Chapter 5, Dear Readers! Selamat membaca. Enjoy!
Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho. Saya cuman minjem buat fanfic saya.
CHAPTER 5
"Detective Boys?"
"Yes. Just like the name, our job is to solve cases. Like Sherlock Holmes."
"But you're all just kids. Are you really solving cases or are you just playing detective?"
Ai tertegun mendengar balasan Gina. Gadis itu bertanya apakah grup detektif cilik memang bisa memecahkan kasus dengan wajah polosnya. Conan yang tentu juga mengerti bahasa Inggris merasa seolah-olah harga dirinya ditusuk. Apakah gadis itu baru saja meragukan kemampuannya sebagai detektif?
"Hei, Gina-chan bilang apa?" tanya Ayumi antusias.
"Emm... dia bertanya apakah kita memang bisa memecahkan kasus. Dia ragu karena kita masih kecil," jawab Ai.
"Kita memang bisa memecahkan kasus!" kata Mitsuhiko. "Ada banyak sekali kasus yang kita tangani bersama polisi. Ada juga yang kita tangani sendiri. Hmm, coba kita lihat... Ah! Contohnya adalah kasus pemboman di Tokyo Tower. Ingat, saat itu Conan menjinakkan bomnya bersama Detektif Takagi. Lalu ada juga kasus pencurian saat kita membantu Ayumi menyusun boneka untuk Hinamatsuri."
"Benar, benar!" kata Genta mengiyakan. "Haibara, katakan itu pada Gina. Dia tak boleh meremehkan kita."
Ai tersenyum salah tingkah, lalu menerjemahkan kata-kata Mitsuhiko dengan sedikit tambahan ke dalam bahasa Inggris. Tentu saja Gina tahu semua yang dikatakan Ai. Ia membaca manga Detektif Conan walaupun tidak mengoleksinya. Pengetahuannya tentang manga itu mungkin tak sebanding dengan penggemar setianya (ia akui ia sendiri banyak melupakan kasus-kasus yang terjadi saking banyaknya volume manga itu), tapi paling tidak ia tahu kalau grup detektif cilik memang bisa memecahkan kasus bersama-sama. Gina pun mengangguk-angguk mendengarkan Ai, setelah itu ia tersenyum.
"So, your group resembles Baker Street Irregulars!" katanya setelah mendengar penjelasan Ai.
"Right, we are similar to them," Ai mengangguk membenarkan. "What do you think? Want to join us?"
"Hmm... truthfully, your group seems interesting. I do want to join, but..."
"But?"
"Well... you see, I still don't understand Japanese language. Will that be okay?"
"No problem. I can speak English. Edogawa-kun too. We both can talk to you and teach you Japanese at the same time."
"Really?"
"Really."
"Then, if you don't mind... please let me join you." Gina membungkukkan badan meniru adat orang Jepang. Ai tersenyum, lalu menoleh pada teman-temannya.
"Dia akan bergabung dengan kita."
"Sungguh? Horeee!" Ayumi melompat girang dan langsung memeluk Gina, membuat gadis dari Inggris itu kaget, namun kemudian tersenyum pada Ayumi.
"Selamat datang di grup detektif cilik, Shilmani-san!" kata Mitsuhiko yang juga tak kalah girang. Genta juga kelihatan senang. Grup detektif cilik punya anggota baru!
"Oh, but, I have something to say..." kata Gina lagi, membuat anak-anak grup detektif cilik yang bersorak gembira dan melompat-lompat girang di depan kelas 1-C tiba-tiba berhenti.
"Apa katanya, Ai-chan?" tanya Ayumi.
"Dia ingin mengatakan sesuatu," jawab Ai, lalu memandang Gina. "What is it? Tell us."
"Please just call me Gina. We're the same age after all," jawab Gina.
"Oh, are you sure?"
"Yes."
Ai mengangguk, lalu berkata pada anak-anak grup detektif cilik. "Dia ingin kita memanggilnya Gina."
"Baiklah, Gina-chan," kata Ayumi ceria. Genta dan Mitsuhiko pun berseri-seri dan langsung memanggil Gina dengan nama depannya. Gina mengangguk dan tersenyum, memberitahu mereka bahwa ia senang ketika mereka memanggilnya Gina. Sebenarnya alasan lain yang menyebabkan Gina ingin dipanggil dengan nama depannya adalah karena ia tidak terbiasa dipanggil dengan nama belakangnya. Lana tak biasa dipanggil dengan nama marga oleh teman-temannya. Semua temannya memanggilnya Lana, bukan Liu, marganya. Hanya dalam situasi formal saja mereka memanggilnya Liu atau Miss Liu. Karena sekarang Lana menghuni tubuh Gina, maka Gina pun mengikuti keinginan Lana. Gina lebih suka dipanggil dengan nama Gina dari pada nama Shilmani. Bukan karena ia tak suka nama Shilmani, tapi karena ia tak terbiasa dipanggil begitu.
Hari itu juga, Gina diajak berkunjung ke rumah Profesor Agasa yang juga adalah rumah Ai. Menurut Mitsuhiko, Profesor Agasa adalah semacam penasihat dan penyedia alat-alat kebutuhan grup detektif cilik. Mereka kemudian memamerkan gadget-gadget mereka, seperti jam tangan senter, lencana detektif yang bisa jadi walkie-talkie, dan ikat pinggang bola sepak milik Conan. Gina sempat bertanya mengapa hanya Conan yang punya ikat pinggang bola. Ai menjawab bahwa itu karena Conan sangat jago bermain sepak bola, jadi di tangannya, bola sepak bisa jadi senjata untuk menangkap penjahat.
Profesor Agasa adalah pria tua gemuk dengan rambut beruban seperti yang Gina kenal dalam manga. Rumahnya pun sama persis dengan yang ada dalam manga. Ia ramah dan terbuka dengan kedatangan Gina. Selain itu, ternyata Profesor Agasa juga lumayan fasih berbahasa Inggris. Kalau ini Gina baru tahu. Mungkin karena ia ilmuwan makanya ia fasih berbahasa Inggris.
Setelah bermain di rumah Profesor Agasa dan dijanjikan lencana detektif olehnya, Gina pun pulang. Rumahnya tidak begitu jauh dari SD Teitan dan searah dengan Stasiun Beika. Rumah itu termasuk rumah yang cukup besar di Tokyo, terdiri dari dua lantai dan sebuah loteng sebagai gudang. Lantai bawah terdiri dari satu ruang tamu sekaligus ruang keluarga, dua kamar tidur, satu ruang kerja, satu kamar mandi, dan sebuah ruang makan minimalis yang menyatu dengan dapur. Salah satu kamar di lantai bawah yang paling besar adalah kamar Ken, sedangkan kamar yang lain yang lebih kecil disediakan untuk pengasuh Gina, Miyuki Nishiyama, jika wanita itu ingin beristirahat atau harus menginap. Lantai atas terdiri dari dua kamar tidur, sebuah ruang duduk kecil, sebuah balkon, dan satu kamar mandi. Salah satu di antara kamar tidur di lantai atas adalah kamar Gina dan yang lain dijadikan kamar tamu.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Gina memiliki pengasuh bernama Miyuki Nishiyama. Ken membayarnya karena ia harus bekerja sampai malam dan kadang-kadang harus keluar kota berhari-hari. Miyuki adalah seorang wanita muda. Selain sebagai pengasuh Gina, ia juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga Ken. Miyuki tidak bisa berbahasa Inggris fasih seperti Ken, jadi Gina agak kesulitan bicara dengannya. Karena hal ini juga, Gina tidak banyak bicara dengan pengasuhnya. Mereka berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dan gambar. Miyuki akan menemani Gina sampai Ken pulang kerja. Biasanya ia datang pagi-pagi sebelum Ken berangkat kerja. Selama Gina di sekolah, Miyuki akan mengurus pekerjaan rumah tangga.
Sebetulnya Gina tidak butuh pengasuh. Ia boleh saja kelihatan seperti anak-anak, tapi jiwanya sudah remaja. Ia sudah bisa ditinggal sendirian. Tapi tentu saja tak mungkin ia menolak pengasuh itu karena semua orang memandangnya sebagai anak kecil.
Sesampainya di rumah, Gina langsung melesat ke kamarnya dan membaringkan dirinya di atas tempat tidur, masih merasa takjub dengan apa yang dialaminya hari ini. Dia telah bergabung dengan grup detektif cilik! Gina tak menyangka bisa secepat ini ia diterima oleh mereka. Semuanya bermula sejak Ai mengajaknya bicara kemarin. Saat itu pun Gina terkejut. Ai Haibara yang pendiam dan cuek itu bicara dengannya! Ia melihat Ai Haibara dan bicara dengan Ai Haibara! Tak hanya itu, ia pun melihat Conan Edogawa, si tokoh utama, serta melihat Mitsuhiko, Genta, dan Ayumi. Hari ini ia juga bicara banyak dengan mereka dan bergabung dalam grup detektif cilik serta bertemu dengan Profesor Agasa. Bagi Gina, semua pengalaman ini luar biasa.
Sejak saat itu, perlahan tapi pasti Gina menjadi akrab dengan anak-anak grup detektif cilik. Yang masih menjaga jarak dengannya hanya Conan. Gina bisa mengerti mengapa. Ia yakin Conan hanya melihatnya sebagai anak SD. Paling bagus Conan hanya melihatnya sebagai seorang adik. Sikapnya terhadap Gina tidak berbeda jauh dengan sikapnya terhadap Ayumi. Berbeda dengan Conan, Ai justru lebih aktif bicara dengannya. Gina juga yakin kalau Ai menganggapnya seperti seorang adik. Kedekatannya dengan Ai mungkin didasari oleh darah Inggris yang sama-sama mengalir dalam tubuh mereka serta kenyataan bahwa mereka sama-sama yatim piatu.
Setelah mengenal Gina lebih lama, anak-anak grup detektif cilik menjadi tahu kalau Gina adalah gadis yang pandai. Kelemahan Gina hanya hal-hal yang berhubungan dengan Jepang, seperti bahasa dan sejarah. Selain itu, semuanya seolah mudah bagi Gina. Gina sering mendapatkan nilai sempurna dalam matematika dan bahasa Inggris (untuk yang terakhir ini, tak usah ditanya karena Gina adalah native speaker). Gina juga bagus dalam pelajaran musik. Tak hanya bisa bermain recorder, ia pun bisa bermain piano (baik Gina maupun Lana bisa main piano, hanya saja kemampuan bermain piano Lana lebih baik daripada Gina walaupun tidak bisa dibandingkan dengan pianis jenius). Dalam pelajaran olah raga, Gina tidak begitu menonjol, tapi tidak begitu payah juga. Begitu juga yang terjadi pada seni rupa dan lukis. Grup detektif cilik bangga padanya, merasa bahwa keputusan mereka untuk mengajaknya bergabung adalah keputusan yang tepat.
Kepandaian Gina rupanya membuat Conan dan Ai terkejut. Mereka tak menyangka akan bertemu dengan anak SD secerdas itu, yang bisa dikatakan mirip mereka. Bahkan saat usia mereka benar-benar tujuh tahun, mereka tidak secerdas itu. Hal ini membuat mereka mencurigai Gina.
Gina tahu kalau Conan dan Ai mencurigainya, tapi ia tidak begitu peduli. Securiga apa pun mereka, mereka hanya akan mendapati bahwa ia adalah Gina Shilmani, tidak kurang dan tidak lebih. Identitasnya jelas terbukti. Tak ada satu pun yang dipalsukan. Gina Shilmani adalah sosok yang benar-benar ada, tidak seperti Conan Edogawa dan Ai Haibara.
Dalam waktu kurang dari sebulan, Gina sudah bisa bicara dalam bahasa Jepang. Ternyata benar kata pamannya, anak-anak sangat cepat memahami bahasa, berbeda dengan orang dewasa. Gina sendiri takjub dengan perkembangan bahasa Jepangnya karena sebagai seorang remaja bernama Lana, menguasai bahasa asing secepat ini akan mustahil baginya. Gina memang sudah cukup bisa bercakap-cakap dengan bahasa percakapan sederhana, tapi tetap saja, kemampuan bahasa Jepangnya belum setara dengan anak-anak yang lahir dan besar di Jepang. Butuh waktu lebih dari sebulan untuk bisa menyamai mereka, tapi Gina tidak keberatan. Ia yakin suatu hari nanti dirinya bisa benar-benar lancar berbahasa Jepang jika dalam sebulan kemajuannya sudah sepesat ini.
Terlepas dari kecurigaan Conan dan Ai yang takkan pernah terbukti, persahabatan Gina dengan anak-anak grup detektif cilik berjalan baik. Mereka sering bermain bersama baik di sekolah maupun sepulang sekolah. Gina benar-benar merasa hidup kembali di sekeliling anak-anak itu. Bebannya selama menjadi Lana seolah-olah telah terangkat darinya. Ia tak lagi menjalani hidup penuh kecemasan dan ketakutan di bawah ancaman orang lain. Kini ia bisa tertawa lepas dan bebas.
Hari ini, anak-anak itu mengajak Gina bermain. Mereka akan menonton film Gomera di bioskop. Ini pertama kalinya Gina bermain bersama mereka di luar hari sekolah, jadi ia antusias menyambut ajakan mereka.
Gina tersenyum lebar saat telah berada di dalam bioskop. Jadi seperti ini bioskop di Jepang, pikirnya. Ia dan anak-anak grup detektif cilik telah mendapatkan tiket dari profesor Agasa, jadi mereka berniat langsung membeli camilan, tapi di tengah jalan, mereka menemukan sebuah dompet yang tertinggal di mesin penjual tiket. Mereka yang sempat melihat wanita pemilik dompet itu bergegas menyusulnya. Gina tidak begitu memperhatikan wanita pemilik dompet itu. Ia hanya melihat sosoknya sekilas dari belakang. Setelah itu mereka kembali berjalan ke arah penjual camilan, namun tiba-tiba saja teman-temannya berhenti dan menyapa seseorang.
"Lho, Inspektur Shiratori!"
"Tak kusangka!"
"Yang lebih tak disangka lagi..."
"Inspektur Shiratori juga menyukainya!"
"Gomera!"
Gina mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, terpana melihat seorang pria dewasa berambut sedikit ikal di hadapannya. Orang itu adalah Inspektur Shiratori. Kalau dia ada di sini bersama grup detektif cilik, artinya...
Gina menahan napas. Ya, ia ingat kejadian ini. Ia akhirnya tahu siapa wanita pemilik dompet yang tadi ditemuinya. Pertemuan mereka hari ini memastikan apa yang akan terjadi dalam beberapa menit ke depan.
Pembunuhan.
Gina mendengarkan teman-temannya berbicara sesaat dengan Shiratori yang berujung pada Shiratori yang menyadari kalau ia salah beli tiket. Setelah itu, tiba-tiba Ayumi tersentak seolah-olah teringat sesuatu.
"Ah, benar juga, Gina-chan belum pernah bertemu Inspektur Shiratori," kata Ayumi. "Gina-chan, paman ini adalah Inspektur Shiratori dari kepolisian Tokyo."
Gina membungkuk sebagai tanda hormat. "Saya Gina Shilmani."
"Ah, halo," balas Shiratori. "Kalian teman sekolah?"
Gina mengangguk.
"Gina-san datang dari Inggris, tapi ibunya orang Jepang," kata Mitsuhiko memperkenalkan Gina lebih jauh.
"Wah, kau dari Inggris? Sudah bisa bahasa Jepang?" tanya Shiratori lagi.
"Sudah, sedikit-sedikit," jawab Gina sopan.
Setelah perkenalan itu, Gina mengikuti Ayumi, Mitsuhiko, dan Genta untuk membeli camilan sementara Conan dan Ai tinggal bersama Shiratori. Gina memandang mereka sekilas saat ia berlari meninggalkan mereka. Sekarang mereka pastinya membicarakan tentang masa lalu Shiratori saat bertemu dengan siapa yang disebut sebagai pasangan takdirnya.
Setelah membeli camilan dan minuman, Gina dan teman-temannya masuk ke teater menuju bangku mereka masing-masing. Mereka berpisah dengan Shiratori yang duduk di depan bangku anak-anak. Tak lama setelah itu, Ayumi melambai pada wanita pemilik dompet yang ternyata duduk di sebelah Shiratori. Gina hanya memperhatikan, tak melambai dan tak tersenyum. Bagaimana bisa ia melakukannya ketika sudah tahu apa yang akan terjadi tak lama lagi?
Akhirnya film Gomera yang mereka tunggu-tunggu diputar juga. Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko tampak bersemangat menontonnya, sementara Conan dan Ai menonton dengan ekspresi monoton. Gina sendiri menonton dengan rasa penasaran. Seperti apa sih, Gomera yang begitu disukai grup detektif cilik? Dalam hati ia bertanya-tanya akan hal itu, jadi kedua matanya dan konsentrasinya benar-benar terarah pada layar lebar. Di tengah-tengah film, Gina sempat melihat cahaya ponsel di bangku bagian depannya, tak jauh dari sebuah sosok bertopi, topi wanita pemilik dompet. Gina hanya mendesah karena sudah tahu makna sebenarnya dari cahaya ponsel itu: trik pelaku pembunuhan.
Gina mengabaikan cahaya ponsel itu dan memilih untuk kembali fokus pada film. Ia begitu fokus sampai-sampai ketika special effect yang sangat mengganggu akhirnya muncul pun, Gina tak bergerak sementara teman-temannya yang lain tampak tidak tahan. Ia baru sedikit panik ketika menyadari ada getaran. Gempa. Ai dan Ayumi berpegangan erat pada Conan, sementara Gina berpegangan erat pada pegangan kursinya. Setelah gempa mereda, Ia menghembuskan napas lega dan kembali menonton dengan tenang.
Film Gomera yang disukai anak-anak ternyata tidak buruk juga. Gina—atau lebih tepatnya Lana—bukan orang yang menggemari film bertema monster seperti ini, tapi film ini tidak buruk. Film ini bagus. Pada akhirnya, Gina menyimpulkan bahwa film Gomera memang pantas disukai anak-anak meskipun dirinya tidak begitu menyukainya.
Setelah menonton film, anak-anak grup detektif cilik kembali bergabung dengan Shiratori yang kini juga bersama si wanita pemilik dompet. Shiratori tampak mengantuk dan si wanita pemilik dompet bertanya apakah ia baik-baik saja.
"Mau bagaimana lagi? Polisi biasanya sangat sibuk dan tidak punya banyak waktu istirahat," celetuk Ayumi ceria.
"Eh? Anda polisi?" tanya si wanita kaget.
"Ya, tapi hari ini saya bebas tugas," jawab Shiratori. Kemudian, si wanita tampak berpikir sesaat, membuat Shiratori bertanya apakah ada yang bisa dibantunya.
"Sebenarnya ada hal yang ingin saya diskusikan dengan polisi," kata wanita itu akhirnya. "Apakah anda mau mendengarkan?"
Gina memandang wanita itu dengan pandangan tajam.
This is it.
TBC
Well? Bagaimana? Ada yang kurang atau salah? Jangan ragu untuk ngasih review, ya.
Kasus di chapter ini ada di manga DC. Saya terjemahin sendiri dari bahasa Inggris, jadi kalau ada yang salah mohon diingatkan, ya. Terima kasih sudah mau baca fanfic ini. Tunggu chapter selanjutnya!
