Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.
Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi
Until we meet again by cyancosmic
.
.
.
Enjoy!
Ask 15. Where did you hear that?
Balok persegi sama sisi di tangannya tersusun rapi, membentuk sebuah gerbang yang tak lebih tinggi darinya. Bentuk segitiga ditaruh sebagai atap sementara bentuk lengkung diletakkan sebagai pintu. Meski sendirian, ia berhasil membangun gerbang istana impiannya. Ia hanya perlu meletakkan bendera di atas dan semuanya selesai.
Namun sebelum ia bisa melakukannya suara ribut membuatnya terganggu. Deku pun menoleh dan melihat teman serta guru-gurunya berkumpul. Melihat mereka, Deku pun tertarik mengikuti. Ia beranjak dari tempatnya, bergabung dengan yang lain.
Di tengah-tengah, ia menemukan anak lelaki seusianya. Kedua tangannya menghasilkan kerlap-kerlip yang didominasi warna jingga dan merah. Samar-samar, aroma manis karamel merebak di udara sementara si anak lelaki memandangi kedua tangannya dengan takjub. Begitu pula dengan para guru dan teman-teman di sekelilingnya.
Sama sepertinya, Deku pun takjub melihat kerlap-kerlip itu. Ia tahu, anak lelaki seusianya sudah mendapatkan quirk, bahkan quirk yang mengagumkan bila melihat dari cara para guru memujinya. Melihat anak itu sudah mendapatkannya, ia yakin, cepat atau lambat, ia pun akan segera mendapatkannya.
Ya, ia yakin itu.
"... ku!"
Suara samar membuat Deku terkejut. Mengerjap pelan, ia menoleh dan menemukan beberapa pasang mata tengah menatapnya. Tentunya, dengan salah seorang menatapnya terkejut. Menyadari itu, ia menggerakkan tangan, berusaha mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Tapi orang yang menghampirinya itu sepertinya tak mendengar.
"Kau baik-baik saja?" Orang itu berkata sambil menyentuhkan kedua tangan di bahunya. Irisnya yang kemerahan menatap Deku. Dengan cepat, salah satu tangannya berpindah ke dahinya juga dahi Deku. Lalu ia berkata, "Tidak demam. Apa kau pusing? Mual?"
Menggeleng, Deku pun berkata, "Tidak. Aku baik-baik saja, Katsuki."
"Kau yakin?" Pemuda berambut pirang itu kembali meletakkan kedua tangan di bahunya. Sementara tatapan matanya memberikan pandangan menyelidik yang dibalas Deku dengan bingung. Menyadari bahwa ia tidak menemukan apa-apa, pemuda itu pun melepaskan pegangannya dan mundur selangkah. "Katakan padaku kalau kau merasa aneh. Mau sedikit mual atau sedikit pusing pun kau harus bilang! Mengerti?"
Sebelum Deku mengangguk atau mengiyakan, seseorang menyerobot gilirannya bicara. Secara terang-terangan orang itu mengungkapkan kejanggalannya dengan berkata, "Apa ini akhir dunia? Aku tidak salah lihat 'kan? Bakugou mengkhawatirkan seseorang, ini hal baru bagiku."
"Ya, akhir dunia untukmu, mungkin," jawab Katsuki tak acuh. Ia beranjak ke dapur, mengambil susu dari kulkas dan menuangkannya ke gelas. Seperti kebiasaannya pada Deku kecil, ia pun meletakkan susu itu ke hadapan Deku dan berkata, "Habiskan!"
Menatap segelas susu di hadapannya, Deku kembali meringis. Ia pun menoleh pada Katsuki dan berkata, "Katsuki, aku sudah bukan anak-anak lagi."
"Tetap saja kau terlalu kecil dan pendek." Katsuki balas berkata dan kembali memasukkan sisanya ke dalam kulkas. "Semua pakaianku saat SMP saja masih kebesaran untukmu. Itu artinya kau terlalu kecil untuk ukuran anak SMP."
"Atau kau yang terlalu besar," kata orang ketiga yang ikut menimpali mendengar perdebatan keduanya.
Dan ia pun dihadiahi ucapan sinis Katsuki. "Jangan ikut campur, Bakazawa!"
Atasan yang sepertinya kurang dihormati itu hanya mengangkat bahu. Kepalanya terangkat dari tumpukan dokumen di hadapannya. Dipandanginya kedua orang itu bergantian sebelum ia berkata, "Sebetulnya dari tadi aku ingin bertanya kenapa tiba-tiba Deku bisa berubah menjadi sebesar ini. Tapi aku yakin kau takkan menjelaskan."
Dari kejauhan terdengar suara yang berkata 'Memang tidak' yang kembali membuat Aizawa menghela napas. Pandangannya yang lelah kembali tertuju pada bocah yang mengenakan kaos hitam bergambar tengkorak yang kebesaran untuknya. Dengan rambut ikal kehijauan, mata hijau besar dan berkilau juga pipi tembam yang berbintik-bintik, Aizawa tidak perlu menanyakan lagi identitas anak ini. Hanya yang membuatnya heran, kemarin anak ini tak lebih tinggi dari pinggangnya. Tapi tiga hari kemudian, anak itu tiba-tiba hampir mencapai pundaknya. Apa yang terjadi sebenarnya?
Berhubung ia sangat penasaran, ia pun akhirnya memanggil anak itu dan berkata, "Deku? Mau menjelaskan padaku apa yang terjadi?"
Bola mata yang kehijauan itu tertuju padanya. Menggerakkan kepala, anak kecil yang berubah menjadi remaja tanggung itu pun berkata, "A- Apa yang harus kujelaskan, Shocchan?"
Mengedikkan kepala, Aizawa berkata, "Tentang tiba-tiba tumbuh besar. Apa yang terjadi?"
Deku menatapnya sebelum menggeleng pelan, "Aku tidak tahu. Tahu-tahu saja aku sudah seperti ini."
Aizawa mengerutkan dahi. Mendengar panggilan kekanakan diberikan padanya, sepertinya isi dalamnya masih Deku kecil yang dulu. Tapi sebaiknya ia menyarankan agar Bakugou memeriksakan anak ini ke dokter untuk mengetahui berapa usia sebenarnya. Walau ia sendiri ragu, dokter akan bisa menjelaskan mengapa anak ini bisa tiba-tiba tumbuh besar.
Paling-paling dokter akan menyalahkan quirk atas keabnormalan yang terjadi, seperti dugaannya. Karena itu ia kembali bertanya,"Apakah kau terkena quirk? Para penjahat itu, mungkin?"
Pertanyaannya membuat Deku mengerjap pelan. Bola matanya berputar ke kiri, tampak berpikir keras. Selang beberapa menit kemudian ia pun menjawab, "Aku tidak tahu. Tapi mereka tidak melakukan apa pun."
"Kau yakin?"
Sekali ini Deku tidak menatapnya. Anak itu memilih untuk menundukkan kepala, membuat Aizawa mengerutkan dahi. Seperti sebelumnya, setelah penyerangan itu, ia dan Ground Zero mengamati dari CCTV apa yang terjadi pada Deku dan Kirishima. Berdua, mereka melihat Deku mengulurkan tangan pada seseorang sebelum Kirishima muncul dan menghentikannya. Meski bisa digagalkan berkat pengorbanan Kirishima, hal ini tetap membuat mereka bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang dikatakan para penjahat itu hingga membuat Deku kecil mengulurkan tangannya?
"Deku," Aizawa kembali berkata. Ia ingin tahu apa alasannya. Ia harus tahu, karena mungkin alasan itu berhubungan dengan penyerangan para penjahat. "Apa sebenarnya yang dikatakan para penjahat itu?"
"Um?"
"Kami tidak bisa melihat dengan jelas karena para penjahat itu membelakangi kamera," jelas Aizawa. "Tapi apa sebenarnya yang mereka katakan padamu?"
Tangan Deku yang sebelumnya menggenggam gelas susu bergetar. Cepat-cepat ia meletakkannya sebelum menumpahkan isi gelas. Bibirnya hendak mengucapkan sesuatu namun suaranya lebih terdengar bagai cicitan. "T-tidak bilang, mereka tidak bilang apa-apa."
Aneh sekali. Kalau memang para penjahat itu tidak mengatakan apa pun harusnya Deku tidak ketakutan seperti sekarang. Aizawa hendak menanyakannya, namun ia menutup mulut. Ia sedikit curiga para penjahat itu mengancam Deku. Tapi, kenapa bocah itu ketakutan saat diancam? Apakah itu berhubungan dengan Ground Zero? Mungkinkah para penjahat itu mengancam akan menyakiti Ground Zero?
Mungkin juga. Para penjahat itu membuat Kirishima terluka parah saat melindunginya. Bisa jadi, bocah ini ketakutan karenanya. Makanya bocah ini tak mau mengatakan apa pun.
Menghela napas, Aizawa pun menyerah. Pantas saja Ground Zero tidak bertanya apa pun. Mungkin pemuda itu sudah memperkirakan hal yang sama, makanya ia memilih bungkam. Meski mengesalkan, Aizawa takjub karena pemuda itu mampu berpikir selangkah lebih jauh bila menyangkut Deku.
"Ya sudah kalau mereka tidak bilang apa-apa," ujar Aizawa sembari menekuni dokumen-dokumennya yang ada di meja makan. Sebelum ia benar-benar tenggelam dalam berkas, ia kembali berkata, "Habiskan susunya!"
Mendengar itu, Deku pun menenggak gelas susu yang tadi diletakkannya. Sementara ia meminumnya, Katsuki kembali mendekat pada mereka. Mengenakan seragam Ground Zero model musim dingin, pemuda itu meletakkan penutup matanya di atas kepala, memakainya seperti bandana. Begitu melihat gelas susu sudah habis, ia pun segera merebutnya dari Deku dan membawanya ke tempat cuci.
"Biar aku saja, Katsuki!" Deku berkata sambil berjalan menuju ke tempat cuci piring. "Aku memang akan mencucinya tadi."
Katsuki mengernyitkan dahi, namun Deku lebih gesit. Diambilnya gelas dan dicucinya sebelum ia kembali berkata, "Kau 'kan sudah mengenakan seragam. Agak sedikit repot kalau harus melepas sarung tanganmu dulu 'kan?"
Meski ada benarnya, Katsuki enggan mengakui itu. Seperti biasa ia menggerutu sementara ia membiarkan Deku mencuci gelas. Kakinya melangkah menuju ke meja makan dan duduk di sana, berhadapan dengan Aizawa.
"Apa jadwalku hari ini, Bakazawa?"
"Patroli seperti biasa," ujar sang atasan sambil membubuhkan tanda tangannya pada salah satu dokumen. "Aku sendiri pun akan patroli siang ini di sekitar sini."
Katsuki tampak berpikir. Ia hendak menanyakan sesuatu sebelum Aizawa lebih dulu berkata, "Ngomong-ngomong aku harus mengatakan sesuatu yang penting padamu. Cobalah untuk mendengarkan tanpa menginterupsi."
Mendengar kata-kata penting, Katsuki mengernyitkan kening. Ia punya firasat apa yang hendak disampaikan Aizawa bukan sesuatu yang bagus. Meski demikian kepalanya bergerak, isyarat yang menandakan bahwa Aizawa dapat melanjukan ucapan.
"Berhubung kita sangat kekurangan personil," ujar Aizawa dan begitu melihat Katsuki beralih pada posisi duduk tegak ia kembali melanjutkan, "mulai minggu depan kita akan bergabung dengan agensi Endeavor."
Bila biasanya Katsuki akan langsung berteriak atau menyanggah, pemuda itu tidak mengatakan apa pun. Sebaliknya malah, kedua tangannya tetap terlipat dan tidak berubah dari posisi duduk. Meski demikian dengan suara yang tak kurang mengintimidasi pemuda itu berkata, "Kenapa mereka?"
"Yah—," Aizawa mengalihkan perhatian dari berkasnya, "mereka menawarkan, lagipula itu ide bagus, berkolaborasi dengan sang hero nomor dua."
Bagi Katsuki, tidak ada masalah walau harus bekerja sama dengan siapapun. Hanya alasannya yang tidak bisa ia mengerti. Perusahaan agensi terbesar yang punya banyak hero berbakat, untuk apa repot-repot menawarkan bergabung dengan agensi mereka yang kecil? Apakah hanya untuk mendapatkan dirinya yang memang sulit didapatkan? Atau ada hal lain yang disembunyikan?
Menyipitkan mata Katsuki pun berkata, "Kau tidak menyembunyikan sesuatu 'kan, Bakazawa?"
"Menyembunyikan sesuatu?" Aizawa tampak terkejut, "Memangnya apa yang bisa kusembunyikan darimu?"
Sekali ini Katsuki tidak menjawab. Memang situasi ini sangat tiba-tiba dan aneh. Dari dulu mereka memang selalu kurang personil, tapi Aizawa tak pernah repot-repot bergabung. Tak heran kalau Katsuki curiga ada sesuatu yang tengah disembunyikan. Meski Katsuki tak tahu apa tujuannya.
"Aku tidak peduli apa yang sedang kau rencanakan," ujar Katsuki sembari mengetukkan jarinya ke atas meja, "tapi kalau itu menyangkut soal Deku, maka aku takkan tinggal diam."
"Ah, kebetulan ini menyangkut soal Deku," jawab Aizawa sambil menatap bawahannya. Begitu melihat tatapan tajam dari pemuda berambut pirang itu Aizawa kembali melanjutkan, "Berhubung kita akan bergabung dengan mereka, bagaimana kalau kau menitipkan Deku sekalian di agensi mereka? Daripada kau menitipkannya padaku atau meninggalkannya di kantor sendirian."
Sekali ini, semua sikap tenang dan profesional yang sebelumnya ditunjukkan Katsuki langsung lenyap tak berbekas. Terang-terangan ia menunjukkan rasa tidak suka dan menolak mentah-mentah ide tersebut. Ia lebih baik meninggalkan Deku di apartemen dibanding harus membawanya ke agensi Endeavor,
"Memangnya kenapa dengan agensi Endeavor?" Aizawa pun akhirnya bertanya. "Di sana pengamanannya ketat dan ada banyak orang yang dapat mengawasi Deku. Sementara di sini ia hanya sendirian mengawasi kantor. Kalau-kalau terjadi sesuatu, baik kau maupun aku tak bisa bergerak cepat untuk menolongnya."
"Aku bi—"
"Kau bertugas di kota sebelah hari ini, Bakugou!" Aizawa langsung menginterupsi. "Dan tidak. Kau tidak kuizinkan mengambil jatah pulang cepat atau alasan lainnya kali ini. Di saat serangan para penjahat meningkat dan ketiadaan Kirishima, aku tidak punya pilihan selain memaksamu bekerja dua kali lipat biasanya."
Katsuki hendak membantah, namun ia tahu Aizawa ada benarnya. Dengan bangkitnya para penjahat dan satu-satunya partner kerjanya tumbang, Katsuki terpaksa mengisi kekosongan itu. Hanya saja meninggalkannya di agensi milik hero nomor dua itu bukan ide bagus untuknya. Terlebih dengan wujud Deku yang seperti sekarang.
Sayangnya sang atasan sama sekali tidak mengerti. Tanpa mendengarkan pendapatnya, Aizawa kembali berkata, "Biar kukabarkan pada mereka soal kedatangan kalian kalau begitu."
"Aku tidak—"
"Harus!" Aizawa berkata sebelum berjalan meninggalkan keduanya untuk menelepon. Ia menggunakan nada tegas yang mengingatkan pemuda itu akan saat-saat ia masih menjadi muridnya. "Agensi mereka adalah tempat terbaik saat ini. Kecuali kau punya ide yang lebih bagus yang bisa kau usulkan."
Ucapan keras Aizawa membuat Katsuki tak bisa membantah. Tidak. Bisa saja sebenarnya. Hanya ia memilih untuk menutup mulut. Ia tahu bahwa atasannya benar. Tempat teraman bagi Deku adalah berada di sisinya, tapi saat ia diharuskan meninggalkan Deku, maka tempat kedua teraman adalah di tempat di mana hero nomor dua berada saat ini.
Hanya, yah, hanya... ia tidak bisa menelan egonya. Ia tidak ingin mengakui bahwa hero nomor dua itu punya kapasitas yang sama dengannya untuk menjamin keselamatan Deku. Terlebih sepertinya hero nomor dua itu pun ... Ah tidak! Tidak! Tidak!
"Katsuki," panggil Deku yang sedari tadi menyimak pembicaraannya dengan sang atasan. "Apakah kita akan berkunjung ke agensi Shouto?"
Katsuki menoleh. Tentu saja. Sewaktu menjadi Deku kecil bocah ini sangat sering menonton televisi mengenai hero. Tak heran ia tahu siapa itu Endeavor, apalagi anaknya sangat sering muncul di televisi bagaikan promosi agensi berjalan. Sembari mengusap kepalanya, Katsuki pun berkata, "Ya, kenapa? Kau tidak mau bertemu dengannya?"
Deku menatapnya, sebelum menangkupkan kedua tangannya. Ia menggeleng pelan. "Tidak. Tidak apa-apa."
Mengerjap pelan Katsuki hendak mengatakan sesuatu, tapi Aizawa lebih dulu muncul dan menginterupsi mereka. Bahkan dengan tak sabar pria itu berkata, "Cepatlah pergi! Aku masih ada pekerjaan dan kau harus segera mulai patroli, Bakugou!"
Mengumpat pelan, Katsuki pun tak punya pilihan selain mengikuti ucapannya. Ia mengambil jaket Deku yang tertinggal di sofa dan menyerahkannya sementara ia mengambil sepatu. Saat ia tengah mengenakan boots hitamnya, suara Aizawa kembali membuatnya menoleh.
"Belikan dia jaket yang baru, Bakugou!" Aizawa berkata sambil menenggelamkan diri pada dokumennya. "Tapi coba saja tanyakan pada keluarga Endeavor, siapa tahu Todoroki punya baju yang ukurannya lebih pas untuk Deku."
Ucapannya sukses membuat Katsuki mengangkat jari tengah dan berkata, "Dia tidak butuh baju dari mereka. Memangnya kau kira aku tidak bisa membelikannya?"
"Tadinya kukira begitu," jawab Aizawa dengan senyuman lebar tersungging di bibir. Sudah lama rasanya ia tidak mendapatkan reaksi semacam ini dari bawahannya yang kurang ajar. "Dan berterima kasihlah, kalau-kalau kau malu meminta, aku sudah mewakilimu untuk meminta keluarga Todoroki menjaga dan merawat Deku selama kau patroli nanti."
"Aku tidak bu-"
"Shouto bilang ia sendiri akan memastikannya, ia tidak ke mana-mana hari ini," lanjut Aizawa yang sukses menuai tatapan membunuh dari Katsuki. Pemuda itu memandangnya seolah hendak menelannya hidup-hidup yang justru membuat cengiran Aizawa semakin lebar. Bahkan ia melambai pada keduanya dan berkata, "Nah, selamat bersenang-senang di sana!"
Di pusat perkotaan, dengan berbagai gedung tinggi di sekitarnya, gedung milik agensi Endeavor tak ada bedanya dengan gedung-gedung lain, terlebih dengan kaca reflektif dan kisi-kisi baja yang menghiasi facadenya. Satu-satunya yang membuat Katsuki melangkah ke sana dengan yakin sembari membawa Deku hanyalah keberadaan sejumlah hero yang hilir mudik dari pintu masuk. Meski mereka semua hanya ekstra, setidaknya Katsuki mengenali beberapa di antaranya yang berada di bawah agensi Endeavor dan mereka pun mengenalinya.
"Ground Zero!" Resepsionis di kantor Endeavor menatapnya dengan terkejut. Tentu saja, siapa yang tak mengenali Katsuki bila sudah berada dalam balutan seragam kerja. "A-ada yang bisa saya bantu?"
"Kami ingin bertemu dengan Shouto," jawab Katsuki asal. Tak punya pilihan selain menggunakan nama pemuda saingannya dibanding mengatakan ingin menitipkan seorang anak. "Apakah Eraser Head tak menyampaikan apa pun pada kalian?"
"Eraser Head?" Sang Resepsionis menatapnya bingung. "Tidak, tapi sebentar saya coba tanyakan apakah hari ini Tuan Shouto akan datang ke kantor."
Ingin rasanya Katsuki mengumpat, namun sekali ini ia menahan diri. Meski ia tak peduli pada pandangan orang, ia sekarang sedang bersama Deku. Dan mengumpat hanya akan membuat perhatian tertuju padanya, juga Deku.
Sementara itu, Deku mengapit lengannya erat-erat. Remaja itu waspada setiap kali ia melihat ada orang yang lewat dan mengamati mereka, bagaikan kucing liar yang ketakutan pada orang baru. Berkali-kali Katsuki menyapukan ibu jarinya ke atas punggung tangannya, mencoba menenangkan atau memberinya tepukan dan hanya saat itu saja Deku menurunkan kewaspadaannya.
Meski demikian, tak dipungkiri bahwa Deku terpesona dengan besarnya agensi milik saingannya itu. Iris matanya yang kehijauan menatap takjub saat pertama kali menginjakkan kaki di lobbi. Kepalanya menengadah ke atas, memerhatikan langit-langit yang tinggi dengan lampu gantung gemerlap menjuntai ke bawah. Di depan mereka, berada di tengah-tengah, terdapat taman dengan konsep Zen yang sangat besar hingga membuat Deku tergoda untuk berjalan lebih jauh. Meski ia memilih untuk menahan langkah dan tidak beranjak sedikit pun dari sisi Katsuki.
"Tuan Shouto akan segera datang," ujar sang resepsionis yang membuat Katsuki mengalihkan kembali perhatian padanya. "Beliau meminta Anda menunggu sebentar."
Berterima kasih, Katsuki mengikuti ucapan sang resepsionis. Ia mengambil tempat di salah satu sofa sementara Deku duduk di sampingnya. Sesekali beberapa orang akan mengamati mereka dan saat itu Deku akan terlonjak dengan tangan mencengkeram Katsuki erat. Melihatnya Katsuki pun memutar bola mata, sepertinya ini bukan ide bagus.
"Kau takut pada para hero, Deku?" Katsuki akhirnya berkata. Ia tidak melihat gejala ini terjadi saat mereka naik kereta atau berjalan meninggalkan apartemen. Namun saat mereka mendatangi agensi yang didominasi para hero, barulah Deku mulai mengeratkan pegangannya.
Deku mengangkat kepala, menatap Katsuki. Ia hendak mengucapkan sesuatu, tapi tidak jadi mengatakannya. Ia hanya memegangi tangan Katsuki erat.
"Apa kau mau pulang?" Katsuki kembali bertanya. "Kita bisa pulang kalau kau tidak mau di sini."
"Shocchan bilang tidak boleh," Deku menjawab. "Tidak boleh pulang."
"Persetan dengannya." Katsuki balas berkata. Ia bangkit berdiri yang membuat pegangan Deku terlepas. Namun Katsuki mengambil tangannya dan meletakkannya kembali di sikunya. Ia menarik Deku dan berkata, "Kalau kau takut, kita pulang. Aku pun tidak nyaman di sini."
Belum sempat Deku membantah, Katsuki sudah memaksanya berdiri. Tak punya pilihan, ia mengikuti Katsuki hingga pemuda itu melewati resepsionis yang kebingungan. Mereka terus berjalan melewati lantai marmer yang membentuk pola di lobby dan nyaris mencapai pintu depan bila seseorang tidak berpapasan dengan mereka.
"Shouto?" Deku berkata ketika melihat pemuda berambut merah dan putih dengan kemjea abu-abu bergaris dan celana khaki berdiri menghalangi jalan. Pemuda itu pun tampak terkejut melihat keduanya – tidak, ia hanya terkejut melihat salah satu dari mereka. Melihat pemuda itu menaruh perhatian padanya, Deku pun bergerak mundur, bersembunyi di balik tubuh Katsuki.
Kepala Shouto bergerak ke samping Katsuki. Ia menatap anak remaja tanggung yang ditarik paksa oleh Ground Zero. Matanya menangkap rambut ikal berwarna hijau anak remaja itu sebelum turun ke pipinya yang tembam dan postur tubuhnya yang tenggelam di balik jaket hitam bergambar tengkorak dan sepatu merah. Keningnya berkerut sebelum menyimpulkan dengan satu kata.
"Deku?" Ia bertanya sambil bergerak mendekat. Ia ingat bocah yang memiliki postur sama dengan tinggi hanya sepahanya. Tapi ia tidak tahu bahwa bocah itu kini telah tumbuh hingga setinggi siku. "Kau kah itu?"
Meski terlihat ketakutan, Deku yang mengangguk pelan membuat Shouto semakin bingung. Ia menoleh ke samping, mengharapkan penjelasan dari satu-satunya wali anak itu. Namun ia tak heran ketika menemukan bahwa orang itu sedang dalam suasana hati yang buruk. Sepertinya suasana hati pemuda itu tak pernah baik bila bertemu dengannya.
"Ground Zero," panggil Shouto dengan suaranya yang tenang. "Aku sudah dengar dari Aizawa bahwa kalian akan berkunjung dan menitipkan Deku. Tapi, mungkin kau bisa menjelaskan sedikit situasinya?"
"Seperti yang kau lihat, tak ada yang bisa kujelaskan," jawab Katsuki. "Dan aku tidak jadi menitipkannya, dia akan patroli bersamaku. Ayo, Deku!"
Sebelum Deku menjawab, Katsuki lebih dulu menariknya sehingga ia sedikit terseret. Namun sekali lagi Shouto menghadang di hadapan pemuda yang mendapat gelar hero nomor satu itu. Meski tanpa seragam hero, Shouto sama sekali tidak gentar. Malah dengan wajah tanpa ekspresi pemuda itu berkata, "Aku sudah mendengar garis besarnya dari Aizawa. Kau harus menjalankan kewajibanmu sebagai hero nomor satu dan kau tak bisa melakukannya bila Deku terus bersamamu."
"Omong kosong!" Katsuki balas membantah. "Aku bisa melakukannya dan karena itu aku takkan menitipkannya pada kalian. Terakhir kali aku mengikuti saranmu, para penjahat itu menyerang tempat reuni dan nyaris mencelakakan Deku."
"Baik kau maupun aku sama sekali tidak menduga serangan itu," jawab Shouto, masih dengan suara tenang. "Lagipula, gedung ini aman dari serangan para penjahat. Di sekelilingnya sudah dipasang anti quirk teleportasi, sehingga para penjahat itu takkan semudah itu menyusup masuk ke dalam."
"Peduli setan!"
"Bakugou!" Shouto berkata seraya menghentikan pemuda yang sudah hendak mengambil langkah, menghalangi Katsuki yang jelas-jelas hendak angkat kaki dari gedung milik agensi Endeavor. "Pikirkan baik-baik! Para penjahat itu mengincar Deku dan membawanya patroli hanya akan memperbesar kemungkinan para penjahat itu menemukan-"
Sebelum Shouto selesai bicara, Katsuki menarik kerah leher pemuda itu. Tatapan mengancam yang ia berikan berhasil membuat setiap orang termasuk resepsionis menahan napas. Hanya Deku yang masih berada di sisinya dan membujuknya untuk menurunkan tangan. Namun seolah menulikan telinganya, Katsuki memicingkan mata menatap Shouto.
"Jangan coba-coba mengajariku, half and half!" Katsuki kembali berkata. Nada suaranya sarat ancaman. "Aku sudah tahu itu!"
"Katsuki," Deku di sampingnya memegangi lengannya. "Katsuki, hentikan!"
"Kau kira aku tak cukup untuk melindunginya?" Katsuki kembali berkata. "Kau kira kau dan agensimu sangat hebat sehingga mampu menampungnya? Kau kira-"
"Aku tak bilang begitu," Shouto balas menjawab. "Tak ada yang menyangsikan kemampuanmu. Namun tak ada yang mau mengambil resiko kehilanganmu, Ground Zero! Dan di sini aku hanya berkewajiban untuk mencegahmu melakukan hal-hal yang membahayakan dirimu sendiri!"
"Kau pikir kau siapa?" Katsuki berteriak lantang hingga semua mata menoleh ke arahnya, terkejut. "Beraninya kau menghalangi langkahmu, kau sudah bosan hi—"
"Apa Aizawa tidak mengatakan padamu?" Shouto memicingkan mata. "Aku partner penggantimu sementara."
Katsuki menatapnya. "Apa?"
"Menggantikan Kirishima," ujar Shouto sambil menyingkirkan tangan Katsuki dari kerah bajunya. "Aku pun tak suka, namun tak ada pilihan. Seseorang harus memastikan kepalamu tetap berada di tempatnya dan kebetulan akulah pilihan terbaik yang mereka miliki. Selain Shinsou."
"A—" Katsuki hampir tak bisa berkata-kata. Berbagai pertanyaan muncul namun ia bahkan tak bisa menyusunnya dengan tepat. Apa yang terjadi? Kenapa mereka memasangkannya dengan Shouto atau Shinsou? Dua orang itu sangat buruk. Siapa yang bisa-bisanya memasangkannya dengan— Ah! Shit! Sepertinya ia tahu siapa.
"Bakazawa," gumamnya pelan sebelum mundur selangkah,"pasti—Sialan!"
Menjauh sedikit dari keduanya, Katsuki mengeluarkan ponsel. Melihat gelagatnya, sepertinya pemuda itu hendak menumpahkan seluruh kejengkelannya pada sang atasan.
Sementara itu, berbeda dengan Katsuki yang marah-marah, di sampingnya Deku menggerakkan kepalanya. Menggantikan Kirishima, Shouto-lah yang akan berpartner dengan Katsuki. Apakah itu artinya, Shouto pun bisa dipercaya seperti Katsuki?
Menyadari tatapannya, Shouto pun menoleh. Seulas senyum diberikannya saat melihat Deku dan ia mengulurkan tangannya pada remaja tanggung yang sebelumnya bersembunyi di belakang Katsuki. Ketika melihat bahwa uluran tangannya tak disambut, Shouto pun mengganti strateginya. Seperti pada Deku kecil, ia pun memunculkan kelinci di tangan kanan sementara burung api di tangan kiri sebelum membiarkan keduanya mendekati Deku.
Ketika kelinci saljunya melompat-lompat mengelilingi dan menaiki kepala Deku, bocah itu memandanginya dengan takjub. Terlebih saat burung api berputar-putar di sekelilingnya, sebelum lenyap dan meninggalkan jejak berupa kembang api kecil yang cantik. Baru saat itu Deku menatap Shouto sekali lagi dan Shouto membalasnya dengan senyuman simpul.
"Kau tahu siapa aku, bukan?" tanya Shouto sambil mengulurkan tangannya. "Deku?"
Deku menatapnya lama sebelum akhirnya menerima uluran tangan Shouto dan membiarkan pemuda itu menyentuh kepalanya. Setelah sesaat barulah mata hijaunya kembali menatap Shouto. Ia pun berkata, "Kau akan berpartner dengan Katsuki, Shouto?"
Mengangkat bahu, Shouto berkata, "Ya, Deku. Aku tak punya pilihan. Aku benar-benar salut pada Kirishima yang selama ini mampu menahan semua temperamen buruknya."
"Eicchan memang hebat," gumam Deku ketika mengingat hero yang keseluruhan kostumnya didominasi warna merah itu. "Bukankah, Shouto juga sangat hebat? Kau punya dua quirk."
Shouto menghela napas, "Bukan quirk yang kumaksud. Kirishima hebat karena bisa bekerja sama dengan seseorang seperti Katsuki. Orang yang seperti itu—"
Deku menggerakkan kepala, menatap Shouto bingung, "Katsuki orang baik."
"Aku tahu itu, Deku," jawab Shouto sambil mengusap-usap kepalanya. "Hanya saja, aku ragu untuk menitipkan punggungku pada orang seperti dia."
Ucapannya membuat Deku mengerjap pelan. Bukan, bukan tidak mengerti maksudnya. Deku paham. Hanya ia tidak paham mengapa Shouto melihatnya demikian.
"Katsuki... sangat baik," ucap Deku sambil menatap Shouto sungguh-sungguh. "Kalau Shouto butuh bantuan, Katsuki pasti akan segera menolong."
Alis Shouto terangkat sementara ia menatap pemuda yang masih marah-marah di telepon dan disaksikan oleh beberapa pengunjung yang lewat. Sudah bukan rahasia bahwa Ground Zero terkenal akan temperamennya yang buruk. Tapi harus berhadapan dengan temperamen itu setiap saat? Shouto ragu. Ia tidak bisa optimis seperti Deku.
Bahkan ia berkata, "Bagus kalau begitu. Aku malah takut kami akan saling serang karena merasa yang lain menghambat."
Deku hendak mengucapkan sesuatu namun Katsuki lebih dulu menghampiri. Kejengkelan masih tersisa dengan jelas di wajahnya sehingga Deku sekalipun tak berani menyapanya. Namun seperti biasa, begitu berhadapan dengan Deku, seluruh kejengkelan itu lenyap. Padanya, Katsuki berkata, "Kenapa berwajah begitu? Apa bendera Polandia ini mengatakan sesuatu yang jahat padamu, Deku?"
Menggelengkan kepala Deku buru-buru berkata, "Tidak, Shouto tidak jahat. Kami hanya mengobrol soal Shouto yang akan menjadi partner Katsuki."
"Oh," ujar Katsuki sambil memandangi pemuda di hadapan mereka dengan ekspresi sinis, "apa ia mengatakan bahwa kami berdua sama sekali tidak cocok?"
"Bagaimana Katsuki tahu?" Deku menatapnya bingung.
"Karena terus terang aku juga merasa begitu," jawab Katsuki sambil menatapnya. "Kami tidak cocok satu dengan yang lain. Bisa-bisa kami malah saling serang bila yang satu menghambat yang lain."
Mendengar perkataan yang sama persis dengan yang diucapkan Shouto membuat Deku menatap keduanya bingung. Karena itu ia pun berkata, "Kenapa tidak cocok, Katsuki?"
"Kenapa kau ingin tahu sekali?" Katsuki balas berkata sementara satu tangannya mengusap rambut remaja di sampingnya. "Memang sudah dari sananya kami tidak cocok. Kami ini rival dan rival tidak berpartner satu sama lain."
"Kenapa begitu?" tanya Deku sambil menggerakkan kepala. "Karena rival, jadi tidak boleh bekerja sama? Bukannya kalau rival artinya kekuatan kalian setara sehingga tidak ada yang menghambat satu sama lain?"
Katsuki hendak membantah lagi sebelum ia menatap mata hijau polos yang diarahkan padanya. Mulutnya yang sudah hendak menggumamkan seribu satu alasan kini bungkam sementara kata-kata Deku berputar di benaknya. Seperti deja vu, ia merasa pernah mendengar alasan itu. Seseorang pernah mengucapkan hal yang sama padanya.
Sementara melihat Katsuki tak membalas, Deku justru menggerakkan kepala, bingung. Seperti Katsuki, ia pun mengulurkan tangan mencoba menyentuh dahi Katsuki. Namun sebelum itu terjadi, tangan Katsuki lebih dulu menangkapnya. Menggenggamnya erat sementara mata merah terpaku padanya.
"Katsu—"
"Darimana...," Katsuki bertanya padanya, "darimana kau mendengar itu, Deku? Siapa yang mengatakan padamu soal rival?"
Mengerjap pelan, Deku menggerakkan kepala. "Aku— entahlah. Kupikir begitu. Apakah itu salah?"
"Kau... yang berpikir begitu?" Katsuki balas berkata.
Bingung, Deku pun mengangguk. Meski demikian, sorot matanya yang menunjukkan keheranan tak luput dari pandangan Katsuki. Ia pun melepaskan tangan Deku sementara kepalanya tertunduk. Matanya terpejam sementara ia berusaha mengingat. Siapa gerangan yang pernah mengatakan itu padanya.
Melihat kondisinya, membuat Shouto pun turut bergabung dengan Deku. Ia mencoba menanyai Deku, namun melihat anak itu hanya menggeleng membuat Shouto kembali menatap Ground Zero. Alisnya berkerut melihat pemuda yang hanya bisa marah-marah itu kini diam tak bergerak. Jangan-jangan Ground Zero pun terlalu lelah bekerja sehingga kondisi mentalnya menjadi tak stabil? Ah, tapi sejak kapan Ground Zero punya mental yang stabil?
Untunglah sebelum siapapun mendekat, pemuda yang menyedot perhatian satu ruangan itu mengangkat kepala. Kerutan di dahinya menghilang dan ekspresinya lebih tenang. Pemuda itu menatap Deku terlebih dulu sebelum menyentuhkan tangannya ke wajah anak itu.
"Kita lihat saja nanti," ujar Katsuki akhirnya. "Tapi sebelumnya, kau ikut denganku patroli saja. Aku sudah sekalian mengatakannya pada Bakazawa tadi."
Lagi-lagi sebelum Deku menjawab, seseorang sudah menggantikannya dengan berkata, "Tidak. Dia tidak akan ikut denganmu patroli, Bakugou. Itu berbahaya. Baik membahayakan keselamatannya maupun keselamatanmu sendiri."
"Jangan coba-coba menceramahiku, Half and Half!" Katsuki balas mengancam. "Kau tidak lihat, ia ketakutan di sini. Jauh lebih aman bila ia bersamaku dan bukannya di—"
"A-aku tidak takut," ucap Deku akhirnya. "Katsuki pergilah patroli."
Ucapannya sukses membuat Katsuki menoleh padanya dengan hardikan keras yang membuat nyali ciut. Meski demikian Deku tetap meyakinkannya bahwa ia baik-baik saja. Bahwa Katsuki bisa meninggalkannya di sini, bersama Shouto.
Kelopak matanya menyipit curiga mendengar ucapan Deku. Ia memberikan pandangan menyelidik pada Deku. Sejujurnya ia sangat tidak setuju dengan meninggalkan Deku bersama Shouto. Tapi melihat bahwa bocah itu sudah tidak menempel padanya, membuatnya percaya bahwa Deku mungkin baik-baik saja.
Tak punya pilihan, Katsuki pun akhirnya mengusapkan tangan ke kepala Deku dan ia berkata, "Ya sudah kalau begitu."
Deku mengangguk. Ia menggumamkan kata 'Hati-hati' yang diibalas Katsuki dengan gumaman pelan. Sebelum akhirnya pemuda itu menjauh darinya dan berbalik.
Katsuki menyempatkan diri untuk memberikan tatapan tajam pada Shouto. Namun melihat yang ditatap malah balas memandanginya tanpa rasa takut membuatnya memalingkan wajah. Meski tak bisa memercayainya, Shouto adalah pilihan terbaik yang ia punya saat ini.
Ketika Katsuki sudah kembali berjalan melewati pintu dan menghilang di balik kerumunan barulah Deku menoleh pada Shouto. Ia sedikit terkejut karena menemukan Shouto tengah mengamatinya. Ia pun memanggil nama hero pemuda itu yang dibalas Shouto dengan anggukan pelan dan mengisyarakatkan untuk mengikutinya. Tanpa banyak bertanya, Deku pun mengikuti Shouto di belakangnya.
Shouto sendiri memang tidak berkata apa pun. Keduanya melangkah masuk menggunakan kartu akses Shouto menuju ke elevator. Begitu mereka sudah di dalam dan tengah menunggu lift, Shouto mengamati Deku dari cermin yang dipasang di lift. Memerhatikan bagaimana anak itu terus memandang kagum pada interior lobbi lift tempat mereka menunggu. Diperhatikannya sekali lagi postur anak itu sebelum ia memicingkan mata.
Seperti halnya Bakugou, ia pun merasakan deja vu yang kuat pada anak ini. Kata-kata juga gerak-geriknya mengingatkan Shouto akan seseorang. Orang yang sepertinya sangat berarti bagi Shouto. Dan ini membuat Shouto bertanya-tanya.
Siapa sebenarnya kau ini, Deku?
.
.
.
(t.b.c)
A/N:
Holla! Cyan di sini! Finally lanjut lagi. Terima kasih untuk yang sudah sabar menunggu XD
Senengnya, akhirnya Katsuki dapet partner baru! Selamat bekerja Abang Dispenser!
Btw untuk :
hanazawa kay : makasih uda nungguin Kay :D Deku sekarang kayaknya uda nggak takut ama Katsuki tuh! Buktinya dia nempel terus ama Kacchan-nya, nggak mau lepas. Sampe mau kerja aja kayak istri mau ditinggal suami :P
El-vtrich : waduh, sempet potek toh hatinya, berarti kurang lama ini nyiksa si Abang Katsuki. Duh Bang! Next time kita lamaan dikit biar bisa buat Bang Katsuki menderita sebelum bisa macem-macam ama Deku-kun :D
Makasih semangetnya El :D ditunggu momen-momen romantisnya mereka ya :P
Name-chan: holaaaa Name-chan! Saia nggak ke mana-mana, tapi saia main-main, mencari ide, jalan-jalan (boong, sebenernya cuman main-main), latian prompt juga biar makin cepet nulis, dan macam-macam :P Tapi setelah berkelana ke sana sini, akhirnya saya kembali lagi di sini :D
Dan ehem, iya, Deku masih dibawah umur / duh bang Katsuki, Bang Shouto, jangan diapa-apain ya, Deku-nya. Nanti disangka pedo :P
Aniway, ku juga doyan banget Doujin, ini juga lagi nge save in semua gambar Katsudeku yang ada di hape sebelumnya buat tambah-tambah inspirasi :P
Makasih btw semangetnya Name-chan, dan makasih uda setia nungguin :D
WinYuzukiN: Holla Yuzuki :D kira-kira apa yang bakal terjadi ya? Konflik apa ya selanjutnya? Duh, kok jadi ikutan deg-degan
Fana : hola Fana XD makasih uda baca sampe sini
Hm, kira-kira apa yang bakal terjadi kalo Deku balik ke asal ya? Apa bakal bersatu atau bakal mencar? Atau...
Also, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D
For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD
