Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.
Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi
Until we meet again by cyancosmic
.
.
.
Enjoy!
Ask 11 : What did he want?
Kabut menghalangi pandangan saat Katsuki melangkahkan kaki menuruni tangga membuat pandangannya terhalang. Entah berapa lama ia melaluinya seolah tak pernah tiba di dasar. Untunglah beberapa saat kemudian kakinya menyentuh lantai dasar sehingga ia memompa kecepatan berlari ke arah yang ia yakini benar.
Namun sebelum Katsuki melangkah lebih jauh, seseorang menghalangi jalan. Salah satu dari sekian banyak orang yang seharusnya tak berkeliaran bebas. Bagi Katsuki, tak ada yang lebih membuatnya tenang selain meletakkan orang itu di tempatnya tak tepat – di balik jeruji dengan kedua tangan terbelenggu.
"Lama tak jumpa," sapa pemuda berambut hitam dengan tubuh dipenuhi jahitan dan memperlihatkan kulit kisut keunguan layaknya apel beracun. Ia berjalan santai dengan kedua tangan di saku celana dan senyum sinis menghiasi wajah. "Ground Zero!"
Katsuki menyipitkan alis dan menelan ludah. Ia tahu bahwa ini takkan selesai dengan singkat bila Dabi yang menghadangnya. Namun yang menjadi pertanyaan, bila Dabi— yang merupakan salah satu petinggi League of Villains– muncul, itu berarti yang lain-lain juga ada bersamanya. Tak mungkin seorang petinggi sepertinya muncul seorang diri di tengah sekumpulan hero yang tengah naik daun. Hanya sayangnya, ia tidak bisa menebak berapa banyak yang dibawa pria itu ke tempat ini.
"Jangan tegang begitu!" Dabi berkata sambil menggerakkan tangan. "Kami ke sini hanya untuk mengucapkan salam."
Kata 'kami' yang diucapkan pemuda itu seolah membenarkan dugaan Katsuki. Namun ia tak mau memikirkannya lama-lama. Tanpa membuang waktu, Katsuki langsung melompat. Explotion di kedua tangan dan ia nyaris mengenai wajah Dabi bila pemuda itu tidak mengelak. Namun refleks Katsuki pun sama cepatnya sehingga ia memutar tubuh dan kembali mengarahkan serangan ke wajah si penjahat. Walaupun tak mengenai titik vital, serangan Katsuki cukup untuk membuat Dabi menyingkir.
Menyadari hal itu, Katsuki pun langsung melangkah hendak melewati Dabi dan melanjutkan pencarian. Sayang lawannya tak berniat melepaskannya begitu saja. Ketika satu tangan menyentuh pundaknya, manik merah Katsuki pun melebar. Secara refleks ia memutar tubuh dan kembali mengarahkan serangan berharap mengenai wajah si penjahat.
"Whoaa, easy boy!" Si penjahat berkata sembari mengelak sekali lagi dari sentuhan Katsuki. Kedua tangannya terangkat dan lidah api biru yang sebelumnya menyala pun lenyap dengan meninggalkan jejak hangus pada jaket Katsuki. "Kenapa terburu-buruk sekali, Ground Zero? Tidak biasanya kau meninggalkan buruanmu tanpa menghabisinya."
Katsuki tahu bahwa seharusnya ia mengabaikan pemuda itu dan segera menemukan Deku. Namun ia menyadari bahayanya bila membiarkan punggungnya menghadap pemuda itu. Ia tak punya pilihan selain menghabisinya lebih dulu sebelum berlari ke tempat Deku.
Alis Dabi terangkat ketika melihat Ground Zero tak lagi melarikan diri, terlebih ketika harum nitrogliceryn menyebar di ruangan. Ia tak heran bila detik berikutnya, sang hero melompat dari tempatnya dengan explotion di kedua tangan, memberikan serangan yang lagi-lagi dihindari Dabi dengan mengobarkan api biru untuk membuat dinding di hadapannya. Sayang ia lupa mengantisipasi bahwa Ground Zero selalu penuh dengan kejutan. Ia tak siap ketika pemuda itu menembus dinding api dan menjatuhkannya dengan tinju di wajah.
Herannya meski sudah demikian, Dabi malah tertawa. Tulang hidungnya patah jelas, siapa yang tidak akan cedera diserang sedemikian rupa oleh pemuda bergelar hero nomor satu? Namun ia malah bangkit berdiri dan tersenyum lebih lebar. Terlebih ketika melihat sang hero masih bersiaga di hadapannya dengan kedua tangan teracung. Absennya dua arm bomb di tangan sang hero tak membuatnya kurang mengintimidasi.
"Seperti yang diharapkan orang-orang dari Ground Zero," ujar Dabi sambil menyingkirkan darah dari hidung. Jejak nitrogliceryn masih tersisa di hidungnya namun ia tetap tersenyum dan memrovokasi sang hero nomor satu. "Tanpa ragu menyerang sekalipun tanpa bantuan baju perangmu."
Untuk pertama kalinya sejak mereka berinteraksi Katsuki akhirnya membuka mulut. Pada pemuda itu ia berkata, "Shut the f*** up!"
Katsuki sekali lagi ia memusatkan kekuatan di kedua kaki sebelum melontarkan diri pada penjahat di hadapannya. Tinjunya lagi-lagi ditahan oleh api biru sehingga ia mundur selangkah sebelum melayangkan tendangan. Meski api biru kembali menghadang, Katsuki tetap menguatkan serangan pada kakinya dan menghantam si penjahat hingga tersungkur. Ia tahu serangannya belum cukup untuk merobohkan Dabi sehingga ia kembali mendekat dan hendak melayangkan jurus pamungkas sebelum api biru melingkupi. Serangan itu menimbulkan jejak hangus pada baju dan nyaris masuk ke pernapasan bila ia tidak menarik diri.
Ini membuat Katsuki jengkel. Ia tahu Dabi tidak bisa dikalahkan secepat Muscular, tapi ia tidak menduga akan memakan waktu selama ini. Di sekelilingnya, yang lain pun tengah berusaha menjatuhkan penjahat dan setiap kali ia mendengar suara jeritan, ia panik. Seluruh bagian dari dirinya meronta ingin bergegas menemukan Deku namun ia malah tertambat di sini. Menggertakkan gigi, ia terpaksa menunggu sementara sang penjahat bicara.
"Aku tahu, Ground Zero! Aku tahu mengapa kau terburu-buru begitu." Suara sang penjahat membuat Katsuki mengepalkan tinju lebih dalam sementara ia menggertakkan gigi. "Tapi jangan khawatir! Anak itu diasuh dengan baik oleh salah satu rekanku."
Membayangkan Deku tengah bersama salah satu dari para penjahat itu membuat Katsuki bergidik. Bayangan itu membuatnya ngeri namun sangat efektif untuk memacunya bergerak. Sekali lagi ia maju dan menghantam lawan dengan serangan. Kali ini ia tak lagi menunggu dengan sabar. Bila tadi gerakannya selalu penuh perhitungan, sekarang Katsuki tak peduli. Ia terus menghantam lawan meski banyak serangan yang harus ia terima sebagai ganti kecerobohannya.
Bagi Dabi sendiri serangan Ground Zero yang sekarang sangat banyak celah. Namun ia tak bisa berkomentar karena serangan demi serangan terus menghadangnya. Mengelak bukan opsi dan ia harus terus melawan. Bila mereka terus seperti ini, Dabi tahu siapa yang akan menang. Ia tahu bahwa hanya provokasi lah satu-satunya cara untuk mengalahkan Ground Zero.
"Aneh sekali, Ground Zero! Kau seharusnya lebih tenang karena tahu anak itu diasuh oleh seseorang," ujar Dabi sekali lagi. "Kau pasti sangat kerepotan selama ini karena harus mengasuh anak itu seorang diri. Belum lagi berulang kali kau harus menyelamatkan anak itu ketika kami melepaskan para Noumu untuk menakut-nakuti penduduk kota!"
Manik merah Katsuki menyipit mendengarnya. "Kalian apa?"
"Menakut-nakuti penduduk kota?" Dabi balas bertanya. "Atau melepaskan Noumu?"
Sesaat Katsuki bungkam sebelum ia mendengar suara geraman yang membuat bulu kuduknya merinding. Geraman itu diikuti oleh suara teman-temannya di belakang. Terlebih ketika mendengar mereka berkata,
'Banyak sekali'
'Bagaimana para villain ini memproduksi Noumu sedemikian banyak dalam waktu sebulan? Kapan mereka punya waktu untuk itu?'
'Mereka kuat sekali, dammit!'
Berbagai suara-suara membuat genggaman Katsuki mengeras dan ia menatap lawan di hadapannya. "Kalian juga membawanya ke tempat ini. Para noumu itu."
Manik tosca Dabi mengerjap pelan sebelum ia berkata, "Oh, well, apa yang kau harapkan dari kami, Ground Zero? Kami kekurangan orang dan tidak punya pilihan lain selain membawa sejumlah Noumu ke tempat ini."
"Kalian—" Katsuki sampai harus menelan ludah. Para penjahat saja sudah cukup buruk, tapi mendengar bahwa mereka membawa Noumu untuk menambah jumlah membuat Katsuki menggil. Setidaknya para penjahat itu punya otak, sementara Noumu tak lebih dari binatang buas yang lepas. "Kalian membawa makhluk itu ke tempat ini?"
Senyum lemah ditunjukkan Dabi dan ia berkata, "Ya, dan sayangnya kami tidak bisa memilih yang mana yang harus kami bawa. Kekurangan stok, harap maklum!"
Katsuki tak lagi mendengarkan. Manik merahnya menggelap dan sekali lagi ia menyerang. Ia tidak punya pilihan. Ia harus menghabisi lawannya. Ia tak peduli bagaimana. Ia hanya harus menang. Menang dan menyelamatkan Deku.
Meski serangan demi serangan terus dilancarkan, tak ada kemungkinan bahwa Dabi melemah. Justru bajunya mulai berbau hangus akibat serangan Dabi. Ketika ia melihat api biru berkobar di tangan Dabi, ia tak punya pilihan selain melawannya dengan jurus lain berskala besar. Hanya saja sebelum Katsuki melakukannya, seseorang menarik tubuhnya dan di hadapannya terbentang dinding es hingga menghalangi pandangan.
Ia masih meronta dan berusaha melepaskan diri dari perban. Untunglah beberapa saat setelahnya ia melihat dua orang yang cukup familiar muncul. Salah seorang dari mereka menggunakan tangan kiri untuk mempertahankan dinding es yang membentang sementara yang seorang lagi menutupi mulutnya dengan syal. Ditariknya perban yang melilit Katsuki sebelum orang itu berbalik.
"Aku tak suka melakukan ini," pemuda berambut keunguan itu berkata meski suaranya terdengar bagai gumaman di antara syal yang ia kenakan. "Tapi aku terpaksa memerintahkanmu untuk pergi bila kau masih tetap tak beranjak dari sana!"
Katsuki menyipitkan mata. Ia menatap kedua orang yang baru muncul dan mengerutkan dahi. Dispenser sialan dan Mata Panda saja berhasil menyusulnya. Ia bertanya-tanya, sudah berapa lama ia membuang waktu dengan melayani omong kosong Dabi?
"Pergilah, Bakugou!" Shouto berkata dengan manik menyipit. "Biar kami yang mengurus sisanya!"
Meski awalnya ragu, Katsuki memutuskan untuk tidak menyia- kesempatan tersebut. Menggumamkan terima kasih yang lebih terdengar sebagai umpatan, Katsuki pun berbalik dan beranjak menembus kerumunan di belakang. Ia masih bisa mendengar suara es yang hancur dilanjutkan dengan kabut yang ditimbulkan ketika es dan api beradu. Hanya ia tak mau memikirkannya dan terus berlari. Ada hal yang lebih penting baginya.
Tak jauh dari mereka, ia melihat rekan-rekannya yang lain. Ia bisa melihat Muka Bulat berkolaborasi dengan Robot untuk menghadapi penjahat menjijikan yang menggunakan gigi untuk menyerang lawan. Bukan lawan yang menguntungkan bahkan Katsuki sendiri menyadari itu. Namun ia menggelengkan kepala, meyakini bahwa keduanya masih bisa mengatasinya. Paling tidak hingga Kaminari—atau yang disebutnya Pikachu— mendekat padanya dan berkomentar, "Kau baik-baik saja, Bakugou? Kau kelihatan habis melewati tempat pembuangan sampah dan menari-nari di dalamnya."
Dalam hati Katsuki mengakui bahwa itu perumpamaan yang bagus. Hanya ia tak mau bicara lebih lanjut dan memfokuskan diri untuk mencari Rambut Sialan. Partnernya itu pasti lebih mudah dikenali karena rambut merahnya yang mencolok. Karena itu bukannya menjawab, Katsuki malah berkata, "Kau melihat Rambut Sialan? Apa kau bisa menemukannya?"
"Kau kira menjadi hacker membuatku memiliki radar GPS di tubuhku?" Kaminari balas menjawab, lupa bahwa pertanyaan sebelumnya terabaikan oleh Katsuki. "Tidak, tapi kita pasti menemukannya sebentar lagi. Tempat ini tidak besar, 'kan?"
Betul, tidak terlalu besar. Tapi bagaimana mungkin Katsuki sama sekali tidak bisa mendengar suara Deku. Padahal biasanya anak itu akan memanggil namanya setiap kali ada sesuatu. Tapi di saat mereka terancam bahaya, anak itu malah diam. Anak sialan itu tak berkata apa-apa dan ketiadaan suaranya malah membuat Katsuki semakin cemas.
Apakah anak itu baik-baik saja? Apakah Kirishima menjaganya dengan baik? Kenapa mereka tidak bersuara? Kenapa Deku tidak bersuara? Apakah ia tidak bisa bicara? Kenapa ia tidak bisa bicara? Apa yang membuatnya tidak bisa bicara? Apa dia baik-baik saja? Apa dia tidak terluka? Siapa yang bersamanya selain Rambut Sialan?
"Kau baik-baik saja, Bakugou?" Suara Kaminari kembali menyadarkannya. "Kurasa Kirishima ada di sudut ruangan, kau bisa mencapainya jika—"
Suara Kaminari terputus ketika Noumu mendadak menyerang pemuda itu dan melontarkannya ke belakang. Noumu yang lain pun mencoba menyerang Katsuki, namun Katsuki lebih beruntung. Ia berhasil mengelak dan melancarkan Howitzer Impact nya pada salah satu Noumu. Sayangnya melihat salah satu Noumu terpental membuat Noumu yang lain berkumpul dan mengerumuninya bagai laron pada cahaya.
Ia mengumpat jengkel namun tak punya pilihan. Sama seperti sebelumnya, ia menghadapi Noumu satu persatu. Sesekali Chargebolt akan mengimbangi dengan melontarkan serangan listrik menghanguskan para Noumu. Beberapa mantan teman sekelasnya pun ikut bergabung seperti Ojiro dan Koda. Walaupun tetap saja Katsuki merasa mereka masih terlalu lamban. Sangat lamban.
Katsuki tahu rekan-rekannya sudah berjuang keras dan ia menghargai setiap Noumu yang tak harus dihantam menggunakan tinjunya sendiri. Hanya kalau begini terus, mereka takkan pernah sampai. Mau tak mau, ia harus menghantamkan tinju lebih banyak, lebih cepat dan berlari lebih dulu di depan kawan-kawannya.
Ketika ia melakukannya, asap hitam menghadang dan bersamaan dengan itu sebuah tangan keriput terulur hingga membuatnya mundur selangkah. Beberapa detik kemudian, pria dengan wajah ditutup tangan dan memasang selang di punggung yang terhubung pada tangan keriput di sekeliling bahu pun muncul. Ia mengenakan kaus kusam berwarna hitam gelap dengan celana gelap dan sepatu merah bertali yang anehnya tampak sangat normal. Kepalanya terangkat sebelum tertambat pada Katsuki dan menyapanya.
"Ground...Zero...," ujarnya ketika Katsuki menghentikan langkah, mewaspadainya. Kabut asap menghilang dan bersamaan dengan itu pria tinggi dengan kepala berasap berwarna hitam muncul. Berdiri di samping pria dengan sejumlah tangan keriput dan menatap Katsuki dengan sinar kuning di antara asap.
"Shigaraki," ujar Katsuki ketika menyadari si pria bertangan keriput. Pandangannya langsung berpindah ke pria berasap dan ia berkata, "Kurogiri."
Mendengar Katsuki menyebut namanya membuat Shigaraki kembali tertawa. Seperti Dabi, Shigaraki pun senang dengan provokasi juga kesinisan sehingga ia berkata, "Kalian mengadakan reuni tapi kau tidak pernah mengundangku, Ground Zero? Selama lima tahun ini, kukira kau sudah lupa padaku."
Ingin rasanya Katsuki melupakan penjahat itu, penjahat yang dulu menculik dan mengatakan bahwa quirknya cocok untuk bergabung dengan League of Villain. Katsuki tak sudi tentu saja. Ia pun membalasnya dengan memasukkan penjahat itu ke penjara meski harus bekerja sama dengan sang senior untuk mengalahkannya. Sungguh mengecewakan saat melihat penjahat ini malah bebas berkeliaran dan muncul di hadapannya.
Walau demikian, Katsuki penasaran. Para penjahat yang setengah mati ditelusuri oleh Hawk dan Pikachu ternyata muncul dengan sendirinya di acara reuni Yuuei. Pertanyaannya, kenapa para penjahat ini malah menampakkan diri setelah sedemikian rupa bersembunyi? Bahkan mereka muncul di reuni Yuuei, di saat para hero yang naik daun tengah berkumpul. Apa tujuannya?
"Tapi tidak masalah," lanjut Shigaraki begitu menyadari bahwa Katsuki tak mengatakan apa pun, "aku sangat senang bertemu lagi denganmu setelah sekian lama."
Mendengar ucapannya mau tak mau Katsuki mendenguskan tawa sinis. Manik merahnya balas menatap Shigaraki dan ia berkata, "Merindukanku, Shigaraki? Tak kusangka! Tak sabar untuk kembali ke kamarmu di penjara?"
Sayangnya Shigaraki tak tahu bahwa Katsuki yang sekarang juga ahli memprovokasi. Bahkan kata-kata pemuda itu membuat Shigaraki kehilangan kesabaran. Bahunya mendadak kaku dan ia menggelengkan kepala seraya berkata, "Salah besar pernah mencoba merekrutmu sebagai League of Villains."
Sekali lagi Katsuki balas menyindir dengan berkata, "Kau baru menyadarinya sekarang? Setelah aku menjebloskanmu ke penjara? Aku tak tahu kau selamban itu."
Shigaraki sudah nyaris kehilangan kesabaran hingga Kurogiri menyentuh pundaknya. Pria berasap itu kembali menenangkan Shigaraki dan berkata, "Waktu kita tak banyak, Shigaraki! Ingat tujuan utama kita!"
Ketegangan yang sebelumnya terlihat di bahu Shigaraki mulai menghilang, sikapnya kembali santai. Ia mengambil satu langkah di depan Katsuki dan berkata, "Kau benar, Kurogiri! Aku tak boleh lupa pada tujuan utama."
Kurogiri mengangguk sementara Katsuki menyipitkan mata. Sekali lagi benaknya bertanya-tanya, apa tujuannya para penjahat ini menyerang reuni mereka? Tindakan ini terlalu berani menilai mereka harusnya berada dalam persembunyian. Terlebih mereka juga mengeluarkan semua persediaan Noumu yang mereka miliki. Apa tujuan mereka sebenarnya?
Tentu Katsuki bukan tak punya dugaan. Ia mengira mereka sedang mengalihkan perhatian. Meski ia tak yakin perhatian siapa yang tengah mereka alihkan. Apakah dirinya yang menjadi target? Tapi kalau demikian, seharusnya mereka tidak bisa menduganya akan datang karena baru tahun ini saja ia mengikuti reuni. Mereka tak mungkin menyerang bila tahu bahwa ia tidak pernah hadir sebelumnya. Namun, memangnya ada orang lain selain dirinya yang perlu dipertimbangkan para penjahat itu?
Sementara Katsuki masih berpikir, Shigaraki sudah lebih dulu menyerang. Tangan yang diarahkan pada Katsuki membuatnya harus mengelak dengan cepat bila tak ingin anggota tubuhnya busuk. Meski demikian, Katsuki mengarahkan tendangan sebagai balasan dan ketika ia berada di luar jangkauan tangan Shigaraki barulah ia mengerahkan jurusnya.
Ap-shot ditembakkan namun tak banyak memengaruhi Shigaraki meski ada yang mengenainya. Shigaraki bangkit dengan cepat dan langsung menyerangnya. Dengan dinding di belakang sang hero, Shigaraki yakin ia akan mengenai tubuh Katsuki dengan quirknya kali ini.
Sayang ia lupa bahwa ini Ground Zero yang sudah berpengalaman dan bukan remaja tanggung yang dulu hendak direkrutnya. Dengan dinding di belakang sebagai pijakan, Katsuki melompati tubuhnya dengan mengarahkan serangan di atas kepala Shigaraki. Serangan kuat yang membuat papan-papan kayu di restoran terangkat ke udara, sementara dasar bangunan mulai terlihat. Melihatnya membuat sang hero sadar bahwa ia tak bisa bertarung dengan leluasa di sini.
Shigaraki tak memberinya kesempatan untuk Katsuki berpikir. Sebelum ia memutuskan serangan apa yang lebih sedikit destruktif, penjahat itu lebih dulu menyentuh lengan jaket hoodie yang Katsuki kenakan. Tak membuang waktu, Katsuki langsung mundur sehingga si penjahat gagal menyentuhnya. Meski demikian, penjahat itu berhasil menghancurkan jaket favoritnya dan membuatnya hanya mengenakan kaus semata hingga Katsuki mengumpat-umpat.
Ia sadar, umpatan sebanyak apa pun takkan mengubah keadaan. Ia harus mengalahkan penjahat itu dan itulah yang ia lakukan. Mendekat dan menghantam lawan sembari menghindar dari kelima jari si penjahat. Bertarung dengan tangan kosong bukan pilihan yang ia suka, tapi Katsuki tahu opsinya terbatas. Quirknya yang destruktif akan menghancurkan rumah makan ini beserta isinya sebelum ia mengalahkan Shigaraki. Membiarkan rumah makan ini hancur sementara Deku masih terjebak di dalamnya? Hell no!
"Kenapa Ground Zero?" Shigaraki berkata ketika melihat lawannya hanya bertarung dengan tangan kosong dan sedikit explotion. "Apa kau quirkless sekarang? Atau quirkmu sudah mulai kadaluarsa?"
Katsuki menggertakkan gigi. Ingin rasanya ia menghantam pemuda sialan ini, tapi apa boleh buat. Ia menggeram sebagai jawaban dan berkata, "Beraninya kau berkata begitu, padahal kalian yang sengaja muncul di tempat tertutup dan tidak praktis."
Shigaraki tertawa mendengar komentar Katsuki. Dengan tangan tertahan gerakan Katsuki, pemuda itu berkata, "Padahal kau sendiri yang membawanya ke tempat ini."
Penekanan pada kata-kata Shigaraki membuat Katsuki bergeming. Ia nyaris mematung bila tidak melihat ancaman yang datang. Bersamaan dengan itu ia pun mengambil langkah menjauh sehingga Kurogiri tak dapat mengikutinya. Beberapa temannya yang masih bisa berdiri berdatangan dan berdiri di sisinya. Salah satunya mencoba mengajaknya bicara tapi ia tak mendengarkan. Di benaknya, kata-kata Shigaraki terus berputar bagaikan pita kaset yang rusak.
Apa yang ia bawa? Apa yang ia bawa hingga mereka mengejarnya ke tempat ini? Benda apa? Atau... siapa?
"Deku," gumamnya ketika menyadari apa yang para penjahat itu inginkan. Ia menatap para penjahat itu dan berkata, "Kalian... mencari Deku?"
"Deku?" Shigaraki menyebut namanya dengan bingung. "Siapa Deku?"
Kurogiri di sampingnya membisikkan sesuatu di sebelahnya. Baru setelah itu Shigaraki mengangguk dan berkata, "Ah! Jadi anak itu dipanggil Deku."
Di sampingnya Katsuki bisa mendengar Kaminari berkata, "Anak itu? Apa maksudnya dengan anak itu, Bakugou? Kenapa mereka—"
Pertanyaan Kaminari terpotong ketika melihat Katsuki tak juga beranjak dengan wajah pucat pasi. Melihatnya demikian membuat Kaminari mengalihkan pandangan dan memutuskan untuk mengawasi para penjahat. Bila sebelumnya ia tidak tertarik mencari kerabat seorang anak yang hilang, kali ini ia benar-benar ingin tahu. Ia penasaran, siapa sebenarnya anak yang dicari oleh para penjahat ini?
Sama halnya dengan Katsuki. Ia sendiri tidak tahu dan tidak punya ide mengapa para penjahat itu menginginkan Deku. Apa hubungan Deku dengan para penjahat, ia pun ingin tahu. Hanya keingintahuannya masih bisa menunggu setelah ia mengalahkan para penjahat sialan ini.
Tanpa banyak bicara Katsuki kembali menyerang dan membuat Shigaraki kehilangan keseimbangan. Kurogiri hendak membantu, namun Kaminari lebih dulu menghadang dengan serangan listrik dan membuatnya tak bisa mendekat. Berkatnya, Katsuki dapat sepenuh hati memusatkan tenaga untuk mengalahkan Shigaraki.
Sekuat tenaga ia melancarkan serangan. Mulai dari kaki, lutut, lengan, pundak, jantung dan kepala, semua dihantamnya namun Shigaraki tak juga tumbang. Meski pemuda itu kewalahan dengan serangan beruntun yang ia lancarkan, tak ada tanda-tanda bahwa Shigaraki akan menyerah. Sebaliknya malah, setiap saat Katsuki harus waspada ketika melihat tangannya, khawatir bahwa bukan tangan keriputlah yang menyerangnya.
Cukup lama mereka bertukar pukulan hingga suara jeritan yang memilukan membuat tubuh Katsuki membeku. Hal itu dimanfaatkan Shigaraki untuk meninjunya di wajah dan memukulnya hingga terjatuh. Bersama dengan itu ia mendengar suara yang ia cari memanggil nama yang ia kenal. Meski bukan namanya yang dipanggil, tapi mendengarnya membuat firasat buruk Katsuki semakin kuat.
"Ei-chan! Ei-chan!"
Katsuki tak lagi memedulikan sekelilingnya. Ia meninggalkan Shigaraki dan berlari secepat yang ia bisa. Bila sebelumnya ia ragu untuk mengeluarkan serangan berskala besar, kali ini ia berkali-kali menggunakan Stun Grenade maupun Howitzer Impact untuk menyingkirkan musuh. Yang ia tahu, ia harus tiba secepatnya, lebih cepat, lebih cepat la—
Pemandangan yang menyambut membuat Katsuki tak bisa berkata-kata. Di hadapannya berdiri dua orang. Yang satunya merupakan gadis berambut pirang dengan senyum menakutkan dan rambut diikat seperti bandul. Seingat Katsuki, biasanya gadis itu mengenakan sweater dan seragam sailor, namun kali ini penampilannya berbeda. Bukan seragam sekolah yang Katsuki lihat, melainkan vest. Vest hitam dengan kemeja putih dan celana panjang hitam yang lebih mirip pakaian laki-laki. Namun yang lebih membuatnya ngeri justru yang satunya. Tersungkur dengan tubuh penuh luka dan darah mengalir membasahi pakaiannya, quirk pemuda itu masih aktif. Dari posturnya, sepertinya pemuda itu tengah melindungi seseorang. Tak diragukan lagi, bocah yang ia carilah yang berada di bawah perlindungan Red Riot.
"Kirishima..." panggil Katsuki seraya mendekat. Kehadirannya membuat Toga Himiko menatapnya tertarik, "Hei, Kirishima?"
Katsuki tahu Toga Himiko tengah menggumamkan sesuatu, namun ia tak tertarik mendengarkan. Ia sadar serangan tengah diarahkan padanya, namun ia tidak tertarik mengelak. Untung saat itu temannya, Tokoyami Fumikage menahan serangan itu. Pemuda dengan kepala gagak itu mencoba bicara tapi ia tidak mendengar. Suara-suara lenyap. Ia hanya bisa mendengar isak tangis Deku yang membuatnya terus mendekat dan berlutut di samping partner kerjanya
Deku menangis. Kirishima terluka. Mereka melukai partner kerjanya. Mereka membuat anak yang ia kasihi menderita. Mereka—
Bangkit berdiri, Katsuki meninggalkan Kirishima dan mendekat pada Tokoyami. Pemuda berkepala gagak itu menyadari kehadirannya dan mengajaknya bicara. Tapi ia tak mendengarkan dan memfokuskan seluruh kekuatannya di tangan. Kakinya berlari dengan cepat sementara nitrogliceryn merebak ke penjuru ruangan. Satu tangan diarahkan Toga Himiko dan jeritannya membahana, "Howitzer Impact!"
Dinding rumah makan yang terbuat dari kayu meninggalkan lubang besar ketika ia melancarkan jurusnya. Bersamaan dengan itu, gadis yang bernama Toga Himiko pun tumbang. Kurogiri dengan cepat menghampiri sementara Shigaraki menggantikan tempatnya. Ia mencoba menyerang sang hero, namun kecepatan sang hero jauh melebihinya dan membantingnya hingga jatuh menabrak papan kayu.
Shigaraki pun kehilangan keseimbangan. Ia hendak memulihkan diri ketika tinju tanpa belas kasihan sang hero menghantam wajahnya. Sekali, dua kali hingga ia tak bisa menghitung berapa banyak pukulan yang ia terima. Sakit menderanya dan ia pun geram. Quirk berkumpul di tubuhnya sementara tangannya bergerak. Cukup satu sentuhan pada ujung jari Ground Zero dan pemuda itu akan membusuk.
Sayangnya salah satu rekan Ground Zero menyadari apa yang akan ia lakukan. Bergerak secepat mungkin, ia segera menarik pemuda yang lepas kendali itu dan memisahkannya dari Shigaraki. Perban melilit sang hero dan menguncinya sementara sang hero meronta-ronta. Menghela napas, rekannya tak punya pilihan selain berkata, "Bakugou Katsuki!"
Suaranya tak sampai. Katsuki masih terus meronta. Pemuda itu masih mencoba melepaskan diri hingga Shinsou sendiri kewalahan menahannya. Untunglah beberapa anak kelas 1B seperti Tetsutetsu datang dan membantunya menahan pemuda itu. Baru pada saat itu Katsuki berkata, "Lepaskan aku, sialan! Lepaskan—"
"Berhenti bergerak, Bakugou!" Shinsou berkata. "Jangan memberontak!"
Begitu Katsuki menjawabnya, barulah quirk Shinsou aktif. Meski hanya beberapa saat, bagi Shinsou itu sudah cukup. Terlebih sepertinya para penjahat sadar bahwa mereka tengah menghadapi empat puluh orang yang mendapat julukan angkatan terbaik sepanjang sejarah Yuuei.
Dabi yang sebelumnya ia lawan bersama dengan Shouto muncul tak lama kemudian. Dengan tubuh terluka bakar dan terkena radang beku, pria itu memapah Shigaraki dan menariknya mendekat pada Kurogiri. Melihat bahwa beberapa rekannya pun terluka membuat Dabi berkata, "Toga tumbang! Sebaiknya kita mundur!"
"Bagaimana dengan—"
"Lupakan itu!" Dabi menyentaknya. "Lain kali saja! Para hero lain sudah berkumpul di depan. Sebaiknya kita segera pergi."
Cahaya kuning di manik Kurogiri pun menyipit. Meski ia keberatan karena tidak menyelesaikan misi mereka, ia terpaksa mengikuti kata-kata Dabi. Dengan segera, pria itu membuat kabut asap berwarna hitam dan melangkah masuk ke dalamnya diikuti dengan para penjahat yang masih tersisa.
Hanya satu orang bodoh yang berinisiatif untuk mengikuti para penjahat yang kabur dan berteriak memrovokasi. Namun Kendo menyentaknya dan berkata, "Diam, Monoma! Sudah cukup!"
"Ha! Dasar pengecut!" Monoma berkata yang membuat Kendo menggunakan kedua tangannya untuk menghantam kepala pemuda itu. Setelah menjinakkan pemuda itu dan para penjahat lenyap dari pandangan barulah Kendo mendekat pada Shinsou.
Shinsou sendiri tak berkata apa pun. Ia melepaskan Katsuki dari jeratan perban dan quirknya. Ketika ia melakukannya, Katsuki langsung berlari. Lagi-lagi pemuda itu melewatinya begitu saja dan menghampiri rekannya yang tengah mendapat penanganan medis dari Yaoyarozu. Meski gadis itu tak memiliki kemampuan medis, ia cukup mengeluarkan berbagai benda yang diperlukan untuk memberikan pertolongan pertama pada Kirishima.
Tetsutetsu turut membantu di sampingnya. Berhubung quirk Kirishima masih aktif, maka Tetsutetsu membantu mengubah posisi Kirishima dengan sekuat tenaga. Baru saat itu Kirishima pun bergeser dan memperlihatkan orang yang selama ini dilindunginya.
Masih terisak pelan, bocah itu mencoba mengguncang pelan tubuh Kirishima. Ia terus melakukannya hingga Asui Tsuyu menariknya. Namun bocah yang keras kepala itu menggeleng dan enggan bergerak dari sisi Kirishima. Di tengah isakannya, bocah itu masih juga memanggil-manggil Kirishima dengan sebutan yang ia berikan.
"Ei-chan," isaknya sementara Asui membujuknya untuk menyingkir. "Ei-chan..."
Asui masih ingin membujuknya, namun seseorang menghentikannya. Begitu melihatnya, Asui pun menyingkir tanpa banyak bicara. Mungkin dibanding dirinya, Katsuki Bakugou lebih tahu bagaimana caranya untuk menenangkan bocah itu.
Tapi Asui salah. Katsuki tidak tahu cara menenangkannya. Sahabatnya terluka parah, dan Deku terus menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Satu tangannya mengenai pundak Deku, menyentuhnya pelan. Tapi saat itu Deku berbalik dan melihatnya. Saat itu, Katsuki tahu apa yang harus ia lakukan.
"Deku," panggilnya dengan suara yang serak. Tenggorokannya tercekat dan ia nyaris tak sanggup bicara. "Hei."
Manik hijau Deku menatapnya terlebih dulu. Bocah itu mengerjap dan berhenti terisak selama beberapa saat sebelum berbalik. Perlahan-lahan bocah itu menghampiri dan Katsuki menyambutnya dengan kedua tangan terbuka.
Barulah saat itu Deku berlari, menghambur ke pelukannya sekuat tenaga. Ketika ia sudah menyembunyikan wajah di kaus tengkorak Katsuki, barulah bocah itu menangis dan menjerit sejadi-jadinya. Tangisan kencangnya bergema di seluruh ruangan membuat siapa pun yang mendengar terdiam. Bahkan Katsuki sendiri harus mendekapnya erat-erat untuk memastikan tak seorang pun melihatnya menitikkan air mata.
"Katsuki," ujar bocah itu di sela-sela tangisnya. "Katsuki!"
Katsuki mengangguk. Ia mengusap-usap kepala bocah itu. Ia tahu ia terlambat, tapi kali ini ia sangat terlambat hingga membuat sahabatnya menjadi korban.
"Aku dengar," kata Katsuki sembari memeluknya. "Aku dengar, Deku!"
Bocah itu masih terus menangis sementara Katsuki mengusapnya, mencoba menenangkan. Meski tangisan bocah itu berangsur-angsur reda, Katsuki tetap menggerakkan tangannya di sela-sela rambut bocah itu. Ia tak menyadari berapa lama ia melakukannya hingga suara Yaoyarozu mengembalikannya pada kenyataan.
"Ah, Kirishima!" Yaoyarozu tiba-tiba berkata dan membuat Katsuki mengangkat kepala. Dengan Deku di pelukannya, ia mendekat sementara Yaoyarozu kembali berkata, "Jangan bergerak dulu! Lukamu masih belum menutup sepenuhnya."
Dengan seluruh tubuh penuh luka dan berdarah, pemuda dengan quirk hardening itu menatap sekeliling. Kepalanya pening dan ia hampir tak dapat melihat dengan jelas. Hanya ketika melihat warna hijau dan warna ash blonde, ia langsung mengulurkan tangan. Sepertinya ia menangkap orang yang tepat karena tangannya langsung disambut dan digenggam erat.
"Kirishima!" Katsuki memanggil namanya sembari menggenggam tangan pemuda itu erat. "Rambut sialan! Kau baik-baik saja? Kau bisa mendengarku?"
Benar, orang ini memang Bakugou Katsuki atau Ground Zero, sang hero yang merupakan partnernya. Ia balas menggenggam erat tangan pemuda itu dan membuka mulut. Ia harus menyampaikannya. Ia harus mengatakannya. Pemuda itu harus tahu.
"Baku...bro..." ujarnya, terdengar bagai bisikan lemah di telinga. Hanya Kirishima belum mau menyerah. Ada hal penting yang harus ia katakan. "Baku..."
"Jangan bicara dulu, sialan!" Katsuki mengumpat dengan satu tangan menggenggam erat tangan sahabatnya. "Kau terluka!"
Rasa besi memenuhi mulut namun Kirishima tak peduli. Ia mencoba berbicara hanya saja ia terbatuk, darah di mulut membuatnya sulit berkata-kata. Begitu darah itu mulai mengalir menuruni wajah barulah ia bisa berkata, "All... fo... o..."
"All?" Katsuki mengulangi. Ia menatap sahabatnya dan membantunya menyelesaikan kalimatnya. "All for one? Apakah itu yang kau maksud?"
Kirishima mengangguk. Lega karena sahabatnya mengerti ucapan tidak jelasnya. Namun kalimatnya belum selesai. Lagi-lagi ia membuka mulut, kali ini lebih jelas dan Katsuki tidak perlu menebaknya.
"De... ku," ucap Kirishima sembari menggerakkan tangan dan menyentuh rambut bocah yang ia bawa. "De...ku."
Dahi Katsuki langsung berkerut mendengar ucapan Kirishima. Tangan yang menggenggam tangan sahabatnya mulai melonggar sementara sahabat yang harusnya terluka parah malah mencoba mengguncangnya. Ia menatap Deku, tapi bocah itu masih berusaha memanggil nama sahabatnya. Katsuki pun mencoba mengatakan sesuatu dan ia berkata, "Apa... yang ia inginkan dari Deku?"
Kirishima kembali membuka mulut, hendak menjawab. Jawabannya sudah ada di ujung lidah namun kegelapan lebih dulu menghampirinya. Ia hendak memberontak tapi seluruh tubuhnya tak berdaya. Seketika itu juga ia memejamkan mata dan tangannya lunglai sehingga Yaoyarozu kembali mengambil alih. Katsuki dimintanya mundur namun ia tak mendengar sehingga teman-temannya yang lain harus menariknya.
Ia bahkan tak menyadari ketika Shouto atau yang lain menghampiri dan mencoba mengajaknya bicara. Kata-kata Kirishima terngiang-ngiang di benaknya. Membuatnya tak bisa memikirkan hal lain.
Apa yang diinginkan All for One dari Deku?
.
.
.
(t.b.c)
A.N:
Saya tahu, menyebalkan memang. Red Riot jadi korban T^T huhu. Ei-channnnn~~~ (ikut teriak bareng Deku) Puk, puk, Kacchan!
Aniway :
Hanazawa Kay : tingtong! Kay bener! Orang yang mirip Deku temen sekolahnya Katsuki :D kok bisa sekelas nggak inget temennya sendiri ya :P
el-Vtrich : hahahaha, emang sengaja cliffhanger El-san, biar bikin penasaran (*wink)
Aduh, posesifnya Bang Katsuki uda jadi rahasia umum :P Masih kecil masih posesif, tapi kalau Deku uda gede, makin posesif apa makin tsundere si Abang ya? XD Apa mungkin uda makin posesif makin tsundere? Waduh! Kita ucapkan selamat menikmati buat Deku-kun saja kalau begitu!
WinYuzukiN: iya, sama penasarannya! AAAAAAAA!
Namechan: holaaa Name-chan, repiunya bukan nggak ke sent, tapi masuk moderate :P kadang-kadang aku lupa matiin atau lupa di moderate makanya nggak langsung muncul, tapi ditunggu beberapa hari pasti muncul dengan sendirinya kalo aku lupa XD
Dan yak, seperti yang kamu duga, UA emang diserang! Kebangetan deh penjahat itu. Nyerang pas lagi asik-asik reuni. Padahal Katsuki baru kali ini ikut. Keterlaluan! Bikin Abang Katsuki trauma ama reuni aja!
Hahaha, makasih semangetnya XD dan ssstttt... no spoiler please, LOL
Zzich-vers : hahaha, authornya minta digantung kayak jemuran sepertinya :P
Betulll! Ada satu orang yang ditendang dan menurut Shinsou, dia kenal banget sama orang itu. Tapi yak itu, satu kelas kayaknya kena amnesia bareng sampe nggak inget temen sekelas sendiri :P
Makasih semangetnya, Zzich. Mohon doanya semoga saya rajin update dan lanjut :D
Aniway, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D
For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD
