Chapter 2 is here! Jarang-jarang bisa update ngebut. Hehehe...

Selamat membaca dan jangan lupa review :)


Disclaimer: Detektif Conan adalah milik Aoyama Gosho. Saya cuman minjem buat fanfic saya.

CHAPTER 2

Hal pertama yang Lana temukan setelah melewati pintu adalah kegelapan. Ya, lagi-lagi ia diselimuti kegelapan. Ia tak bisa melihat apa pun. Kemudian, ia menyadari bahwa ia juga berada dalam kesunyian. Keadaan ini sungguh berlawanan dengan apa yang diharapkannya dan sempat membuatnya kecewa sekaligus takut. Setelah beberapa saat, ia mendengar suara-suara tak jelas dan seolah-olah sangat jauh. Suara-suara ini menaikkan harapannya, tapi ketika ia tak kunjung bisa mendengar suara-suara itu dengan jelas, Lana lagi-lagi merasa takut.

Apa yang terjadi padaku? Di mana aku? Kenapa suara-suara itu sangat jauh? Kenapa aku tak bisa melihat apa-apa? batinnya panik. Untuk beberapa saat ia merasa gelisah sampai akhirnya gadis itu menerima kenyataan bahwa ia tak bisa melihat apa pun dan tak bisa mendengar suara-suara itu dengan jelas. Setelah menerima kenyataan, Lana perlahan-lahan menjadi tenang. Ia pun diam dan menunggu lagi.

Entah berapa lama ia menunggu, yang jelas Lana merasa seolah-olah ia sudah menunggu lama sekali. Mungkin berjam-jam bahkan berhari-hari. Kemudian, tiba-tiba suara-suara yang didengarnya semakin lama semakin keras, semakin jelas. Secercah harapan kembali muncul di hati Lana. Ia berusaha mendengarkan suara-suara itu dan akhirnya menyadari bahwa suara-suara itu adalah suara-suara orang yang bercakap-cakap. Terkadang terdengar suara seseorang, terkadang terdengar suara lebih dari satu orang. Lana jadi bertanya-tanya siapakah orang-orang itu dan mengapa ia tak bisa melihat mereka.

Dari suara-suara yang didengarnya, Lana tahu kalau dirinya sedang mendengarkan percakapan-percakapan di rumah sakit atau paling tidak klinik. Ia menangkap kata dokter, perawat, pasien, obat, dan istilah-istilah kedokteran yang dikenalnya. Setelah menunggu lebih lama, Lana bisa mencium bau. Ia mencium bau alkohol, membuatnya yakin kalau dirinya memang berada di rumah sakit atau klinik. Hal ini membuatnya bertanya-tanya apakah mungkin dirinya selamat setelah jatuh dari atap gedung.

Lana terus menunggu, lalu setelah entah berapa lama ia menunggu, tiba-tiba ia merasa sakit. Tubuhnya sakit seolah-olah ia memiliki memar di sekujur tubuhnya.

Ya, masuk akal jika aku punya banyak memar. Aku jatuh dari atap gedung. Malah seharusnya aku juga patah tulang, batin Lana yang mulai merasa yakin kalau dirinya selamat setelah terjun dari atap gedung.

Lana menunggu lagi sampai akhirnya kulitnya merasakan sentuhan. Lana tak tahu apa yang disentuhnya karena ia tak bisa melihatnya, tapi Lana tahu ia menyentuh sesuatu. Ia menyentuh sesuatu yang lembut.

Sprei? Selimut? pikirnya karena ia yakin tangannya menyentuh sesuatu yang seperti kain.

Setelah menunggu lebih lama lagi, ia melihat cahaya. Lana ingin berlari menuju cahaya itu, tapi kali ini tubuhnya tak mau menurutinya. Lana tak bisa bergerak. Ia tak bisa menuju cahaya itu, tapi tanpa melakukan itu pun, Lana segera sadar bahwa ia akan segera berada dalam cahaya. Mengapa? Karena cahaya itu mendekatinya. Cahaya yang tadinya hanya setitik kecil semakin lama semakin besar, terus membesar dan akan menelannya.

Jantung Lana berdegup lebih kencang sementara ia menunggu sampai cahaya itu menyelimutinya. Ketika akhirnya cahaya itu menyelimutinya, Lana merasa silau sesaat sehingga ia terpaksa memejamkan kedua matanya. Ketika ia merasa cahaya sudah tidak terlalu terang, Lana membuka kedua matanya lagi. Kali ini ia tidak melihat sekedar cahaya. Ia melihat langit-langit ruangan.

Jadi aku memang selamat, batin Lana. Ia merasa lega.

Lana menoleh ke kiri dan kanan, melayangkan pandangannya untuk melihat sekelilingnya. Ia berada di sebuah kamar pasien. Ia sedang terbaring di tempat tidur dan salah satu tangannya ditusuk jarum infus. Dari pemandangan yang ia lihat di jendela, Lana mengetahui bahwa sekarang hari masih terang, mungkin antara pagi dan siang hari. Lana mencoba duduk, tapi segera ia urungkan setelah dirinya merasa sakit.

Lukaku pasti parah sekali, pikir Lana sambil kembali berbaring dengan hati-hati. Tak lama kemudian, ia mendengar suara pintu terbuka. Lana melihat ke arah pintu kamarnya dan mendapati seorang wanita berseragam perawat dan seorang pria berjas putih memasuki kamarnya. Ketika mereka melihatnya, mereka tampak terkejut.

"Oh, you're awake!" kata si wanita dengan gembira. Kemudian wanita itu menoleh pada pria berjas putih yang berdiri tak jauh darinya. "Doctor, she is awake."

Pria berjas putih yang ternyata adalah dokter itu mengangguk senang. "How are you feeling, my dear? Are you in pain?" tanyanya pada Lana.

Lana mengernyit. 'My dear'? Mengapa dokter memanggilnya seperti itu? Apakah normal bagi seorang dokter untuk memanggil gadis usia SMA seperti itu? Tidak, tentu tidak. Seharusnya dokter itu cukup memanggilnya dengan sebutan Miss.

"She does look in pain, Doctor," kata si perawat, membuat Lana tersadar dari pikirannya sendiri.

"Kau sakit, sayang? Sakit di mana?" tanya si dokter dengan lembut. Lana tak mengerti mengapa dokter memanggilnya seperti itu atau mengapa tatapannya seperti itu. Perawat wanita itu pun menatapnya dengan lembut, penuh kasih sayang, seolah-olah ia sedang menatap anak kecil.

"Gina, dear, kau harus memberitahu kami jika kau sakit, jadi kami bisa menolongmu," kata si perawat ketika Lana tak juga menjawab. Mendengar kata-kata perawat itu membuat Lana mengernyit lagi.

Gina?

Siapa Gina? Namaku Lana.

Dokter dan perawat memandang Lana dengan cemas ketika gadis itu tak kunjung menjawab. Mereka juga cemas karena melihat Lana mengernyit terus.

"Dokter, ada apa dengannya?" tanya si perawat.

Dokter tidak segera menjawab. Ia duduk di tepi tempat tidur Lana dan memandang lurus ke wajahnya. "Gina, Gina, kau bisa mendengarku? Kau bisa melihatku?"

Lana bingung. Ia tak mengerti mengapa dokter itu juga memanggilnya Gina. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

"Gina, ayo sayang, tolong jawab aku. Kau bisa melihatku? Bisa mendengarku?" tanya dokter yang sekarang bertambah cemas karena Lana hanya diam dan terus saja mengernyit. Ketika Lana terus saja diam, si perawat dengan ngeri memandang dokter.

"Dokter, mungkinkah dia... mungkinkah matanya dan telinganya...?"

Dokter tidak menjawab. Ia pun punya dugaan yang sama, tapi ia belum begitu yakin. Ia memanggil Lana lagi. "Gina, sayang, katakan sesuatu. Apa saja. Kau bisa?"

Lana masih diam. Ia tak menjawab, tidak juga bergerak. Ekspresinya masih sama. Sekarang setelah melihat ekspresinya lebih lama, baik dokter maupun perawat akhirnya tahu kalau Lana mengernyit bukan karena sakit, tapi karena kebingungan. Mengapa ia kebingungan? Lana kebingungan karena dokter dan perawat memanggilnya Gina, padahal namanya adalah Lana. Sementara itu, dokter dan perawat mengira Lana kebingungan karena gadis itu tak bisa melihat dan mendengar.

"Dokter, mungkin dia tak bisa melihat dan mendengar," kata perawat dengan sedih.

Dokter mengangguk. "Mungkin saja, tapi kita masih tak tahu pasti. Sebaiknya kita konsultasikan pada dokter mata dan THT."

Perawat mengangguk setuju. Kemudian, dokter membelai kepala Lana sambil tersenyum. "Yang penting kau sudah sadar, Gina. Sekarang beristirahatlah."

Lana masih diam. Ia memang menunjukkan sedikit perubahan ekspresi ketika dokter membelainya, namun ekspresi itu tidak banyak berarti. Dokter pun mendesah, lalu bangkit dan bersama perawat berjalan keluar dari kamar Lana.

"Who is Gina?"

Langkah dokter dan perawat terhenti tepat di depan pintu kamar Lana. Keduanya memandang Lana yang sedang memandang mereka dengan kebingungan. Setelah itu, dokter dan perawat saling bertatapan. Sepertinya sekarang mereka tahu apa masalah sebenarnya.

TBC


Review please :)