Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.
Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi
Until we meet again by cyancosmic
.
.
.
Enjoy!
Ask 16. Why should I?
Teriknya matahari siang itu tak menyurutkan semangat keempat bocah yang sedang asyik bermain. Dilengkapi dengan kotak serangga, jaring juga topi yang lebar keempatnya berjalan dengan dipimpin oleh bocah berambut pirang. Mengangkat jaring tinggi-tinggi keempatnya berjalan di atas jalan setapak yang menuju ke bukit di belakang kuil.
Tiga orang di depannya berjalan dengan penuh semangat. Mereka berkata bahwa mereka akan menemukan kumbang badak, kumbang yang terkenal sulit sekali ditemukan di daerah sana. Tapi anak yang paling depan berkata bahwa ia akan menemukan kumbang Hercules. Kumbang yang lebih langka lagi dan jarang sekali ditemukan.
Tentu saja ketiga orang yang mengikutinya tak mampu mendebatnya. Di antara mereka, anak tersebut sudah terkenal paling serba bisa. Bukan hanya quirknya saja yang sudah bermanifestasi, kemampuan akademiknya juga dikenal nomor satu di kelas. Makanya mereka tak heran begitu mendengarnya mau menemukan kumbang Hercules. Ketiganya merasa bahwa anak itu memang mampu melakukannya.
Ia sendiri pun sangat mengagumi anak laki-laki berambut pirang itu dan bertekad untuk melakukan hal yang sama dengannya. Tapi entah kenapa teman-temannya malah mencemoohnya. Mereka bilang, ia tak mungkin melakukannya, selama ini bukankah ia sudah dikenal sebagai anak yang tak dapat melakukan apa pun? Ia tidak punya quirk, bagaimana mungkin ia mau menyaingi anak yang dikagumi semua orang itu? Bahkan anak yang dikaguminya pun ikut mencemoohnya. Katanya, itu tidak mungkin.
Tapi ia tidak mau menyerah dan kekeras-kepalaannya membuat yang lain jengkel. Mereka pun memutuskan untuk mengabaikannya dan hanya berbicara bertiga. Sementara ketiganya berjalan di depan sambil mengacungkan kembali jaring, ia tertinggal di belakang. Bukan berarti ia tidak mencoba untuk berjalan lebih cepat, hanya setiap kali ia berusaha, mereka semua akan melangkah dua hingga tiga kali lebih cepat darinya. Begitu terus sehingga jarak di antara mereka tak pernah berubah. Setelah berkali-kali akhirnya ia pun menyerah dan membiarkan ketiganya berjalan lebih dulu dan berceloteh tanpanya.
Sementara mereka mengobrol banyak, ia berjalan tertunduk sembari memegangi jaring. Bertanya-tanya dalam hati, apa salahnya. Bukankah tidak masalah bila ia berusaha dahulu? Mau mendapatkan atau tidak mendapatkannya seharusnya urusan belakangan, bukan? Bukankah yang penting mereka semua bersenang-senang? Tapi kenapa mereka malah mengolok-ngoloknya?
Benarkah seperti yang mereka katakan? Bahwa tidak punya quirk berarti bahwa ia takkan bisa melakukan apa pun? Meski sudah berusaha sekali pun?
Saat ia berpikir demikian, suara teriakan terdengar sehingga ia mengangkat kepala. Kakinya melangkah lebih cepat, menghampiri ketiga temannya yang sudah berada di depan. Kali ini begitu ia tiba, ketiganya tidak menjauh. Dua orang temannya tampak tertawa sambil memegangi perut sementara yang seorang berada di sungai, menertawai kecerobohannya.
Keningnya berkerut, sungai itu tidak terlalu dalam memang, tapi airnya cukup deras, bebatuannya juga banyak. Meski demikian tak ada satu pun dari temannya yang hendak menolong. Keduanya sibuk menertawakan dan berkata bahwa anak yang terjatuh itu terlalu asyik bercerita sampai jatuh ke sungai. Mereka tidak memerhatikan arus deras yang terus mengalir dan tak terlihat ujungnya.
Tak punya pilihan, ia pun ikut mencelupkan kakinya ke dalam air, membasahi sepatu. Ia mendekat pada anak yang masih menertawai kecerobohannya sendiri itu. Tangannya terulur, menawarkan bantuan karena ia pikir anak itu membutuhkannya.
Tapi ternyata ia salah. Anak itu tak butuh bantuannya.
Sentuhan lembut dan panggilan yang sayup-sayup membuatnya membuka mata. Mengerjap pelan, ia mengangkat kelopaknya perlahan-lahan dan menemukan pemuda berambut pirang di depannya. Seperti biasa, kekhawatiran lah yang selalu mampir setiap kali melihatnya jatuh tertidur.
"Katsuki," gumamnya pelan sembari mengangkat tubuhnya dari tumpukan buku yang dijadikannya sandaran. Jemarinya mengucek kelopak mata sementara ia menatap sekeliling. Cahaya yang masuk dari jendela di ujung mulai berubah warna menjadi jingga dan membuat bayangan rak-rak buku di dalamnya semakin panjang. Menyadari itu ia pun berkata, "Aku tertidur."
Meski demikian, pemuda yang dipanggilnya Katsuki itu tak suka mendengar ucapannya. Kening pemuda itu berkerut dan ia berkata, "Sejak kapan kau punya kebiasaan tidur di perpustakaan, Deku?"
Menyingkirkan debu dari celana, Deku pun bangkit berdiri diikuti Katsuki. Ia mengambil buku yang tergeletak tak jauh darinya dan berkata, "Aku ketiduran sembari membaca ini, Katsuki."
Alis Katsuki terangkat, "Heroes and their unique style?"
Mengangguk, Deku pun membuka halaman yang tengah dibacanya dan ia berkata, "Di sini dijelaskan mengenai periode hero dan atribut yang mereka kenakan. Ternyata mereka mempertimbangkan fashion juga saat merancang. Dan –oh! Kau juga masuk di dalam buku ini dan kostummu disebut sebagai era kontemporer. Apa kau tahu itu?"
"Huh?" Katsuki berkata sambil berpindah ke sisi Deku. Ia mengikuti jari Deku dan menemukan hal seperti yang Deku katakan di dalam buku. Melihatnya membuat alisnya terangkat naik. Terlebih ketika kostumnya (dengan fotonya di ujung kiri) dijelaskan secara detail fungsi dan manfaatnya. Ia pun mengerutkan kening dan berkata, "Ini pembajakan namanya. Seenaknya sekali mereka mengumbar atribut dari kostum yang kukenakan. Bagaimana kalau buku ini sampai ke tangan penjahat?"
Deku mengangkat kepala dan tertawa mendengar komentar pemuda itu. Sembari menunjuk buku itu, ia berkata, "Tapi bukankah Ground Zero hebat bukan karena kostum yang ia kenakan? Di sini tertulis demikian. Tuh!"
Sekali lagi pandangan Katsuki tertuju pada bagian yang ditunjuk Deku. Ia mengamati balon kata yang mengarah pada fotonya yang tengah menyeringai sombong. Pada balon kata itu tertulis 'Tanpa kostum ini pun aku sendiri sudah hebat, lho!'
Mendengus Katsuki pun memamerkan seringainya dan berkata, "Boleh juga!"
Deku mengangguk puas sebelum menutup bukunya. Ia pun membalikkan badan sembari berjinjit, mengulurkan tangan melebihi puncak kepalanya. Katanya, "Ada juga buku yang menceritakan soal sejarah para hero. Kalau tidak salah di sana juga fotomu dipajang dan disebut sebagai hero generasi milenial."
"Yang mana?" Katsuki bertanya sementara dagunya bertumpu di puncak kepala Deku.
Tangan Deku menunjuk salah satu buku yang melebihi jangkauan tangannya. Ia hampir saja menghela napas ketika tangan yang lebih panjang terulur mengambilkan buku itu untuknya dengan mudah. Diserahkannya buku itu pada Deku sementara Katsuki mengintip dari balik tubuhnya. Memperhatikan saat Deku membolak-balik halaman.
Saat Deku sedang mencari-cari halaman yang menunjukkan gambar Ground Zero, seseorang memanggil mereka dan membuat keduanya menoleh. Orang itu membungkuk sedikit pada Katsuki dan menyampaikan maksudnya. Katanya, Katsuki sudah ditunggu untuk menghadiri meeting bersama Endeavor dan tim nya.
Mendengar itu, Katsuki hanya menanggapi seadanya. Kedua tangan pemuda itu tetap berada di kantung jaket sementara kepalanya bersandar di bahu Deku. Ia tampak tak ingin beranjak sekalipun kehadirannya sudah dinantikan di meeting yang diselenggerakan Endeavor dan tim nya itu.
"Bukannya kau sedang ditunggu meeting, Katsuki?"
"Uh-huh," jawab Katsuki tak acuh. "Sebentar lagi."
Alis terangkat namun Deku tak mau mempermasalahkannya. Belakangan ini Katsuki senang sekali meletakkan dagu di atas kepalanya. Bukannya Deku mempermasalahkan dijadikan tumpuan, hanya saja terkadang ia merasa sedikit aneh.
Sewaktu menjadi Deku kecil, ia terbiasa mendekat pada Katsuki dan memeluknya. Berada dalam dekapan Katsuki adalah hal yang paling disukainya, terlebih saat tangan Katsuki yang besar mengusap kepalanya. Baginya, pelukan Katsuki memberikan rasa aman meski sehari-harinya pemuda itu selalu menggerutu dan mengoceh.
Namun begitu ia menjadi Deku dewasa, berpelukan dengan Katsuki tak senyaman saat menjadi Deku kecil. Katsuki sudah terbiasa menyentuh atau mengangkatnya, tapi sejak menjadi Deku dewasa, Katsuki jarang sekali memeluknya. Memang Katsuki masih sering menyentuh kepalanya, tapi rasanya sangat berbeda dengan dulu. Bukan berarti ia tak merasa aman lagi karenanya. Bersama Katsuki selalu memberinya rasa aman yang ia butuhkan. Hanya saja, ini berbeda dan Deku tak dapat menjelaskannya.
Ketika ia sedang mencoba memikirkan di mana perbedaannya, seseorang kembali mendatangi mereka. Kali ini agak sedikit memaksa dan memanggil Katsuki dengan sebutan Ground Zero. Pada Katsuki, orang itu berkata bahwa pemuda itu sudah ditunggu dan Endeavor sangat mengharapkan kehadirannya. Sikap yang memaksa itu berhasil membuat Katsuki menggerutu dan mengomel seperti biasa.
"Berisik! Memang kenapa kalau tua bangka itu mengharapkan kehadiranku?" Katsuki berkata yang membuat si pembawa pesan langsung menciut mendengar amarahnya. Terlebih setelahnya Katsuki kembali mengomel, mengoceh macam-macam sementara ia mengangkat kepalanya dari Deku dan berjalan. Saat ia sudah beberapa langkah jauhnya, ia kembali berbalik dan berkata, "Kenapa kau diam saja, Deku?"
Deku mengerjap pelan dan ia berkata, "Apa aku juga ikut?"
"Ada yang bilang kau tidak boleh ikut?"
Mengerjap bingung, Deku pun menggelengkan kepala. Ia mendengar Katsuki menyuruhnya untuk segera mengikuti sehingga ia pun ikut berjalan. Namun seolah teringat sesuatu, ia berbalik dan mengambil buku yang sebelumnya ia tunjukkan pada Katsuki juga beberapa buku lainnya. Akibatnya, ia jadi tertinggal cukup jauh dari Katsuki sehingga pemuda itu berbalik dan menoleh padanya.
"Astaga kau ini!" Katsuki kembali berjalan ke arahnya, mengambil buku-buku yang tadinya hendak dibawa Deku dan membiarkan Deku membawa satu yang ada di tangannya. "Dasar kutu buku!"
"Biar aku yang bawa, Katsuki!"
"Kalau kau yang bawa, kita akan terlambat dan para ekstra yang berisik itu akan kembali mendatangiku," jawab Katsuki. Diangkatnya beberapa buku di tangannya dan ia kembali berkata, "Aku membawakannya untuk kebaikan kita semua!"
Deku mengerjap sebelum mengangguk, membiarkan Katsuki membawakan buku. Sebelum keluar, semua buku yang dipinjam itu dipindai oleh suatu alat dan mereka juga memindai kartu yang dikenakan Katsuki. Setelah itu barulah mereka keluar dari perpustakaan dan menaiki lift untuk menuju ke kantor Endeavor.
Di dalam lift yang interiornya didominasi oleh kaca, Deku merapat ke ujung dekat pegangan. Irisnya yang kehijauan menatap orang-orang di dalam gedung yang hilir mudik. Beberapa dari mereka memiliki penampilan yang tak biasa tergantung dari quirk yang mereka miliki. Hebatnya, semua orang itu tampak begitu sibuk. Entah sedang menelepon atau sedang mengantarkan dokumen. Mereka semua memiliki pekerjaan dan semuanya sangat serius.
Di sampingnya, Katsuki yang sebelumnya tak tertarik, akhirnya ikut mengamati bersama Deku. Mendekat, ia berbicara di dekat telinga Deku dan berkata, "Beda sekali, dibandingkan dengan di tempat Bakazawa."
Kaget mendengar suara Katsuki di telinganya membuat Deku tersentak. Meski demikian ia tak terlalu memusingkannya. Mengangguk pelan ia berkata, "Biasanya jam segini Shoucchan sedang menikmati teh sore hari."
Mendecak, Katsuki hanya berkata, "Sempat-sempatnya. Jadi selama ini itu yang ia lakukan sementara bawahannya berpatroli sampai malam."
Sebelum Deku sempat berkomentar, lift lebih dulu berbunyi dan menandakan bahwa mereka sudah tiba di lantai yang mereka tuju. Pintu lift pun terbuka sehingga keduanya beranjak keluar dari lift. Mereka turun di lantai teratas yang merupakan kantor Endeavor dan para hero selevel Katsuki berada.
Keduanya berjalan menembus kerumunan hingga tiba di salah satu ruangan besar. Seperti halnya karyawan, Katsuki memiliki meja sendiri yang nyaris tak pernah tersentuh kecuali ia sedang membuat laporan. Tak seperti di tempat Aizawa di mana mereka selalu beramai-ramai duduk di meja makan, di sini ia tak harus bergabung dengan yang lain berhubung ia memiliki kubikalnya sendiri.
Diletakkannya buku-buku yang dipinjam Deku di atas meja sementara ia menyuruh anak itu untuk menempati kursinya. Ia sendiri berjalan mengitari meja dan membuka jaket yang sebelumnya ia kenakan. Baru ia mengambil laptop yang diletakkan di atas meja dan hendak pergi ke luar ketika seseorang mendatangi kubikal mereka.
"Bakugou? Kau sudah ditunggu dari ta—" ucapannya terhenti tatkala pandangannya bertemu dengan iris kehijauan Deku. Ekspresi datar yang sebelumnya ia tunjukkan berubah lembut dan ia berkata, "Halo, Deku! Sedang membaca apa?"
"Shouto!" Deku berseru ketika melihat hero yang merupakan partner sementara dari Katsuki itu. "Membaca Generasi Hero dan Zaman Kejayaan Mereka."
Buku yang ia baca sepertinya membuat Shouto mengerutkan alis, bingung. Ia menggerakkan kepala dan berkata, "Aku tidak tahu kami punya buku seperti itu."
Di sampingnya Katsuki mendengus dan berkata, "Aku tak heran."
Menyipitkan mata, Shouto yang akhir-akhir mudah tersinggung dengan kata-kata Katsuki kembali berkata, "Apa maksudnya itu?"
Sebaliknya Katsuki yang sudah dari tabiatnya senang mencari perkara, lebih senang mengabaikannya dan membuat Shouto semakin jengkel. Ia mendekat ke meja dan menyentuh kepala Deku sembari menyerahkan selembar uang pada Deku. Padanya ia berkata, "Aku mungkin akan sedikit lama, kalau kau mau makan sesuatu, turunlah ke kantin, ya? Tidak perlu menungguku!"
Deku mengangkat kepala. Ia menatap Katsuki lama sebelum kembali mengalihkan pandang ke bukunya, "Tidak. Aku menunggu Katsuki saja."
"Kau yakin?" Katsuki sekali lagi bertanya sebelum meninggalkannya. "Mungkin meeting kali ini akan lebih dari jam makan sore."
Sekali lagi Deku mengangguk. Dagunya bersandar pada permukaan meja dan ia berkata, "Iya, aku yakin. Katsuki pergilah!"
Menghela napas, Katsuki pun menyerah. Ia hanya menggerakkan satu tangannya di atas kepala Deku sebelum menariknya. Baru setelah itu, kakinya melangkah keluar dari kubikalnya dan menjumpai Shouto yang sudah melipat kedua tangan di depan dada. Seperti biasa ketika pandangan mereka bertemu maka ia akan mengangkat nada suaranya dan berkata, "Apa?"
Seperti biasa Shouto akan menggelengkan kepala. Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Deku, ia pun mengikuti Katsuki. Dengan Katsuki memimpin di depan, ia pun berkata, "Untuk orang bergelar nomor satu, kau tipe orang yang sangat sulit dicari. Mungkin sudah saatnya kau menanggalkan gelar itu."
"Dan kau pikir kau lebih layak, Mr. number 2?" Katsuki balas berkata sambil berbalik menghadapinya. "Kalau kau bisa, kenapa tidak kaucoba saja merebut gelar itu? Atau harus kuserahkan dulu padamu baru kau bisa mendapatkannya?"
Tangan Shouto mengepal. Untuk sesaat yang singkat, ia yang punya pertahan diri tinggi sempat terpikir untuk menghantamkan tinjunya ke wajah pemuda arogan ini. Ucapan dan kata-katanya sangat menguji kesabaran Shouto hingga tingkat tertinggi. Ia benar-benar tak percaya bahwa pemuda seperti ini yang ia lihat tengah mengusap-usap kepala Deku sebelumnya. Pemuda selembut itu tak mungkin Bakugou Katsuki.
Untunglah sebelum terjadi apapun, pintu ruang meeting terbuka. Bersamaan dengan itu, sosok pemuda rambut pirang berantakan dengan sayap merah di belakang punggung muncul. Senyumnya langsung terkembang ketika melihat keduanya dan ia berkata, "Aku baru mau mencari kalian. Cepat masuk! Enji-san sudah menunggu!"
Keduanya menurunkan sedikit ketegangan di antara mereka dan memilih untuk mengikuti Hawk ke ruang meeting. Di dalam, pria bergelar hero nomor dua dan pernah menjadi nomor satu sejak kejatuhan Allmight itu memandang mereka dengan tatapan tajam. Meski demikian, tak ada di antara Katsuki maupun Shouto yang terintimidasi. Keduanya mengambil tempat duduk di ujung berlawanan dan duduk hingga Hawk menutup pintu.
Ketika pintu sudah ditutup barulah Enji Todoroki, pemilik dari Endeavor Hero Agency itu membuka suara. Ia meminta Hawk memunculkan slide yang ingin dibahasnya sebelum memulai dengan berkata, "Kenapa kalian berdua lama sekali?"
Tak ada yang menjawab. Baik Shouto maupun Katsuki memilih untuk bungkam. Pandangan keduanya tetap terarah pada layar hingga Enji menghela napas. Ia tidak menyangka begitu sulit untuk membina hero nomor satu dan nomor dua di bawah asuhannya. Yang satu jelas-jelas memang selalu mengabaikannya sejak masih remaja, tapi yang seorang lagi— Ia hanya bisa berharap agar agensi Aizawa segera pulih sebelum sehingga ia dapat mengembalikan yang satunya.
Sadar tak ada yang menjawab, Enji memilih untuk melanjutkan. Ia menekan satu tombol dan berkata, "Baiklah, kita mulai saja. Ini berkaitan dengan invasi yang dilakukan Ground Zero pada area terlarang beberapa waktu lalu."
Menopang kepala dengan satu tangan, dengan sinis Ground Zero berkata, "Kukira kita sudah melupakannya."
Berlawanan arah darinya, Hawk tersenyum dan membalasnya. "Aku ini pria yang sangat gigih, Ground Zero. Jangan lupa itu!"
Tak peduli, Ground Zero kembali melayangkan pandang pada layar di depan. Irisnya yang kemerahan menangkap peta yang sebelumnya tengah dibuat oleh Hawk. Dengan bantuan sonar, sepertinya ia berhasil mendapatkan gambaran seutuhnya mengenai kota yang ia temukan di bawah gorong-gorong itu. Menyipitkan mata, Ground Zero mengamati bagaimana cocoknya bangunan lama dengan bangunan baru di atasnya.
"Seperti yang kalian lihat," Enji mengarahkan laser ke salah satu gambar yang ada di layar, "seseorang memilih untuk mengubur kota yang lama dan menggantikannya dengan yang baru, bahkan dibuat serupa dengan yang lama."
Baik Katsuki maupun Shouto tak berbicara. Keduanya mendengarkan sembari mengamati dengan saksama. Bahkan Hawk yang biasanya berisik pun memilih diam sehingga Enji kembali melanjutkan.
"Untuk saat ini, kenyataan ini membuat kami terkejut, meski demikian kami belum tahu apa motifnya hingga seseorang mengubur kota yang lama dan menggantikannya dengan yang baru," Enji berkata sambil menatap keduanya. "Kami percaya, ini ada kaitannya dengan pemerintah, maupun League of Villain."
Alis Katsuki menekuk tajam. "Apa alasannya hingga kau menyimpulkan demikian?"
"Alasannya," Enji menekan lagi remote yang ia pegang dan mengganti slidenya dengan slide baru. Gambaran itu menunjukkan lapisan yang terbentuk dari kota lama yang dipetakan Hawk. Tampaknya mereka berhasil mengetahui berapa lama kota itu terkubur di bawah tanah sebelumnya. "Ini terjadi di saat yang sama dengan kejatuhan All for One dan Allmight."
"Itu—"
"Yang mengejutkan, kota ini terjadi hanya dalam delapan tahun," ujar Hawk memotong ucapan Katsuki. "Selama delapan tahun, kita tinggal di kota baru yang terbentuk dari kota lama, tanpa tahu apa-apa mengenai semua ini. Bukankah itu ajaib?"
Ajaib? Bagi Katsuki ini terdengar seperti sebuah kejahatan. Apa sebenarnya yang ditutupi di bawah sana sehingga mereka memindahkan seluruh kota ke atas? Apa mereka mengubur seseorang di sana? Seseorang yang kekuatan quirknya memengaruhi seisi kota? Atau apa?
"Itu berarti," Shouto akhirnya angkat bicara, "seseorang menghapus ingatan kita atau menghipnotis seisi kota sehingga tak satu pun dari kita mengetahui keberadaan kota ini?"
"Persis!" Hawk berkata sambil mengarahkan kedua telunjuknya pada Shouto sementara wajahnya berseri-seri. Hanya dia seorang satu-satunya yang masih bersemangat setelah mendengar presentasi semacam ini. "Dengan kata lain, sesuatu terjadi, lalu seseorang membuat kota baru di atas kota lama dan meminta kita untuk melupakan kota yang lama lalu hidup di kota yang baru. Yang lebih hebat, kenyataan ini tidak diketahui sama sekali oleh satu pun dari kita, sehingga lebih terasa seperti—"
"Menyembunyikan sesuatu," ujar Katsuki sembari menyipitkan mata. "Seseorang, mungkin pemerintah, terlibat di sini. Mungkin ia melakukannya untuk menguburkan sesuatu yang berbahaya untuk keselamatan kota. Bila melihat usaha yang tak sedikit, maka bisa disimpulkan bahwa yang dikubur adalah penjahat berbahaya yang bila dilepas akan membahayakan seluruh kota."
Setelah komentarnya, baik Hawk, Enji maupun Shouto tak ada yang bersuara. Ketiganya memandangi Katsuki dengan mengerjapkan mata. Keheningan itu baru terpecah setelah Hawk bertepuk tangan hingga membuat Katsuki menoleh padanya dengan ekspresi tak senang.
"Bagaimana—," ujar Hawk yang kehilangan kata-kata, "padahal aku butuh memetakannya untuk mengetahui maksud sebenarnya, tapi ya, kami juga berpikir demikian."
"Dan yang kalian temukan?"
"Tanda-tanda biologis makhluk hidup ditemukan di sana," lanjut Hawk sambil menekan tombol di laptop dan mengganti gambar di layar. "Sangat samar yang membuatku yakin bahwa siapapun yang ada di bawah sini, sebelumnya dalam kondisi tak sadar."
Katsuki mengepalkan tangan. Firasatnya tidak enak soal ini. Bila yang dikatakan Hawk benar, maka ia tahu satu-satunya individu yang sebelumnya ada di sana. Bila yang ditemukan Hawk benar, maka sebelumnya ia ada di sana, terkurung untuk waktu yang cukup lama. Tapi bagaimana mungkin mereka melakukannya pada seorang anak kecil?
"Begitulah," ujar Hawk yang merentangkan kedua tangannya dan memamerkan cengiran pada keduanya. "Ini yang kami temukan untuk sementara. Terkait motif maupun apa dan siapa yang terkurung di dalamnya, kami masih belum tahu pasti. Hanya saja satu hal yang bisa kami simpulkan, yakni—"
"Seseorang itu adalah All for One," ujar Enji yang membuat ketiganya menoleh. "Aku sudah tahu bahwa penjahat itu tak mungkin dikalahkan oleh tinju monyet seperti itu."
Pandangan Hawk dan Shouto kini berpindah pada Katsuki. Keduanya tahu siapa yang dimaksud Endeavor dengan 'tinju monyet' itu. Sementara Katsuki sendiri memilih untuk bungkam. Meski Katsuki ingin membantah, ia sendiri pun ragu. Ia tahu bahwa dirinya sendiri yang mengalahkan All for One dengan seluruh kemampuan. Tapi bagaimana persisnya ia melawan atau bagaimana ia bisa berada di sana, ia sendiri tak begitu ingat. Selalu ada kabut yang menghalangi setiap ia mencoba mengingat.
Seolah menyadari sesuatu, Shouto kembali mengalihkan pandangan pada Endeavor. Ia pun berkata, "Tunggu! Kalau memang itu benar, berarti sebelumnya seseorang mengurung All for One di dalam sana. Orang yang lebih kuat dari All for One sendiri, bukan?"
Endeavor menatap putra bungsunya itu dan mengangguk. "Itu benar."
"Lalu di mana orang itu sekarang?" Shouto bertanya. "Bukankah itu berarti seseorang itu bertanggung jawab untuk kota yang baru ini dan terkurungnya All for One?"
Tak ada yang berani bersuara setelah mendengar pertanyaannya. Ketiganya bungkam dengan pikiran masing-masing sehingga Shouto menghela napas. Rupanya penemuan ini terlalu mengejutkan untuk mereka. Penemuan kota lama di bawah kota yang selama ini mereka tinggali, juga kenyataan bahwa ada yang tinggal di bawahnya, dan kenyataan bahwa kejadiannya bertepatan dengan kejatuhan All for One sangatlah tidak wajar.
Meski demikian sebelum keempatnya tenggelam dalam pikiran masing-masing, Hawk menepukkan tangan, meminta perhatian. Ketika pandangan ketiganya sudah tertuju padanya, barulah ia berkata, "Baiklah, untuk sementara hanya itu yang bisa kami sampaikan pada kalian berdua. Selanjutnya, kita akan membahas performa dan jobdesk kalian selama seminggu belakangan ini."
Suara gerutuan yang terang-terangan terdengar di ujung ruangan. Sementara Hawk, lagi-lagi hanya menanggapinya dengan ceria. Shouto sendiri ingin menghela napas mendengar bahwa ia harus bekerja sama dengan Ground Zero. Andai waktu bisa diputar, ia menyesal telah mengajak pemuda itu untuk datang ke acara reuni. Kalau saja pemuda itu dan Deku tidak datang, mungkin ia takkan terjebak dalam rutinitas patroli bersama—
Tunggu! Tunggu sebentar! Bukankah sebelumnya para penjahat itu mengatakan bahwa All for One sudah bangkit? Bukankah itu berarti orang yang terkurung itu sebelumnya sudah terbebas? Dan astaga! Bukankah para penjahat itu memang bebas tak lama setelah Katsuki Bakugou memasuki reruntuhan?
Tangan Shouto mengepal erat dan ia menatap ke arah pemuda berambut pirang yang kini terlihat bosan, sementara Hawk terus berceloteh tak henti. Matanya menyipit sementara tangannya mengepal.
Bakugou Katsuki pasti sudah mengetahui hal ini, bukan?
Duduk di kubikal yang diberikan khusus untuk Ground Zero selama lebih dari dua jam membuat Deku pegal juga. Setelah menyelesaikan beberapa bab, ia pun mengangkat kepalanya dan menatap sekeliling. Pandangannya jatuh pada jam yang berada jauh di ujung ruangan di mana jarum pendeknya sudah berada di angka delapan. Menguap pelan, ia menutup bukunya sebelum merenggangkan badan.
Sembari menggerakkan leher juga tangan dan pundaknya yang kaku, Deku berjalan ke luar dari kubikal. Ia menatap sekeliling dan melihat bahwa para hero divisi satu sudah nyaris tak bersisa. Yang tinggal hanya sekretaris dan beberapa petugas kebersihan. Sementara sisanya sudah menghabiskan akhir pekan mereka di rumah.
Berjalan lebih jauh, ia melirik pada satu-satunya ruang meeting yang masih menyala di ujung ruangan. Ruangan yang seluruhnya terbuat dari kaca yang dilapisi stiker itu pastilah ruangan tempat Katsuki dan yang lain mengadakan rapat. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi mereka sudah memakan waktu lebih dari tiga jam di dalam sana. Mungkin sesuatu yang serius.
Menghela napas, Deku pun teringat perkataan Katsuki. Pemuda itu sudah berpesan agar ia memakan sesuatu daripada menunggunya selesai. Hanya saat itu, ia tak mengira bahwa mereka akan melangsungkan meeting hingga selama ini. Sekarang sudah hampir pukul delapan tapi Katsuki bahkan belum selesai.
Mengerjap pelan, ia terpikir ide bagus. Mungkin ia bisa membelikan sesuatu untuk Katsuki. Pasti di dalam sana Katsuki juga sama kelaparan seperti dirinya. Terlebih kalau kelaparan Katsuki akan lebih sering mengomel. Untunglah sebelum itu terjadi, Deku tahu bagaimana mengantisipasinya.
Dengan segera, ia kembali menuju kubikal yang ia tempati sebelumnya. Diambilnya uang yang sebelumnya dititipkan Katsuki dan meninggalkan pesan bahwa ia akan membeli makan. Baru setelahnya ia berjalan ke lift dan menekan tombol hingga ke lantai dasar.
Sebenarnya, ia bisa saja membeli di kantin khusus yang disediakan di dalam gedung. Hanya berhubung waktu sudah cukup larut, ia ragu masih ada yang buka di kantin sana. Makanya ia memilih turun dan berjalan menuju ke minimarket di bawah sana. Kalau tidak salah mereka menjual bakpao berisi daging yang sangat enak. Deku pernah melihat salah seorang pekerja membawanya dan ia sampai memerhatikannya selama beberapa saat dan meninggalkan buku yang tengah ia baca.
Lift terus meluncur turun. Di dalamnya, Deku memerhatikan bahwa ruangan-ruangan yang tadi ia lihat begitu ramai kini begitu hening. Lampu-lampu diredupkan dan hanya segelintir orang yang terlihat di sana selain petugas kebersihan. Hampir semuanya sama kecuali di lantai dasar. Di mana bagian lobby nya masih terlihat terang dengan dua resepsionis yang siap menyambut ramah.
Ketika ia turun seorang diri, beberapa orang seringkali memerhatikannya. Penasaran bagaimana seorang anak bisa berada di dalam agensi hero yang telah menghasilkan hero-hero berkualitas itu. Namun ia tak menyadarinya karena keberadaan Katsuki selalu menyedot seluruh perhatiannya. Hanya ketika tak ada Katsuki, barulah ia benar-benar merasa sendiri. Barulah ia benar-benar merasa tak nyaman dengan semua perhatian yang tertuju padanya.
Ia pun memutuskan untuk tak lama-lama berada di lobby. Dengan setengah berlari, Deku berjalan hingga ke pintu keluar. Ia terus berjalan hingga keluar dari gerbang dan berbelok ke minimarket yang terletak tak jauh dari gedung. Kakinya terus melangkah hingga tiba di teras yang bersinar terang dengan beberapa orang tengah merokok di depan.
Mengabaikan mereka, Deku merapatkan jaket berwarna hijau yang ia kenakan dan memasukkan tangannya ke kantung. Pintu langsung mengayun terbuka otomatis ketika ia berjalan masuk. Melangkah ke dalam, matanya langsung tertuju pada penghangat makanan yang ada di atas meja. Di mana di dalamnya terdapat makanan ringan seperti yang diduganya.
Seperti biasa, ia mengitari interior ruangan dulu. Setelah memutuskan tidak ada yang ia perlukan d sana, ia pun segera beranjak ke konter kasir, mengantri dengan pengunjung lain. Ketika tiba gilirannya, ia menunjuk bakpao yang sedari tadi diidamkannya dan membentuk angka dua dengan jemari. Si pelayan yang cekatan pun dengan segera membungkus dan menggumamkan harganya pada Deku. Ia pun menyerahkan uangnya dan menerima bungkusan makanan yang masih hangat sebagai gantinya.
Berhasil mendapatkan apa yang ia butuhkan, Deku pun berjalan ke luar dari minimarket. Ia baru saja hendak melewati ambang pintu ketika ia mendengar namanya dipanggil. Seketika itu juga ia menoleh dan menemukan pemuda yang sedari tadi dipikirkannya tengah berlari. Ia baru akan memanggil balik nama pemuda itu ketika melihat ekspresi panik yang sudah seringkali dilihatnya.
"Deku!" Pemuda itu berseru dengan sedikit membentak. Tangannya memegangi tangan Deku, mencengkeramnya erat hingga Deku meringis. "Kemana saja kau? Aku baru saja mencarimu. Kenapa kau malah keluar dari gedung?"
"Aku membeli makanan," gumam Deku sembari mengangkat bungkusan yang ia bawa. Matanya menyipit merasakan cengkeraman Katsuki yang kian menguat. "Untuk Katsuki juga."
Melihat reaksinya, Katsuki pun sadar bahwa cengkeramannya sedikit menyakiti pemuda itu. Akibatnya, ia pun melonggarkan cengkeramannya. Kedua tangannya berada di pundak Deku sementara ia menarik napas. Ketika membuka mata, ia menatap Deku yang menunduk, menolak menatapnya.
"Apa yang kaubeli?" tanya Katsuki. Ia melepaskan kedua tangannya dari atas pundak Deku. Sebagai gantinya, tangannya secara alami meraih jemari Deku dan menggenggamnya, mengaitkan dengan jemarinya sendiri. "Coba lihat!"
"Bakpao," jawab Deku sembari mengangkat kepala. Mendengar bahwa Katsuki sudah tidak marah, ia pun menunjukkan makanan yang ia beli. Ia membuka pembungkusnya dan menyerahkannya lebih dulu pada Katsuki. "Katsuki mau?"
Meski tak begitu lapar, Katsuki mendekat dan melahap bakpao yang diberikan padanya. Ia mengunyah dan mencicipi rasanya terlebih dulu sebelum kembali mendorongnya ke arah Deku. Sembari membersihkan sisa makanan di bibir, Katsuki pun berkata, "Enak!"
"Ya'kan?" Deku berkata sementara wajahnya tersenyum. "Aku melihat seseorang membelinya beberapa hari lalu. Makanya aku turun ke bawah. Ternyata enak juga."
Katsuki tak menjawab. Keduanya berjalan kembali ke gedung. Sementara Deku asyik dengan makanannya, Katsuki menatapnya. Tanpa ia sadari kakinya berhenti melangkah, membuat Deku yang tengah asyik berjalan terpaksa mengikutinya. Menoleh, Deku pun menggerakkan kepala. Membalas tatapan Katsuki dengan keheranan di wajah.
"Lain kali, jangan keluar dari gedung tanpaku atau tanpa hero di sampingmu," ujar Katsuki. "Kalau kau lapar, mintalah seseorang untuk membelikannya. Tidak perlu kau yang berjalan keluar sendiri."
Mengerjap pelan Deku pun berkata, "Kenapa?"
Alis Katsuki terangkat naik. Deku kecil yang ia kenal, tak pernah membantahnya dan hanya menuruti perintah. Tapi Deku yang sudah beranjak remaja, akan mempertanyakan mengapa ia harus melakukan ini dan itu. Seharusnya itu hal yang normal, tapi saat ini Katsuki tidak punya toleransi lebih.
Terlebih ketika ia mulai mendekati kebenaran. Terlebih saat ia tahu bahwa Deku kemungkinan besar terlibat dengan kebangkitan All for One dan para penjahat di luar sana mengincarnya. Bila memang ada kehidupan di bawah kota yang terkubur dan Deku berasal dari sana, bukankah itu artinya Deku lah yang dikurung di dalam sana? Bukan All for One, tapi Deku, dan ia takkan menyerahkan Deku pada siapapun. Tidak pemerintah, tidak para hero, tidak penjahat.
Maka itu bukannya memberikan alasan yang logis, Katsuki hanya berkata,
"Turuti saja kata-kataku!"
.
.
.
(t.b.c)
A.N :
Teehee! Bagaimana? Seperti yang Bang Katsuki bilang, kita uda semakin mendekati kebenaran :D walau saya sendiri belum tahu masih ada berapa chapter lagi sebelum final.
Aniway, untuk :
El-vtrich :LOL! Dibanding scene Tododeku yang banyak, ini malah lebih banyak Katsudeku yang makin banyak skinship. Niatnya bikin Bang Kacchan jeles, tapi si Abang uda posesif keterlaluan sampe Deku bingung.
Aniway, aniway, saia juga uda baca itu, UwU, doujin yang Deku pas masih SMP dan sama kayak El, berkali-kali juga saia bilang Abang Shouto pedopilll, duh! Abang! XD tapi karena Abang di sana ganteng pake banget, pake kuadrat, yauda apapun lah buat Abang mah XD
Nah setuju banget El, aku juga rela mereka pedopil, asal pedopilnya ama Deku seorang XD maklum aku lebih ke Dekucentric :D jadi asal uke nya tetep Deku, yauda, sok monggo XD
Dan makasih banyak semangetnya El, dan makasih juga uda selalu ditunggu ff nya :D
WinYuzukiN: holla Yuzuki :D aku belum tau berapa chapter, tapi sepertinya uda deket, apalagi Deku uda mulai punya mimpi-mimpi aneh.
Hanazawa Kay: holla Kay XD iya mereka mulai inget dan rasanya dag-dig-dug, aduh! Was-was kalau jadi Katsuki :P
NamuraShicie: hola Shicie, tentu aja Deku bakalan tetep aman, kan penjaganya banyak XD cuman tetep aja penjaga nomor satu nya ya Bang Katsuki
kyunauzunami :holla Kyu :D iya setuju banget, Deku itu seger, seger banget kayak daun yang baru tumbuh rambutnya dan bintik-bintiknya kayak bintang di langit, makanya dia cakep banget dan imut banget. Ya nggak, Bang Kachuki? Bang Chouto?
Name-chan: daripada aroma-aroma persaingan, lebih tepat aroma siap tempur kayak Tom & Jerry (sebut merk deh saia) Ini aja baru Deku remaja, gimana kalau Deku uda lebih gede? UwU, jangan-jangan perang dunia ketiga selanjutnya terjadi karena perebutan dua hero papan atas terhadap Deku? UwU, Deku dasar setan cilik!
Makasih uda selalu nungguin fic ini Name-chan, semoga selalu enjoy bacanya XD
Also, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D
For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD
