Dear readers, makasih ya udah nyempetin baca fanfic ini dan makasih juga buat yang ngasih review. Ini dia chapter 10. Selamat membaca dan jangan lupa review!
Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho.
CHAPTER 10
Gina berada di dalam mobil. Ia duduk di bangku depan tepat di sebelah pengemudi. Suara Yoko Okino mengalun merdu dari radio. Pamannya yang sedang menyetir di sebelahnya bersenandung mengikuti lagu itu. Hari ini adalah hari libur sehingga pamannya mengajak Gina jalan-jalan. Mereka akan berbelanja pakaian baru dan membeli makanan enak di Pusat Perbelanjaan Beika.
"Paman suka Yoko Okino?" tanya Gina.
"Bagaimana, ya? Yang jelas aku bukan penggemarnya," jawab Ken.
"Tapi Paman mengikuti lagu ini."
"Itu karena aku tahu lagu ini dan aku tidak membencinya. Itu saja."
"Hmm..."
"Kau suka lagu apa, Gina?" tanya Ken.
"Lagu-lagu The Beatles," jawab Gina.
"Oh, jadi kau penggemar lagu lama," komentar Ken. Gina mengangguk mengiyakan.
Sebenarnya The Beatles adalah penyanyi favorit Lana. Entah Gina suka lagu apa atau penyanyi yang mana.
Setelah beberapa menit, akhirnya sampailah mereka di Pusat Perbelanjaan Beika. Hari ini adalah hari pertama Gina mengunjungi mal tersebut. Ada rasa penasaran dan tertarik dalam diri Gina ketika ia menginjakkan kakinya di dalam mal itu. Ken menggandeng tangannya, takut anak itu hilang di tengah kerumunan. Mereka berdua berjalan berkeliling mal dan mengunjungi berbagai toko di sana. Ken mengizinkannya untuk membeli mainan, tapi Gina tidak tertarik. Tentu saja ia tidak tertarik. Aslinya ia adalah Lana, gadis berusia 17 tahun, jadi ia tidak berminat pada mainan. Ia terus menolak bahkan ketika Ken tak tanggung-tanggung menawarkannya satu set boneka barbie dan rumah boneka yang besar. Apa gunanya semua mainan itu untuknya? Tapi karena Ken sudah berbaik hati dan Gina tidak ingin membuatnya sedih, akhirnya Gina memilih sebuah boneka beruang berukuran sedang. Boneka semacam itu adalah mainan tanpa batas usia, jadi Gina bisa menerimanya.
Setelah memilih mainan, Gina dan pamannya berniat membeli pakaian. Bukan hanya Gina saja, Ken juga akan membeli pakaian. Ketika masuk ke bagian pakaian anak-anak, Gina merasa sangat aneh. Normalnya ia takkan berada di sini. Ia akan berada di bagian pakaian dewasa, tapi sekarang di sinilah ia, dikelilingi pakaian anak-anak yang berwarna-warni. Gina memilih pakaian yang menurutnya tidak terlalu norak (norak di sini misalnya bergambar tokoh-tokoh kartun, terlalu banyak asesoris, atau warnanya terlalu mencolok). Setelah ia selesai memilih, giliran pamannya yang memilih pakaian di bagian pakaian pria dewasa. Ken mencari kemeja dan jas baru untuk pakaian kerjanya. Gina membantunya memilih.
Setelah selesai membeli pakaian, Ken mengajak Gina ke bagian olahraga karena ia membutuhkan celana training olahraga baru. Gina setuju dan mengikuti pamannya ke bagian olahraga. Di sana pamannya membeli celana training, sedangkan Gina memutuskan untuk membeli topi. Topi itu berwarna biru tua dan memiliki simbol Pusat Perbelanjaan Beika. Ia membeli topi yang berukuran kepala anak-anak.
"Sekarang tinggal makan siang, lalu kita pulang," kata Ken setelah mereka berdua selesai berbelanja. Saat itulah keributan terjadi.
Orang-orang tampak panik dan menyebut tentang bom. Hal ini sudah cukup untuk membuat Ken dan Gina cemas. Setelah itu, kecemasan mereka terbukti ketika semua pengunjung yang berada satu lantai dengan mereka tidak diizinkan pindah lantai. Rupanya orang yang memasang bom menuntut agar permintaannya dipenuhi, yaitu mencari seseorang yang sudah pasti ada di lantai ini.
"Gina, ayo, kita menunggu di restoran saja," kata Ken. Ia merasa cemas, tapi ia lebih cemas lagi jika memikirkan keadaan Gina. Gadis itu belum lama kehilangan kedua orang tuanya dan pernah terlibat kasus pembunuhan saat pergi bersama teman-temannya. Apa yang akan terjadi padanya jika ia mengalami kasus pemboman? Paling tidak, Ken harus menjauhkannya dari bom dan kepanikan orang-orang dan restoran sepertinya adalah pilihan yang tepat saat ini.
Gina menurut. Ia mengikuti pamannya masuk ke salah satu restoran di lantai itu. Toh sejak awal juga mereka berniat makan setelah berbelanja pakaian.
"Kau mau makan sekarang atau nanti?" tanya Ken pada Gina.
"Sekarang saja," jawab Gina. Sebenarnya ia tidak berselera makan karena teringat sedang ada kasus pemboman, tapi jika ia tak melakukan apa-apa, ia pikir keadaannya akan lebih buruk. Lagi pula, ia tak ingin membuat pamannya terus-menerus mencemaskannya. Ia ingin menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja.
Beberapa menit kemudian, Ken dan Gina sudah duduk menyantap makan siang mereka. Ternyata makan siang berhasil memperbaiki mood mereka. Alih-alih ketakutan memikirkan kasus pemboman, mereka berdua malah berbincang-bincang akrab layaknya keluarga sambil menyantap hidangan mereka. Akhirnya, karena sudah betah dengan atmosfer di restoran, mereka memutuskan untuk tetap di restoran sampai keadaan aman dan mereka diizinkan turun ke lantai dasar.
Selama berada di restoran, ada yang mengganggu pikiran Gina. Ia merasa tahu tentang kasus kali ini, jadi ia pikir seharusnya kasus kali ini ada di manga. Kalau memang demikian, artinya Conan ada di sekitar sini, di lantai ini. Selain itu, entah mengapa Gina juga tidak asing dengan interior restoran yang dikunjunginya saat ini. Itu artinya mungkin saja restoran ini juga digambarkan dalam manga.
Kecurigaan Gina tentang kasus kali ini terbukti. Ia segera ingat ketika tak sengaja melihat sosok mencurigakan di sebuah gedung di seberang mal. Awalnya Gina pikir sosok itu hanya orang yang iseng menjulurkan kepala dari jendela, tapi ketika melihat benda panjang yang dipegang orang itu, Gina jadi tak yakin. Ia berjalan ke jendela untuk memastikan, membuat pamannya heran.
"Gina? Ada apa?" tanyanya sambil mengikuti gadis itu. Gina tak segera menjawab. Ia memandang sosok di jendela itu lekat-lekat dan terkejut ketika menyadari siapa sosok itu. Sosok itu adalah sosok seorang sniper yang dikenalnya.
Chianti.
Itu artinya, pemboman kali ini adalah kasus itu, batin Gina yang akhirnya benar-benar ingat. Itu artinya Conan ada di sini bersama Kogoro dan Ran.
Gina memandang ke jalanan dan mendapati sebuah mobil yang dikenalinya.
Gin. Dia di sini.
"Gina?"
Gina tersentak. "Ah, ya, Paman?"
"Ada apa?"'
Gina menggeleng. "Tidak. Aku hanya ingin melihat ke luar," jawabnya, lalu kembali duduk di bangkunya. Ken melihat ke luar jendela sekilas, membuat Gina was-was karena takut pamannya melihat Chianti, namun untungnya hal itu tidak terjadi. Ken hanya melihat ke arah jalan yang lengang dengan beberapa mobil pribadi terparkir di tepiannya dan setelah menyimpulkan bahwa tidak ada apa-apa di luar, ia berjalan kembali ke mejanya.
"Apa yang ingin kau lihat di luar?" tanya Ken lagi sambil duduk.
"Mobil polisi. Pasti ada banyak sekali polisi, kan? Soalnya di sini ada kasus pemboman," jawab Gina mengada-ada, "tapi aku tidak bisa melihat dari jendela itu. Mungkin polisinya parkir di tempat lain."
"Kenapa kau ingin melihat mobil polisi?"
Gina pura-pura berpikir dengan wajah sekanak-kanak mungkin. "Kenapa, ya? Entahlah. Aku tiba-tiba saja ingin," jawab Gina.
Ken hanya tersenyum mendengarnya. Dalam hati, ia membatin bahwa mungkin inilah yang dinamakan rasa penasaran anak kecil.
Karena berpikir kasusnya masih lama, Ken dan Gina memutuskan untuk memesan makanan ringan. Semacam dessert. Mereka tidak ingin menunggu saja tanpa mengerjakan apa-apa. Lagi pula, mereka sudah tahu kalau ternyata makanan berpengaruh baik bagi mereka dalam situasi seperti ini. Jadi mereka pun lagi-lagi mengobrol sambil menyantap hidangan.
Perhatian Gina teralih dari makanannya ketika tak sengaja ia mendengar percakapan yang terjadi tak jauh dari mejanya.
"Pak... Permisi..."
"Ah, maaf, saya akan segera pergi. Saya hanya ingin melihat keluar sebentar. Di lantai ini sedang ada ancaman bom, jadi mana mungkin saya punya selera makan."
Gina menoleh, terkejut melihat Subaru ada di sana.
Benar juga! Dalam kasus ini juga ada Subaru!
Subaru berjalan menjauh dari sang pelayan, lalu setelah memunggunginya, ia melanjutkan bahwa sebenarnya ia ingin membelikan segelas kopi pahit panas untuk orang-orang yang sedang menunggu buruannya diam-diam, membuat pelayan itu terlihat bertanya-tanya. Sebelum Subaru keluar dari restoran, Gina memutuskan untuk menyapanya.
"Subaru-niisan!"
Subaru menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia tampak terkejut sesaat ketika melihat Gina, tapi kemudian ia tersenyum dan menghampiri gadis kecil itu.
"Ah, kau teman baru grup detektif cilik... Gina-chan, kan?" katanya.
"Iya!" Gina tersenyum manis khas anak-anak dan mengangguk. Mereka sudah pernah bertemu ketika dulu Gina bermain ke rumah Profesor, jadi mereka sudah saling kenal. "Sedang apa Subaru-niisan di sini?"
"Aku hanya mampir setelah menyelesaikan urusan di Bank Teito dekat sini," jawab Subaru, lalu perhatiannya teralih ke arah Ken. "Anda pasti pamannya Gina-chan, ya? Saya sudah mendengar kalau Gina-chan tinggal bersama pamannya."
"Ah, benar. Saya pamannya Gina," balas Ken sambil menatap Subaru dengan bertanya-tanya. Gina tahu kalau pamannya belum mengenal Subaru, jadi ia pun memberitahunya.
"Paman kenal Profesor Agasa, kan? Ini Subaru Okiya, tetangganya," kata Gina.
"Oh, begitu rupanya." Ken mengangguk-angguk. "Senang bertemu dengan anda, Okiya-san."
"Saya juga senang bertemu anda," balas Subaru ramah. "Tapi saya merasa pernah melihat anda. Maaf kalau saya salah, tapi apakah anda adalah Ken Watanabe, penyiar berita internasional?"
"Ah, iya. Saya Ken Watanabe."
"Waah, ternyata benar! Saya sering menonton berita anda," kata Subaru lagi. Percakapan ini membuat Gina mengangkat alis. Siapa sangka Subaru kenal wajah pamannya. Setelah dipikir-pikir lagi, Gina rasa tidak aneh jika Subaru bisa mengenal pamannya. Bagaimana pun juga orang itu bukan pria sembarangan.
"Anda menonton berita internasional? Kalau begitu sepertinya anda mengerti bahasa Inggris," kata Ken antusias.
Berita internasional yang dibawakan Ken memang menggunakan bahasa Inggris, jadi pekerjaan Ken adalah pekerjaan yang menggunakan bahasa Inggris. Karena berita yang disiarkan Ken adalah siaran langsung, maka biasanya tidak ada terjemahan bahasa Jepang di televisi. Karena itu, yang sering menonton berita ini sudah jelas mengerti bahasa Inggris.
"Ya, saya mengerti bahasa Inggris. Jika tidak, saya akan kesulitan menempuh S2 saya."
"Oh, anda seorang mahasiswa S2 rupanya?"
"Benar."
Mereka cepat sekali akrab. Subaru memang pandai mengambil hati orang lain. Yaah, memang inilah salah satu tuntutan pekerjaannya, batin Gina. Ia tahu kalau sebenarnya Subaru bukan mahasiswa S2. Ia tahu Subaru punya pekerjaan lain yang lebih penting, yang menuntut dirinya untuk bisa mudah berbaur dengan berbagai macam karakter manusia.
"Subaru-niisan, apa benar sedang terjadi kasus pemboman? Benar ada bom di sini?" tanya Gina, melibatkan dirinya dalam percakapan Subaru dan Ken. Ken juga rupanya punya pertanyaan yang sama. Ia memandang Subaru, menunggu jawaban yang akan diberikan pria itu.
"Katanya sih, begitu," jawab Subaru. "Tapi tak usah cemas, menurutku tak lama lagi semua akan baik-baik saja. Detektif Mouri ada di sini untuk memecahkannya."
"Detektif Mouri? Benarkah?" tanya Ken tak percaya.
"Benar. Mungkin tak lama lagi anda harus menyiarkan berita yang terjadi hari ini, Watanabe-san," balas Subaru setengah bergurau.
"Kalau begitu Conan juga ada di sini?" tanya Gina meskipun ia sudah tahu jawabannya.
"Ya, dia ada di sini."
"Heee..." Gina mengangguk-angguk.
"Kau ingin bertemu dengannya?" tanya Subaru lagi.
"Tidak juga," jawab Gina. Jawaban ini rupanya tidak disangka-sangka oleh Subaru. Ken juga tidak menyangka Gina akan menolak bertemu temannya.
"Tidak? Kenapa?" tanya Subaru heran.
"Karena aku sedang makan bersama Paman," jawab Gina. Memang jawaban itu yang muncul dari dalam hatinya. Jawaban itu bukan akting anak kecilnya, tapi di mata Subaru dan Ken, jawaban itu terdengar seperti jawaban polos anak-anak. Mereka berdua terdiam sesaat sebelum pada akhirnya tersenyum.
Tak lama kemudian, Subaru pamit pada Gina dan Ken, meninggalkan mereka berdua untuk menghabiskan hidangan mereka. Gina ingat bahwa jika Subaru sudah di restoran ini, artinya tak lama lagi pertunjukan analisis Kogoro Mouri akan dimulai.
"Paman tidak mau menonton pertunjukan analisis Detektif Mouri?" tanya Gina.
"Tentu saja aku mau. Memangnya ada apa dengan itu?"
"Kalau Detektif Mouri ada di sini, artinya dia akan melakukan pertunjukan analisis," jawab Gina. "Sebaiknya kita buru-buru jika tak mau tertinggal," tambahnya lagi lalu makan dengan tergesa-gesa. Ken tertawa melihatnya.
"Tidak usah buru-buru, nanti kau tersedak," katanya. "Tidak masalah jika Paman tidak bisa menontonnya, kau tenang saja."
Gina mengangguk, tapi ia tetap makan dengan cepat. Melihat kebaikan Ken hanya membuatnya semakin ingin menuju tempat pertunjukan analisis. Ia ingin membuat pamannya senang.
Setelah mereka berdua menghabiskan hidangan mereka, Gina buru-buru berlari sambil menarik tangan pamannya ke tempat Kogoro berada. Gina melihat kerumunan orang mengelilingi sesuatu dan mereka tampak serius sekali, jadi Gina menyimpulkan bahwa pertunjukan telah dimulai. Pertunjukan sedang berlangsung.
"Ayo, Paman!" katanya, menarik tangan Ken lagi dan menyelinap di antara para pengunjung sampai ia dan pamannya cukup dekat dengan sosok Kogoro Mouri. Mereka tidak bisa sampai di baris terdepan, jadi Gina yang bertubuh anak-anak tak bisa melihat Kogoro karena pandangannya terhalang orang-orang dewasa. Ken menyadari hal ini. Ia mengangkat Gina dan mendudukkannya di antara kedua bahunya.
"Paman tidak merasa berat?" tanya Gina enggan.
"Tidak. Kau ringan," balas Ken. "Dulu aku juga sering menggendongmu seperti ini, kau ingat?"
Gina terdiam. Ia baru tahu kalau Gina yang asli pernah digendong seperti ini oleh pamannya. Sementara itu, Ken akhirnya menyadari sesuatu setelah Gina tak kunjung menjawabnya.
"Oh, aku lupa kalau kau amnesia. Kau tidak ingat, ya?" kata Ken lagi.
"Maaf, ya, Paman," balas Gina. Apa lagi yang bisa ia katakan? Ia tak tahu apa-apa tentang Gina yang sebenarnya.
"Tidak apa-apa, santai saja," balas Ken. Setelah itu, mereka berdua tidak lagi bicara satu sama lain. Mereka menonton pertunjukan analisis Kogoro Mouri dan menyimak penjelasannya. Pada akhirnya, ternyata bom yang disebut-sebut itu palsu dan pelaku yang membuat ancaman bom adalah seorang pria yang justru sebelumnya berakting sebagai korban pelaku pemboman. Setelah itu, Gina melihat Conan tampak memikirkan sesuatu sambil memandang sebuah ponsel di tangannya.
"Syukurlah, semuanya sudah berakhir..." kata Ken lega. "Syukurlah ternyata bom itu palsu..."
"Ya..." Gina mengangguk, tapi perhatiannya masih tertuju ke arah Conan. Apakah masih ada kasus setelah ini? pikirnya, lalu tiba-tiba ia ingat. Tentu saja! Setelah ini adalah bagian Subaru, Shuichi yang punya luka bakar, dan organisasi hitam. Kurasa sebaiknya aku membuat Paman tetap di dekat Kogoro. Kami tak boleh keluar jika organisasi hitam masih mengawasi mal ini.
"Paman, pertunjukannya sudah selesai, kan? Ayo kita ke tempat Detektif Mouri," kata Gina. Ken menurunkannya pelan-pelan, lalu tersenyum padanya.
"Baiklah. Kau ingin bertemu Conan-kun, kan?"
"Ya, dan Paman ingin bertemu Detektif Mouri, kan?" Gina balas bertanya. Melihat ekspresi pamannya tadi, Gina tahu kalau Ken hendak mempermainkannya sedikit, jadi ia balas bertanya dengan polos untuk melawannya. Taktiknya berhasil karena Ken terdiam sesaat, lalu akhirnya mengangguk.
"Kalau begitu ayo lekas, Paman, sebelum Detektif Kogoro harus pergi bersama polisi," kata Gina lagi, lalu berlari. Bukannya ia ingin berlari. Ia hanya berpikir kalau dengan berlari ia akan terlihat lebih seperti anak-anak. Ken jelas tak suka dengan tingkahnya karena ia buru-buru mengejarnya dan menyuruhnya berhenti, tapi Gina terus berlari. Ia baru berhenti ketika sudah berada cukup dekat dengan Conan.
"Conan!" seru Gina. Conan sedang mengatakan sesuatu pada Ran dan seorang wanita karyawan mal yang ada kaitannya dengan kasus pemboman. Bocah berkacamata itu segera menoleh ke arah Gina dan cukup terkejut melihat gadis itu. Perhatian Ran juga teralih padanya dan wajahnya menunjukkan bahwa ia bertanya-tanya siapa gadis kecil yang memanggil Conan barusan.
"Gi-Gina-chan!"
"Hi!" sapa Gina.
"Siapa dia, Conan-kun?" tanya Ran.
"Gina-chan, murid baru yang datang dari Inggris. Dia juga anggota baru grup detektif," jawab Conan.
"Waah, Gina-chan, ya? Kau imut sekali," puji Ran. "Aku Ran Mouri, kakaknya Conan."
"Salam kenal, Ran-neesan," balas Gina sopan. Kemudian ia lagi-lagi menatap Conan. "Hei, apakah Detektif Mouri masih sibuk bicara dengan polisi-polisi itu?"
"Eh?" Conan mengerjap, lalu menoleh ke arah Kogoro yang sedang bicara dengan pasukan anti huru-hara. "Entahlah. Ada apa?"
"Pamanku ingin bicara dengannya. Nah, di mana dia?" Gina melayangkan pandangan mencari-cari pamannya yang ditinggalkannya. Ketika akhirnya ia menemukannya, Gina tersenyum dan melambai padanya. Ken berhasil mengejar Gina dan dengan jengkel ia mengomeli Gina untuk tidak berlari-lari seenaknya. Gina hanya nyengir membalas omelan itu.
"Conan, Ran-neesan, perkenalkan, ini pamanku," kata Gina mengenalkan pamannya setelah ia sudah selesai diomeli. Ken memandang Conan dan Ran, lalu tersenyum pada mereka.
"Salam kenal, saya pamannya Gina," balas Ken, lalu pandangannya tertuju pada Conan. "Kau Conan-kun, bukan? Si KID Killer?" Conan hanya tertawa gugup, membuat Ken dan Gina tersenyum geli. "Kudengar dari Gina, kau bisa berbahasa Inggris dan mengajari Gina bahasa Jepang. Terima kasih, ya," kata Ken lagi.
"A-ah... sama-sama..." balas Conan salah tingkah, kemudian seolah-olah baru menyadari sesuatu, kedua matanya terbelalak. "A-apakah anda Ken Watanabe?"
Gina mengangkat alis lagi. Apa ini? Ternyata Conan juga mengenal pamannya?
"Benar. Kau tahu aku dari mana?" balas Ken. Ia tidak bisa membayangkan anak kecil seperti Conan menonton acara berita, terlebih berita internasional sekalipun anak itu bisa bahasa Inggris.
"Dari siaran berita. Anda adalah Ken Watanabe penyiar berita itu, kan?" tanya Conan lagi dengan antusias.
"Kau menonton berita, Conan-kun?" Ken benar-benar tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Ya," jawab Conan sambil tersenyum kekanak-kanakan. "Tapi tak kusangka, ternyata anda adalah pamannya Gina-chan."
"Aku juga tak menyangka kalau ternyata kau kenal pamanku," balas Gina. "Omong-omong, Detektif Mouri masih sibuk? Pamanku ingin bicara dengannya. Iya, kan, Paman?"
"Ya, begitulah," balas Ken. "Sebagai seorang wartawan dan penyiar berita, rasanya luar biasa sekali bisa berada di tempat kejadian seperti ini, makanya kalau bisa aku ingin berdialog sebentar dengan Detektif Mouri."
"Kalau begitu bicara saja dengannya. Paman Kogoro selalu menerima wartawan," kata Conan sambil tersenyum lebar. Entah mengapa Gina merasa seolah-olah Conan begitu gembira melihat Ken. Jangan-jangan Conan adalah penggemar Ken, pikirnya.
"Begitu? Baiklah, aku akan langsung menemuinya. Gina, kau ikut?"
Gina menggeleng. "Aku di sini saja."
Ken mengangguk. Setelah menitipkan Gina pada Ran (yang dengan gugup menyanggupi. Ia tak tahu kalau ternyata Ken adalah penyiar berita dan sejujurnya ia merasa malu karena Conan lebih tahu darinya), ia pergi menemui Kogoro yang masih bicara dengan pasukan anti huru-hara.
"Oh, ya, tadi kau sedang membicarakan apa? Kulihat kau tertarik sekali pada ponsel itu," kata Gina pada Conan sambil menunjuk ponsel yang sekarang dipegang Ran.
"Seseorang mengirim pesan yang sama persis dengan deduksi ayahku, jadi kami pikir orang itu pastilah detektif hebat," kata Ran. "Mungkin dia akan menampakkan diri jika kita mengiriminya ucapan terima kasih," katanya lagi, lalu mengetik pesan di ponsel itu. Tak lama kemudian, terdengar suara deringan ponsel lain. Ran dan Conan bergegas menghampiri pemilik ponsel itu dan Gina mengikuti mereka. Ran menanyakan apakah orang itu mendapatkan pesan yang dikirim Ran dan orang itu mengiyakan, tapi ia menyangkal ketika ditanya apakah dirinya yang mengirim pesan deduksi. Setelah ditanyai lebih lanjut, orang itu pun mengatakan bahwa ada seseorang yang sempat memungut dan mengembalikan ponselnya. Orang itu memiliki luka bakar di wajahnya. Mendengar itu, dengan wajah tegang Conan bertanya di mana orang itu sekarang. Ketika pemilik ponsel berkata bahwa mungkin orang itu sudah turun, Conan buru-buru turun menggunakan eskalator, mengabaikan Ran yang memanggilnya.
"Dia hanya ingin bertemu detektif itu, Nee-san," kata Gina pada Ran. "Tak usah terlalu khawatir."
"Yah, iya, sih..."
Gina membiarkan Conan dengan urusannya sendiri sementara ia tinggal bersama Ran, Ken, dan Kogoro. Beberapa saat kemudian, Subaru bergabung dengan mereka. Mereka terus bersama sampai tak lama kemudian bertemu lagi dengan Conan yang baru saja menimbulkan kehebohan dengan berbohong tentang kupon diskon demi menyelamatkan pengunjung mal dari organisasi hitam. Mereka bercakap-cakap sebentar sebelum akhirnya Subaru memisahkan diri. Setelah itu, Ken masih ingin bicara dengan Kogoro dan Kogoro tampaknya juga tidak keberatan. Ran mendengarkan mereka dengan antusias. Sementara itu, Conan tampak berpikir dengan serius.
"Hei."
Conan tersentak dan menoleh memandang Gina yang memanggilnya.
"Apa?" kata Conan.
"Kau dan Subaru-niisan punya rahasia, ya?"
Conan tergagap. "A-apa maksudmu?"
"Kupon diskon. Kau tidak memberitahu Ran-neesan dan Paman Kogoro, tapi Subaru-niisan tampaknya tahu tanpa perlu kau beritahu."
"Apa sih, yang kau bicarakan?"
"Sudahlah, jangan berkelit. Aku jelas-jelas mendengar Subaru-niisan tadi," kata Gina ngotot. "Pertanyaannya, untuk apa kau berbohong tentang kupon diskon itu?"
Conan terdiam sesaat, lalu akhirnya ia mendesah. Sekarang ia tahu kalau ia tak bisa berkelit. "Ya, aku memang punya rahasia dengan Subaru-san dan kupon diskon itu juga adalah rahasia kami. Paham?"
Gina mengangguk. "Kalau begitu akan kuganti pertanyaanku. Apakah kupon diskonmu itu berhubungan dengan sniper?"
Conan terdiam, tertegun memandang Gina. "Apa?"
"Apakah kupon diskonmu berhubungan dengan sniper?" ulang Gina.
"Sniper?" kata Conan ragu-ragu. "Kenapa kau berpikir begitu?"
"Aku melihatnya. Sniper," jawab Gina. "Lebih tepatnya, seorang wanita yang membawa sniper rifle. Setelah itu, aku tak sengaja mendengar Subaru-niisan mengatakan hal-hal aneh—"
Tubuh Conan menegang. "Kau melihat sniper? Subaru-san mengatakan sesuatu?"
Gina mengangguk.
"Apa yang dikatakan Subaru-san?"
"Hmm... yang aku pahami sih, Subaru-niisan mengatakan sesuatu tentang orang-orang yang menunggu buruan."
Conan terbelalak. Sekarang ia yakin kalau Subaru telah melihat Chianti dan Gin, tapi yang lebih gawat lagi adalah Gina yang telah melihat Chianti. Temannya melihat sniper organisasi hitam! Dan Gina jelas sangat pintar karena menghubungkan Subaru dengan Chianti, lalu menghubungkan kupon diskonnya dengan mereka berdua.
Conan belum selesai menyelidikinya, tapi Gina sudah membuatnya terkejut melebihi perkiraannya. Bukan hanya kecerdasannya saja yang mengejutkan. Keluarganya juga mengejutkan. Tak pernah ia sangka kalau Gina adalah keponakan Ken Watanabe, salah satu penyiar berita favoritnya. Semua kejutan ini membuatnya bertambah bingung. Ke mana ia harus mengkategorikan Gina? Kawan atau lawan? Ia bahkan tak yakin jika Gina memang berusia tujuh tahun karena ia begitu cerdas.
"Hei, Conan?"
Conan memandang Gina beberapa saat, lalu menarik napas dalam-dalam. Ia memang meragukan Gina. Ia meragukan identitasnya, tapi ia merasa bisa memercayai gadis itu setelah memandangnya lebih lama, setelah mengingat pertemanan mereka selama ini. Gina, gadis yang pucat pasi saat melihat mayat dan merasa cemas sekaligus panik setelah tahu bahwa ada orang yang ingin bunuh diri, bukanlah orang jahat. Orang jahat tidak akan bersikap seperti itu. Conan yakin Gina bukan orang jahat.
"Gina, dengarkan aku," kata Conan serius. Gina menyadari keseriusannya segera setelah ia mendengar Conan memanggilnya tanpa embel-embel -chan. "Apa yang kau lihat dan kau dengar hari ini, jangan sampai ada orang lain yang mendengarnya darimu. Jangan sampai ada yang tahu, termasuk Subaru-san. Paham?"
"Why?"
"Lakukan saja apa kataku. Mengerti?"
Gina memandang Conan beberapa saat. Melihat keseriusannya, Gina yakin kalau Conan takkan bicara lebih jauh. Akhirnya perlahan-lahan Gina mengangguk. Mungkin hari ini ia tak bisa mendapatkan kepercayaan penuh Conan, tapi itu sudah sewajarnya. Mana mungkin Conan akan menceritakan organisasi hitam kepada anak berusia tujuh tahun, tapi paling tidak, kepercayaan yang terpenting telah didapatkan Gina.
Conan telah menganggap Gina sebagai kawan. Itu yang terpenting.
TBC
Untuk menjawab pertanyaan Affreeze-san dan mungkin pembaca lain yang punya pertanyaan sama, Gina nggak punya indera keenam. Dia cuma cukup peka sama perasaan orang lain dan cukup ahli membaca ekspresi orang lain. Dia juga cerdas walaupun kemampuan analisisnya nggak sebanding dengan Conan. Sooo, Gina hanya manusia biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Terus ikuti kisah Lana/Gina, ya, dan jangan lupa review ;)
