Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.

Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi

Until we meet again by cyancosmic

.

.

.

Enjoy!


Ask 14. Why did you scared of me?

Bunyi derap langkah di atas papan kayu dari ruangan di depan membuat Deku menatap pintu dengan cemas. Bersamaan dengan itu, ia bisa mendengar beberapa umpatan keluar dari mulut sang pemilik rumah. Ia pun menundukkan kepala menatap kedua kakinya yang telanjang, menunggu nasib yang akan dibacakan untuknya.

Tak berapa lama, sang pemilik rumah membuka pintu kamar. Raut wajahnya terlihat sama tidak bersahabatnya seperti biasa. Hanya ketika pemuda itu mengangkat kepala dan memandangnya, seketika otot di wajahnya berubah. Kejengkelan yang mendominasi berubah menjadi kekhawatiran. Pemuda itu pun berkata, "Kau belum juga berganti pakaian?"

Deku menatapnya bingung. Ia memandangi jaket hoodie dengan logo X yang ia kenakan sebelum menggelengkan kepala. Jaket berukuran besar itu melingkupinya lebih dari separuh tubuhnya dan nyaris menenggelamkannya. Namun ia menyukai jaket itu. Terlebih samar-samar ia bisa menghirup harum karamel yang sama dengan yang selalu tercium dari tubuh pemuda itu.

Meski demikian pemuda itu terlihat tidak setuju bila ia terus mengenakan jaketnya. Berjalan melewati ranjang berukuran besar, Katsuki mendekat pada lemari mahogani yang ada di sebelah jendela. Membuka pintu, ditatapnya rak teratas sementara satu tangan meraih sejumlah pakaian. Ditariknya semua pakaian itu dan dibentangkannya di atas ranjang.

"Sebaiknya kau tanggalkan jaket dan bajumu," ujar Katsuki sambil memilah-milai pakaian. Beberapa kali dahinya berkerut sebelum menyingkirkan pakaian yang menurutnya tidak layak. Hingga akhirnya ia berhasil mendapatkan kaus bergambar tengkorak dan celana pendek yang sudah tak muat lagi untuknya. "Ganti dengan yang ini."

Belum sempat Deku bicara, Katsuki sudah beranjak menuju ke ambang pintu. Ditariknya pintu dan ia beranjak keluar dari kamar. Meski demikian pemuda itu tetap menyempatkan diri berkata sekali lagi, "Ganti bajumu! Aku tidak mau baju kotor mengenai ranjang!"

Selesai mengatakannya, Katsuki menutup pintu dan meninggalkan Deku sendirian. Langkah kaki pemuda itu masih terdengar selama beberapa saat sebelum digantikan oleh suara televisi. Baru saat itu Deku menatap baju yang diberikan Katsuki dan menanggalkan jaket yang ia kenakan.

Tubuhnya memang sudah lebih besar tapi tetap saja baju yang Katsuki berikan tak sesuai dengan ukurannya. Kaus bergambar tengkorak itu setidaknya dua kali lebih besar dari tubuhnya sementara celana pendeknya nyaris mencapai pergelangan kaki. Celananya nyaris turun bila ia tidak memasukkan kaus ke pinggang. Sempat terpikir untuk mengenakan lagi jaket Katsuki sekadar mencegah. Tapi, Katsuki takkan suka bila ia mengenakan baju kotor di dalam rumah.

Merasa tak ada lagi yang bisa dilakukannya, Deku pun mengikuti Katsuki. Tangannya meraih gagang pintu dan menurunkannya. Dengan segera manik hijaunya langsung mencari sosok pirang di antara sofa. Namun karena ia tak menemukannya, kepalanya bergerak ke dapur. Di sanalah ia menemukan pemuda yang ia cari. Berdiri membelakangi meja bar dengan bunyi tuk tuk pelan seiring dengan setiap gerakan tangannya.

Kakinya bergerak hendak menghampiri meski Katsuki lebih dulu menoleh. Pemuda itu memicingkan mata saat melihat penampilan Deku. Kedua alisnya bertaut dan keningnya berkerut. Tangannya mengambil lap sementara ia berjalan keluar dari balik konter.

Katsuki sambil menggelengkan kepala sambil berkata, "What the f***, Deku? Kukira kau sudah lebih besar, ternyata kau tetap saja kecil."

Mendengar umpatan Katsuki, Deku pun tertunduk. Satu tangannya mencengkeram kaus bergambar tengkorak sementara matanya menatap mata kaki. Ia tak tahu harus berkata apa.

Katsuki sendiri sebetulnya tak mempermasalahkan. Pandangannya tertuju pada kaus yang tergantung melebihi siku anak laki-laki di hadapannya. Tangannya terulur hendak melipat lengan yang kebesaran ketika Deku sontak mundur selangkah.

Untuk sesaat, ia mematung. Beberapa detik berlalu sebelum ia menarik kembali tangannya. Tanpa mengucapkan apa-apa, Katsuki kembali ke dapur. Sembari memotong sayur manik merahnya mencuri pandang ke arah tangannya. Bertanya-tanya apa yang salah hingga Deku menghindarinya.

Melihat Katsuki sudah kembali ke dapur Deku pun kembali mengangkat kepala. Biasanya, ia akan mengikuti Katsuki. Hanya saja, sepertinya itu bukan ide yang bagus untuk saat ini. Ia pun menatap sekeliling dan menjatuhkan pilihannya pada sofa di ruang keluarga. Mendekat, Deku berjalan dan menempati salah satunya. Disandarkannya kepalanya pada lengan sofa sementara ia memejamkan mata.

Masih ada sedikit harum karamel saat ia meletakkan kepalanya di sana. Ia menyukai wangi tersebut. Wangi yang disukai Deku kecil karena wangi itu sama dengan orang yang paling disayanginya. Hingga tanpa sadar, ia pun menaikkan kedua kakinya dan bergelung di sana. Terbuai dan akhirnya terbawa ke alam mimpi.

Sementara ia tertidur, Katsuki sibuk menyelesaikan urusannya. Kedua tangannya sibuk menyiapkan makanan sementara pikirannya berkelana memikirkan Deku. Sampai saat ini, ia tidak mengerti bagaimana seorang bocah mendadak bertumbuh hingga seukuran anak SMP. Biasanya untuk bertambah tinggi beberapa sentimeter minimal membutuhkan beberapa bulan untuk anak laki-laki normal. Tapi tidak ada cerita di mana bocah kecil berubah menjadi anak SMP dalam waktu semalam.

Mudah baginya untuk berasumsi bahwa quirk-lah yang membuat bocah itu bertumbuh dalam semalam menjadi bocah SMP. Dalam beberapa kasus, quirk memang tidak terduga kemunculannya. Meski demikian, anak itu diperkirakan sudah berumur delapan tahun sebelumnya dan dokter yang Kirishima temui mengatakan bahwa anak ini quirkless. Makanya Katsuki sedikit tidak yakin bahwa pertumbuhannya terjadi karena quirk.

Belum lagi ditambah fakta bahwa pertumbuhan ini terjadi setelah pertemuan mereka dengan League of Villains. Dibanding quirk, Katsuki lebih curiga bahwa pertumbuhan Deku terjadi karena mereka. Katsuki percaya bahwa mereka melakukan sesuatu pada Deku – entah apa, hingga membuat bocah itu ketakutan padanya. Kalau bukan karena mereka, bocah itu pasti akan menempel padanya sekarang.

Kenyataan ini membuat Katsuki geram. Para penjahat itu sudah melukai partner kerjanya, membuat Deku ketakutan dan sekarang mereka meracuni pikiran Deku. Ia menyesal membiarkan mereka kabur. Tahu begitu seharusnya ia lebih giat mencari dan menemukan mereka. Ia takkan membiarkan mereka lolos. Para penjahat yang sudah merusak hubungannya dan Deku.

Hanya saja, ia sendiri tidak mengerti kenapa para penjahat itu mengincar Deku. Apakah itu karena Deku dirawat olehnya? Karena mereka kira Deku adalah kelemahannya? Mungkin juga. Tapi kenapa harus repot-repot menghasut pikiran Deku? Kenapa mereka memilih cara yang merepotkan dibanding sekedar menculik anak itu?

Sekali lagi ia menatap tangan kanannya. Apakah mereka tahu bahwa cara ini akan lebih menyakitinya? Melihat Deku mundur selangkah saat tangannya hendak menyentuh atau menatap mata Deku yang memancarkan kengerian, apakah mereka tahu bahwa ini hal yang fatal untuknya?

Suara air yang bergelegak membuat Katsuki tersadar dari lamunan. Ia pun berhenti menatap tangannya dan mengecilkan api di kompor. Bahan-bahan makanan dimasukkan sementara ia kembali mengaduk. Beberapa saat kemudian ia meninggalkan panci dan mengumpulkan perkakas yang sebelumnya ia gunakan untuk diletakkan di atas bak cuci piring. Pandangan matanya kembali menatap tangan kanannya sementara ia mencuci perkakas yang sebelumnya ia gunakan.

Sekali lagi ia mempertanyakan kenapa Deku menatapnya seolah ketakutan. Apa yang dilihat bocah itu saat memandangnya? Apakah bagi Deku ia lebih terlihat sebagai seorang penjahat dibandingkan seorang hero?

Sekali lagi Katsuki mengenyahkan pikiran itu sebelum fokus mencuci piring. Selesai mencuci, ia kembali mengaduk makanan di dalam panci dan mematikan kompor. Sudah pukul empat sore ketika ia selesai memasak. Ia pun menggerakkan lehernya pelan sementara kakinya melangkah ke sofa.

Ketika ia mendekat, ia menemukan bocah yang ia cari. Bergelung layaknya ulat sutera, bocah yang menempati tempat favoritnya itu terlihat begitu damai. Sembari menaikkan alis, Katsuki pun menghampiri dan berjongkok di depan bocah itu.

Satu tangannya terulur menyentuh rambut hijau. Ia lega bocah itu tak terbangun ketika ia melakukannya. Pelan-pelan diusapkannya satu tangan sembari memerhatikan bocah itu lekat. Pipi bundar berbintik dengan wajah kekanakan berubah menjadi lebih ramping. Pucuk hidung yang biasanya bundar mulai meruncing, sementara bahu mungil tetap saja kecil dengan tungkai memperlihatkan tulang. Melihatnya, Katsuki merasa Deku kecil jauh lebih sehat dibanding anak ini. Anak ini terlalu kurus.

Teringat sesuatu, Katsuki menyentuhkan satu tangan ke dahinya sendiri sementara tangannya yang lain berada di atas dahi Deku. Ia memejamkan mata sedikit sebelum menghela napas lega. Setidaknya panas yang sebelumnya menyiksa Deku sudah lenyap.

Ia pun kembali menyentuhkan tangan di atas rambut Deku. Sebelumnya, Katsuki tak pernah memusingkan bila seseorang menatapnya takut. Pandangan seperti itu sering ia temukan di mata anak-anak ataupun musuh yang harus ia hadapi. Selama ini pun, ia tak merasakan apa-apa saat mereka memandanginya dengan sorot demikian.

Hanya— ia tidak ingin Deku menatapnya demikian. Deku tidak sama dengan mereka. Deku berbeda. Deku—

Dering bel yang dibunyikan berulang kali kembali menyadarkan Katsuki. Ia menoleh ke ambang pintu sebelum dengan jengkel melangkahkan kaki ke pintu depan. Samar-samar ia punya dugaan siapa orang yang dengan seenaknya datang. Resepsionis jelas takkan membiarkannya naik bila tak mengenali siapa orang tersebut.

Pintu dibuka dan sosok dengan rambut pirang berantakan yang sama muncul di ambang pintu. Wanita yang sudah dikenalnya selama dua puluh enam tahun hidupnya itu menyapanya santai tanpa mengindahkan ekspresi tidak senangnya. Sembari menyerahkan bungkusan yang ia bawa pada Katsuki, wanita itu pun membuka sepatu dan melenggang masuk.

"Di mana Deku-kun?" Wanita itu berkata. "Kau bilang dia sakit?"

"Dia—"

Suara Katsuki terhenti ketika sosok yang dicari ibunya membuka mata. Dari sofa yang ditempatinya, Katsuki bisa melihat ibunya sampai berhenti melangkah. Matanya bertemu dengan manik hijau besar dan sekali lagi sorot ketakutan muncul di sana. Melihatnya membuat Katsuki beranjak menghampiri dan melangkah di antara keduanya.

"Kau menakutinya, wanita sialan!" Katsuki berkata sementara tubuhnya menutupi Deku dari pandangan sang Ibu. Suaranya membuat Mitsuki mengalihkan perhatian padanya sementara ia menyerahkan bungkusan dari sang Ibu pada Deku. "Deku! Ganti bajumu dengan ini, seharusnya muat."

Deku tak banyak membantah. Ia mengangguk pelan dan menerima bungkusan yang diberikan Katsuki. Tanpa banyak bicara, ia masuk ke kamar untuk mengganti bajunya.

Di ruang depan, sang Ibu menatap putranya dengan tatapan penuh selidik. Herannya, putranya yang satu itu tak juga angkat bicara. Bahkan sang Ibu terpaksa berkata, "Kau tidak mau menjelaskan sesuatu?"

Seperti biasa putranya menatapnya jengah dan berkata, "Apa yang mesti kujelaskan?"

"Minggu lalu bocah itu masih seukuran ini," Mitsuki berkata sambil memosisikan tangannya di bawah pinggang, "tapi tahu-tahu dia sudah seukuran anak SMP sekarang. Apa tidak ada yang bisa kau jelaskan soal itu?"

Katsuki berbalik menghadap sang Ibu dan ia berkata, "Kau kira aku ini professor yang tahu segala?"

"Kalau begitu bagaimana bisa Deku bertumbuh secepat itu?" Sang Ibu kembali menyuarakan kecurigaan. "Kau tidak memberinya makanan yang aneh-aneh 'kan? Atau jangan-jangan ia terserang quirk seseorang? Pasti ada sesuatu yang terjadi sampai Deku berubah menjadi anak SMP 'kan?"

"Berisik!" Putranya berkata dengan nada jengkel yang tidak repot-repot disembunyikan. "Mana kutahu kenapa? Dia tiba-tiba bertumbuh begitu saja. Belum lagi—"

Mitsuki mengulangi perkataannya namun Katsuki hanya menggeleng tak menyelesaikan ucapan. Melihatnya Mitsuki pun menghela napas. Disentuhkannya satu tangan pada pundak putranya sementara ia berkata, "Kau sudah membawanya ke dokter? Atau melaporkannya pada atasanmu?"

Melihat gelengan di kepala Katsuki, Mitsuki sekali lagi menghela napas. Ia sudah hendak berkomentar ketika mendengar suara pintu yang dibuka. Bersamaan dengan Katsuki, ia menoleh dan memerhatikan sosok yang berjalan takut-takut ke arah keduanya.

"T-terima kasih," ujar sosok itu dengan suara mencicit pelan. Baju yang ia kenakan merupakan baju lama yang dulu digunakan Katsuki saat ia masih SMP. Terlihat jelas bahwa selera fashion putranya yang kebanyakan terdiri dari kaus hitam dan celana baggy pants sangat tidak sesuai untuk anak ini. Belum lagi ditambah fakta bahwa kaus itu pun cukup besar untuk dikenakan.

Meski begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan, Mitsuki memilih untuk menahan diri. Anak ini ketakutan dan Mitsuki tak ingin diusir putranya karena membuat anak ini semakin tak nyaman. Karena itu Mitsuki mengupayakan senyum terbaiknya dan berkata, "Halo, Deku-kun! Pakaiannya tidak cocok, ya? Selera Katsuki waktu SMP memang jelek sekali."

Putranya yang disinggung memberikan tatapan tajam padanya. Ia pun mencoba tak menggubrisnya dan mendekat pada Deku. Dengan segera ia menggulung celana yang menutupi mata kaki Deku sehingga anak itu lebih nyaman. Baru setelahnya ia kembali menilai penampilannya.

"Sedikit lebih baik," ujar Mitsuki sambil bergumam puas. Ia menoleh pada putranya, sedikit heran karena putranya menatapnya dengan pandangan bingung dan... iri? Mungkin ia salah. Tak ada hal yang membuat putranya harus cemburu padanya. "Katsuki, sebaiknya kau membelikan Deku baju yang pas untuknya. Kasihan bocah malang ini kalau mengenakan baju lungsuran darimu."

Pandangan itu hilang dan putranya mendecakkan lidah. Ia sendiri menggelengkan kepala melihat tanggapan putranya namun Mitsuki dengan cepat menoleh pada Deku. Berdiri di sampingnya, bocah itu sekepala lebih pendek darinya. Seperti yang ia katakan, benar-benar pertumbuhan yang sangat cepat. Apa yang terjadi sebetulnya?

Perhatian Mitsuki teralihkan ketika mendengar suara keras yang bergema di sampingnya. Menoleh sedikit ia pun berkata, "Kau belum makan, Deku-kun?"

Deku menggeleng pelan. Ia hendak menggumam sesuatu sebelum perutnya kembali berbunyi. Membuat wajahnya merona merah sehingga ia menundukkan kepala untuk menyembunyikannya.

Melihat itu Mitsuki spontan berteriak pada putranya, "Oi, Katsuki! Apa-apaan ini? Sekarang kau biarkan Deku kelaparan? Tega sekali!"

"Kenapa kau yang berisik, wanita sialan?" Katsuki balas menyahut seperti biasa. "Deku bisa makan kalau memang itu yang ia inginkan. Aku sudah selesai memasak."

Tanpa banyak bicara Mitsuki menghampirinya. Mulutnya menanyakan masakan apa yang dibuat Katsuki meski tangannya lebih dulu menyingkap tutup panci untuk melihat isinya. Aroma manis dan harum pun menguar, membuat Mitsuki bergumam sedikit sebelum berkata, "Sup kentang? Untuk Deku saja?"

"Memang untuk siapa lagi?" Katsuki balas menyahut. Ia pun mengambil mangkuk dan menuangkan sup ke atasnya. Baru ia menyerahkannya ke atas meja bar di mana Deku berada. Manik merahnya menatap Deku dan berkata, "Makanlah dulu!"

Deku menerima mangkuk yang Katsuki berikan. Perlahan ia menyuapkan sup itu ke mulut, merasakan rasa gurih juga manis dari sup kentang. Ia pun menyesapnya pelan tanpa menyadari bahwa kedua orang itu memandanginya. Baru ketika ia membuka mata, ia melihat dua pasang manik merah yang memberikan reaksi berbeda.

"Habiskan!" Katsuki berkata sambil berbalik dan keluar dari konter. Ia tak meninggalkan senyum atau apa seperti yang biasa diberikannya pada Deku kecil. Meski demikian Deku tetap menurutinya, menghabiskan seperti yang diperintahkan.

Di samping keduanya, Mitsuki yang mengamati bergantian memandangi keduanya. Ia mengerjap pelan sebelum melangkah, mengikuti putranya yang tengah berjalan menuju ke kamar. Dilihatnya pemuda itu mengambil pakaian yang ditinggalkan Deku sebelumnya dan baru saja hendak membawa keluar ketika bertatapan dengannya.

"Mau apa lagi, wanita sialan?"

Alis Mitsuki terangkat. Ia memang tidak berharap, tapi sedikit menyebalkan mendengar tak ada ucapan terima kasih meski ia sudah membawakan baju seperti permintaan putranya. Untungnya ia tipe orang yang langsung menyatakan apa yang ada di pikirannya sembari menyalurkannya lewat perbuatan. Karena itu dihajarnya kepala pemuda itu sementara ia berkata, "Kalau terus begini, kuabaikan saja permintaanmu lain kali! Dasar anak sial!"

Katsuki mendecak sebal sembari mengusap kepalanya yang kena hajar sang Ibu. Ia menggumam minggir dan akan berjalan melewatinya sebelum sang Ibu memanggilnya. Dengan kelopak mata menyipit ia pun berkata, "Apa lagi?"

"Apa terjadi sesuatu di antara kalian?" Mitsuki berkata sambil menunjuk Deku. "Bocah itu kehilangan ingatan lagi atau bagaimana?"

Sesaat Katsuki tidak menjawab. Ia menatap ke depan dan berkata, "Tidak tahu."

Mitsuki mengerjap pelan mendengar jawabannya. Tidak tahu, katanya? Mitsuki kira ia takkan pernah mendengar itu dari mulut Katsuki. Melihat betapa eratnya hubungan keduanya sewaktu bocah itu masih sangat belia.

"Kok bisa tidak tahu?" Mitsuki mengucapkan keherananya tanpa segan. "Bocah itu biasa menempel padamu, mengatakan Katsuki ini, Katsuki itu, sekarang aku tidak mendengar itu darinya. Bahkan kalian tidak bertatapan padahal biasanya kau sudah melemparkan senyum yang sering membuat bulu kudukku merinding karenanya. Ada apa sebenarnya?"

Pertanyaan Mitsuki sempat mendapatkan tatapan sinis dari sang putra. Namun berhubung ia sudah biasa dihadiahi tatapan itu, Mitsuki balas memandangnya dengan tak acuh. Hanya yang mengherankan, kesinisan itu berubah menjadi keraguan. Sesuatu yang jarang ditemukannya pada sang putra.

"Sudah kukatakan, aku tidak tahu!" Katsuki kembali berkata. Kali ini ia mengucapkannya dengan sedikit ketus. "Dan kapan aku pernah tersenyum? Kau mulai berhalusinasi, wanita sialan?"

Bola mata Mitsuki berputar, menyatakan ketidakpeduliannya. Ia bahkan sengaja mengorek telinga, membuat Katsuki semakin jengkel. Di saat ia mengira akan mendapatkan umpatan, pemuda itu justru berbicara dengan suara yang pelan hingga ia harus menajamkan telinga.

"Tapi kurasa," ujar Katsuki pelan, "ia... takut. Padaku."

Kali ini Mitsuki terpaksa mencerna pelan-pelan sebelum berkomentar. "Takut? Bocah itu?"

"Dulu... bocah itu juga takut," ujar Katsuki. Teringat saat Deku si bocah menatapnya dengan ketakutan yang sama. Tapi, itu karena mereka baru bertemu untuk pertama kalinya waktu itu. Sementara saat ini, seharusnya Deku sudah sangat mengenalnya.

Mitsuki menatapnya selama sesaat. Melihatnya demikian membuat Mitsuki sekali lagi menepukkan tangan ke pundaknya. Ia pun berkata, "Tapi itu 'kan dulu. Sekarang ia tahu siapa dirimu."

"Entahlah," Katsuki tak langsung setuju, "kalau ia mengenaliku, seharusnya ia tak perlu takut padaku."

"Mungkin karena ia belum terbiasa dengan wujudnya makanya ia pun takut orang lain beranggapan sama," usul Mitsuki. "Mungkin itu sebabnya ia takut padamu."

Untuk sesaat Katsuki tak menjawab. Ia terdiam cukup lama hingga sang Ibu harus memanggilnya. Saat itu barulah Katsuki memanggilnya dan berkata, "Menurutmu... aku terlihat seperti apa?"

Awalnya Mitsuki mengira bahwa ia salah dengar. Ia pun memastikannya sekali sebelum berkata, "Seperti anak brengsek, mungkin?"

Putranya kembali bungkam. Mitsuki sedikit khawatir bahwa ia salah menjawab sehingga ia memanggil putranya lagi. Tapi pemuda itu malah berkata, "Apa... aku terlihat seperti penjahat?"

"Penjahat?" Mitsuki sampai mengulangi pertanyaannya, sedikit tidak yakin. "Kau menganggap dirimu seperti itu?"

"Tidak!" Katsuki buru-buru menyanggah. Namun secepat itu pula kekeraskepalaannya luntur. Dengan suara pelan yang tidak seperti dirinya, pemuda itu berkata, "Tapi, mungkin bagi Deku aku terlihat demikian."

Selama beberapa saat Mitsuki diam. Kedua tangannya terlipat di depan dada sementara pandangannya tertuju pada putranya. Sejauh yang ia saksikan, bocah itu tak terlihat seperti ketakutan pada seorang penjahat. Bagi Mitsuki, bocah itu terlihat tidak nyaman dengan wujudnya. Sementara Katsuki tidak bisa memahami itu.

Ia pun menghela napas dan berkata, "Seperti bukan dirimu saja, menduga-duga seperti itu." Putranya mendecih pelan, menyudahi percakapan mereka. Pemuda itu melewatinya sembari membawa beberapa baju kotor. Ketika putranya akan melewati ambang pintu barulah Mitsuki memanggilnya sekali lagi. Padanya ia berkata, "Bagaimana kalau kau coba tanyakan pada Deku, apa benar ia menganggapmu seperti penjahat?"

Seperti biasa, putranya lebih dulu menunjukkan penyanggahan sehingga Mitsuki kembali berkata, "Kau mau aku yang menanyakannya?"

Kembali mendecakkan lidah putranya berbalik dan kembali berjalan. Mitsuki bisa mendengar ia bergumam 'Tidak perlu' yang membuatnya mengangguk. Mendengar itu, ia pun kembali ke meja bar, mendekati Deku yang sudah selesai menghabiskan supnya.

"Bagaimana supnya?" Mitsuki berkata sembari duduk di samping anak laki-laki yang sebelumnya mereka bicarakan. "Enak?"

Deku menoleh sebelum mengangguk pelan. Seharusnya Mitsuki tak perlu bertanya saat melihat mangkuknya yang kosong. Lagipula tak ada yang pernah meragukan putranya sebagai koki. Ia pun tersenyum sedikit sementara tangannya menyentuh rambut hijau anak laki-laki itu. Padanya ia berkata, "Padahal mukanya seram, tapi masakan Katsuki enak, ya?"

Pertanyaannya membuat Deku tertegun. Manik hijaunya mengerjap pelan dan menunduk terlebih dulu. Baru kemudian Mitsuki mendengarnya berkata, "Katsuki tidak seram."

Tangan Mitsuki berhenti bergerak. Ia menatap anak itu lama sebelum seulas senyum kembali muncul di wajahnya. Ia pun berkata, "Begitukah? Padahal aku sempat berpikir bahwa anak itu titisan iblis. Tak ada satu pun sifat baik padanya."

Deku menggeleng kuat-kuat. Ia menatap Mitsuki dan dengan yakin ia berkata, "Katsuki bukan orang jahat. Ia sangat baik."

"Oh?"

"Ia... menggendongku saat aku tidak bisa jalan, membuatkan makanan dan memberikanku susu agar aku tumbuh setiap hari. Ia juga mencucikan boneka Ground Zero yang kotor,." Deku berkata sambil mencengkeram ujung kaus yang ia kenakan. "Katsuki... sangat baik."

Semua yang disebutkan Deku hampir sulit dibayangkan sebetulnya. Mitsuki tidak pernah melihat putranya melakukan itu pada orang lain kecuali bocah ini. Awalnya Mitsuki mengira bahwa putranya merawat anak ini karena perintah atasan. Tapi belakangan Mitsuki menyadari, bukan itu yang terjadi.

Karenanya Mitsuki mengusap rambut Deku sekali lagi. Tersenyum tulus pada satu-satunya bocah yang membuat putranya berubah dan ia berkata, "Dia tidak seperti itu pada semua orang lho!"

Deku menggerakkan kepala, menatapnya bingung.

"Hanya kau seorang yang diperlakukan sampai seperti itu," ujar Mitsuki. "Bahkan ia sampai meminta bantuanku. Hal yang kupikir takkan pernah terjadi."

"Mama Katsuki—"

Mitsuki baru akan melanjutkan ucapannya ketika ia mendengar derap langkah dari ruang cuci. Menyadari itu, Mitsuki pun menutup mulut sebelum mengusap kepala Deku sekali lagi. Baru setelahnya ia berkata, "Baiklah, baju sudah kuantar. Sudah saatnya aku pulang."

Sementara Deku menatapnya bingung, Katsuki yang baru datang tak banyak bicara. Ia hanya bergumam 'Terserah' sebelum beranjak ke dapur dan mengambil mangkuk yang baru dipakai Deku.

"Oi, Katsuki, ibumu mau pulang nih!" Mitsuki berkata dengan sengaja. "Kau tidak mau mengatakan sesuatu?"

Menoleh sedikit, katsuki berkata dari balik punggungnya, "Pulang sana!"

Sekali ini Mitsuki menyempatkan diri untuk memukul kepalanya dan dihadiahi umpatan serta makian dari sang putra. Seolah tak peduli, Mitsuki hanya menggerakkan tangannya sembari berjalan ke pintu depan. Sementara putranya sibuk di tempat cuci piring, Deku turun dari kursi yang ia tempati dan mengikutinya hingga ke pintu.

"Mama Katsuki," panggil Deku ketika Mitsuki tengah memakai sepatu, "terima kasih bajunya."

Mitsuki mengangkat kepala mendengar ucapannya dan dengan suara yang sengaja dikeraskan ia berkata, "Sama-sama, Deku-kun! Senang mendengar ada orang yang mau menghargai jerih payahku mengantarkan semua baju itu ke sini."

Deku gelagapan sementara dari dapur Mitsuki bisa mendengar umpatan yang membuatnya kembali tertawa lebar. Ia pun kembali mengacak pelan rambut Deku sebelum mendorong pintu depan untuk membukanya. Ia mengucapkan selamat tinggal sebelum meninggalkan mereka dan beranjak ke lift.

Setelah Mitsuki pergi, ruangan kembali tenang. Hanya terdengar suara air yang dijalankan Katsuki saat mencuci piring. Sisanya, hampir tak ada kata yang diucapkan meski biasanya selalu ada hal yang dapat Deku katakan saat bersamanya. Membuat Katsuki sedikit merindukan masa-masa tersebut.

Mungkin ibunya benar. Ia tidak mengerti bagaimana rasanya saat tubuh yang kecil tiba-tiba berubah menjadi besar. Mungkin saja bocah itu ketakutan. Terbiasa sekalipun, bocah itu mungkin akan bingung kalau tiba-tiba ia mengumpat. Sementara sedari tadi ia terus menyumpah karena melihat keadaan yang tidak semestinya.

Berbalik, Katsuki pun mengambil lap untuk mengeringkan tangan sebelum beranjak dari dapur. Ia menemukan Deku masih berada di dekat sofa dan memutuskan untuk menghampirinya sekali lagi. Mungkin ini saat yang tepat untuk memastikan dugaannya.

Melihat Katsuki mendekat, Deku justru hendak mundur selangkah. Seluruh insting di tubuhnya mengatakan bahwa ia harus menjauhi pemuda itu. Namun ketika melihat pemuda itu berhenti di tempat, Deku pun mengikuti. Ada rasa bersalah setiap kali ia mencoba menjauh dari pemuda itu. Hanya saja sulit untuk mengendalikan rasa takut yang ia rasakan.

"Hei," pemuda itu akhirnya memanggil, membuat Deku mengangkat kepalanya, "kau tahu siapa aku 'kan?"

Deku mengernyit dan mengangguk pelan. Tentu saja ia mengenal Katsuki. Bukankah tadi ia baru menceritakan soal Katsuki pada ibunya?

Manik merah Katsuki menatapnya lama sehingga Deku kembali menundukkan kepala. Rasa takut itu kembali menjalar sehingga ia tak berani menatap mata Katsuki. Ia hanya dapat mendengar suara, "Kalau begitu, kau tahu bahwa aku takkan menyakitimu, 'kan?"

Kepala Deku terangkat namun ia tidak bisa mengangguk. Ia menatap Katsuki seolah mempertanyakan kebenaran perkataan yang pemuda itu ucapkan.

"Mulutku memang selalu mengumpat," ujar pemuda itu lagi, "tapi aku takkan menyakitimu. Kau tahu itu, 'kan?"

Tanpa sadar Deku menjawab, "Itu... hanya untuk Deku kecil."

Kerutan di kening Katsuki bertambah dan ia tak segan menunjukkan keheranannya dengan 'Hah' nya yang panjang. Deku sampai berjengit sedikit meski berusaha menahan diri agar tidak memperlebar jarak di antara mereka. Menyadari itu, Katsuki mencoba menutup mulut. Berdehem pelan sebelum berkata, "Lalu apa bedanya dengan sekarang?"

"Saat ini," ujar Deku sambil menundukkan kepala, tak berani menatap manik merah Katsuki, "aku bukan lagi Deku kecil yang Katsuki sayangi."

"A—"

"Katsuki... tidak suka pada Deku besar," lanjutnya lagi. "Bukan begitu?"

Mulut Katsuki sampai terbuka lebar. Ia tidak sanggup berkata-kata mendengar tuduhan tersebut. Ia menatap Deku tidak percaya sebelum berkata, "Apa aku bilang begitu sebelumnya?"

Deku menggeleng. "Tidak."

"Lalu kenapa kau menyimpulkan seperti itu?" Katsuki kembali bertanya. "Kau tidak—" Katsuki menggerakkan tangan hendak menjelaskan, namun ia menutup mulutnya. Satu tangannya mengusap wajah sebelum ia menatap Deku. "Siapa yang bilang begitu padamu?"

Lagi-lagi Deku bungkam. Manik hijaunya teralih dari Katsuki, tak mau menatapnya.

Melihatnya, Katsuki mengangguk pelan. Ia menarik napas dan membuangnya sementara kedua tangannya bertengger di pinggang. Sumpah serapah sudah nyaris keluar dari bibir dan ia nyaris meloloskan kata-kata itu sebelumnya. \ "Kau itu—" dan menutupnya lagi. Hingga akhirnya ia memilih untuk berkata, "S***! Dasar Deku! Benar-benar menyusahkan."

Deku mengangkat kepala. Katsuki memberinya nama Deku karena ia tidak bisa melakukan apa pun waktu itu. Tapi sekarang? Apa maksudnya?

"Jadi aku harus menjelaskan satu persatu dulu baru kau paham?" Katsuki berkata dengan jengkel. "Kau tidak mengerti kalau aku tidak mengatakannya dengan gamblang?"

Manik Deku melebar sementara wajahnya memucat. Katsuki yang jengkel adalah hal biasa yang ia temukan sehari-hari. Tapi kali ini, entah kenapa ia begitu ketakutan mendengarnya. Paling tidak hingga ia mendengar pemuda itu melanjutkan ucapannya.

"Mau kecil atau besar bagiku tak ada bedanya," lanjut Katsuki sambil menatapnya. "Kau tetap saja... Deku. Deku yang tak bisa apa-apa tanpaku."

Awalnya Deku tidak mengerti. Ia bingung karena ia dibilang tak dapat melakukan apa pun. Bukankah ia sudah lebih besar? Kenapa Katsuki menganggapnya seperti Deku? Kalau ia memang menyusahkan kenapa Katsuki tetap mengambilnya? Kenapa Katsuki justru membawanya pulang dan memberinya baju segala? Seperti... Deku kecil?

Perlahan Deku mulai mengangkat kepala. Pandangannya kembali tertuju pada Katsuki dan saat itu ia mengerti maksudnya.

Tanpa pikir panjang Deku langsung berlari pada satu-satunya tempat teraman di dunia. Tubuhnya menubruk Katsuki sementara kedua tangannya melingkari pinggang pemuda itu. Dipeluknya pemuda itu erat-erat sementara airmatanya membasahi kaus yang pemuda itu kenakan. Ia menangis dan berulang kali bibirnya mengucapkan nama yang bagaikan mantra.

Katsuki awalnya sedikit terkejut saat Deku melakukannya. Walau demikian ia tetap menyambut anak laki-laki itu. Tangannya yang besar merengkuh tubuh mungil di hadapannya. Rasanya sangat berbeda dengan memeluk tubuh kanak-kanak Deku namun kekosongan yang sebelumnya hilang kini kembali terisi. Sedapat mungkin, ia takkan melepaskannya lagi.

Deku sendiri gemetar saat berada di dekat Katsuki. Bayang-bayang ketakutan yang ia rasakan tak serta merta lenyap begitu saja. Ia berjengit saat tangan Katsuki yang besar menyentuhnya. Namun ia tidak lagi menjaga jarak. Ia justru mengizinkan tangan itu mencengkeram rambutnya dan memeluknya erat. Ia tahu tangan itu takkan menyakitinya.

Setidaknya, untuk saat ini.

.

.

.

(t.b.c)


A.N:

Pertama-tama, saya baru sadar. Ternyata banyak yang ngarepin Deku jadi dewasa ya? Sama! Saya juga! (Angkat tangan tinggi-tinggi). Memang sebelumnya belum dijelasin Deku jadi seperti apa, jadi di sini saya tambahin dikit. Baik Mama Mitsuki maupun Katsuki bilang bahwa Deku itu anak SMP dan dasarnya karena mereka bandingin pake ukuran baju yang dpake Katsuki saat SMP. Walau itu aja tetep kegedean buat Deku.

Dan untuk :

Hanazawa Kay : waduh, kenapa ya, para hero malah anggep Deku nggak ada, sementara para penjahat malah kenal Deku. Kayaknya kita mesti tanya sama Toga-neesan. Tapi, ada yang berani nanyain? (Cyan kabur sebelum ketemu Toga atau Shiggy)

el-Vtrich : sayang sekaliii, ini bukan Deku dewasa, El-chan XD tapi sesuai ekspektasi kamu, memang canggung banget sama Deku yang lebih gede. Beda sama Deku kecil yang gampang diunyel-unyel.

Dan sangat disayangkan, memang hampir nunggu lebih dari tiga minggu (bener nggak ya?) karena rada males-malesan saya. (uhuk). Aniway, alasan Deku ada di sisi penjahat? Hm, kenapa ya? Kita mesti tanya sama Deku deh kayaknya. Dan sayangnya, Deku yang sekarang masih punya kepribadian kayak anak kecil. Layaknya anak kecil yang dipaksa jadi dewasa dan masih canggung punya badan yang tiba-tiba membesar. Mungkin seiring berjalannya waktu, Deku akan lebih dewasa. Tapi, mohon bersabar ya. Sampe Deku akhirnya nemuin ingatannya balik :D

kyunauzunami : Kyu-chan, Deku itu sebenernya... (mau spoiler, tapi diliatin sama Lord Explodo Kill, langsung menciut dan Cyan tutup mulut)

Ryouta5: holla Ryou-chan, Deku itu sebenernya uda tewas apa belum ya? Versi Shinsou bilang Deku tewas, tapi siapa yang bener sebenernya? (gak tau diri padahal uda makin membingungkan)

Zzich-vers: Makasih Zzich XD waduh, satu penggemar villain Deku sepertinya ;D makasih sekali lagi uda menyempatkan review buat ceritanya :D

WinYuzukiN: ehe, iya sedikit complicated masalahnya, dan sedang mencoba menguraikan (atau menambah kusut) benang takdir ini :P

Name-chan : haha, makasihhh, Name-chan, senang bahwa cerita ini masih ditungguin dan akhirnya kapal Katsudeku mulai berlayar meski Deku masih di bawah umur (gantian Cyan yang kasih pandangan tajam ke Lord Explodo Kill). Hm, cerita siapa ya yang bener? Control kah? Atau Toga? :P

Ngomong-ngomong, aku juga belom nontonS2 nya, lol, bahkan komiknya pun berhenti baca sampai di Overhaul. Justru malah rajin nungguin (uhuk) doujin (uhuk), dibanding originalnya (uhuk, batuk keras).

Fana : hola Fana! Sebenernya apa yang terjadi di masa lalu ya? Kayaknya kalau ingatan Deku kembali, baru kenyataan terungkap. Yuk kita buat ramuan pengembali ingatan biar ingatan Deku cepet pulih :P

Also, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D

For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD