Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.
Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi
Until we meet again by cyancosmic
.
.
.
Enjoy!
Ask 19. Are quirks so much important for you?
Awalnya, ia kira ia salah lihat. Sosok berbaju training yang melayang turun di depan robot tempur raksasa untuk menyelamatkan seorang gadis itu tak mungkin anak quirkless yang ia kenal. Jangankan robot, orang yang berukuran sebaya saja tak mungkin menjadi lawannya. Makanya Katsuki yakin anak yang melayang itu pasti bukan anak yang sama dengan orang yang ia kenal.
Namun ketika ia melihat orang yang sama mengenakan blazer sekolahan yang berwarna abu dengan postur tubuh gugup, ia menjadi tidak yakin. Anak berambut hijau berantakan yang mengembang itu muncul di ambang pintu kelasnya. Ia disapa oleh anak-anak yang lain dan hampir semua berkumpul mengerumuninya. Tidak dengan cemooh seperti yang seharusnya anak itu terima, melainkan dengan pandangan kagum.
Ini membuat Katsuki mendecakkan lidah. Anak bertubuh kurus itu tak seharusnya ada di sini. Apa-apaan dia? Apakah sekolah ini salah menempatkan seseorang yang tak punya quirk di jurusan hero? Ya, mungkin begitu. Kalau tidak begitu mana mungkin anak itu bisa masuk? Pasti ada kesalahan. Cepat atau lambat, sekolah akan menyadari kekeliruaannya dan saat itu ia bisa kembali tersenyum puas.
Hanya saja lagi-lagi ia terpaksa menelan kekecewaan saat melihat anak itu berani menantangnya saat latih tanding. Dengan kemampuan terbatas anak itu menghadangnya tanpa mencoba melukai siapapun. Lebih jengkel lagi karena anak itu dan tim nya yang tak berguna berhasil menyelesaikan tugas sementara ia terlalu fokus pada kemarahannya. Itu membuatnya semakin benci pada anak itu.
Berulang kali ia terus mengatai anak itu tidak berguna dan mengejeknya. Tapi semua ejekannya seperti tak didengar. Bahkan yang lebih menjengkelkan, sebutan yang ia berikan diartikan lain. Dari seseorang yang tak bisa apa-apa menjadi seseorang yang selalu berjuang melakukan sesuatu. Bahkan anak itu dengan bangga menyebut dirinya demikian. Hal yang membuat Katsuki semakin marah. Marah pada anak itu.
Demi Tuhan! Anak itu tidak bisa apa-apa. Si lemah yang tidak berdaya tapi berlagak kuat hanya akan berakhir menyedihkan. Tak tahukah anak itu bahwa ia tengah menghantarkan dirinya sendiri ke dalam bahaya? Tak tahukah anak itu bahwa jalan yang ia tempuh bukan jalan untuk seseorang yang tak bisa apa-apa? Berjuang pun ada batasnya. Anak itu seharusnya menyerah saja.
Dibanding berusaha hingga tangannya terluka dan penuh luka guratan, dibanding menjadi pelanggan tetap rumah sakit akibat tulang-tulang yang selalu ia patahkan, dibanding terluka parah hingga tak sadarkan diri beberapa hari, bukankah akan lebih baik bila anak itu mundur? Mundur dan tahu diri sebelum semuanya terlambat.
Sebelum Katsuki tak bisa mengulurkan tangan untuk menyelamatkannya.
Pintu ruang dokter terbuka dan dua orang muncul dari balik pintu. Yang lebih pendek dengan perban melingkari siku dan dikalungkan hingga ke leher menatapnya dan langsung melambai dengan tangan yang tak terluka. Shouto pun balas melambai padanya meski di belakangnya, pemuda dengan iris kemerahan seperti setan memberinya tatapan membunuh yang sulit sekali diabaikan. Terlebih ketika melihatnya mendatangi dan menghampiri keduanya.
"Kau tidak apa-apa, Deku?" Shouto berkata. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran terutama saat ia menyentuh tangan yang diperban. "Dokter bilang apa tadi?"
Sebelum Deku menjawab, pemuda di belakangnya lebih dulu mendorong Shouto menjauh. Bila dahulu mereka tidak pernah saling menyukai, kali ini semakin parah. Pemuda itu memberikan tatapan membunuh sementara satu tangannya melingkari leher Deku. "Apanya yang bagimu tidak apa-apa? Dia mendapat enam belas jahitan di tangan, bagaimana bisa kau tanya tidak apa-apa? Apa kau buta?"
"Katsuki," ucap Deku sembari mengangkat satu tangan menyentuh lengan si pemuda berambut pirang yang melingkari lehernya, mencoba menghentikan. Anak remaja itu menatap Shouto dan sembari tersenyum ia berkata, "Aku tidak apa-apa, Shouto. Jangan khawatir!"
Ucapannya sudah membuat Katsuki hendak menimpali lagi. Hanya saja Deku mencengkeram erat lengannya dan memberikan gelengan pelan yang membuat pemuda itu tutup mulut. Sebagai gantinya ia mendecakkan lidah dan memandang ke arah lain. Tak mau menatap pemuda saingannya yang baginya telah membuat anak itu terluka.
"Enam belas jahitan," gumam Shouto yang tak bisa mengenyahkan kekhawatiran dari wajahnya. Pemuda itu menyentuh tangan Deku pelan dan berkata, "Seharusnya aku mencegahnya. Ini semua karena aku terlalu ceroboh."
"T-tidak!" Deku berkata sambil menggerakkan satu tangannya. "Ini bukan salahmu, Shouto. Jangan berkata begitu!"
"Maafkan aku!" Sang pro hero kembali berkata sembari menundukkan kepalanya. "Maaf..."
Ucapannya yang lirih bahkan membuat Deku kembali berkata bahwa ia tidak apa-apa. Berulang kali ia mencoba meyakinkan Shouto bahwa tangannya baik-baik saja, tapi sepertinya sang hero tidak percaya. Bahkan raut wajahnya malah semakin suram seiring dengan kata-kata yang ia ucapkan. Padahal ia sungguh-sungguh. Ia baik-baik saja.
Tapi bukan hanya Shouto saja yang raut wajahnya berubah suram saat mengetahui ia terluka. Pemuda di belakangnya, yang sedari tadi hanya mengucapkan kata-kata pedas jauh lebih sulit diyakinkan. Meski Deku sudah berulang kali mengatakan bahwa ia baik-baik saja pun pemuda itu tetap saja cemberut dengan alis bertaut. Sebetulnya Deku ingin mengatakan bahwa pemuda itu tak perlu menemaninya kalau ia tak suka. Hanya saja baik saat dokter menjahit lengannya maupun saat ia membuka mata, pemuda itu tak sekalipun meninggalkannya. Deku benar-benar tidak mengerti mengapa Katsuki melakukannya.
"Kalau sudah mengerti sebaiknya kau minggir!" Pemuda itu akhirnya bicara. Tatapannya yang mengintimidasi bahkan membuat Shouto melepaskan tangan Deku darinya. Dengan satu tangan melingkari leher Deku, Katsuki memaksanya berjalan dan menjauh dari Shouto. "Ayo, Deku! Kita pulang!"
Deku masih ingin mengucapkan sesuatu pada sang hero nomor dua, namun Katsuki tak memberinya kesempatan. Ia pun tak punya pilihan selain melambai pada Shouto sementara kakinya mencoba menyamakan kecepatan dengan Katsuki. Untunglah akhirnya pemuda itu berbelas kasihan dan melambatkan langkah.
Sepanjang perjalanan tak ada di antara keduanya yang bicara. Pada hari-hari biasa Katsuki akan menggerutu sementara Deku tinggal menimpali. Tapi kali ini pemuda itu benar-benar bungkam. Satu tangannya diletakkan di kantung jaket sementara ia berjalan dengan tangan melingkari leher Deku. Sikapnya membuat Deku sedikit tidak nyaman hingga akhirnya ia mencoba berkata, "K-Katsuki, kau bisa melepaskanku. Aku takkan ke mana-mana."
Entah karena suaranya kekecilan atau bagaimana, Katsuki tak menanggapi. Pemuda itu terus berjalan seperti sebelumnya. Tadinya Deku ingin mengulangi, tapi melihat pandangan mata Katsuki terus menatap ke depan, ia pun mengurungkan niat. Dibiarkannya lengan itu tetap melingkari lehernya sementara ia berjalan sembari menatap lantai. Semoga saja di mobil nanti Katsuki lebih bisa diajak bicara.
Sayangnya harapannya tak menjadi kenyataan. Di dalam mobil, Katsuki menyetir dalam diam. Bahkan ia tak juga mengumpat atau mengklakson meski mobil di depan menyalip tiba-tiba. Pemuda itu hanya menggeser persneling dan memacu mobilnya lebih cepat untuk menyalip kembali. Tapi tak sekalipun pemuda itu membuka mulut. Seandainya ada radio mungkin akan lebih baik. Hanya saja, Katsuki memutuskan untuk tak menyalakan radio kala itu dan Deku terlalu takut untuk menghidupkannya.
Perjalanan yang dilalui dalam keheningan itu akhirnya berakhir dalam satu jam. Setelah memarkir mobilnya, keduanya masuk ke dalam lift menuju ke apartemen. Kali ini, meski lehernya bebas, Deku tetap tak dapat bicara. Katsuki tetap tenggelam dalam pikirannya sendiri meski Deku berkali-kali mencoba mengatakan sesuatu. Bahkan ketika lift terbuka dan mereka masuk ke dalam apartemen pun tetap tak ada yang Katsuki katakan. Pemuda itu tetap menutup rapat mulutnya.
Memutuskan untuk tak memikirannya, Deku pun melangkah masuk. Ia membuka sepatu dan jaketnya dengan hati-hati. Membuka jaket membutuhkan sedikit perjuangan karena ia harus menggerakkan tubuh supaya tak mengenai tangannya yang terluka. Meski berhasil, Deku mengerang saat mengingat bahwa ia masih harus berganti pakaian. Ini takkan mudah, pikirnya.
Ia pun berjalan menuju kamar dan hendak membuka pintunya ketika Katsuki tiba-tiba menariknya terbuka. Spontan, Deku memanggil namanya tapi pemuda itu sepertinya tak mendengar. Ia melewati Deku tanpa banyak bicara dan berjalan ke dapur. Deku sampai mengerutkan dahi melihat Katsuki tak repot-repot menyapanya. Padahal biasa, pemuda itu pasti akan mengucapkan ini dan itu setiap melihatnya.
Menggelengkan kepala, Deku berusaha mengenyahkan pikirannya. Tidak mungkin. Katsuki pasti hanya sedang sibuk, pikirnya. Tak ada alasan bagi Katsuki untuk mengabaikannya. Kalau memang demikian, Katsuki pasti sudah meninggalkannya dari tadi dan takkan repot-repot membawanya ke rumah.
Mengangguk, ia yakin itulah yang terjadi pada Katsuki. Karena itu Deku memutuskan untuk tak menanyakan apa-apa. Ia pun masuk ke kamar dan mencoba mengganti bajunya sendiri. Sulit sebetulnya terlebih dengan perban yang melingkari leher. Ia pun membuka pengait perbannya terlebih dahulu sebelum mengganti baju. Sesekali ia terpaksa meringis menahan sakit tatkala harus bergulat dengan pakaian yang akan dikenakan. Untunglah akhirnya ia berhasil mengenakan kembali bajunya. Ia menghela napas lega sebelum menatap perban yang menggantung lepas di tangannya.
Ia pikir, ia hendak meminta bantuan Katsuki untuk mengaitkan kembali perban tersebut ke leher. Membuka pintu, ia berjalan ke dapur tempat di mana Katsuki berada. Tapi ketika melihat pemuda itu sedang sibuk memotong bahan makanan, Deku pun terpaksa mengurungkan niat. Ia menatap perban yang menggantung di tangannya sebelum memutuskan untuk menggulungnya saja. Ia tak mau merepotkan Katsuki.
Selesai dengan perban, Deku menatap sekeliling. Katsuki tengah memasukkan bahan-bahan ke dalam panci. Biasanya ia akan membantu Katsuki dengan mencuci piring. Tapi sepertinya ia tidak akan bisa melakukannya kali ini. Menyadari tak ada yang bisa dilakukannya untuk membantu, Deku pun melangkah ke sofa.
Duduk di sana, ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja dan membuka kuncian layar. Diamatinya benda itu sebelum membaca pesan yang tertera di sana. Ia mendapat satu pesan dari Shouto yang berulang kali meminta maaf padanya. Dengan segera ia membalas dan mengatakan agar sang hero tidak memikirkannya. Itu bukan salah siapa-siapa.
Tak lama setelah ia mengirimkan pesan tersebut, ponselnya berdering nyaring. Cepat-cepat Deku menggeser layar untuk menerima terlebih setelah melihat siapa yang menelepon. Ia menempelkan ponsel di telinganya dan berkata, "Moshi-moshi!"
Dengan latar suara yang sedikit berisik, sang penelepon akhirnya menjawab salamnya. Ia juga berkata, "Kau sudah sampai di rumah, Deku?"
Deku pun menjawab apa adanya. Hanya saja ia tak mengerti mengapa sang hero repot-repot meneleponnya. Bukankah mereka baru saja bertemu dan berpisah tadi? Ia pun menanyakan itu pada sang hero yang kembali dijawab setelah hening sesaat.
"Tidak, hanya ingin mengucapkan terima kasih," ujar sang hero nomor dua dari ujung telepon. "Sebelumnya aku tidak sempat melakukannya karena kalian terburu-buru jadi aku terpaksa membicarakannya lewat telepon."
"Terima kasih untuk apa, Shouto?" Deku bertanya, bingung.
"Kau benar-benar melakukannya tanpa sadar, ya?" Shouto berkata setelah menghela napas dalam. "Tapi kau tidak seharusnya melakukannya lagi, Deku."
"Aku tidak—"
"Melompat dan membahayakan nyawamu sendiri," ucap Shouto sehingga Deku terpaksa menutup mulutnya. "Meskipun aku sangat berterima kasih, tapi sebaiknya kau tidak mengulanginya lagi. Tidak baik untuk jantungku."
Deku ingin membantah, tapi Shouto lebih dulu menyelanya. "Kau tahu bahwa keberadaanmu sangat penting, bukan? Jadi jangan melakukannya lagi. Kalau kau terluka, baik aku maupun Bakugou akan sangat khawatir."
Sebetulnya Deku ingin mengatakan bahwa ia tidak sepenting itu sehingga Shouto tak perlu khawatir. Tapi ia menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tahu apa pun yang ia katakan takkan membuat Shouto berhenti menasehatinya. Makanya ia memilih bungkam dan mendengarkan ucapan sang hero nomor dua itu.
"Mungkin bagimu ucapanku tak ada artinya, tapi coba saja tanyakan pada Bakugou," Shouto kembali berkata setelah menyadari Deku tak mengucapkan apa pun. "Aku yakin ia akan mengatakan hal yang sama padamu. Ia benar-benar marah besar begitu kuceritakan bahwa kau mendapat tusukan itu karena mencoba menyelamatkanku."
"Kau mengatakannya?" Deku berkata setengah tidak percaya. "T-tapi kenapa?"
"Apa maksudmu dengan kenapa?" Shouto balik bertanya dengan bingung. "Dia walimu 'kan? Ia berhak tahu yang sebenarnya."
"T-tapi itu berarti Katsuki akan sangat marah pada—" Deku tak menyelesaikan ucapannya. Ia menelan ludah. Akhirnya ia mengerti mengapa Katsuki sangat tidak ingin Shouto menyentuhnya tadi. Rupanya ini alasan mengapa Katsuki terlihat begitu marah pada Shouto.
"Padaku, benar," ujar Shouto tabah. "Tapi itu jauh lebih baik dibanding ia mengejar Stain dengan ceroboh karena mengira bahwa penjahat itu telah melukaimu. Ia hanya akan membahayakan dirinya sendiri kalau melakukan itu."
Sekali lagi Deku menelan ludah. Semua yang dikatakan Shouto ada benarnya. Meski ia tak sepenting Kirishima, Deku tahu bahwa Katsuki pasti takkan tinggal diam mengetahui ia terluka. Saat Kirishima terluka, Shocchan bilang ia menghancurkan ruang training berhubung ia dilarang mengejar para penjahat. Ia tahu Katsuki bila melakukan sesuatu yang ekstrem bila itu berkaitan dengan orang-orang yang dekat dengannya.
"Iya," ucap Deku akhirnya, "aku mengerti, Shouto."
"Bagus kalau kau mengerti," ucap Shouto yang akhirnya bisa bernapas lega mendengar lawan bicaranya sudah memahami maksudnya. Ia harap anak itu benar-benar paham dan takkan melakukan kecerobohan semacam ini untuk kedua kalinya. Ia takkan sanggup bila harus menenangkan sang hero nomor satu bila hal seperti ini terulang kembali. "Kalau begitu, selamat malam!"
Deku pun membalas ucapannya sebelum menutup telepon. Ditatapnya ponsel di tangannya sebelum menghela napas kembali. Pandangannya teralih pada Katsuki yang sejak tadi hanya sibuk mengurusi masakan. Entah pemuda itu mendengar percakapannya dengan Shouto atau tidak.
Sepertinya memang Katsuki sangat marah begitu tahu bahwa ia terluka. Shouto bilang Katsuki khawatir, tapi melihat gelagatnya sepertinya bukan itu yang membuat Katsuki marah. Deku tahu Katsuki orang baik, tapi orang baik pun punya batas kesabaran dan kali ini Deku sudah melampaui batas itu.
Meski Katsuki selalu merawatnya, membuatkan makan atau membelikan pakaian, pasti ia akan kerepotan setengah mati kalau harus merawat anak yang terluka. Terlebih yang terluka adalah tangannya yang dominan, sehingga akan sangat merepotkan bagi Katsuki kalau harus menyuapinya atau membantunya mengganti baju. Tugas Katsuki sudah sangat banyak dan sekarang ia harus merawat seorang anak yang tak bisa apa-apa. Tidak heran Katsuki memilih untuk mengabaikannya dari tadi.
Menghela napas, Deku pun menyandarkan punggung ke sofa di belakang. Sebelumnya ia tak berpikir apa-apa saat melompat. Yang ada di otaknya hanya bagaimana caranya agar Shouto tak terbunuh. Hanya itu. Ia tak pernah memikirkan akibatnya pada orang lain, terlebih pada orang yang merawatnya. Kalau seandainya ia memikirkannya—
Tidak. Memikirkannya pun takkan mengubah keadaan. Deku tetap akan melompat bila ia tahu ia dapat menyelamatkan nyawa Shouto. Mengetahui bahwa Katsuki akan kerepotan saat merawatnya pun tak membuatnya urung. Padahal ia tahu bahwa tak seharusnya ia memanfaatkan kebaikan Katsuki seperti itu.
Sekarang ia harus menerima akibat dari perbuatannya. Masih bagus Katsuki belum mengusirnya terang-terangan dan hanya mengabaikannya. Masih bagus pemuda itu masih membuka pintu rumahnya, membiarkan Deku berkeliaran di dalam rumah dan menyiapkan makanan untuknya. Pikirnya, ia harus melakukan sesuatu agar ia tak merepotkan Katsuki lagi. Mungkin dengan begitu Katsuki takkan terlalu jengkel padanya.
Setidaknya itu yang ia pikirkan hingga tiba saatnya makan malam. Saat Katsuki menyiapkan segala sesuatunya di meja seorang diri meski Deku sudah mencoba membantunya meletakkan sendok dan sumpit atau sekedar mengambil air. Semua yang ia lakukan sudah dikerjakan lebih dulu oleh pemuda itu. Alhasil Deku hanya bisa gigit jari dan terpaksa menempati tempat duduk, menatap makanan yang sudah dihidangkan.
Kali ini pemuda itu tak menyediakan nasi untuknya. Sebagai gantinya hanya sup yang dihidangkan dengan sendok di sisi kiri. Sedikit bingung, Deku pun mengambil sendok dan mencoba menyendok makanannya. Ia sedikit canggung saat mengangkat sendok tapi pada akhirnya ia berhasil juga. Meski ia harus mengakui lebih banyak sup yang tercecer dibanding yang masuk ke mulutnya.
Sadar bahwa Katsuki lah yang akan merapikan ceceran sup nya membuat Deku berhati-hati menggunakan sendok. Tangannya sedikit bergetar berhubung ia berusaha menahan agar cairannya tidak jatuh dan akibatnya ia menghabiskan satu mangkuk dengan sangat lama. Sementara Katsuki sudah selesai dengan pencuci mulut, ia baru berhasil menghabiskan setengah. Ini sungguh-sungguh membuatnya frustasi.
Tentunya ia masih akan terus mencoba hingga akhirnya sendok yang ia pegang kehilangan keseimbangan. Tangannya yang tak terbiasa menjatuhkan sendok itu hingga mengenai celana pendek yang ia kenakan dan menodai lantai. Terkejut, Deku pun buru-buru menggumamkan permintaan maaf. Bangkit dari kursi, ia langsung mengambil sendok ketika menyadari orang lain sudah melakukannya lebih dulu.
Dengan cekatan, Katsuki mengambil sendoknya yang terjatuh dan menyingkirkannya ke pinggir. Diambilnya juga tisu yang sudah dibasahi air untuk membersihkan ceceran sup sebelum Deku bisa melakukannya. Semua dilakukannya tanpa mengucap sepatah kata pun. Bahkan hingga akhirnya ia kembali duduk di kursi dan mengambilkan sendok baru untuk Deku.
Melihatnya, Deku pun menerima sendoknya. Ia hendak menyendok kembali sup nya sebelum menurunkannya kembali. Terus terang ia masih merasa lapar, tapi menggunakan sendok hanya akan membuang sup yang sudah susah payah dibuat Katsuki. Jadi ia hendak mencoba cara lain.
Sendok itu disingkirkannya dari mangkuk dan ia mencoba untuk mengangkat mangkuknya. Untungnya mangkuk itu tidak terlalu berat sehingga ia masih bisa mendekatkannya ke mulut. Baru setelah itu ia meneguk supnya seperti air. Setidaknya cara itu berhasil meski beberapa kali Deku harus menurunkannya karena harus mengunyah sayur.
Hanya saja ketika ia mencoba melakukannya untuk kelima kalinya, mangkuk sup itu tergelincir dari tangan dan jatuh menabrak lantai. Mangkuk itu langsung pecah berkeping-keping dan cairan di dalamnya tumpah ke baju, kursi bahkan hingga ke lantai. Ia pun langsung pucat pasi karenanya dan mengucapkan maaf berkali-kali sebelum bangkit dari kursi. Tepat saat itulah ia mendengar Katsuki menghardiknya.
"Jangan turun dari sana!" Katsuki membentaknya nyaring hingga membuat Deku terkejut. Ia tak pernah melakukannya sebelumnya. "Tetap diam di tempatmu!"
Saking kagetnya Deku benar-benar tak bisa bergerak. Ia tetap diam di tempat sementara Katsuki beranjak untuk mengambil pecahan mangkuk. Dalam keheningan pemuda itu bekerja hingga seluruh kepingan mangkuk terkumpul. Baru setelahnya ia membersihkan ceceran sup dengan lap dan cairan pembersih.
Selama itu, Deku tetap diam di tempatnya. Ia juga tetap bungkam selama Katsuki membersihkan sisa-sisa cairan yang mengenai bajunya. Gerakan Katsuki sangat kasar saat itu, tapi pemuda itu sangat berhati-hati agar tidak mengenai tangannya. Ia terus menunggu hingga Katsuki selesai dengan tugasnya baru ia berani membuka mulut.
"Um, Katsuki," panggilnya setelah keheningan yang mencekam di antara mereka. "A-aku minta maaf."
Kedua alis Katsuki bertaut mendengar ucapannya. Pandangan yang tajam dari iris kemerahan itu ditujukan padanya. Hanya saja Deku terlalu takut untuk mengangkat kepalanya.
"Sudah menjatuhkan mangkuk," cicitnya lebih pelan lagi ketika menyadari bahwa Katsuki tak mengatakan apa pun. Ia pun menambahkan, "J-juga karena sudah merepotkan."
Bisa ia rasakan tubuh Katsuki yang berangsur-angsur dihadapkan padanya. Tanpa harus melihat, Deku tahu bahwa seluruh perhatian pemuda itu tengah tertuju padanya sekarang. Tatapan yang sebelumnya tak membuat gentar, kini membuatnya gemetar ketakutan dengan kedua tangan memegangi ujung baju.
"Lain kali aku akan memegang mangkuknya dengan benar," ujar Deku perlahan. "Aku juga akan lebih gesit sehingga kau tak perlu kerepotan menyiapkan semuanya sendiri. Kau tak perlu sungkan padaku! Suruh saja aku seperti bia—"
Ucapan Deku langsung terhenti ketika mendengar hantaman keras di meja. Ia mengangkat kepala dan untuk pertama kalinya ia bertatapan dengan iris kemerahan. Mereka bilang Ground Zero sangat mengerikan saat marah, tapi baru kali ini ia berhadapan langsung dengan kemarahannya. Pasalnya, Katsuki hampir tak pernah menunjukkan ekspresi seperti ini padanya.
Ia pun kembali gemetar ketakutan. Begitu takut sehingga ingin menyembunyikan diri. Hanya ia tahu pilihan itu tertutup untuknya. Di sini tempat teramannya, ke mana lagi ia harus lari bila tempat teraman baginya kini menjadi tempat di mana ia ingin mengungsi jauh?
"Memangnya kau kira apa yang bisa kau lakukan dengan tangan seperti itu?" Suara itu terdengar menggelegar. Kedua tangannya sangat dingin dan gemetar, untung saja ia menyembunyikannya dengan baik di bawah meja. "Tanpa terluka pun kau sudah 'Deku', sekarang kau terluka dan berkata bahwa aku tak perlu sungkan? Apa yang harus membuatku sungkan kalau sedari awal kau memang tidak bisa apa-apa?"
Apa?. Pikir Deku, bingung.
Bila sebelumnya kemarahan Katsuki membuat nyalinya ciut, kali ini ketakutan itu berkurang. Dahinya berkerut dan ia malah berkata, "Aku sudah tahu bahwa aku tidak bisa apa-apa, tapi bukankah selama ini aku selalu mencoba membantumu? Katsuki yang tak mengizinkanku melakukan apa pun, bukan?"
"Aku tak mengizinkannya karena tahu kau takkan becus melakukannya!" Katsuki membalas. "Kenapa kau tidak duduk diam dan menyerahkannya pada orang lain saja? Tidak tahukah kenapa aku memberimu nama Deku? Itu karena kau tidak bisa melakukan apa pun!"
Deku menelan ludah. Meski ia tahu bahwa Katsuki menamainya demikian, entah mengapa ia tidak bisa menerima. Betul. Ia dinamai demikian karena waktu itu ia quirkless, tidak bisa berjalan dan kehilangan ingatan. Tapi sekarang, setidaknya ia bukan lagi seorang bocah yang tak bisa apa-apa. Apakah bagi Katsuki ia tetap seperti itu?
"Itu tidak benar," gumam Deku sembari menggeleng, "Kalau aku mencoba pasti—"
"Tidak ada yang perlu kau coba!" Katsuki membalasnya dengan sengit. "Tak ada yang bisa dilakukan bocah quirkless sepertimu. Menyelamatkan orang atau apa pun, kau tidak bisa melakukannya!"
Kali ini Deku menatapnya. Menatap pemuda yang selama ini telah merawatnya. Ia mengerti kenapa pemuda itu sampai marah kali ini. Ia terluka dan merepotkan pemuda itu. Tapi haruskah pemuda itu berkata demikian? Haruskah pemuda itu mengatainya quirkless dan menyebutnya tidak berguna? Apakah... seperti itu dirinya di mata pemuda itu? Hanya karena ia tidak punya quirk?
"Apakah quirk itu begitu penting bagi Katsuki?"
Umpatan yang tadinya hendak berada di ujung lidah kali ini membuat Katsuki bungkam. Ia menatap bocah yang ada di hadapannya. Tak ada lagi senyum ceria yang bisa ia lihat di wajah anak itu dan tak ada lagi cahaya di bola matanya yang sehijau zamrud. Semuanya mati. Mati dan kosong.
"Jadi... selama ini Katsuki menganggapku tidak berguna karena aku quirkless," ujar Deku sambil menatap tangannya. Menundukkan kepala ia pun mencoba tertawa meski ia tak ingin melakukannya. "Benar juga. Katsuki 'kan hero nomor satu saat ini. Quirk jelas sesuatu yang sangat penting bagi Katsuki. Kenapa aku menanyakan hal yang sudah jelas?"
Tidak. Bukan seperti itu. Katsuki ingin berkata bahwa itu tidak benar, tapi lidahnya kelu. Ia tak bisa bicara ketika melihat mata itu. Ketika melihat ekspresi itu. Tubuhnya membeku bagaikan ada air es yang disiramkan ke atas kepalanya. Bagaikan deja vu, ia merasa pernah mengalami hal yang serupa. Orang yang sama berdiri di hadapannya dengan kata-kata yang hampir sama ia tak ingat di mana ia pernah melihatnya.
"Aku mengerti," ucap Deku sembari memundurkan kursi dan bangkit berdiri. Kali ini ia tak lagi menatap Katsuki. "Sekarang akhirnya aku paham."
Mata Katsuki melebar ia melihat anak itu bangkit. Menemukan suaranya, ia segera menghampiri anak itu. Menahan tangannya yang tak terluka Katsuki pun berkata padanya, "Deku, maksudku bukan seperti itu! Maksudku—"
Ucapan Katsuki tertahan ketika melihat Deku menyentak tangannya. Meski tak ada airmata yang mengalir, mata hijaunya tak tertuju pada Katsuki. Mata itu menatap kosong pada lantai, seolah lawan bicaranya berada di sana. "Tak perlu. Katsuki tak perlu menjelaskan apa pun lagi. Aku sudah mengerti."
"Kau tidak mengerti—"
"Aku mengerti," ucap anak itu dengan suara lirih. Kepalanya terangkat dan ia menatap Katsuki. Dengan senyum yang dipaksakan ia berkata, "Maaf, karena selama ini aku tidak menyadarinya."
Menggeleng, Katsuki berkata, "Kau salah paham. Bukan itu yang ingin kukatakan. Kau memang quirkless, karena itu aku tak ingin kau seenaknya menyelamatkan orang. Kau tidak punya kemampuan untuk itu. Kau tidak seperti para hero. Kalau kau melakukannya kau bisa—"
"Aku sudah tahu itu!" Deku akhirnya memotong ucapannya dan airmata menetes jatuh dari pelupuk matanya. "Aku sudah tahu bahwa aku ini quirkless dan tak bisa apa-apa. Aku juga tahu bahwa aku harus mengharapkan belas kasihanmu untuk merawatku. Aku tahu itu semua."
"Kenapa—"
"Tapi kupikir... selama ini kau tidak pernah mempermasalahkannya," ujar Deku sembari menunduk memegangi lengannya, "bersamamu membuatku berpikir, quirkless pun tidak masalah, setidaknya hingga hari ini."
"Deku..." Katsuki mencoba menyentuhnya tapi Deku mundur selangkah darinya. Membuat tangannya menggantung di udara. "Deku, dengarkan aku! Meski kau quirkless, aku tak pernah keberatan merawatmu. Kau sudah salah paham. Kau—"
"Aku tidak salah paham," potong Deku sengit. "Katsuki tak perlu menyangkalnya. Aku tahu Katsuki sungguh-sungguh."
"Ya, tapi maksudku—"
Lagi-lagi Deku mundur selangkah. Ia menggelengkan kepala dan membuat Katsuki berhenti bicara dan menelan ludah. Apapun yang ia ucapkan tak membuat anak itu mengubah sikapnya. Anak itu sudah tak mau mendengar apa pun. Sia-sia saja mencoba mengatakannya.
Menggigit bibir, Katsuki pun tak punya pilihan. Dengan jengkel ia berbalik menuju ke dapur dan berkata, "Terserahlah!"
Ucapannya membuat airmata kembali menetes dari bola mata sehijau zamrud itu, tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Ia tak bisa menghapusnya untuk anak itu. Terpaksa anak itu sendiri yang menghapus airmatanya yang tumpah. Ia bahkan tak bisa mencegah ketika anak itu berbalik dan masuk ke kamar. Matanya hanya bisa memandang penuh harap pada pintu mahogany yang tertutup, menyembunyikan anak itu.
Menghadap ke meja makan, Katsuki lagi-lagi memukulkan tinjunya ke meja. Ia menggunakan tangannya yang lain untuk menutup wajahnya. Tak menyangka bahwa begitu sulit mengatakan hal yang tepat pada anak itu. Kemarahannya yang meluap membuat anak itu salah paham padahal yang ingin ia katakan bukan itu.
Bukan. Ia tak ingin mengatakan anak itu tidak bisa apa-apa. Ia hanya ingin bilang bahwa ia khawatir dan ia sangat cemas. Kehilangannya adalah hal yang besar bagi Katsuki dan ia tak bisa membiarkan hal itu. Hanya saja, entah kenapa Deku terus menerus mengujinya. Mengujinya sekalipun ia sudah mengatakan berulang kali bahwa ia paling takut saat anak itu terluka. Kenapa anak itu tidak juga mengerti?
Tapi dibanding menyampaikan perasaannya, ia malah berkata sebaiknya anak itu tidak usah berbuat apa pun. Bahkan sampai menyebut-nyebut bahwa anak itu tidak berguna dan quirkless. Jelas saja anak itu marah dan terluka mendengar ucapannya.
Menghela napas, Katsuki kembali menatap ke arah pintu. Ia tidak mengharapkan anak itu memaafkannya, tapi ia harap anak itu mengerti. Mengerti bahwa di balik semua kata-katanya yang keterlaluan, Katsuki ingin mengatakan bahwa ia sangat khawatir.
Ia juga berharap anak itu tak memasukkan kata-katanya ke dalam hati. Itu bukan hal yang ingin ia ucapkan dan ia juga gagal menyampaikannya dengan baik. Sebagai orang yang lebih dewasa pertengkaran ini seharusnya bisa ia hentikan bila ia bisa menjaga emosinya. Tapi apa boleh buat. Perkataan Deku benar-benar membuatnya marah saat itu.
Ya sudahlah, pikirnya. Mereka memang baru kali ini bertengkar hingga seperti ini. Tapi pertengkaran ini takkan berlangsung selamanya, bukan? Besok atau lusa, Deku pasti sudah kembali seperti biasa. Deku takkan marah padanya. Deku akan mengerti.
Setidaknya, itulah yang ia harapkan.
.
.
.
(t.b.c)
A.N:
Holla All! Cyan kembali! Balik-balik langsung lempar angsa nih Cyan XD
Oh! Ngomong-ngomong, happy belated birthday buat Dabi! Kemarin liat di TL ada yang bilang happy birthday buat villain satu itu. Jadi buru-buru cek, dan bener aja, Dabi ultah. Otanjoubi omedetou, Dabi! XD
Aniway, untuk :
hanazawa kay : betul Kay, ideologinya dia berbeda dan ternyata dia pengagum Allmight juga XD kalau ini Canon, mestinya Stain bisa bertemen sama Deku, Kacchan juga yang lain. Tapi apapun itu, aku setuju, dia emang penjahat yang keren XD
NamuraShicie : iya, abang satu itu ngamuk besar, tapi ngamuk besar yang salah sasaran T_T jadinya Deku bete deh. Katsuki yaampun T_T
Nah lho! Katsuki uda di ultimatum tuh! Nggak boleh ninggalin Deku! Jadi jangan tinggalin Deku ya apapun yang terjadi!
WinYuzukiN : *nyanyi – Never Grow Up-Taytay XD
"Oh darling don't you ever grow up, don't you ever grow up
It could stay this simple
I won't let nobody hurt you
Won't let no one break your heart"
Tsuna : hello Tsuna! I hope it's a good thing when you said 'the more you read, the more question you had' XD Thank you for always reading this fic. I'm not sure is the google translate it right, but I didn't really understand when you ask about what is publication rate. I'm not really aware of that :P but I hope many people enjoy it as much as I am.
Aniway, after what happened, you see that Katsuki is really mad. He is really mad because Deku get hurt but can't say it right. He just furious and it hurt Deku. T_T
I hope he learn something from it. And yes, he won't let Deku use the toilet by himself. Maybe he will persistenly hanging around him all the time and made Deku suffer XD
kyunauzunami: Waduh, Deku baik nggak ya? XD Ano... itu dipukul pantatnya malah bikin Katsuki makin furious. Kyu ngerasain aura-aura gelap di belakang Kyu nggak? Ati-ati, sebaiknya baca doa dan sebut nama tokoh lain selain Deku 3x biar abang yang satu itu nggak salah paham.
Kiri-chan, duh, entah kapan doi bakal bangun. Begitu dia bangun, dia punya informasi penting buat Katsuki dan semoga aja semua belom terlambat ya?
Aniway, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D
For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD
