Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.

Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi

Until we meet again by cyancosmic

.

.

.

Enjoy!


Ask 13 : Why did you do that?

Suara benturan keras bersama asap hitam dan debu merangsek masuk ke dalam restoran. Papan-papan kayu berlubang sementara meja dan kursi berserakan di mana-mana. Hiruk pikuk terdengar dan secara insting pemuda di sampingnya melingkarkan tangan, protektif. Deku mengangkat kepala dan melihat kerutan di dahi pemuda itu membuatnya sadar situasi ini bukanlah pertanda baik.

Bersamaan dengan itu, seseorang muncul di hadapan mereka melalui lubang hitam. Tubuhnya yang tinggi besar berotot dengan fabric berwarna hitam membungkus seluruh tubuhnya. Hanya kaki dan bagian kepalanya yang dibungkus warna berbeda. Secara keseluruhan, kostumnya sedikit mirip dengan kostum hero pada umumnya, bedanya kostum hero tidak memancarkan aura intimidasi dan kengerian yang jelas sepertinya. Kehadirannya membuat Kirishima menurunkan Deku dan memosisisikannya di belakang.

"Twice," gumam Kirishima saat melihatnya. Tak menyangka bahwa penjahat yang satu ini pun turut serta dalam penyerangan. Tanpa diminta, kedua tangannya mengeras membentuk pertahanan sementara Deku mengintip dari balik tubuhnya. "Tak kusangka, kau masih hidup."

Menggerakkan tangan dramatis, Twice pun tertawa. Ia menggerakkan kedua lengannya yang berotot seraya berkata, "Senang mendengar kau masih mengingatku, Red Riot! Kukira kau dan partnermu yang menyebalkan sudah lupa tentangku."

Sama seperti para penjahat, para hero pun tak pernah melupakan lawan yang pernah mereka hadapi. Terlebih seseorang yang termasuk dalam anggota League of Villain seperti Twice. Meski tak sepopuler Toga, Dabi maupun Shigaraki Tomura, setidaknya Kirishima masih ingat bagaimana quirknya bekerja dan berharap tidak ada modifikasi apapun sejak delapan tahun yang lalu.

Meski ingin meladeni ucapannya, Kirishima menyadari pegangan di balik celana jeans yang ia kenakan. Menyentuhkan satu tangannya pada Deku, Kirishima kembali menatap Twice. Kedua tangannya sudah bersiaga bila sewaktu-waktu Twice menyerang. Hanya lawan di hadapannya tak menunjukkan keagresifan untuk menyerang. Apakah ia salah karena seingatnya Twice cukup temperamen—

Tepat saat Kirishima berpikir demikian, sesuatu menyerangnya dari samping. Dalam sepersekian detik Kirishima langsung mengaktifkan quirk dan menahan serangan. Usahanya membuat Deku yang tengah berpegangan langsung terhempas mundur dan jatuh ke belakang. Kirishima mencoba menahannya tapi serangan kedua datang, membuatnya tak bisa menghampiri Deku segera.

Belajar dari pengalaman dengan Slime, Kirishima tak punya pilihan lain selain berkata, "Deku! Mundur dari sini dan bersembunyilah di tempat yang aman!"

Beberapa langkah darinya Deku mencoba bangkit berdiri. Bocah itu mendengar ucapan Kirishima namun bukannya langsung pergi bocah itu tetap tinggal di tempat. Mulutnya menggumamkan panggilan yang biasa ia gunakan, namun Kirishima terpaksa berteriak padanya sekali lagi. Menyentaknya agar bocah itu pergi menyelamatkan diri. Bocah itu mungkin tak tahu bahwa Twice bukan lawan yang dapat dihadapi sembari melindungi seseorang.

Bila sebelumnya hanya clone yang menyerang, kali ini Twice sendiri yang bergerak. Kirishima berhasil menangkap pergerakannya dan segera membuat perlindungan diri. Ia membalasnya dengan serangan Red Gauntlet sebelum penjahat itu membuat kloning lain dan menyerang Kirishima di sudut mati.

Sedapat mungkin Kirishima berusaha menahannya. Dahinya berkerut menyadari strategi Twice sedikit berbeda dari sebelumnya. Biasanya Twice akan mengubah kloningnya menjadi sesuatu dan menyerang, atau menduplikasi dirinya sebanyak mungkin. Tapi kali ini ia hanya mempersiapkan kloning dirinya. Sangat aneh mengingat sangat banyak benda yang dapat ia sentuh dibanding sekedar kloning diri. Hanya ia tak lanjut memikirkannya ketika manik merahnya menangkap bocah kecil itu masih berdiri tak jauh darinya. Ia pun tak punya pilihan lain selain menyentak Deku sekali lagi.

"Pergi, Deku!" Kirishima akhirnya berkata yang jelas sekali ditanggapi dengan gelengan di kepala bocah itu. Tahu bahwa Deku sendiri keras kepala, Kirishima pun mencoba cara lain. Dengan kedua mata tetap terfokus pada Twice, ia berkata, "Temukan Ground Zero! Cari bantuan!"

Kali ini manik Deku mengerjap. Meski Twice kembali menyerang dan Kirishima tak lagi bisa melihat bocah itu, ia tahu bahwa Deku sudah pergi. Dengan demikian, ia bisa fokus melawan Twice dan merenggangkan otot-ototnya.

"Ayo!" Kirishima berkata sambil menggerakkan jemarinya, mengajukan tantangan pada Twice, "Kita lihat seberapa jauh kemampuanmu berkembang, Twice!"

Meski tidak suka melakukannya, Deku tak punya pilihan. Kaki mungilnya bergerak meninggalkan Kirishima, berjalan menembus tebalnya asap dan kabut di dalam ruangan. Kepalanya bergerak ke kanan kiri, mencari sosok rambut ash blonde sementara ia mengendus udara, berharap menemukan bau nitrogliserin di sana. Sayang yang dapat dicecapnya hanya lembap sehingga ia kembali berjalan melewati hiruk pikuk pertarungan.

Sebelum ia berjalan lebih jauh, lubang hitam besar menganga di hadapan dan membuatnya berhenti melangkah. Dari dalam lubang, Deku bisa melihat kepala dengan rambut pirang berantakan tersembul sebelum menunjukkan sosoknya lebih jauh. Ketika sosok itu muncul sepenuhnya, Deku melihat seorang gadis bertubuh ramping mengenakan vest, celana kain dan kemeja formal. Manik kuningnya yang seperti predator tersenyum miring saat melihat Deku dan menunjukkan seringainya. Padanya ia berkata, "Izu-kun!"

Di belakangnya, Deku bisa melihat pria besar dengan vest dan kemeja panjang juga celana kain hitam yang tak jauh berbeda dengan gadis satunya. Manik kuning pria itu meruncing ketika melihatnya namun ia tak langsung bicara. Sebaliknya ia membungkuk sedikit pada gadis di samping, membisikkan sesuatu pada si gadis.

Gadis di sebelahnya mengangguk sebelum tatapannya kembali tertuju pada Deku. Senyum lebar kembali ia tunjukkan sementara tangannya memegang pisau kecil yang diayun-ayunkan dengan seenaknya. Ia berjalan semakin mendekat pada Deku dan baru berhenti ketika hanya selangkah jauhnya. Gadis pirang itu berjongkok di hadapannya dan memberinya senyuman yang tak kalah menyeramkan dengan seringainya.

"Aku kangen sekali padamu, Izu-kun," ucap gadis itu dengan nada ceria meski ekspresinya tak menunjukkan kehangatan layaknya seorang teman, "apa Izu-kun juga kangen pada Toga?"

Deku tak bisa bergerak. Ia tak mengenal gadis itu dan senyuman gadis itu membuatnya gemetar ketakutan. Ia diam menatap gadis yang menyebut dirinya Toga itu. Bertanya-tanya apa yang diinginkan gadis itu darinya.

"Ayo pulang, Izu-kun!" Himiko Toga berkata padanya, masih sambil memamerkan senyum yang sama. Satu tangannya terulur pada Deku dan ia berkata, "Master sudah menunggumu."

Pulang? Deku menggelengkan kepala. Apa maksud gadis itu dengan pulang? Ia hanya punya satu rumah. Dan di rumah yang ia tuju, tidak ada gadis ini di dalamnya. Menyadari itu, Deku pun mundur perlahan dan menatap Toga dengan waspada.

Toga mengangkat alis melihat sikapnya. "Lho? Kenapa? Padahal kita akrab sekali lho! Bahkan Shiggy selalu bilang kalau kita ini tiga sekawan, bersama Dabi tentunya."

Siapa Shiggy? Siapa Dabi? Deku tidak mengenal mereka semua. Ia juga tidak tahu gadis ini. Katsuki selalu mengajarkannya untuk tidak mengikuti orang tak dikenal sebaik apapun mereka. Apalagi ini? Orang yang mengaku-aku akrab padahal Deku tidak tahu mereka. Bukankah itu sangat mencurigakan?

Melihat reaksi Deku, Toga pun menggaruk kepalanya bingung. Tubuhnya berbalik pada Kurogiri, berharap ia mendapat jawaban dari reaksi Deku. Kurogiri pun membungkuk sedikit dan berbisik pada Toga. Membuat manik gadis itu melebar sebelum seringai kembali menempati tempatnya. Masih menatap Deku, Toga pun berkata, "Oh, begitu! Jadi selama ini Izu-kun bermain rumah-rumahan dengan Ground Zero? Pantas saja Izu-kun salah paham."

Cicitan pelan terdengar dan Deku berkata, "Tidak... salah paham. Tidak main rumah-rumahan dengan Katsuki."

Tawa kecil terdengar dan Toga kembali berkata, "Tentu saja salah paham. Bagi Ground Zero kami ini musuh." Gadis itu sadar benar siapa yang dimaksud Deku dengan 'Katsuki'. "Makanya tak heran Izu-kun takut padaku. Padahal aku dan Izu-kun sangat dekat bagai kakak beradik. Kalau Izu-kun mau aku juga bisa jadi kakak untuk Izu-kun."

Deku menggeleng. Ia tidak mengerti kenapa gadis ini bersikukuh menganggapnya sebagai keluarga. Tapi yang lebih membuat Deku kesal, gadis itu terus memanggilnya Izu-kun seolah-olah itu namanya. Ia bahkan tak bertanya siapa namanya tapi seenaknya menyimpulkan. Padahal Katsuki memberinya nama Deku, bukan Izu-kun.

"Kok begitu?" Toga berpura-pura terdengar kecewa. Ia menatap Deku sebentar sebelum menepukkan tangannya dan berkata, "Bagaimana kalau kutunjukkan sesuatu agar Izu-kun percaya padaku?"

Awalnya Deku tak mengerti apa yang ia ucapkan, terlebih ketika sesuatu seperti cairan menyelubungi tubuh Toga. Lalu dalam sekejap, tak ada lagi gadis berambut pirang dengan seringai menakutkan di hadapannya. Yang ada justru seorang pemuda dengan tubuh ramping dan rambut hijau ikal berantakan. Manik Deku membelalak lebar terlebih ketika melihat bintik-bintik di pipi bulat, mata cekung berwarna hijau dengan leher jenjang. Tangannya yang dibalut sarung tangan terulur dan ia berkata, "Bagaimana, Izu-kun? Masih tidak mengenalku?"

"Tidak...," Deku berkata pelan, meski maniknya memancarkan keheranan saat melihat sosok itu. Tak ada orang yang dapat membayangkan saat dirinya menjadi lebih dewasa, tapi sosok yang ditampilkan Toga memiliki kesamaan yang terlalu ekstrem untuk disangkal. Dengan rambut hijau, mata dan perawakan seperti itu, sulit untuk mengira bahwa ia orang lain.

"Masa? Kau tidak mengenal dirimu sendiri?" Toga berkata tanpa antusias. Ia menatap Kurogiri dan berkata, "Bagaimana Kurogiri? Apa aku sudah mirip Izu-kun? Aku yakin sudah meniru dengan baik sosoknya. Meski delapan tahun bukan waktu yang singkat untuk tetap mengingatnya."

Pemuda di belakangnya hanya menggeleng. "Matamu terlalu cekung, Toga. Kau membuatnya lebih terlihat seperti psikopat kurang gizi dibanding seharusnya. Ia memang bajingan quirkless dan psikopat, tapi tidak pernah terlihat kurang gizi."

"Benarkah?" Toga berkata sambil memiringkan kepala. Ia tak lama-lama bergumam pada dirinya dan menatap Deku. Senyum yang ditampilkannya sangat berbeda dengan sosok perempuannya. Senyum itu tak memberikan kengerian, namun tak ada keramahan di dalamnya. "Oh well, tapi sudah sembilan puluh persen mirip 'kan, Izu-kun?"

Lagi-lagi Deku menggeleng. Ia tak mengerti kenapa gadis itu berubah menjadi pemuda yang mirip dengannya. Toh ia pun takkan mau ikut dengan gadis itu. Meski gadis itu memaksa sekalipun. Meski gadis ini meniru sosoknya saat dewasa tak berarti apa-apa untuknya. Deku tak paham kenapa gadis ini menunjukkannya.

Penolakannya terbaca oleh Toga meski demikian gadis atau pemuda itu tetap menikmati reaksinya. Kurogiri yang berdiri di belakang memperingatkan bahwa waktu mereka tidak banyak dan para hero akan segera mendatangi mereka. Tapi Toga tak mendengarkan dan malah menghampiri Deku. Padanya ia berkata, "Izu-kun tidak mengerti, ya?"

"Inilah Izu-kun yang sebenarnya," ujar Toga melanjutkan tak peduli apa pun reaksi yang ia dapatkan, "bagian dari League of Villains, salah satu anak kesayangan Master dan sering disebut sebagai pewarisnya. Kita ini berbeda dengan Ground Zero, Red Riot atau pun lainnya. Mereka disegani masyarakat, tapi masyarakat takut pada kita. Takut karena mereka tak pernah bisa mengendalikan kita."

Kepala Deku bergerak pelan. Sebagian besar perkataannya membingungkan. Hanya Deku bisa menangkap saat Toga mengatakan bahwa ia bukan pahlawan. Tapi kenapa ia dikategorikan sebagai penjahat? Apa yang Deku dewasa lakukan sebelumnya?

"Hei? Kenapa berwajah begitu? Kau yang mengatakan ini padaku sebelumnya," ujar Toga dengan nada yang dibuat ceria. Ia mendekat pada Deku dan kembali berkata, "Kau sendiri membenci para hero, terlebih para pahlawan seperti Ground Zero. Kau bilang mereka terlalu sombong dan mengagungkan diri sendiri. Mentang-mentang punya quirk hebat mereka lantas mengira bahwa mereka adalah pusat dunia. Padahal mereka sama sekali bukan apa-apa."

"Katsuki... tidak begitu," gumam Deku pelan. "Katsuki—"

Toga mengangkat bahu. "Kau hanya tidak tahu. Tunggu saja sampai kau kembali ke wujudmu semula. Pikiranmu pasti akan berubah. Mau kubantu mengembalikan wujudmu ke asal?"

Sebelum Deku menjawab, Kurogiri lebih dulu berkata, "Jangan kembalikan wujudnya sekarang! Ia tidak ingat siapa kita. Kita yang akan kerepotan bila ia masih dicuci otak oleh Ground Zero."

Cibiran terdengar sementara Kurogiri mendecak tak sabaran. Dengan gerakan akrab, Toga menepuk pundaknya dan berkata, "Aku hanya bercanda, Kurogiri. Lagipula tanpa bantuanku pun, efeknya akan segera lenyap sebentar lagi."

Kurogiri mendesah berat mendengar perkataan Toga. Ia menyingkirkan tangan Toga dari pundaknya dan berkata, "Terserahlah! Yang penting, cepat lakukan sesuatu. Sambar anak itu atau apa. Kita harus segera pergi sebelum para pro-hero itu datang."

Tersenyum lebar, Toga bergumam 'siap'. Ia menghampiri Deku sekali lagi dan berjongkok di hadapannya. Pada Deku ia berkata, "Begitu ceritanya, Izu-kun. Jadi, ayo kita pulang! Toh sebentar lagi Izu-kun akan kembali ke wujud ini, bukan? Daripada dibunuh oleh Ground Zero nanti, lebih baik ikut pulang bersamaku."

Deku menatapnya dan menggeleng. Manik hijaunya bergetar, antara takut dan tidak percaya. "Tidak," gumamnya pelan, "Katsuki... takkan melakukannya."

Dalam wujud pemuda berambut hijau, Toga menaikkan alis. Ia benar-benar keheranan dan berkata, "Kau yakin? Ground Zero benar-benar membencimu, lho? Kalau dia melihat wujudmu, bisa jadi dia akan langsung membunuhmu di tempat. Bagaimana pun, kau ini 'kan pengkhianat?"

"Aku bukan... pengkhianat," Deku berkata dengan suara pelan dan ragu-ragu. Tangan mungilnya saling bertaut mendengar fakta baru yang diungkapkan gadis itu. Ia memang tak mengenal dirinya sendiri. Tapi ia bukan pengkhianat ... 'kan?

"Bagaimana kau yakin?" Toga berkata dengan nada mencibir. "Padahal kau sendiri tidak punya ingatan tentang itu."

Manik hijau Deku menatapnya sebelum ia menundukkan kepala. Ia bukan penjahat. Ia bukan musuh Katsuki. Katsuki tidak membencinya. Tapi... kenapa ia merasa takut? Kenapa ia merasa khawatir, bahwa itulah yang akan terjadi seandainya Katsuki melihatnya dalam wujud pemuda itu. Pemuda ramping, berambut hijau dengan manik hijau yang dingin, tak memancarkan cahaya.

"Ikutlah dengan kami, Izu-kun!" Toga mengulurkan tangannya sekali lagi. "Tempatmu bukan di sini, tempatmu adalah bersama kami."

Menelan ludah, Deku menatap tangan yang terulur padanya. Ia menatap Toga – tidak, ia menatap pemuda berambut hijau itu. Toga mengenalnya. Toga tahu siapa dirinya sementara orang lain tidak tahu. Mungkinkah, Toga berkata jujur padanya?

Tanpa ia sadari, tangannya terulur perlahan. Ia nyaris menyentuh telapak tangannya ketika seseorang merangsek masuk dan menarik tangannya. Meski memar terlihat di pipi dan bajunya sobek, orang itu segera melingkarkan tangannya pada Deku. menguncinya dalam pelukan. Pandangannya menyapu sekeliling sebelum membelalak lebar begitu melihat sosok yang mirip Deku berdiri di samping Kurogiri.

"Apa... siapa..." Kirishima berkata ragu-ragu dengan Deku di pelukannya, "bagaimana—"

"Aww, padahal sudah hampir dapat," gumam Toga sembari menghela napas. Ia mengembalikan sosoknya menjadi gadis berambut pirang dengan seringai menakutkan. Pisau di tangannya sementara ia berkata, "Tahu-tahu Red Riot datang. Apa saja kerjamu Twice?"

Tak jauh darinya, sosok kekar yang dibalut seragam berwarna hitam muncul di samping Toga. Sama seperti Kirishima, sosok ini pun muncul dengan kondisi memar dan robekan di sekitar tangan dan wajah. Meski demikian, sosok ini langsung menduplikasikan diri, dan kloningnya pun langsung menduplikasikan diri terus hingga mereka dikelilingi oleh sepasukan kloning. Ia membuat Deku mengerutkan dahi, mencengkeram Kirishima erat dan menatap sekeliling dengan khawatir.

"Siapa...?" Kirishima berkata sambil menatap Toga. "Siapa orang itu?"

Pertanyaan Kirishima hanya membuat seringai Toga semakin lebar. Satu tangannya menepuk bahu Twice dan berkata, "Kau tak perlu tahu, Red Riot!"

Kirishima masih akan membantah, namun kloning Twice menyerangnya tanpa peringatan. Tak punya pilihan, ia terpaksa menutup mulut dan menghindar. Kedua tangannya tetap melingkari Deku sementara ia menganalisis situasi. Dengan kondisi tiga lawan satu – terlebih yang seorang dapat menggandakan dirinya berkali-kali – ini sama sekali tidak menguntungkan. Ia mendecih dan mundur ke dekat tangga, dengan plafon yang terhubung hingga ke lantai dua.

Ia melompat ketika Twice lagi-lagi menyerang tiba-tiba. Untuk membalasnya, Kirishima mengeraskan kaki dan melayangkan satu tendangan. Sayang di belakangnya kloning yang lain pun siap menjatuhkannya sehingga ia berputar dan meninju salah satu. Belum cukup hanya itu, Kirishima melihat kloning yang lain melompat ke arahnya. Diserbu beberapa kloning membuatnya tak punya pilihan selain menjejak ke tanah dan mencari tempat lain yang lebih aman.

Ia tengah berlari melewati ruang privat dan menuju ke meja bar tempat mereka berkumpul saat suara pelan menyadarkannya. Ia mengeratkan pelukan di kedua tangannya dan berkata, "Jangan khawatir, Deku! Semua akan baik-baik saja! Kita hanya perlu mencari Bakubro."

Tekanan pelan dirasakan di dadanya membuat Kirishima mengerutkan dahi. Deku menggeliat tak nyaman di pelukannya, mencoba melepaskan diri. Kedua tangan Kirishima mencoba menahan namun Deku bersikeras keluar darinya. Ia bingung dan kembali berkata, "Kenapa Deku?"

"Tidak," ujar Deku pelan. "Tidak ke Katsuki."

Kerutan semakin dalam terlihat di dahi Kirishima. Hanya ia tak bisa berpikir macam-macam dengan kloning yang menyerangnya bertubi-tubi. Lagi-lagi ia menghindar, sementara ia memikirkan perkataan Deku. Aneh mendengar bocah itu tidak mau bertemu Bakugou mengingat hubungan keduanya bagaikan api dengan asap.

Kirishima memutar otak dan berkata, "Tapi Bakubro pasti khawatir kalau kita tidak segera ke tempatnya. Saat ini ia pasti cemas setengah mati berhubung ia tak bisa menemukanmu. Makanya kita harus segera ke—"

"Tidak cemas," gumam Deku sekali lagi. "Katsuki... benci padaku."

Sekali ini Kirishima tak repot-repot menyembunyikan keheranannya. Ia menatap Deku bingung sebelum kembali menghindari serangan Twice yang justru mengenai lantai kayu dan menghancurkannya. Sekali ini Kirishima bersembunyi di belakang meja bar sementara ia berhadapan dengan Deku. Manik merahnya menatap bingung dan ia berkata, "Itu tidak mungkin. Bakubro sangat menyayangimu, kau tahu? Siapa yang bilang begitu padamu? Mereka?"

Deku menatap Kirishima sebelum mengangguk. "Mereka bilang, Ground Zero membenci Deku dewasa karena Deku dewasa orang jahat."

"Siapa yang—"

"... Ei-chan," panggil Deku pelan dan butiran air mata yang besar jatuh dari pelupuk mata bocah itu, "apa aku... orang jahat?"

Kirishima tidak sanggup berkata-kata. Ia bingung. Ia ingin berkata tidak, tapi ia sendiri tidak mengerti. Kenapa Toga menyamar menjadi seseorang yang mirip dengan Deku saat ia dewasa? Apakah ini taktik untuk mengecoh Katsuki? Agar Katsuki menyerahkan Deku pada mereka? Tapi apa yang akan mereka lakukan pada Deku kalau begitu?

"Mereka bilang... aku bagian dari mereka," ujar Deku seolah bisa membaca pikiran Kirishima, "mereka bilang aku anak kesayangan Master mereka dan aku orang jahat."

Anak kesayangan Master? Kirishima mengulangi perkataan itu dalam hati. Ia menatap Deku sesaat sebelum menelan ludah. Ia sendiri ragu-ragu. Kalau itu benar, maka sebenarnya Deku dan All for One adalah—

Meja yang terbuat dari beton tempat Kirishima bersembunyi dihancurkan dengan bunyi berdebum keras. Efeknya bahkan membuat Kirishima terpelanting ke belakang bersama Deku di pelukannya. Punggungnya menubruk rak-rak stainless terlebih dahulu sebelum berakhir di lantai dengan air memancur di belakangnya.

"Ei-chan!" Deku menjerit. Akhirnya sadar bahwa mereka sedang berada dalam pertarungan. Ia menyentuh wajah Kirishima, namun Kirishima menggenggam tangannya dan kembali memeluknya. Perlahan Deku mengangkat kepala dan kekhawatiran menyergap saat melihat darah mengucur turun dari kepala sang hero.

Kirishima mengumpat sembari menyentuh kepalanya yang berdenging. Quirk perkerasan memang melindungi punggungnya, namun tak terpikir bahwa kepalanya akan terbentur begitu keras hingga berdarah. Sekarang kepalanya pusing dan ia bahkan tak dapat meredakan kecemasan Deku. Berdiri dengan lunglai, Kirishima menatap lawannya sementara satu tangan memeluk Deku erat.

"Oi, oi, Red Riot, sebaiknya kau serahkan anak itu!" Twice kembali berkata. "Aneh melihatmu melindungi salah seorang dari kami, kau tahu?"

Pegangan tangan Kirishima menguat. "Anak ini bukan bagian dari kalian."

Alis Twice terangkat dan suara tawa nyaringnya membuat gendang telinga Kirishima ngilu. Twice menunjuk Deku dan berkata, "Apa yang kau katakan? Dia itu pengkhianat, kau sendiri yang mengatakannya waktu itu. Apa kau tidak tahu bahwa—"

"Tidak, aku tidak tahu dan tidak mau tahu," balas Kirishima lantang. "Deku bukan penjahat. Anak kecil tak berdaya yang melindungi seorang hero dan selalu khawatir saat seseorang terluka bukanlah villain seperti kalian. Anak ini seorang hero, dan aku berani menjaminnya."

Kepala Deku terangkat. Ia menatap Kirishima sementara tangan mungilnya mencengkeram kaus yang dikenakan pemuda itu.

"Dan aku takkan menyerahkannya pada kalian," ucap Kirishima sambil mengeratkan pelukannya pada Deku. "Coba saja langkahi mayatku kalau bisa!"

Twice mengerjap pelan sebelum seringai lebar menghiasi wajahnya. Ia menatap Kirishima sekali lagi sebelum berkata, "Cukup melangkahi mayatmu saja?"


Tepukan ringan di pipi disertai dengan suara yang memanggil-manggil membuat Deku mengangkat kelopak matanya. Mengerjap pelan, manik hijaunya membiasakan diri dengan cahaya yang masuk. Ketika sudah mulai terbiasa, ia menemukan manik rubi dengan sekelebat rambut ash blonde yang menatapnya khawatir. Membuat tangannya secara refleks terulur dan menyentuh rambut pirang itu.

"Hei," gumam orang itu sambil menangkap tangan mungilnya. Alis menukik tajam dan sentuhan dingin terasa di dahinya membuat Deku bergidik. Pemuda itu memejamkan mata selama beberapa saat sebelum kekhawatiran kembali terlihat di matanya. Ketika ia membuka mata, pemuda itu berkata, "Demamnya belum turun."

Deku bergumam pelan dan mengulurkan tangan pada pemuda itu. Menghela napas, pemuda itu pun menyambut tangannya. Ia mengeluarkan Deku dari tumpukan selimut. Kepala Deku bersandar pada pundak sang hero sementara punggungnya ditepuk pelan. Pemuda itu mengoceh tentang suhu tubuhnya yang tinggi sementara Deku menghirup dalam-dalam harum nitrogliserin yang tercium dari baju pemuda itu dengan kedua tangan melingkar nyaman di leher si pemuda.

"Kalau demammu tak juga turun, aku akan membawamu ke dokter," gumam pemuda itu sembari membawanya keluar dari kamar. Ia berjalan menuju sofa dan mendudukkan Deku di sana. Sementara itu pemuda itu berjalan ke kotak obat yang diletakkannya di dekat televisi dan mengambil kompres penurun panas yang baru. Ia berjalan kembali ke sofa dan duduk di samping Deku sementara tangannya melepaskan kompres yang lama untuk diganti.

"Sementara itu ada yang mau kau makan?" Katsuki bertanya sembari menempelkan kompres baru. Meski Deku menggeleng, Katsuki hanya menepuk kepalanya dan berkata bahwa ia akan membuatkan bubur yang mudah dicerna.

Ia membuang yang sudah mengering sebelum kembali ke sofa. Begitu ia datang, kedua tangan Deku langsung menyambut dan memeluknya. Melihat betapa lengketnya bocah itu, Katsuki kembali geleng-geleng kepala. Satu tangan kembali bersarang di sela-sela rambut hijau si bocah sementara ia mengelusnya pelan.

"Katsuki," gumam Deku sembari memeluknya.

Panggilannya dijawab dengan gumaman pelan. Katsuki kembali mengelus rambut hijaunya sementara ia memejamkan mata. Harum nitrogliserin yang menguar dari tubuh pemuda itu membuatnya kembali mengantuk dan ia nyaris terbuai kembali bila tak mendengar suara di televisi. Suara yang membuat kepalanya langsung tegak sekalipun pusing melanda setiap kali ia duduk.

"Fear not for I'm here," diucapkan Deku bersamaan dengan film yang mulai ditayangkan. Manik hijaunya menatap lemah pada layar televisi sementara ia duduk bersandar. Tangannya perlahan-lahan dilepaskan dari tubuh Katsuki dan sesekali diangkat untuk menyemangati kemunculan sang jagoan. Saking serunya, ia bahkan tak sadar ketika Katsuki beranjak dari sofa menuju ke dapur.

Episode Allmight kali ini berkisah tentang sahabat dekat Allmight. Mereka sedang berada dalam sebuah misi ketika Allmight terjebak. Adegan selanjutnya menampilkan sahabat Allmight berada di sisi para penjahat dengan Allmight yang terkejut. Allmight pun berkata, "Kau... berkhianat?"

Deku menatapnya sementara dahinya berkerut dalam. Kata itu sama dengan kata yang diucapkan gadis dalam mimpinya. Gadis yang ia temui saat mengikuti Katsuki di reuni beberapa minggu lalu.

"Selama ini... kau mengkhianatiku?" Suara Allmight terdengar pecah dan ekspresinya membuat Deku bergidik. Allmight terlihat sangat marah dan... kecewa? "Padahal aku menganggapmu sahabat baik."

Sang sahabat tertawa mendengar ucapan Allmight dan ia mencibir. Ia mengatakan Allmight lah yang salah karena percaya padanya. Seharusnya Allmight tak semudah itu memercayai orang. Untuk pahlawan seterkenal Allmight, memercayai seseorang adalah kesalahan besar. Seorang hero tak boleh sepenuhnya percaya pada seseorang. Terlebih orang yang berada paling dekat dengan mereka.

Tepat saat itu, jantung Deku berdegup kencang. Ia sampai terbatuk-batuk karenanya. Pandangannya mengabur dan tubuhnya terasa begitu panas. Ia meringis sembari mencengkeram kerah piyama merah birunya. Rasa sakit menjalar di sekujur tubuh seolah ia akan meledak.

Film yang sebelumnya ia tonton kini terabaikan sementara ia sendiri berguling di sofa. Beberapa bantal jatuh saat ia membalikkan tubuh mencoba menahan rasa sakit. Meski demikian, rasa sakit tak kunjung mereda sehingga ia mengerang pelan.

Mendengar suara rintihan pelan membuat Katsuki berhenti menggunakan talenan. Kepalanya bergerak terlebih ketika mendengar benda jatuh di dekatnya. Dengan segera ia mencuci tangan dan kembali ke ruang tamu. "Deku?"

Suara Katsuki mencapai pendengarannya dan tak lama kemudian ia melihat pemuda itu di belakang sofa. Tangannya terulur mencoba meminta tolong. Namun perkataannya terhenti ketika melihat ekspresi Katsuki. Ekspresi kekhawatiran sekaligus ketakutan yang pernah ia lihat sebelum-sebelumnya. "Deku!"

Ia mengupayakan satu kata di sela rasa sakitnya. Satu tangannya mencengkeram erat leher sementara ia berusaha mengenyahkan kekhawatiran Katsuki. Sayangnya ia gagal. Sikapnya malah membuat Katsuki semakin panik. Bahkan tanpa banyak bicara, Katsuki langsung mengangkat dan memeluknya. Dengan segera menyambar jaket untuk mereka berdua dan ponsel sebelum tergesa-gesa menuju pintu keluar. Satu tangannya melingkari Deku sementara tangannya yang lain menekan tombol lift berulang kali bagai kesetanan.

Lift muncul beberapa menit setelahnya. Selama itu Katsuki mengetuk-ngetukkan kakinya dengan tak sabar, membuat para penghuni lain terganggu dengan tingkahnya. Ia bahkan tak menyembunyikan erangan saat lift berhenti di lantai lain untuk mengangkut penumpang. Untunglah setelah itu lift langsung menuju ke bawah dan ketika pintu lift terbuka, Katsuki langsung melesat melewatinya.

Mobilnya yang belum selesai diservis membuatnya harus berjalan kaki mencari dokter anak terdekat. Menurut resepsionis, di belokan pertama setelah perempatan jalan, ada dokter anak yang cukup bagus. Para penghuni apartemen biasa membawa anak yang sakit ke dokter tersebut dan menyarankan Katsuki untuk membawanya ke sana. Katsuki pun tak pikir panjang lagi dan segera mengarahkan kakinya ke sana.

Melihat jalanan penuh di sekelilingnya membuat Katsuki memutar otak untuk mencari jalan pintas. Alih-alih melewati jalan besar, ia berbelok ke gang sempit yang merupakan gang servis untuk pertokoan di depan dan terus berlari. Kedua tangannya memeluk Deku erat, berhati-hati saat ia melewati tong sampah ataupun kardus yang berserakan agar tak memberikan tubrukan yang tak perlu. Berkali-kali ia menggumamkan 'bertahanlah' atau 'sebentar lagi sampai', meski anak yang ia bawa tak lagi mendengarkan.

Dengan tubuh yang semakin panas, Deku berusaha mengulurkan tangan menggapai Katsuki. Ia mencoba meminta tolong, tapi suaranya tercekat. Rasa sakit yang tak tertahankan kembali ia rasakan. Seluruh tubuhnya terasa begitu panas dan bergetar bahkan Katsuki meringis merasakan panas kulitnya. Meski demikian, tak sekalipun Katsuki menjatuhkannya. Katsuki terus memeluknya sekalipun panas membakar kulit pemuda itu dan membuatnya terpaksa berlutut sebelum akhirnya melepaskan Deku.

Di tengah panas itu, Deku masih mencoba mengulurkan tangan pada Katsuki. Namun rasa sakit kembali menyergap. Jantung berpacu cepat hingga Deku mengira dirinya akan meledak. Kemudian segala sesuatunya menjadi putih dan seluruh rasa sakit itu berhenti.

Terengah-engah, Deku berusaha menggerakkan kepala. Ia masih berada di gang sempit di belakang pertokoan dengan cahaya lampu temaram menerangi sekelilingnya. Panas yang sebelumnya ia rasakan lenyap meski pusing masih melanda. Deku mengangkat tangan, berusaha memegangi kepala, ketika ia merasakan kehadiran seseorang di dekatnya.

Ketika ia menoleh, ia melihat Katsuki masih berlutut di sampingnya. Kedua tangan pemuda itu memerah namun pemuda itu menggigit bibir menahan sakit. Deku membuka mulut hendak memanggil ketika pemuda itu mengangkat kepala. Masih sambil meringis pemuda itu menggerakkan kepala ke arahnya dan berkata, "De—"

Ucapannya berhenti ketika manik hijaunya bertemu dengan manik rubi pemuda itu. Ekspresi Katsuki berubah, bukan lagi kecemasan atau ketakutan di sana, yang ada hanya keheranan. Lalu keheranan itu berubah menjadi sesuatu yang Deku tak mengerti. Alis Katsuki menukik turun dan kata selanjutnya yang ia ucapkan membuat Deku bergidik ngeri. "What the f***?"

Deku tak mengerti mengapa Katsuki mengumpat. Ia mencoba mengulurkan tangan berharap Katsuki akan menyambutnya seperti biasa. Namun ia menyadari ada yang salah saat melihat tangannya. Tangan mungil yang biasanya tenggelam dalam jaket lenyap digantikan dengan tangan lain yang menyembul keluar melebihi panjang jaketnya. Ketika ia mengulurkan tangannya yang lain, hal yang sama pun terjadi hingga membuat pupil di matanya melebar.

"Deku?"

Katsuki mencoba memanggil, namun Deku melihat keraguan di sana. Katsuki begitu waspada dan menghampirinya dengan ragu. Bahkan tangannya yang terulur tak segera disambutnya. Katsuki justru mengerutkan alis, menggerakkan kepala.

Kepalanya bergerak ke samping dan melihat bayangan yang terpantul kaca di dekat tempat sampah. Seorang pemuda dengan manik hijau dan rambut ikal berantakan balas menatapnya. Piyama merah membungkus bagian atas namun tak sampai ke perut. Sementara kakinya mengenakan celana pendek biru yang juga kekecilan sementara sepatu merah robek karena harus menampung kakinya yang besar. Melihatnya Deku pun mundur selangkah dan ia menggelengkan kepala.

["Kau hanya tidak tahu. Tunggu saja sampai kau kembali ke wujudmu semula. Pikiranmu pasti akan berubah. Mau kubantu mengembalikan wujudmu ke asal?"]

Deku menggeleng. Tidak. Ini tidak mungkin terjadi. Ia hanya anak kecil. Ini bukan dirinya. Pasti ada kesalahan. Pasti.

["Kau yakin? Ground Zero benar-benar membencimu, lho? Kalau dia melihat wujudmu, bisa jadi dia akan langsung membunuhmu di tempat. Bagaimana pun, kau ini 'kan pengkhianat?]"

Tangan Katsuki yang terulur membuat Deku membelalak lebar. Tanpa sadar ia menepis tangan itu dan mundur selangkah. Katsuki yang terkejut sampai tak bisa berkata apapun. Ia ketakutan dan gemetar saat menatap Katsuki.

Menyadari itu, Katsuki menarik kembali tangannya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Meski demikian, ketakutan yang terpancar di manik hijau itu membuatnya menelan ludah. Ada rasa sakit ketika melihat tangannya ditepis sementara sosok di hadapannya terus menjauh darinya.

"Deku...," akhirnya ia berkata. "Kau ... Deku 'kan?"

Deku tidak menjawab. Ia hanya menatap Katsuki. Menatap mata merahnya sementara di kepalanya terngiang ucapan gadis itu. Bahwa Katsuki membencinya. Katsuki sangat benci pada Deku dewasa.

"S*it! Ini aku, Katsuki" ujarnya sambil menunjuk dirinya sendiri. "Apa kau tidak mengenaliku?"

Tak ada jawaban. Katsuki hanya melihat rasa takut di manik hijau itu. Rasa takut yang lagi-lagi membuat tenggorokannya bahkan tak melakukan apa pun, tapi kenapa sosok itu terus beringsut mundur? Apa keberadaannya semengerikan itu?

"Jangan takut," gumam Katsuki perlahan-lahan sambil mengulurkan tangan di hadapan Deku. Sama seperti mendekat pada binatang yang terluka, Katsuki mencoba peruntungannya. Satu langkah sementara matanya terfokus pada manik hijau sosok itu. "Aku tidak akan melukaimu."

Manik hijau Deku menatap tangan yang terulur dan sosok yang mendekat. Jantungnya berdegup kencang seiring dengan setiap langkah yang diambil pemuda itu. Keringat dingin mengalir di pelipis dan ketika menyadari tangan itu akan segera menyentuhnya, ia pun mengambil tindakan. Ia langsung berbalik dan sebelum ia sadar, ia sudah berlari menjauhi Katsuki.

Lari. Katsuki akan sadar siapa dirinya dan Katsuki akan mengingatnya. Cepat atau lambat Katsuki akan membencinya dan ia tak mau itu terjadi. Sebab bila Katsuki membencinya, ia tak punya tempat lagi untuk kembali.

Makanya, ia tak mengerti. Kenapa Katsuki bersikeras mengejarnya? Kenapa Katsuki tak mau menyerah dan tak mau melepaskannya? Kenapa Katsuki terus memeluknya erat sekalipun Deku terus memberontak? Kenapa Katsuki terus berkata bahwa ia takkan menyakiti Deku? Kenapa Katsuki membawanya pulang padahal dia adalah Deku dewasa? Bukankah Deku dewasa adalah orang yang Katsuki benci?

Ia sama sekali tidak mengerti. Tapi ketika Katsuki membungkusnya dalam jaketnya sendiri dan membawanya pulang, ia pun berhenti memberontak. Harum nitrogliserin pada jaket itu melingkupinya dan memberinya rasa aman yang hanya ada satu di dunia ini. Tempat teraman sekaligus tempat yang membuatnya takut kehilangan.

Andai Katsuki tahu seberapa besar arti tempat itu baginya akankah pemuda itu membawanya pulang seperti ini?

Hei, Katsuki!

Kenapa kau melakukan itu?

.

.

.

(t.b.c)


Sedikit penjelasan apabila bingung:

Paragraf yang diitalic = flashback/ mimpi (oh well, keduanya sama)

[kalimat di italic] = kutipan dari perkataan seseorang

A.N:

Holla All! Cyan kembali lagi setelah dua minggu berlalu! Kali ini syukurlah belum berganti hari, ya? Masih bisa dibaca sebelum tidur :P

Aniway :

el-Vtrich : iyaa saya mengerti El-chan, makanya kali ini update sedikit lebih cepet supaya teriaknya masih sebelum hari berganti :P Uhuhu, aku pun gak tega bikin hati pada jungkir balik, mendingan salto aja sekalian kayak chapter kali ini (woy!)

Dan ya, Katsuki kalau lagi down emang saklek sesaklek-sakleknya, sampe Papizawa geleng-geleng. Mungkin mulai mingdep mereka bakal pemanasan dengan Yoga dulu berhubung samsak tinju dan boneka sasarannya hancur gak bersisa.

Kemudian, ehem, semanget accepted, makasih buat reviewnya yang selalu ngikut dari awal :D. Bersamaan dengan itu, mau mengumumkan juga bahwa kapal BKDK di UWMA ini akan segera berlayar. Mari kita doakan semoga berlayar sampe tujuan dan bukannya karam ya, El-chan :P

hanazawa kay : iya, Kay, quirk Mata Panda di filmnya sendiri gak sebegitu berbahaya, cuman di UWMA ini quirknya jadi sedikit powerful dibanding di asli :P gimana pun mereka uda pro hero dewasa, jadi bukan nggak mungkin quirk mereak jadi berkembang (alesan, ini alesan)

Amin Kay, semoga semua berjalan dengan baik (ketawa jahat di belakang)

Name-chan : waduh, teriaknya ngebangunin orang ngalahin ayam berkokok ya Name-chan? :P

Iya, Mata Panda akhirnya ungkapin 'kebenaran'. Tapi sebetulnya, kebenaran yang benar itu seperti apa? Versi Toga? Versi Shinsou? Kalau kata Detective di anime sebelah, pada akhirnya kebenaran selalu hanya ada satu. Tapi benarkah? :P

Makasih semangetnya Name-chan dan makasih selalu nungguin ff nya dan ehem... saya bahkan cuman nonton BnHa season 1 (malu-malu ngakuinnya)

WinYuzukiN : Holla Yuzuki! Kira-kira Deku kecil ini siapa, ya? Waduh, kok dia bisa jadi membesar jadi Deku dewasa? Hem, sekali lagi 'Kebenaran hanya ada satu'. (oi)

Makasih semanget dan doanya. Iya, semoga saya makin rajin. Sekarang lagi ada ide buat fendem lain, tapi mencoba ditahan sampai selesai satu supaya nggak karam kapal BKDK di UWMA ini T^T

NamuraShicie : Holla dan salam kenal Namura! Selamat bergabung di fendem BKDK ini. Memang misteri Deku satu persatu terungkap, tapi pasti bingung karena ada dua versi. Semoga tetap dinikmatin bacanya dan selamat menikmati menebak-nebak keseluruhan misteriny :D

Also, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D

For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD