Dear readers, terima kasih sudah menyempatkan waktu buat baca fanfic saya. Ini dia chapter 8. Selamat membaca!
Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho. Saya minjem buat fanfic saya.
CHAPTER 8
Hal pertama yang dilakukan Ayumi, Mitsuhiko, dan Genta begitu mereka sampai di gudang angker adalah mengambil foto. Gina melihat mereka berjalan mengitari gudang, kamera ponsel mereka mengambil tiap-tiap gambar dari bagian luar bangunan tua itu. Conan cukup terkejut karena mereka tiba-tiba punya inisiatif seperti itu, tapi Ai tidak. Tampaknya ia hanya memandang inisiatif mereka sebagai salah satu usaha mereka untuk tidak selalu bergantung pada Conan. Sementara itu, Gina mengikuti ketiga anak itu, tapi tak sekali pun ia menggunakan kamera ponselnya untuk memotret seperti yang diperintahkan Heiji kepada mereka.
Begitu dipersilahkan melihat ke dalam gudang, anak-anak itu dengan bersemangat hendak mengambil gambar lagi. Gina berniat mengikuti ketika perhatiannya tiba-tiba teralih pada pintu.
Pintu ini punya retakan yang aneh, batinnya. Retakan itu membentuk garis lurus yang tampak tidak alami, seolah-olah ada yang sengaja membuatnya retak seteratur itu, tapi perhatian Gina keburu teralih sebelum memikirkannya karena Conan jatuh di dalam gudang. Ai mengejeknya karena Conan yang menyuruh anak-anak untuk hati-hati, tapi Conan juga yang jatuh pertama kali. Conan berkelit dengan menyalahkan tangga dan awalnya Gina tak mengerti mengapa tangga yang salah, namun ketika ia menyorotkan cahaya jam tangan senternya ke bawah, ia melihat sesuatu yang di luar perkiraannya.
Lantai gudang ini lebih dalam dari tanah di luar, pikirnya setelah memastikan dengan melihat tangga di luar gudang. Pantas saja Conan jatuh dan menyalahkan tangga jika ia mengira permukaan tanah dan lantai gudang berada di tingkat yang sama.
Sementara Gina baru saja memahami alasan yang membuat Conan jatuh, Conan menemukan jejak kaki orang dewasa yang mengarah pada sebuah sempoa besar di dalam gudang. Gina melihat Ayumi segera memotretnya sedangkan Conan mengamati sempoa itu. Gina pun ikut mengamati sempoa itu. Ia tahu sempoa itu akan menjadi kunci dalam misteri kali ini, tapi ia diam saja tentang itu. Apa gunanya ia mengatakannya sekarang? Ia seharusnya tak tahu apa-apa. Teman-temannya akan mencurigainya jika ia tahu banyak hal tentang kasus ini.
Setelah itu, Gina melihat Genta, Mitsuhiko, dan Ayumi meletakkan lencana detektif mereka di berbagai tempat. Ayumi diam-diam mengajaknya melakukan hal yang sama karena katanya itu adalah perintah Heiji, tapi Gina menolak.
"Lencana kalian bertiga sudah cukup," kata Gina sebagai alasan.
"Tapi, Heiji-oniichan bilang—"
"Percayalah, lencana kalian sudah cukup. Selain itu, aku tak mau ikut-ikutan rencana kalian."
"Eh? Kenapa?"
"Soalnya aku hanya bisa melihat kegagalan."
Ayumi memandang Gina dengan heran sekaligus cemas. "Apa maksudmu?"
"Kalian takkan bisa mengalahkan Conan dengan cara seperti ini," kata Gina lagi, lalu berjalan menjauhi Ayumi. Pemilik gudang baru saja mengatakan akan meminta anak-anak keluar jika tak ada yang aneh. Ia pun keluar mengikuti Ai dan Conan, yang kemudian juga menyuruh Genta dan Mitsuhiko keluar.
Sesampainya di luar, Conan memutuskan untuk mengintip bagian dalam gudang dari jendela yang katanya adalah jendela tempat Takuma mengintip juga. Jendela itu berada sangat tinggi, hanya selang sekitar dua meter dari atap gudang sehingga Conan harus memanjat pohon. Teman-temannya menunggu di bawah sambil memperingatkannya untuk hati-hati. Setelah mengintip, tiba-tiba saja Conan melompat, membuat teman-temannya terkejut dan ketakutan. Bagaimana jika Conan terluka karena turun dengan cara seperti itu? Tapi Conan baik-baik saja. Ia malah dengan panik meminta teman-temannya memanggil pemilik gudang untuk membukakan pintu gudang sekali lagi. Ayumi langsung berlari menuruti kata-katanya dan tak lama kemudian ia kembali bersama pemilik gudang.
Kakek pemilik gudang kembali membuka pintu, memperlihatkan isi gudang yang kosong melompong kepada anak-anak. Conan tampak terkejut. Ia berkata bahwa ia melihat gudang itu dipenuhi harta. Ia berkata bahwa ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Maka grup detektif cilik mulai memeriksa gudang lebih teliti lagi. Mereka memastikan bahwa letak jendela dari luar dan dalam sama, lalu memastikan tidak ada yang aneh di dalam gudang dengan menunjukkan bahwa lencana Genta dan Ayumi masih di tempat yang sama, namun ternyata gudang itu memang memiliki kejanggalan karena lencana Mitsuhiko menghilang. Conan pun menyimpulkan bahwa ada suatu mekanisme tertentu dalam gudang yang bisa membuat ruangan penuh harta itu tidak terlihat dan ia mulai mencurigai sempoa besar dan altar kecil yang anehnya berada di atas pintu gudang. Setelah itu, Conan bermain-main sebentar dengan sempoa besar, mengujinya. Setelah bermain-main dengan sempoa itu beberapa saat, tiba-tiba susunan biji sempoa kembali seperti semula. Kelihatannya biji-biji sempoa itu akan memicu mekanisme jika disusun dengan tepat, tapi jika salah, mereka akan kembali ke susunan semula.
Gina melihat Mitsuhiko mengetik di ponselnya dan Ayumi memberitahunya sesuatu tentang sempoa itu dan ketika Conan bertanya apakah mereka mengetik pesan, mereka mengatakan bahwa mereka sedang mengetik catatan jika tiba-tiba nanti mereka lupa. Gina mendesah pelan melihat mereka berdua.
Padahal aku sudah mengingatkan Ayumi, tapi sepertinya dia belum mengerti.
Conan meminta teman-temannya menunggu di dalam sementara ia melihat dari jendela sekali lagi. Ia pun segera pergi keluar untuk mengintip gudang dari jendela. Gina dan yang lain menunggu sampai mereka melihat Conan dari luar. Ketika akhirnya mereka melihat Conan dari jendela, Mitsuhiko bertanya bagaimana keadaan gudang jika dilihat dari jendela.
"Sepertinya tak ada yang berbeda, selain bahwa sekarang tak ada harta bertumpuk," jawab Conan, kemudian ia tertegun. "Lantainya terlihat lebih dalam," katanya lagi.
"Lebih dalam?" ulang Genta.
"Mana mungkin. Gudang tidak bisa tumbuh," kata Ai, kemudian tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh. Setelah mereka periksa, ternyata benda itu adalah lencana detektif Mitsuhiko. Anak-anak pun mulai ketakutan dan mengira macam-macam. Genta mengarahkan senternya ke langit-langit dengan ngeri. Saat itulah Gina menyadari sesuatu yang aneh.
Kenapa langit-langitnya begitu dekat dengan jendela Conan? Jangan-jangan...
Conan melihat perhatian Gina tampak seolah-olah teralih pada hal lain. Gadis itu terbelalak sambil mendongak ke langit-langit.
Apa yang dilihatnya? pikir Conan, lalu ikut mendongak ke atas. Seketika itu juga ia terbelalak kaget.
Mu-mungkinkah...? Conan mengarahkan senternya ke bawah, namun tanpa perlu mengarahkan senternya pun, ia bisa melihat apa yang ada di bawahnya karena sinar senter Gina juga mengarah ke sana.
Conan melihat jendela yang lain di bawah jendelanya, begitu juga dengan Gina, tapi anak-anak yang lain tidak memerhatikan mereka.
Conan bergegas turun dari pohon sementara perhatian Gina teralih oleh dering ponsel Mitsuhiko. Gina menoleh ke arah anak itu yang sekarang tampak tersenyum bersama Genta dan Ayumi.
Heiji sudah sadar rupanya, batin Gina. Ia mendongak lagi dan melihat jendela tempat Conan mengintip sudah tertutup. Conan sudah tak terlihat dari sana. Dia juga sudah sadar, batin Gina lagi. Tanpa sadar ia tersenyum. Ia tahu kasus ini akan segera selesai.
Tak lama setelah Gina dan Conan menyadari kejanggalan di gudang, polisi dari divisi ketiga datang. Gina bisa tahu kalau anak-anak grup detektif cilik telah mengenal polisi yang datang itu, yang dipanggil Inspektur Momose oleh mereka, ketika mereka dengan akrab menyapa pria itu. Kemudian, Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko segera menjelaskan deduksi mereka yang Gina yakin sebenarnya adalah deduksi Heiji, membuat Conan bertanya-tanya sambil mendengarkan penjelasan mereka. Pertanyaannya kemudian terjawab setelah Mitsuhiko tak sengaja mengatakan hal yang tidak seharusnya ia katakan. Dari titik itu, Conan yang melanjutkan penjelasan anak-anak kepada Inspektur Momose. Ia meminta Momose memerintahkan anak buahnya menunggu di luar gudang, menyuruh Genta menjauhkan kepalanya dari jendela, dan meminta teman-temannya yang lain menunggu di luar gudang di belakang polisi. Gina mengikuti Ai, Ayumi, dan Mitsuhiko keluar sesuai perintah Conan, tapi kemudian Conan berubah pikiran.
"Tidak, tunggu, Gina-chan, kau tinggal di dalam bersama aku dan Inspektur," kata Conan.
Gina tertegun. Kata-kata Conan barusan sama sekali tak pernah terpikir di benaknya. "Why?"
"Aku akan mengajarimu sedikit bahasa Jepang," jawabnya sambil tersenyum.
Bahasa Jepang? Gina tak mengerti bagian mana dari kasus ini yang bisa mengajarinya bahasa Jepang. Ia mengingat-ingat apa yang terjadi dalam manga, tapi usahanya percuma saja. Ia memang tahu tentang kasus gudang ini, tapi ia tak ingat seluruh trik yang digunakan. Ia tak bisa mengingat seluruh adegan yang ada dalam manga. Ia juga tak ingat apa-apa tentang bagian kasus ini yang bisa dijadikan pelajaran bahasa Jepang. Tapi terlepas dari itu semua, Gina menuruti kata-kata Conan. Ia pun masuk ke dalam gudang dan bergabung bersama Conan dan Inspektur Momose.
Ternyata apa yang dimaksud Conan sebagai pelajaran bahasa Jepang adalah huruf kanji yang dibuat berdasarkan susunan biji sempoa. Conan memperlihatkannya bentuk huruf kanji "san" yang berarti tiga dan "mizu" yang berarti air. Keduanya adalah inisial dari Samizu Kichiemon, seniman yang merancang gudang angker itu di zaman Bakumatsu. Setelah kedua huruf kanji itu terbentuk sempurna, mekanisme dalam gudang bekerja, menutup pintu, jendela, dan altar kecil secara otomatis. Gina melihat langit-langit semakin lama semakin dekat dengan lantai hingga akhirnya berhenti. Kemudian, Conan mengeluarkan tangga kayu yang tersembunyi di langit-langit, mengajak Gina dan Inspektur menaikinya menuju ruang harta.
Gina terpana begitu sampai di ruang harta. Begitu banyak benda-benda berharga berada di sana. Inspektur Momose pun mengakui sebagian dari harta yang ada di sana adalah harta yang dilaporkan hilang kepada polisi. Mereka juga melihat seorang pria bersembunyi di sana, orang yang adalah pelaku pencurian yang menyembunyikan hasil curiannya di gudang itu.
Setelah menangkap pelaku pencurian dan berhasil menemukan harta curian, sudah saatnya mereka keluar, tapi Inspektur bingung bagaimana cara mereka keluar jika pintunya tertutup sebagian karena langit-langitnya turun. Di saat itu juga, Gina menyadari sesuatu.
"Oh, lantainya pas," kata Gina ketika ia berada di depan pintu. Ia menyadari garis teratur di pintu yang sempat ia lihat ternyata bertemu dengan garis lantai tempat ia berpijak sekarang.
"Eh? Apa?" tanya Inspektur Momose.
"Garis di pintu sama dengan garis lantai," kata Gina lagi. Conan memandang Gina sesaat, lalu mengangguk.
"Benar. Makanya, mungkin pembuka pintunya ada di sekitar sini..." Conan meraba-raba pintu, lalu menemukan tuas kecil. Ia menekan tuas itu, lalu setengah bagian atas pintu pun menjeblak terbuka.
"Conan-kun! Gina-chan!" sapa Ayumi riang ketika pintu telah terbuka. Setelah itu, pemilik gudang mengenali si pencuri sebagai tukang kebun yang dulu pernah bekerja mengurus halaman gudang. Pencuri itu segera diurus oleh Inspektur Momose dan polisi bawahannya sementara Gina dan Conan bergabung dengan anak-anak yang lain.
"Jadi bagaimana?"
"Deduksi kami!"
"Merasa kalah?"
Mitsuhiko, Ayumi, dan Genta berturut-turut bertanya pada Conan dengan wajah begitu percaya diri. Conan tersenyum.
"Bagus sekali... Hattori."
Conan melirik ke arah lain. Tampak Heiji bersembunyi di balik tembok gudang, tapi menyadari ia sudah ketahuan, detektif Kansai itu pun keluar dari persembunyiannya.
"Maaf, maaf," kata Heiji pada Conan. "Aku ada perlu di kantor detektif, tapi saat itu anak-anak sedang membicarakan bahwa mereka ingin melihatmu kalah, jadi aku sedikit membantu mereka."
"Hahaha... tapi aku heran kenapa mereka benar-benar mendengarkanmu."
"Itu karena aku memperlihatkan foto ini," Heiji memperlihatkan sebuah foto di ponselnya kepada Conan, foto Conan sedang menunduk di depan Heiji. "Foto aku sebagai guru detektifmu!"
"Hei, ini kan foto yang kau ambil saat kau mempermainkanku..."
Kemudian terdengar suara Ayumi, Mitsuhiko, dan Genta yang menyayangkan bahwa mereka tak bisa melihat wajah kalah Conan, lalu Ai menasihati mereka agar mereka tidak melakukannya dengan mengandalkan bantuan orang lain. Heiji membenarkan Ai dan menambahkan bahwa mereka harus mewujudkan keinginan mereka dengan kekuatan mereka sendiri. Conan memandang Heiji dengan tatapan merendahkan seolah-olah mengatakan bahwa Heiji tak pantas berkata seperti itu. Kemudian tiba-tiba ia teringat Gina. Gadis itu tidak banyak bicara dan hanya berjalan mengikuti mereka.
Benar juga, saat aku kembali ke kantor detektif, Gina-chan ada bersama Ayumi, Genta dan Mitsuhiko. Hanya Haibara yang saat itu tak ada karena sedang di toilet. Itu artinya Gina-chan juga bertemu Hattori saat itu, batin Conan. Artinya dia tahu kalau Hattori terlibat dalam kasus ini. Artinya dia juga mendapatkan bantuan Hattori.
Conan memandang Gina lagi yang masih berjalan sambil membisu, padahal teman-temannya ramai membicarakan kasus. Saat dalam penyelidikan dan penjelasan deduksi pun, Gina lebih banyak diam, tidak seperti Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko yang begitu bersemangat melakukan ini-itu dan menjelaskan ini-itu. Kalau dia juga berada dalam satu tim yang sama dengan mereka dan Heiji, mengapa dia tidak terlihat seperti itu?
"Oi, Hattori," kata Conan pelan sehingga suaranya hanya bisa didengar Heiji, "saat kau bertemu anak-anak itu, kau juga bertemu Gina-chan, kan?"
"Hm? Ya," jawab Heiji.
"Apakah kau menyuruhnya melakukan sesuatu dalam kasus tadi?"
"Aku menyuruhnya membuat tanda di gudang dengan lencana detektif, sama seperti yang lain, dan tentu saja mengambil foto agar aku bisa menganalisa situasinya."
Conan tertegun. Tapi Gina-chan tidak membuat tanda dengan lencananya. Dia juga tidak mengambil foto sekali pun.
"Apakah Gina-chan melakukan semua yang kau minta?" tanya Conan lagi pada Heiji.
"Seharusnya begitu, kan? Aku mendapatkan data-data yang mendukung dari Mitsuhiko."
"Kau hanya menerima data dari Mitsuhiko?"
"Ya. Anak-anak yang lain mengirimkan data ke ponsel Mitsuhiko, kemudian Mitsuhiko mengirimkannya padaku."
Itu artinya Hattori tidak tahu apa saja yang persisnya dilakukan anak-anak itu, pikir Conan. Aku yakin Gina-chan tidak melakukan apa yang diminta Hattori. Kenapa dia tidak melakukan apa-apa?
Kemudian Conan teringat kalau Gina juga menemukan dua jendela di gudang, sama sepertinya. Gina juga menyadari garis lantai dan pintu. Apakah itu artinya dia menemukan semua itu sendiri, tanpa bantuan Hattori?
Awalnya Conan memang berpikir bahwa Gina menemukan dua jendela itu sendiri tanpa bantuan Heiji dan karena itu juga ia meminta Gina tetap di dalam saat ia menunjukkan mekanisme ruang rahasia gudang. Ia pikir gadis itu berhak tahu karena telah menemukan dua jendela itu, jadi alasannya yang sebenarnya bukanlah masalah bahasa saja. Tapi setelah teringat keterlibatan Heiji dengan anak-anak, ia jadi ragu jika Gina memang menemukan dua jendela itu sendiri dan sekarang setelah menyadari bahwa Gina tidak mengerjakan perintah Heiji, Conan jadi meragukan keraguannya sebelumnya.
"Hei, memangnya ada apa dengan anak itu?" bisik Heiji. Ia tahu kalau perhatian Conan cukup terusik oleh gadis kecil anggota baru grup detektif cilik.
"Tidak apa-apa," jawab Conan. "Hanya saja..."
"Hanya saja?"
Conan terdiam sesaat. "Hanya saja, dia adalah tipe anak yang belum pernah kutemui."
Gina bukan gadis kecil biasa, Conan tahu itu. Ia selalu punya firasat aneh ketika melihat tingkah laku gadis itu. Ia sudah curiga padanya lama sebelum ada kasus ini.
"Memangnya dia seperti apa?" tanya Heiji, membuyarkan lamunan Conan.
"Gina-chan?"
"Yeah."
"Dia lebih pintar dari Mitsuhiko."
"Memangnya ada apa dengan itu?"
"Jika mengabaikan pelajaran yang berhubungan dengan bahasa, sejarah, dan budaya Jepang, prestasinya di sekolah bisa menyamai aku dan Haibara."
Heiji terbelalak. "Serius? Ada anak seperti itu? Maksudku, kau dan si kakak kecil kan, yang paling pintar di sekolah, dan itu karena kalian sebenarnya sudah remaja! Apa iya ada anak SD yang sepintar itu?"
"Itu dia. Aku juga masih tak percaya. Tiap kali melihatnya, aku selalu tak percaya, tapi dia benar-benar sehebat itu, Hattori."
Heiji terdiam. Untuk beberapa saat ia memandang Gina yang berada agak jauh di depannya, kini sedang bicara dengan Ai sambil berjalan bersama teman-temannya yang lain. Dari pembicaraan mereka, Heiji tahu bahwa Ai sedang menceritakan tentang Samizu Kichiemon pada Gina. Genta, Ayumi, dan Mitsuhiko juga beberapa kali nimbrung, ikut membicarakan tokoh terkenal periode Bakumatsu itu. Jika ia melihatnya sekarang, Gina hanya tampak seperti gadis kecil biasa yang penuh rasa ingin tahu.
"Kau tahu, anak jenius itu memang ada," kata Heiji akhirnya. "Mungkin saja dia memang terlalu pintar sebagai anak kelas 1 SD, tapi belum tentu dia menang melawan anak SMP atau SMA."
"Ya, kuharap kau benar," balas Conan, "tapi aku akan menyelidikinya untuk jaga-jaga."
Heiji mengangguk tanda ia paham dan setuju. Kalau ia ada di posisi Conan, dirinya juga takkan tenang mendapati ada anak SD sepintar itu. Ia juga akan curiga jangan-jangan anak itu ada hubungannya dengan organisasi hitam.
Setelah itu tak ada lagi yang membicarakan Gina. Meskipun demikian, gadis itu masih memenuhi pikiran Conan. Gina tidak menuruti permintaan Heiji. Mengapa? Satu-satunya alasan yang muncul dalam kepala Conan adalah karena Gina punya pikiran yang sama dengan Ai dan Heiji. Karena ia tahu bahwa tak ada gunanya mengalahkan seseorang dengan mengandalkan kekuatan orang lain. Tapi apakah mungkin Gina memahami hal itu, sementara Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko yang sebaya dengannya tidak memahaminya?
TBC
Gimana? Ada yang kurang? Atau ada yang lebih? Jangan sungkan ngasih review ya, dear readers.
Oh iya, menjawab pertanyaan Dendy2398 dan mungkin juga para pembaca lain yang punya pertanyaan sama, fanfic ini memang bakal melibatkan banyak banget kasus DC, tapi jangan khawatir, Lana/Gina punya ceritanya sendiri, kok. Judulnya kan, Kisah Lana, bukan Kisah Conan. Hehehe... cuman kisahnya Lana terselip-selip dalam kasus-kasus Conan juga.
Terima kasih atas dukungan readers sekalian. Terima kasih juga buat yang udah ngasih review. Stay tuned terus di fanfic saya, ya. Sampai jumpa di chapter berikutnya ;)
