Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.
Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi
Until we meet again by cyancosmic
Enjoy!
Ask 9 : Where're your parents?
"Deku?"
Pemuda yang menggeser pintu dengan perlahan dan menginjakkan kakinya di atas tatami itu mengangkat alis ketika melihat bocah yang dicarinya terbaring di dalam ruangan. Dihampirinya bocah yang terlelap begitu damai tanpa alas kepala dengan selembar selimut menutupi tubuh mungilnya. Tangannya mengguncang pelan bocah itu sembari menyebutkan namanya.
"Deku?" Pemuda berambut pirang itu memanggilnya sekali lagi. "Hei! Bangun! Nanti kau tidak bisa tidur malam."
Mendengar suara jengkelnya, seorang wanita muncul dari balik pintu. Wanita yang memiliki rambut yang sama berantakan dengan anaknya itu mengerutkan dahi dan berkata, "Biarkan dia, Katsuki! Bocah itu masih anak-anak."
"Dia sudah tidur siang lebih dari tiga jam, wanita sialan! Nanti dia malah tidak bisa tidur malam harinya." Katsuki berkata sambil mengangkat bocah itu. Ditariknya selimut yang menutupi tubuh bocah itu sementara ia menggendong si bocah. Disandarkannya kepala Deku pada bahunya sementara ia menepuk punggungnya pelan. "Oi, Deku! Hei!"
Tak mau banyak bicara, Mitsuki pun berlalu dari kamar. Dilewatinya ruang keluarga di mana suaminya tengah membaca koran dengan santai untuk menuju ke dapur. Di belakangnya, Katsuki mengikuti sembari menepuk-nepuk punggung Deku.
Berhenti di ruang keluarga, Katsuki mengambil tempat di samping sang ayah sembari membangunkan bocah yang masih terlelap itu. Sikapnya membuat sang ayah beralih dari koran yang tengah ia baca. Dengan alis terangkat sang ayah pun berkata, "Kenapa dengan anak itu?"
"Tidak apa-apa," jawab Katsuki sambil menepuknya pelan, "Aku hanya berusaha membangunkannya."
Menggumam pelan sang ayah mengangkat alis. Dari balik kacamata, diperhatikannya sang putra yang tengah berusaha membangunkan bocah itu. Alisnya merengut melihat setiap tepukan pelan yang diberikan putranya. Ia baru tahu bahwa putranya dapat bersikap seperti itu.
Menyadari tatapan sang ayah membuat Katsuki menoleh padanya. Masih sambil menepuk-nepuk Deku ia berkata, "Apa?"
Sang ayah mengerjap pelan. Ia menggumamkan kata 'Tidak ada apa-apa' seraya menurunkan koran. Diulurkannya tangan pada Katsuki sementara ia berkata, "Coba sini! Biar Ayah yang membangunkannya."
"Hah?"
"Kau bantu Ibumu memasak," perintah sang ayah sementara kedua tangannya sudah terangkat, membuat Katsuki sulit mengabaikannya. "Biar Ayah yang membangunkan bocah itu!"
Melihat inisiatif sang Ayah membuat Katsuki heran untuk sesaat. Ia menatap sang ayah sebelum akhirnya menyerahkan Deku pelan-pelan. Begitu Deku sudah berpindah tangan, barulah ia berdiri dan berjalan ke dapur. Manik merahnya masih melirik sekilas pada sang ayah sebelum menggelengkan kepala. Tak mau pusing memikirkannya.
Ia pun berjalan ke dapur dan berdiri di samping sang Ibu. Melihat bahan-bahan di atas meja ia pun berkata, "Apa yang sedang kau buat, wanita sialan?"
"Kare," jawab sang Ibu santai. "Apa bocah itu suka kare?"
"Dia tidak suka yang pedas," jawab anaknya sambil bersandar pada kabinet. "Pisahkan saja bagian Deku dari yang lain."
"Aku tahu," jawab Mitsuki santai sambil mengupas wortel yang telah dicuci sebelumnya. Hanya saja melihat putranya tak melakukan apa pun, ia pun berkata, "Kau tidak mau membuat dirimu berguna, anak sialan?"
Alis menukik tajam dan Katsuki balas berkata, "Apa selama ini aku tidak cukup berguna untukmu, nenek tua?"
Mendecak pelan Mitsuki tak mengatakan apa pun. Wanita itu berjalan menuju kulkas dan membukanya. Dikeluarkannya bahan-bahan lain dan diberikannya pada Katsuki. Pada pemuda itu ia berkata, "Kupas bawangnya dan bersihkan dagingnya."
Meski menggerutu Katsuki menerima barang-barang yang diberikan sang Ibu. Alisnya sedikit berkerut ketika ia melihat daging yang telah digiling sehingga ia berkata, "Kau salah membeli daging, ya?"
"Tidak," jawab Mitsuki santai. "Tapi tidak ada lagi daging yang tersisa. Kau mendadak mengabari ingin pulang dengan membawa bocah itu kemarin. Kau baru ingat punya orang tua, hah?"
Sembari menggerutu Katsuki hanya menjawab, "Ada acara reuni sekolah di dekat sini. Aku sekalian pulang."
"Reuni?" Mitsuki mengulangi ucapannya. Ia yang sangat mengenali anaknya akhirnya berkata, "Kenapa tiba-tiba kau ingin ikut reuni?"
Betul. Selama hampir delapan tahun sejak kelulusan, Katsuki bahkan tidak peduli dengan yang namanya reuni sekolah. Katsuki tidak peduli dengan orang selain yang berhubungan dengannya hingga terkadang ia malas untuk datang ke pertemuan semacam itu. Tapi kali ini ia terpaksa datang, paling tidak karena ucapan sang hero nomor dua di telepon pagi tadi.
"Shinsou Hitoshi?" Katsuki berkata ketika mendapat telepon dari sang hero nomor dua. "Tidak, aku tidak kenal. Hanya itu yang ingin kau tanyakan?"
Sadar bahwa teleponnya tidak diharapkan, Shouto pun tidak banyak bicara. Ia hanya menyampaikan yang perlu saja dengan berkata, "Dia salah satu jurusan general yang belakangan masuk ke jurusan hero. Kau seharusnya mengenalnya, dia juga salah satu murid UA."
"Oi, dispenser sialan!" Katsuki berkata sambil melakukan pekerjaannya di pagi hari, memasukkan cucian kotor. "Ada ratusan murid yang masuk UA tiap tahunnya. Mana mungkin aku mengenal mereka, apalagi kalau mereka hanya extras yang—"
"Hanya ada empat puluh orang di angkatan kita termasuk kelas B, Bakugou," balas Shouto tenang. "Apa kau bahkan tidak bisa mengingat keempat puluh orang itu?"
"Tidak, karena yang lainnya hanya karakter tambahan," jawab Katsuki. "Lalu kenapa dengannya?"
"Terakhir kali, Deku bilang bahwa hero Control tahu sesuatu tentangnya," Shouto mencoba menerangkan. "Namun ia tak mengatakan apa pun padaku."
"Apa?"
"Hero yang satu itu bahkan mencoba mengusirku saat bicara dengannya," lanjut Shouto. "Tapi untungnya tak terjadi sesuatu."
"Kenapa kau baru bilang sekarang?" Katsuki berkata dengan jengkel. "Kenapa tidak bilang—"
"Percuma saja aku mengatakannya kemarin, kau juga takkan bertemu dengannya," potong Shouto. "Lain ceritanya kalau kau bertemu dengannya di acara reuni."
"Reuni?" Katsuki berkata dengan dahi mengernyit. "Reuni apa?"
"Reuni sekolah," jawab Shouto. "Berhubung dia satu angkatan dan di berada di Hero Department, kemungkinan dia juga akan hadir. Bagaimana kalau kau menanyainya di sana?"
"Jangan bercanda!" Katsuki berkata. "Aku malas ikut acara seperti itu."
"Kalau kau ingin tahu sesuatu soal Deku, kau tidak punya pilihan," balas Shouto. "Ini satu-satunya cara untuk bertemu dengan Hero Control."
Katsuki ingin mengatakan sesuatu, tapi ia hanya dapat menghela napas. Telapak tangannya diusapkan ke wajah dan ia berkata, "Di mana tempatnya?"
"Katsuki? Hei! Anak sialan?" Sang Ibu kembali memanggil-manggilnya karena Katsuki ttak kunjung menjawab. "Kau melamun ya? Dari tadi aku bertanya, apa kau ke reuni membawa anak kecil?"
"Mereka bilang boleh membawanya," jawab Katsuki santai. "Bila tidak pun mana mungkin aku mau pulang."
Mendengar jawabannya membuat Mitsuki menyindirnya dan berkata, "Jadi kalau kau tidak diizinkan membawa bocah itu kau takkan pulang? Bagus! Sudah lupa bahwa kau punya orang tua rupanya. Ya sudah, aku juga tak ingat punya anak sepertimu. Jangan makan sana!"
"Berisik wanita sialan!" Katsuki berkata sambil mengambil daging yang berikan padanya. "Sekarang apa yang harus kulakukan dengan daging giling ini. "
"Kau tidak bisa berusaha sedikit apa?" cerca Mitsuki yang sudah pasti membuat telinga Katsuki panas. "Kau tidak tahu bahwa di dunia ini ada yang namanya Hambaagu Kare?"
"Hambaagu?" Katsuki berkata sambil mengerutkan dahi, "Kalau begitu cukup Hambagu saja tidak perlu Kare."
"Terlanjur," balas Mitsuki asal. "Lagipula, di televisi disebutkan bahwa makanan favorit anak-anak adalah Hambaagu dan Kare," jawab Mitsuki. "Jadi kenapa tidak kugabungkan saja keduanya?"
"Anak-anak?"
"Iya, anak-anak," jawab Mitsuki sembari mengangkat kepala menatap Katsuki. Ketika ia melihat pandangan heran putranya, ia menjawab, "Kau membawa seorang anak bersamamu 'kan?" - Mitsuki terdiam sebelum melanjutkan dengan wajah tidak percaya, "Atau jangan-jangan yang kau mengira bahwa kau yang kumaksud?"
"Apa aku terlihat sebegitu mengharapkan masakanmu?" Katsuki berkata sembari menunjukkan pandangan sinis. Kedua tangannya sibuk mengaduk daging yang telah dicincang dengan bawang yang telah diiris kecil-kecil. "Tapi kapan aku pernah bilang Deku suka Hambaagu?"
Mendengar itu Mitsuki mengangkat kedua tangannya dari talenan. Ia menatap Katsuki dan berkata, "Masa dia tidak suka? Di televisi dikatakan semua anak suka Hambaagu."
"Seenaknya sekali acara yang menyamaratakan opini satu orang untuk diambil sebagai opini publik" jawab Katsuki sambil mengernyitkan alis, "Apa mereka tidak tahu ada anak yang lebih suka Katsudon dibanding Kare?"
"Ah! Selama dia tidak benci kare bukan masalah buatku apa kata televisi." Mitsuki menjawab dengan enteng. "Lagipula ini salahmu karena kau tidak pernah mengatakan bahwa anak itu lebih suka Katsudon."
Kerutan di dahi Katsuki semakin bertambah dan bertambah. Ia pun berkata, "Untuk apa aku mengatakannya padamu, wanita sialan?"
"Setidaknya aku akan membeli daging yang lain dibanding daging cincang." Mitsuki balas mencecarnya. "Karena sudah terlanjur, apa boleh buat selama ia tidak benci Hambaagu."
Percuma saja Katsuki mendebatnya. Menurutnya tak ada gunanya membeberkan makanan favorit Deku pada sang Ibu, terlebih anak itu hanya akan menginap sehari. Tapi entahlah, ia tidak paham apa yang dipikirkan sang Ibu.
Ia baru saja menyelesaikan adukan daging dan tengah membentuknya menjadi bulatan ketika mendengar suara sang Ayah. Bersama dengan itu didengarnya juga suara pelan yang memanggil namanya. Berkat itu Katsuki pun kembali melayangkan pandang ke ruang keluarga dan menemukan bocah yang tadi sulit dibangunkan sudah membuka mata.
"Sudah bangun, Deku-kun?" Sang Ayah berkata sembari memeluk bocah itu. "Bagaimana tidurnya?"
"Umm," gumam si bocah ketika melihat pria berkacamata yang tidak ia kenali. Alisnya mengerut sementara pandangannya mencari-cari sosok yang sudah dikenalnya. "Katsuki?"
"Katsuki sedang membantu di dapur," jawab sang ayah sabar yang membuat perhatian Deku kembali beralih padanya. "Apa kau sudah lapar?"
Deku menggeleng. Ia menatap pria di hadapannya takut-takut sebelum memalingkan kepala. Ketika ia menemukan pemuda berambut pirang yang ia cari, bocah itu pun langsung menggeliat untuk melepaskan diri. Untungnya sang ayah mengerti dan membiarkannya menghampiri Katsuki.
"Katsuki," panggil bocah itu sembari berlari kecil menuju ke dapur. Suaranya membuat Katsuki buru-buru mencuci tangan dan berbalik. Tepat saat itu, Deku sudah mencapai tempatnya dan memeluk kakinya. Sekali lagi bocah itu memanggil namanya hingga membuat Katsuki mengangkat dan menggendongnya.
"Kau sudah lapar, Deku?" Katsuki bertanya pada bocah itu. "Sudah mau makan?"
Sekali lagi Deku menggeleng. Ia menatap sekeliling sebelum kembali bertanya, "Ini di mana, Katsuki?"
"Rumah orang tuaku," jawab Katsuki sambil membawanya berputar. Ia membawa Deku mendekat pada sang Ibu dan berkata, "Wanita tua ini Ibuku, kau pernah bertemu dengannya."
Deku menatap wanita yang memiliki delapan puluh persen kemiripan genetis dengan Katsuki. Ia mengangguk pelan sebelum berkata, "Mama Katsuki, sudah kenal."
"Iya, kau sudah bertemu dengannya," ucap Katsuki singkat.
Mendengar suara Katsuki sang Ibu pun menoleh pada keduanya. Wanita itu tersenyum lebih dulu pada Deku dan berkata, "Halo, Deku-kun."
"Halo, Mama Katsuki," gumam Deku sembari membungkuk pelan. Manik hijaunya tertuju pada masakan yang sedang dibuat sang Ibu. Ia pun berkata, "Mama Katsuki masak apa?"
"Oh, ini? " tanya sang Ibu sembari mengangkat tangannya dari panci. "Ini Hambaagu Kare. Deku-kun suka Hambaagu kare?"
Si bocah mengulangi ucapannya dan berkata, "Kare suka. Hambaagu suka."
"Anak pintar," gumam sang Ibu. "Beda sekali dengan anakku."
"Baiklah, kita ke ruang keluarga saja," ujar Katsuki yang langsung berputar seratus delapan puluh derajat. Sikapnya dihadiahi umpatan sayang dari sang Ibu namun Katsuki menulikan telinganya. Ia berjalan menuju ke sofa yang ditempati sang ayah dan mendudukkan Deku di sana. " "Kau tunggu di sini dulu, ya! Aku harus membantu wanita sialan itu."
Melihat orang yang tak dikenalnya membuat Deku kembali merengek. Ia menahan lengan baju Katsuki dan berkata, "Mau bantu! Aku juga mau membantu Katsuki dan Mama Katsuki."
"Bantu Ayahku saja," balas Katsuki sambil menunjuk pria yang duduk di sebelah Deku. Pria dengan kacamata yang sibuk dengan korannya dan baru menyadari keberadaan Deku. "Ia butuh teman untuk menonton TV. Kau temani dia, ya?"
Deku menatap pria berkacamata yang lebih lembut dibanding kedua Katsuki. Manik hijaunya cukup lama tertambat pada sang ayah sebelum ia mengangguk, setuju membantu. Barulah saat itu Katsuki meninggalkannya sembari menyentuh rambutnya pelan.
Ragu-ragu Deku memandang pria yang duduk di sampingnya. Kepalanya bergerak saat ia berkata, "Papa Katsuki?"
"Betul," jawab sang Ayah sambil mengulurkan tangan dan menyentuh rambut si bocah. "Kau mau temani aku menonton, Deku?"
"Menonton apa?" Deku berkata sambil duduk di sampingnya. "Allmight?"
Masaru bergumam pelan dan berkata, "Allmight? Tidak ada Allmight di jam segini."
Ekspresi kecewa si bocah membuat Masaru berpikir ulang. Terlebih ketika ia mendengar bocah itu berkata, "Oh? Tidak ada Allmight?"
Bangkit berdiri dari sofa, sang ayah pun menuju rak video lama yang hampir tak pernah disentuh lagi. Sikapnya membuat Deku tertarik. Diikutinya sang ayah dengan turun dari sofa dan menghampirinya. Berjongkok di sampingnya, Deku pun berkata, "Papa Katsuki? Jadi menonton?"
"Jadi," jawab Masaru santai. "Mau menonton Allmight, 'kan?"
"Ada? Ada Allmight?" Deku berkata dengan antusias. "Mau! Mau menonton."
Sekali lagi sang ayah tertawa mendengar kepolosannya. Setelah memutuskan mengambil satu episode yang sepertinya belum pernah ditonton Deku, sang ayah pun membawa video tersebut menuju ke rak. Diangkatnya kain yang menutupi dek video miliknya dan dinyalakannya mesin yang sudah lama tak digunakan itu.
Di sampingnya, Deku mengikuti dan memerhatikan saat sang ayah memasukkan video ke dalam dek. Satu tangannya menyentuh pinggiran meja, berhati-hati agar tidak merusak atau menghalangi sang ayah. Ketika pria itu mundur, ia pun mengikuti hingga mereka kembali duduk di sofa.
Pandangan Deku masih tertuju pada pria yang dipanggilnya Papa Katsuki itu. Manik hijaunya mencari-cari kemiripan Katsuki dengan sang ayah. Namun perhatiannya teralih ketika ia mendengar lagu yang tak asing di telinganya. Bersama dengan lagu yang diputar, ia pun berteriak "Allmight!"
Sang ayah hanya tertawa sementara Deku memandang dengan kagum televisi yang menayangkan jagoannya itu. Melihat bocah itu rasanya seperti melihat anaknya di masa lalu. Anaknya yang dulu selalu meneriakkan nama sang pahlawan setiap kali lagunya diputar.
"Deku-kun suka Allmight?"
Pertanyaan yang tanpa sadar terlontar itu membuat Deku menoleh. Ia menatap sang ayah dan berkata, "Suka. Papa Katsuki suka?"
"Aku biasa saja. Tapi kurasa Katsuki juga dulu sangat mengidolakan Allmight." Sang ayah berkata sambil mengelus rambut hijau Deku. "Dulu dia juga punya baju Allmight dan memaksa minta dibelikan figurinnya. Sekarang entah di mana figurin itu."
"Katsuki?" Deku berkata dengan tertarik. "Katsuki juga suka Allmight"
Masaru mengangguk sementara Deku menatapnya kagum. Melihat kekaguman di manik hijau si bocah membuat Masaru bertanya-tanya. Ia pun kembali berkata, "Apa Katsuki tidak bilang dia suka Allmight?"
Bocah itu mengerjap sebelum menggeleng. "Tidak. Tapi kami selalu menonton bersama. Kadang kalau Katsuki memasak, aku menonton, tapi aku juga suka membantu Katsuki."
"Kau suka membantu?" Sang ayah kembali bertanya.
Deku mengangguk. Ia pun menoleh pada sang ayah dan kembali berkata, "Biasanya saat Katsuki memasak, aku membantu mengupas kacang. Kadang membantu memetik sayur. Kadang membantu mengumpulkan dan melipat cucian."
Bagi sang ayah, sulit membayangkan putranya bersama seorang anak kecil yang membantunya. Ada yang kurang di sana, sehingga sang ayah kembali berkata, "Oh ya? Apa Katsuki yang memintamu melakukannya?"
"Tidak," jawab Deku polos. "Katsuki tidak pernah meminta melakukan ini itu. Katsuki melakukan sendiri."
"Biarpun sambil menggerutu."
"Katsuki penggerutu," ucap Deku setuju yang membuat sang ayah tertawa. Kemudian bocah itu berkata, "Waktu itu kami pergi membeli roti, aku mau membeli roti untuk yang lain, tapi Katsuki tidak suka. Tapi akhirnya Katsuki belikan juga."
Baru sekali ini sang Ayah mendengar Katsuki membelikan makanan untuk orang lain. Setahunya, anaknya hanya menganggap orang lain sebagai pemeran tambahan yang tak perlu diperhitungkan. Bahkan menjadi hero nomor satu hanya memperparah sikapnya. Tapi mendengar cerita Deku, sulit membayangkan anaknya bersikap demikian.
"Begitu ya," gumam sang ayah di luar benar tidaknya cerita si bocah. "Katsuki baik sekali, ya?"
Mendengar itu, Deku pun tanpa ragu langsung mengiyakan. Bahkan senyum manisnya membuat sang Ayah ikut tersenyum dan kembali mengulurkan tangan untuk mengacak-acak rambutnya. Melihat senyumnya, sang ayah pun berkata, "Deku sepertinya sangat menyukai Katsuki."
Tanpa harus ditanya dua kali bocah itu mengangguk kuat-kuat. Lalu ia berkata, "Umh! Aku suka sekali Katsuki."
Sang ayah tak lagi berkomentar. Ia mengangkat alis sementara si bocah mengalihkan perhatiannya pada film yang sedang diputar. Tak lama kemudian, si bocah pun sudah asyik sendiri dengan film yang ditonton hingga lupa bahwa dirinya tengah berada di samping ayah Katsuki. Namun sang ayah tak keberatan dan hanya menyaksikan bocah itu sambil tetap diam di samping.
Sejak awal, kehadiran bocah itu sudah membuat sang ayah bertanya-tanya. Putra tunggalnya, yang bahkan tak mau repot-repot mengurus binatang peliharaan mau merepotkan diri mengurus seorang bocah bahkan membawanya ke rumah. Masaru memang merasa heran dengan itu semua, namun jawaban Deku cukup memberinya pencerahan yang hanya bisa disimpulkan dengan satu kalimat.
Ya. Katsuki sudah berubah. Anaknya yang ia tahu memiliki mulut berbisa, bisa dengan lembut membangunkan seorang bocah. Kedua tangannya yang biasa ia pakai untuk menghabisi parah penjahat mau mengelus pelan punggung si bocah. Bahkan ekspresinya yang biasanya jahat kini berbeda. Katsuki yang sekarang jauh lebih tenang dibanding sebelumnya dan semuanya berkat seorang anak yang tak diketahui asal usulnya.
Anak yang membuat Masaru akhirnya bertanya, "Deku, apa kau tidak punya Papa Mama?"
Pertanyaan Masaru membuat Deku menoleh. Bahkan tayangan di televisi tak sanggup mengalihkan perhatiannya. Bocah itu mengerjap pelan sebelum menjawab, "Aku tidak tahu."
"Semua anak harusnya punya Papa Mama," sang ayah kembali berkata. "Di mana Papa dan Mama mu?"
Deku mengerjap. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Kepalanya tertunduk dan tangannya gelisah. "Papa? Mama?"
Suara Deku membuat Masaru tersadar. Seharusnya ia tidak memaksa bocah ini. Kalau bocah ini tahu siapa ayah dan ibunya, tak mungkin bocah ini masih tinggal dengan Katsuki sampai sekarang. Dasar! Seharusnya ia tidak bertanya tentang itu.
Ia baru saja hendak mengganti pertanyaan ketika seseorang menghampiri mereka. Melihatnya membuat Masaru mengalihkan perhatian pada pemuda itu. Karena itu ia berkata, "Masaknya sudah selesai?"
"Hampir selesai," ucap Katsuki sambil menatap Deku. "Bagaimana kalau kau mandi dulu, Deku?"
Bocah yang ditanya tak langsung menjawab pertanyaan Katsuki. Ia tetap diam selama beberapa saat, membuat alis Katsuki berkerut. Ia baru menoleh ketika Katsuki menyentuhkan tangan pada dahinya dan memanggil namanya sekali lagi. "Deku?"
Manik hijaunya langsung mengenali Katsuki. Ia menggerakkan kepala dan berkata, "Ya?"
"Mandi," ulang Katsuki. "Sebelum makan, kau harus mandi dulu."
Deku bergumam sedikit. Tanpa disuruh, ia langsung turun dari sofa dan menghampiri Katsuki. Seperti biasa, ia memeluk kaki Katsuki dan tidak mengucapkan apa-apa. Ia tahu, cepat atau lambat Katsuki akan membalas dengan cara menggendongnya. Selalu seperti itu.
Dugaannya benar, Katsuki mengangkat dan menggendongnya. Mereka berdua menuju ke kamar mandi dan menghabiskan waktu selama beberapa menit sebelum keluar dengan rambut dan tubuh yang wangi. Ketika mereka keluar, Deku langsung menaiki sofa dan kembali menonton sementara Katsuki kembali ke dapur untuk membantu menyiapkan makanan.
Sementara Katsuki membantu, ayahnya mandi bergantian dengan sang Ibu. Sang Ibu masih sibuk menatap makanan dengan dibantu Katsuki hingga sang ayah keluar dari kamar mandi. Barulah saat itu, Katsuki sendiri yang harus menyiapkan sisanya.
Selesai menata meja makan, Katsuki mendudukkan Deku di sampingnya. Sementara ia mengisi air, Deku menatap makanan yang tersaji dengan tertarik. Beda dengan piring yang lain, piring miliknya menggunakan gambar Allmight dan ada bendera Jepang di atas daging. Sangat menarik hingga membuatnya tak sabar untuk segera bersantap.
Menyadari itu, Katsuki kembali menghampiri meja makan dengan membawa gelas-gelas air. Diletakkannya gelas tersebut ke tempat masing-masing sebelum ia menempati kursinya. Pada si bocah yang sepertinya sudah tak sabar untuk mencicipi, ia berkata, "Tunggu!"
Deku hanya menggumam 'tahu' sebelum ayah Katsuki ikut bergabung. Tak lama setelahnya, sang Ibu baru bergabung dan mengambil tempat di sisi sang Ayah. Begitu keempatnya lengkap barulah mereka mulai makan.
"Bagaimana Deku-kun?" Mitsukii bertanya sambil memerhatikan bocah yang tengah menyantap makanannya. "Enak?"
"Enak, Mama Katsuki" jawab si bocah sambil mengunyah daging lembut yang dibuat Katsuki. Ia menoleh pada Katsuki dan berkata, "Katsuki, Hambaagu-nya enak!"
"Aku tahu," balas Katsuki sambil mengacak-acak rambutnya. "Makanlah dengan tenang, Deku!"
Mengangguk, Deku pun kembali menyantap makanannya dengan lahap. Melihat bocah itu makan dengan senang membuat kedua orang tua Katsuki memerhatikan bocah itu. Terkadang mereka akan terkikik geli melihat cara bocah itu makan. Bahkan sesekali Katsuki terpaksa berhenti dan mengelapnya terlebih dulu sebelum lanjut menikmati bagiannya.
"Mau tambah, Deku?" Sang Ibu berkata begitu melihat Deku selesai menghabiskan isi mangkuknya. "Karenya masih banyak."
Pelan-pelan Deku menggelengkan kepala. "Sudah kenyang, Mama Katsuki. Terima kasih makanannya."
"Kau yakin?" Sang Ibu berkata dengan nada khawatir "Apa kau sakit? Dulu Katsuki makan banyak sekali sampai aku harus melarangnya."
"Sudah kenyang," jawab bocah itu pelan. Ia melirik Katsuki yang belum selesai menghabiskan makanannya dan berkata, "Katsuki belum habis?"
"Porsianku lebih banyak," Katsuki berkata.
Mendengar itu Deku menatap piringnya yang kosong sekali lagi. Baru setelahnya ia berkata, "Mau tambah!"
Awalnya sang Ibu kebingungan dengan permintaannya yang tiba-tiba. Namun melihat keseriusan Deku, sang Ibu hanya tertawa dan mengambilkan bagian untuk bocah itu. Setelah mengisi piring Deku dengan kare dan hambaagu, barulah sang Ibu memberikannya dan berkata, "Habiskan, ya!"
Deku mengangguk dan mulai menyantap makanannya dengan lahap. Sikapnya membuat Katsuki menoleh. Ia kembali berkata, "Makan pelan-pelan, nanti tersedak!"
Perintahnya mendapat jawaban berupa gumaman dari Deku. Mendengar itu, baru Katsuki berbalik dan fokus menghabiskan isi piringnya. Pandangannya bertemu dengan sang ayah saat itu dan ia sedikit terkejut melihat sang ayah tengah menatapnya. Karena itu ia pun berkata, "Apa?"
Ayahnya hanya bergumam 'tidak ada apa-apa' yang membuat kerutan di dahi Katsuki bertambah. Hanya saja ia memutuskan untuk tak memusingkannya kembali dan memilih untuk menghabiskan isi mangkuknya. Ketika sudah habis, ia membawa mangkuknya ke tempat cuci bersama dengan milik Deku. Sementara sang Ibu sibuk menyuapi bocah itu dengan sayuran lain di atas meja, ia mulai menyalakan air untuk mencuci peralatan makan.
Sang ayah menyusulnya tak lama kemudian, membawakan piring dan mangkuk yang masih tertinggal di meja makan. Berbeda dengan biasanya, kali ini sang ayah memilih untuk membantunya mengelap piring. Sembari bekerja sang ayah pun berkata, "Deku-kun sepertinya suka kare hambaagu Ibumu."
Katsuki bergumam sesaat sebelum menjawab "Ada guna-gunanya mungkin."
Sekali ini sang ayah hanya tersenyum mendengarnya. Pada putranya, sang ayah kembali berkata, "Biarpun sikapnya begitu, kemarin ibumu senang sekali mendengar kalian mau datang. Dia bahkan mencatat resep itu dan sengaja membeli bahan-bahan untuk membuat Hambaagu itu."
"Tidak biasanya," cibir Katsuki.
Sang ayah hanya tertawa mendengar komentar anaknya. Ia pun berkata, "Ayah juga heran. Tapi setelah melihat Deku sepertinya Ayah mengerti."
Lagi, Katsuki hanya bergumam pelan. "Sebelumnya wanita sialan itu tidak suka padanya. Ia bahkan memintaku untuk mengembalikannya ke panti asuhan."
"Ia hanya khawatir padamu," jawab sang ayah. "Kami khawatir padamu. Bahkan setelah membawanya pun, aku tetap khawatir padamu, Katsuki."
Katsuki menghentikan air yang tengah berjalan dan menoleh ke samping. "Hah?"
"Sikapmu," jawab sang ayah sambil balas menatap. "Kau terlalu dekat dengan bocah itu."
"Memangnya salah?"
Menghela napas, sang ayah mencoba untuk tetap tenang. Menghadapi putranya memang tidak boleh terpancing emosi. "Bukannya salah. Hanya, kau akan kesulitan bila suatu saat kau harus mengembalikan Deku pada kedua orang tuanya."
"Orang tua apa? Tidak ada orang yang mengaku sebagai kerabatnya. Bahkan kepolisian setempat—"
"Tidak ada bukan berarti tidak akan ada." Ayahnya menatapnya tegas. "Kelak bila kerabatnya datang untuk mengambilnya, Ayah harap kau tahu harus bersikap apa."
Sebelum Katsuki bisa menjawab, bocah yang tengah dibicarakan tahu-tahu menghampiri. Bersama sang Ibu, ia membawakan piring miliknya dan menyerahkannya pada Katsuki. Seperti biasa, bocah itu pun memanggil namanya dan berkata, 'Katsuki! Piring Allmight. Cucinya hati-hati!"
"Berisik, Deku!"
Deku masih ingin menjelaskan namun sang Ibu memanggil bocah itu sehingga Deku kembali ke ruang makan meninggalkan Katsuki. Setelah bocah itu pergi, barulah Masaru menghampiri putranya kembali. Pandangannya tertuju pada Deku dan sang Ibu sementara ia berkata, "Katsuki?"
Menghela napas Katsuki menyingkirkan piring yang baru dicucinya sebelum membersihkan sisa makanan dari piring Allmight milik Deku. Sembari membilas piring ia berkata, "Aku tahu apa yang harus kulakukan bila saatnya tiba. Kau tidak perlu mengajariku."
Cukup lama ayahnya diam sambil menatapnya. Selama itu tak sekalipun Katsuki menambahkan atau mengganti ucapannya. Tahu bahwa nasehatnya takkan banyak berguna sang ayah hanya berkata, "Baguslah kalau begitu."
Setelah berkata demikian baik Katsuki maupun sang ayah tak lagi bicara. Keduanya sibuk mencuci piring hingga tak ada lagi piring kotor yang tersisa di bak. Baru setelahnya Katsuki beranjak dari dapur dan mendekat ke tempat sang Ibu dan bocah kecil yang sedang asyik memakan buah persik.
"Oh, Katsuki," ucap si bocah ketika melihat Katsuki mendekat. Tangannya yang tengah memegang garpu berisi potongan buah persik diulurkan pada Katsuki dan ia berkata, "Makan buah. Mau?"
Tanpa ragu Katsuki pun membungkukkan tubuh dan melahap potongan buah yang ditawarkan. Melihatnya membuat Deku tersenyum riang dan mengambil kembali potongan buah yang lain. Di hadapan mereka, sang Ibu yang tengah memotong persik sampai berhenti bergerak karena mengamati keduanya.
"Apa?" Katsuki berkata setelah melihat Ibunya hanya diam mematung.
"Tidak ada apa-apa," jawab sang Ibu cepat sembari menggerakkan tangannya. "Kalau kau mau, ini jatahmu."
Meski sedikit curiga, Katsuki tetap mengambil potongan buah hasil kupasang sang Ibu yang ada di piring terpisah. Ia memasukkan ke mulut sementara di sampingnya Deku melahap potongan yang lebih kecil menggunakan garpu. Sesekali ia akan mengernyit dan mengulurkan tangan untuk mengelap wajah si bocah seraya berkata, "Dasar Deku! Berantakan sekali!"
Walau sembari menggerutu, Katsuki tak juga berhenti memerhatikan bocah itu. Sikapnya membuat sang Ibu memandangi keduanya. Katsuki yang begitu perhatian dan bocah yang polos seolah tak bisa apa-apa, sepertinya ia pernah melihat yang seperti ini. Tapi di mana ia menyaksikannya?
Menggelengkan kepala, Mitsuki pun memutuskan tak ambil pusing. Ia mengupas kembali buah-buah persik hingga suaminya bergabung dan makan bersama. Barulah saat itu mereka mengobrol dan menghabiskan waktu di sana hingga menunggu waktu tidur.
Begitu sudah mendekati waktu tidur Deku, Katsuki pun menggeser kursi dan bangkit berdiri. Melihatnya, bocah yang duduk di sampingnya pun ikut mendorong kursi dan mencoba turun dari tempatnya. Namun Katsuki lebih dulu mengambil dan memeluknya seraya berkata, " Sudah waktunya tidur."
"Tidur," jawab Deku. "Ayo tidur, Katsuki!"
"Iya, tapi kita sikat gigi dulu," jawab Katsuki sembari membawanya menuju ke kamar mandi. Diambilnya sikat gigi milik si bocah dan dilapisinya dengan pasta gigi sebelum berbuat hal yang sama untuk sikat giginya. Bersama-sama keduanya menggosok gigi hingga menimbulkan irama tertentu dan selesai dengan waktu yang hampir mirip.
Setelahnya, Katsuki mengambil lap untuk membersihkan sisa-sisa air yang menempel di wajah bocah itu. Ketika melihat Deku sudah bersih, ia pun membiarkan bocah itu mengucapkan selamat malam pada kedua orang tuanya sebelum berlari ke kamar yang mereka tempati sementara ia membersihkan wastafel. Begitu ia selesai mengucapkan selamat malam pada kedua orang tuanya, barulah ia menyusul Deku.
Di kamar, bocah itu sudah menaiki ranjang dan mengambil tempat di sisi tembok. Dengan antusias bocah itu mengambil tempat di sana sementara Katsuki mengambil tempat di sampingnya. Ranjang yang mereka tempati lebih sempit dibanding ranjang mereka di apartemen. Karena itu Katsuki berkata, "Tidur yang tenang!"
"Iya," jawab Deku sambil menarik selimut. Manik hijaunya menatap langit-langit dan mengamati interior kamar. Pilihannya tertuju pada lemari berisi buku dan figurin yang ada di kamar tersebut. Kemudian ia berkata, "Ini kamar Katsuki?"
Pertanyaannya dihadiahi gumaman oleh pemuda di sampingnya. Menggunakan tangan, Katsuki menyentuh wajah bocah itu dan berkata, "Cepat tidur!"
"Banyak Allmight," ucap Deku sembari menurunkan tangan Katsuki. Bocah itu menatap figurin Allmight yang ada di kepala ranjang. Mainan yang cat nya sudah mulai pudar warnanya karena termakan usia. "Katsuki dulu benar-benar suka Allmight, ya?"
"Sedikit," jawab Katsuki sembari memejamkan mata. "Kedua orang tuaku hanya membesar-besarkan."
Dengan pandangan tertarik, bocah itu menoleh ke arah Katsuki dan berkata, "Mama dan Papa Katsuki yang membelikan? Baik sekali."
"Tidak juga," ucap Katsuki singkat. Berhubung ia harus menjawab pertanyaan membuatnya jengkel, hingga akhirnya ia membuka matanya kembali dan berkata, "Cepat tidur, Deku!"
Pertanyaan semacam itu hanya ditanggapi dengan gumaman pelan. Tapi sepertinya Deku tidak menyadari bahwa pemuda itu enggan bicara. Malah bocah itu kembali berkata, "Katsuki punya Papa Mama. Apa aku juga punya?"
Manik merah Katsuki yang tadinya sudah bersembunyi dalam kelopak kembali terbuka. Saat melakukannya, ia menemukan bocah itu tengah menatapnya, menuntut jawaban. Melihatnya membuat kantuk Katsuki lenyap dan ia memusatkan atensinya pada bocah itu dengan berkata, "Kenapa kau berpikir begitu?"
Katsuki bisa melihat bocah itu bingung. Terlebih ketika bocah itu menjawab, "Papa Katsuki bertanya di mana papa mamaku. Apa seharusnya aku juga punya, Katsuki?"
Tak ada kesedihan di manik itu, manik hijau yang menatapnya hanya ingin tahu. Keingintahuan yang membuat Katsuki tak ragu untuk menjawab, "Pasti ada. Memangnya kau lahir dari mana kalau bukan dari Papa Mama?"
"Um..."
Seolah tahu apa yang hendak Deku tanyakan selanjutnya, Katsuki sudah lebih dulu berkata, "Tapi jangan tanya aku di mana mereka. Aku sendiri tidak tahu."
Deku mengerjapkan mata. Ia menatap Katsuki lama sebelum berkata, "Apakah mereka baik seperti Papa Mama Katsuki?"
"Sudah kubilang aku tidak tahu," balas Katsuki. "Kalau tahu, kau sudah kuserahkan pada mereka dari dulu."
Jawabannya membuat Deku mengerjap pelan. Ia menatap Katsuki lama sebelum berkata, "Jadi kalau Papa Mama ku muncul, Katsuki akan menyerahkanku?"
Sadar apa yang baru saja dikatakannya membuat Katsuki membuka mata sepenuhnya. Ia menoleh dan menemukan keingintahuan yang ia lihat telah diganti dengan kekhawatiran. Hal yang tak pernah ia inginkan ada di bola mata bocah itu.
Karena itu ia mengulurkan tangan dan memeluk si bocah. Mendekapnya erat sekalipun ia tahu bocah itu akan menendangnya beberapa jam kemudian karena caranya tidur yang luar biasa. Ditepuknya punggung si bocah dan ia berkata, "Sudah cepat tidur!"
Tangan mungil itu pun balas memeluknya dan mencengkeram kausnya. Dengan suara yang berupa gumaman ia memanggil namanya dan membuat Katsuki terpaksa mendengarkan.
"Katsuki, aku tidak mau papa mamaku muncul."
"Hm?"
"Aku—"
"Deku?"
Katsuki bertanya namun Deku tidak menjawab. Ia tetap diam. Namun kedua tangan si bocah tetap mencengkeram kausnya, seolah takut ia tiba-tiba meninggalkannya. Seolah takut bahwa malam akan memisahkan mereka.
Melihatnya membuat Katsuki tak bisa menahan diri untuk berkata, "Kau tidak mau bertemu mereka?"
Deku diam sebentar sebelum menggelengkan kepala.
"Begitu," jawab Katsuki. "Kau yakin tidak mau pulang?"
Sekali lagi bocah itu menggeleng. Dengan tangan yang memeluknya erat ia berkata mantap, "Mau sama Katsuki saja."
Tanpa disadari Katsuki memeluk bocah itu dan mengusap punggungnya pelan. Dielusnya kepala bocah itu dan ia berkata, "Ya sudah kalau begitu."
.
.
.
(t.b.c)
A.N:
Holla! Cyan di sini! Masih bersama lil Deku dan bigbro Kacchan XD aniway :
el-Vtrich: holla Vtrich :D Shou-kun yang lagi pemotretan emang hawt banget sih memang. Apalagi muncul, kaosnya kebakar, terus bisa liat perut sixpack doi sama badannya yang bikin kelepek-kelepek. Mari kita ucapkan makasih sebesar-besarnya pada Bang Shinsou Hitoshi yang sudah membuat Abang Icyhot panas XD
Tapi gimana ya kira-kira kalo Bang Shinsou ketemu hero nomor 1 langsung? Apa bakal pecah perang dunia ke3? ;P mari kita tunggu di acara reuni, moga2 ada si Abang Control :P
Hanazawa Kay : iya Kay, uda pasti Control tahu sesuatu, kira-kira apa ya? XD
Zzich-vers : hola Zzich :D dari kata-katanya keliatannya Control memang tau sesuatu soal Izuku. Dari sekian banyak orang cuman dia yang kenal... kok bisa ya? :P Padahal yang lain bahkan nggak punya ingatan samsek soal Izuku. :P
Siappp! Makasih untuk semangatnya! Mohon doanya juga biar bisa rajin apdet lagi :P
Guest : holla Guest-san, makasih uda menunggu. Silakan dinikmati ceritanya XD
CahyaNyagi :t-ternyata Shinsou itu husbumu? OMG, kirain masih single si Abang Control, ternyata diam-diam si Abang—
Iyap, Bang Shinsou kayaknya kenal, makanya Katsuki sampai bela-belain ikut acara reuni. Salah satunya untuk tau masa lalunya Deku. Moga2 cepet ketauan ya, sebelom kepergok AFO :p
Makasih semangetnya, CahyaNyagi! Tolong doakan semoga saya rajin apdet lagi tiap minggu :P
Arisa Ezakiya : Holla Arisa-san, selamat bergabung :D sama, aku juga nungguin cerita kelanjutannya gimana. LOL. Dan memang Deku makin misterius, karena ternyata Bang Control kenal orang yang mirip :D
Btw, aku setuju banget sama Monoma. Sebelomnya nggak kepikiran untuk tambahin abang Phantom satu itu, tapi mulut jahatnya si Abang bener-bener bikin kelepek-kelepek. Makasih banget untuk sarannya :D
Also, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D
For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD
Cheers,
Cyan.
