Chapter 3 telah tiba! Hehehe... update express nih. Ga tau kenapa ide-ide terus bermunculan buat fanfic ini. Happy reading! Jangan lupa review ya!


Disclaimer: Detektif Conan adalah milik Aoyama Gosho. Saya cuman minjem buat fanfic saya.

CHAPTER 3

Lana menatap langit-langit kamarnya dengan wajah tanpa ekspresi. Hari ini adalah hari yang sangat mengejutkan baginya. Ia mendapati dirinya hidup dan berada di rumah sakit, lalu orang-orang memanggilnya Gina, bukan Lana. Tak hanya itu, ternyata sekarang ia bukanlah Lana, tapi Gina, seorang gadis kecil berusia tujuh tahun yang koma selama hampir dua minggu setelah mengalami kecelakaan mobil. Awalnya ia tak percaya ketika dokter dan perawat menerangkan hal itu padanya, tapi setelah ia melihat tubuh kecilnya dan wajahnya yang sama sekali bukan wajah Lana, akhirnya mau tak mau ia percaya. Untung saja ia belum mengatakan pada mereka bahwa sebenarnya ia adalah gadis remaja bernama Lana. Ia bisa dianggap sudah gila jika mereka sampai mendengarnya.

Sekarang ia adalah Lana, tapi bukan Lana. Ia adalah Gina, tapi bukan Gina. Ia adalah Lana yang terperangkap dalam tubuh Gina.

Meskipun orang-orang mengiranya sebagai Gina, Lana bukanlah Gina. Lana tak tahu apa-apa tentang Gina. Karena ketidaktahuannya itulah, akhirnya dokter menyatakan bahwa Gina mengalami amnesia.

Kenapa aku bisa berada dalam tubuh Gina? Kenapa aku tidak berada dalam tubuhku sendiri? pikir Lana. Di mana Gina? Ke mana dia pergi, meninggalkan tubuhnya seperti ini? Apakah sekarang dia yang menghuni tubuhku? Apakah tubuhku selamat?

Seharian Lana memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu, tapi ia tak bisa menemukan jawabannya. Rupanya kejutan untuknya tak hanya sampai di situ saja. Keesokan harinya ia mendapat kejutan baru yang lebih tak bisa dipercaya, kejutan yang datang melalui suara-suara di luar kamarnya.

"Kau bawa novelnya?"

"Tentu saja! Kesempatan selangka ini mana mungkin kulewatkan. Tidak setiap hari kita bisa bertemu Yusaku Kudo."

Lana membeku.

Apa?

Yusaku Kudo?

Yusaku Kudo tokoh fiktif itu?

Lana—atau sekarang Gina—masih tak yakin dengan percakapan di luar kamar yang tak sengaja didengarnya, jadi ketika perawat mengunjunginya, ia pun bertanya siapa Yusaku Kudo.

"Yusaku Kudo? Dia adalah penulis novel misteri dari Jepang," jawab perawat itu, membuat Gina terbelalak. Perawat itu seolah-olah mengatakan bahwa Yusaku adalah tokoh nyata, bukan tokoh fiktif. Seolah-olah penulis dari Jepang bernama Yusaku Kudo memang ada.

"Dia ada?" tanya Gina lagi.

"Apa maksudmu, sayang? Tentu saja dia ada. Dia masih hidup. Malah, sekarang dia ada di sini, di London untuk bertemu para penggemarnya," jawab perawat itu.

Gina membeku lagi. Yusaku Kudo ada. Hidup. Di London untuk bertemu penggemar. Apa-apaan ini? Apakah ia sedang bermimpi atau dirinya sudah gila?

"Ada apa, Gina? Apakah Yusaku Kudo ada dalam ingatanmu? Apakah dia mengingatkanmu akan sesuatu?" tanya perawat itu. Gina tersadar dari lamunannya, lalu buru-buru menggeleng.

"Tidak? Lalu kau tahu dia dari mana?" tanya perawat itu lagi.

"Orang-orang membicarakannya di luar," jawab Gina. "Apakah orang itu terkenal? Apakah novelnya laris?" tanyanya lagi.

"Oh, ya, dia terkenal dan novelnya sangat laris."

"Apa judul novelnya?"

"Aku bukan penggemar cerita misteri, jadi aku tak tahu banyak tentang karya-karyanya," jawab perawat itu, "tapi novelnya yang paling terkenal adalah Night Baron. Kalau itu aku tahu meskipun hanya judulnya."

"Oh..." Gina tak percaya. Night Baron! Yusaku Kudo yang ia kenal dalam manga Detektif Conan juga menulis Night Baron. Apakah pria itu, yang seharusnya hanya ada dalam cerita fiksi, sekarang benar-benar hidup di dunianya?

Memikirkan hal itu membuat Gina terpikir akan hal lain yang lebih tidak bisa dipercayainya.

Apakah sekarang ia hidup dalam dunia fiksi, makanya Yusaku Kudo bisa benar-benar eksis?

Gina mulai panik, tapi dengan segera ia menenangkan diri sebelum perawat menyadarinya. Ia tak ingin membuat perawatnya khawatir atau bahkan sampai curiga. Curiga jika ia memang tahu soal Yusaku. Tahu banyak malah.

"Yusaku Kudo itu orang yang seperti apa?" tanya Gina lagi, memilih untuk terus menggali informasi sebanyak mungkin meskipun ia masih tak percaya jika ia hidup dalam dunia fiksi atau Yusaku Kudo benar-benar eksis.

"Seperti apa? Entahlah. Yang kutahu hanyalah bahwa dia seorang penulis terkenal dari Jepang. Oh, ya, istrinya adalah aktris Jepang. Aku lupa siapa namanya, tapi dia populer disebut Night Baroness."

Night Baroness!

Sekarang mau tak mau Gina harus percaya bahwa entah bagaimana ia hidup bersama tokoh fiktif.

"Night Baroness? Kok, mirip dengan novel Yusaku Kudo?"

"Aku juga tak tahu," balas perawat itu. "Sepertinya kau tertarik dengan penulis itu. Kau suka cerita misteri?"

"Entahlah," balas Gina. Sebagai Lana, ia tak begitu menyukai cerita misteri, tapi sebagai Gina, ia tak tahu. Ia tak tahu cerita macam apa yang disukai Gina.

Perawat itu tersenyum penuh arti padanya, seolah-olah ia tahu apa yang dipikirkan Gina.

"Tenang saja, amnesia bisa sembuh, kok. Pelan tapi pasti kau akan mengingat lagi," katanya. Gina balas tersenyum dan mengangguk. Setelah itu, si perawat kembali memeriksa keadaan Gina, lalu pergi meninggalkannya. Sekarang Gina sendiri lagi di dalam kamarnya. Ia menghabiskan waktu memikirkan apa yang harus ia lakukan sebagai Gina di kehidupan yang membuat tokoh-tokoh fiktif menjadi kenyataan.

Gina menghabiskan waktu tiga minggu di rumah sakit setelah ia sadar. Ia menjalani rehabilitasi untuk melenturkan otot-ototnya setelah luka-lukanya dianggap tidak terlalu parah. Ia juga melakukan terapi untuk pasien amnesia yang ternyata tak berhasil (bukan salah dokter, tentu saja. Terapi itu mungkin ada hasilnya jika bukan karena Lana menghuni tubuh Gina). Selama tiga minggu itu, Gina ditemani oleh perawat dan kakek-neneknya yang tinggal di London. Mereka adalah orang tua ayahnya Gina. Di sela-sela tiga minggu itu, Gina diberitahu bahwa kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan mobil yang dialaminya, jadi hanya ia yang selamat. Gina juga diberitahu bahwa sejak saat ini ia akan tinggal bersama pamannya.

Gina bertemu pamannya, Ken Watanabe, sekitar seminggu sebelum ia keluar dari rumah sakit. Pamannya adalah adik dari ibunya dan bekerja sebagai penyiar berita di televisi. Setelah bertemu pamannya, Gina menjadi lebih tahu tentang keluarganya. Ia sekarang tahu kalau ayahnya adalah orang Inggris keturunan Pakistan dan ibunya adalah orang Jepang dengan darah bercampur darah Indonesia yang berarti pamannya pun setengah Jepang setengah Indonesia. Kakek Gina dari ayahnya adalah orang Inggris keturunan Pakistan, sedangkan neneknya murni keturunan Inggris. Kakek Gina dari ibunya adalah orang Jepang, sedangkan neneknya orang Indonesia. Jadi, Gina adalah gadis yang memiliki darah Pakistan, Inggris, Jepang, dan Indonesia, tapi lahir dan besar di London. Meskipun memiliki darah berbagai ras, yang paling terlihat dominan dari Gina adalah darah Asianya karena rambutnya hitam, matanya besar berwarna cokelat tua, dan kulitnya kuning langsat. Paras dominannya adalah gabungan paras Pakistan dan Jawa yang rupanya membuat Gina memiliki kecantikan yang unik. Lana takkan pernah membayangkan ada orang yang garis keturunannya sekompleks Gina. Ia sendiri sudah menganggap garis keturunannya cukup kompleks (ia adalah orang Inggris keturunan Cina, nenek buyutnya adalah orang Melayu, dan bibinya menikah dengan orang Brazil), tapi rupanya garis keturunan Gina lebih rumit darinya.

Selain belajar tentang keluarganya, Gina juga diberitahu bahwa ia akan tinggal di Jepang karena pamannya tinggal di sana. Gina tidak lancar berbahasa Jepang. Lana yang asli orang London juga tidak bisa bahasa Jepang. Untuk masalah ini Gina merasa tidak nyaman. Pamannya mencoba menyemangatinya dengan mengatakan bahwa ia akan belajar dasar-dasar bahasa Jepang di sekolah bersama anak-anak Jepang lainnya karena ia masih kelas satu SD. Pamannya juga menghiburnya dengan mengatakan bahwa anak-anak mudah sekali menguasai bahasa, berbeda dengan orang dewasa, jadi Gina tak perlu khawatir.

Setelah keluar dari rumah sakit, Gina tinggal di rumah kakek dan neneknya selama seminggu. Selama seminggu ia bersiap-siap pindah ke Jepang sekaligus berjalan-jalan keliling London bersama keluarganya. Mereka membantunya mengingat berbagai hal yang pernah ia lakukan sebelum mengalami kecelakaan walaupun bantuan mereka sia-sia karena sebenarnya mereka tidak bicara dengan Gina, tapi Lana.

Setelah seminggu berlalu, Gina pergi ke Jepang bersama pamannya. Mereka terbang ke Tokyo. Di kota itulah pamannya Gina tinggal.

Begitu sampai di Jepang, Gina merasa tertarik sekaligus gugup. Ia merasa tertarik karena baru kali ini ia pergi ke luar negeri. Baru kali ini ia mengunjungi Jepang. Ia merasa gugup karena mulai hari ini ia akan hidup di Jepang, bergaul dengan orang-orang Jepang, dan menjalani hidup sebagai anak SD lagi. Lana adalah anak SMA, jadi ia tak tahu harus berperilaku seperti apa jika harus hidup sebagai anak kecil lagi. Ditambah ia tak bisa bahasa Jepang sama sekali, lengkap sudah masalahnya di negeri sakura ini.

"Gina, look here."

Gina yang saat itu berada di taksi bersama pamannya menoleh memandang pamannya yang menunjuk pemandangan dari kaca mobil.

"Kau lihat menara tinggi itu? Itu Touto Tower," kata Ken.

"Touto Tower..." gumam Gina sambil memandang menara tinggi berwarna merah yang ditunjuk pamannya. Tak lama setelah itu, Gina melihat papan nama bangunan bertuliskan Beika Hotel.

Beika?!

Gina menatap bangunan itu dengan horor. Beika. Dia ada di Beika! Beika seharusnya hanya ada dalam cerita Detektif Conan. Beika tidak ada di Jepang. Mengapa ia melihat Beika sekarang?

"Paman, apa itu Beika?" tanya Gina pada Ken untuk memastikan.

"Tempat ini adalah Beika. Touto Tower tadi juga ada di Beika," jawab pamannya.

"Paman tinggal di Beika?"

"Benar."

"Bukankah Paman tinggal di Tokyo?"

"Beika adalah bagian dari Tokyo, jadi ya, Paman tinggal di Tokyo."

Gina mengangguk, lalu terdiam. Ia berpikir. Sekarang ia tinggal di Beika. Sebelumnya ia mendengar kalau Yusaku Kudo ada di London. Apakah ini artinya ia ada di dunia Detektif Conan?

"Paman, aku akan sekolah di mana?" tanya Gina, mencoba memastikan teorinya.

"Aku akan mendaftarkanmu di SD Teitan. Sekolah itu yang paling dekat dengan rumah kita," jawab Ken. Jawaban itu sudah cukup untuk meyakinkan Gina. Sekarang ia tahu kalau teorinya benar.

Ia memang berada di dunia Detektif Conan.

TBC


Review please :)