Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.

Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi

Until we meet again by cyancosmic

.

.

.

Enjoy!


Ask 21. Where are you, partner?

Berdiri di antara sejumlah balok mainan yang bertumpuk, dikelilingi sejumlah pasang mata, ia tersenyum tatkala telapak tangannya menyala dengan harum karamel merebak di udara. Bahkan senyumnya pun semakin lebar mendengar semua pujian yang ditujukan padanya. Mereka bilang 'Katsuki hebat', 'Katsuki pasti akan jadi seorang hero yang setara dengan Allmight' dan banyak pujian lainnya. Namun ada satu pujian yang menarik perhatiannya.

"Kacchan hebat!"

Ia menoleh. Keningnya berkerut. Tak ada yang memanggilnya seperti itu sebelumnya. Teman-temannya memanggilnya Bakugou, sementara orang tua dan gurunya memanggilnya Katsuki. Lalu siapa yang menyebutnya dengan panggilan kekanakan seperti itu?

Mata merahnya bertemu dengan netra sehijau zamrud yang berkilauan. Senada dengan irisnya, rambut anak itu pun ikal berantakan sehijau daun. Pipinya yang gembil dan berbintik bersemu merah. Dengan tangan yang terkepal erat anak itu berkata, "Kacchan, bagaimana kau melakukannya? Bagaimana cara kerjanya? Tanganmu bersinar. Apa kau merasa kesakitan? Tapi, keren sekali! Keren sekali, Kacchan!"

Aneh. Ia yakin, ia tak pernah mengenal anak ini sebelumnya. Tapi, sosoknya membuat ia rindu. Membuatnya ingin meletakkan tangannya di atas rambut sehijau daun itu. Atau menggosok hidungnya dan berkata pada sosok itu dengan kesombongannya yang biasa. "Bawel sekali! Tentu saja aku keren dan aku akan jadi hero yang hebat! Berbeda denganmu!"

Sosok itu hanya tertawa. Ia tidak tampak tersinggung. Malah anak itu berkata, "Kacchan tunggu saja! Nanti setelah aku mendapatkan quirk, kita berdua bisa menjadi hero yang hebat."

"Ha!" Ia berkata lagi. Heran sekali dengan kepercayaan diri anak aneh ini. "Itu tidak mungkin. Lagipula cukup aku seorang saja yang hebat!"

Masih dengan senyum merekah di wajah, anak berambut hijau itu berkata, "Kacchan lihat saja nanti"

Mengerutkan dahi, ia heran karena anak itu begitu optimis. Padahal ia sudah mengatakan hal yang jahat untuk mengecilkan mimpi anak itu. Tapi anak itu tidak terpengaruh. Justru Katsuki yang merasa terganggu dengan keoptimisannya. Ia tidak suka melihat anak itu tetap tersenyum meski ia sudah mengatakan hal yang menyakitkan.

"Tidak bisa!" Ia berkata dengan suara keras hingga membuat anak itu tertegun. "Kau tidak bisa. Kau 'kan Deku!"

Bola mata kehijauan anak itu melebar mendengar ucapannya. Ia sendiri terkejut mendengar kata yang terucap. Ia menatap anak yang mundur perlahan-lahan itu. Kekaguman di wajahnya sirna, digantikan dengan kekecewaan. Seiring tiap langkah yang anak itu ambil, suasana terang pun memudar digantikan dengan kekelaman. Asap berwarna ungu kehitaman menyebar di sekeliling mereka sementara bocah kecil di hadapannya perlahan berubah. Dari seorang anak kecil menjadi anak remaja berseragam gakuran.

Airmata merebak di pelupuk matanya. Tubuhnya yang kurus dan mungil gemetar. Sementara padanya anak itu berkata, "Kacchan benar. Aku memang tidak berguna. Aku memang Deku."

Ia terdiam, tidak bisa menjawab. Ia pun ragu untuk mendekat. Seolah ada beban berat yang membuat kakinya enggan melangkah.

"Lebih baik aku mati," ujarnya sambil menatap Katsuki, "dan berharap aku akan lahir kembali di kehidupan selanjutnya."

Bola matanya melebar, ia memaksakan diri untuk melangkah. Ia tidak ingat perkataan seperti itu. Tapi ia merasa pernah mengatakan hal yang serupa. Meski bukan ini hasil yang ia harapkan.

"Selamat tinggal, Kacchan!"

Sekuat tenaga ia berusaha mengulurkan tangannya. Kakinya yang seberat batu akhirnya terangkat dan ia pun berlari kencang. Jemarinya berusaha menggapai tangan anak itu. Namun ia sudah terlalu terlambat. Kegelapan sudah lebih dulu menyeret anak itu sebelum ia dapat menggapainya.

Teriakannya pun menggema keras. Menyebutkan nama yang ada di ujung lidahnya. Ketakutan menghampirinya ketika ia tahu bahwa kegelapan sudah menelan sosok itu sepenuhnya. Tak peduli sekeras apapun ia memanggil.

Putus asa, ia pun berlutut. Kata-katanya yang tajam telah menghancurkan anak itu. Menyesal pun ia tak dapat memperbaikinya. Quirknya yang ia banggakan pun tidak dapat membantunya menyelamatkan anak itu. Ia yang mengidolakan seorang hero malah membunuh seseorang dengan kata-katanya. Bukankah, tak ada artinya bila ia menjadi hero dengan tangan yang telah bernoda darah? Apa yang ia lakukan sebetulnya?

Tersungkur, kedua tangannya menghantam ke bawah dengan begitu keras. Membawa seluruh kemarahannya, ia mengepal erat dan memukulkan tangannya. Percikan quirk yang menyala di telapak tangannya tempatnya berdiri, meski di sekeliling tetap gelap gulita. Ia tak peduli. Ia terus menyakiti tangannya. Hingga akhirnya seseorang memegang tangannya dan ia pun mendongak.

Bukan. Tangan ini tidak kasar dan besar seperti tangan Kirishima, juga tidak cekatan seperti tangan Aizawa. Tangan ini lebiih ramping, kurus dan dipenuhi bekas luka. Tangan yang jauh lebih mungil dan bila ia menangkupkan tangannya di atas tangan tersebut, ia yakin ia sanggup menutupi seluruh permukaannya.

Ia pun menggerakkan kepala perlahan, mencari sosok yang menggenggam tangannya. Sinar di telapak tangannya telah memudar sehingga ia kesulitan untuk mengamati sosoknya di tengah kegelapan. Hanya siluetnya yang masih dapat ia lihat di tengah kekelaman yang menyelimuti.

Sosok itu seorang pemuda yang tak lebih tinggi darinya. Ia juga memiliki bentuk tubuh yang ramping kalau tidak mau dibilang kurus kering. Rambut ikalnya berkibar seolah tertiup angin, meski tak ada udara yang ia rasakan di sekelilingnya.

Padanya, sosok itu berkata,

"Ka—"

.

.

.

Ia terbangun dengan kelopak mata yang basah. Mengerjap pelan ia pun berusaha mengusir jejak air mata di wajahnya. Menggunakan jari untuk menghapusnya, ia pun mulai membuka matanya, memandangi pemandangan yang didominasi warna putih dengan aroma karbol yang menusuk hidung.

Dua hari telah berlalu semenjak kedatangannya di tempat ini. Tempat yang menjadi suaka bagi para hero keluaran Yuuei berhubung salah satu pro hero legendaris mereka berada di sana. Sang pembawa mujizat yang seringkali disalahgunakan oleh hero-hero yang tak tahu batas dirinya sendiri. Bukan Katsuki, tentu saja.

Sebagai rasionalis yang menempatkan nyawanya di garis depan, tentu saja Katsuki mengenal dirinya lebih baik dari siapapun. Meski terkenal brutal, anarkis dengan mulut yang berbisa, ia selalu mengutamakan logikanya saat menghadapi penjahat. Ketenangannya menganalisa musuh dipadu dengan gerakannya yang cepat dan akurat membuat para penjahat takluk di bawah nama besar Ground Zero.

Meski demikian, ia tak menyangkal bahwa tak selamanya ia bertindak berdasarkan logika. Ada hari-hari ketika ia lebih mengutamakan emosi dibanding logika. Aizawa bilang ia memiliki masalah dalam kecerdasan emosional dan ia menganggap itu omong kosong. Daripada mengatakan bahwa ia memiliki masalah dalam mengontrol emosi, ia lebih suka menyebut dirinya ekspresif. Terlebih di hadapan satu-satunya sosok yang mengambil tempat lebih dari lima puluh persen isi pikirannya.

Menggerakkan tangan, ia menyentuh rambut hijau yang berada tak jauh darinya. Mengusapnya pelan, menikmati helaian demi helaian yang menyembul di sela-sela jemarinya. Setiap detik yang dihabiskannya terasa begitu spesial hingga akhirnya sang pemilik bergerak tak nyaman dan mengangkat kepalanya.

Menggosokkan tangan ke kelopak matanya, anak remaja berambut hijau itu pun berusaha membuka mata. Netra hijau yang baru terbuka itu bertemu dengan irisnya yang kemerahan. Masih sedikit mengantuk sang pemilik mengucapkan selamat pagi, sembari menguap lebar.

"Sampai menguap lebar-lebar begitu," ujar Katsuki seraya meraih wajah anak itu. Membingkainya di antara kedua tangan, Katsuki menyapukan ibu jarinya di bawah kelopak mata. Dahinya merengut tatkala ia melihat kantung mata di bawah jemarinya sehingga ia berkata, "Sudah kukatakan untuk naik saja ke tempat tidur. Kau tidak mau dengar!"

Berusaha menjauhkan tangan Katsuki, anak itu hanya berkata, "Tidak mungkin aku naik ke ranjang orang sakit, Katsuki. Yang terluka 'kan bukan aku!"

"Omong kosong," ucap Katsuki sembari mengacak-acak rambut anak itu. "Aku juga sudah sembuh dan tidak terluka. Apa bedanya kau dan aku?"

"Tentu saja beda," jawab anak itu sembari mencoba menyingkirkan tangan Katsuki dari atas rambutnya. Hal yang mustahil dilakukan dan malah membuat jemarinya terjepit di antara sela-sela jemari Katsuki. Membuatnya meringis sedikit sebelum meminta Katsuki untuk melepaskannya.

Tak semudah itu biasanya untuk melepaskan diri dari Katsuki. Untunglah saat itu beberapa penolongnya tiba tepat waktu. Pintu terbuka dan menampilkan pemuda dengan warna rambut berbeda dengan tas di bahu. Di sampingnya, seorang pria yang lebih dewasa dengan rambut merah yang sewarna dengan pemuda itu ikut menemani. Kehadiran keduanya membuat Katsuki menyipitkan mata sementara keduanya melenggang masuk.

"Endeavor-san, Shouto!" Deku menyambut keduanya dengan wajah yang berbinar cerah. Ia bergegas menghampiri keduanya. Sikapnya yang begitu ceria membuat salah satu dari mereka tersenyum dan memberikan tas yang sebelumnya ia bawa. "Apa ini, Shouto?"

"Baju," jawab Shouto singkat sambil melangkah masuk. Menggerakkan kepalanya ke samping ia berkata, "Dan Orang Tua ini ingin bertemu dengan Ground Zero."

Menoleh pada pria bertubuh besar di samping Shouto, Deku pun berkata padanya, "Endeavor-san mau bertemu Katsuki? Untuk apa?"

Meletakkan satu tangannya di atas kepala anak remaja yang hanya setinggi pinggangnya itu, Endeavor pun berkata, "Bukan urusan penting. Hanya ingin melihat kondisinya."

Deku menoleh pada Shouto, berusaha mendapatkan jawaban lebih. Namun sang pro hero nomor dua itu pun hanya mengangkat bahu. Keduanya membuat Deku menggerakkan kepala sebelum ia kembali berpaling pada Katsuki.

Iris kemerahan Katsuki menyipit saat melihat kedua tamunya. Perasaannya masih tidak enak karena mimpi buruk yang dilihatnya tadi. Sekarang suasana hatinya bertambah buruk melihat rival sekerjanya ditambah orang tuanya. Belum lagi ketika melihat keduanya berakrab-akrab ria sementara Deku menyambut mereka riang.

"Apa urusan kalian sudah selesai? Aku harus menyapa kalian dulu atau apa baru kalian mau pergi?" Ia akhirnya berkata sambil menatap sinis pada keduanya.

"Katsuki—"

Ucapan Deku terpotong ketika ia mendengar suara pria bertubuh besar itu. Endeavor mengedikkan bahu pada sang anak dan berkata, "Nak, bagaimana kalau kau ajak Deku sarapan di bawah? Kudengar ada kantin yang menyediakan bubur yang enak di sana."

Shouto mengernyitkan alis. Biasanya ia selalu membangkang terhadap semua yang ayahnya katakan. Namun kali ini ia memilih untuk mengalah. Menggunakan senyumnya yang mampu menaklukkan hati gadis manapun, pemuda itu meminta Deku menurunkan bawaannya sebelum berkata, "Ayo, Deku! Semoga di sana mereka menjual Katsudon atau Soba."

Ragu-ragu, Deku menoleh pada Katsuki. Pemuda bernetra merah itu mengangkat alis sebelum mengangguk. Mengacak-acak rambut Deku ia berkata, "Sana! Pergilah!"

Tanpa membuang waktu, Deku pun menurunkan tas yang sedari tadi dijinjingnya ke sofa. Mengambil ponselnya, ia pun menghampiri Shouto yang sudah berdiri di ambang pintu. Bersama-sama keduanya meninggalkan ruangan di mana Katsuki dan Endeavor masih berada di dalamnya.

Bersandar pada kepala ranjangnya, Katsuki memicingkan mata. Ia mengawasi pro hero legendaris yang sempat populer di masa kejayaannya. Sebelum ia pensiun, ia pernah menjadi hero nomor satu dan tak dapat disangkal bahwa nama besarnya masih menimbulkan ketakutan tersendiri bagi para penjahat. Meski bagi Katsuki, sebagai hero pun dia sendiri akan waspada bila berhadapan dengan hero legendaris seperti pria ini.

Menarik kursi yang sebelumnya ditempati Deku, pro hero itu duduk sembari menyilangkan kedua tangan. Matanya yang berwarna biru kehijauan seperti sang anak memandang Katsuki tajam. Biasanya Katsuki takkan gentar ditatap seperti itu oleh Bakazawa sekalipun dan malah akan menantang balik. Tapi tidak kali ini. Ia tidak bisa melakukannya.

"Langsung saja kukatakan," ujar hero satu itu, "mulai besok, kau akan menerima manual training untuk hero. Kau baca dan pelajari sendiri saja di rumah."

"Apa?"

"Setelah melihat performamu melalui video, aku melihat bahwa caramu bekerja dapat membahayakan keseluruhan tim," ujar sang pro hero legendaris itu. "Kalau saja tim-mu bukan terdiri dari hero papan atas seperti Aizawa, anggota tim-mu yang lain pasti sudah mendapat kesulitan karena aksimu yang tak sesuai rencana."

Manik merah Katsuki menyipit. "Kau datang ke sini untuk secara khusus menyampaikan hal itu? Apa tidak ada orang lain yang dapat melakukannya untukmu?"

"Kau takkan mendengarkan orang lain," ujar pria itu dengan tegas. "Aizawa jelas tidak dapat mengendalikanmu dan meminta Hawk atau orang lain hanya akan membuatmu mengabaikannya."

"Dan menurutmu aku takkan mengabaikanmu?"

"Aku tahu kau berencana melakukannya," jawab pria itu tak acuh. "Aku juga hendak menambahkan bahwa selama satu minggu kau diskors dari pekerjaanmu."

Bola mata Katsuki melebar. Satu minggu diskors katanya? Dari pekerjaannya? Apa-apaan? Memangnya siapa mereka? Berani-beraninya melarang hero seperti dia untuk bekerja? Apa mereka merasa sudah lebih hebat darinya?

Menyadari bahwa lawan bicaranya sudah siap untuk memaki, Endeavor pun mengangkat kepalanya. Ia tahu pemuda itu pasti takkan menerima begitu saja keputusannya. Karena itu seolah dapat membaca pikirannya, ia pun menambahkan, "Kau tidak perlu khawatir, di agensiku ada banyak orang yang jauh lebih dapat diandalkan untuk bekerja sama. Absennya dirimu selama satu minggu takkan berpengaruh besar bagi keamanan kota."

Bagai menuang minyak ke dalam api, pemuda bergelar hero nomor satu itu mulai kehilangan kesabarannya. Dengan suara nyaring ia berkata, "Apa kau bilang?"

Tetap tenang, Endeavor kembali berkata, "Haruskah kuulangi? Ataukah memang ada masalah di otakmu seperti yang Recovery Girl katakan sebelumnya?"

"Ha! Dari kemarin kalian semua beralasan bahwa ada masalah di kepalaku seperti yang Nenek Tua itu katakan," ujar Katsuki dengan nada meninggi. "Jangan-jangan memang ini teori konspirasi yang kalian lakukan untuk menyingkirkanku sebagai hero nomor satu! Ternyata cara kerja kalian seperti ini."

Bersedekap, Endeavor kembali berkata, "Anakku tak butuh hal itu untuk menyingkirkanmu dari posisi nomor satu, Ground Zero. Kau menilai dirimu terlalu tinggi."

Mendengarnya, Katsuki pun hendak angkat bicara. Namun Endeavor masih melanjutkan ucapannya. Karena itu Katsuki kembali bungkam. Dahinya berkerut sementara matanya menyipit.

"Kalau Recovery Girl berkata ada yang salah pada otakmu, sebaiknya kau mendengarkannya," ujar pria itu. "Nenek Chiyo pantang berbohong untuk kondisi tubuh seseorang, terlebih orang yang tak dapat menahan diri sepertimu, Bakugou!"

Mendengus, dalam hatinya Katsuki berkata bahwa pria ini hanya banyak omong. Ekspresinya tergambar begitu jelas di wajahnya sehingga Endeavor pun kembali melanjutkan.

"Silakan kalau kau mau berpikir bahwa aku hanya banyak omong," ujar Endeavor yang membuat Katsuki terperangah. "Juga terserah kau mau berpendapat apa, yang jelas kau dilarang melakukan kegiatan hero selama satu minggu!"

"Kau tidak berhak melakukannya! Kau hanya rekan aliansi, Aizawa—"

"Aizawa sudah setuju untuk menonaktifkanmu selama satu minggu," potong Endeavor sebelum Katsuki menyelesaikan ucapannya. "Selama itu kau dibebastugaskan. Terserah apa yang hendak kau lakukan selama seminggu itu selama kau tidak berhubungan dengan para penjahat."

Katsuki hendak membantah bahwa itu mustahil. Kejahatan ada di mana-mana dan tidak mungkin ia menghindari kejahatan sekalipun ia dibebastugaskan. Tapi lagi-lagi, bagaikan membaca pikirannya, Endeavor tahu-tahu melanjutkan, "Memang benar, kau tidak bisa mencegah kejahatan menghampirimu. Tapi apabila aksimu ketahuan, bisa kupastikan bahwa jangka waktu skorsmu akan kutambah."

Dengan mulut terbuka Katsuki menggelengkan kepala. Ia tidak percaya ini. Skorsnya ditambah setiap kali ia mencegah kejahatan? Apa-apaan?

"Itu saja yang mau kusampaikan," ujar Endeavor sembari meletakkan kedua tangannya di lutut. "Administrasimu sudah diselesaikan oleh Hawk, kau bisa keluar kapanpun kau mau. Tapi sebaiknya, kau temui Recovery Girl dulu sebelumnya. Kudengar, ia punya beberapa nasehat untukmu."

Katsuki hendak berkata bahwa menemui Recovery Girl adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya. Hanya saja, berhubung selama beberapa hari ini setiap orang meyakini bahwa ada masalah di kepalanya, ia pun tergoda untuk membuktikan sebaliknya. Ia yakin bahwa dirinya baik-baik saja dan diagnosa seorang Nenek Tua takkan mengubah apapun. Meski demikian, tak ada artinya pembuktian bila hanya berasal dari dirinya sendiri.

Karena itulah setelah Endeavor meninggalkan ruangan, ia pun beranjak keluar. Mengenakan sandal yang diberikan pihak rumah sakit, Katsuki pun berjalan menuju ke tempat jaga perawat. Di sana ia menanyakan ruangan Recovery Girl, yang dengan senang hati ditunjukkan oleh para perawat. Bahkan mereka menyarankan untuk memanggilnya ke ruangannya berhubung ia seorang pasien yang membutuhkan perawatan. Namun ia menolak dan mengatakan akan menghampiri ruangan Nenek itu.

Beruntung baginya ruangan Recovery Girl berada di lantai yang sama dengan lantai VVIP. Hanya dengan berbelok di tikungan sedikit, dan berjalan lurus, ia sudah sampai di ruangan khusus milik wanita tua itu. Setelah mengetuk pintu dan menunggu beberapa saat, akhirnya wanita itu mempersilakannya masuk. Ia pun mengambil tempat di hadapannya sementara wanita itu kembali ke meja kerjanya.

"Bakugou-kun," ujar wanita tua itu sembari menampilkan layar monitornya, "baru saja aku berencana mampir ke ruanganmu."

"Tak perlu repot-repot, Nenek Tua," jawabnya. "Langsung saja ke inti permasalahannya."

Menghela napas, Recovery Girl pun menggerakkan tangannya di atas mouse. Layar komputernya pun kembali menyala, menunjukkan gambar dua belahan otak dari tampak atas juga tampak samping. Ia menggerakkan mouse untuk mengarahkannya pada satu bagian sementara ia berkata, "Kau tahu soal hippocampus (1), Bakugou?"

Katsuki mengernyit. Ia menggeleng. Mungkin ia pernah belajar biologi sewaktu masih sekolah dulu, namun ingatannya sudah memudar berhubung banyak hal lain yang lebih penting untuk diingat.

"Baiklah," lanjut Recovery Girl setelah menyadari bahwa pasiennya takkan dapat memberikan jawaban yang ia inginkan. "Hippocampus adalah bagian dari otak yang berfungsi untuk menyimpan ingatan jangka panjang, seperti password komputer, kenangan yang menyenangkan, dan lainnya."

Sekali lagi Katsuki mengernyit. Ia punya dugaan mengapa mereka tiba-tiba mendiskusikan pelajaran biologi. Karena itu ia berkata, "Kau mau mengatakan bahwa bagian itu terbentur dan ingatanku terganggu?"

Tak langsung menjawab, Recovery Girl malah berkata, "Hampir tepat, tapi bukan itu persisnya."

Katsuki hendak kembali menanyakan apa maksudnya sebelum Recovery Girl melanjutkan sendiri ucapannya tanpa diminta. Pada Katsuki, wanita tua itu menunjukkan benda seperti pita yang melingkari bagian hippocampus di kedua tempat dan berkata, "Sebelumnya tidak pernah ada yang seperti ini di area hippocampus, namun sejak sepuluh tahun lalu benda ini muncul di hippocampus semua orang, bagaikan pengikat."

Alis Katsuki semakin mengerut. Ia tidak mengerti.

Melihat ekspresi Katsuki, Recovery Girl pun lanjut berkata, "Adanya ikatan ini menghalangi akses ke memori yang mungkin ada di bagian tersebut. Tapi dalam kasusmu, pita kecil itu terlepas entah bagaimana sehingga bagian tersebut menjadi bebas."

Pembicaraan tingkat tinggi seperti ini membuat Katsuki sekalipun harus memijat dahinya. "Jadi maksudmu, karena kepalaku terbentur, sesuatu di kepalaku hancur dan aku seharusnya merayakannya?"

"Ya dan tidak," ujar Recovery Girl sembari meletakkan satu tangan di dagu. "Aku tidak tahu apakah kau dapat merayakannya atau malah menjadi kutukan bagimu."

"Maksudmu, dengan hancurnya pita atau apapun itu aku akan dapat mengingat kembali sesuatu yang harusnya tersimpan di sana?" Katsuki akhirnya menyimpulkan. "Begitukah artinya?"

Mengangguk, "Ya, dengan kata lain seperti itu."

Secara tiba-tiba Katsuki menghantamkan kedua tangannya ke atas meja, membuat Recovery Girl terkejut. Wanita itu memandang Katsuki sembari menggelengkan kepala sementara Katsuki menatapnya dengan ekspresi yang siap untuk melumatkan lawan. Dengan suara pelan dan tajam ia berkata, "Hanya karena itu kalian menonaktifkanku dari tugas hero selama seminggu?"

"Bakugou—"

"Hanya karena sesuatu mengenai iingatan yang bahkan tak ada sangkut pautnya dengan performaku sebagai seorang hero?" tanya Katsuki. "Apa kau mengatakan hal ini pada Bakazawa dan Endeavor?"

Mengangguk, Recovery Girl kembali berkata. "Tentu saja harus kukatakan. Berhubung letaknya berada di bagian dalam otak, tak ada seorang pun yang pernah melepaskannya sebelumnya. Hal ini baru terjadi padamu seorang. Bukankah itu artinya kau perlu dipantau dan mendapatkan perlakuan khusus?"

"Omong kosong!" Katsuki berkata sambil menarik tubuhnya mundur dari meja kerja. Ia kembali bersandar pada kepala kursi dan kembali berujar, "Kalian hanya cari alasan untuk membebastugaskanku. Bahkan alasan tak masuk akal ini pun kalian gunakan. Apa menurutmu aku akan diam saja dan menerima alasan konyol semacam ini?"

Kali ini Recovery Girl yang mengerutkan dahi. "Aku tidak mengerti mengapa kau menilai bahwa setiap orang ingin menjatuhkanmu, Bakugou. Kau seorang hero nomor satu, kecuali kau pensiun, tak ada yang ingin kehilangan komoditas berharga sepertimu. Tidak di saat sekarang ini."

"Ha! Bisa saja kau bicara, Nenek Tua!" Katsuki kembali mencemooh. "Kalau bukan ingin menjatuhkanku, lalu apa namanya?"

Melompat turun dari kursi yang ditumpanginya, Nenek Chiyo pun memutari meja. Dengan langkahnya yang lambat dan dibantu oleh tongkatnya yang serupa jarum suntik, wanita itu menghampiri Katsuki. Dengan pelan ia berkata, "Bahkan hero terhebat seperti Allmight pun membutuhkan istirahat. Anggaplah ini sebagai masa untuk memulihkan dirimu sendiri."

"Aku tidak bu—"

"Kau bisa bersantai dengan anak yang terus menjagamu selama beberapa hari ini," potong Recovery Girl sebelum Katsuki dapat membantah. "Siapa namanya?"

"Deku," jawab Katsuki sembari mengerucutkan bibirnya. "Tapi kau tidak perlu tahu namanya."

Recovery Girl tertawa mendengar jawabannya. Menumpukan seluruh berat tubuhnya pada tongkat, wanita tua itu berkata, "Seperti yang kudengar, kau overprotektif sekali. Apa sudah ada yang mengatakannya padamu?"

Memalingkan wajah, Katsuki pun mendengus. Pikirnya, tahu apa wanita ini?

"Kau tahu bukan, bahwa itu adalah kelemahan bagi seorang hero?" Recovery Girl kembali berkata. Kali ini ia menyentuh lutut Katsuki pelan, "Kau terluka pun, salah satunya karena memikirkan anak itu, bukan?"

Kelopak mata Katsuki melebar. Sebelumnya ia berpikir wanita ini tidak tahu apa-apa. Tapi sepertinya ia salah sangka. Wanita ini bukan tak tahu, wanita ini sebelumnya berpura-pura tidak tahu.

"Tak usah panik begitu," lanjut Recovery Girl saat melihat kewaspadaan di wajah Katsuki. "Wajar kalau kau memiliki sesuatu yang sangat ingin kau lindungi, meski aku harus mengingatkanmu."

Manik merah Katsuki menyipit. Ia menyingkirkan tangan Recovery Girl dari atas lututnya seraya berkata, "Aku tak butuh nasehat tambahan, Nenek Tua. Simpan saja untuk lain waktu!"

Mengangkat bahu, Recovery Girl tak dapat mengatakan apa-apa ketika melihat Katsuki sudah beranjak dari tempat duduknya. Ia menghela napas saat melihat pemuda tak sabaran itu segera angkat kaki dan meninggalkan ruangannya. Padahal ia baru saja mau menceramahi pemuda itu.

Ia tahu, berbagai pro hero sebelum dirinya sudah pernah mengatakan hal ini. Meminta sang hero nomor satu untuk memikirkan keselamatan diri dan mengetahui batas diri. Tapi ia rasa ia perlu mengatakannya. Terlebih ketika ia tahu kebenaran yang terjadi sepuluh tahun yang lalu.

"Semoga," ujarnya sambil menangkupkan kedua tangannya, "hal tersebut tak terulang kembali."

Katsuki sendiri masih sempat menoleh ke arah ruangan yang sebelumnya ia tinggalkan. Menyipitkan mata, ia mencoba menduga-duga apa sebetulnya yang hendak Nenek Tua itu katakan padanya. Kalau ini tentang sikapnya pada Deku, sepertinya ia tahu apa yang hendak diucapkan. Pasti soal ia terlalu overprotektif dan semacamnya yang membuatnya bosan setengah mati.

Kalau dibilang begitu, ia sendiri tak merasakan hal yang salah dengan dirinya yang overprotektif. Mereka tidak mengenal Deku seperti dirinya. Hanya dia yang paling memahami anak itu. Bukan Shouto, bukan Bakazawa, bukan Endeavor juga bukan Nenek sialan itu. Mereka tidak tahu apa-apa.

Mereka salah duga kalau Deku hanya quirkless semata. Kalau hanya quirkless, anak itu masih bisa menutupinya dengan hal lain. Tapi anak itu juga ahlinya mengundang masalah pada dirinya sendiri. Andai mereka tahu berapa kali ia harus mati-matian menahan diri ketika mengetahui bahwa anak itu terlibat dengan penjahat dan melukai dirinya sendiri?

Seolah ada saklar yang dimatikan, saat itu juga logikanya berhenti berfungsi. Instingnya mengambil alih dirinya. Yang ia tahu bahwa ia harus menyelamatkan anak itu. Persetan dengan orang lain bahkan dirinya sekalipun.

Tanpa perlu dikatakan pun ia tahu bahwa inilah kelemahan besarnya. Bila musuh mengetahui hal ini, bukan tidak mungkin mereka akan memanfaatkan satu-satunya kelemahannya untuk memancingnya bergerak di luar kendali. Oleh karena itulah, ia harus bisa menguasai dirinya sendiri. Mungkin inilah yang hendak Recovery Girl katakan padanya sebelumnya.

Namun, ketika ia mencobanya. Ia tahu bahwa hal itu tak semudah diucapkan. Ketika ia menemui Deku dan Shouto yang tengah berada di kantin dan duduk berdampingan sambil bercanda saja, ia merasa tak nyaman. Dengan kedua tangan di kantung baju, ia bergerak menghampiri keduanya. Menyelip di antara celah tempat duduk panjang, ia pun memisahkan keduanya. Sikapnya membuat keduanya kaget, meski hanya Deku seorang yang bergerak untuk memberinya tempat duduk.

Deku memanggil namanya pelan hingga membuatnya menoleh. Mata merahnya menyipit menatap Deku dan makanan yang tengah dinikkmati anak itu. Padanya bocah itu berkata, "Katsuki? Kau sudah boleh jalan-jalan? Bukannya kepalamu sakit?"

"Tidak ada yang salah dengan kepalaku," jawab Katsuki ketus. Ia menatap katsudon di piring Deku dan bertanya-tanya bagaimana menu itu bisa tersedia di pagi hari di kantin rumah sakit. Ia sungguh mempertanyakan bagaimana kokinya bisa menyediakan itu sepagi ini. "Sebegitu sukanya kau pada Katsudon sampai memesan itu terus, Deku?"

"Oh, di sini enak, Katsuki. Ini cobalah sendiri!" Deku menjawab sambil mengangkat satu bagian dan memberikannya pada Katsuki. Gerakan yang membuat Shouto memicingkan mata, walau keduanya tampak terbiasa melakukannya. "Bagaimana?"

Katsuki tak langsung menjawab. Ia mengunyah pelan bagian yang diberikan Deku padanya. Perlahan ia mengangguk dan mengangkat satu jarinya membentuk tanda bulat. Melihatnya, Deku pun tersenyum senang dan kembali mengangkat bagiannya untuk diberikan pada Katsuki.

"Enak 'kan? Oh tapi, tentu saja buatan Katsuki lebih enak," jawabnya sambil memakan kembali makanannya. Pipinya menggembung saat ia tengah mengunyah sehingga Katsuki tergoda untuk menyentuhnya dengan jemarinya.

Meski kebahagiaan itu tak berlangsung lama karena ada seseorang yang berkomentar, "Tempat duduk di depan masih kosong, Bakugou. Kenapa kau tidak pindah saja ke sana?"

Sontak Katsuki langsung menoleh ke samping. Tempat di mana sang pro hero nomor dua tengah menyeruput soba dingin miliknya. Lagi-lagi Katsuki mempertanyakan kios mana yang menjual makanan seperti ini di kantin rumah sakit.

"Kenapa bukan kau saja yang pindah, half and half sialan?" Katsuki balas bertanya. "Aku dan Deku mau menikmati Katsudon dengan tenang."

"Kau tahu istilah first come first serve?" Shouto kembali balas berkata. "Kalau tahu, sebaiknya kau cepat pindah. Kalau tidak tahu, itu artinya aku lebih dulu duduk di tempat ini dan sebaiknya kau pergi sebelum aku mengusirmu."

"Ha! Apa tak salah? Bukannya mestinya aku yang mengusirmu?" Katsuki balas berkata begitu mendengar nada tinggi dari lawan bicaranya. "Bagaimana kalau kita tentukan sekarang saja dibanding menunda-nunda?"

"Boleh sa—"

"Katsuki! Shouto! Hentikan!" Deku akhirnya berkata setelah mendengar perdebatan keduanya. "Aku saja yang pindah ke seberang. Kalian tidak perlu bertengkar."

Shouto mengernyit. "Dan membiarkanku duduk berdampingan dengannya? Tidak, terima kasih!"

"Ha! Kau pikir aku mau duduk berdampingan denganmu, hanbun yaro?" Katsuki juga balas meneriakkan hal yang sama. "Kau mau ke mana, Deku? Tetap di sini! Biar si hanbun yaro ini yang pindah!"

"Sudah kubilang! Sebaiknya kau yang angkat kaki!" Shouto kembali berkata. "Atau aku harus memaksamu lebih dulu!"

"Coba saja!"

"Sudah, sudah!" Deku kembali berkata. Ia mengangkat tray-nya dan sebelum Katsuki dapat mencegahnya, anak itu lebih dulu duduk di hadapan keduanya. "Katsuki tidak mau pesan makanan? Atau sudah ada makanan dari rumah sakit?"

Mengerutkan dahi, baik Katsuki maupun Shouto sama-sama membuang muka. Sementara Shouto menghabiskan soba miliknya, Katsuki memilih untuk menumpukan wajahnya dengan satu tangan. Sementara tangannya yang lain ia ulurkan ke atas rambut Deku. Mengacak-acaknya seraya berkata, "Habiskan makananmu!"

"Ini juga sedang kuhabiskan," jawab Deku. "Katsuki mau tambah?"

"Tidak!" Katsuki menjawab sambil menekan sedikit tangannya. "Setelah itu, ayo cepat pulang!"

Deku mengangkat kepalanya. "Kau sudah boleh pulang, Katsuki?"

"Tentu saja," jawab Katsuki. "Mana mungkin aku betah berlama-lama di sini."

"Oh, wah, itu bagus sekali!" Deku berkata dengan riang. "Oh, tapi baju-baju yang dibawakan Shouto jadi tidak terpakai?"

"Tak masalah," jawab Shouto. "Aku juga sekalian menjengukmu."

Deku tampak salah tingkah. "Tapi yang sakit bukan aku, Shouto. Yang sakit itu Katsuki. Mungkin maksudmu, kau hendak menjenguk Katsuki."

Netra dwiwarna sang hero nomor dua memandang sekilas pada partner kerja di sebelahnya. Mendengus ia berkata, "Tidak. Kau lah yang perlu dijenguk, mengingat tak mudah untuk merawat binatang buas yang satu ini."

"Kau bilang sesuatu, half and half sialan?"

Menggeleng, Deku terpaksa menelan ucapannya. Ia benar-benar heran bagaimana kedua hero papan atas ini begitu tidak akur, bagaikan air dan minyak. Kekuatan keduanya memang luar biasa dan tak heran kenapa kedua agensi mereka hendak menggabungkan keduanya. Kalau mereka berdua bisa bekerja sama dengan baik, hasilnya pasti luar biasa.

Tanpa banyak berpikir, ia pun menyuarakan pendapatnya. "Aku heran kenapa Katsuki dan Shouto tidak bisa akur? Padahal kalau kalian berdua bisa bekerja sama, pasti tak ada penjahat yang tidak bisa kalian taklukan!"

"Mana ada yang seperti itu, Deku?" Katsuki balas mencemooh. "Kemarin ini juga dia malah membantu penjahat melarikan diri."

"Apa bukan rencanamu yang sembrono yang membuat penjahat itu kabur?" Shouto balas berkata.

"Bagaimana bisa?" Deku kembali menimpali. "Bukannya dengan quirk es Shouto semua penjahat akan terkurung, sementara dengan api akan mencegah penjahat itu kabur. Lalu Katsuki bisa menghabisi mereka? Kupikir kombinasi quirk kalian akan sangat keren."

"Kenapa kau optimis sekali, Deku?" Katsuki berkata dengan nada jengah. "Daripada dia, ada orang lain yang lebih cocok untuk berpasangan denganku. Si hanbun yaro ini tidak mengerti pola seranganku berbeda dengan orang itu, dia jauh lebih baik. Bekerja sama dengannya membuat para penjahat itu tidak bisa kabur."

Deku mengerjap pelan dan ia berkata, "Ei-chan maksudnya? Ei-chan yang hebat karena ia bisa mengerti pola seranganmu?"

Ucapannya membuat Katsuki menatapnya sesaat. Ia mengernyit. Siapa yang sedang ia maksud sebenarnya? Kirishima tidak bisa melakukan itu. Ia cocok dengan Kirishima karena Kirishima selalu melakukan apa yang ia katakan untuk mendukungnya. Kirishima tidak membaca pikirannya dan ke mana gerak langkahnya. Hanya orang itu saja yang mampu membaca gerak geriknya dan dengan tepat mengetahui tindakan apa yang harus ia ambil. Orang yang memiliki kemampuan analisa setingkat itu, orang itu—

Siapa?

Siapa orang itu?

Kalau ada orang sehebat itu menjadi partnernya, kenapa ia bisa berpartner dengan Kirishima? Kenapa juga ia harus berpartner dengan hero nomor dua yang hanya hebat di quirk tapi punya minus besar di masalah kerja sama? Kenapa ia tidak berpartner dengan orang itu saja? Ke mana orang itu sekarang?

Apakah orang itu hanya imajinasinya saja? Kerinduannya mempunyai orang yang dapat diandalkankah yang membuatnya berpikir bahwa ia memiliki orang sehebat itu di sisinya? Orang yang tak harus menunggu perintahnya dan mampu menyesuaikan diri dengannya. Seorang partner yang ia butuhkan.

Tapi di mana orang itu sekarang? Kenapa Katsuki begitu bersikeras bahwa ia memiliki orang itu di sisinya? Sementara kenyataannya, ia bahkan tak tahu siapa atau di mana orang itu sekarang. Sungguhkah orang itu ada?

Mengepalkan tangan, ia pun menunduk. Berharap bahwa keyakinannya akan seorang partner yang bisa ia andalkan bukan hanya sebatas angan-angannya seorang. Berharap bahwa entah di suatu tempat, ia akan menemukan partnernya. Partner yang dapat ia andalkan untuk membantunya mengatasi kelemahannya. Hanya, harus ke mana ia mulai mencarinya?

'Di mana kau, partner?' pikirnya sembari meringis. 'Aku membutuhkanmu.'

.

.

.

(t.b.c)


Footnote :

.id/read/051974071/ternyata-begini-cara-otak-manusia-menyimpan-ingatan-mirip-seperti-puzzle?page=all


A/N :

Holla All! Cyan kembali di sini! Senang sekali melihat pertengkaran kedua hero memperebutkan Deku. Ampun deh kedua seme ini!

Aniway for :

hanazawa kay : makasih Kay, seneng banget masih setia baca dan nunggu update yang satu ini XD

Namura Shicie : holla Namura-san, iyah, sedikit menunggu karena butuh waktu for many personal reason sih haha

Setuju, semoga Kacchan n Deku bisa menghadapi berbagai rintangan yang ada. Apalagi Katsuki uda mulai butuh partnernya kembali.

Arisa Ezakiya : amin, Arisa, semoga tetap suka baca fic ini, dan semoga lanjut sampai tamat. Deku memang sedikit cengeng, tapi harap dimaklumin, soalnya dia sayang banget ama Katsuki. Makanya dia menyesal, semoga nggak kejadian lagi ya, Deku. Jangan berantem lagi ama Kacchan UwU

Guest : iya, kayaknya Deku kangen berat ampe nangisnya juga uda sesegukan, gak bisa ngomong XD, semoga abis ini Deku uda nggak marahan lagi ama Katsuki. Nanti kasian si Bang Katsuki, apalagi si Abang belom bisa ngontrol diri sendiri.

Makasih semangetnya, Guest! Dan semoga masih tetep setia menunggu update XD

Also, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D

For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story.

Also one more message, please keep healthy everyone and please maintain physical distancing. Let's fight this covid together! (not related to this governal issue or somethings, just wanna get rid of this pandemic sooner and hope everyone has the same understanding)

And last but not the least, Happy reading and PLUS ULTRA!