Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.
Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi
Until we meet again by cyancosmic
Enjoy!
Ask 8. What if there's someone who know him?
Shouto tidak pernah menduga bahwa pemotretan yang biasanya membosankan menjadi begitu berantakan hanya karena kedatangan seorang anak kecil. Sejak ia membawa bocah kecil berambut hijau bersamanya, para stylist, hero-pro dan staff pemotretan berdatangan mengerumuni bagaikan laron mengelilingi lampu. Itu saja sudah cukup buruk, belum lagi ditambah fakta bahwa anak kecil yang ia bawa tidak begitu menyukai kehadiran orang asing.
"Lucunya!" Salah seorang hair stylist nya berkata sambil merapikan rambutnya. Di sampingnya, Deku diberikan bangku khusus dan dibiarkan memainkan figurin Allmight dengan serius agar Shouto bisa terus mengawasi. "Anak siapa ini, Shouto-kun?"
"Oh, anak salah satu sepupu jauhku," ujar Shouto sambil mengamati bocah yang tengah asyik sendiri.
"Sepupu jauh?" Sang hair stylist mengangkat alis. Biasanya hero pro nomor dua itu tak pernah menceritakan apa pun mengenai keluarganya. Makanya ia sedikit aneh melihat sang hero tiba-tiba membawa anak kecil bersamanya. Terlebih mengatakan bahwa anak itu merupakan anak salah satu kerabatnya. Ia kira selama ini sang hero tak punya keterikatan khusus terhadap keluarga.
"Ya," jawab Shouto, tak menyadari anggapan para staff mengenai dirinya, "ayah dan ibunya sedang ke luar negeri, dan kebetulan aku senggang."
"Senggang?" Sang hair stylist mengulangi ucapan Shouto dengan nada tak percaya. "Seorang hero seperti kau yang selalu sibuk dengan pemotretan dan tugas hero disebut senggang? Oh, yang benar saja!"
Sekali ini Shouto tidak menjawab. Memang seperti yang hair stylistnya katakan, hari-harinya penuh dengan jadwal foto, wawancara, syuting, tapi bukan berarti ayahnya akan memberi kelonggaran. Shouto sendiri pun lebih suka menjadi hero dibanding mengikuti serangkaian kegiatan selebritis hero. Tapi apa mau dikata, kalau ia tidak menyibukkan diri, ia akan sering sekali bertemu dengan sang ayah dan ia berusaha menghindari hal tersebut bila ingin hari-harinya damai.
Hari ini pun sebetulnya hari liburnya namun ia memaksakan diri untuk mendatangi studio pemotretan dibanding di rumah atau ikut sang ayah patroli. Kebetulan saja orang tua itu memintanya mendatangi agensi Aizawa Shouto sebelum ia berangkat dan bertemu Deku. Berkat bocah itu, ia punya alasan bagus untuk tidak kembali ke rumah tepat waktu.
"Habis ini kau ada acara?" Sang hair stylist kembali bertanya. "Mau ikut minum dengan staff lain?"
"Maaf, aku sudah janji dengan Deku hari ini," jawab Shouto sambil menggerakkan kepalanya ke arah si bocah. "Menemaninya seharian."
Sang hair stylist tertawa mendengar jawabannya. Disisirnya sekali lagi rambut Shouto sebelum memberikan sentuhan spray dan membiarkannya berantakan yang menjadi tema pemotretannya hari ini. Setelah itu kembali berkata, "Alasan! Kau bahkan bukan orang tuanya. Kau hanya mencari cara untuk kabur."
Sekali lagi Shouto memilih untuk tidak menjawab hingga sang hair stylist menyelesaikan tugasnya. Baru setelah wanita itu pergi, Shouto bangkit dari kursi dan menghampiri Deku. Digendongnya bocah itu yang ditanggapi oleh si bocah dengan menoleh bingung.
"Kau lapar?" Shouto bertanya berhubung sudah hampir jam makan siang. "Mau kuminta mereka membelikan sesuatu dulu?"
Deku menatapnya sebelum menggeleng pelan. "Tidak lapar. Shouto sudah selesai?"
"Belum, aku baru mau mulai," jawab Shouto sementara mereka tiba di studio. Di dalam, hero lain yang sudah selesai melakukan pemotretan keluar lebih dulu. Mereka mengenakan pakaian yang membuat si bocah meletakkan seluruh atensinya pada para hero di dalam. "Kalau kau lapar, kau bisa makan dulu."
Perkataan Shouto membuat Deku lagi-lagi menggeleng pelan. Sang hero nomor dua meletakkan Deku di bangku yang masih kosong dan tak jauh dari stage pemotretannya. Setelah itu ia pun berkata, "Jangan ke mana-mana ya! Nanti aku sulit mencarimu."
Deku mengangguk sekali sebelum Shouto meninggalkannya. Begitu pemuda dengan rambut dwiwarna itu pergi, perhatian Deku beralih pada wanita dengan baju cheongsam dan memiliki hiasan rambut dan sayap naga. Bocah itu terus mengamati hingga kepalanya bergerak mengikuti ke mana wanita itu pergi. Namun ketika itu, muncul hero baru yang terlihat seperti akar berjalan masuk ke dalam ruangan sehingga kedua manik hijaunya terpaku pada hero baru itu.
"Oh, hero Shouto menjadi cover untuk majalah bulan ini?" Hero yang mirip seperti tumbuhan berjalan itu berkata. "Pasti edisi bulan ini akan laku keras."
"Kamui!" Sang fotografer berkata saat melihatnya. "Kau sudah bersiap? Habis ini giliranmu."
"Sudah," jawab sang hero tenang. "Ngomong-ngomong aku melihat Ryugu dan Best Jeanist di depan."
"Mereka juga baru selesai sesi," jawab si Fotografer tenang. "Ngomong-ngomong kau pernah dengar tentang hero yang namanya Control?"
Manusia yang mirip tumbuhan itu menggeleng dan berkata, "Control? Tidak. Apa dia termasuk salah satu hero yang biodatanya akan dikenalkan bulan ini?"
Fotografer yang tengah menyetting kameranya itu mengangguk dan berkata, "Kudengar begitu. Tapi aku sendiri tidak pernah mendengar tentangnya. Pastilah Editor kali ini sudah kehabisan biodata para hero sehingga asal memasukkan hero yang tidak terkenal."
Kamui mengangkat bahu. Ia mengambil tempat duduk di samping bangku yang ditempati Deku. Pria itu melirik anak kecil di sampingnya sekilas sebelum menunjuknya dan berkata, "Anak siapa ini?"
Deku mengerjap, tidak bergerak saat melihat sang hero menunjuknya. Kekagumannya terhadap sang hero membuatnya lupa bahwa ia sedang dikelilingi oleh orang-orang tak dikenal. Ia tidak menjawab hingga seseorang menggantikannya bicara.
"Itu kerabat Shouto," jawab sang Fotografer. "Duduklah dan jangan ganggu dia, Kamui!"
"Aku tidak mengganggunya," balas Kamui sebal. Ia duduk di samping bocah yang masih mengamatinya dengan manik berbinar. Sikapnya membuat Kamui tidak punya pilihan selain menoleh dan mengajaknya bicara. "Siapa namamu, bocah?"
"Deku," jawabnya. "Katsuki memanggilku Deku."
Alis Kamui berkedut. Ia tidak mengenal Katsuki yang dimaksud namun ia tak menanyakan lebih lanjut. Ia mencoba mengajak bicara hal lain namun bocah itu memintanya mempertunjukkan quirknya. Maka ia pun mengabulkan permintaan si bocah dan mengeluarkan ranting dari kedua tangannya.
Sikapnya membuat bocah kecil itu terhibur dan terkagum-kagum melihat ranting yang menjulur dan menumbuhkan daun. Sembari bertepuk tangan, bocah itu meminta Kamui untuk sekali lagi mempertunjukkan kemampuannya. Tentu saja Kamui menanggapinya dengan senang dan tak lama kemudian keduanya sudah akrab satu dan yang lain.
Tak ada yang menyadari bahwa model yang tengah melakukan pemotretan justru terpaku pada interaksi keduanya. Tak menyangka bahwa seorang hero seperti Kamui yang juga dikenal tak akrab dengan anak-anak begitu mudahnya mengikuti permintaan bocah satu itu. Melihatnya, Shouto meyakinkan dirinya bahwa teori mengenai quirk anak itu mungkin ada benarnya.
Ia pun tak lagi memerhatikan dan membiarkan keduanya mengobrol. Tak lagi menyadari bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan dan mendekat ke depan. Pandangan orang itu tertuju pada Shouto sekilas dan berjalan menuju ke arahnya. Menunggu gilirannya untuk melakukan pemotretan.
"Oh," seru Kamui yang menyadari kehadiran orang itu terlebih dahulu. Sosok berambut keunguan dengan rambut mengembang bagai tersengat listrik dan mata berkantung itu menoleh padanya. Caranya menoleh dan seragam yang dikenakannya membuat Kamui berkata, "Kau Control?"
Pemuda itu tidak berniat menjawab. Ia bahkan tak menyadari kehadiran Kamui sebelumnya. Ia hendak melengos dan menjauh sebelum menoleh kembali pada sang hero. Bukan, bukan sang hero, melainkan pada anak kecil berambut hijau yang ada di samping Kamui.
Deku mengangkat kepalanya dan menoleh ke samping. Manik hijaunya mengamati pemuda dengan rambut ungu mengembang dengan ekspresi lelah di wajah. Namun ekspresi itu berubah, kelelahan yang semula terlihat berganti menjadi keterkejutan. Tidak lebih baik memang namun jauh lebih menarik.
"Kau—"
"Ah, kau pasti Control!" Kamui berkata ketika melihatnya. "Hero yang biodatanya akan diungkap di edisi bulan ini."
Deku menoleh pada pemuda itu sekali lagi dan berkata, "Control?"
Pemuda itu mengerutkan alis. Ia memberikan tatapan menyelidik pada bocah itu. Hanya saja tak ada yang ditemukannya selain kepolosan bocah itu. Mengerjapkan mata, Control pun tak mengatakan apa pun dan kembali menatap ke depan.
"Sepertinya benar," ujar Kamui sekali lagi saat melihatnya. "Tapi aku penasaran, seperti apa quirk-mu sehingga kau menyandang sebutan Control? Apa kau bisa mengontrol orang lain? Atau objek tertentu?"
Control tidak menjawab. Ia memilih untuk mengambil jarak di antara keduanya dan menepi ke sudut. Kedua tangannya terlipat di depan dada sementara pandangannya tertuju ke depan. Sikapnya membuat Kamui menghela napas, menyerah mencoba untuk mengakrabkan diri dengannya. Akhirnya pro hero itu kembali mengalihkan perhatian pada Deku dan kembali mengobrol.
Sementara itu Control mengamati keduanya. Pandangan matanya terfokus sepenuhnya pada anak kecil yang duduk dan mengobrol bersama Kamui. Rambut hijau, manik hijau yang berbinar saat membicarakan quirk itu tak asing baginya. Ia mengenali orang yang sama hanya wujudnya tidak seperti ini. Dan orang itu—
Ia terus memerhatikan hingga sang hero nomor dua selesai menjalani sesi pemotretan dan berganti dengan Kamui. Awalnya ia mengira Kamui lah wali asuh sang anak, namun ia terkejut ketika melihat sang hero nomor dua menggendong anak itu dan membawanya pergi. Ia bahkan mendekat pada keduanya dan memancing keingintahuan sang hero ketika ia berdiri menghalangi jalan.
"Hm?" Shouto berkata saat melihatnya. "Siapa kau?"
Mulutnya terhalang oleh banyaknya perban yang menghalangi wajahnya. Ia ingin menjawab namun anak kecil di pelukan Shouto lebih dulu menunjuk dan mewakilinya bicara. "Namanya Control, Shouto. Seorang hero."
Alis Shouto terangkat mendengar informasi dari anak yang dibawanya. "Oh, kau Control yang dibicarakan tadi?"
Control menatapnya. Berbeda dengan Kamui, kali ini ia membuka mulut dan berkata, "Mereka menyebutku begitu."
Dalam hati, Shouto bertanya-tanya apa yang menyebabkan hero yang satu ini dipanggil Control. Sebutan itu terlalu ambigu dan tidak jelas obyeknya. Ia ingin bertanya sebelum anak kecil di pelukannya mengatakannya lebih dulu.
"Kenapa mereka menyebutmu begitu?" Deku bertanya. "Karena kau mengontrol sesuatu?"
Manik indigo Control menyipit. "Benar."
"Apa persisnya yang kau kontrol?" Shouto kembali berkata. "Semua quirk tentunya mengontrol sesuatu, tapi apa persisnya yang kau kuasai hingga mereka menyebutmu demikian?"
"Kau mau tahu, Shouto?"
"Aku—"
"Aku mengontrol pikiranmu," jawab Control seketika dan membuat Shouto sedikit terbelalak. Pemuda berambut ungu itu mendekat, menyentuh bahu Shouto dan berkata, "Anak siapa itu, Shouto? Kenapa anak itu bisa berada bersamamu? Jawab aku!"
Tanpa dikehendaki, Shouto membuka mulut. Untunglah saat itu tak ada yang memerhatikan percakapan keduanya berhubung Shouto berkata, "Bukan anak siapapun. Bakugou Katsuki merawatnya dan aku hanya membantu menjaganya hari ini."
Sekali lagi Control menyipitkan mata. Ia tahu nama itu. Bakugou Katsuki adalah nama asli untuk hero nomor satu saat ini, Ground Zero. Bila perkataan hero Shouto benar, maka yang merawat anak ini adalah—
"Turunkan anak itu!" Control berkata sekali lagi yang langsung dipatuhi Shouto tanpa bisa membantah. "Pergi dan tinggalkan anak itu di sini!"
Seluruh tungkai Shouto bergerak tanpa dikehendaki. Diturunkannya Deku dari kedua tangannya sementara kakinya melangkah menuju ke pintu keluar. Ia sama sekali tidak menyangka ini. Menyadari bahwa Shouto dalam kesulitan, Deku akhirnya mengambil tindakan. Ia memukul kaki Control dan dengan suara mencicit ketakutan, bocah itu berkata, "Hentikan!"
Mendengar suara bocah itu, Control tidak serta merta menghentikan perintahnya. Ia membiarkan Shouto terus berjalan, membuka pintu bahkan menutupnya. Baru saat itu perhatiannya tertuju pada Deku. Disamakannya tingginya dengan si bocah sementara ia menatap bocah itu lekat.
"J-jangan menjahati Shouto," cicit bocah itu. "Kembalikan Shouto!"
Control menatapnya. Bukannya mengikuti permintaan bocah itu, Control malah berkata, "Kau tidak mengenalku?"
Deku mengerjap bingung. Baginya, semua hero itu asing dan ia bahkan belum pernah melihat hero yang dipanggil Control itu di televisi. Makanya ia menggeleng pelan sementara matanya menatap waspada.
"Betul-betul tak mengenalku?" Control bertanya sambil mencengkeram kedua lengan Deku membuatnya meringis. "Ini aku, Hitoshi. Sinsho Hitoshi."
Manik hijau menatap bingung pemuda di depannya tapi ia tidak merasa takut. Meski tangan pemuda itu menyakitinya, meski pemuda itu membuat Shouto pergi, tapi pemuda itu tidak jahat. Pasalnya, Deku melihat ekspresi yang sama di wajah pemuda itu, seperti waktu ia menyaksikan ekspresi Katsuki.
"Aku... tidak mengenalmu," Deku berkata sekali lagi. "Apa kau mengenalku?"
Shinso menatapnya. Ia tahu bocah itu tidak berbohong. Tapi bocah ini terlalu mirip dengan orang yang ia kenal. Makanya ia tak bisa begitu saja melepaskan bocah itu. Sehingga dibanding menjawab, ia malah berkata, "Apa kau punya kerabat di sini?"
Sekali lagi Deku menggeleng. "Aku tidak tahu."
"Bagaimana mungkin kau tidak tahu?" Shinso berkata dengan nada frustasi. "Jawab aku!"
Suaranya membuat Deku terhipnotis. Ia menatap Shinso dan kata-kata yang meluncur dari bibirnya membuatnya bingung. Ia tidak ingin bicara tapi bibirnya berkomat kamit dan berkata, "Tidak tahu. Sungguh!"
Mendengarnya, Shinso pun menatapnya bingung. Ini tidak mungkin. Ia sudah menggunakan quirknya pada bocah ini, tapi kenapa bocah itu tetap menjawab tidak tahu? Apakah pertanyaannya salah? Ataukah... jangan-jangan tidak ada kerabat yang serupa dengannya? Tapi—
Ketika Shinso sibuk berpikir, pintu ruangan menjeblak terbuka mengagetkan siapa pun yang berada di dalam. Namun yang lebih mengejutkan, mereka melihat kobaran api membakar dan menghanguskan hampir separuh baju yang dikenakan sang hero. Sementara di kedua tangannya api berkobar dan es membesar secara bersamaan.
"S-Shouto," cicit Deku ketika melihat hero satu itu. Ia hendak mendekat namun Shinso menahan lengannya sehingga ia tidak bisa berlari menuju ke arah Shouto. Sekali lagi ia hanya memandang pasrah, berharap Control mau melepaskan tangannya.
"Sekarang aku paham mengapa mereka memanggilmu Control," ujar Shouto sembari mendekat. Suaranya membuat para staf pemotretan, bahkan sang fotografer dan Kamui pun berhenti karena menyadari ketegangan dalam suaranya. "Benar-benar quirk yang menyusahkan."
Control bangkit berdiri. Ia melepaskan tangannya dari Deku dan membiarkan bocah itu berlari menghampiri Shouto. Untunglah ia melakukannya, karena bila tidak, api dan es di kedua tangan sang hero takkan segera padam.
"Shouto, baik-baik saja?" Deku bertanya saat melihat baju sang hero hangus terbakar separuh.
"Tidak apa, Deku," jawab Shouto sembari menggendong si bocah. Ia juga memutar bocah itu sedikit dan berkata, "Kau sendiri baik-baik saja? Ia tidak melakukan hal yang jahat padamu?"
Deku menggeleng dan berkata, "Tidak. Control tidak jahat, Shouto. Tidak apa-apa."
Tentu saja Shouto tak semudah itu memercayai perkataan anak kecil di sampingnya. Dari sudut pandangnya, orang itu baru saja menyerangnya dan memintanya meninggalkan Deku. Apa yang diinginkannya dari anak kecil itu hingga memintanya pergi menggunakan quirknya? Kalau memang orang itu tidak jahat, ia tidak perlu menggunakan quirk untuk mengusirnya, bukan? Mereka bertiga dapat membicarakannya.
"Deku, kau tidak mengerti—"
Perkataannya terpotong ketika mendengar suara tawa Control. Melihatnya, Shouto kembali meningkatkan kewaspadaan. Ditariknya Deku ke belakangnya sementara kedua tangannya memancarkan api dan es bersamaan.
"Maaf, kau tadi bertanya seperti apa quirk-ku, bukan?" Control akhirnya berkata setelah suara tawanya berhenti. "Aku baru saja mendemonstrasikannya."
"Apa?"
"Quirk," ulang Control sekali lagi. "Bukankah kau bertanya? Aku hanya mencoba menjawabnya dengan caraku."
Shouto tak habis pikir. Bukankah orang itu dapat mengatakannya dibanding mendemonstrasikan quirknya dengan menggunakan Shouto sendiri sebagai uji coba? Apa ia pikir Shouto akan semudah itu memercayai dan membiarkannya begitu saja?
"Maaf belum memperkenalkan diri," ujar Control dengan suara yang jauh lebih santai. "Namaku Shinso Hitoshi, meski orang-orang lebih banyak memanggilku dengan sebutan Control. Salam kenal, pro hero Shouto."
Kedua manik dwiwarna Shouto menatapnya waspada. Menurut percakapan yang ia dengar antar Kamui dan sang fotografer, tak ada yang pernah mendengar nama Control maupun Shinso Hitoshi. Tapi untuk lebih pastinya ia akan menanyakannya pada Hawk, yang lebih banyak mengenal hero dibanding dengannya. Untuk saat ini, sebaiknya ia tak mengambil tindakan yang mencurigakan.
"Salam kenal," ujar Shouto sambil menjabat tangan pemuda di hadapannya. Bila diperhatikan, kemungkinan pemuda ini pun seusia dengannya dan Bakugou. Wajahnya masih cukup muda sekalipun kantung matanya cukup tebal. "Namaku sama dengan nama heroku. Kau bisa memanggilku Shouto."
Control pun turut menjabat tangannya. Mereka bertatapan untuk beberapa saat sambil menyimpan pikiran masing-masing. Beberapa saat kemudian baru mereka melepaskan pegangan tangan dan mundur selangkah. Bersamaan dengan itu para staf yang sebelumnya mengerumuni dan mengira ada sesuatu pun kehilangan ketertarikan dan berbalik.
"Kalau begitu, aku permisi dulu," ujar Shouto sambil menggandeng tangan Deku. "Kami harus pergi."
Control menyimpan tangannya di dalam saku celana. Matanya menyipit seolah memberikan senyuman sebelum mengantarkan kepergian sang hero nomor dua. Namun begitu sang hero berbalik, ekspresi wajahnya kembali sementara tangannya mengepal erat.
Shouto sendiri sempat berbalik. Namun saat itu sang hero pun berpaling untuk mengamati pemotretan Kamui. Melihat bahwa orang itu tak lagi memerhatikannya, Shouto pun menggeleng dan berlalu dari ruang pemotretan. Ia menerima baju pengganti dari salah satu staf yang menghampirinya dan mengenakannya lebih dulu sebelum berjalan keluar. Ketika mereka sudah berada di dalam mobil barulah ia menoleh pada Deku dan kembali mengajak bocah itu bicara.
"Control benar-benar tidak melakukan apa pun padamu, Deku?" Shouto bertanya sembari mengenakan seat beltnya sendiri. Ia menoleh sejenak sebelum menjalankan mobil.
"Tidak," jawab Deku sambil menggeleng. "Ia hanya bertanya apa aku mengenalnya."
"Kau mengenalnya?" Shouto bertanya, sedikit tidak mengerti.
Deku menggeleng dan balas menatapnya dengan kebingungan yang sama. "Tidak kenal."
Mendengar ucapan Deku, Shouto pun memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh. Ia bisa melihat bahwa bocah ini benar-benar kebingungan, namun ia tidak heran. Menurut Kirishima, Deku ditemukan dalam kondisi amnesia, kaki yang tidak bisa dipakai berjalan sementara dan quirkless. Justru bagi Shouto, Shinso Hitoshi lah yang aneh.
Dari ucapannya, jelas bahwa pemuda itu tahu sesuatu tentang Deku. Sementara orang lain tidak mengetahui apa pun tentang anak ini, pemuda itu mungkin punya kunci jawaban untuk identitas sang anak. Walaupun sepertinya sang hero sendiri memilih untuk menyembunyikannya. Mungkin karena itu ia diminta keluar waktu sang hero menanyai Deku.
"Ada lagi yang ia tanyakan padamu, Deku?"
Kepala Deku bergerak sebelum menjawab. Ia menoleh pada Shouto dan berkata, "Ia bertanya apakah aku punya kerabat yang mirip denganku."
"Apa kau punya?" Shouto kembali bertanya. Sepertinya dibanding disebut mengenal anak ini, hero Control lebih tahu seseorang yang mirip dengan sang anak. Hal itu berarti, anak ini tidak sendirian dan bila sang hero mengenalnya ada kemungkinan bahwa kerabat yang mirip sang anak adalah—
Lagi-lagi Deku menggeleng dan dengan suaranya yang pelan ia berkata, "Tidak."
Alis Shouto terangkat, hal itu sudah bisa diduganya. Apalagi yang ia harapkan? Deku kehilangan ingatan. Tentu saja ia akan menjawab tidak untuk semua pertanyaan Control. Namun nada bicara bocah itu mengkhawatirkannya. Nada bicara bocah itu lebih terdengar sedih.
"Kau baik-baik saja, Deku?"
Kali ini Deku tak langsung menjawab pertanyaannya. Ia diam cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Mau pulang."
"Hm?"
"Mau pulang," ulang bocah itu lagi. "Mau pulang, Shouto."
Shouto sedikit bingung mendengarnya. Ia menatap bocah itu dan ia melihat bahwa bocah itu tak lagi energik seperti sebelumnya. Memang saat bersamanya bocah itu bukan tipe yang cerewet, tapi juga bukan tipe yang akan diam dan murung. Bahkan Shouto takkan menyangka bahwa bocah itu akan merengek minta pulang.
Tapi apa dikata, Shouto hanya bisa menyimpulkan bahwa anak itu kelelahan sehingga merengek padanya. Karena itu ia berkata, "Baiklah, tapi sebelum pulang kita makan dulu ya. Sudah jam tiga."
Deku tak membantah. Bocah itu mengangguk pelan sehingga Shouto meletakkan satu tangan di atas rambut hijaunya. Setelahnya, sang hero segera mengemudikan mobil dan mampir di salah satu restoran yang berada di tepi jalan. Ia tak tahu apa yang bisa dimakan oleh si bocah, tapi bocah itu harusnya bisa memakan makanan berat, bukan?
Diparkirnya mobil di sisi jalan sebelum ia turun dan membukakan pintunya untuk Deku. Diambilnya bocah itu sebelum mengunci mobil dan berjalan menuju ke rumah makan. Untunglah saat itu masker dan topinya terpasang, berhubung TV yang ada di dalam restoran tengah menayangkan iklan yang baru-baru ini dibintanginya. Meski tak banyak orang yang makan pada jam itu, Shouto tetap memilih tempat di pojok dan terpencil.
"Ada yang kau suka, Deku?" Shouto bertanya ketika ia melihat Deku tengah memelototi sesuatu dari buku menu.
"Um," Deku menunjuk satu makanan yang tertera di menu. Menu dengan bendera di tengah nasinya dengan lauk yang dibentuk seperti wajah Allmight versi kartun. "Mau ini."
Shouto tertawa begitu melihat makanan pilihan Deku. Ia pun memanggil waitress. Untungnya sang waitress tidak banyak omong saat melihat wajahnya tanpa masker maupun topi meski iklannya berkali-kali ditayangkan di televisi. Dengan santai sang waitress mencatat pesanannya sebelum meninggalkan mereka.
Begitu sang pelayan sudah pergi barulah Shouto berkata, "Kau suka sekali pada Allmight ya?"
Deku mengangkat kepalanya dan berkata, "Suka."
Sekali lagi, Shouto benar-benar yakin bahwa seluruh energi yang semula ada di diri bocah ini tiba-tiba menguap begitu saja. Ia mengerutkan dahi, bertanya-tanya apakah anak itu kelelahan. Dicondongkannya sedikit tubuhnya dan berkata, "Kau lelah, Deku?"
Sembari memegangi gelas minuman yang ada di atas meja, Deku menggelengkan kepala. Ia menatap Shouto sedikit sebelum berkata, "Shouto lelah?"
"Aku?" Shouto kebingungan. "Tidak. Biasanya bahkan lebih melelahkan. Ini tidak ada apa-apanya."
"Aku juga tidak," jawab Deku sambil memegangi gelas. Ia terus memainkan gelas itu meski sesekali kepalanya akan bergerak ke arah televisi ketika acaranya menampilkan Allmight. Sekali tokoh tersebut muncul, manik hijaunya akan terus menyaksikan hingga habis. Barulah saat itu ia mengalihkan pandangan pada hal lain.
Shouto ingin bertanya lagi sebetulnya, hanya saja perkataannya keburu terputus saat pelayan membawakan pesanan mereka. Ia dan soba favoritnya sementara Deku dengan Okosama Lunch set nya yang bergambar Allmight. Diucapkannya terima kasih singkat sebelum si pelayan pergi, barulah ia menyantap makanannya.
Sembari makan Shouto pun berkata, "Jadi setelah makan, kita langsung pulang?"
Bocah kecil yang sedang menyantap makanannya pun mengangkat kepala. Ia menggerakkan kepala sedikit sebelum mengangguk kecil. Mulutnya berusaha mengunyah makanan hingga habis sebelum berkata, "Mau pulang."
"Baiklah," jawab Shouto, tidak mau memaksa. Namun ketika teringat bahwa ketiganya mungkin sedang patroli, ia pun kembali berkata, "Akan kutelepon Aizawa-san dulu kalau begitu. Aku khawatir mereka masih patroli."
Mengerjap, namun bocah kecil itu mengangguk patuh. Manik hijaunya terus mengamati saat sang hero nomor dua berusaha menghubungi Aizawa dan alisnya berkerut saat melihat sang hero menurunkan tangan sembari menghela napas. Namun sang hero masih mencoba lagi dan lagi, hingga untuk kesekian kalinya sang hero menyadari tak ada yang mengangkat teleponnya.
"Mungkin ia tak membawa ponsel," gumam Shouto sembari menggeser layar. Ia mencoba mencari nomor yang lain dan berkata, "Coba kutelepon Kirishima atau Bakugou."
Deku lagi-lagi tidak menjawab. Ia membiarkan sang hero berkutat dengan ponselnya. Selama beberapa saat tidak ada yang bicara hingga sang hero mengangkat alis. Barulah saat itu Deku menatapnya dengan tertarik dan menyimak percakapan mereka.
"Hi, Kirishima," ujar sang hero melalui ponselnya. "Tidak ada apa-apa, hanya mau menanyakan apakah kalian sudah selesai patroli?"
Terdengar bisik-bisik dari telepon genggam sang hero. Deku tidak bisa mendengar kata-katanya, namun sang hero tampaknya paham. Buktinya sang hero nomor dua mengangguk dan berkata, "Aku mengerti. Kalian mendapat tambahan rute untuk patroli. Kalau begitu jam berapa biasanya kalian pulang?"
Lagi-lagi terdengar suara gumaman sebelum Shouto kembali mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Bagaimana dengan Aizawa-san?"
Pertanyaan Shouto kembali dijawab dan sang hero mengerutkan dahinya. Kedua manik heteronya mengamati bocah kecil di hadapannya yang tengah menyibukkan diri dengan Okosama Lunch bergambar Allmight. Dilihat dari tingkat berantakannya, sepertinya Okosama Lunch yang dimakan bocah itu lebih menarik secara display dibandingkan rasanya.
"Baiklah, maaf merepotkanmu." Shouto akhirnya berkata setelah mendengarkan perkataan Kirishima. "Sampaikan salamku untuk Bakugou."
Setelah mendengar salam balik dari Kirishima, Shouto pun mematikan teleponnya. Ia menatap si bocah dan dengan serius berkata, "Sepertinya kita harus mampir dulu ke suatu tempat sebelum pulang. Bagaimana menurutmu?"
Kepala si bocah terangkat dan ia berkata, "Tidak pulang?"
Mengangkat bahu, Shouto berkata, "Mereka semua sedang sibuk patroli dan baru kembali di atas jam delapan malam. Kuantar pulang pun tak ada yang membukakan pintu kantor untukmu, bukan?"
Lama Deku memandangnya sebelum bocah itu kembali menundukkan kepala. Dengan satu tangan memegangi garpu dan berusaha memakan tamagoyaki, bocah itu menjawab, "Iya."
Menganggap bahwa si bocah sudah mengerti, Shouto akhirnya berkata, "Kalau begitu, setelah ini bagaimana kalau ke departemen store yang berada di dekat kantor? Nanti setelah jam delapan kau akan kuantar ke—"
Perkataannya terputus ketika mendengar pintu menggeser terbuka dan menampilkan dua orang berpenampilan mencolok. Kedua orang itu membuat perhatian seluruh pengunjung tertuju pada mereka, namun sekali lagi keduanya tak peduli dan terus berjalan. Bahkan dengan santainya mereka terus berbincang sementara pandangan mereka menyapu ruangan.
"Sialan! Apa tidak ada hero di sekitar sana sampai orang tua sialan itu mengirim kita ke Ueno? Apa di sana tak ada hero yang bisa diandalkan? Lagipula—"
"Pelankan suaramu sedikit, Ground Zero," seru rekannya yang berambut kemerahan. "Aku juga tidak tahu kenapa Eraser Head mengirim kita ke sana, tapi sudah pasti mereka kewalahan."
"Tsk," sang hero yang berambut pirang mendecak sebal. Ia baru saja akan mengambil tempat di depan konter ketika menyadari pandangan dua orang yang duduk di pojok ruangan. Ia menatap keduanya selama beberapa saat sebelum manik merahnya membelalak dan menghampiri mereka.
"Ada apa, Ground—"
Red Riot tak lagi bertanya. Ketika mengikuti arah pandang Ground Zero ia pun segera mengerti. Terlebih ketika melihat bocah berambut hijau dan rambut dwiwarna sang hero nomor dua. Ia pun segera melangkah mengikuti Ground Zero dan menghampiri keduanya.
"Kenapa kalian ada di sini?" Ground Zero lebih dulu bertanya pada sang hero nomor dua. Kemudian kepalanya menoleh pada si bocah berambut hijau sementara tangannya mengusap-usap kepala bocah itu. "Deku?"
"Pemotretanku dijadwalkan di daerah Shibuya," jawab Shouto santai. "Makanya aku membawa Deku sekalian."
"Kukira pemotretannya berada di sekitar Musutafu," Kirishima kembali menjawab. "Tak kusangka ternyata di daerah Shibuya. Kalian berdua naik apa ke sini?"
"Oh, aku membawa mobil," jawab Shouto. Awalnya ia tidak menyadari namun ketika melihat sang hero nomor satu mengerutkan alis, ia pun tak bisa tidak bertanya, "Ada yang salah, Ground Zero?"
Ground Zero, sang hero nomor satu saat ini, tidak langsung menjawab. Ia menatap bocah kecil yang duduk di hadapan sang hero nomor dua. Ada sedikit kejanggalan pada bocah itu sehingga Katsuki berkata, "Kau baik-baik saja, Deku?"
Ketika Deku mengangkat kepala, sang hero pun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Bahkan kedua rekan seprofesinya pun tak mengerti ketika melihat bocah itu mengulurkan tangannya dan memeluk sang hero. Membuat sang hero tak bisa tidak menyambut uluran tangannya terlebih ketika bocah itu memanggilnya, "Katsuki..."
Mendengar nama aslinya disebut membuat kerutan di dahi sang hero nomor satu semakin dalam. Namun sebelum ia mempertanyakan apa pun, sang hero lebih dulu membungkuk dan memeluknya. Digendongnya bocah itu sementara tangannya mengusap rambut hijaunya. Ketika berada di pelukannya, barulah si bocah membenamkan wajah sementara jemarinya mencengkeram seragam yang dikenakan Ground Zero.
"Ada apa dengan Deku-kun?" Kirishima berkata sambil menatap Shouto dan Ground Zero bergantian. Meskipun tidak sampai menarik perhatian, ia tahu ada yang salah pada bocah itu.
Ditanya demikian membuat Shouto mengangkat bahu. Ia mengakui ada yang janggal sejak mereka meninggalkan lokasi pemotretan, namun tak sekalipun bocah itu menunjukkannya. Padahal ia sudah berkali-kali menanyakannya, tapi bocah itu tetap bungkam dan baru mau bicara setelah Ground Zero muncul.
"Kenapa kau ini?" Ground Zero berbisik pada si bocah. "Kau baik-baik saja? Ada yang sakit?"
Deku tidak menjawab. Ia terus membenamkan kepalanya yang membuat dua hero yang baru saja datang terpaksa keluar dari rumah makan sebelum menarik perhatian tamu-tamu yang lain. Setelah Shouto membayar makanannya, barulah ia bergabung dengan keduanya. Ketika ia datang, Deku sudah mengangkat kepalanya sementara kedua hero sedang berbincang serius.
"Kita masih harus ke Tokyo sebentar sebelum ke Ueno," gumam Red Riot, "kalau sambil membawa Deku, akan berbahaya. Tapi—"
"Tapi dia tidak bisa ditinggal, Rambut sialan!" Ground Zero memotong ucapannya. "Apa orang tua sialan itu tidak tahu bahwa di Tokyo dan Ueno punya banyak hero? Untuk apa ia memanggil kita sampai ke sana?"
"Kau juga sudah dengar bahwa kekuatan Villain makin besar," Red Riot kembali berkata. "Kalau sampai ia menyuruhmu ke sana, itu berarti ada kekuatan yang tak bisa ditangani oleh hero di sekitar sana. Tapi kalau sudah begini keadaannya, maka aku juga—"
Menyadari situasinya, Shouto pun menghampiri Ground Zero. Ditepuknya bahu sang hero nomor satu pelan hingga pemuda itu menoleh padanya. Ketika manik merah sang hero bertemu dengan manik dwiwarnanya, akhirnya Shouto pun berkata, "Bagaimana kalau kau pulang saja, Ground Zero? Biar aku yang meneruskan patroli dengan rekanmu?"
"Hah? Kau bilang sesuatu, hanbun yaro?"
"Shouto?" Red Riot menatapnya. Ia memikirkan tawaran sang hero nomor dua sebelum berkata, "Aku tidak keberatan sih, tapi bagaimana dengan kostummu?"
"Berkostum atau pun tidak sama saja buatku. Lagipula, sepertinya Deku sedang rewel," ucap Shouto sambil mengedikkan bahu ke arah si bocah. "Ia memang ingin pulang dari tadi, tapi kalian bertiga sedang patroli sehingga aku tak punya pilihan selain membawanya berputar-putar."
"Pulang?" Ground Zero mengulangi pertanyaannya dengan bingung. Ia menatap bocah di pelukannya dengan kerutan di dahi. Dibanding marah dan jengkel, sang hero lebih terlihat bingung dan khawatir. Dan sepertinya Shouto mengerti alasannya, makanya ia sukarela menggantikan sang hero nomor satu.
"Iya," jawab Shouto sembari merogoh isi saku celananya dan mengeluarkan kunci mobil. Diserahkannya kunci itu pada Ground Zero dan berkata, "Kau bawa saja mobilku dan tinggalkan di depan kantormu. Nanti aku akan mengambilnya setelah selesai patroli."
"Tapi—"
Tanpa banyak bicara Shouto menyerahkan kunci mobilnya. Sementara itu ia menatap Red Riot dan dengan mudahnya ia mengajak partner Ground Zero itu untuk patroli bersamanya. Bahkan Ground Zero tidak bisa menghentikan mereka hingga keduanya pergi meninggalkannya bersama si bocah.
Menghela napas, Ground Zero pun tak punya pilihan. Ia membuka pintu mobil dan memakaikan sabuk pengaman untuk bocah itu baru berpindah ke kursi pengemudi. Begitu hendak menjalankan mobil, ia pun berkata, "Apa yang terjadi padamu kali ini, Deku?"
Deku menatap Ground Zero lama sebelum akhirnya ia menggeleng. "Tidak. Tidak terjadi apa-apa."
"Kau yakin?" Ground Zero kembali bertanya dengan tatapan menyelidik. Entah mengapa ia tidak pernah percaya ketika bocah satu ini berkata 'Tidak ada apa-apa.'
Deku mengangguk.
Memutar otak, Ground Zero pun mencoba untuk tidak mempermasalahkannya. Namun sebagai gantinya ia menatap bocah itu dan berkata, "Apa pemotretannya berjalan tidak lancar? Terjadi sesuatu?"
Sekali lagi Deku menggeleng hingga membuat dahi Ground Zero berkerut dalam. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa bocah itu rewel kali ini. Apakah bocah itu khawatir lagi padanya? Tapi sejauh ini ia hanya melakukan patroli, bukan? Ia tidak melakukan sesuatu yang berbahaya.
"Katsuki," panggil Deku yang membuat Ground Zero menoleh padanya. Untunglah saat itu sedang lampu merah sehingga sang hero bisa berkonsentrasi mendengarkan suara bocah itu.
"Hm?"
Deku menatapnya lama sebelum ia berkata, "Apa kau tahu orang yang mirip denganku?"
Ground Zero mengulangi ucapannya sekali. Ia memutar otaknya sebelum berkata, "Tidak. Kalau aku tahu, pasti aku tak perlu bertanya ke sana sini mengenai identitasmu."
Mengerjap pelan, Deku pun mengangguk. Melihat reaksinya, akhirnya Ground Zero berkata, "Apa ada seseorang yang mengenalmu?"
Cukup lama Deku tidak bergerak sebelum akhirnya kepalanya mengangguk pelan. Ia menatap Katsuki dan berkata, "Bagaimana kalau ada?"
"Hm?"
"Apa artinya Katsuki akan menyerahkanku padanya?"
Pertanyaannya membuat Katsuki bingung. Ditatapnya bocah itu dan ia berkata, "Apakah ada?
Dibanding menjawab, Deku memilih bungkam dan membuat Katsuki menyerah menanyainya. Bocah itu menyandarkan kepalanya ke pintu mobil dan memejamkan mata, berusaha untuk tetap terlihat tenang. Namun ia gagal menyembunyikannya dan justru membuat Ground Zero semakin khawatir. Terlebih ketika melihat kedua tangannya yang gemetar tanpa henti.
Membuat Ground Zero yang melihatnya menggenggam gagang stir erat dan menatap jalanan dengan kalut. Bahkan membuatnya bertanya dalam hati.
Siapa yang mengenal bocah itu? Siapa yang tahu asal usulnya? Dan apabila orang itu tahu, apakah itu artinya ia harus segera melepaskan bocah itu?
.
.
.
(t.b.c)
A/N:
Finally Hitoshi muncul! Hahahaha! Waktu awal-awal muncul, ane nggak suka sama Hitoshi, tapi setelah masuk Hero course dan dikalahin Deku, saya jadi demen XD Beda sama Shouto, atau Katsuki, hero satu ini tetep tsundere dengan caranya sendiri. Jaga jarak tapi tetep within the reach :P
Aniway for :
El-Vtrich : sepertinya komen-mu muncul 2x, El-san :D jangan khawatir, masuk kok, mungkin cuman error sesaat kemaren :D
Sesuai prediksi kamu dan Kay, sepertinya Shouto juga uda positif terinfeksi quirk afeksi Deku XD tinggal diputusin aja kota mana yang mau dihancurin kalau suatu saat hero nomor dua dan nomor satu kita clash gegara kena quirk afeksi deku, terus nanti infoin ke pemerintah terdekat supaya nggak buang tenaga sia-sia kalau mau ngehancurin satu kota :P
Dan, soal League of Villains, kayaknya kalo Deku ampe diculik, bodyguard Deku yang super duper posesif yang bakal cincang para villain sampe nggak bersisa. Tapi seperti yang Aizawa bilang, dia nggak akan sembarangan kirim hero nomor satu begitu aja. Dan seperti katamu, kalau Katsuki terpaksa ngehabisin Deku, oh noooooo T^T
Makasih sekali buat dukungannya dan uda nyempetin diri buat review. Samaaa, aku juga nggak rela kalau ini sampe tamat, dan masih suka banget sama Deku yang masih unyu-unyu, XD tapi tetep berharap ini akan berlanjut sampe finish lol
Zzich-vers: Holla Zzich XD apa kabar? Seneng akhirnya bergabung di ff ini juga XD
Aku juga suka banget pas Deku manja dan minta ini itu sama Katsuki, mereka emang the best pair banget XD dan sedih, di sini nggak banyak Deku yang manja-manja. Huhu.
Oh, betul banget, aku memang keinspirasi bikin Deku kecil gegara baca doujin-nya Aroe. Aduh, itu imut banget, pake banget. Apalagi pas lagi sakit dan digendong Katsuki. Duh, ya ampun, imutnya gak nahan /
Aniway, makasih juga Zzich, uda nyempetin untuk review :D ditunggu banget kesan-kesannya berikutnya, biar bisa fangirlingan sama Deku yang unyu-unyu. Dan semoga mereka banyak gula manis buat ditebarin di fandom ini XD
Hanazawa Kay : Hola Kay XD quirk afeksi Deku emang bahaya ya? Kayaknya Kamui yang nggak akrab sama anak kecil aja bisa kena. Kay juga uda kena dari dulu 'kan? (sama author juga kok /)
Also, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D
For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD
Cheers,
Cyan.
