Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.
Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi
Until we meet again by cyancosmic
.
.
.
Enjoy!
Ask 17. Can I hug you?
Sembari membawa tray stainless di tangannya, Hawk menoleh ke sekeliling. Pandangannya menyapu ruangan yang dipenuhi meja dan bangku panjang yang hampir seluruhnya sudah ditempati orang dengan konter-konter berderet menyajikan beragam gambar makanan. Ia mendesah pelan sebelum mengalihkan pandangan ke titik terjauh dari ruangan, tempat yang paling kurang diminati para staf.
Melihat figur yang familiar, Hawk pun berjalan menembus kerumunan manusia. Meski tak semulus Musa saat membelah Laut Mati, pada akhirnya pemuda bersayap merah itu tiba di ujung ruangan. Kakinya melangkah mantap pada bangku panjang yang ditempati seseorang. Dengan penuh percaya diri ia meletakkan tray makanannya di meja sementara pandangannya tertuju pada sosok yang sudah lebih dulu menempati. Menunggu agar sosok itu menyadari kehadirannya.
Seperti dugaannya, sosok itu mengangkat kepala. Iris matanya yang sehijau zamrud itu menatap Hawk terlebih dulu sebelum senyum secerah mentari menyambutnya. Pada Hawk, sosok itu berkata, "Konnichiwa, Hawk-san!"
Membalas sapaannya Hawk menempati tempat duduk di hadapan bocah itu. Bersama-sama, keduanya benar-benar terlihat kontras di tengah kerumunan hero dan staf yang tengah mengisi perut saat makan siang. Perpaduan anak SMP dengan manusia bersayap membuat beberapa orang mencuri pandang ke arah keduanya, penasaran pada apa yang mereka bicarakan. Meski tak ada satu pun dari keduanya yang menyadari tatapan tajam yang ditujukan pada mereka.
Seperti biasa, Hawk lebih dulu memulai percakapan. Pria bersayap merah yang tengah menggulung spageti dengan garpu itu berkata, "Apa Ground Zero belum kembali dari patroli, Deku?"
Deku, anak SMP berambut hijau yang duduk di hadapan Hawk itu mengangkat kembali kepalanya. Pandangannya teralih dari tray makanan ke arah pria bersayap yang duduk menemaninya. "Tidak, Katsuki belum kembali, Hawk-san."
Mengangguk pelan, Hawk menyeruput spagetinya. Memang, ia dan Endeavor yang mengatur jadwal hero nomor satu saat ini, hanya ia sendiri tak begitu ingat detailnya. Ia kira, jadwal pemuda itu hanya berkeliling sekitar kantor sebagai pemanasan sebelum mengirimnya ke kota sebelah. Tapi mungkin ia salah. Mungkin ia mengirim pemuda itu ke kota sebelah dahulu.
Saat ia tengah sibuk mengingat-ingat jadwal, anak SMP di hadapannya mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya yang berwarna seputih salju. Sembari menatap Hawk anak itu pun berkata, "Kau mau kutanyakan pada Katsuki, Hawk-san?"
Hawk mengerjap sebentar. Setahunya, anak SMP ini hanya anak yang menumpang tinggal dan diasuh sementara oleh Ground Zero. Identitasnya sendiri masih dipertanyakan berhubung ia kehilangan ingatan dan tak ada sanak keluarga yang mengenalnya. Masalahnya kalau benar ini hanya sementara, seharusnya Ground Zero tak perlu membelikannya ponsel bukan? Atau dari agensinya yang membelikannya ponsel? Bila dilihat dari karakternya, Ground Zero bukan tipe yang senang menghambur-hamburkan uang untuk orang lain.
Penasaran, akhirnya Hawk pun mencondongkan tubuhnya sedikit. "Kau baru membeli ponsel?"
Terkejut, Deku mengangkat kepala dari ponsel. Melihat Hawk berada tak jauh darinya, anak SMP itu tersenyum sedikit sebelum menunjukkan benda yang ia pegang di tangannya. Modelnya memang bukan tipe terbaru, namun masih tergolong cukup bagus untuk dipegang anak SMP. "Tidak, ini ponsel lama Katsuki. Katsuki memberikannya padaku baru-baru ini."
Alis Hawk terangkat. Ternyata bukan ponsel baru. Meski demikian, itu tak menjawab pertanyaan awalnya. Kenapa Ground Zero memberikannya pada Deku?
Saat ia menanyakannya, Deku menunjukkan ponselnya dan berkata, "Katsuki bilang karena aku sering sulit dicari. Jadi ia memberikanku ponsel agar ia bisa menghubungiku sewaktu-waktu bila ia memerlukanku."
Kali ini dahi Hawk berkerut dalam. Ground Zero yang ia kenal sepertinya bukan tipe yang mau repot-repot mengandalkan orang lain. Pemuda arogan yang menganggap dirinya lebih hebat dari sebagian besar penduduk Bumi dan perfeksionis itu sepertinya takkan pernah membutuhkan bantuan, terlebih dari seorang anak SMP. Memangnya apa yang bisa anak SMP ini lakukan sehingga Ground Zero sampai memberikan ponsel lamanya hanya agar ia bisa menghubunginya kapan pun? Sungguh tak masuk akal! Hawk jadi pusing.
Di saat ia sedang sibuk memikirkannya, ponsel yang dipegang Deku tiba-tiba berdering. Buru-buru Deku melihat layar dan segera menggeser layar untuk menerima telepon. Ia pun menempelkan benda itu di telinga sebelum menjawab.
Melihat mata Deku membelalak lebar sepertinya Hawk tahu siapa si penelepon. Oh tapi, memangnya siapa lagi yang akan menghubungi ponsel anak ini selain si pemberi sendiri? Seharusnya ia tak heran.
Ia mendengar Deku menyebutkan namanya dan mengatakan bahwa mereka sedang di kantin. Dari pembicaraan keduanya, sepertinya ia akan melihat Ground Zero tak lama lagi. Menghela napas, Hawk pun kembali menyantap makanannya dalam diam. Lebih baik ia segera menghabiskannya. Siapa tahu mood pemuda itu sedang buruk-buruknya dan memutuskan untuk membalikkan meja yang mereka tempati.
"Katsuki akan segera menyusul," ujar Deku begitu telepon mereka berakhir. Ia meletakkan ponsel itu di samping tray makanannya sebelum kembali mengambil sumpit. Sembari menatap Hawk, anak SMP itu menambahkan, "Hanya ia bilang, ia datang bersama seseorang."
"Oh?" Hawk mengangkat kepala, tertarik. "Siapa? Shouto?"
Deku menggeleng. "Sepertinya bukan."
Hawk pun mengangkat alis. Ia sendiri tak punya dugaan siapa yang datang bersama Ground Zero. Meski demikian, ia tak mau repot-repot memikirkan dan kembali menyeruput spagetinya.
Untunglah ia tak perlu berlama-lama menantikan kedatangan hero nomor satu saat ini. Diiringi dengan keributan kecil, hero yang masih mengenakan seragam musim dinginnya itu datang bersama seorang wanita. Wanita yang satu ini berambut pirang mengenakan topi dengan seragam yang ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya. Meski ekspresi Ground Zero tampak tidak senang, wanita yang satu itu jelas tidak terlihat demikian. Apalagi dengan tangan yang terus melingkari lengan sang hero.
Keriuhan itu tampaknya tidak memengaruhi Ground Zero. Dengan tak acuh, hero satu itu mengalihkan pandangan sekali lihat sebelum mengibaskan lengan dan melangkahkan kaki ke satu arah. Ke tempat di mana anak berambut hijau menatapnya dengan pandangan bingung dan tertarik.
Begitu sudah berada di sampingnya, sang hero langsung mengambil tempat di samping anak itu. Dengan satu lengan bertengger di kepala si anak SMP, Ground Zero menggunakan tangannya yang lain untuk mengambil potongan daging yang ada di piring. Ia bahkan tak peduli bila sikapnya menuai perhatian dua orang yang lebih dulu menempati meja.
"Terlalu matang," gumam Ground Zero sambil mengusap sisa makanan dari bibirnya. "Jangan makan yang ini lain kali!"
Menggumam pelan Deku berkata, "Tapi kupikir ini enak?"
Sembari menempati tempat duduk di samping Deku dan memaksa anak SMP itu agar bergeser sedikit, Katsuki mendengus pelan. Ia mengusapkan satu tangan ke kepala Deku dan berkata, "Seharusnya aku tak heran, seleramu payah, Deku."
Ucapan protes Deku tertahan ketika ia melihat orang lain turut menghampiri meja mereka. Wanita yang tadi datang bersama Katsuki ternyata mengikuti sang hero. Bahkan dengan kasualnya, wanita itu melingkarkan kedua lengan di leher sang hero. Rambut pirangnya yang terurai, berjatuhan ke samping sementara pandangan matanya bertemu dengan Deku.
"Jadi ini yang namanya Deku," wanita itu berkata sambil menunjukkan senyumnya. Satu tangannya terulur dan ia berkata, "Halo, Deku! Kau bisa memanggilku Camie. Salam kenal!"
Deku yang sedikit kebingungan mengangkat tangan hendak menyambut uluran tangan wanita itu. Namun sebelum tangannya bersentuhan, seseorang mencengkeram pergelangan tangannya. Bahkan tatapan matanya yang tajam membuat Deku buru-buru menarik tangan, takut melakukan kesalahan.
"Tak perlu," ucap Ground Zero sembari melepaskan cengkeraman tangannya. "Dia bukan orang penting yang harus kau ingat."
Mata Camie melebar mendengar ucapan pemuda itu. Meski tampak cemberut dan kecewa karena tak bisa mengenal seorang bocah yang manis, Camie tak tampak tersinggung. Bahkan dengan santainya, wanita itu memeluk leher sang hero.
"Pelit sekali, Bakugou-kun!" Wanita itu berkata dengan nada manja padanya. "Padahal aku ingin mengenal bocah manis yang kau sebut-sebut tadi."
Sebelum Ground Zero menghardik, Hawk lebih dulu menyelanya dengan menyapa wanita itu. Dengan senyum terkembang, sang pria bersayap mengalihkan perhatian Camie, menghindarkannya dari amukan pemuda yang minim toleransi tu.
"Oh, Hawk-san, selamat siang!" Wanita itu berkata saat melihat sang hero bersayap yang pernah menjadi nomor satu pada zaman kejayaannya itu. Senyumnya ikut terkembang dan ia berkata, "Aku baru kali ini diundang masuk ke kantor Endeavor-san. Aku tak menyangka di dalamnya ada kantin dan banyak fasilitas lain. Keren sekali!"
Tertawa pelan Hawk berkata bahwa memang itu yang dapat dibanggakan dari agensi milik mantan hero nomor dua. Namun Hawk hanya menyebutnya sepintas dan segera mengalihkannya dengan menanyakan keperluan Camie. Jarang- jarang ia melihat hero lulusan Shiketsu mondar-mandir di agensi ini.
"Bakugou-kun yang mengajakku," tunjuk Camie pada pemuda berambut pirang yang mendecak ketika namanya disebut. "Kami bertemu saat patroli dan ia terlihat terburu-buru. Jadi aku pun mengikutinya sampai ke sini."
"Aku tak mengajakmu," balas Katsuki dengan suara jengkel. Tangannya bergerak, melepaskan pelukan Camie. "Dan sudah kukatakan berulang kali bahwa aku tak suka dipeluk. Sebaiknya kau jaga jarak, Utsushimi."
"Yang benar? Bukannya dari tadi kau tak keberatan? Apa kau tengah menjaga image di depan bocah kecil ini?" Ia berkata sambil melirik Deku.
"Ah! Aku akan sangat terbantu kalau Ground Zero tahu yang namanya menjaga image!" Hawk tiba-tiba ikut berkomentar. "Kalau ia tahu caranya, sudah pasti kami tak perlu menyensor semua umpatan kasar setiap kali ia tampil di televisi. "
Perkataan Hawk membuat Camie tertawa meski Katsuki tampak jengkel mendengarnya. Namun dengan cepat Camie memular bola matanya, mengamati sekeliling sebelum berkata. "Tapi ngomong-ngomong, aku tak melihat Shouto. Di mana dia?"
Pertanyaannya dijawab Hawk dengan murah hati. "Setahuku ia libur hari ini. Kau datang di saat yang kurang tepat kalau ingin bertemu dengannya."
Sesuai dugaan, Camie mengerang pelan. Seperti yang sudah diduga Hawk maupun Katsuki, wanita satu itu mengikuti Ground Zero untuk bisa menemui Shouto. Bahkan ia mengambil tempat di samping Hawk dan menghela napas sebelum melanjutkan ceritanya.
Sementara Katsuki yang jelas-jelas tak tertarik menoleh pada Deku. Ia menatap makanan yang masih belum disentuh itu sebelum berkata, "Makananmu tak dihabiskan?"
Pertanyannya membuat Deku menggeleng pelan. "Aku sudah kenyang."
Hal ini membuat Katsuki mengerutkan dahi. Tanpa peringatan, ia mendekat dan menyentuhkan tangannya pada dahi Deku dan dahinya sendiri. Selama beberapa saat ia memejamkan mata sebelum berkata, "Kau tidak demam. Apa perutmu sakit?"
"Tidak, tidak sakit," jawab Deku cepat sambil menyingkirkan tangan Katsuki dari kepalanya. "Aku tidak apa-apa."
Tentu saja Katsuki tak semudah itu percaya. Mengabaikan ucapannya, pemuda itu menyentuhkan tangannya pada dagu Deku, memaksa anak itu untuk menghadapkan wajah padanya. Ia juga memerintahkan anak itu membuka mulut sementara ia menyipitkan mata. Memerhatikan kalau-kalau ada radang yang tak terdeteksi.
"Tidak radang juga," gumam Katsuki sebelum melepaskannya. "Apa karena tidak enak? Mau kupesankan makanan lain?"
"Tidak, tidak perlu," lagi-lagi Deku menjawab cepat. "Aku sudah kenyang, Katsuki."
"Omong kosong," balas Katsuki cepat. "Kau tak pernah menyisakan makanan favoritmu. Kalau kau sampai menyisakannya pasti ada sesuatu. Cepat katakan padaku atau kita terpaksa ke dokter sekarang juga!"
"Sudah kubilang aku tak apa-apa," jawab Deku sembari menghindari tangan Katsuki. Ia pun menjauh sedikit dari sang hero dan bangkit berdiri. Mengambil ponsel yang ada di atas meja, ia pun berkata, "Aku duluan. Mau mengembalikan buku ke perpustakaan."
Sebelum Katsuki bisa mencegah, anak itu sudah lebih dulu meninggalkan tempat. Katsuki yang bingung hendak mengejarnya sebelum Hawk berdehem meminta perhatian. Menoleh, Katsuki memberinya lirikan tajam yang sepertinya tak digubris oleh si pria bersayap. Malahan pria itu balas tersenyum yang membuat Katsuki ingin meninjunya.
"Jangan terlalu overprotective begitu dong, Ground Zero!" Pria bersayap itu berkata sambil tersenyum menjengkelkan. "Dia sudah beranjak remaja. Kalau kau overprotektive begitu bisa-bisa dia kabur. Kau tahu 'kan kalau anak SMP sekarang tidak suka diawasi?"
"Itu bukan urusan—"
"Sampai memberikan handphone lamamu," ujar Hawk sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Jangan-jangan kau juga menaruh program tracking di sana supaya kau bisa mengawasinya setiap saat?"
Pandangan mata Ground Zero saat itu bahkan membuat Camie sampai menyenggol Hawk dengan sikunya. Meski demikian, pria bersayap itu sepertinya tak mengenal rasa takut. Senyumnya malah semakin lebar melihat reaksi Katsuki. Ia menunjuk pemuda itu dan berkata, "Ah-ha! Aku benar sepertinya. Kau orang tua yang terlalu otoriter. Kutebak kau juga pasti melarang Deku ini dan itu. Saranku, jangan sampai kalian seperti Endeavor-san dan Shouto, ya?"
Sekali ini Katsuki tak repot-repot menjawab. Satu tangannya terangkat dan ia menggebrakkan meja dengan satu tangan. Untung Hawk sudah menghabiskan makanannya, kalau tidak, makanannya pasti akan berakhir seperti makanan Deku. Ia juga sudah bersiap menerima umpatan Ground Zero yang terkenal, namun sang hero sepertinya tak tertarik melanjutkan.
Kakinya melangkah meninggalkan meja yang sebelumnya ia tempati. Langkahnya tegap meski semua gerak-geriknya dipantau oleh setiap orang yang ada di ruangan. Berbeda dengan Hawk, saat ia berjalan tak ada orang yang berani menghalangi jalannya. Semuanya langsung menyingkir terlebih setelah melihat ekspresinya.
Diam-diam mereka mendoakan keselamatan para penjahat yang berpapasan dengan Ground Zero di kota sebelah.
Sejak dulu ia sangat mengagumi para hero. Bermula dari kecintaannya pada sang pahlawan yang selalu tersenyum dengan tubuh berotot dan gigi putih, lalu bergulir menjadi kekagumannya pada keajaiban yang mereka buat dengan quirk. Terlebih saat media memberitakan besar-besaran bagaimana heroiknya aksi-aksi mereka.
Ia yang tak memiliki satu pun kemampuan spesial dibuat terkagum-kagum karenanya. Keberadaan quirk membuat hal mustahil menjadi mungkin. Apalagi saat keragaman itu muncul dan hampir tak ada quirk yang sama persis satu dengan yang lain.
Ketika ia bersekolah pun teman-temannya di kelas memiliki quirk yang unik-unik. Ada yang bisa memanjangkan anggota tubuh, ada yang bisa melar seperti karet, ada yang bisa menarik obyek tertentu. Namun dari semua keunikan quirk itu hanya ada satu orang yang lebih spesial dari yang lain dan orang itu sangat bangga dengan anugerah yang diberikan Tuhan padanya.
Berbekal quirk yang kuat dan unik, anak itu bercita-cita menjadi seorang pahlawan dan mengatakannya pada setiap orang yang ia temui. Tentu saja, setiap orang yang menyaksikan kekuatan quirknya mengiyakan perkataannya. Mereka semua mengatakan hal yang sama. Bahwa anak itu sudah dipastikan akan menjadi hero paling hebat di masa depan.
Tentu saja anak itu sangat bangga. Ia yang mengagumi anak itu pun turut kagum padanya. Mengetahui anak itu akan menjadi hero di masa depan, ia pun berniat mengikuti jejaknya. Meski tak punya quirk, mungkin ia juga bisa menjadi hero. Lalu ketika mereka berdua sudah menjadi hero, mereka akan berpartner dan saling menolong ketika yang lain membutuhkan bantuan.
Ketika ia menceritakan mimpinya pada yang lain, perlakuan yang ia terima sangat berbeda dengan saat anak itu bercerita. Orang yang ia temui mengerutkan alis dan menatapnya dengan sorot mata yang tak ia suka. Beberapa dari mereka menyentuh pundaknya lembut dan berkata bahwa tiidak menjadi hero pun tak apa. Bahwa hero bukanlah pekerjaan satu-satunya dan masih banyak mimpi yang cocok untuknya di masa depan.
Sayangnya, ia tidak mengerti itu. Menjadi hero di masa depan adalah mimpinya, sama seperti mimpi anak itu. Kenapa mereka mengatakan bahwa anak itu mungkin sementara ia tidak? Kenapa mereka semua mencemoohnya dan menganggap bahwa ia terlalu banyak bermimpi?
Ia tidak mengerti mereka. Bahkan ketika ia bersikeras bahwa ia tetap akan menjadi hero dan masuk ke sekolah terbaik untuk program hero, satu kelas langsung menertawakannya, termasuk anak itu. Anak yang ia kagumi dan berencana untuk memasuki program studi yang sama dengannya.
Anak itu tak suka bila seseorang yang tak memiliki quirk sepertinya ikut memasuki program studi yang sama. Bahkan sepulang sekolah anak itu mendatanginya yang tengah mencatat data mengenai hero terbaru yang ia temui. Bukunya direbut dan ia menertawakan analisa yang telah ia buat sedemikian rupa sebagai bekal untuk menjadi hero di masa depan.
Bersama dengan anak-anak lain, anak itu mengingatkannya bahwa ia quirkless. Tak seperti yang lain, ia tak dianugerahi bakat istimewa yang mendukung untuk menjadi seorang hero. Seseorang yang dibenci Tuhan sepertinya sudah seharusnya tahu diri dan tak berangan-angan menjadi seorang hero. Bahkan mereka bahkan menghadiahinya dengan memar dan sebuah buku analisa hero yang sudah berenang-renang di kolam.
Ia kecewa. Tapi hal itu tak membuatnya putus asa.
Paling tidak hingga ia bertemu dengan pahlawan yang paling dikaguminya.
Gerakan yang ia rasakan secara berkala membuatnya terbangun dari mimpi anehnya. Lagi-lagi ia terjaga di saat ia akan melihat wajah seseorang. Selalu seperti itu. Mimpinya selalu terputus di saat yang seru.
Ia pun mengerjap-ngerjapkan mata perlahan sebelum menggerakkan kepala dari sandaran. Pikirnya, ia tengah bersandar pada tumpukan buku-buku dan tengah membaca salah satunya sebelum jatuh tertidur. Hanya saja setahunya buku-buku di perpustakaan tak pernah senyaman dan sehangat ini.
Saat ia masih berusaha menyesuaikan pandangan, seseorang menyebut namanya dan membuatnya menengadah. Ia mengerjap-ngerjap sebelum menyadari bahwa yang memanggilnya adalah orang yang ia kenal. Orang yang belakangan ini tak pernah muncul di saat matahari baru akan mulai terbenam. Apalagi tanpa seragam hero seperti saat ini.
"Katsuki," gumamnya ketika menyadari bahwa sandaran kepala yang nyaman adalah bahu Katsuki dan selimut yang hangat adalah kedua tangannya. Seharusnya ia sudah tahu itu saat pertama kali menghirup aroma manis yang sangat familiar.
Ia pun sangat tergoda untuk kembali memejamkan mata dan bergelung dengan nyaman di sana. Sebelum tiba-tiba ia teringat akan sesuatu dan memaksa diri untuk bangun. Ia harus berjuang melawan kantuknya dan melepaskan diri.
"Mau turun!" Ia berkata sambil menggerakkan tangan, berusaha keluar dari dekapan pemuda berambut pirang itu. Menggeliat, Deku membuat pegangan Katsuki sedikit melonggar meski tak ada gunanya karena pemuda itu dengan cepat mengeratkan lagi pelukannya. Terus begitu hingga akhirnya kesabaran Deku habis dan ia berkata, "Katsuki! Lepas!"
Memang ia tahu bahwa Katsuki jauh lebih kuat darinya. Berbeda darinya yang sangat kurus kering, lengan Katsuki sangat kekar dan kokoh. Sepasang lengan yang membuatnya merasa aman berada di dalamnya, sekaligus penjara kokoh yang tak mungkin bisa ditembus apabila pemuda itu sudah keras kepala. Meronta jelas tak mungkin makanya ia berteriak dan kalau teriakan tidak mempan maka ia masih punya satu cara.
"Katsuki," panggilnya sekali lagi. Suara yang awalnya berupa jeritan perlahan mulai melunak. "Lepas! Tolong!"
Sekali ini pemuda yang menggendongnya itu menghentikan langkah. Paling tidak pemuda itu kembali memusatkan perhatian padanya. Meski ekspresi yang ia lihat sangat berbeda dengan Katsuki yang ia kenal.
Katsuki yang ia tahu selalu cemberut, tapi pandangannya tak pernah kosong. Walau ekspresinya galak, sorot yang dipancarkan dari iris semerah delima itu tak pernah dingin. Selalu ada kehangatan yang bisa ia temukan di sana. Berbeda dengan Katsuki yang ini.
"Apalagi kali ini?" Pemuda berambut ash blonde itu berkata. "Kenapa sedikit-sedikit kau minta turun, kau minta lepas. Memangnya kau ini kenapa? Tubuhmu yang sakit atau apa?"
"T-tidak," gumam Deku dengan suara mencicit. Kaget karena tiba-tiba Katsuki menyentaknya. "H-hanya kaget. A-aku bisa jalan, kautahu? Kau tidak perlu menggendongku."
Mendecih, Katsuki kembali berkata, "Aku juga tahu kau bisa jalan. Memangnya kau ini anak kecil?"
"B-betul," ujar Deku menyetujui ucapannya. "Makanya tolong turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri, Katsuki! Sungguh!"
Kelopak mata si merah delima memicing mendengar ucapan anak yang lebih muda darinya itu. Seolah tak terpengaruh oleh beratnya, pemuda itu mengangkat Deku hingga pandangan mereka sejajar sebelum mempertemukan dahinya dengan dahi Deku. Saat itu, mereka diam selama beberapa saat sebelum Katsuki berkata, "Tidak bisa. Kau demam! Bagaimana kalau kau tiba-tiba pingsan?"
Deku yang kebingungan mengerutkan dahi. Kalau benar ia demam, ia pasti sudah merasa tidak nyaman dari tadi. Ya, ia memang tidak nyaman, tapi bukan karena ia demam. Itu karena hal lain.
"Aku tidak demam," ujar Deku bingung. "Dan aku juga takkan pingsan."
Namun sepertinya Katsuki tak mendengarkan. Ia menyudahi percakapan mereka dengan mendorong punggung Deku hingga kembali bersandar pada bahunya dan kembali berjalan. Deku yang putus asa masih mencoba untuk membujuk Katsuki. Hingga akhirnya ia menyudahi aksinya karena Katsuki tak mendengarkannya. Ia pun mengunci mulutnya dan tak mengucapkan apa pun.
Keduanya menyusuri koridor yang ramai oleh orang-orang yang akan pulang kantor sore itu. Meski demikian keduanya tak memusingkannya berhubung tengah tenggelam dalam dunia masing-masing. Hampir tak ada yang bertegur sapa hingga mereka turun ke lift dan hendak berjalan ke basement, di mana mobil Katsuki disimpan. Barulah ketika mereka melalui koridor yang jarang dilalui orang, Katsuki kembali membuka mulutnya. Tangannya menyentuh kepala Deku lembut dan ia berkata, "Seharusnya kau bilang kalau kau sakit."
Kepala Deku yang tengah bersandar pada bahu Katsuki pun terangkat. Dahinya berkerut karena sang hero terus-terusan menganggapnya sedang sakit. Ia yang tak merasakan keanehan apapun akhirnya angkat bicara.
"Aku baik-baik saja, Katsuki," ujarnya. "Sungguh!"
"Tidak," jawab pemuda itu. "Kau tidak baik-baik saja."
"Tapi—"
"For f*ck sake, wajahmu merah," ujar Katsuki sambil menatapnya. "Waktu kau sakit pun wajahmu merah dan tahu-tahu kau demam tinggi. Sekarang memang belum terdeteksi, tapi aku yakin ada sesuatu yang salah. Kau hanya tidak menyadarinya."
Iris kehijauan yang menatapnya perlahan-lahan semakin melebar. Bersamaan dengan itu, rona merah yang sedari tadi dilihat Katsuki pun menyebar membuat anak yang ada di pelukannya tergagap. Saat itu Katsuki menyentuh pipinya dan dengan hidung yang nyaris berdekatan ia berkata, "Tuh 'kan! Apa kataku?"
Menundukkan kepala Deku bahkan tidak tahu bagaimana harus menatap Katsuki. Belakangan ini ia selalu merasakannya, namun ia yakin ini bukan sakit seperti yang disangka pemuda itu. Jantungnya memang berdebar-debar dan napasnya terasa sesak. Saat itu, wajahnya akan terasa panas dan ia bahkan tak berani menatap Katsuki secara langsung. Tapi bukan berarti ia tak suka sensasi ini.
Hanya saja ia tak tahu apa sebenarnya yang ia rasakan. Tadi pun ia bingung karena tiba-tiba kehilangan napsu makan. Saat wanita itu datang bersama Katsuki, memeluknya seperti cara Deku kecil memeluknya, entah kenapa Deku merasa tidak nyaman. Itu membuatnya ingin melarikan diri. Membuatnya menepis uluran tangan Katsuki dan menjauh.
Walau ia sedikit senang saat mendengar Katsuki benci dipeluk, ia tetap saja khawatir. Kalau pemuda itu tak suka, bukankah itu berarti ia juga takkan memeluk Deku? Apakah itu sebabnya makanya Katsuki jarang memeluk Deku besar? Karena ia... tidak suka dipeluk?
"Deku?"
Matanya terasa panas dan tanpa terasa tetesan air jatuh menuruni pelupuk matanya. Ia pun terkejut dan buru-buru mengulurkan tangan, menghapusnya. Hanya saja, air itu tak berhenti mengalir. Semakin ia mencoba menghapusnya, air itu akan kembali turun. Membasahi pipi dan meninggalkan jejak hingga jatuh ke bajunya.
Saat itu, kedua tangan yang kokoh itu menariknya mendekat. Kedua tangannya mengunci Deku rapat. Harum karamel tercium di udara, menghentikan tetes-tetes airmata yang sebelumnya tak berhenti mengalir.
"Apa yang terjadi?" Suara itu berkata lagi. Tidak ada nada paksaan di sana. Hanya ada suara yang begitu tenang bagaikan laut sebelum badai mengamuk.
Deku menggeleng sementara ia membenamkan kepala di bahunya. Ia tak bisa mengatakannya.
Cengkeraman tangan Katsuki mengerat, bergetar seolah menahan amarah. Tapi Deku tetap tertunduk. Tak mau berkata apa pun. Hingga akhirnya Katsuki terpaksa menyerah. Ia membiarkan Deku tertunduk sementara tangannya mengusap rambut hijau yang lembut.
Merasakan tangan Katsuki di atas kepalanya, Deku pun tertegun. Pemuda yang katanya tidak suka disentuh oleh orang lain itu justru menggendongnya dan membelainya lembut. Pemuda yang melarang setiap orang untuk mendekat justru memeluknya erat. Mendekapnya seolah tak ingin melepaskannya.
Apakah artinya itu? Apakah ia diizinkan untuk berada di dekatnya dan memeluknya? Tapi bukankah Katsuki tak suka? Tapi—
Menghela napas, Deku pun mengangkat kepalanya. Iris kemerahan kembali bertemu dengan iris hijau miliknya. Dengan tangan berada di pundak Katsuki, ia pun memanggil nama pemuda itu, dan berkata, "Boleh aku memelukmu, Katsuki?"
Mengerjap pelan, pemuda itu menatapnya. Ketika itu sorot mata yang lembut kembali diarahkan padanya. Sama seperti pandangan yang selalu didapatkan oleh Deku kecil.
"Sejak kapan kau perlu izin untuk melakukannya?"
Deku tak mengatakan apa pun. Ia mengulurkan tangan dan melingkarkan kedua tangannya di leher Katsuki. Kepalanya dibenamkan di antara ceruk lehernya menghirup dalam-dalam aroma karamel yang menguar dari tubuh pemuda itu.
Dan saat itu juga, semua kegelisahannya lenyap.
.
.
.
(t.b.c)
A.N :
Dan pada akhirnya Katsuki tetep bawa ke dokter karena dia keras kepala? LOL XD siapa di sini yang suka Deku gede dipeluk? XD
Aniway :
WinYuzukiN : iya Kacchan! Ayo sikat Deku-nya! (eh?)
el-Vtrich : bucinnya akut memang Lord Explodo Murder ini. Sekalinya uda suka, bisa sampe di tracking biar nggak kemana-mana :P ngomong-ngomong soal chinrest, idenya juga diambil dari situ. Suka banget pas episode jadi anak kecil XD makanya lahir ff Deku kecil :D
Yuk, aku mau buat jerit-jerit lagi tengah malem nih. Apa kali ini El-chan juga akan jerit-jerit pas baca Deku melok Kacchan? :P
Waduh, masalahnya siapa atau apa yang dikurung aja cuman disebut makhluk biologis sama Hawk. Hawk yang intel aja cuman bisa nyelidikin sampe situ T^T apa daya Cyan yang hanya manusia biasa tanpa quirk? XD Gimana kalau kita sama-sama push Hawk-san biar ungkapin semua misterinya? Daripada dia ngebully Kacchan?
Makasih banyak buat pengertiannya El-chan XD sebisa mungkin aku berusaha apdet. Tapi berhubung saia nggak libur (jatah cuti abis, hix) jadi sepertinya nggak bisa sebanyak saat Lebaran. But aniway, wish me luck and keep enjoy the story yah :D
NamuraShicie: iya nih, Bang Dispenser bisa aja teorinya. Seseorang yang lebih kuat dari AFO katanya. Hm, apa ada ya? Aduh Bang Hawk, ayo buruan diungkapin dong misterinya!
hanazawa kay: semakin besar dan semakin besar, lalu melayang, terbang, lenyap? (loh?)
Name-chan: waduh! Bisa ditenggelemin ke laut mati sama Lord Explodo Murder kalo nyulik Deku. Uda bucin kayak gitu, kayaknya uda nggak ada obatnya XD
Wahhh, teori apa nih? Duh, mari kita berdoa supaya GPS Kacchan buat tracking Deku cukup bisa diandalkan supaya Deku gak kenapa2 XD
Also, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D
For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD
