Ini dia chapter 4! Saya harap pembaca suka. Jangan lupa review ya. Selamat membaca!
Disclaimer: Detektif Conan adalah milik Aoyama Gosho. Saya hanya minjem buat fanfic saya.
CHAPTER 4
"Anak-anak, hari ini kita punya teman baru. Ini Gina. Dia datang dari Inggris."
Gina berdiri di depan kelas tepat di samping wali kelasnya, Kirisaki Naomi-sensei. Ia merasa gugup berdiri di depan anak-anak yang akan menjadi temannya di kehidupan SD-nya. Kehidupan SD keduanya. Mereka semua orang Jepang dan tentu saja akan bicara bahasa Jepang. Gina takkan berharap anak-anak ini bisa bahasa Inggris. Kirisaki-sensei juga bicara memakai bahasa Jepang dan sebelum masuk ke kelas, wanita itu bicara dicampur dengan bahasa Inggris yang payah (Gina tidak menyalahkannya. Gina maklum karena Kirisaki-sensei bukan native speaker dan tidak biasa bicara dengan bahasa Inggris). Kalau orang dewasa saja tak bisa diharapkan, mana mungkin ia mengharapkan anak-anak? Entah bagaimana ia bisa berkomunikasi dengan orang-orang ini. Minggu-minggu pertama akan jadi minggu yang berat baginya.
Gina memandang teman-teman sekelasnya yang memandangnya dengan tatapan penuh minat. Mereka tertarik padanya karena wajahnya tidak umum di Jepang dan karena ia datang dari Inggris.
"Gina, ayo perkenalkan dirimu," kata Kirisaki-sensei dalam bahasa Jepang, tapi Gina tak mengerti. Ia hanya memandang wali kelasnya dengan bingung. Seketika Kirisaki-sensei tahu kalau Gina tak mengerti kata-katanya.
"Introduce yourself," kata Kirisaki-sensei lagi. Sekarang Gina mengerti, lalu ia menghadap teman-temannya dengan gugup.
"My name is Gina Shilmani. I'm from London. Nice to meet you."
"Nice to meet you toooo..." balas teman-teman sekelasnya dengan semangat dan serempak. Gina merasa cukup lega mengetahui bahwa anak-anak ini paling tidak memahami cara berkenalan dalam bahasa Inggris.
Setelah itu, beberapa anak bertanya padanya menggunakan bahasa Jepang yang tidak dipahami Gina. Kirisaki-sensei mencoba menerjemahkannya sedikit-sedikit ke dalam bahasa Inggris agar bisa dimengerti Gina.
"Dia bertanya di mana rumahmu."
"Dia bertanya seperti apa Inggris."
"Dia bertanya apa hobimu."
Gina menjawab pertanyaan anak-anak itu satu per satu dengan bahasa Inggris dan kadang-kadang ia menggunakan sedikit bahasa Jepang. Ia sudah tahu sedikit karena pamannya mengajarkannya sebelum ini. Setelah sesi perkenalan dan tanya jawab berakhir, Gina duduk di bangku yang ditunjuk oleh gurunya dan memulai pelajaran bersama teman-temannya.
Gina cukup lega karena buku-buku anak SD kelas satu masih banyak yang menggunakan huruf alfabet. Ia benar-benar takkan berkutik jika semua bukunya ditulis dengan huruf katakana atau hiragana atau kanji. Ia memelajari huruf-huruf rumit itu bersama teman-teman sekelasnya, seperti yang pernah dikatakan pamannya.
Begitu waktu istirahat tiba, teman-teman sekelasnya langsung mengerubuti Gina, bertanya macam-macam dengan bahasa Jepang yang tidak dipahami Gina. Alhasil Gina selalu menggeleng tanda ia tak mengerti. Akhirnya, seorang anak menggambar sesuatu di kertas, lalu dengan kata-kata singkat dan bahasa isyarat ia bercakap-cakap dengan Gina tentang gambarnya. Cara itu rupanya berhasil karena Gina bisa mengerti. Ia pun ikut menggambar dan menggunakan bahasa isyarat. Setelah itu, anak-anak yang lain mengikuti. Waktu istirahat pun berubah jadi waktu menggambar. Buku-buku mereka pun jadi penuh dengan coretan gambar mereka.
Gina memang belum mengerti bahasa Jepang, tapi ia bisa berkomunikasi dengan teman-temannya melalui gambar. Ia bisa ikut tertawa ketika temannya tertawa. Ia bisa tersenyum ketika temannya mengatakan sesuatu yang baik lewat gambar. Ia bisa memahami mereka. Selain itu, semua anak suka menggambar. Anak-anak di kelasnya tampak begitu gembira saat menggambar untuknya.
Gina tersenyum. Menjadi anak SD rupanya tidak buruk juga.
"Ayo, lekas ke kelas 1-C! Ayo kita lihat murid baru itu." Ayumi dengan bersemangat mengajak anak-anak grup detektif cilik untuk melihat murid baru yang datang hari ini. Ayumi selalu menjadi anak yang paling pertama mengetahui adanya murid baru karena kedekatannya dengan para guru. Tadi pagi pun ia mengumumkan kedatangan si murid baru itu di depan kelas. Sekarang saat waktu istirahat tiba, mereka bisa melihat murid baru itu secara langsung.
Genta dan Mitsuhiko sama tertariknya dengan Ayumi jika menyangkut murid baru. Kebanyakan anak SD seperti itu. Tapi Conan Edogawa berbeda. Ia tidak begitu berminat ke kelas sebelah hanya untuk melihat murid baru kelas satu SD. Mengapa? Karena ia bukan anak SD. Ia adalah anak SMA yang terpaksa jadi anak SD karena obat bernama apotoxin menyusutkan tubuhnya. Temannya yang satu lagi, Ai Haibara, juga bernasib sama dengannya. Karena itu Conan heran ketika melihat Ai tersenyum mengikuti Ayumi ke kelas sebelah.
"Hei, tidak biasanya kau tertarik dengan hal seperti ini," bisik Conan di telinga Ai.
"Kali ini beda," balas Ai.
"Apanya?"
"Murid baru itu datang dari Inggris, ingat?"
"Oh, jadi kau pikir dia punya darah yang sama denganmu, ya?" kata Conan lagi.
"Begitulah."
Anak-anak grup detektif cilik mengintip kelas 1-C bersama beberapa anak lain yang penasaran. Dari pinggir pintu, mereka melihat sekelompok anak berkumpul mengelilingi sebuah meja. Beberapa anak duduk di bangku mereka masing-masing, sibuk menggambar sesuatu dengan semangat, lalu ikut bergabung dengan kumpulan anak-anak yang mengelilingi meja. Meja itu milik seseorang yang sudah pasti adalah si murid baru.
Beberapa saat kemudian, beberapa anak keluar dari kerumunan untuk menggambar, lalu masuk lagi. Hal semacam itu terjadi terus-menerus. Kelas 1-C tampak hidup. Anak-anaknya tampak begitu gembira.
"Kenapa mereka menggambar terus?" tanya Mitsuhiko heran.
"Untuk bicara dengan si murid baru," jawab Conan. "Murid baru itu datang dari Inggris, kan? Mungkin dia belum bisa bahasa Jepang, makanya mereka bicara menggunakan gambar."
"Oohh..."
"Tapi kita tak bisa melihat anak itu karena teman-temannya mengelilinginya," keluh Genta.
"Kalau begitu ayo kita ikut ke sana dan menggambar," usul Ayumi ceria.
"Waah, ide bagus!" sahut Mitsuhiko setuju. Setelah itu dengan segera ia, Ayumi, dan Genta kembali ke kelas 1-B untuk mengambil pensil dan kertas, lalu datang lagi ke kelas 1-C. Dalam waktu singkat, ketiganya sibuk dengan gambar masing-masing.
"Bicara dengan gambar sepertinya menyenangkan," kata Ai. Ia tersenyum melihat teman-temannya bersemangat menggambar.
"Kau tak perlu melakukan itu, kan? Kau bisa bahasa Inggris," balas Conan.
"Benar. Aku mau bicara dengannya," kata Ai, lalu masuk ke kelas 1-C dan bergabung dengan kerumunan anak-anak yang mengelilingi si murid baru. Conan yang melihatnya mengangkat alis karena cukup terkejut, lalu ia mengangkat bahu, tersenyum sambil mengikuti Ai ke arah kerumunan. Karena sudah di sini, tak ada salahnya jika ia ikut melihat anak baru itu dan berbicara dengannya.
Ketika Conan dan Ai berhasil melihat si murid baru, mereka cukup terkejut. Mereka mengira akan mendapati anak berkulit putih dan berambut pirang atau coklat, tapi yang mereka lihat justru seorang gadis kecil berambut hitam bergelombang berkulit kuning langsat. Sementara itu, Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko terpesona melihat kecantikan dan keunikan si murid baru dan dengan segera ingin bertukar gambar dengannya.
"Hello," sapa Ai, membuat kerumunan anak-anak yang berisik itu tiba-tiba diam. Gina, si murid baru, juga teralih dan menoleh padanya, kemudian kedua matanya membesar seolah terkejut.
"Hi. My name is Ai Haibara, from class 1-B," kata Ai lagi. "What's your name?"
Gina menatap Ai beberapa detik, kemudian tersenyum. "I'm Gina Shilmani. Do you speak English?"
"Yes," jawab Ai. "Are you really from England? My mother is British."
"I see. Yes, I'm from England. I used to live in London. By the way, I'm half too. My mother is Japanese."
Wajah Ai berseri-seri. "So you're my opposite."
Setelah itu Ai dan Gina bercakap-cakap lebih banyak dalam bahasa Inggris dan akhirnya Conan pun bergabung. Berkat percakapan mereka, banyak hal tentang Gina bisa diketahui oleh teman-teman sekelasnya, termasuk tentang keluarga. Gina menceritakan pada Ai, Conan, dan teman-temannya yang lain kalau kedua orang tuanya belum lama ini meninggal dalam kecelakaan lalu lintas dan sekarang ia tinggal bersama pamannya. Ia juga cerita kalau ia amnesia sejak mengalami kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya.
"Gina-chan kasihan sekali, ya," kata Ayumi ketika ia dalam perjalanan pulang ke rumah bersama anak-anak grup detektif cilik. "Dia sudah yatim piatu dan harus mengalami amnesia."
"Benar. Kasihan sekali dia," kata Mitsuhiko.
"Tapi dia kelihatan baik-baik saja, padahal belum lama ini orang tuanya meninggal," kata Genta heran.
"Mungkin karena dia hanya ingat sedikit. Dia amnesia," kata Conan.
"Aku lebih kasihan karena dia amnesia. Dia tak bisa mengingat orang tuanya ataupun kenangan-kenangan saat dia bersama mereka," kata Ai.
Conan melirik Ai, merasa tahu ke mana arah pembicaraan gadis itu. Conan tahu kalau sama seperti Gina, kedua orang tua Ai juga tewas dalam kecelakaan saat ia masih kecil. Ai mengaku tak punya banyak kenangan tentang mereka. Situasinya mungkin hampir sama dengan Gina yang mengalami amnesia sehingga melupakan masa lalunya yang mungkin termasuk kenangan tentang orang tuanya.
"Tapi apa benar dia orang Inggris? Dia tidak seperti orang barat," kata Genta lagi.
"Benar. Dia lebih mirip orang Arab," kata Mitsuhiko setuju.
"Itu karena dia berdarah campuran. Nama keluarganya Shilmani, artinya ayahnya keturunan orang timur tengah. Mungkin Arab atau Pakistan," kata Conan.
"Berarti dia memang bukan orang Inggris?" kata Genta lagi.
"Dia orang Inggris, hanya saja orang tuanya tidak sepenuhnya berdarah orang Inggris. Sama seperti aku yang orang Jepang, tapi ibuku orang Inggris," kata Ai.
"Kalau begitu, Shilmani-san keturunan Inggris, Arab, dan Jepang?" kata Mitsuhiko setelah memikirkan garis keturunan Gina.
"Ya, bisa jadi begitu."
"Hei, hei, besok ayo kita pulang bersamanya. Kita ajak dia bergabung dengan grup detektif cilik," kata Ayumi dengan bersemangat.
"Iya! Ayo kita lakukan!" kata Mitsuhiko setuju.
"Kalau dia setuju, kita akan minta Profesor untuk membuatkan lencananya," tambah Genta tak kalah bersemangat.
"Oi, oi, apa mereka serius?" Conan menganggap teman-temannya bertingkah konyol.
"Tidak ada salahnya kita mengajak Shilmani-san. Dengan begitu, kan jumlahnya jadi imbang," kata Ai.
Jumlah? Hahaha... tiga laki-laki dan tiga perempuan, ya? Conan mendengus, lalu kembali berjalan, mengabaikan Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko yang masih membicarakan rencana mereka mengajak Gina. Ia lagi-lagi melirik Ai. Melihat gadis itu tersenyum, Conan pun ikut tersenyum.
Mungkin memang tak ada salahnya mengajak Gina bergabung jika hal itu bisa membuat putri pengantuk di sampingnya tersenyum.
TBC
Karena saya akan sering menggunakan bahasa Inggris dalam dialog, tolong banget ingetin saya kalo ada yang salah, ya. Makasih udah nyempetin baca.
Review please.
