Dear readers, chapter 9 telah tiba! Selamat membaca dan jangan lupa review!
Disclaimer: Detektif Conan adalah milik Aoyama Gosho. Saya hanya minjem buat fanfic saya.
CHAPTER 9
Conan memang tak main-main saat mengatakan bahwa dirinya akan menyelidiki Gina. Diam-diam ia meminta Profesor Agasa membantunya mencari tahu tentang gadis itu. Ia juga meminta tolong kedua orang tuanya yang punya kenalan di Inggris untuk menyelidiki gadis itu. Ai yang sudah menganggap Gina seperti saudara sendiri pun ikut menyelidikinya karena rasa curiganya pada gadis itu. Semua itu mereka lakukan diam-diam tanpa Gina ketahui walaupun Gina tidak akan heran jika mereka menyelidikinya.
Hari ini Gina pulang bersama anak-anak grup detektif cilik. Conan dan Ai bersikap ramah padanya seperti biasa sehingga ia tak mencurigai apa pun. Mereka membicarakan pertandingan antara Big Osaka dan Tokyo Spirits yang akan berlangsung besok dan mereka menyesali fakta bahwa baik Higo maupun Hide, pemain andalan kedua tim, tak dapat bertanding. Hide terluka, sedangkan Higo terlalu banyak mendapat kartu kuning pada pertandingan sebelumnya.
"Gina-chan, kau akan mendukung tim yang mana?" tanya Ayumi.
"Tidak tahu. Aku bukan penggemar pertandingan olahraga, sih. Aku juga tak tahu apa-apa tentang sepak bola Jepang," jawab Gina apa adanya.
"Karena sekarang kau tinggal di Tokyo, kau harus mendukung Tokyo Spirits!" kata Genta.
"Eeeh? Tapi Ai mendukung Big Osaka," balas Gina tidak setuju.
"Jadi kau lebih suka Big Osaka, Gina-san?" tanya Mitsuhiko.
"Bukan begitu. Aku cuma bilang kalau orang Tokyo juga boleh mendukung tim dari kota lain. Kalian tidak bermasalah dengan Ai mendukung Big Osaka, kan?"
"Tentu saja tidak. Ai-chan boleh menyukai Big Osaka," kata Ayumi riang. "Gina-chan juga boleh menyukai klub yang mana saja."
"Tapi memang sayang, ya, ketika pemain andalan kedua tim tak bisa bertanding," kata Mitsuhiko, mengembalikan topik pembicaraan membahas Hide dan Higo.
"Benar. Apa lagi besok aku harus tambal gigi," keluh Genta.
"Oh, pasti sakit!" komentar Ayumi cemas.
"Sial! Hide takkan bertanding dan aku harus pergi ke dokter gigi! Aku harap besok takkan datang!" gerutu Genta.
"Hei, hei, jangan berkata seperti itu!"
Anak-anak mendongak, teralih pada suara tak dikenal yang tiba-tiba mereka dengar. Mereka mendapati seorang kakek tersenyum kepada mereka.
"Hari esok penuh dengan harapan, apa lagi untuk anak-anak seperti kalian!" katanya lagi.
"Kakek siapa?" tanya Genta ketus.
"Aku? Aku hanya pria tua pensiunan yang kebetulan lewat!" jawab kakek itu riang.
"Lalu memangnya apa yang akan menyenangkan besok?" tanya Genta lagi, masih dengan nada ketus.
"Ah, aku akan bersenang-senang. Besok aku akan ke Osaka untuk menonton pertandingan sepak bola, minum-minum bersama teman lama yang sudah 10 tahun tak pernah kulihat, dan menonton episode terakhir serial TV yang kusuka! Oh, ya, lalu undian musim panas!" kakek itu mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tas kecilnya. "Mereka akan mengumumkan pemenangnya besok. Aku sudah membeli banyak kupon kali ini, jadi aku sangat bersemangat—"
Tiba-tiba seorang lelaki menabrak kakek itu dan menjambret tasnya. Kupon yang dipegangnya langsung beterbangan terlepas dari tangannya. Semuanya terkejut. Conan langsung melesat mengejar pencopet itu setelah menyuruh teman-temannya untuk diam di tempat. Sementara Conan pergi, Gina dan teman-temannya memunguti kupon-kupon si kakek yang bertebaran di trotoar. Tak lama kemudian, Conan kembali tanpa pencopet itu, tapi ia berhasil mendapatkan tas si kakek. Setelah mendapatkan tasnya, kakek itu memeriksa isinya.
"Dompet, kunci rumah, buku catatan, tiket sepak bola, dan tempat kacamataku... sepertinya tak ada yang hilang," kata kakek itu lega.
"Oh, ada foto yang ditempel di tempat kacamata Kakek," kata Ayumi menunjuk foto yang dimaksudkannya. Kemudian kakek itu pun bercerita bahwa foto itu adalah foto cucu perempuannya yang tahun ini berumur tujuh tahun. Anak-anak pun menjadi tertarik karena ternyata cucu kakek itu seumuran dengan mereka. Mereka bertanya di mana sekolah anak itu, tapi kakek itu kelihatan tak ingat di mana sekolahnya. Kemudian Ai memotong pembicaraan mereka dengan memberikan kupon undian yang sudah terkumpul kepada kakek itu. Gina dan anak-anak yang lain pun segera menirunya, memberikan kupon undian yang mereka kumpulkan kepada kakek itu. Kakek itu berterima kasih, lalu setelah mendengar penjelasan dari anak-anak bahwa mereka berenam adalah grup detektif cilik, kakek itu menawarkan diri untuk mentraktir mereka. Genta, Mitsuhiko, dan Ayumi dengan gembira menerima tawarannya. Conan dan Ai tidak mengatakan apa-apa, begitu juga dengan Gina. Dalam hatinya, Gina bertanya-tanya apakah ia pernah bertemu kakek itu karena rasanya kakek itu tidak asing di matanya.
Beberapa menit kemudian, Gina mendapati dirinya berada di salah satu restoran bersama teman-temannya. Mereka semua memang benar-benar ditraktir oleh kakek itu. Sambil makan, kakek itu mengatakan bahwa besok ia akan menonton pertandingan Tokyo Spirits vs Big Osaka. Ia memamerkan tiketnya pada anak-anak sambil mengatakan bahwa ia tak sabar ingin melihat Higo dan Hide bertarung. Anak-anak segera sadar kalau kakek itu salah sangka karena mereka tahu bahwa kedua pencetak gol itu takkan tampil dalam pertandingan. Mitsuhiko hendak memberitahunya, tapi tidak jadi karena tiba-tiba ponsel kakek itu berdering. Anak-anak pun diam mendengarkan kakek itu bicara dengan temannya lewat ponselnya. Percakapannya ini menimbulkan pertanyaan lain di benak Gina.
Kakek itu mengubah jadwal bertemu temannya ke jam 7 malam. Pertandingan sepak bola dimulai jam 4 sore. Walaupun bukan penggemar sepak bola, bukan berarti Gina—atau Lana—tidak pernah nonton pertandingan sepak bola. Gina tahu kalau pertandingan sepak bola bisa memakan waktu sampai dua jam. Ia juga tahu kalau perjalanan Osaka-Tokyo takkan bisa ditempuh hanya dalam waktu sejam (ia mencari tahu banyak hal tentang Osaka sejak dirinya bertemu Heiji). Apakah kakek itu bisa tepat waktu bertemu temannya?
Setelah selesai bicara di ponselnya, kakek itu bercakap-cakap dengan anak-anak lagi. Kali ini mereka membahas serial TV Detektif Samonji yang akan tayang besok. Gina tak tahu apa-apa tentang Detektif Samonji, jadi kasusnya seperti apa pun ia tak tahu. Ia hanya mendengarkan ketika tiba-tiba Conan mengaku bahwa ia tahu siapa pelaku kejahatan dalam film itu, tapi anak-anak melarangnya memberitahu. Conan mengiyakan, mengatakan bahwa ia takkan bilang apa-apa, tapi kemudian kakek itu berbisik-bisik dengannya. Gina bisa menangkap beberapa kata penting sehingga ia bisa menyimpulkan bahwa kakek itu meminta Conan memberitahunya tentang si pelaku itu. Setelah menyadari hal itu, Gina punya firasat buruk.
Bukankah kakek ini penggemar Samonji dan sudah menunggu-nunggu episode terakhirnya besok? Mengapa ia meminta Conan membocorkan ceritanya dan bukan menonton sendiri saja? Kalau sudah tahu ceritanya lebih dulu, bukankah filmnya jadi tidak seru? Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko saja menolak diberitahu tentang film itu, tapi mengapa kakek ini justru ingin bocoran?
Mengapa Gina mendapat kesan seolah-olah kakek di depannya ini tidak peduli hari esok?
Seolah-olah dia tidak akan bertemu hari esok...
Gina menahan napas setelah kata-kata itu tiba-tiba muncul di kepalanya. Ia terbelalak menatap si kakek yang terlihat senang bercakap-cakap dengan anak-anak.
Tidak mungkin, batin Gina ketakutan. Tidak mungkin... Apakah kakek ini mau mati? Apakah dia akan bunuh diri?
Gina memandang kakek itu lagi, mengamati setiap ekspresinya dalam-dalam tanpa disadari pria tua itu. Gina memerhatikan semuanya. Tawanya, senyumnya, suaranya. Hati Gina pun mencelos.
Gina tahu semua tawa dan senyum itu palsu. Gina tahu kakek itu tidak merasa bahagia. Gina bisa merasakan kesedihan dan keputusasaan yang sama dengan yang pernah ia rasakan dulu, ketika dirinya sebagai Lana berdiri di tepi atap gedung.
Gina tahu kakek itu akan bunuh diri.
Aku harus mencegahnya. Aku harus mencegahnya, pikir Gina berkali-kali. Bagaimana caranya? Aku harus mencegahnya bunuh diri. Bagaimana caranya?
Gina masih kebingungan sekaligus panik ketika pertemuan mereka di restoran itu berakhir, ketika kakek itu mengucapkan salam perpisahan. Gina mengepalkan kedua tangannya yang terasa dingin karena kepanikannya. Ia bertambah panik ketika melihat kakek itu melangkah pergi menjauhi mereka.
"Kakek yang misterius, ya," kata Genta.
"Ya, dan dia penuh dengan harapan akan hari esok," kata Mitsuhiko.
"Benar!" kata Ayumi dengan wajah berseri-seri.
"No, you're wrong." Gina akhirnya bicara. Akhirnya ia menemukan suaranya. Sedari tadi kepanikannya membuatnya seolah-olah membeku dan tak berdaya.
Gina menyadari kalau teman-temannya memandangnya. Ia sekilas menangkap ekspresi cemas di wajah mereka. Gina tak tahu mengapa, tapi kemudian ia tahu setelah Ayumi mengatakan bahwa wajahnya begitu pucat.
"Tak usah pedulikan aku," kata Gina cepat-cepat. "Kakek itu... kita harus menyelamatkannya. Dia akan bunuh diri!"
"Eh?!" Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko terbelalak kaget. Conan dan Ai juga terkejut mendengar kata-katanya.
"Aku serius, sungguh! Kita harus mengejarnya!"
Conan memandang Gina dengan takjub. Ia tahu gadis itu benar. Ia sendiri sudah menduga kalau kakek itu berniat bunuh diri, tapi ia tak menyangka Gina juga menyadari hal itu.
"Tapi kenapa kakek itu ingin bunuh diri? Dia begitu bersemangat dengan hari esok," kata Genta tak mengerti.
"Tidak, Gina-chan benar. Kakek itu memang ingin bunuh diri," kata Conan. Ia pun memaparkan deduksinya. Ia menjelaskan pada anak-anak itu mengapa ia dan Gina menduga bahwa kakek itu ingin bunuh diri. Setelah percakapan singkat itu, mereka berenam segera berlari mengejar kakek itu.
Gina terus-menerus berdoa dalam hati agar mereka tiba tepat waktu, agar kakek itu tidak jadi bunuh diri. Gina tak mau kakek itu menyerah. Gina tak mau kakek itu kalah.
Gina dan teman-temannya mengikuti kakek itu hingga sampai di stasiun. Kakek itu berdiri di pinggir rel dalam keadaan mabuk. Gina bisa menebak maksud kakek itu. Dia akan melompat saat kereta tiba. Dia akan membiarkan dirinya tewas ditabrak kereta.
"No...no..." gumam Gina panik. Ai mendengarnya dan melihat kepanikannya saat melihat kakek itu berada di pinggir rel.
"Tenanglah, kita akan menyelamatkannya," kata Ai. Ia menggengggam tangan dingin Gina. "Kita akan menyelamatkannya. Jangan cemas."
Gina mengangguk. Ia menenangkan dirinya, lalu bersama teman-temannya berlari ke arah kakek itu. Conan sampai lebih dulu dan berhasil mencegahnya melompat ke rel ketika kereta tiba. Melihat itu, Gina merasa sangat lega. Kehangatan perlahan-lahan menjalari tubuhnya. Detak jantungnya perlahan-lahan menjadi lebih teratur. Ketika ia berhasil menyusul Conan, ia sudah tidak merasa panik lagi.
Anak-anak mendesak kakek itu mengakui keinginannya untuk bunuh diri dengan membeberkan segala keanehan yang dilakukannya. Akhirnya kakek itu pun mengaku bahwa ia ingin bunuh diri demi menyelamatkan cucu perempuannya. Jika ia mati, uang asuransinya bisa digunakan untuk biaya operasi cucunya. Ketika Genta bertanya mengapa kakek itu tidak mengikuti undian karena kakek itu sudah membeli banyak kupon, kakek itu membalasnya dengan mengatakan bahwa tidak mungkin seseorang bisa menang undian seperti itu dua kali. Ternyata kakek itu pernah menang sebelum ini, tapi ia kehilangan kuponnya. Conan pun membantu kakek itu menemukan kuponnya dengan analisisnya. Seperti dugaan Conan, kupon itu ada di dalam tempat kacamata si kakek. Kakek itu begitu gembira setelah menemukan kuponnya. Ia berkata bahwa ia bahkan sempat berpikir untuk merampok bank, tapi ia senang karena tidak jadi melakukannya. Ia berterima kasih pada anak-anak, lalu pergi sambil tertawa riang. Gina tersenyum melihatnya karena ia tahu kalau kali ini kakek itu memang benar-benar gembira.
"Orang yang santai sekali," komentar Genta sambil memandang kakek itu. "Kita bahkan terlibat kasus perampokan bank baru-baru ini."
"Ya, dan mereka pun perampok yang cukup cerdas," kata Mitsuhiko setuju.
"Kalian pernah mengalami perampokan bank?" tanya Gina ingin tahu. Sambil bertanya ia mengingat-ingat kasus mana dalam Detektif Conan yang berhubungan dengan perampokan bank.
"Iya," jawab Ayumi. "Omong-omong, saat itu kami melihat orang yang familiar di bank," katanya lagi.
"Familiar?" ulang Ai.
"Ya. Kau ingat orang yang pernah ada di kasus pembajakan bus?"
"Kalian juga pernah terlibat kasus pembajakan bus?" tanya Gina lagi. Ayumi mengangguk. Pembajakan bus, ya... seingatku kasus seperti itu hanya ada satu, pikir Gina.
"Maksudmu pria yang bermata tajam?" tanya Genta, seolah-olah ia tahu apa yang dibicarakan Ayumi.
"Aku juga melihatnya. Seingatku ada bekas luka bakar di pipinya," kata Mitsuhiko.
"Memangnya ada pria seperti itu di bus?" tanya Conan tak percaya.
"Tidak. Saat kasus pembajakan bus, pria itu belum punya luka bakar," kata Ayumi. "Seingatku, saat itu dia mengenakan topi rajut hitam."
Gina melihat Conan terbelalak. Ada ekspresi terkejut yang tidak biasa di wajahnya seolah-olah ia menyadari sesuatu yang sangat penting. Gina berpikir lagi.
Orang yang mengenakan topi rajut di Detektif Conan dan memiliki luka bakar... Shuichi Akai? Ya, pasti dia. Berarti perampokan yang mereka bicarakan adalah perampokan yang ada Jodie itu, pikir Gina lagi. Kemudian ia mengernyit. Omong-omong, kasus kali ini ada dalam manga tidak, ya? Aku memang merasa pernah melihat kakek itu, tapi aku tak ingat kasus ini sama sekali.
Gina berpikir lagi sesaat, namun ia tak kunjung mengingat kasus yang hari ini dihadapinya. Ia pun akhirnya hanya tersenyum dan tidak memikirkannya lagi lebih jauh.
Sudahlah. Yang penting kakek itu tidak jadi bunuh diri, batin Gina. Kemudian ia berjalan pulang bersama teman-temannya sambil sesekali melirik Conan yang tampak hanyut dalam pikirannya sendiri. Gina yakin bocah berkacamata itu sedang memikirkan sosok Shuichi Akai yang diceritakan anak-anak grup detektif cilik.
TBC
Review please.
