Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.
Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi
Until we meet again by cyancosmic
.
.
.
Enjoy!
Ask 10 : Who looks like him?
Bangunan dengan atap ekor burung dengan beberapa lentera menyala di salah satu sudut menarik perhatian Katsuki. Di sampingnya, papan nama bercahaya dengan tulisan 'Family Restaurant : Kiseki' berkedip-kedip seolah mencoba mengalihkannya. Beberapa tong sake yang ditaruh berjejer di samping pintu hingga Katsuki harus mengingatkan si bocah berambut hijau agar tak menyentuhnya.
Menghela napas, Katsuki memasukkan ponsel dan menggandeng tangan bocah kecil yang ia bawa. Disingkirkannya tirai jerami yang menghiasi pintu masuk sebelum melangkah ke dalam. Saat ia melakukannya, seorang pelayan menyambutnya dan hendak menanyakan apakah ia mempunyai reservasi sebelum Katsuki menghentikannya dengan menunjukkan ponsel berisi undangan reuni UA.
Caranya berhasil. Melihat undangan yang ia tunjukkan, sang pelayan pun langsung paham. Ia tak lagi menanyai Katsuki dan mempersilakannya masuk. Diajaknya Katsuki melewati beberapa meja hingga mereka tiba di ujung ruangan. Sebelum ia melangkah lebih dekat beberapa rekan yang sudah melihat langsung memanggil namanya dan mengundangnya bergabung.
Mendecak sedikit, Katsuki menggandeng bocah berambut hijau yang ia bawa untuk maju menghampiri kawan-kawannya. Ia harus sedikit menarik tangannya karena berkali-kali si bocah teralihkan oleh pengunjung yang berpenampilan menarik. Untung akhirnya mereka berhasil tiba di sekeliling teman-teman Katsuki yang langsung menyambutnya dengan pertanyaan bertubi-tubi sehingga ia harus memfilternya satu-satu.
"Woah, Bakugou! Lama tak jumpa!" Salah seorang dari mereka, pria dengan cengiran menyebalkan menyapannya lebih dulu. Katsuki mengenalinya sebagai Hanta Sero, salah satu anggota geng nya di sekolah dulu. Temannya itu menghampiri sebelum menyadari tamu kecil mereka. "Dan siapa namamu, tamu kecil?"
Meski Deku suka memerhatikan orang-orang berpenampilan menarik, ia tetap berhati-hati bila ada orang asing yang tiba-tiba menghampiri. Reaksi pertamanya adalah bersembunyi dengan memegangi kaki Katsuki sebagai tameng sebelum ia meyakini bahwa orang yang menghampiri tidak memberikan ancaman. Hanya saja perlu waktu untuk melakukannya dan Katsuki bukan orang yang sabar menunggu.
"Mundur, Selotip! Kalian juga mundur! Dua meter, tolong!" Katsuki berkata sambil mendorong wajah pemuda sebayanya itu menggunakan satu tangan dan memberikan ancaman pada yang lain. Tangannya yang lain menahan punggung Deku sementara ia berkata, "Kalian menakutinya!"
"Aku tidak menakutinya!" Sero membela diri. Ia mengusap-usap wajahnya yang didorong paksa oleh Katsuki sementara temannya yang lain mengabaikan ancaman Katsuki. Setelah Sero gagal, yang lain ikut berkumpul salah satunya si Wajah Bulat dan Muka Kodok.
"Lucunya!" Si muka kodok berkata sambil mendekat. Deku menatapnya dan untuk sejenak lupa bahwa ia takut terhadap orang asing.
"Dasar wanita!" Pemuda pendek dengan rambut seperti buah anggur mencemooh dan Katsuki dengan senang hati mempersilakan para wanita menimpuk pemuda itu dan menyingkirkannya.
Namun hal itu tak cukup. Deku kembali memegangi celana jinsnya erat. Menyadari bahwa si bocah mulai gelisah membuat Katsuki membentak teman seangkatannya dan berkata, "Mundur semua! Mundur! Kalian menakuti Deku!"
"Deku?" Wajah bulat yang berada paling dekat dengan mereka membungkukkan badan dan menatap bocah kecil yang bersembunyi di balik kaki Katsuki. "Halo, Deku. Namaku Ochako. Ochako Uraraka."
"Um."
Keramaian tersebut akhirnya dihentikan begitu pemuda lain bergigi hiu datang. Melihat sahabatnya kerepotkan ia buru-buru menghampiri sembari mengulurkan tangan pada si bocah dan berkata, "Hola Bakubro! Deku-kun! Tidak perlu takut! Mereka teman."
"Ei-chan," gumam Deku sembari perlahan-lahan menunjukkan diri. Uluran tangan Kirishima disambutnya sementara Katsuki menggerutu pelan. Begitu jemari mungilnya bersentuhan, partner Ground Zero itu menarik dan menggendongnya sebelum membawanya berkenalan dengan hero yang lain.
"Wah, lucunya!" Wanita berambut pink dengan sklera berbeda dengan yang lain turut mendekat. Dengan senyum lebar ia mencoba menyalami Deku hingga membuat bocah itu menyembunyikan wajah. Hanya saja berkat suara Kirishima, Deku perlahan-lahan berbalik dan memerhatikan wanita dengan warna kulit merah muda itu. "Halo, Deku! Namaku Mina Ashido. Kau mungkin mengenalku sebagai Alien Queen."
Deku tidak mengenalinya tapi ia memandang Mina dengan tertarik. Ia terus memerhatikan tanduk mungil Mina yang bergerak-gerak di kepala sebelum orang berikutnya muncul. Wanita yang muncul kali ini tampak normal, yang satu berambut hitam dan satu lagi berambut ungu.
"Ini Creati dan Earphone Jack," Kirishima berkata sementara Deku memandangi mereka. "Quirk mereka hebat sekali lho! Creati bisa menciptakan benda apa pun sementara Earphone Jack bisa menimbulkan gelombang suara mematikan."
Gumaman kekaguman bocah itu membuat peserta yang lain tertarik untuk bergabung. Hampir seluruh peserta reuni mengerumuni Kirishima yang dengan sabar menjelaskan satu persatu, terutama para wanita. Namun para pria seperti Koji dan Sato pun turut menghampiri karena penasaran dengan bocah kecil yang dibawa Katsuki. Hanya segelintir yang mengerumuni Katsuki dan menyapanya.
"Bagaimana kabarmu, Bakugou?" Pemuda berambut kuning dengan highlight hitam seperti sengatan listrik itu merangkulnya. Sikapnya yang sok akrab tak pernah luntur sekalipun Katsuki selalu memberinya pandangan sinis agar pemuda itu segera menurunkan tangan dari bahunya. "Kukira kau takkan datang. Kirishima mengatakan padaku bahwa kau absen karena harus mengurus bocah."
Katsuki memberi gerutuan pelan sebelum menjawab, "Sampai sekarang pun aku menyesal sudah datang."
Mendengar jawabannya, Denki hanya tertawa dan kembali merangkulnya dengan akrab. Ia mengangkat tangan dan memesan satu minuman pada pelayan sebelum kembali menggoda sahabatnya. Pandangan matanya tertuju pada Deku yang masih sibuk berkenalan dengan teman-temannya yang lain sebelum berkata, "Apa dia bocah yang kau minta kuselidiki keberadaannya?"
"Oh, kau masih ingat tugasmu rupanya?"
Tertawa pelan, Denki hanya berkata, "Maaf, maaf, aku belum sempat mengecek kasusnya. Beberapa bulan ini aku sangat sibuk, terlebih asosiasi hero memberiku pekerjaan tambahan untuk men-tracking keberadaan para villain."
"Kau belum sempat?"
"Err—"
"Sebelumnya kau bilang tak ada kabar apapun tentang anak yang hilang," ucap Katsuki sembari menyipitkan manik merahnya, "kau tidak bilang soal tidak sempat dan hal-hal bullshit lainnya."
Sekali lagi Denki hanya bisa tertawa gugup. Dirangkulnya lagi sahabatnya yang bersumbu pendek itu dan ia berkata, "Maaf, maaf, aku janji akan segera mengeceknya setelah pulang dari reuni ini dan akan segera kukabari."
"Sebaiknya begitu," jawab Katsuki sinis sembari menyingkirkan tangan Denki. Untunglah saat itu minuman yang dipesan sahabatnya datang dan langsung dituangkan di hadapan mereka. Katsuki pun mengambil satu gelas dan ia berkata, "Ada kabar soal para villain?"
Sembari menyesap minuman terlebih dahulu Denki pun berkata, "Ayolah! Kita sedang bersenang-senang di sini dan kau malah berniat membahas pekerjaan?"
Katsuki memberinya tatapan maut yang cukup untuk membuat nyali Denki ciut. Tak punya pilihan Denki pun akhirnya menghela napas. Gelarnya sebagai hacker legendaris tak cukup untuk menyembuhkan ketakutannya terhadap temannya yang satu itu.
"Tak banyak yang bisa kukatakan," ujar Denki dengan suara pelan. "Para penjahat itu menyembunyikan diri dengan sangat baik. Aku menyusup ke berbagai situs namun tak juga menemukan sarang mereka. Hanya saja—"
Manik merah Katsuki menyipit. "Hanya saja?"
Denki menggeleng, "Bukan apa-apa. Hanya rumor tak berdasar yang kutemukan di salah satu situs."
Entah mengapa ucapan Denki mengusik rasa ingin tahunya. Firasat Katsuki mengatakan bahwa ia tak boleh mengabaikan rumor yang satu ini. Bahkan ia berkata, "Rumor apa?"
"Kau serius mau tahu?" Denki bertanya tanpa menutupi keterkejutannya terhadap reaksi Katsuki. Hanya saja melihat ekspresi lawan bicaranya, Denki pun tak banyak mengusiknya. Ia pun kembali meneruskan cerita dan berkata, "Ini hanya rumor, namun mereka bilang All For One sudah bangkit."
"Itu lagi?"
"Kau sudah dengar?" Denki lagi-lagi terkejut. "Aku saja baru membacanya di situs yang kutemukan dan belum kuinformasikan pada pemerintah karena khawatir akan menimbulkan kecemasan publik." Ia pun kembali mendekat pada Katsuki dan berkata, "Darimana kau mendengarnya ngomong-ngomong, Bakugou?"
Sebelum Katsuki sempat menjelaskan, keriuhan baru muncul menggantikan keramaian akibat kemunculannya dan Deku. Manik merahnya mencari sumber yang menimbulkan kebisingan kecil di rumah makan dan menemukan sosok yang belakangan ini selalu muncul di kantor agensinya. Bahkan ia harus menahan kejengkelan ketika melihat pria berambut dwiwarna itu mengambil tempat di sampingnya seolah mereka bersahabat baik. Bahkan ia berkata pada Katsuki, "Tak kusangka kau datang lebih dulu."
Sebagai ganti Katsuki, Denki lah yang lebih dulu menjawab, "Kalian janjian? Wow! Ini baru berita! Padahal aku mengira hero nomor satu dan nomor dua takkan datang tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya."
"Berisik, Pikachu!" Katsuki berkata dengan jengkel. Ia baru saja hendak bertanya pada hero dengan quirk half cold half hot itu sebelum para wanita bergabung. Akibatnya, ia terpaksa menutup mulut dan membiarkan para wanita mengambil alih gilirannya bicara.
"Todoroki! Aku tak menyangka kau akan datang! Kau tahu, wajahmu mengisi majalah fashion bulan lalu dan kudengar majalah itu laku keras. Aku bahkan tak bisa mendapatkannya di toko buku manapun." Mina berkata dengan antusias. "Para rekan sekerjaku sepertinya memborong lebih dari satu majalah. Mereka semua fansmu."
"Halo, Todoroki! Kukira kau tak datang, bagaimana kabarmu? Aku melihatmu di televisi membintangi parfum baru yang akan segera launching." Uraraka berkata sambil mengerubunginya. "Parfum itu laku keras walau Aoyama bilang ia tak membutuhkan parfum itu untuk tampil maksimal."
"Hei, aku dengar itu!"
Masih banyak lagi komentar para wanita teman sekelasnya yang membuat Katsuki memilih untuk angkat kaki dari sana. Ditinggalkannya Todoroki dan teman-temannya sebelum menghampiri Kirishima yang tengah berbincang dengan Tokoyami. Pemuda dengan kepala seperti burung gagak itu sepertinya menarik perhatian Deku sehingga anak itu hanya bisa memandang kagum sementara Kirishima menggendongnya.
Namun ketika Katsuki menghampiri mereka, otomatis si bocah mengulurkan tangan yang langsung disambutnya. Dibawanya bocah itu ke pelukannya sementara ia duduk di samping Kirishima. Ia bisa merasakan tatapan Tokoyami di kulitnya, hanya ia memilih untuk menatap Deku dan berkata, "Bagaimana, Deku? Sudah mau pulang?"
"Katsuki!" Deku berkata dengan lantang ketika mendengar suaranya. Tangan mungilnya disentuhkan pada lengannya sementara bocah itu berkata, "Katsuki, teman-teman Katsuki keren- keren! Ada yang bisa menghilang, ada yang bisa menciptakan apa pun juga ada yang bisa berteman dengan semua binatang. Mereka keren sekali. Oh ya, Paman Toko Roti juga ada, Katsuki. Ia bilang ia akan memberiku kue kalau kita mampir lagi nanti."
Sementara Katsuki mengerutkan dahi, Kirishima tertawa di sampingnya. Katsuki memberinya tatapan jengkel sebelum Kirishima mengangkat tangan, meminta maaf. Ia pun menyentuhkan satu tangan di kepala si bocah sebelum berkata, "Aku mengenalkan Deku pada Yaoyarozu, Hagekure, Koda dan Sato. Yang lain-lain juga kukenalkan, tapi sepertinya Deku hanya mengingat mereka."
Menggerutu pelan Katsuki berkata, "Jadi? Kapan kau mau pulang, Deku?"
Kepala Deku bergerak bingung sementara Kirishima berkata, "Kau 'kan baru saja datang, Bakubro! Kenapa buru-buru mau pulang? Biarkan Deku berkenalan dengan yang lain. Mereka juga ingin berkenalan dengannya."
"Untuk apa mereka berkenalan dengannya, Rambut Sialan?" Katsuki berkata sementara ia mengambil tempat dan membiarkan Deku duduk di pangkuannya. "Apa lihat-lihat, Otak Gagak?"
Menggeleng pelan, pria berkepala burung itu hanya berkata, "Kau dan kata-kata kasarmu masih tak berubah. Seolah baru kemarin kita lulus dan menempuh jalan masing-masing."
Kirishima yang duduk di sampingnya memamerkan cengirannya. Ia lebih dulu berkata, "Sudah delapan tahun, tapi rasanya seperti baru kemarin kita lulus. Kau tahu, Bakubro? Kadang-kadang buatku ini seperti mimpi menjadi partner hero nomor satu saat ini."
Mendengus pelan Katsuki berkata, "Kau kebanyakan bermimpi, Rambut Sialan!"
"Tapi benar juga," Tokoyami menyahut sebelum Katsuki lanjut mengomel. "Delapan tahun ini rasanya seperti mimpi. Bekerja sebagai intel membuatku jarang bersosialisasi dan setiap memikirkan teman-temanku, kukira mereka sudah berkeluarga dan sukses. Tapi jujur aku tidak pernah membayangkanmu akan seperti itu, Bakugou."
"Hah?"
"Memikirkan kau berkeluarga saja sudah aneh. Tapi tiba-tiba mengasuh seorang anak—" Tokoyami menggeleng pelan. "Aku selalu mengira bahwa kau akan fokus meniti karir mengingat kau selalu mengincar posisi nomor satu dan tak memikirkan soal keluarga sama sekali."
"Urus urusanmu sendiri, Otak Gagak!" Katsuki berkata dengan pedas. "Tidak perlu mencampuri urusanku."
Tokoyami tak mengambil pusing dengan perkataan Katsuki. Ia malah lanjut berkata, "Tapi, aku tidak melihat sedikit pun kemiripan anak ini denganmu. Apa benar ia kerabatmu?"
Mendecih pelan Katsuki hendak meminta pria berkepala burung itu agar lagi-lagi tidak memusingkan soal dirinya sebelum seseorang menghampiri meja mereka. Begitu menyadari siapa yang datang dan melihat Deku berseru gembira membuat kejengkelannya bertambah. Terlebih saat dengan semangat bocah itu berkata, "Shouto!"
Tokoyami sempat mengerutkan alis melihat sang hero nomor dua tersenyum sementara tangannya mengusap-usap kepala bocah asuhan sang hero nomor satu. Paruhnya terbuka, hendak bertanya sebelum teringat ucapan Katsuki. Pemuda itu pasti akan memintanya untuk mengurus urusannya sendiri bila ia hendak mencari tahu bagaimana para hero ini tampak akrab dengan si bocah.
"Kau sudah bertemu dengannya?" Shouto bertanya seraya mengambil tempat duduk di dekat Tokoyami. Ia menatap sang hero nomor satu dengan dahi berkerut dan berkata, "Apa dia datang?"
"Entahlah," jawab Katsuki asal. "Aku bukan penjaga pintu, halfie."
Shouto sudah terbiasa mendapat jawaban tak bersolusi ala Katsuki. Ia pun menoleh pada Kirishima yang balas memandanginya dan berkata, "Apa kau melihat Hitoshi Shinso, Kirishima?"
"Hitoshi Shinso?" Kirishima menatapnya. "Ah! Pemuda yang selalu mengantuk itu, ya?"
Todoroki menyipitkan mata. Deskripsi Kirishima terlalu ambigu untuknya. Ada banyak pemuda yang selalu berekspresi mengantuk, bahkan Denki Kaminari pun selalu terlihat mengantuk untuknya. Maka itu untuk meyakinkan bahwa mereka tengah membicarakan orang yang sama, Todoroki berkata, "Laki-laki berambut ungu yang auranya seperti Aizawa-sensei. Apa kau melihat orang seperti itu, Kirishima?"
"Aku tidak terlalu memerhatikan," aku Kirishima. "Tapi mungkin ia bergabung dengan anak kelas 1B? Tadi kami memisahkan diri dari mereka karena yang bernama Neito terus menerus menantang anak kelas 1A saat kalian belum datang."
Mendengar nama itu disebut membuat Katsuki harus menahan diri untuk tidak menunjukkan rasa malasnya terang-terangan. Sedari awal ia sudah menolak untuk menghadiri reuni berhubung ia tidak tertarik untuk mengetahui kabar para ekstra di kelasnya. Hanya saja karena mengira ia akan mengetahui sesuatu tentang Deku, ia pun tak punya pilihan selain datang. Namun ia lupa bahwa 'ekstra' menyebalkan itu juga menghadiri acara ini.
"Baiklah, akan kucoba mencarinya di antara kelas 1B," ujar Todoroki yang langsung beranjak. Ia menoleh pada Katsuki dan pandangan matanya seolah mengisyaratkan 'Apa yang sedang kau lakukan?' ketika melihat Katsuki hanya duduk diam.
Katsuki sendiri menyadari tatapan Shouto, hanya saja ia enggan beranjak dari tempat duduk. Meski begitu karena hero nomor dua terus menerus memandanginya ia pun tak punya pilihan. Ia menepuk kepala Deku pelan sebelum beranjak mengikuti Shouto. Namun saat itu Deku menatapnya dan hendak mengikuti sehingga Katsuki pun menghentikan langkah.
"Katsuki," ujar Deku sambil mengikutinya, "Mau ke mana?"
"Kau tunggu di sini, Deku!" Katsuki berkata sambil menyentuh bahu Deku dengan kedua tangannya. "Pesanlah makanan apa pun dan Rambut Sialan akan membayarnya untukmu."
Meski Kirishima sudah mengiyakan bahwa ia akan membelikan Deku apa pun, bocah itu malah menggelengkan kepala. Kedua tangannya memegangi celana jins Katsuki dan dengan ekspresi khawatir ia berkata, "Mau ikut! Katsuki!"
Alis Katsuki berkerut. Tak biasanya Deku begitu rewel dan mengikutinya ke mana pun. Apalagi ia menitipkan anak itu pada Rambut Sialan dan bukan pada orang lain. Bahkan ia melihat Kirishima sampai menghampiri mereka dan berjongkok di samping Deku.
"Kenapa, Deku-kun?" Kirishima menyentuh bahu bocah itu. "Kau tidak mau pesan makanan? Kudengar Katsudon di sini enak, lho?"
Perlahan-lahan Deku menoleh pada Kirishima. Kepalanya bergerak pelan sebelum ia menatap Katsuki sekali lagi. Tangannya masih memegangi celana jins Katsuki hingga Kirishima menariknya pelan. Barulah saat itu Deku melepaskannya, meski Katsuki bisa melihat kerutan dan bibirnya yang mengerucut.
Melihat itu Katsuki pun ikut berjongkok. Satu tangannya menyentuh kepala Deku dan ia berkata, "Aku akan segera kembali, Deku! Tunggulah bersama Rambut Sialan sebentar!"
Deku tampak ragu. Ia menatap Kirishima sebentar dan beralih lagi pada Katsuki. Sesaat Katsuki mengira bahwa ia harus meyakinkan bocah itu sebelum melihat anggukan pelan. Melihatnya membuat Katsuki tertegun dan mengerjap pelan sebelum mengacak-acak rambut si bocah dan bangkit berdiri. Ia masih menatap bocah itu dan menemukan manik hijau memandangnya lurus hingga akhirnya menghilang di balik fusuma. Baru saat itu Katsuki menatap ke depan dan mengikuti sang hero nomor dua menaiki tangga.
"Kenapa dengan Deku?" Shouto tiba-tiba bertanya.
Bahu diangkat sementara Katsuki berkata, "Entah."
Shouto menghentikan langkah dan menoleh. Manik dwiwarnanya menatap pemuda berambut pirang kelabu itu dengan rasa ingin tahu. Namun pria yang ditatapnya balas memandangnya dengan bingung. Kelihatannya pemuda itu memang tak memiliki jawaban yang ia cari.
Karena itu Shouto melanjutkan, "Kemarin ini juga dia tiba-tiba mencarimu dan sulit sekali melepaskan diri darinya."
"Oh," jawab Katsuki. "Terkadang dia memang rewel dan cengeng."
Menurut Shouto tidak. Bocah itu tidak serewel dan secengeng yang hero nomor satu itu katakan. Shouto pernah melihatnya dikepung Nomu, namun bocah itu tak merengek seperti kebanyakan anak kecil. Bocah itu hanya merapat saking takutnya tapi tak menangis atau berteriak. Meski terlihat seperti anak biasa, Shouto merasa ada sesuatu yang janggal pada diri bocah itu.
Hanya saja ia tak ingin membantah ucapan Katsuki. Ia tak mau berspekulasi macam-macam dan lebih memilih mencari kebenarannya. Makanya meski ia sendiri tak ingin datang ke acara reuni, ia tak punya pilihan. Bagaimana pun caranya, ia harus mengetahui kebenarannya dari Hitoshi Shinsou.
"Oi," panggil Katsuki yang membuat Shouto tersadar dari lamunannya. Ia menoleh dan Katsuki pun melanjutkan ucapannya. "Siapa Hitoshi Shinsou?"
"Bukannya sudah kujelaskan?" Shouto berkata dengan nada datarnya. "Pemuda yang auranya mirip—"
"Aku tidak tertarik dengan orang yang mirip Bakazawa," potong Katsuki sebelum Shouto menyelesaikan ucapannya. "Aku ingin tahu bagaimana ia bisa mengenali Deku sementara orang lain tak tahu tentangnya? Belum lagi kau bilang dia juga lulusan UA, sementara aku tak tahu ada orang sepertinya di UA."
"Aku pun tak begitu mengingatnya," aku Shouto dengan langkah pelan sementara mereka menyususuri ruangan hingga berhenti di depan ruangan yang paling gaduh. "Hanya samar-samar, aku ingat seseorang dari bagian general yang bergabung dengan jurusan hero di tahun kedua."
Katsuki mengerutkan dahi. Memang sepertinya ada peristiwa semacam itu saat ia bersekolah di UA. Namun berhubung ia menganggap yang lain hanya ekstra, ia tak pernah mengngat secara khusus teman-temannya. Beberapa nama yang ia sebut pun ia ingat karena pernah berinteraksi dengannya.
"Yah, kita akan lebih mengetahuinya setelah menanyainya langsung," ujar Shouto sembari memegang gagang pintu dan menggesernya hingga terbuka memperlihatkan ruangan di dalamnya. Ketika ia melakukannya, beberapa pasang mata langsung menoleh. Ia pun membungkuk sopan pada mereka dan berkata, "Maaf mengganggu! Aku mencari seseorang bernama Hitoshi Shinsou."
Kegaduhan yang sebelumnya menyelimuti ruangan langsung terhenti. Semua pandangan mata langsung tertuju pada Shouto dan Katsuki. Keheningan itu baru terpecah ketika salah seorang dari mereka memperdengarkan suara tawa sinis dan menunjuk keduanya. Lalu dengan lantang orang itu berkata, "Ha! Mau apa kelas 1A ke sini? Apa kalian berniat memata-matai kami?"
Suara itu berhenti seiring dengan hantaman keras di kepala si pemuda. Bersamaan dengan itu kegaduhan kembali terdengar. Untunglah saat itu salah satu dari mereka, seorang wanita berambut jingga yang dikenali Shouto sebagai ketua kelas 1B menghampiri. Bersama dengannya, pemuda yang sebelumnya ia pukul diseret bersama dengannya. Satu tangannya memaksa pemuda itu agar menunduk sementara ia sendiri berkata pada Shouto dan Katsuki, "Maafkan sikapnya, Ground Zero, Shouto! Orang ini memang senang sekali mencari masalah tapi ia tidak bermaksud buruk."
"Lepaskan aku, Kendo!" Pemuda berambut pirang dan bermata biru itu tak terlihat seperti tak mempunyai maksud buruk. Begitu dilepaskan ia langsung menunjuk Katsuki juga Shouto dan dengan suara keras ia berkata, "Kalian berdua, apa tujuan kalian datang kemari? Mentang-mentang kalian nomor satu dan dua bukan berarti kami akan menerima kalian di sini! Dasar anak 1A!"
"Hentikan, Neito!" Wanita yang dipanggil Kendo kembali berkata. "Tetsu! Bantu aku!"
Mendengar namanya disebut pemuda berambut silver memisahkan diri dari kerumunan dan menghampiri Kendo. Ia menarik Neito dan berkata, "Kau membuat malu saja, Neito! Lain kali akan kupastikan kau tak menerima undangan reuni kalau sikapmu terus begini."
"Oi, oi! Kenapa harus sejauh itu?"
Meski bingung dengan situasi yang terjadi, Shouto menguasai diri lebih cepat dari Katsuki. Ia pun berkata, "Maaf menyela! Tapi apa di sini ada yang bernama Hitoshi Shinsou?"
"Mau apa kalian dengan Hitoshi?" Pemuda berambut pirang bermulut jahat kembali berkata. "Kalian mau memata-matainya dan mencari kelemahannya, hah?"
"Bisa diam tidak, pecundang?" Katsuki akhirnya berkata dengan tak sabar. Jengkel karena ia harus membuang waktu mendengarkan ocehan tak penting sementara Deku menunggunya di bawah. "Sekali lagi kutanya, apa di sini ada yang namanya Hitoshi?"
Sudah bukan rahasia umum bahwa Ground Zero terkenal dengan sifatnya yang temperamen. Makanya tak ada yang heran ketika mendengar kata-kata kasarnya. Bahkan Kendo sendiri pun tak lagi mengurusi Neito dan berkata, "Tadi aku melihatnya. Di mana Shinsou? Bukankah tadi dia di sini? Neito? Bukannya tadi dia bersamamu?"
Pemuda yang dipanggil Neito itu menunjukkan seringai yang membuat Katsuki harus menahan diri untuk tidak memukul wajahnya. Dengan ekspresi menyebalkan ia berkata, "Ha? Untuk apa aku mengatakannya pada kalian? Cari saja sendiri!"
"Bajingan ini—"
Shouto menepuk pundak Katsuki dan maju selangkah. Ia menggantikan Katsuki bicara dengan berkata, "Apa dia sudah pulang?"
"Seharusnya belum, kami baru saja mulai reuni," jawab Kendo sambil mengerutkan dahi. Ia menatap Neito sekali lagi dan berkata, "Serius, Neito! Kalau kau tahu sesuatu sebaiknya kau mengatakannya! Untuk apa kau menyembunyikan dan membuat mereka jengkel?"
Neito hendak membalas sebelum kelimanya mendengar derit seseorang menaiki anak tangga. Mendengarnya, keriuhan yang sebelumnya menghiasi ruangan berangsur-angsur memudar. Mereka semua fokus mendengarkan suara langkah kaki hingga akhirnya langkah itu berhenti. Bersama dengan itu mereka mendengar suara, "Lho? Reuninya sudah selesai?"
Katsuki menoleh ke belakang begitu juga dengan Shouto. Seingatnya, sang hero nomor dua pernah mengatakan bahwa orang yang mereka cari memiliki aura yang mirip dengan seniornya di agensi. Ia tak menyangka kemiripan itu begitu kental hingga nyaris membuatnya mengira Aizawa sendiri yang tengah berdiri di belakangnya. Bahkan kebiasaannya melingkarkan syal di leher itu pun sangat mirip dengan atasannya saat mengenakan kostum hero.
"Ah," ujar Shouto yang lebih dapat menguasai diri. Ia melewati Katsuki dan menghampiri pemuda berambut ungu yang baru saja muncul itu. Tangannya terulur sementara senyumnya terlihat ramah, meski Katsuki dapat menangkap kesinisan dari caranya bicara. "Senang bertemu denganmu lagi, Control!"
Alis pemuda yang dipanggil Control itu terangkat. Ia menatap Shouto kemudia beralih pada Katsuki. Meski berusaha menguasai diri, Katsuki bisa melihat bahwa kelopak mata pemuda itu melebar sedikit saat melihatnya. Walaupun pada akhirnya pemuda itu mengerjap pelan dan turut mengulurkan tangan untuk menyambut tangann Shouto.
"Halo, Shouto!" Ia berkata sambil menjawab tangan pemuda itu. "Tak kusangka kita akan bertemu lagi secepat ini."
"Ya, aku dan Ground Zero mencarimu," ujar Shouto dengan nada yang sarat makna. Meski hanya Katsuki yang merasakan ancaman pada setiap kata-kata pemuda itu. "Sepertinya kita perlu bicara sedikit."
"Begitukah?" Nada suara Shinsou menunjukkan bahwa ia tak tahu apa pun. Ia menatap keduanya sebelum berkata, "Baiklah. Apa yang hendak kalian bicarakan?"
Shouto menatap sekeliling. Melihat gelengan pelan Katsuki, ia pun kembali berkata, "Bagaimana kalau kita bicara di ruangan lain? Ini sedikit menyinggung privasi."
Shinsou mengangkat alis sementara seluruh anak 1B mengerutkan dahi terlebih Neito. Mereka semua penasaran. Apa yang diinginkan hero nomor satu dan hero nomor dua dari Shinsou?
Namun tanpa banyak bicara, Shinsou menyanggupi permintaan Shouto. Ia menurut saja dan mengikuti saat hero nomor dua saat ini memimpin jalan untuk keluar dari ruangan diiringi pandangan mata pemuda dan pemudi yang pernah menempati kelas 1B. Di belakangnya, sang hero nomor satu tak repot-repot mengucapkan salam dan mengikuti keduanya. Ketiganya tak memedulikan pandangan yang mengikuti hingga tiba di salah satu ruangan kosong dan menutup pintunya.
"Kutebak," ujar Shinsou ketika melihat Katsuki menginjakkan kaki di dalam ruangan, "ini Ground Zero? Hero yang saat ini menduduki peringkat nomor satu."
Manik merah menyipit, Katsuki balas menatap pemuda bermata panda itu. Kedua tangannya tetap berada di kantung celana jinsnya sementara ia berkata, "Lalu kenapa, Mata Panda? Kau punya masalah dengan menjadi hero nomor satu?"
Shinsou tertawa mendengar pertanyaan Katsuki. Ia kembali berkomentar, "Tidak. Aku tidak pernah mau meributkan gelar. Bagiku itu tak ada artinya."
Lagi-lagi Katsuki harus menyipitkan mata mendengar ucapannya. Namun sebelum ia bisa berkomentar, Shouto lebih dulu berkata, "Maaf menyela, tapi aku tidak suka berbasa-basi."
"Tentu," jawab Shinsou sambil menatapnya. Satu tangannya bersarang di jaket jinsnya sementara ia menatap sang hero nomor dua. "Apa yang bisa kubantu, Todoroki-san?"
Shouto mengangguk. Ia menunjuk sang hero dan berkata, "Ini tentang bocah yang kau temui sebelumnya. Apa kau mengenalnya?"
"Bocah?" Shinsou berkata sebelum memutar manik ungunya. Beberapa saat kemudian a berkata, "Ah, bocah yang kau bawa saat pemotretan itu? Bocah yang berambut hijau dan bintik-bintik di wajahnya?"
"Ya," jawab Shouto. "Waktu itu kau bilang kau mengenalnya dan Deku sendiri bilang kau bertanya apakah dia punya kerabat."
"Oh, soal itu—"
"Apa kau mengenal seseorang yang mirip dengannya?" Shouto memotong ucapannya. "Kau mengenal orang yang mirip Deku?"
Shinsou menatap sang hero nomor dua. Tangannya diturunkan sementara ia mendengus pelan. Pada sang hero nomor dua ia berkata, "Hanya itu yang ingin kau tanyakan?"
Shouto memilih untuk bungkam dan mengamati Shinsou. Di seberangnya, ia memerhatikan bahwa sang hero nomor satu sudah melipat kedua tangannnya di depan jaket hoodienya sementara manik merah sang hero terpaku pada Control. Shouto pun mengalihkan pandangannya lagi pada Shinsou, kembali menunggu jawaban.
"Yah, di dunia ini ada banyak orang yang mirip," jawab Shinsou sambil mengangkat bahu. "Aku merasa wajahnya mirip salah seorang kenalanku. Hanya itu."
"Siapa kenalanmu yang mirip dengannya?" Shouto kembali bertanya. "Namanya?"
"Namanya?" Shinsou berkataa sembari memandang ke atas. Ia tampak berpikir keras sebelum menjawab. "Aku tidak ingat. Sudah lama sekali. Kenapa kau bertanya?"
"Itu—"
Sebelum Shouto bisa menjelaskan, pemuda yang tadi hanya melipat kedua tangan di depan dada akhirnya bergerak. Ia menghampiri Shinsou dan menarik kerah kaus yang pemuda itu kenakan di balik jaket jinsnya. Shouto bisa melihat sedikit kekuatan di balik cengkeraman tangannya terlebih saat pemuda yang terkenal tak sabaran itu berkata, "Dengar, mata panda! Aku tidak mau membuang-buang waktu hanya untuk ini. Jadi jawab dengan benar pertanyaan si dispenser sialan!"
"Oh—"
"Jangan berpura-pura tak tahu!" Katsuki kembali berkata dengan nada mengancam. "Aku bisa melihat bahwa kau menyembunyikan sesuatu, bajingan! Kalau kau masih berpura-pura aku akan dengan senang hati meledakkan kepalamu dan mengeluarkan ingatanmu dari sana!"
Shinsou malah tertawa kecil mendengar ancaman sang hero nomor satu. Ia menatap pemuda bermanik merah di hadapannya dan berkata, "Apa ini yang selalu kau lakukan setiap kali menghadapi para penjahat, Katsuki Bakugou?"
"Itu bukan—"
Katsuki tiba-tiba berhenti bicara. Ia menatap pemuda berambut ungu dan manik merahnya membelalak lebar.
"Lepaskan tanganku, Katsuki Bakugou!" Pemuda itu berkata. "Sekarang!"
Serta merta Katsuki melepaskan tangannya. Di seberangnya Shouto menutup telinga sementara Shinsou menatap keduanya. Manik ungunya memicing dan ia berkata, "Memaksaku takkan ada gunanya bagi kalian. Sudah kukatakan aku tak tahu. Untuk apa memaksa?"
Meski menutup telinga, Shouto bisa membaca dari gerak bibir pemuda itu. Namun ia lebih dulu berkata pada Katsuki, "Bakugou! Kehendaknya masih bisa dilawan bila kau punya niat yang kuat untuk membantah!"
"Oh?" Shinsou menatap Shouto dengan tertarik. "Begitukah menurutmu, Shouto Todoroki?"
Shouto memicingkan mata. Ia tahu bahwa dirinya yang dimaksud. Tapi selama ia menutup telinga dan tak mendengarkan, ia takkan bisa dipengaruhi. Ia hanya cukup membaca gerak bibir pemuda itu. Makanya ia tak khawatir saat berkata, "Selama aku tak mendengar suaramu, kau tak bisa memengaruhiku."
Shinsou tertawa dan ia berkata, "Turunkan tanganmu, Shouto Todoroki!"
Shouto yakin ia tak mendengar suara apa pun. Tapi ia tak mengerti mengapa ia menurunkan tangan saat ia melihat bibir Shinsou bergerak. Ekspresi yang biasa datar pun berubah hingga membuat sang pengguna quirk tertawa kecil melihatnya. Ia membuat Shinsou kembali tertawa dan berkata, "Jadi hanya ini kemampuan kalian?"
Baik Katsuki maupun Shouto tak ada yang bisa menjawab. Keduanya tak bisa bergerak berhubung tubuh mereka tengah dikendalikan. Keduanya hanya dapat mendengarkan ketika Shinsou tertawa dan menggeleng. Pun mereka tak dapat berbuat apa-apa saat pemuda itu lewat dan menuju ke pintu.
"Aku bersedia menjawab pertanyaan kalian, tapi aku tidak menoleransi kekerasan," jawab Shinsou sambil menggeser pintu. "Kalian berdua bisa diam di sini sementara aku dulu—"
Ucapannya terhenti ketika mendengar suara jeritan di bawah. Bersamaan dengan itu Shinsou mematung dan berhenti bergerak. Suara jeritan semacam itu hanya didengarnya bila ia sedang berhadapan dengan penjahat. Tapi mana mungkin di tengah reuni angkatan UA ada penjahat yang punya nyali untuk menyerang.
Ketika ia masih memikirkan kemungkinan tersebut, ia mendengar seseorang bergerak. Ia menoleh dan menemukan pemuda berambut pirang yang seharusnya ia kuasai berusaha keras menggerakkan tangan. Meski perlahan, Shinsou terkejut karena pemuda itu begitu cepat melepaskan diri. Namun ia tak berbuat apa-apa sekalipun ledakan muncul di kedua tangan pemuda itu.
Melihat quirk yang aktif membuat Shinsou tahu pemuda itu sudah terbebas dari pengaruhnya dan akan membalasnya untuk apa yang telah ia lakukan. Namun ia tetap diam tak beranjak ketika pemuda itu mendekat sementara harum nitrogliceryn memenuhi ruangan. Ia bersiap menerima hantaman ketika pemuda itu berlari melewatinya dan berlari tergesa-gesa menuruni tangga. Dahinya berkerut sementara pandangannya mengikuti punggung pemuda itu. Hanya saja tak ada yang lebih membuatnya berkeringat dingin dibanding ketika pemuda itu berteriak.
"Deku!"
Bagai disiram air es, manik ungu Shinsou membelalak. Bocah itu ada di sini? Ke acara reuni ini? Bagaimana— Lalu di bawah—? Shinsou menggelengkan kepala.
Ia berusaha menguasai diri terlebih ketika menyadari kehadiran sang hero nomor dua di tempatnya. Meski demikian, perlahan-lahan pemuda itu pun mulai menunjukkan reaksi penolakan. Padanya, Shinsou pun berkata, "Jawab aku!" – Shinsou berusaha setenang mungkin— "Anak itu. Apakah anak itu juga hadir di sini? Di acara ini?"
Berada dalam pengaruh, Shouto tak punya pilihan selain membuka mulut. Pada Control ia berkata, "Ya. Ia juga hadir."
Menggigit bibir, Shinsou pun bergegas melewati pintu. Namun saat ia melakukannya, api dan es menyerang pintu hingga membuatnya terhenti di tempat. Menoleh ke belakang ia melihat sang hero nomor dua sudah terbebas dari pengaruhnya. Ia menelan ludah tatkala menyadari bahwa ia harus menghadapi hero yang satu itu.
"Dua kali," ucap Shouto dengan api yang menyala dan membakar jas abu-abu dengan baju garis yang ia kenakan, "kau membuatku membakar baju yang kusukai."
Tersenyum kecut, Shinsou pun mencoba peruntungannya. Ia lagi-lagi berkata, "Apakah itu masalah untukmu, Shouto Todoroki?"
Sekali ini Shouto tak menjawab. Ia menutup mulutnya rapat dan langsung menyerang Shinsou dengan es. Setengah mati Shinsou harus menghindar bila tak ingin beku di dalamnya. Ia harus bernegosiasi dengan Todoroki bila ingin keluar dari ruangan ini.
"Bagaimana kalau kita hentikan ini, Todoroki?" Ia berkata pada pemuda dengan quirk setengah es dan setengah api itu. "Kau juga mendengar jeritan itu, bukan? Bukankah akan lebih baik kalau kita menyelidiki di bawah dibanding bermain-main di sini?"
Shouto lagi-lagi tak menjawab. Ia memandang Shinsou dengan curiga. Bila sebelumnya ia mengira bahwa quirk Shinsou bisa dielakkan dengan menutup telinga, kali ini ia menutup mulutnya. Ia punya dugaan bahwa jawaban yang ia berikan akan membuat Shinsou memanfaatkannya lagi.
"Aku takkan mengontrolmu," ujar Shinsou berharap bahwa tawarannya cukup menarik untuk sang hero, "aku serius kali iini!"
Ia tak mau percaya. Satu tangannya tetap menjaga agar es yang memenuhi ruangan tak membeku dengan mudah dan membuat Shinsou melarikan diri. Ia sudah terbiasa dengan para penjahat yang memelas dan memohon tapi pada akhirnya menyerangnya dari belakang. Pemuda ini pun mengingatkannya akan para penjahat seperti itu.
"Baiklah, baiklah," Shinsou berkata sambil mengangkat tangannya. "Aku akan memberitahu petunjuk untuk jawaban yang kau cari. Tapi setelah itu kita benar-benar harus ke bawah dan melihat keadaan. Apa kau setuju?"
Dahi Shouto berkerut mendengarnya. Jawaban yang ia cari?
"Kau tentunya sudah tahu bahwa satu angkatan di 1A berjumlah dua puluh orang," ujar Shinsou. "Dengan 1B total muridnya menjadi empat puluh orang."
Alis Shouto berkerut. Dalam hati ia bertanya-tanya. Lantas kenapa? Ia sudah tahu hal iini. Untuk apa orang ini mengulang fakta yang sudah ia ketahui.
"Tapi begitu aku masuk, jumlahnya menjadi empat puluh satu," ujar Shinsou sambil tersenyum misterius. "Apa kau mengerti maksudku, Shouto?"
.
.
.
(t.b.c)
A.N:
Nyaris tapi berhasil update XD senang sekali saya! Ide ini uda bertengger di otak selama satu minggu dan nggak sabar buat direalisasiin LOL. Makasih buat Arisa yang kasih ide munculin Neito. Dipikir-pikir, chara ini juga saya demen, meski mulutnya jahat :P
Aniway :
el-Vtrich: yay! Update lagi! Kali ini nggak perlu seumur hidup, cukup satu minggu saja :D ihiy
Chapter kemarin emang penuh sama fluff2nya Katsuki family sih ya? Tapi Deku juga uda kasih kepastian, dia nggak mau sama yang lain. "Cuman mau sama Katsuki aja", gitu katanya :P
Untuk chara Inko, saya belum tahu sejujurnya T^T seharusnya tetep ada, cuman masih mikir di mana dikenalinnya berhubung pusat dunianya masih berputar di sekeliling Katsuki sama Deku :D
Di reuni ini, semua chara yang kamu suka aku masukin akhirnya El-san :D Shinsou ada, Todoroki ada, Katsuki ada,bahkan Kiri-chan juga ada XD haha, big bro banget Kiri-chan itu :D semoga kamu juga suka semua yaaa XD
WinYuzukiN: holla Yuzuki XD makasih semangetnya, saya juga sama, nggak sabar nunggu kelanjutannya :D
Hanazawa Kay: iya Kay, moga-moga mereka selalu bersama ya :D
Name-chan : Holla Name-san XD iya jadi gregetan sendiri liat Katsudeku satu ini :D aku juga suka banget sama mereka, gegara si Aroe (nyalahin, padahal demen)
Nah, di sini Control uda kasih tahu petunjuknya, kira-kira apa ya yang dia tau soal Deku? Apa kamu bisa nebak? XD Kasihan Todoroki yang dua kali kena controlnya Shinsou :P bajunya jadi kebakar terus saking jengkel XD tapi gapapa, biar para ladies seneng liat badan abang dispenser yang kayak Dewa (oi ...)
Also, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D
For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD
OMAKE:
Berhubung ada pertanyaan dari El-san, jadi kepikiran untuk dibuatin omake singkatnya. Coba kita liat gimana jadinya kalau adult Deku bilang suka ke Kacchan
Author (A) : Jadi Katsuki, bagaimana kalau kau mengekspresikan apabila Deku dewasa bilang suka. Berhubung ini acting, tolong dibuat sefluffy mungkin, untuk kepentingan pembaca!
Katsuki (K) : Hah? Untuk kepentingan pembaca? Harus buat fluff? Sama si Deku itu? (ketawa ala villain) Yang bener aja! Mau akting pun nggak sudi! Fluff? Astaga! Ini lelucon terburuk dalam sejarah!
Tiba-tiba Little Deku muncul. Masuk ke dalam studio dan lari-lari mau naik ke pangkuan Katsuki.
Little Deku (LD): Katsuki! Umh!
K: Sedang apa kau, Deku? (ambil Deku, digendong) Kenapa lari-lari sih?
LD : Katsuki! Katsuki! (maksa Katsuki buat deketin telinga buat bisik-bisik)
K: apa sih? (tapi nurut, deketin kepala ke bibir Deku)
LD : Katsuki, suki! Suki desu!
K : ... hm, iya, iya (sambil elus-elus kepala Little Deku) uda tau! Dasar Deku!
Kirishima, dkk: ...
A : ...oi Katsuki! Lakukan itu ke Deku yang dewasa bukan Deku anak-anak! Ganti!Ganti! Salah peran!
K: hah? Cari mati ya, ekstra? Beraninya nyuruh-nyuruh!
A :... (balik badan, grak!) Oke, El-chan! Kita lanjutkan lain kali! Ciaossu!
