungkusan cake yang tadi diberikan Sato pada bocah itu yang diterimanya dengan senang. Setelah mengucapkan salam perpisahan pada Sato, Katsuki kembali mengenakan masker hitamnya dan berjalan menuju ke stasiun. Sembari menggenggam tangan Deku, keduanya menembus padatnya jalanan di pagi hari.

Setelah melalui perjalanan lebih lama sepuluh menit dibanding biasanya, Katsuki akhirnya tiba di kantor. Sedikit mengumpat karena ia jadi terlambat untuk patroli dan tergesa-gesa karena tidak sempat mengawasi Deku sarapan. Namun ia lebih jengkel lagi melihat orang yang seharusnya tak ada di sana, tahu-tahu muncul dan mengganggu harinya. Terlebih ketika melihat Deku mengenali pemuda saingannya itu.

"Shouto!" Deku berkata sembari menunjuk pemuda berambut setengah merah dan setengah putih itu duduk di meja makan dan menyeruput kopi. Namun ketika melihat Kirishima muncul dari ruangan ganti, bocah itu langsung berlari menghampiri. Dengan sedikit bersemangat ia berkata, "Eicchan, kami beli roti. Untuk Eicchan dan Shocchan juga."

"Oh, ya?" Kirishima berkata sambil mengangkat bocah itu ke pelukannya. Ia membawa bocah itu duduk di meja makan sementara Katsuki menyusul mereka. "Deku-kun baik sekali."

"Aku yang membelikannya, tahu!" Katsuki berkata sambil meletakkan belanjaan mereka di atas meja. "Bahkan si hanbun-yaro ini juga terpaksa kubelikan jadinya."

Kirishima tertawa dan membuka bungkusan roti yang dibelikan Katsuki untuk mereka. Ia tidak perlu bertanya lagi karena sekilas pun sudah terlihat jelas mana roti miliknya dan mana roti yang akan disajikan untuk tamu mereka. Namun ada satu hal yang membuatnya bingung sehingga ia bertanya pada Katsuki.

"Lho! Tapi dari mana kau tahu bahwa Todoroki akan datang hari ini, Bakubro?" Kirishima akhirnya berkata sambil memisah-misahkan roti.

"Tidak tahu," jawab Katsuki dari balik ruang ganti. "Tanya Deku saja."

Kirishima kembali menoleh pada Deku yang tengah memutari ruang makan dan memberikan Shouto roti yang ia pilih untuk sang hero. Bocah itu duduk di samping Shouto dan sang hero nomor dua itu pun cukup sabar untuk meladeni permintaan bocah itu. Sebagai ucapan terima kasih atas pemberiannya, `sang hero nomor dua mengeluarkan kelinci salju namun di tangan yang lain, burung api terbang berputar-putar mengeliling Deku dan membuatnya terkagum-kagum.

"Hebat," gumam Deku yang terpesona pada kedua quirk pemuda itu dan bertepuk tangan tanpa sadar. Si kelinci salju diberikannya pada bocah itu, namun burung api dibiarkan menghilang sebelum menimbulkan bencana. "Tunjukkan lagi, Shouto!"

Mendengar Deku memanggil hero nomor dua itu dengan akrab membuat Kirishima penasaran. Ia mendekat pada keduanya dan berkata, "Deku-kun, kau tidak memanggil Shouto dengan sebutan Shoucchan?"

Deku menoleh dan berkata, "Tapi Shouto bilang Shouto."

"Aku tidak suka dipanggil Shoucchan," jawab pemuda itu sembari memunculkan kembali kelinci salju di tangannya. Kali ini ia membentuk beberapa kelinci di atas meja dan membuat mereka melompati satu dan yang lain hingga membuat Deku kembali bertepuk tangan kagum. "Itu kekanakan."

"Aku suka sebutan Shocchan. Pagi, Deku!"

Aizawa yang baru saja datang langsung ikut bicara. Ia mengacak-acak rambut Deku sebelum menempati tempat duduknya. Diambilnya roti yang sepertinya dikhususkan untuknya dan ikut bergabung. Baru ia melanjutkan, "Tapi sementara itu, ada urusan apa kau datang kemari,Todoroki? Apa Endeavor yang memintamu?"

"Orang tua itu memintaku mengabari kalian," ujar Shouto pendek. "Bahwa All for One sudah bangkit."

Aizawa memicingkan mata mendengarnya. Ia mengambil cangkir teh yang disediakan Kirishima di hadapannya dan menyeruputnya sambil menatap Shouto lekat. Pria yang menyandang sebutan Eraser Head itu berusaha mencari kebohongan dalam ucapan Shouto. Namun karena tak menemukannya ia pun berkata, "Apa orang tua itu tidak mengatakan padamu bahwa akulah yang mengangkut jasad All for One dan membuktikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa ia telah mati?"

Shouto menggeleng. "Aku dan Hawk mengatakan hal yang sama. Tapi salah satu hero asuhan orang tua itu memberi informasi yang menarik."

Manik hitam Aizawa menyipit, sementara itu dari belakang Katsuki sudah bergabung dan mengambil tempat di samping Deku. Bocah itu sendiri tampaknya lebih tertarik pada roti Allmight miliknya dibanding mendengarkan cerita Shouto.

"Ia bilang All for One memang nama quirk dan juga nama gelar," jelas Shouto. "Dan seperti One for All, gelar itu bisa dipindah tangankan."

Ketiganya memberikan reaksi yang berbeda. Bila Kirishima langsung menyanggah dan mengatakan bahwa itu tidak mungkin, Katsuki dan Aizawa lebih memilih untuk diam. Keheningan yang mereka berikan membuat Deku mengangkat kepalanya dan menoleh pada Katsuki lebih dulu. Namun Katsuki hanya mengacak rambutnya tanpa mengatakan apa pun.

"Apa buktinya?" Aizawa akhirnya berkata. "Aku tidak suka kalau kau hanya menyebarkan rumor tanpa dasar."

Hero yang kepopulerannya itu menduduki peringkat kedua mengangkat bahunya. Ia pun berkata, "Tidak ada. Hero yang mengatakannya pun langsung tewas setelah diselamatkan beberapa saat kemudian dengan kondisi quirkless."

"Quirk—"

"Dan dia tidak ditembak oleh Quirk Destroying bullet seperti milik Kai Chisaki," lanjut Shouto. "Memang tidak ada bukti bahwa All for One bangkit setelah membuat salah seorang hero kami tewas dan quirkless, tapi tetap saja—"

"Itu," ujar Aizawa sembari meletakkan cangkirnya, "memang terdengar seperti All for One."

Di sampingnya, Katsuki tak bisa mengatakan apa pun. Ia termenung sementara tangannya mengelus rambut si bocah berambut hijau tanpa sadar. Bahkan Deku sampai mengangkat kepala dan memanggil namanya.

"T-tapi bagaimana mungkin?" Kirishima berkata dengan tidak percaya. "All for One bukan quirk yang bisa diturunkan ke seseorang, atau pun dicuri. Pasti ada semacam quirk baru yang mirip seperti All for One."

"Aku pun akan mengira demikian bila aku tidak berhadapan dengan salah satu penjahat yang memiliki quirk seperti hero asuhan orang tua itu," jelas Shouto dengan kepala tertunduk. "Setelah kuceritakan, ia segera memintaku mengabarkan pada kalian."

Aizawa menyeruput teh nya mendengar perkataan Shouto. Sebelum mengemukakan pendapatnya, ia lebih dulu berkata pada hero asuhannya, "Bagaimana menurutmu, Bakugou?"

"Kenapa kau bertanya padaku, Bakazawa?" Katsuki balas bertanya. "Kau yang putuskan, bukan aku."

"Aku bertanya berhubung kau yang pernah berhadapan langsung dengan orang itu," tukas Aizawa, tidak sesabar biasanya. Sikapnya yang serius membuat Katsuki menyipitkan mata, terlebih ketika ia berkata, "Aku memang mengeluarkan jasadnya, tapi aku tidak tahu apa yang terjadi selama pertempuran kalian berlangsung."

"Tidak ada yang terjadi di dalam sana selain pertarungan, harus kujelaskan berapa kali baru kalian mengerti?" Katsuki balas menyemprot atasannya. "Memangnya kau pikir aku hanya mengobrol dengannya dan tahu-tahu kau mengeluarkan jasadnya?"

"I-itu betul, Aizawa-san," Kirishima akhirnya angkat bicara. "Katsuki memang baru enam belas tahun kala itu, tapi tidak mungkin ia hanya duduk dan mengobrol dengan penjahat sebesar All for One. Ia juga terluka parah kala itu dan dia—"

"Quirknya, Kirishima," Todoroki akhirnya berkata. "Yang membuatku penasaran adalah mengapa All for One tidak mengambil quirk miliknya, padahal hero nomor satu di hadapan kita ini memiliki quirk yang seharusnya menarik perhatian All for One."

"Apa kau tidak memikirkan kemungkinan bahwa aku sendiri yang melindungi quirk-ku dan menyerangnya habis-habisan sehingga ia tidak bisa merebutnya?" Katsuki balas bertanya. "Kau tidak terpikir hal itu, hanbun-yaro?"

"Bisa kau sebutkan apa saja quirknya waktu itu?" Todoroki balas bertanya. "Kau pernah berhadapan dengannya, kau tahu apa saja quirk yang ia gunakan tentunya. Tak mungkin ia pasrah dan menyerahkan nyawanya begitu saja padamu."

"Quirknya? Kau tidak tahu? Untuk ukuran hero nomor dua kau ternyata tidak tahu apa-apa." Katsuki balas mencibir. "Dia memiliki quirk yang dia ambil dari Ragdoll, Search, kemudian ia juga memiliki Warping, Air Cannon, lalu—"

"Dia punya Multiplier kalau boleh kuingatkan," Shouto kembali berkata. "Tidakkah kau terpikir bahwa ia hanya menggunakanmu, seolah-olah kau telah mengalahkannya sementara ia menduplikasi tubuhnya. Satu untuk dibawa keluar oleh Aizawa-san dan satunya lagi—"

"Jadi kau mau bilang bahwa yang kubawa keluar hanya duplikasinya saja?" Aizawa memotong ucapannya sebelum Shouto melanjutkan penjelasan. "Sempat kupikir begitu, tapi jasad yang kubawa keluar masih memiliki quirk yang sangat besar kala itu. Tidak mungkin duplikasinya memiliki quirk sebesar itu."

Shouto ingin membantah, namun ia tahu Aizawa tidak mungkin salah. Eraser Head membuat All for One tidak bisa menggunakan quirknya. Tapi kebangkitan ini pun bukan omong kosong sekalipun tak ada bukti atau pun kemunculan seseorang yang disebut All for One.

"Well," Aizawa akhirnya berkata sambil menyandarkan punggung pada kursi, "kurasa kebangkitan ini memang bukan sekedar rumor belaka."

Manik merah Katsuki menyipit sementara Kirishima menatapnya tak percaya. Namun sang atasan hanya menganggukkan kepala dan berkata, "Jangan menatapku begitu, Bakugou! Aku pun tidak bisa memberikan alasan yang logis, tapi aku tahu bahwa rumor ini tidak bisa kita anggap enteng."

"Lalu maksudmu aku tidak kompeten dan melepaskan penjahat hanya untuk mendapatkan gelar symbol of peace?" Katsuki balas berkata dengan jengkel.

"Aku tidak heran kalau kau ingin menjadi nomor satu, tapi tidak, aku tidak percaya bahwa kau mau bekerja sama dengan All for One untuk mendapatkannya." Aizawa berkata sambil menunjuk hero di bawah asuhannya itu. "Kau murid yang nilai kerja sama nya paling buruk. Jadi aku tidak yakin dengan teorimu, Todoroki."

"Aizawa-san, terkadang aku bingung apakah kau sedang memuji atau menghina Bakubro," Kirishima akhirnya berkata. "Tapi aku setuju dengan itu. Bakubro takkan mau bekerja sama dengan seorang penjahat."

Mendengar kedua teorinya disanggah, sang hero nomor dua memilih untuk tidak mengatakan apa pun. Ia mengangkat bahu dan berkata, "Apa pun pendapat kalian, bukan hanya aku saja yang mencurigai keterlibatan Symbol of Peace saat ini dengan Symbol of Evil di masa lalu. Apalagi dengan banyaknya penjahat yang muncul sekarang."

"T-tapi itu 'kan bukan salah Bakubro," ujar Kirishima. "Para villain itu membobol penjara dengan sistem keamanan terbaik."

"Peduli setan dengan anggapan mereka," Katsuki akhirnya berkata. "Mereka akan berhenti tutup mulut saat para penjahat itu sudah dikembalikan ke tempatnya."

Mendengar itu Kirishima menimpali dengan bersemangat sementara Aizawa hanya berkata, "Baguslah, kalau begitu sepertinya tidak masalah bila aku memberi sedikit tambahan pekerjaan."

"Tambahan pekerjaan?"

Aizawa mengangguk. "Penjahat kabur, kebangkitan All for One, Nomu di mana-mana, apalagi yang kalian harapkan selain tuntutan patroli yang semakin menumpuk?" Ia menyesap isi cangkirnya sampai habis sebelum melanjutkan, "Bahkan aku sendiri harus ikut turun dan berpatroli di jalan saking kurangnya hero yang ada."

Komentar terakhir Aizawa membuat Katsuki memicingkan mata. "Bukannya kau bilang sebelumnya bahwa kau akan menjaga Deku hari ini?"

"Ah!" Aizawa menunjuk Katsuki dan berkata, "Bagaimana kalau dia kubawa saja patroli? Aku cukup mahir menjaga anak-anak sambil patroli."

Hampir saja sejumlah sumpah serapah keluar dari bibir Katsuki. Bila Deku tidak berada di sisinya, niscaya ia akan menyembur seniornya itu. Sekarang ia terpaksa menahan jengkel.

Berhubung sudah berganti dengan seragam hero, mengantar Deku ke penitipan sepertinya bukan ide yang bagus. Memang waktu itu ia pernah menjemput Deku saat masih mengenakan seragam hero, tapi yang menemuinya hanya sang pemilik, bukan orang lain. Kalau sepagi ini, ia yakin masih banyak orang dan bukan tidak mungkin akan mencurigai keterkaitan Deku dengan Ground Zero.

Sikapnya yang keberatan tampak jelas di mata Deku. Menyadari situasinya, bocah itu akhirnya berkata, "Shocchan, Katsuki tidak suka aku ikut patroli."

Aizawa hanya tertawa dan berkata, "Aku tahu, Deku. Sekarang biarkan ia berpikir untuk mengantarmu ke penitipan atau membiarkanmu sendiri di sini."

"Umh, aku bisa menonton film—"

"Tidak," Katsuki menjawab cepat. Ia menghela napasnya terlebih dulu dan berkata, "Apa boleh buat. Aku akan mengantarnya ke penitipan dulu."

"Kalau begitu kau harus cepat, Bakubro!" Kirishima berkata sambil melirik pada jam dinding yang ada di belakang ruang tamu. "Jadwal patroli kita cukup padat hari ini."

"Aku ta—"

"Bagaimana kalau aku saja yang menjaga Deku?"

Ketiga pasang mata ditambah sepasang manik hijau menoleh ke arah Shouto bersamaan. Keempatnya sama-sama terkejut mendengar tawaran yang ia berikan. Namun sang hero nomor dua tampak tidak terpengaruh dan tetap santai menanggapi mereka. Bahkan ia menambahkan, "Jadwalku hari ini hanya pemotretan untuk majalah hero. Kurasa tidak masalah bila Deku ikut denganku."

Seperti yang dapat diduga, Katsuki mendengus dan menyatakan penolakan secara langsung. Namun berbeda halnya dengan atasan juga rekan sekerja yang menanggapi tawaran Shouto dengan positif. Terlebih anak kecil di sebelahnya yang berbinar-binar menerima tawaran itu. Katsuki yakin tak lama lagi kedua binar hijau itu akan diarahkan padanya dan ia akan mendengar bocah itu berkata, "Boleh? Katsuki, boleh?"

Katsuki sangat tergoda untuk menjawab 'Tidak' dan langsung mengantar bocah itu ke penitipan anak. Tapi binar di manik bocah itu sangat sulit untuk ia abaikan. Bila ia harus menolak maka ia akan mencoba cara yang akan digunakan oleh orang dewasa.

"Kau yakin? Kau akan diabaikan saat hero nomor dua itu melakukan pemotretan, lho!" Katsuki berkata. "Pasti bosan setengah mati."

"Oh, hanya beberapa shot, tidak banyak. Biasanya selesai dalam satu jam," Shouto menimpali. "Setelah itu kita bisa pergi ke mana pun yang kau mau, Deku."

Mendengar itu, manik hijau Deku semakin melebar. Ia pun kembali menoleh pada Katsuki dan berkata, "Katsuki, boleh? Boleh?"

Bila sudah demikian, Katsuki tahu akan sulit sekali menolak permintaan bocah ini. Sekali lagi ia menghela napas dan menatap si bocah. Meskipun ia tidak menyukai Shouto, ia tahu bahwa sang hero nomor dua bisa dipercaya untuk menjaga bocah itu. Makanya walau keberatan Katsuki akhirnya mengangguk dan berkata, "Jangan nakal!"

Terdengar gumaman riang si bocah sebelum mengucapkan terima kasih. Dipeluknya Katsuki erat yang dibalas Katsuki dengan mengelus punggung bocah itu. Meskipun raut wajahnya enggan, siapapun bisa melihat betapa sayangnya sang hero pada bocah itu.

"Melihat sikapmu sepertinya satu kelas takkan percaya bila Deku disebut keponakanmu."

Kedua alis Katsuki berkerut dan ia berkata, "Keponakan? Kau bicara apa, hanbun-yaro?"

"Oh, soal itu, aku yang mengatakannya," ujar Kirishima yang tiba-tiba menimpali. "Kemarin aku menerima email yang mengatakan bahwa kelas 1A akan mengadakan reuni minggu ini. Aku menerima undangannya dan Kaminari meneleponku untuk menanyakan apakah kita akan ikut."

Katsuki menggeleng, "Pass. Aku harus menjaga Deku."

"Nah, aku tahu kau akan menjawab demikian sehingga aku mewakilimu mengatakannya pada Kaminari," Kirishima melanjutkan ceritanya. "Tapi Kaminari bilang kau boleh membawa membawa Deku ke acara reuni. Menurutnya, Jiro dan yang lain pasti senang bila ada anak kecil yang bergabung."

"Hah?"

Kirishima mengangkat bahu, "Sepertinya sudah menyebar rumor bahwa kau tengah merawat seorang anak dan Kaminari menanyaiku identitas anak yang kau rawat itu. Makanya untuk mempersingkat penjelasan, aku berkata bahwa kau tengah merawat keponakan dari saudara jauh nenekmu."

Mendengarnya Katsuki hanya bisa tenganga. "Jadi itu sebabnya Sato langsung mengira Deku keponakanku."

"Sato? Kau bertemu Sato?"

"Dia yang membuat semua roti yang kalian makan," jawab Katsuki.

"Oh begitu," ucap Kirishima sembari menatap roti yang belum sempat dibukanya. "Pantas saja bentuk rotinya tampak tak biasa. Apalagi ada yang mirip Todoroki begini."

"Tunggu!" Katsuki tiba-tiba menyadari. "Darimana mereka tahu bahwa aku sedang merawat seorang anak? Aku hanya pernah membawanya patroli sekali, selain itu tak ada yang tahu bahwa aku bersama anak ini selain Slime yang kita kirim ke penjara."

Kirishima mengangkat bahu, "Entahlah, mungkin waktu itu ada TV yang kebetulan menyorotmu atau apa. Bagaimana kalau nanti kau tanyakan saja pada mereka?"

Jawaban Kirishima tak membuat Katsuki puas. Ia justru curiga. Memang harus diakui bahwa terkadang ia membawa Deku dalam balutan seragam kerjanya, tapi pada saat itu harusnya tak ada yang berpikir bahwa ia tengah merawat seorang anak. Seorang hero dan anak kecil saat patroli bukan hal yang tak lazim.

"Apa pun itu," Aizawa akhirnya berkata, "Bagaimana kalau kalian segera berangkat, Bakugou, Kirishima? Seperti yang sebelumnya kukatakan, jadwal kalian padat."

Menghela napas Katsuki terpaksa menyingkirkan kejanggalan tersebut. Ia pun mengusap kepala Deku sekali lagi sebelum berjalan keluar diikuti Kirishima. Ia keluar lebih dulu sementara Kirishima mengucapkan salam sebelum berlalu.

"Kalau begitu aku juga harus segera berangkat," ujar Shouto sambil bangkit berdiri. Ia mengulurkan tangannya dan berkata, "Ayo, Deku!"

Deku mengangkat kepalanya setelah menghabiskan gelas berisi susu miliknya. Ia menerima uluran tangan Shouto dan membiarkan pemuda itu membantunya turun dari kursi. Baru setelahnya Shouto berlutut dan menggendongnya.

"Aku bisa jalan, Shouto," protes Deku. "Tidak mau digendong."

"Tidak apa," jawab sang hero, "Kirishima bilang kau baru belajar berjalan akhir-akhir ini jadi sebaiknya kau tidak memforsir kakimu."

"Umm~"

Melihat itu Aizawa hanya berkata, "Kalau seperti ini, kau pun tak ada bedanya dengan Bakugou, Todoroki."

Shouto menoleh pada Aizawa. Ia menatap sang pro hero yang merupakan mantan wali kelasnya di U.A selama beberapa saat. Baru setelahnya ia berkata, "Soal Bakugou, ada yang perlu kusampaikan padamu, Aizawa-san."

Aizawa mengangkat alis namun ia berkata, "Apa pun itu sepertinya takkan membuatku terkejut."

Manik dwiwarna Shouto menyipit. Lama ia tidak bersuara sebelum akhirnya ia berkata, "Apa kau tahu bahwa para penjahat mengatakan bahwa Ground Zero punya kelemahan besar?"

"Kalau yang kau maksud temperamennya, aku sudah tahu itu. Bahkan itu sudah menjadi rahasia u—"

"Aku bicara soal anak ini," potong Shouto cepat. "Aku tidak tahu bagaimana mereka mengetahuinya tapi mereka berencana menggunakan anak ini. Apa kau tahu itu?"

"Yah—"

"Kau sudah tahu," Shouto berkata lagi. "Orang tua itu pun mengatakannya padamu. Tapi kenapa kau belum memberitahukannya pada Bakugou?"

"Sebelum ayahmu mengatakannya pun aku sudah tahu," jawab Aizawa tenang. "Kalau tidak, bagaimana caranya menjelaskan kemunculan Nomu yang begitu banyak dua kali dalam seminggu ditambah dengan kemunculan Muscular di sekitar Musutafu?"

"Lalu kenapa kau tidak—"

"Kau kira, apa yang akan dilakukannya kalau ia tahu?" Aizawa balas memotong ucapannya. "Aku tahu sifatnya yang temperamen dan aku takkan heran kalau tiba-tiba ia menyerbu markas para penjahat seorang diri karena anak ini."

Kali ini Shouto tak langsung menjawab. Ia memicingkan mata dan kembali berkata, "Aku juga takkan heran bila ia melakukannya."

"Dia memang sangat kuat, tapi menyerbu markas para penjahat itu sekarang terlalu berbahaya," ucap Aizawa. "Mereka menyembunyikan sesuatu dan aku tidak mau mengambil resiko dengan mengirimkan satu-satunya harapan menang kita untuk sesuatu yang belum pasti."

Alis Shouto terangkat dan ia berkata, "Kau menilainya cukup tinggi kalau begitu."

Aizawa tidak berkomentar. Ia hanya menyeruput tehnya dalam diam. Melihat itu, Shouto pun tak mau banyak bicara. Setelah mengucapkan salam perpisahan pada mantan wali kelasnya, pemuda itu membawa Deku keluar. Keduanya menuruni tangga dan menuju ke tempat di mana mobil sang hero diparkir.

Ia membukakan pintu terlebih dulu untuk Deku dan memakaikan seat belt pada bocah itu. Baru setelahnya ia mengitari mobil dan duduk di kursi pengemudi. Tangannya menyentuh kemudi dan menggerakkan persneling untuk mulai menjalankan mobil dan meluncur di jalan. Sembari menyetir, tak lupa ia menyalakan radio untuk menghibur penumpang kecilnya. Tidak ada yang bicara hingga si penumpang membuka mulut dan memanggil namanya.

"Shouto," panggil bocah itu, "apakah aku membuat Katsuki dalam bahaya?"

Shouto mengerjap. Ia tidak menyangka bahwa bocah kecil ini mengerti pembicaraannya dengan Aizawa sebelumnya. "Kenapa kau bilang begitu, Deku?"

Bocah di sampingnya tidak langsung menjawab. Ia diam sebentar sebelum berkata, "Shouto bilang orang jahat itu tahu bahwa Katsuki merawatku, dan itu sebabnya mereka mengancam Katsuki."

Tidak salah lagi, bocah ini memang memahami pembicaraan mereka berdua. Salah besar bila ia meremehkan kemampuan bocah ini membaca situasi. Seharusnya ia tidak mengatakannya di hadapan si bocah. Sekarang ia tidak punya pilihan selain menenangkan bocah itu.

"Tidak ada yang bisa mengancam Ground Zero, Deku," Shouto kembali berkata. "Para penjahat itu tahu bahwa Ground Zero sendiri yang akan datang bila mereka berani macam-macam terhadap orang yang disayangi sang hero. Mereka semua takut pada Ground Zero."

Deku mengerjap pelan. Ucapan Shouto membuatnya sedikit tenang. Namun ia menggerakkan kepala dan berkata, "Orang yang disayangi Ground Zero?"

Lampu merah di hadapannya membuat Shouto terpaksa menghentikan laju. Ia menoleh pada Deku sementara satu tangannya disentuhkan di atas rambut hijau bocah itu. "Ya, orang-orang yang ia sayangi."

"Aku juga?"

Ucapannya lagi-lagi membuat Shouto mengerjap. "Bukankah sudah jelas?"

Kepala Deku bergerak pelan. Ia menatap Shouto lama sebelum mengerutkan dahi.

"Kau tidak menyadarinya?" Shouto kembali berkata. Pemuda itu pun tertawa dan berkata, "Aku tidak pernah melihat Bakugou seperti itu pada anak kecil! Apalagi kalau kau melihat ekspresinya saat menghadapi Nomu waktu itu."

"Ekspresi Katsuki?" Deku mengulangi ucapannya. Bocah kecil itu tampak berpikir keras namun ia tidak menemukan jawabannya.

"Ketakutan," ucap Shouto getir. "Hero yang tak gentar melawan All for One justru menunjukkan ketakutan di hadapan seorang anak kecil. Bukankah itu aneh?"

Deku mengerjapkan mata. "Katsuki takut padaku?"

Shouto menatapnya lama sebelum kembali tersenyum. Tangannya mengacak-acak rambut bocah itu sebelum kembali pada persneling. Ia tidak menjawab pertanyaan Deku dan hanya berkata, "Sudahlah."

Bocah itu masih hendak bertanya namun Shouto tak berniat menjawab. Lampu merah telah berganti menjadi lampu hijau sehingga ia kembali menjalankan mobil. Dari sudut matanya, ia menatap bocah yang duduk di sampingnya.

Dalam hatinya, ia bertanya-tanya mengapa seorang Bakugou Katsuki bisa bersikap demikian pada seorang anak? Padahal setahu Shouto, anak ini adalah anak yang ditemukan olehnya saat misi dan sama sekali tidak ada hubungan apa pun. Tapi mengapa afeksi Bakugou pada anak ini terasa begitu kuat hingga membuat Shouto tak mengenali saingannya itu.

Jangan-jangan... ini quirk? Bakugou Katsuki terkena quirk anak ini? Quirk yang membuat seseorang memiliki afeksi yang besar pada penggunanya?

Kalau memang demikian, berarti sikapnya juga—

Ia menggelengkan kepala. Tanpa sadar ia bergumam. "Tidak. Itu tidak mungkin."

.

.

.

(t.b.c)


A.N:

Selamat malammm! Kembali lagi dengan Cyan. LOL. Makasih banyak buat yang uda nungguin chapter ini dan monmaap karena uda mulai slow down kembali ngelanjutnya. Nggak mau muluk-muluk janji tiap minggu apdet, tapi diusahakan :P

Aniway untuk :

el Vtrich : kayaknya pertama kalinya seumur hidup Katsuki ada yang berani nyatain suka ke dia (anak kecil lagi), lol., Dengan sikap begitu hampir nggak mungkin ada yang suka, tapi syukurlah ya Kacchan. Kayaknya kita perlu masak nasi merah buat ngerayain. Gimana Vtrich, join? :P

Hem, aku ngerti banget perasaan itu. Antara pengen nyiksa Kacchan sama nggak tega (*hati-hati sama telinga setan Kacchan). Tapi kayaknya bukan cuman Kacchan doang yang sedih kalo mereka pisah. Banyak yang kena quirk afeksi Deku soalnya :P

Aniway, makasih banyakkkk, aku juga rajin ngecekin notif ff, kalo ada review dari Vtrich juga XD review kalian bikin aku senyum-senyum nggak jelas sekalipun kerjaan real life aku lagi berat-beratnya ;")

hanazawa kay :iyaaa, aku apdet agak lama karena hari libur pun belakangan padat, jalan ke sana kemari kayak gasing, haha, akhirnya nggak sempet lanjut lagi, T^T

Waduh, pisah nggak ya? Kalau Katsuki jagain baik-baik kayaknya nggak akan pisah sih :P apalagi ada Bang Dispenser yang kayaknya jadi regu penyelamat Deku juga.

CahyaNyagi : hola Cahya, salam kenal XD makasih banyak uda nyempetin waktu untuk review dan seneng banget kalo kamu suka ceritanya

LOL, makasih banyak buat semangetnya, belakangan ini memang agak lama karena lagi padet jadwal liburku, tapi tetep diusahakan untuk apdet :D semoga kamu sabar menunggu

Btw, Allmight nya kalo segede gunung Everest, bisa-bisa dia dimarahin ama Kacchan karena nggak punya tempat nyimpen. Tapi pasti Kacchan kalah sih kalo Deku uda nangis :P nanti bujuk Deku aja ya, biar dia ngerengek sama Kacchan, pasti diturutin kalo uda gitu :P

Also, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D

For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD

Cheers,

Cyan.