Dear readers, ini dia chapter 6. Silahkan dibaca yaaa. Jangan lupa review. Enjoy!
Disclaimer: Detektif Conan adalah milik Aoyama Gosho. Saya hanya minjem buat fanfic saya.
CHAPTER 6
Gina dan teman-temannya menaiki mobil Shiratori ke apartemen wanita itu. Gina duduk di depan, dipangku oleh wanita itu, sementara teman-temannya duduk di belakang berdesak-desakan. Anak-anak grup detektif cilik ikut karena wanita itu mengundang mereka makan sebagai ucapan terima kasih karena telah menemukan dompetnya. Itulah sebabnya sekarang mereka ada di mobil ini.
Gina merinding ketika ia dipangku oleh wanita itu. Ia merinding karena ia tahu kalau wanita itu adalah pembunuh. Ia sudah pernah bertemu pembunuh sebelum ini, pembunuh yang membunuhnya. Teringat hal itu saja sudah cukup untuk membuat Gina merinding. Pengalaman menjadi korban pembunuhan sama sekali tidak menyenangkan. Sejujurnya, ia tak mau dekat-dekat wanita itu, tapi ia tak bisa membuat teman-temannya duduk di pangkuannya. Mereka adalah sebenar-benarnya anak-anak (kecuali Conan dan Ai yang sudah pasti takkan mau dipangku karena harga diri mereka). Bagaimana jika mereka jadi trauma ketika tahu bahwa wanita baik hati yang memangku mereka dan mengundang mereka makan ternyata adalah seorang pembunuh?
Sejauh ini Gina bersyukur karena tak ada yang menyadari kalau ia merinding dan berkeringat dingin. Shiratori dan wanita itu sibuk bercakap-cakap tentang kasus stalker yang dialami wanita itu sementara anak-anak yang duduk di belakang hanya diam mendengarkan atau mengeluh kesempitan.
Akhirnya mereka semua sampai di gedung apartemen wanita itu. Sambil berjalan, Shiratori dan wanita itu lagi-lagi membicarakan kasus stalker. Gina dan teman-temannya hanya diam mengikuti. Setelah sampai di depan pintu apartemen, wanita itu mengambil kunci lalu membuka pintunya. Ia bicara seolah-olah hendak memberitahu pacarnya yang tinggal bersamanya bahwa ia telah pulang dan membawa seorang polisi, tapi yang menanti mereka semua di balik pintu adalah seorang mayat.
Pacar wanita itu ditemukan tewas di sana, terbaring bersimbah darah di lantai. Semuanya sesuai dengan yang digambarkan dalam manga, pikir Gina yang mengabaikan jeritan pura-pura wanita itu. Gina memandang wanita itu diam-diam. Ada rasa benci, marah, dan takut bercampur aduk dalam dirinya ketika melihat wanita itu. Tubuhnya berkeringat dingin, tapi hatinya membara.
Pembunuh, batinnya. Dia membawa anak-anak ke sini untuk melihat mayat yang mengenaskan demi alibinya. What a heartless woman.
Ai bergegas menarik Gina menjauh dari lokasi mayat. Tak hanya itu, ia juga menghalangi pandangan Gina agar Gina tak perlu melihat mayat itu. Gina terkejut, tapi kemudian ia mengerti. Mungkin Ai berpikir bahwa sebaiknya Gina tidak melihat hal semengerikan itu saat kedua orang tuanya belum lama ini meninggal akibat kecelakaan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ai. Ia tahu kalau ada yang tidak beres dengan Gina ketika ia merasakan tangan gadis itu begitu dingin. "Ayo kita ke ruangan lain. Kau tak perlu melihat hal seperti itu."
Gina mengangguk. Ia diam menurut ketika Ai menuntunnya ke ruangan lain. Mitsuhiko, Genta, Ayumi, dan Conan memandangnya dengan cemas. Mereka lupa kalau Gina belum pernah melihat mayat pembunuhan secara langsung. Mereka lupa kalau Gina baru saja kehilangan kedua orang tuanya. Ketika melihat Ai berinisiatif menenangkan Gina, mereka semua bersyukur.
"Maaf ya, aku tidak mengatakan padamu kalau grup detektif cilik juga sering mengalami kejadian seperti ini," kata Ai. "Kami tidak akan memaksamu, kau tahu? Kalau kau tidak suka, kau boleh keluar dari grup, tapi kami akan selalu jadi temanmu."
Gina menggeleng. "Tidak apa-apa, Ai. Aku akan terbiasa."
Hati Ai mencelos mendengarnya. Apakah membuat anak-anak terbiasa melihat hal-hal keras seperti pembunuhan adalah hal yang benar? Apakah selama ini ia telah melakukan hal yang benar dengan membiarkan Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko berkali-kali menyaksikan kasus pembunuhan dan berkali-kali melihat mayat mengenaskan? Apakah ketiga anak itu sudah terbiasa dengan pembunuhan?
Membuat anak-anak terbiasa melihat kasus pembunuhan rasanya tidak tepat di hati Ai, tapi saat ini Ai tak tahu apa yang harus diucapkannya atau apa yang harus dilakukannya.
Tak lama kemudian, polisi-polisi lain datang. Gina berkenalan dengan Megure dan Takagi yang ikut menginvestigasi kasus. Para polisi itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada wanita itu yang bernama Nami Kasakura. Sesuai yang ada dalam manga, anak-anak grup detektif cilik menjadi saksi atas alibi Nami tentang ia menerima panggilan saat film sedang diputar. Shiratori juga menyatakan kalau Nami selalu duduk di sebelahnya saat film berlangsung, tapi Gina tahu kalau wanita itu membuat kesalahan saat menceritakan adegan-adegan dalam film karena Conan tampak tercengang sesaat. Setelah wawancara itu, para polisi mengeluarkan mayat dari ruangan untuk diautopsi.
Gina menghabiskan waktu berkeliling mengikuti teman-temannya atau mengikuti polisi, terutama Shiratori. Ia ingat dalam kasus ini Shiratori akan mengalami dilema karena menemukan hal-hal yang membuat Nami bisa dijadikan tersangka. Ia ingat Conanlah yang akan mengingatkan Shiratori untuk tidak mencampuradukkan perasaan pribadi dengan investigasi. Gina ingin berkonsentrasi untuk bisa menyaksikan semua hal itu, untuk bisa memastikan bahwa apa yang saat ini terjadi sesuai dengan cerita dalam manga. Sayangnya, konsentrasinya mudah sekali pecah di sini ketika ia berada satu atap dengan pelaku pembunuhan. Keberadaan Nami membuatnya merasa tidak tenang terus-menerus meskipun ia tahu dirinya akan baik-baik saja, meskipun ia tahu Nami takkan mencoba membunuhnya. Alhasil, gadis itu nyaris tak pernah berhenti menatap Nami dengan pandangan yang tajam dan penuh curiga. Gina juga tak benar-benar memerhatikan ketika Ayumi memeragakan cara membuat gelang bunga dari pembungkus sedotan. Kedua matanya melihat Ayumi dan pembungkus sedotan, tapi pikirannya melayang ke arah lain.
"Jadi? Apa benar Kasakura-san pelakunya?" tanya Ai pada Conan di tengah-tengah peragaan gelang bunga Ayumi. Tak ada yang memerhatikan mereka berdua. Anak-anak yang lain sibuk memerhatikan Ayumi.
"Eh?"
"Tadi kau memandangnya seolah-olah dia bersalah, kan?" kata Ai lagi.
"Y-yeah...," balas Conan, lalu mengerling Nami. "Sebagai penggemar film yang menggunakan special effect, ia tidak terlihat memiliki buku-buku tentang itu."
"Ironisnya kita adalah saksi," kata Ai lagi. "Kau punya alasan lain untuk meragukan alibinya, kan?"
"Bangku di bioskop..."
"Bangku?"
"Tidakkah menurutmu aneh?"
Ai terdiam sesaat, lalu memandang Conan dengan wajah lebih serius. "Kita berenam duduk tepat di tengah, lalu dia dan Inspektur Shiratori duduk di depan kita di tempat yang lebih leluasa. Memangnya apa yang aneh dengan itu?"
"Kita menonton film di hari minggu. Biasanya pada hari ini bioskop dipenuhi anak-anak dan orang tua mereka, tapi kenapa dua bangku di sebelah mereka kosong?"
"Mungkin hanya kebetulan."
"Dan lagi yang menggangguku adalah kita menjadi saksinya setelah bertemu dengannya secara kebetulan," kata Conan lagi.
"Tapi kau melihatnya, kan? Dia ada di bioskop saat waktu kejadian perkara," kata Ai.
"Benar, aku melihatnya," balas Conan, "tapi hanya topinya."
Ai terbelalak. "Tunggu sebentar, maksudmu..."
"Selain itu, aku juga kepikiran dengan Gina-chan."
Ai lagi-lagi terbelalak. "Gina?"
"Ya. Beberapa kali aku melihatnya mengamati Kasakura-san—lihat, dia melakukannya lagi."
Ai menoleh ke arah Gina. Benar kata Conan, gadis itu memang mengamati Nami. Ia berdiri tak jauh dari Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko yang masih asyik bermain-main dengan pembungkus sedotan, namun ia tidak bergabung bersama mereka. Gina hanya berdiri diam sambil memandang Nami dengan pandangan tajam tanpa disadari wanita itu.
"Kenapa dia memberikan pandangan seperti itu?" tanya Ai setengah heran setengah cemas.
"Aku juga tidak tahu," balas Conan, kemudian ia tersenyum dan menoleh memandang Shiratori yang sedang bercakap-cakap dengan Nami dan Megure. "Tapi tenanglah, sepertinya kasus ini akan segera selesai. Aku yakin Inspektur Shiratori sudah menyadari kejanggalan kasus ini. Dia akan mengirim Detektif Takagi untuk menginvestigasi sambil menyembunyikan bukti dalam hatinya."
Tapi Conan salah. Di sinilah Shiratori merasa bimbang sehingga tidak memberikan perintah menyeluruh kepada Takagi. Karena itu juga, Conan harus bicara langsung padanya untuk mengingatkan bahwa perasaan pribadi tidak boleh dicampuradukkan dengan investigasi polisi. Setelah diingatkan seperti itu, Shiratori akhirnya membulatkan keputusannya dan mengabaikan perasaan pribadinya, sementara Ai dan Conan akhirnya menyadari alasan dari kebimbangan Shiratori setelah melihat gelas berhias gelang pembungkus sedotan dalam lemari di toilet.
Tak lama setelah itu, pertunjukan analisis para polisi pun dimulai. Shiratori membongkar trik-trik yang digunakan dalam kasus ini di hadapan Nami. Sementara pertunjukan analisis berlangsung, Gina tidak bicara sepatah kata pun. Ia tak mendengarkan penjelasan Shiratori maupun protes yang dilayangkan Nami. Ia hanya diam memandang Nami dengan tatapan tajam dan waspada.
Akhirnya Nami pun mengakui perbuatannya setelah terus didesak Shiratori. Ia menyampaikan motif pembunuhannya. Nami mengatakan bahwa cincin ibunya diberikan kepada wanita lain oleh pacarnya dan ternyata wanita itu dan pacarnya telah bertunangan, karena itu akhirnya ia memutuskan untuk membunuh pria itu. Setelah itu Shiratori dengan kecewa menyayangkan perubahan sifat Nami. Karena telah membaca manga, Gina tahu kalau Shiratori mengira Nami sebagai pasangan takdirnya di masa lalu yang sangat menjunjung tinggi keadilan.
"Oh, jadi kau pernah mengenalku?" tanya Nami.
"Ya, walaupun mungkin kau sudah lupa," balas Shiratori.
"Kalau begitu biar kuberitahu, percaya bahwa wanita tak akan berubah hanyalah pemikiran yang diinginkan pria! Mereka akan berubah! Malaikat juga bisa berubah menjadi setan! Hati wanita itu seperti cuaca di musim gugur!" kemudian, Nami tertawa terbahak-bahak sambil keluar digiring Takagi. Shiratori hanya memandangnya tanpa berkata-kata, sementara Ayumi, Mitsuhiko, Genta, dan Ai membicarakan kata-kata Nami barusan. Setelah itu, anak-anak mencoba menghibur Shiratori, tapi Gina hanya diam sampai akhirnya ia bergumam pelan.
"Loser..."
Hanya Ai dan Conan yang mendengarnya dan hanya mereka pula yang mengerti kata-katanya. Keduanya memandang Gina dengan bingung sekaligus cemas. Mengapa ia tiba-tiba berkata begitu? Mereka ingin bertanya, tapi perhatian mereka keburu teralih pada kejutan gelang pembungkus sedotan Ayumi untuk Shiratori disusul kedatangan Kobayashi-sensei. Setelah itu, anak-anak termasuk Gina pulang dengan mobil Shiratori dan menyadari bahwa ada atmosfer musim semi di sekitar Shiratori dan Kobayashi-sensei. Baik Ai maupun Conan benar-benar melupakan kata-kata aneh Gina.
TBC
Review please :)
