Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.
Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi
Until we meet again by cyancosmic
.
.
.
Enjoy!
Ask 18. Which side are you?
Suara denting elevator membuat dua orang yang tengah berada di dalam lift itu mengangkat kepala. Pandangan keduanya tertuju pada layar yang menampakkan nomor lantai di atas sejumlah tombol pada panel lift. Ketika melihat bahwa angka yang ditunjukkan merupakan lantai yang mereka tuju, keduanya pun melangkah keluar.
Di sekeliling mereka, bau zat kimia dengan disinfektan yang kuat memenuhi hidung keduanya. Meski demikian, mereka tetap berjalan menyusuri koridor yang didominasi warna putih dengan barisan kaca terletak di satu sisi. Tak ada dari keduanya yang bicara hingga akhirnya salah satunya menoleh dan mencoba membuka percakapan.
"Maaf mengganggu jadwalmu yang padat, Shouto," ujar anak remaja yang tak lebih tinggi dari pemuda di sampingnya. Satu tangannya memegang bunga berwarna putih yang baru ia beli di toko bunga terdekat. "Tapi terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menemaniku."
"Tak masalah," jawab pemuda di sampingnya sembari memberikan senyumnya yang ramah. Dalam balutan kemeja dan celana jeans, sang hero nomor dua tampak seperti pemuda biasa. Meski rambutnya yang seperti bendera suatu negara seringkali membuatnya mudah dikenali penggemar. "Lagipula aku pun ingin menjenguk Kirishima tapi tak pernah sempat. Beruntung kau mengajak."
"Umh, ya," Deku menjawab ragu-ragu. "Tapi kau jadi harus menemaniku karena—"
"Menggantikan Bakugou?" Shouto menebak dengan cepat. Sembari menggerakkan kepala, pemuda dengan iris dwiwarna itu hanya berkata, "Jangan dipikirkan! Lagipula ini sudah sewajarnya sebagai partner orang itu."
Memberikan senyum simpul, anak remaja di sampingnya pun berkata, "Katsuki beruntung berpartner dengan Shouto."
Menanggapi ucapannya, Shouto menggerakkan tangan dan mengacak-acak rambut anak di sampingnya yang sehijau daun. Padanya, Shouto berkata, "Hanya kau seorang yang berpikir begitu, Deku. Masalahnya baik aku maupun Bakugou tak berpendapat demikian."
Deku menggerakkan kepala mengikuti gerakan tangan Shouto. Ia sendiri tertawa menanggapi ucapan pemuda itu mengingat hubungan dua hero papan atas yang layaknya kucing dan anjing. Bagi Deku, pertengkaran keduanya terlihat seperti main-main. Ia tak pernah tahu bahwa keduanya benar-benar serius menjatuhkan satu sama lain saat berdebat atau beradu mulut.
Sementara mereka bercakap-cakap tanpa sadar langkah keduanya telah sampai di depan ruangan dengan papan nama bertuliskan 'Kirishima' di pintunya. Deku mengentuk pintu terlebih dulu sebelum menggesernya terbuka. Kakinya melangkah melewati ambang pintu sementara Shouto mengikuti di belakang.
Di tengah ruangan yang berukuran sepuluh tatami, partner Ground Zero sebelumnya terbaring diam di atas ranjang. Di sampingnya, sebuah monitor menampilkan gelombang untuk mengukur detak jantung. Selang infus menembusnya melalui salah satu lengan sementara seorang perawat mengukurnya secara berkala setiap waktu.
Perawat yang melihat bunga di tangan Deku menawarkan diri untuk membantunya meletakkan bunga itu di samping ranjang. Deku pun menerima tawarannya dan membiarkan perawat itu mengganti bunga yang lama dengan bunga yang ia bawa. Selesai melakukannya barulah perawat itu undur diri dan meninggalkan keduanya.
Begitu perawat itu menutup pintu barulah Shouto mengalihkan perhatiannya pada pemuda berambut merah yang terbaring di atas ranjang. Melihat kondisinya, Shouto tak pernah menyangka bahwa acara reuni mereka akan berakibat fatal seperti ini. Terlebih hero yang satu ini terkenal akan quirk perkerasan yang seharusnya menjadikannya hero dengan teknik pertahanan paling tinggi dibanding yang lain. Tapi justru Kirishima dulu yang tumbang dibanding yang lain.
Ia pun hanya bisa menghela napas dan berkata, "Sudah lebih dari dua minggu kondisinya seperti ini."
Deku menatap Shouto sebelum mengangguk pelan. "Iya."
"Kukira Twice tidak sebegitu berbahaya," ujar Shouto mengingat siapa yang menjadi lawan sang hero. "Tapi sepertinya aku salah. Bila Kirishima saja sampai seperti ini, berarti Twice atau siapapun lawannya sudah semakin kuat."
Masih dengan pandangan yang tertuju pada Kirishima, Deku pun berkata, "Kudengar dari Shoucchan, Eicchan jadi seperti ini bukan karena serangan yang ia terima."
Alis Shouto terangkat. Ia belum pernah mendengar hal ini. Selama ini ia mengira sang hero berada dalam kondisi koma karena serangan Twice. Yang baginya sangat aneh karena serangan seperti itu harusnya dapat dipulihkan tanpa membuatnya kehilangan kesadaran dalam waktu yang panjang.
"Shoucchan bilang ini karena rebound," lanjut Deku. "Quirk yang ia gunakan melebihi kapasitas dan berbalik pada tubuhnya sendiri. Karena itu Eicchan menjadi seperti ini."
Rebound. Shouto memang pernah mendengar sedikit tentang kasus di mana quirk seseorang mengalami rebound dan mencelakakan penggunanya. Efeknya dapat berbeda-beda bahkan tak jarang kasus yang menimbulkan kematian karena besarnya beban quirk pada tubuh. Bila benar itu yang terjadi, maka Shouto tak heran melihat temannya kehilangan kesadaran hingga selama ini. Justru seharusnya mereka lega karena rebound yang Kirishima alami tak sampai merenggut nyawanya.
"Cepatlah sembuh, Eichan," suara Deku menyadarkannya. Anak itu menyentuhkan tangannya di atas tangan sang hero. "Cepatlah sembuh!"
Menghela napas, Shouto yang berdiri di samping pun menepuk bahunya. Ia menunggu beberapa saat hingga Deku menoleh dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Baru saat itu Shouto menurunkan tangan. Pandangannya kembali tertuju pada sang hero yang terbaring kaku.
"Cepatlah sembuh, Kirishima," ujarnya sungguh-sungguh pada sang hero. "Aku takkan sanggup bertahan sampai sebulan bersama orang itu."
Di sampingnya Deku menoleh. Gurat kesedihan yang sebelumnya mampir di wajahnya menghilang. Ia tertawa mendengar ucapannya dan berkata, "Aku tak tahu bahwa Shouto senang bercanda. Kukira kau orang yang sangat serius."
Alis Shouto terangkat. Meski hendak menyangkal pun sepertinya anggapan Deku tentangnya takkan berubah. Karena itu ia pun tak banyak berkomentar. Malah ia memberikan senyumnya pada anak itu dan berkata, "Aku juga tak tahu bahwa aku orang yang seperti itu."
Ucapannya membuat Deku kembali tersenyum lebar dan anak itu berkomentar bahwa Shouto harus sering-sering melakukannya saat di kantor. Hal itu ditanggapi Shouto dengan memutar bola matanya. Membayangkan ia mengucapkan gurauan di depan Hawk atau ayahnya membuatnya mual entah kenapa.
"Dulu Eicchan selalu membuat suasana menjadi ramai," ujar Deku sambil memegangi tangan sang hero. "Sekarang setiap kali berada di suasana yang ramai, entah mengapa aku merindukan Eicchan."
Sekali lagi Shouto hanya bisa terdiam mendengar cerita dari bibir Deku. Meski hanya sepintas mengenal Kirishima, Shouto tahu bahwa sang hero memang selalu membuat suasana menjadi ramai dan menyatukan seisi kelas. Bahkan sewaktu Bakugou diculik para penjahat, Kirishima lah yang mengusulkan untuk menolongnya. Kalau bukan karena inisiatif pemuda itu, ia sendiri pun takkan berpikir untuk menyelamatkannya. Tak heran kalau sekarang Deku merindukan pemuda itu. Pastilah pemuda itu punya arti yang sangat besar untuknya.
Karena itu selama beberapa saat mereka tak lagi bicara dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sementara pandangan Shouto menerawang pada mesin yang menampilkan detak jantung Kirishima yang statis, Deku terus menggenggam tangan pemuda itu. Anak itu terus melakukannya hingga akhirnya Shouto merasakan ponselnya bergetar. Ia pun mengeluarkannya dari kantong dan menatap layarnya.
Satu pesan tak penting dari Bakugou yang menanyakan di mana mereka sekarang. Ia bahkan tak repot-repot membalasnya dan memasukkannya ke dalam kantung. Hanya saja, saat ia mengecek jam tangan dan menyadari berapa lama waktu yang telah mereka habiskan di rumah sakit, mau tak mau ia angkat bicara.
"Apa kau sudah selesai, Deku?" Shouto akhirnya bertanya. "Bakugou sudah menanyakanmu."
Deku mengangguk pelan, "Ya, sudah selesai."
"Kalau begitu, ayo pulang!" Shouto berkata lagi. Ia melihat Deku kembali mengangguk mendengar ucapannya dan menggumamkan sesuatu pada Kirishima sebelum menghampiri Shouto. Begitu ia sudah berada di sisinya, Shouto menggeser pintu dan keluar dari ruangan tempat Kirishima dirawat.
Berjalan di koridor, keduanya hampir tenggelam dalam pikiran masing-masing. Setidaknya hingga Shouto kembali membuka percakapan. Kembali melirik jam tangannya, ia berkata, "Bagaimana kalau kita makan siang dulu sebelum kembali ke kantor? Ini sudah pukul satu siang."
Elevator terbuka sebelum Deku sempat menjawab. Keduanya pun memasuki elevator terlebih dulu dan menekan tombol untuk sampai lantai dasar. Baru setelah pintu tertutup Deku pun berkata, "Ah, ya. Boleh saja. Apa kau tahu yang enak di sekitar sini, Shouto?"
"Sebentar," ujar Shouto sambil menarik keluar ponsel dari saku bajunya. Ia mengusapkan jemarinya di layar dan mengetikkan sesuatu di sana. Selama beberapa saat pandangannya tetap tertuju pada layar bahkan hingga elevator berdenting dengan pintu yang terbuka. Sembari berjalan, ia pun berkata, "Beda dua blok dari rumah sakit ada kedai soba yang enak. Apa kita ke sana saja?"
"Kedengarannya boleh juga," ujar Deku sambil mengangguk dan mengikuti Shouto berjalan keluar dari bangunan. Keduanya melewati teras dan terus menuju gerbang depan. "Dari sini sebaiknya kita ke mana?"
Shouto kembali mengecek ponselnya. Ia menunjukkan satu arah pada Deku sementara pandangannya mengawasi layar. Keduanya pun berjalan di trotoar hingga tiba di daerah pertokoan yang ramai. Begitu banyak orang berbelanja dengan berbagai pajangan menarik di etalase. Hal ini membuat Shouto tak hanya berjalan sembari mengawasi ponselnya saja. Ia juga perlu mengawasi Deku yang sesekali akan berhenti untuk melihat sesuatu yang dipajang di toko. Bahkan lebih dari sekali Shouto akan menoleh dan menyadari bahwa Deku masih tertinggal tiga sampai lima toko di belakang.
Namun ia tak pernah memaksa Deku untuk buru-buru mengikutinya. Dengan sabar, ia menunggu hingga Deku selesai mengamati dan menoleh padanya. Saat pandangan mereka bertemu, Deku akan menjelaskan apa yang menarik perhatiannya. Seperti juga kali ini, saat anak itu tengah mengamati sebuah televisi berlayar besar dengan harga fantastis di toko elektronik. Ketika anak itu menoleh barulah Shouto bertanya, "Kau mau membeli televisi, Deku?"
Pertanyaannya menuai gelengan dari anak itu. Mengikuti jemarinya Shouto pun mengarahkan pandangan kembali pada layar dan mendengar anak itu menjelaskan, "Bukan itu, Shouto. Lihat! Ada penyerangan terhadap hero di kota ini."
Ia memicingkan mata saat melihat penjahat lama yang dulu pernah mereka tangkap kembali bebas berkeliaran. Terlebih ini bukan sekedar penyerangan, penjahat itu lebih tepat disebut meneror para hero. Bahkan sudah delapan belas hero terbunuh saat menjalankan patroli di kota Hosu. Dengan angka setinggi itu tak heran ia menjadi headline news saat ini. Shouto justru merasa bingung karena berita itu baru diketahuinya sekarang dan permohonan penangkapannya belum mencapai agensi mereka.
"Stain," ucap Deku saat membaca nama yang tertera dengan foto sang penjahat terpampang di layar. Penjahat itu tampil dengan wajah menyerupai tengkorak yang setengahnya dibalut oleh perban menutupi hidung yang hanya menyisakan dua lubang hitam, dan mata cekung yang sama seperti yang dulu pernah diingat Shouto. "Katanya ia berada di kota ini."
"Ah, ya," ujar Shouto dengan mata memicing tajam. Memikirkan penjahat yang pernah nyaris membunuhnya dan menghancurkan karir kakak Iida Tenya membuatnya geram. Tangannya mengepal erat mengetahui bahwa penjahat itu masih berkeliaran di sekitar sini. "Benar."
Menoleh padanya, Deku pun berkata, "Apa sebaiknya kita segera pulang?"
Shouto menoleh. Untuk sesaat ia lupa bahwa ia tengah berjalan bersama seseorang. Terlebih orang itu orang yang cukup penting untuk Bakugou Katsuki. Karenanya, mengesampingkan niatnya untuk memburu Stain, ia pun berkata, "Jangan khawatir! Ia takkan menyerangmu. Stain hanya menyerang para hero karena menurutnya mereka adalah hero palsu."
"Aku tidak khawatir soal itu," ujar Deku sambil menggeleng. "Tapi bagaimana kalau ia tiba-tiba menyerangmu, Shouto?"
Mengerjap pelan Shouto terkejut karena tak menyangka itulah yang anak itu pikirkan. Sembari menyentuhkan satu tangan di atas rambut hijau Deku, ia pun berkata, "Seharusnya aku adalah orang terakhir yang perlu kau khawatirkan."
"Tapi—"
"Aku pernah berhadapan dengannya," ujar Shouto sambil menatap layar. Kedua iris dwiwarnanya terpaku sepenuhnya pada foto sang penjahat. "Dan aku malah sangat ingin bertemu lagi dengannya."
Deku menggerakkan kepala. "Kau pernah berhadapan dengannya?"
Mengangguk, Shouto pun mundur selangkah dari etalase. Sikapnya membuat Deku mengikutinya dan kembali berjalan. Tanpa sadar, ia sudah mengikuti Shouto dan meninggalkan televisi yang sebelumnya menarik perhatiannya.
"Sewaktu aku masih di UA dan sedang menjalani program magang dengan ayahku," jelas Shouto yang terus berjalan menembus keramaian. Ia berbelok di salah satu gang, lalu gang satu lagi hingga akhirnya berhenti di sebuah kedai makan bergaya Jepang modern. Setelah memastikan dengan ponselnya bahwa mereka berada di kedai yang tepat, barulah ia menggeser pintu dan masuk ke dalam.
Keduanya masuk ke dalam bangunan dan disambut dengan seorang pelayan. Interior di dalamnya juga cukup sederhana. Hanya ada beberapa bangku yang diset sepasang-sepasang dan bangku berderet menghadap ke konter. Perabotan dan finishing interiornya pun kebanyakan terbuat dari kayu. Dengan jendela besar menghadap ke tepi jalan sebagai sumber penerangan saat siang hari, kedai soba itu tampak sangat nyaman.
Setelah mengambil tempat di salah satu sudut, keduanya menerima buku menu dan melihat-lihat isinya. Baik Deku maupun Shouto menjatuhkan pilihan pada menu soba yang tampak menarik. Bedanya, Deku memesan soba biasa sementara Shouto memesan soba dingin yang langsung dicatat oleh si pelayan. Baru setelah memastikan bahwa pesanannya benar, barulah pelayan itu pergi meninggalkan keduanya.
"Aku baru tahu ada kedai soba di dekat sini." Shouto berkata sambil mengedarkan pandangan pada pajangan berupa deretan sendok bebek berwarna merah dan hitam yang digantung di dinding.
"Aku juga," ujar Deku yang mengikuti Shouto dan melihat ke kanan kirinya. Ia hendak berkomentar lebih lanjut ketika tiba-tiba kantung jaketnya bergetar. Sedikit panik, ia merogoh-rogoh kantung untuk mencari ponselnya yang terselip dalam.
Ketika berhasil mendapatkannya, ia membaca nama yang tertera di layar. Alisnya terangkat dan ia pun menggeser layar terlebih dulu sebelum menempelkan benda itu ke telinga. "Moshi-moshi, Katsuki."
Nama itu membuat Shouto menurunkan gelas yang tengah dipegangnya dan menatap Deku. Ia tak heran bila pemuda itu langsung menghubungi anak yang dititipkan padanya itu ketika ia tak membalas pesan. Padahal belum ada satu jam sejak ia mengabaikan pesan sang hero. Ternyata hanya sejauh itulah batas kesabaran sang pemuda bergelar hero nomor satu.
"Apa?...- Sebentar, aku tidak bisa mendengarmu," ujar Deku sambil menarik ponselnya. Ia mengerutkan dahi melihat bahwa sinyalnya lemah di dalam sana. Karenanya ia pun bangkit dari kursi dan berjalan ke pintu. Berhubung ia merasa bahwa sinyalnya masih lemah, ia pun menggeser pintu untuk keluar dari restoran.
Setelah berada di luar, ia masih belum bisa mendengar suara Katsuki. Karenanya ia mengambil beberapa langkah dari restoran dan mencoba memanggil namanya lagi. Hanya saja suara yang ia dengar masih terpatah-patah. Ia pun berjalan sedikit lebih jauh ke tempat yang lebih jarang bangunan dan memanggil nama Katsuki kembali. "Katsuki? Kau bisa mendengarku?"
Kali ini suara yang diterimanya jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Ia bisa mendengar lawan bicaranya berkata, "Di mana kau, Deku?"
"Masih di kota Hosu," ujar Deku sambil menempelkan ponselnya. "Kami baru selesai menjenguk Eicchan dan sedang makan soba. Sebentar lagi kami akan naik kereta untuk pulang ke Musutafu."
"Jangan kebanyakan makan," suara di ujung telepon berkata. "Aku pun sedang dalam perjalaan ke kota Hosu."
Terkejut, tanpa sadar Deku meninggikan suaranya, "Katsuki juga mau ke sini? Bukankah Katsuki seharusnya berada di Musutafu?"
"Tiba-tiba saja jadwalku diganti setelah makan siang," jawab lawan bicaranya itu. "Jadi setelah ini aku akan menyelesaikan sisa waktu dengan patroli di sana. Mungkin selesai kerja aku bisa menjenguk Kirishima."
"Waktu jenguknya sudah habis saat jam kerjamu berakhir, Katsuki," ujar Deku sembari berjalan berputar-putar di sekitar perumahan. "Tapi kenapa tiba-tiba menukar shift patroli?"
"Entah," jawab Katsuki asal, "mereka tiba-tiba saja menukarnya. Aku tidak tahu."
Baru saja Deku hendak menggumamkan 'aneh' ketika ia tiba-tiba teringat berita yang baru saja dilihatnya. Berita yang menayangkan tentang seorang penjahat yang menamakan dirinya sendiri 'Hero Killer'. Apakah karena itu mereka mengirim Katsuki ke kota Hosu? Kalau memang begitu bukankah itu artinya mereka mengirim Katsuki ke dalam bahaya?
Buru-buru Deku memanggil namanya lagi dan berkata, "Katsuki, sebaiknya kau jangan datang."
"Hah?"
"Jangan ke sini," ucap Deku sembari menggenggam ponselnya erat-erat. "Sebaiknya kau kembali ke Musutafu. Di sini berbahaya."
"Berba—Hei! Kalau tahu berbahaya kenapa kau dan IcyHot tidak segera kembali? Mana dia? Biar aku bicara dengannya untuk segera membawamu pulang,"
"Ini bukan tentangku, ini tentang seseorang yang bernama Hero Killer dan dia mengincar para hero. Kalau kau datang ke sini maka kemungkinan besar kau akan langsung di-," ucapan Deku terhenti ketika mendengar suara teriakan seseorang tak jauh dari tempatnya berdiri. Suara Katsuki yang memanggil-manggilnya pun tak ia dengarkan. Ia menurunkan ponsel dan mencoba menajamkan telinga.
Sumber suara yang ia dengar sepertinya berasal dari celah sempit di antara bangunan, bagian belakang pertokoan yang mereka lihat sebelumnya di jalan besar. Kakinya melangkah ke sana sementara ponselnya digenggam di tangan. Meski ia tak lagi mendengar suara yang membangkitkan bulu romanya itu, ia masih tak bisa mengenyahkan rasa penasarannya. Maka itu ia terus melangkah hingga mencapai sisi terdalam di bagian belakang bangunan.
Ketika ia menginjakkan kaki di sana, ia bisa melihat seseorang tersungkur tak bergerak. Cepat-cepat ia mendekat, mencoba menghampiri. Ia belum mematikan sambungan ponselnya sehingga ia kembali menempelkan telinga dan berkata, "Katsuki? Katsuki kau bisa mendengarku?"
Terdengar hembusan napas penuh kelegaan sebelum suara itu menjawab dengan tak sabar, "Aku mendengarmu. Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba menghentikan ucapan seperti itu?"
"Ada seseorang," ucap Deku dengan nada cemas yang tak repot-repot ia sembunyikan, "seseorang tersungkur, aku tidak tahu kenapa tapi tolong panggil bantuan. Lokasinya dekat kedai soba, Shouto bisa memberikanmu informasi. Letaknya ada di belakang bangunan, gelap, beda satu blok dari pertokoan yang menjual berbagai fashion juga elektronik, kau bisa mencapainya dari—"
Suara Deku kembali terhenti ketika ia melihat seseorang bergerak dari balik kegelapan. Selangkah demi selangkah hingga akhirnya sosok itu menunjukkan wujud aslinya. Mata cekung, dengan wajah diperban hingga sebatas hidung yang hanya terlihat bagaikan dua lubang udara kosong. Rambut hitamnya berantakan sementara satu tangannya menggenggam pedang bergerigi dan berlumuran darah.
"Deku? Deku? Ada apa? Hei? Deku?"
Deku tak bisa menjawab. Irisnya yang kehijauan terpana saat menatap sosok yang sama dengan yang dilihatnya di televisi. Terlebih ketika sosok itu melangkahkan kaki semakin dekat ke arahnya. Ia pun hanya bisa mundur selangkah lalu selangkah lagi sementara pandangannya terus terpaku pada sosok itu.
Herannya sosok itu tak juga menghentikan langkah. Karena itu Deku terus berjalan mundur sementara ia memeluk ponselnya di dada. Ia bahkan tak bisa mengucapkan sesuatu saking terkejutnya akan kemunculan sang penjahat sendiri di depannya. Ia terus berjalan mundur hingga sesuatu menyandungnya dan membuatnya jatuh terduduk.
Penjahat itu pun berhenti di depannya. Mata dingin menatapnya tajam sementara Deku menelan ludah. Ponselnya digenggam erat-erat sementara pandangannya tertuju pada pisau di tangan pria itu. Ketika ia tengah memikirkan bagaimana caranya meloloskan diri, pria itu membuka mulut dan bicara.
"Izuku..."
Mengerjap, Deku menatap pria yang kini menyamakan tinggi dengannya. Kedua kakinya ditekuk sementara kepalanya dimiringkan. Dengan pandangan tertuju sepenuhnya pada Deku, sekali lagi pria itu berkata padanya, "Izuku?"
Kebingungan, Deku tak tahu harus berkata apa. Ia ingat nama itu. Gadis berambut pirang yang bernama Toga pun memanggilnya demikian seolah-olah itu adalah namanya. Tapi ia tak mengenal gadis itu, begitu juga dengan pria ini. Apakah mereka berdua salah orang?
"Toga bilang kau sekecil ini," ujar pria itu sambil menggerakkan tangan sejajar dengan kepalanya. "Tapi sekarang kau sebesar ini. Apa itu karena efek reboundnya sudah mulai habis?"
Apa maksudnya? Apakah mereka membicarakan rebound Kirishima? Tapi kenapa pria ini tiba-tiba menanyakannya soal itu? Ia tidak mengerti.
"Kenapa kau ada di sini?" Pria itu kembali menanyainya sambil menggerakkan kepala bingung. "Di sini terlalu banyak hero. Bukankah kau bilang mereka membuatmu muak?"
Keningnya berkerut dalam. Lagi-lagi pertanyaan yang tidak ia mengerti. Ia pernah bilang begitu? Kapan? Bukankah... ia menyukai para hero bahkan meneliti mereka? Kenapa—
"Ayo!" Pria itu mengulurkan tangannya yang berlumuran darah pada Deku. "Jangan diam di sini! Ayo pergi sebelum hero yang lain menemukanmu!"
Deku tak mengerti. Ia menatap pria itu juga tangannya yang masih terulur padanya. Situasi ini benar-benar janggal untuknya. Pria di hadapannnya, yang dikenal sebagai hero killer, memang hanya mengincar para hero. Tapi ia yakin pria ini pun takkan begitu ramah pada penduduk biasa. Malah Deku terkejut karena sikapnya begitu baik. Bahkan rasa takut yang sebelumnya mendera Deku berangsur-angsur menghilang dan tangan yang berlumuran darah itu tak lagi menakutinya. Sangat berbeda dengan saat ia berada di dalam gedung Endeavor yang seluruhnya merupakan hero. Orang ini mungkin bukan orang jahat.
Tanpa disadari, Deku perlahan mengulurkan tangan. Ia penasaran akan orang ini dan penasaran ke mana orang ini akan membawanya. Mungkinkah apabila ia mengikutinya ia akan tahu sesuatu? Mungkinkah orang ini mengetahui sesuatu tentang dirinya? Sesuatu yang terlalu takut ia tanyakan pada Katsuki maupun yang lain?
Ia hampir menyentuh jemarinya ketika pria itu buru-buru menjauh. Melompat mundur, pria itu pun mengedepankan pedang yang seperti gerigi. Matanya yang cekung tertuju pada sesuatu sementara mulutnya melebar membentuk seringai.
"Tak kusangka kita akan bertemu lagi," ujar pria itu dengan seringai yang membuat Deku bergidik. "Terakhir kali kau masih murid yang tak mempunyai lisensi dan tak ada harganya untuk dibunuh."
Tanpa perlu menoleh, Deku seharusnya sudah tahu siapa yang dimaksud. Terlebih ketika melihat jejak-jejak bunga es di sampingnya ditambah dengan suhu udara yang mendadak turun. Sang hero yang menguasai es itu berjalan dengan tenang dengan satu tangan teracung. Kedua iris matanya terpaku sepenuhnya pada penjahat di hadapan.
"Stain," gumam sang hero sembari memicingkan mata. "Berani sekali menunjukkan dirimu di siang hari seperti ini."
Di hadapannya, penjahat itu terkikik geli. Suaranya membuat Deku merinding smeentara ia mencoba mencapai tembok terdekat untuk bangkit. Ia menatap pria yang sebelumnya mengajaknya bicara itu. Bertanya-tanya bagaimana bisa pria itu menjadi begitu berbeda dengan beberapa detik yang lalu.
"Aku bukan makhluk nokturnal seperti mereka, Shouto," ucap pria dengan wajah setengah diperban itu. "Apa kau sudah lupa? Pertemuan pertama kita pun masih diwarnai oleh cahaya jingga mentari."
"Entahlah, aku tak suka bernostalgia," jawab Shouto cepat. "Hanya aku tak menyangka kau sudah serendah ini sampai menyerang orang lain yang bukan seorang hero."
Menyadari maksud Shouto, Deku pun mencoba bangkit berdiri. Ia menghampiri sang hero nomor dua yang tengah bersiaga dan berkata, "Shouto! Bukan! Dia tidak menyerangku. Dia tidak melakukan apa pun."
"Tidak perlu membelanya, Deku!" Shouto berkata dengan pandangan waspada. "Orang ini orang yang sangat jahat. Lebih dari bayanganmu."
"Tapi—"
Ucapannya tak lagi didengar. Shouto mengibaskan tangannya membentuk pecahan es yang merambat di tanah dan semakin lama semakin tinggi. Serangan tersebut membuat Stain terpaksa menutup mulut dan meraih pedangnya. Penjahat itu mengayunkan pedang untuk menghindari pecahan es yang diarahkan padanya. Hingga pecahan-pecahan itu menghiasi dinding dan tanah di sekeliling.
Sadar bahwa es saja takkan cukup untuk mengalahkan pria itu membuat Shouto terpaksa mengganti taktik. Tangan kirinya diangkat membentuk kobaran api yang menyala. Ketika Stain maju menyerang dari jarak dekat, Shouto pun mengimbanginya dengan es juga api . Ia yang sudah paham seperti apa quirk Stain berusaha mempertahankan diri agar penjahat itu tidak sampai mendapatkan darahnya.
Meski demikian, diserang dari dekat menggunakan es dan api tak membuat Stain menyerah. Malah sebaliknya, kecepatannya semakin meningkat dan Shouto hampir kesulitan untuk mengimbangi. Sang hero pun terpaksa mengambil jarak untuk keluar dari jarak serang Stain. Setelah mengambil napas selama sesaat, Shouto kembali memicingkan mata, berusaha memikirkan cara untuk melawannya dibanding sekedar menggunakan tinju belaka.
Sayangnya, Stain tak memberinya kesempatan untuk itu. Di saat Shouto tengah mengambil waktu, pria itu berlari mendekat dan menyabetkan pedangnya. Serangan itu dihindarinya dengan memiringkan kepalanya sementara satu tangannya bersiap mengirimkan bunga es pada pria itu. Serangannya berhasil membekukan setengah tangan pria itu. Hanya saja, bukan dirinya yang tersenyum penuh kemenangan. Justru sebaliknya.
"Kena kau!"
Shouto membelalak saat menyadari tangannya tak bergerak sesuai kehendaknya. Bagaimana pun upayanya untuk menarik kekuatannya, es tetap tak muncul dari ujung jemari. Menggertakkan gigi ia kembali menatap ke depan dan melihat Stain tengah menjilati darah dari ujung pedangnya.
Pria itu berjalan dengan tenang ke arahnya dengan pedang diseret di tanah. Pelan-pelan ia melangkah hingga berada di hadapan Shouto yang tak bisa bergerak. Seringainya melebar melihat bocah yang dahulu berani melawannya kini tengah berada dalam pengaruh quirknya. Membunuhnya jelas akan membuat satu kota geger karena ia berhasil menghancurkan sang hero nomor dua saat ini.
Pandangannya tertuju pada Shouto yang menatapnya dengan alis menukik tajam. Seringainya mengembang dan ia pun berkata pada sang hero, "Kurasa ini akhirnya?"
Sial! Kalau saja ia tidak lengah. Bisa-bisanya ia begitu ceroboh dan lupa bahwa penjahat satu ini punya kecepatan nomor satu. Bahkan waktu itu sang ayah saja tak sanggup menanganinya seorang diri. Kenapa ia bisa meremehkan penjahat yang satu ini?
"Selamat tinggal, Shouto!"
Pedang pun dihunus, meski pada kenyataannya pedang itu tak pernah menembus tubuhnya. Seseorang menghalangi pedang yang seharusnya menusuk bagian perut. Bahkan saking terkejutnya, Shouto sampai tidak bisa berkata-kata saat melihat tubuh yang melindunginya dari tusukan itu melemah hingga jatuh berlutut.
"Deku!"
Bukan hanya dia yang terkejut. Stain sendiri pun kaget saat melihat anak itu berada di hadapan Shouto dan menggantikannya menerima tusukan. Ia tak menyangka anak itu akan merangsek masuk ke dalam jarak serangnya hanya untuk melindungi sang hero. Beruntung ia segera menyadari sehingga luka tusukannya tak sampai menembus dalam. Hanya saja dengan tubuh sekecil itu, Stain curiga bahwa anak ini takkan sanggup bertahan.
"Kenapa—"
"J-jangan!" Anak itu berkata sambil memegangi tangannya yang berdarah terkena hunusan pedangnya. "Jangan ... Shouto!"
Stain betul-betul tidak mengerti. Ia memaki anak itu dan berkata, "Minggir, Izuku!"
"T-tidak," ucap anak itu.
Menghela napas, Stain menarik tangan Deku dan menjilat sedikit darahnya untuk membuat anak itu lumpuh. Begitu ia yakin bahwa quirknya sudah aktif dengan segera dilepaskannya tangan anak itu. Ia pun menyingkirkan Deku dari hadapan Shouto dan berkata, "Aku akan mengurusmu nanti. Diamlah dulu di sana!"
"T-tunggu!" Deku berkata ketika Stain berjalan melewatinya dan membuat Shouto tak lagi terlindung. "Jangan! Tolong jangan sakiti Shouto!"
Langkah kaki Stain pun terhenti. Ia menoleh ke bawah dan berkata padanya, "Apa kau tahu apa yang kau katakan, Izuku?"
Deku menatapnya. Ia mengerjap tak mengerti apa yang dimaksud.
"Hero ini pun mengejarku dengan niat membunuh dalam setiap serangannya," ujar Stain sambil mengarahkan pedangnya pada Shouto yang hanya bisa menggeram, "Tapi kau tidak sekalipun memintanya untuk tidak menyakitiku."
"Itu—"
"Pada siapa kau berpihak sebenarnya?" Stain kembali bertanya. "Pada kami atau pada hero-hero palsu ini?"
Ketika Deku tak bisa menjawab, Stain pun berbalik. Ia tak lagi menunggu jawaban anak itu. Ia kembali menatap Shouto yang tak bisa bergerak dan berkata, "Kali ini benar-benar selamat tinggal."
Shouto hendak menjawab bahwa itu takkan terjadi. Seluruh impuls di tubuhnya sudah mulai berfungsi dengan normal. Ia sudah dapat mengaktifkan quirknya kembali dan mengalahkan Stain. Hanya saja sebelum ia melakukannya, ia mencium aroma yang sudah sangat ia kenal. Harum karamel manis yang terbawa bersama hempasan udara diiringi dengan bunyi ledakan yang tak asing di telinganya.
Menyadari kehadiran orang lain, Stain pun mengambil langkah mundur. Ia memicingkan mata saat sosok berambut pirang dengan baju tempur yang didominasi warna hitam dan jingga itu turut serta dalam pertarungannya. Grenade di kedua tangan diarahkan padanya sementara mata merah sang hero menatap sekeliling.
"Ground Zero," ucap Shouto saat menyadari kehadirannya. "Deku—"
Sebelum Shouto menjelaskan apa pun, Ground Zero sudah berlari menghampiri sosok yang disingkirkan Stain anak itu dan ketika ia melihat tangannya yang berlumuran darah, sang hero pun terdiam. Ia tidak mengatakan apa pun selain menurunkan tangan Deku dan bangkit berdiri.
Sadar apa yang hendak dilakukannya, Shouto pun kembali berkata, "Berhati-hatilah, Ground Zero! Quirk yang ia miliki memampukannya untuk melumpuhkan seseorang selama beberapa menit. Kau harus berhati-hati terlebih golongan darahmu—"
Suara Shouto bahkan tak mencapai pendengarannya. Tanpa banyak bicara, Ground Zero mendekat dan langsung menembakkan ledakan skala besar yang membuat Stain berpindah tempat. Mengangkat pedang, Stain pun mencoba melewati Ground Zero. Meski demikian sang hero menangkis dengan grenade yang ada di satu tangannya. Sementara itu tangannya yang lain mengarah pada Stain dan kembali menembakkan ledakan yang membuat Stain terpaksa mundur.
Sayangnya Ground Zero sama sekali tidak memberinya kesempatan. Sang hero terus menyerang tanpa belas karamel memenuhi udara sementara ledakan terus menerus terdengar. Meski demikian tak ada satu pun serangannya yang berhasil mengenai Stain. Entah bagaimana, penjahat itu selalu bisa mengelak sekalipun Ground Zero terus mendesaknya.
Paling tidak hingga Shouto akhirnya merasakan kembali tangannya. Dengan segera ia bergabung dan ikut mendesak sang penjahat. Menggunakan quirk es miliknya, Shouto meminimalisir ruang lingkup Stain. Ia menciptakan dinding es di kanan kiri yang langsung membekukan lawan saat disentuh hingga Stain tak punya pilihan selain menghadapi Ground Zero.
Ia tak lagi berpikir untuk mengambil nyawa kedua hero ini. Bagaimana pun suatu tindakan yang bodoh bila mencoba menghadapi dua hero papan atas sekaligus. Mungkin bila hanya Ground Zero seorang, ia masih bisa melawannya. Tapi tidak halnya ketika hero nomor satu dan nomor dua bergabung. Serangan kombinasi keduanya membuat Stain terdesak. Bahkan tak butuh waktu lama hingga akhirnya ia terpojok di sebuah dinding tanpa jalan keluar.
Sementara itu di sela-sela kesadarannya yang mulai menipis, Deku mengangkat kepala. Ia melihat bahwa jalannya pertermpuran sudah berlangsung tidak imbang. Stain kewalahan menghadapi dua hero dengan quirk es dan explotion itu. Cepat atau lambat penjahat itu pasti akan kalah dan itu membuat Deku teringat ucapannya.
Kenapa dia ini? Bukankah Stain itu memang penjahat? Bukankah sudah sepantasnya ia senang kalau Katsuki atau Shouto yang menang? Tapi entah mengapa ia merasa ragu.
Betul, orang itu memang jahat. Tapi meski demikian, orang itu tidak berniat menyakitinya. Orang itu... bahkan ingin menolongnya. Tapi... tapi...
Meski tidak mengerti, Deku akhirnya mengangkat kepala. Mengumpulkan seluruh kekuatannya, ia berusaha untuk memanggil satu-satunya orang yang ia tahu harus dihentikan. Ia pun membuka mulut dan berkata, "Katsuki!"
Ia terkejut ketika menyadari suaranya terlalu lemah untuk mencapai telinga sang hero. Karenanya ia mencoba bangun. Bertumpu pada tangannya yang tak terluka, Deku pun bangkit dengan tertatih-tatih. Pada akhirnya ia berhasil melakukannya meski harus setengah mati mempertahankan kesadaran. Sekali lagi ia membuka mulutnya dan memanggil nama sang hero.
"Katsuki," ucapnya. Suaranya masih sama, masih seperti cicitan tikus. Ia pun menarik napas dan sekali ini ia berteriak, "Katsuki!"
Berhasil. Kali ini suaranya sedikit lebih keras. Bahkan Shouto saja sampai menoleh ketika mendengar suaranya, begitu juga dengan orang yang dipanggilnya. Dengan mata kemerahan yang membelalak lebar, pemuda itu langsung meninggalkan buruannya dan bergegas menghampiri. Tak peduli bila pada akhirnya kesempatan itu digunakan oleh Stain untuk melarikan diri.
Sementara Deku yang melihat bahwa Stain berhasil kabur menghela napas lega. Pandangannya mengabur dan kedua tungkainya tak sanggup lagi menahan beban tubuhnya. Untunglah saat itu kedua tangan yang kokoh menyangga dan mengangkatnya. Membuatnya selamat dari tubrukan selanjutnya.
"Deku? Kau bisa mendengarku?" Suara itu berkata padanya. "Deku? Deku jawablah!"
Apa yang pemuda ini katakan? Tentu saja ia mendengarnya. Sangat jelas. Ia pun membuka mulut hendak mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan pemuda itu tak perlu khawatir. Tapi entah kenapa kelopak matanya terasa begitu berat.
Bahkan sebelum ia dapat mengucapkan apa pun, kedua kelopak matanya sudah turun dan merenggut kesadarannya. Hanya samar-samar ia dapat mendengar seseorang memanggil-manggil namanya dalam keputus-asaan.
.
.
.
(t.b.c)
A.N:
Happy belated birthday, Todoroki Shouto! Awww, tadinya mau nyelesaiin kemaren biar nggak perlu pake belated. Sayang nggak keburu. Syukurlah tapi hari ini keburu, jadi belatednya nggak kelamaan XD
Aniway, makasih buat yang uda selalu nungguin fic ini. Cuman mau bilang, efek rebound sendiri sebetulnya nggak ada di original story (kayaknya nggak ada, soalnya dicari di mbah gugel, nggak nemu, lol) ini murni ide saya sendiri buat jelasin kenapa Bang Kiri boboknya lama banget dan juga buat jelasin petunjuk ke asal usul Deku. :P
Terus untuk :
WinYuzukiN: baik, ini ditempel Dekunya kayak lem ke Kacchan. Silakan Kacchan! Jangan diapa-apain tapi Deku nya ya.
kyunauzunami : aduhhh, gimana tuh Deku? Ditanyain 'kan jadinya? Ayo tanggung jawab dan jelasin? #pelukDekujuga (samar2 Cyan ngerasa gak tenang dan diintai seseorang dengan mata merah)
el-Vtrich :iyaa setuju El-san, peyuk ajaaa, pake nanya, malu-malu pula XD #pendukunghonestituindah
LOL, kalo yang dateng abang Shinsou ato Kiri yang uda sembuh, nanti malah Kacchan yang jeles karena Deku nya dipeluk-peluk orang lain XD Deku nggak akan pernah belajar nanti :D Tapi iya, kayaknya kalo nggak sama Deku, bisa-bisa Kacchan jadi jomblo. Kesian Kacchan. Etapi, Shouto juga kayaknya sama aja. Kesiannn...
Kacchan itu gak punya PDA kalau sama Deku. Bawaannya pengen nyentuh terus. Ketauan 'kan si Abang demen grepe2. Gawat uda. Deku, jangan cepet gede ya. Entah apa yang terjadi nanti kalo Deku jadi gede.
Dan, makasih idenya El-chan, berkat El-chan jadi teringat bahwa saya hampir lupa sama Abang Kiri. Sayang Abang Kiri belum bisa bawa keceriaan di sini berhubung masih bobok panjang dan Shouto harus banyak2 stok Para**x buat ngaadepin Kacchan. Mungkin harus menunggu kiss dari pangeran? Pangeran Deku? :P (tiba-tiba merasa temperatur udara mendadak drop, pertanda apakah ini?)
Btw makaasih semangetnya, dan nggak apa, aku suka kok bacain reviewmu yang sepanjang kereta. Kayak baca surat :D
hanazawa kay: iyaaa, pasti Kacchan juga sakit liat Deku nangis. Tapi kalo kata Kacchan, Deku itu emang cengeng, stok aer matanya banyak :P
Name chan: bucin banget dia, uda nggak ada obatnya lagi :D kalau dipisahin bentar aja sama Deku kayaknya dia bakal gelisah kayak keilangan sesuatu. Kelewatan emang bucin hero yang satu ini. Makanya kalau kamu culik Deku, uda nggak pake itungan menit, pasti uda langsung ditracking sama si bucin satu itu. Mendingan jangan dicoba, Name-chan. T^T jangan sampai jatuh korban baru akibat coba2 culik Deku :P
Tsuna : Hello! Since I couldn't speak in French, I tried to reply with English. Hope it'll be easier to translate into French.
First of all, thank you for left your review about the story. It's really heartwarming to know someone from another country read and not to mention like my story. I hope you like the development of the story even further as you read more.
Aniway, I'm agree with you, Deku is really a cute wellbeing who exist on Earth. I understand why neither Katsuki nor Shouto could resist his cuteness. It's really overload and make them want to kidnap him. But probably he will release him as soon as Deku beg for it Not to mention if the big fat tears start to drip from his eyes. XD
Thank you once again and please continue to read the story. I hope you enjoy it until the end.
Cheers :D
fifidlove : nahhhh! Hahahahaha, kapan ya? Kenapa ya Deku nggak manggil Kacchan padahal Aizawa ama Kirishima dipanggil pake akhiran –chan. Kesian 'kan Kacchan yang uda nungguin mau dikasih panggilan sayang.
Kira-kira Katsuki inget nggak ya sama temen masa kecilnya yang namanya Midoriya Izuku? :P
Makasih semangatnya dan doakan saya buat lanjut terus ya :D
Also, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D
For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD
