Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.

Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi

Until we meet again by cyancosmic

.

.

.

Enjoy!


Ask 12 : Why are you crying?

Dentum berulang yang bergema di ruangan bawah tanah membuat Aizawa mengangkat kepala dari sejumlah berkas yang harus ia baca. Menoleh ke arah jam dinding, ia mengerutkan dahi melihat jarum jam hampir menuju angka delapan. Seharusnya pada jam seperti ini tidak ada orang lain selain dirinya, namun teringat akan sesuatu ia pun terpaksa beranjak dari meja. Ditinggalkannya semua berkas yang tengah ia kerjakan dan menuju ke pintu keluar.

Ia melangkah melewati ruang keluarga yang berada di depan ruang kerjanya. Televisi masih menyala, menayangkan sang Pahlawan berotot dengan rambut pirang seperti huruf V tengah melawan salah seorang penjahat dengan tentakel. Seruan 'Because I'm here' membuat Aizawa mengernyit, mengira ia akan mendengar seruan yang sama dari balik sofa. Namun ketika keheningan menyambut ia pun mengerutkan dahi. Penasaran sehingga mulai melangkahkan kaki ke tengah ruangan.

Kedua tangannya bertengger nyaman pada sandaran sofa. Tak terkejut tatkala menemukan bocah berambut hijau tengah meringkuk nyaman di antara bantal-bantal empuk yang ia letakkan. Satu bantal menyangga kepala sementara bantal lain berserakan di sekeliling, melindungi si bocah bagaikan benteng tak terlihat. Satu tangan Aizawa terulur untuk menyentuh rambut hijaunya, namun si bocah tetap bergeming. Kedua kelopak matanya menutup rapat sementara napasnya berhembus teratur.

Suara dentuman kembali terdengar membuat Aizawa tersadar dari lamunan. Diangkatnya tangan dari atas rambut hijau si bocah sementara ia beranjak. Langkahnya berlanjut menuju ke tangga putar di belakang dapur. Satu persatu ia menuruni anak tangga hingga harum nitrogliserin menghantam penciumannya.

Di lantai satu, ruangan yang sebelumnya merupakan ruang training berubah menjadi arena pembantaian. Beberapa samsak yang sengaja ia beli untuk persediaan kantor berserakan sementara isinya berhamburan keluar. Boneka kayu dan tiang kayu yang biasa dipakai untuk latihan bela diri teronggok tak bergerak dengan tiang kayu patah. Hanya matras yoga yang masih aman dan tak tersentuh.

Sedikit enggan, Aizawa pun merangsek maju ke tengah ruangan. Kedua tangan bertengger dengan nyaman di dalam kantung celana sementara ia menghampiri sang pelaku pembantaian. Melihat keadaannya, ia ragu bahwa quirk miliknya mampu menyelamatkannya dari badai amukan pemuda ini – sang hero asuhan yang menempati tempat pertama sebagai rising hero.

"Hei, Bakugou!" Aizawa berhenti tepat beberapa langkah di belakangnya. Mengambil jarak yang cukup bila tiba-tiba pemuda itu menyerang. "Sudah cukup!"

Hantaman demi hantaman terus bergema di sekeliling ruangan. Tak ada tanda-tanda bahwa pemuda itu mendengar. Meski demikian, Aizawa bisa melihat gerakannya yang mulai melambat sementara bercak merah menyebar di tangan pemuda itu. Ia mengira pemuda itu akan berhenti, ketika harum nitrogliserin merebak, meledakkan samsak dalam sekali pukulan. Baru saat itu segala dentuman berhenti dan keheningan menyelimuti ruangan.

"Rusak...," gumam pemuda itu sembari menurunkan sisa-sisa samsak tinju dari gantungan sementara pandangannya beredar ke sekeliling, "harus diganti."

Mendengar itu Aizawa pun maju ke depan menghalangi jalan. Ia hendak mengucapkan sesuatu sebelum Katsuki mendahuluinya.

"Minggir!" Pemuda berambut pirang yang mengenakan tanktop hitam dan baggy pants itu berkata sambil melewatinya dan beranjak ke rak peralatan. Ketika disadari tak ada yang bisa ia temukan di sana, barulah ia mengedarkan pandangan, mencari benda lain yang dapat dihancurkannya.

"Percuma saja mencari," ujar Aizawa yang menyadari intensi pemuda itu, "semua boneka training dan samsak tinju sudah kau hancurkan. Apa kau masih belum puas, Bakugou?"

"Berisik!" Pemuda itu berkata. "Jangan ikut campur!"

"Hei!" Aizawa menyentuh bahunya menggunakan sedikit kekuatan untuk memaksa pemuda itu berhenti. "Sebaiknya kau pulang dibanding menghancurkan tanganmu!"

"Ming—"

"Aku tahu kau kecewa karena partnermu terluka," ujar Aizawa yang membuat manik merah pemuda itu melebar sementara tangan terangkat, "tapi kalau ini caramu melampiaskan kekecewaan, aku amat sangat tidak merekomendasikannya."

Aizawa tahu bahwa pemuda itu tak segan melayangkan tangan pada atasannya sendiri. Itulah yang membuatnya tak segan menangkap tangannya dan memitingnya. Namun ia tak bisa melakukannya semudah dulu. Pro hero Ground Zero mengangkat tubuhnya sendiri, mendorong Aizawa sehingga ia terpaksa melepaskan diri dan menjauh. Ia menghela napas sebelum menatap pro hero didikannya itu.

"Kau tidak ada di sana, dammit!" Pro hero itu berkata. Setelah beberapa hari lamanya mereka hanya diam dan tidak mengucapkan apa pun, akhirnya sang hero bicara. "Kau tidak tahu apa yang terjadi! Kau tidak tahu—"

"Betul, aku hanya melihatnya dari rekaman CCTV yang diberikan Kaminari," jawab Aizawa sembari menjaga jarak. "Aku tidak berada di sana dan tidak melawan beberapa penjahat sebelum tiba di tempat rekanku."

"Kalau tahu itu sebaiknya kau berhenti berkomentar seolah kau tahu segalanya!" Katsuki kembali berkata. "Kau tidak tahu— apa gunanya— Rambut Sialan itu—"

Pemuda di hadapannya menggeleng sementara satu tangan menyentuh kepalanya. Ketika ia menutup mata, ia bisa melihat kilasan peristiwa yang sama terjadi berulang kali. Gambaran di mana Kirishima membungkuk sembari melindungi seseorang. Sementara ia baru bisa menghampiri mereka ketika rekannya sudah terluka parah. Ketika ia harus bersusah payah untuk menghindar dan kabur dari penjahat lain dengan bantuan teman-temannya.

Seolah tahu apa yang ia pikirkan, Aizawa menyingkirkan jarak di antara mereka. Ditaruhnya satu tangan di bahu Katsuki dan mencengkeramnya kuat. Ia berkata, "Itu bukan salahmu, Ground Zero! Kau tidak tahu apa tujuan mereka dan tak menyangka bahwa yang mereka inginkan adalah—"

Aizawa tidak melanjutkan ucapan dan Katsuki pun tak ingin menyelesaikannya. Keduanya membiarkan perkataan Aizawa menggantung meski keduanya tahu siapa yang dimaksud. Rekaman CCTV yang dilihat Katsuki membuktikan semua kecurigaannya selama ini. Bahwa para villain mengincar Deku dan bahwa keberadaan Deku mungkin berhubungan erat dengan semua penyerangan terhadap kota Musutafu selama ini.

Hanya pertanyaannya... kenapa?

Gerak-gerik Himiko Toga yang dilihatnya di rekaman, caranya mengulurkan tangan pada Deku membuat Katsuki lega ia telah menghantam gadis itu. Awalnya ia tak curiga karena perilaku gadis itu memang menunjukkan keabnormalan terhadap sesuatu yang mungil dengan intensi untuk menghancurkan. Ia mengira itulah yang terjadi makanya Kirishima menginterupsi dengan kehadirannya.

Namun kenyataanya ia salah besar. Rekaman selanjutnya menunjukkan bahwa Deku mengulurkan tangan meski pelan. Justru pada saat itulah Kirishima menginterupsi dan menahan tangannya. Posisi Kirishima defensif bukan untuk melindungi Deku, tapi untuk menahan bocah itu agar tidak mengikuti Himiko Toga. Hanya saja, Katsuki tak mengerti kenapa Kirishima tak melawan.

Meski quirknya lebih cocok untuk posisi bertahan, Katsuki tahu bahwa Kirishima dapat menyerang saat dibutuhkan. Bahkan bila lawannya hanya Himiko Toga, Katsuki yakin Red Riot sudah lebih dari cukup untuk mengalahkannya. Namun bukannya menyerang, sang hero malah mengaktifkan pelindung dan membiarkan gadis itu menyakitinya. Hal yang tak bisa Katsuki mengerti dan tak bisa ia dapatkan jawabannya.

Ia jelas tak bisa bertanya pada sahabatnya yang sedang mendapat perawatan di rumah sakit. Tapi ia juga tak bisa bertanya pada Deku. Semua perkataan sudah ada di ujung mulutnya, tapi ia memilih bungkam. Terlebih ketika menyadari bahwa Deku lebih diam dibanding biasanya dan tak lagi ceriwis seperti dulu.

Kalau tahu akan jadi seperti ini, Katsuki menyesal tak membawa Deku bersamanya sebelumnya. Ketika bocah itu bersikeras mengikuti seharusnya ia tak melarang atau menitipkannya. Seharusnya—

"Apa Deku masih belum mengatakan apa pun?" Aizawa berhati-hati bertanya, sementara Katsuki menggeleng pelan. Barulah saat itu Aizawa mengangguk dan menepuk pundaknya. "Aku mengerti."

Katsuki tak mengerti apa yang Aizawa mengerti. Kasus penyerangan League of Villains di tengah-tengah reuni Yuuei sudah mendapat perhatian pemerintah. Dan hanya masalah waktu sebelum pemerintah menyadari bahwa para villains mengincar anak yang berada di bawah asuhannya. Meski Katsuki sudah meminta Chargebolt membantunya menghapus salah satu adegan pada rekaman tersebut, tetap saja ada kemungkinan pemerintah akan mencium tindakannya.

Ia tidak tahu apa yang akan pemerintah lakukan bila tahu Deku terlibat. Namun satu hal yang pasti. Mereka berdua akan dipisahkan dan Katsuki tak mau itu terjadi. Meski tak persis, ia pernah berjanji bahwa Deku akan selalu bersamanya. Dan ia takkan membiarkan seorang pun menghalangi jalannya. Baik itu penjahat, pemerintah, atau siapapun.

"Kalau begitu, sebaiknya kau mandi," ujar Aizawa ketika melihat Katsuki lebih tenang, "dan bawa dia pulang. Bukankah sebentar lagi waktu tidurnya?"

Kali ini Katsuki tak membantah. Sudah tidak ada lagi yang bisa dihancurkannya di ruang training. Ia pun tak punya pilihan selain melangkahkan kaki. Diambilnya handuk baru dari rak penyimpanan dan masuk ke kamar mandi yang terletak di dekat tangga. Diabaikannya Aizawa yang berkacak pinggang sembari menggeleng-geleng melihat hasil kerjanya.

Sementara Katsuki menghabiskan waktu, Aizawa menaiki tangga kembali ke dapur. Begitu kakinya menginjak lantai dapur, helaan napasnya kembali terdengar. Tahu bahwa malam masih panjang untuknya, ia pun mengaktifkan mesin kopi dan mulai menyeduh.

Harum biji kopi mulai menyebar menggantikan nitrogliserin. Sementara menunggu, Aizawa mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dengan TV yang masih menyala, dua sofa three seater dan meja makan untuk enam orang, tempat ini memang benar-benar luas. Tak pernah ia sangka bahwa kehilangan satu rekan kerja akan membuat tempatnya menjadi begitu kosong.

Memang ia tak suka keramaian. Tapi kesunyian yang mencekam seperti ini juga bukan favoritnya. Kekosongan yang ditinggalkan Kirishima ternyata lebih besar dibanding yang ia kira. Aizawa berharap hero asuhannya itu juga segera sembuh untuk mengisi kekosongan besar di kantornya saat ini.

Suara langkah kaki menaiki tangga membuat Aizawa melayangkan pandang kembali ke dapur. Di belakangnya, pemuda dengan rambut ash blonde menginjakkan kakinya di dapur sementara satu tangan berusaha mengeringkan rambut dengan handuk. Baju training yang sebelumnya ia kenakan sudah berganti dengan kaus bergambar tengkorak dan celana jeans hitam. Ia berjalan melewati Aizawa dan melemparkan handuk ke sofa di sebelah sebelum menghampiri bocah yang tertidur di sofa lain.

"Bocah ini," gerutunya sambil mengulurkan tangan dan mengangkat bocah itu ke pelukannya. Ketika ia melakukannya, kedua tangan Deku secara insting memeluk lehernya dan bertengger dengan nyaman di bahunya. Katsuki pun meletakkan satu tangannya di kepala Deku sementara hidungnya menghirup harumnya sampo apel dari rambut bocah itu. "Kau tidak mau makan malam, Deku? Kau belum makan! Jangan tidur dulu!"

Tapi yang dipanggil malah semakin merapatkan pelukannya di leher Katsuki. Kepalanya menggeleng pelan dan Deku bergumam. Melihatnya, Katsuki mengelus rambut hijau si bocah dan menghela napas.

"Dia ini," gumam Katsuki sembari melangkah mencari jaket dan tas miliknya. Ia menemukan tas kuning juga jaket milik Deku lebih dulu sehingga ia terpaksa mengguncang si bocah. "Bangun, Deku! Pakai dulu jaketnya! Kita mau pulang."

Masih setengah sadar, kelopak mata Deku perlahan terangkat. Tangannya diturunkan dari leher Katsuki saat pemuda itu mencoba memakaikan jaket hijau bertopi kelinci miliknya. Ia menunggu hingga Katsuki selesai memakai jaket baru mengulurkan tangan dan bergelung kembali di leher Katsuki.

"Kau ini," gerutu Katsuki sambil menepuk punggungnya pelan. Meski demikian, Katsuki tetap memeluknya erat. Ia menoleh pada Aizawa sejenak sebelum berkata, "Kami pulang dulu!"

"Ya," jawab Aizawa sembari mengangkat kopinya. "Hati-hati di jalan!"

Katsuki tak menjawab. Ia memakaikan sepatu untuk Deku sebelum mengenakan sepatunya sendiri. Baru setelahnya ia membuka pintu dan menuruni tangga, menuju ke jalan raya. Di luar, angin musim dingin masih bertiup kencang. Tidak ada tanda-tanda bahwa musim semi akan segera datang melihat dinginnya udara di luar. Katsuki merapatkan jaketnya dan menaikkan topi jaket Deku. Dipeluknya erat bocah itu sementara ia kembali berjalan.

Dengan langkahnya yang lebar, tak butuh waktu lama bagi Katsuki untuk tiba di stasiun. Namun sebelum ia masuk ke dalam, seseorang menghalangi jalannya. Dengan rambut ungu, kelopak mata tebal berwarna hitam dan wajah pucat, pemuda yang mengenakan celana khaki dan jaket jeans itu mengangguk padanya. Melihatnya, Katsuki pun menyipitkan mata dan tanpa sadar mengeratkan pegangan pada jaket Deku.

"Aku tidak tahu di mana alamat kantormu," ujar pemuda itu sembari mendekati Katsuki, "tapi mereka bilang kau sering terlihat di stasiun ini."

Katsuki memeluk Deku erat. Ia kembali melangkah dan melewati pemuda itu. Ia bahkan tak bersusah payah menyapanya.

"Ngomong-ngomong, kau sudah tak penasaran lagi, Bakugou?" Pemuda itu bertanya dengan suara yang cukup pelan. "Bukankah kau ingin tahu apa yang kuketahui tentang anak itu?"

Langkah Katsuki berhenti dan ia menoleh ke belakang. Alisnya menukik tajam sementara ia berkata, "Sudah cukup omong kosongmu, shithead!"

Pemuda berambut ungu yang memiliki karakteristik seperti atasannya itu tertawa pelan mendengar jawaban Katsuki. Kedua tangannya tetap bertengger di saku celana khakinya sementara ia berkata, "Kau yakin? Kau tak ingin tahu lagi tentang orang yang mirip Deku?"

Ekspresi Katsuki berubah ketika mendengar ucapan pemuda itu. Manik merahnya menyipit sementara ia berkata, "Kuharap kau tahu apa yang kau katakan, Mata Panda!"

"Tentu," jawab Shinsou, atau yang diberi julukan 'Mata Panda' oleh Katsuki. "Kau takkan menyesal. Bagaimana kalau kita mengobrol sebentar? Aku belum makan malam kebetulan."

Sejujurnya Katsuki lebih suka memasak makan malamnya sendiri. Hanya saja, ia tahu bahwa pembicaraannya dengan Shinsou mungkin tak secepat yang ia bayangkan. Semakin larut ia memasak, semakin larut pula Deku tidur. Menyadari itu, ia pun tak punya pilihan selain mengikuti Shinsou.

"Aku tahu restoran udon yang enak di dekat sini," ujarnya sambil mengembangkan senyum yang menurut Katsuki mengingatkannya akan kucing Chessire. "Kau dan Deku pasti suka!"

Menggeram pelan, Katsuki tak punya pilhan selain mengikutinya. Sementara Shinsou memimpin jalan, Katsuki menyipitkan mata. Ia tak bisa memercayai pemuda itu, terlebih setelah pemuda itu menggunakan quirk untuk mengontrol Katsuki. Meski demikian, bila pemuda itu berniat jahat, pemuda itu sudah akan menggunakan quirknya lebih dulu dan memaksa Katsuki melakukan apa pun yang dikehendakinya. Hanya memang Katsuki tak mengendurkan kewaspadaan sedikit pun meski kakinya terus mengikuti Shinsou.

Mereka berhenti di depan restoran bergaya Jepang bertuliskan 'Udon' pada salah satu lenteranya. Shinsou lebih dulu menggeser fusuma dari kayu dan melangkahkan kaki ke dalam. Ketika Katsuki masuk, pemuda itu sudah mengambil tempat di bagian dalam ruangan. Mengikutinya, Katsuki pun melangkah sementara ia mengedarkan pandangan ke interior ruangan.

Dalamnya lebih modern dibanding yang tampak dari luar. Meski bagian depan terlihat seperti rumah tradisional, bagian dalamnya menggunakan keramik dan cat putih sederhana. Tak banyak dekorasi yang tampak selain hiasan dinding bertuliskan huruf-huruf Jepang dan bar sederhana yang memperlihatkan dapur, tempat sang pemilik membuat udon.

Seorang pelayan menghampiri dan Shinsou menyebutkan pesanannya. Setelah selesai mencatat, pelayan itu menoleh pada Katsuki yang tengah membuka buku menu sementara tangannya yang lain berusaha membangunkan Deku. Ia memesan Spicy Baitan Udon pada salah satu menu dan Kitsune Udon untuk Deku.

Udara yang hangat di dalam membuat Deku pelan-pelan membuka mata. Ia mengangkat kepalanya dari bahu Katsuki dan menoleh ke sekeliling. Tangannya menggosok matanya pelan sementara ia berkata, "Di mana?"

"Restoran," jawab Katsuki sambil merapikan rambut bocah itu sebelum mendudukannya di samping. "Kita akan makan udon."

"Udon?" Deku bertanya sambil menoleh pada Katsuki. Ketika ia melakukannya, seseorang tertangkap di pelupuk mata sehingga ia kembali mengarahkan pandangan ke depan. Begitu melihat orang yang tak asing, kepala Deku pun bergerak miring dan ia berkata, "Control?"

Shinsou tersenyum ketika mendengar Deku masih mengenali nama heronya. Ia pun berkata pada bocah itu, "Senang mendengar kau masih mengingatku, Deku."

Deku mengerutkan alis, sedikit bingung. Ia kembali menoleh pada Katsuki, berusaha mendapatkan jawaban. Namun pemuda itu hanya mengusap-usap rambut hijaunya sehingga Deku tak lagi bertanya.

"Jadi?" Katsuki kembali bertanya. Satu tangannya melingkar secara protektif di atas bahu Deku. "Kau sudah bisa bicara sekarang?"

Mengangguk pelan, Shinsou pun menjawab, "Tentu. Apa yang ingin kau ketahui?"

"Apa yang bisa kau jelaskan?" Katsuki balas bertanya.

Tentu saja, Shinsou harusnya tahu bahwa Bakugou Katsuki terkenal akan ketidaksabaran, kegemarannya memberikan julukan dan kesinisannya. Ia tak heran bahwa inilah yang akan dihadapinya bila bertemu dengan sang hero nomor satu itu. Sangat berbeda ketika ia berbincang dengan sang hero nomor dua.

Shinsou tergoda untuk meneruskan permainan sinis-sinisan mereka, namun ia terpaksa mengakhirinya. Manik hijau si bocah menunjukkan keingintahuan, sehingga ia pun memberikan senyum pada bocah itu sebelum memulai ceritanya. Ketika ia membuka mulut, cerita pun mengalir dengan lancar.

"Seperti yang kukatakan pada Shouto bahwa aku masuk di tahun kedua," ujar pemuda berambut ungu itu sembari melipat kedua tangannya di atas meja. "Tapi sebelum aku masuk, jumlah murid di kelas 1A Yuuei sendiri sudah dua puluh orang."

Katsuki menyipitkan mata mendengarnya. Ia masih bisa mengingat semua orang di kelasnya meski mereka tak terlalu dekat. Tapi berapa kali pun ia menghitung, tidak sampai dua puluh orang dalam satu kelas. Hanya ada sembilan belas orang termasuk dirinya dan dua puluh bila Aizawa Shota sang wali kelas diikutsertakan.

"Orang kedua puluh inilah yang sangat identik dengan Deku," ujar Shinsou sembari mengedikkan pandangan pada bocah kecil di samping Katsuki. "Namanya Midoriya Izuku."

Kerutan muncul di dahi ketika Katsuki mendengar nama itu. Nama yang begitu asing namun ia merasa pernah mendengarnya. Padahal Katsuki tak pernah menghapal nama para ekstra, tapi entah mengapa nama yang ini terdengar begitu familier. Meski ia tak bisa mengingat betapapun ia berusaha keras melakukannya.

"Percuma saja mencari-carinya di ingatan," ujar Shinsou. "Tak ada yang bisa mengingatnya. Semua bukti keberadaan maupun ingatan tentangnya sudah dihapus. Jejaknya lenyap seolah ia tak pernah lahir ke dunia ini."

Satu kerutan saja sepertinya tak cukup mendengar informasi yang Shinsou bawakan. Rasanya seperti omong kosong. Bila benar tak ada yang dapat mengingatnya, lalu mengapa Shinsou bisa? Apakah jangan-jangan Midoriya Izuku hanya tokoh khayalan – teman imajiner dari Shinsou Hitoshi?

Menyadari tatapan Katsuki, Shinsou pun mengangkat bahu. Ia berkata, "Jangan menatapku begitu! Aku tak terpengaruh karena quirk-ku lah yang menghapus eksistensinya. Bagaimana pun aku mencoba menghipnotis diriku sendiri, aku tak pernah lupa tentangnya."

"Apa?"

"Kau sudah tahu bahwa quirk-ku memiliki kemampuan untuk mengontrol pikiran dan gerakan orang lain," Shinsou kembali menjelaskan. Tubuhnya membungkuk sedikit sementara suaranya memelan. "Sejatinya, quirk-ku tak bisa memengaruhi banyak orang dan semua alat bantu seperti speaker ataupun sejenis tak membantu meningkatkan kemampuanku.

"Tapi entah bagaimana, Midoriya Izuku melakukannya," ujar Shinsou sambil menggelengkan kepala. "Ia meminta tolong padaku, memaksaku untuk menghapusnya dari ingatan semua orang. Ia bilang, ini yang terbaik."

Semakin Katsuki mendengar, semakin ia merasa ini tidak masuk akal. Ia ingin bertanya namun pelayan yang sebelumnya mencatat pesanan kembali datang dengan nampan di tangan. Diletakkannya udon yang dibawanya ke hadapan mereka dan mengucapkan selamat menikmati sebelum kembali berjalan.

Melihat udon yang baru datang dan masih mengepul, Shinsou dan Katsuki pun sepakat untuk menghabiskan makanan mereka terlebih dahulu. Diambilnya sumpit yang ada di samping dan diberikannya pada Deku terlebih dahulu. Ia mengingatkan bocah itu untuk berhati-hati sebelum membuka sumpit dan menikmati bagiannya.

Tepat setelah Katsuki memperingatkannya, Deku menggunakan sumpit dan meniup kitsune udon miliknya. Setelah beberapa kali meniup, ia pun hendak memasukkan udon ke mulut dan tersengat rasa panas ketika makanan itu menyentuh bibirnya. Suara rengekannya mencapai telinga Katsuki dan dengan segera ia memintakan mangkuk kosong untuk Deku.

Tak lama kemudian Katsuki membagi makanan bocah itu ke mangkuk kosong yang baru ia dapat. Ia mengaduknya pelan sebelum memberikannya pada Deku. Sekali lagi ia bergumam hati-hati yang dijawab Deku dengan anggukan.

Selama beberapa saat, Katsuki menatap Deku terlebih dahulu. Ia mengamati ketika bocah itu mengambil udon dan meniupnya beberapa saat sebelum memasukkannya ke mulut. Ketika bocah itu sudah bisa menikmati makanannya, barulah Katsuki berkata, "Enak?"

Deku menoleh dan mengangguk kuat-kuat mendengarnya.

Melihatnya, Katsuki menyentuhkan satu tangan di atas rambut Deku. Ia bergumam 'habiskan' sebelum kembali fokus pada makanannya sendiri. Ketika ia hendak menyantap makanan, barulah Katsuki menyadari tatapan yang diberikan Shinsou padanya.

Dahinya berkerut sementara Shinsou tertawa pelan. Ia membuat kerutan di dahi Katsuki semakin dalam sehingga ia berkata, "Tidak, hanya teringat sesuatu."

Katsuki baru saja ingin menggumamkan sesuatu seperti 'tidak penting' ketika ia kembali merasakan tatapan Shinsou padanya. Sejelas mungkin ia menunjukkan ekspresi tidak senang agar pemuda itu berhenti melakukannya. Ia yakin pesan itu cukup jelas untuk membuat Shinsou fokus pada makanannya sendiri dibanding mengamatinya dan Deku.

"Kau tahu," ujar Shinsou sambil mengambil udonnya, "aneh membayangkan kau dan Izuku duduk berdampingan seperti ini."

"Hah?"

"Apa aku sudah mengatakan bahwa kalian berdua adalah teman masa kecil?" Shinsou kembali berkata sambil menatap Katsuki. "Ia memiliki nama panggilan khusus untukmu dan kau pun memiliki julukan yang sepertinya masih kau ingat meski tak sadar."

Informasi baru itu kembali membuat Katsuki melupakan makanannya. Mereka teman masa kecil? Teman masa kecil dan juga teman saat ia bersekolah di Yuuei? Sepertinya orang bernama Midoriya Izuku lebih dari sekedar ekstra-ekstra yang pergi ke Yuuei bersamanya. Namun ia tak melihat ada yang lucu dari fakta yang Shinsou ucapkan.

Seolah bisa membaca pikirannya, Shinsou kembali melanjutkan, "Lucunya, kalian hampir tak pernah akur di sekolah. Bahkan bisa dibilang hubungan kalian sangat buruk. Kalian bahkan pernah berkelahi suatu malam dengan menggunakan quirk hingga Eraser Head terpaksa turun tangan untuk melerai."

Bukan teman berarti, rival mungkin... Pikir Katsuki, sedikit tertarik. Orang yang mampu berkelahi setara dengannya hingga guru memisahkan berarti orang yang diakui olehnya. Tak heran Katsuki merasa pernah mengingat namanya.

"Makanya melihat kalian duduk berdampingan seperti ini..," ujar Shinsou sambil menggelengkan kepala. Pemuda itu memilih untuk tak melanjutkan ucapan sebelumnya dan kembali menyesap udon. Ketika ia selesai mengunyah barulah ia berkata, "Ah, tapi setelah itu perlahan-lahan kalian jadi lebih akrab."

Katsuki tak heran mendengarnya. Orang itu orang yang ia akui. Tak aneh bila mereka menjadi teman, bukan?

"Bahkan saat naik ke kelas tiga, kalian menjadi partner terkenal di Yuuei dan semua orang memanggil kalian dengan sebutan baru." Shinsou berkata sambil menggerakkan sumpit ke arahnya. "Wonder Duo, itulah sebutan kalian."

Mendengus pelan, Katsuki berkata, "Orang itu menjadi sidekick-ku?"

Tatapan yang Shinsou berikan membuat tangan Katsuki gatal ingin mencelupkan kepala pemuda itu ke kuah makanannya. Padanya, pemuda itu berkata, "Tidak. Kalian berpartner sekaligus rival. Kekuatan kalian saling mengisi satu dengan yang lain dan tak ada yang lebih lemah dibanding yang lain. Makanya tak heran, Yuuei paling sering memberikan tawaran misi pada kalian berdua."

Bahu Katsuki terangkat sementara ia kembali menghabiskan makanannya. Ia ingat pernah menjalankan beberapa misi dari Yuuei meski mereka masih berstatus pelajar. Hanya saja, ia tak ingat pernah melakukannya bersama orang lain. Entah quirk yang seperti Shinsou katakan memang aktif, atau memang pemuda itu hanya berbohong.

"Katsuki," panggil Deku dan membuat Katsuki menoleh. Ia melihat mangkuk kecil Deku sudah kosong, sehingga ia kembali mengisinya. Bocah itu mengucapkan terima kasih pelan sebelum kembali memakan makanannya.

Sekali lagi Katsuki tersenyum sementara ia menatap si bocah. Bila benar yang Shinsou katakan, ia bisa mengerti kenapa ia begitu peduli pada Deku. Tidak. Peduli mungkin bukan kata yang tepat. Lebih tepatnya ia—

Tatapan tajam Shinsou membuat Katsuki kembali menoleh pada pemuda itu. Ia membalasnya dengan menunjukkan ekspresi jengkelnya yang biasa. Namun Shinsou tetap membuka mulut dan berkata, "Tapi setelah melihat apa yang kau lakukan ketika melihat Kirisihima terluka, kurasa aku bisa mengerti kenapa Midoriya memilih untuk menghapus eksistensinya sendiri."

Apa maksudnya itu? Memang apa yang ia lakukan ketika Kirishima terluka? Ia hanya sangat marah dan menghabisi para villain. Hal yang wajar mengingat mereka berprofesi sebagai hero.

"Kau dan Midoriya...," Shinsou berkata sembari menggerakkan tangan, "sulit kujelaskan. Kalian memang menjadi akrab, tapi kurasa kalian lebih dari itu."

Ucapannya membuat Katsuki bingung. Apalagi yang lebih dari akrab? Lebih dari Kirishima?

"Makanya saat itu...—"

Suara Shinsou terpotong ketika Deku menyentuh tangan Katsuki. Sikapnya membuat Katsuki menoleh dan hendak menanyakan apalagi yang bocah itu butuhkan. Namun ketika melihat bocah itu mulai menguap dan mengantuk, Katsuki pun menepuk pelan kepalanya. Ia membiarkan bocah itu bersandar ke tubuhnya sementara matanya terpejam.

Penasaran, Shinsou pun akhirnya berkata, "Tidur?"

"Sebentar," jawab Katsuki sembari menyesap kembali makanannya. "Dibangunkan pun percuma. Pasti akan tidur di meja."

Shinsou kembali tertawa sebelum ia berkata, "Ketika aku tahu bahwa kau merawat Deku, kupikir quirk-ku tak berpengaruh lagi padamu. Tapi melihatmu muncul dan menanyaiku, kurasa aku salah menduga."

Meski tak suka mengakui, Katsuki hanya bisa menggeram pelan. Ia menghabiskan udon yang ia pesan sebelum kembali meletakkan mangkuknya. Diambilnya segelas air untuk melegakan tenggorokan dan menghabiskannya sebelum kembali menoleh pada Shinsou.

"Quirk-mu masih bisa dipatahkan," ujar Katsuki sambil menatapnya. "Dan aku akan mematahkan quirk itu sehingga aku bisa tahu apakah kau berbohong atau tidak."

Ekspresi Shinsou berubah murung ketika mendengar ucapan Katsuki. Ia menundukkan kepala dan mengaduk udonnya sebelum menjawab, "Sebaiknya kau tak mencobanya."

Manik merah Katsuki menyipit. "Kenapa memangnya?"

Pemuda berambut ungu itu kembali mengangkat kepala dan ia berkata, "Menurutmu kenapa?"

"Oh, sekarang kita bermain teka-teki, Mata Panda?" Katsuki kembali berkata dengan nada sinis andalannya. "Bagaimana aku tahu kalau kau membuatku melupakan semua tentangnya? Aku bahkan curiga bahwa orang ini hanya tokoh rekaanmu semata. Aku tak heran kalau berikutnya kau akan meminta orang yang mirip dengannya berperan sebagai Midoriya Izuku untuk membuktikan teorimu."

"Aku takkan melakukannya, Bakugou."

"Yeah," jawab Katsuki dengan nada tak tertarik. "Sangat meyakinkan."

"Ia—," ujar Shinsou sambil menundukkan kepala, "bahkan sudah tak ada di dunia ini."

Sekali ini Katsuki mengangkat kepala. Apa katanya?

"Midoriya Izuku," ujar Shinsou sambil menatapnya, "meninggal dalam misi pada tahun ketiganya di Yuuei."

Tahun ketiga? Katsuki mengulangi perkataan Shinsou dalam hati. Tunggu! Di tahun ketiga, satu-satunya misi yang ia terima adalah—Tidak! Itu— ia melakukannya bersama Kirishima, Aizawa juga pro hero lainnya. Tidak ada orang bernama Midoriya Izuku pada misi tersebut. Itu— tidak mungkin.

"Ia meninggal saat mencoba mengalahkan All for One bersamamu," balas Shinsou sambil menatapnya lekat.

Tidak... mungkin. Katsuki berani bersumpah ia hanya seorang diri mengalahkan All for One. Tidak ada orang lain selain dirinya saat itu. Ia mengalahkan All for One bermodalkan quirk explotion miliknya. Ia... seorang diri. Ia—

"Tidak, kau tidak pernah seorang diri mengalahkannya," ujar Shinsou. "Ada seseorang yang selalu bersamamu di setiap misi yang kau jalankan. Sekalipun misi itu harus merenggut nyawanya."

Tidak mungkin! Itu tidak mungkin! Itu mustahil!

Shinsou mengangkat kepala. Ia terkejut melihat tetes airmata jatuh di pelupuk mata Bakugou Katsuki. Membuat manik rubi yang biasanya berkilat penuh amarah kini berkaca-kaca layaknya gelas yang rapuh.

Melihatnya Shinsou pun menelan ludah. Ia menatap Katsuki sekali lagi dan dengan ekspresi prihatin ia berkata, "Aku tidak ingin mengatakannya, tapi kurasa kau harus tahu."

"Itu omong ko—"

"Kau tahu keras kepala tak ada gunanya." Shinsou memotong ucapannya. "Seseorang sudah mengorbankan nyawanya. Mau sampai kapan kau bersikeras menyangkalnya?"

Menyangkal? Bagaimana Katsuki bisa menyangkal sesuatu yang tidak ia ketahui? Bagaimana Shinsou Hitoshi memaksanya memercayai sesuatu yang hanya ada di ingatan pemuda itu seorang? Memangnya ia sudah gila hingga mau menerima cerita tak masuk akal seperti ini.

Ia, Ground Zero, sang hero muda nomor satu saat ini, mengalahkan All for One bersama seseorang? Omong kosong apa itu? Selama ini semua orang tahu bahwa hanya ia sendiri yang mengalahkannya. Semua orang tahu bahwa hanya ada dirinya sendiri di dalam bangunan dan tak pernah ada seorang pun menyebut nama Midoriya Izuku sampai hari ini. Omong kosong pun ada batasnya.

Merasa bahwa cerita ini tak masuk akal, Katsuki pun bangkit. Ia hampir melupakan Deku yang tengah bersandar dan nyaris membuat bocah itu terkejut. Namun dengan segera, Katsuki mengangkat dan mengambil jaketnya. Ia meninggalkan uang di atas meja sebelum beranjak pergi meninggalkan Shinsou.

Langkah kakinya dipacu cepat meninggalkan rumah makan yang sebelumnya ia singgahi. Tak ada tanda-tanda bahwa Shinsou akan mengejarnya, namun Katsuki tak juga melambat. Ia terus berlari hingga tangan mungil disentuhkan pada pipinya.

Ia pun mengangkat kepala dan menoleh. Ekspresinya campur aduk ketika melihatnya. Hanya manik merah terus melekat pada manik hijau yang menatapnya khawatir.

Mulutnya terbuka ingin mengucapkan sesuatu. Namun bocah cilik itu lebih dulu melakukannya. Padanya, bocah itu berkata, "Kenapa menangis, Katsuki?"

Menangis? Katsuki bahkan tidak sadar ia melakukannya. Pantas saja wajahnya seolah basah oleh sesuatu.

"Jangan menangis!" Bocah itu berkata sambil mengusap air matanya. Kantuknya lenyap dan bocah itu berusaha menggerakkan tangan memanggil namanya. "Katsuki."

Katsuki tahu, Deku pasti sangat cemas dan sebagai orang dewasa seharusnya ia tak melakukannya. Deku akan sangat khawatir.

Hanya... kali ini saja ia tak mau melenyapkan kekhawatiran bocah itu. Untuk kali ini, ia akan meletakkan kepalanya di bahu bocah itu. Memeluknya erat dan membiarkan airmatanya mengalir. Menumpahkan semua kejanggalan yang ia rasakan selama ini.

Meski ia berusaha menyangkal, ia tahu Shinsou tidak berbohong. Ia tahu sosok itu benar-benar ada. Sosok yang merupakan teman masa kecil juga rivalnya. Sosok yang selalu berada di sampingnya ketika ia menjalankan misi apapun. Seorang teman yang bisa diandalkan, juga seorang rival yang tak bisa ia remehkan. Seseorang yang keberadaannya begitu besar sehingga kehilangannya membuat Katsuki tahu bahwa ia takkan dapat melanjutkan hidupnya. Ia tahu, karena kepedihan yang ia rasakan benar-benar nyata. Airmatanya mengalir karena ia tak dapat menanggungnya. Saat ini dan waktu itu juga.

Sebisa mungkin Katsuki tak mau merasakannya lagi. Ia mungkin sudah melupakan tapi kepedihan itu tetap ada. Ia bertanya-tanya bagaimana cara untuk melenyapkan kepedihan di dadanya. Kepedihan karena kehilangan seseorang yang berarti.

"Katsuki?"

Tangan Katsuki menangkap tangan mungil yang menyentuh wajahnya. Disentuhnya tangan itu dan digenggamnya erat. Seketika itu juga jawabannya muncul di benaknya.

Ya.

Mungkin ia tahu bagaimana caranya.

.

.

.

(t.b.c)


A.N:

Holla! Cyan balik lagi! Setelah puas menyakiti abang Kirishima, sekarang saya beralih ke Bang Katsuki! UWU! Jangan nangis, Bang! I'm here for you! (Who are you, aniway?)

Aniway :

Hanazawa Kay : wow! Kay cepet sekali! Kayaknya belum ada beberapa jem sejak aku update, tapi uda review XD

Aniway, kenapa Deku menyusut? Hm, saya juga pengen tau kenapa XD mari kita tunggu penjelasan selanjutnya. Moga-moga Abang Mata Panda bisa lebih menjelaskan?

El-vtrich : holla El-chan XD uwu, iya setuju, Abang Kirishima, cepatlah sembuh! Kasihan Om Shouta karena ngerasa kantornya jadi kosong :P

Ngomong-ngomong Dabi, kalau rambutnya Dabi jadi licin, mungkin bakal lebih bucin, karena sekarang aja uda naksir meski banyak kulit mati dan rambut item jabrik :P apalagi kalo Bang Dabi jadi ikemen kayak Shouto? Walah... setuju! Untung aja Horikoshi-sensei masih berperikebucinan XD

WinYuzukiN: Halo Yuzuki salam kenal XD aku juga sama penasaran kok sama chapter selanjutnya, mohon doanya semoga saya makin rajin (rajin apa nih?)

Name-chan : whoppsie, sesuai dugaan kamu, Name-chan, Control-san akhirnya bongkar rahasianya, dan sayangnya ngaruh ke Kacchan juga, pukpuk Kacchan, jangan sedih Kacchan! Kacchan tetep hero nomor satu, buat Deku XD

Untuk kenapa Deku mengecil, kenapa ya? Kujuga ingin tau :P moga2 di chapter-chapter berikutnya terungkap kenapa Deku bisa menyusut XD

Duh, tapi dijadiin media kebangkitan? Oh no! Dekuuu! T^T

Makasih semangetnya Name-chan dan makasih uda setia menunggu XD

Sanada Sena : hola Sena, salken juga, makasih uda muncul buat ripiu XD seneng kalo baca kamu enjoy bacanya XD saya juga turut senang, makasih juga buat semangetnya, hanya mohon doanya semoga saya rajin nulis ;D

Also, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D

For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD