Ehm ehm, karena lagi ada waktu luang, saya jadi cepet update, tapi tolong agar pembaca tidak berharap saya akan selalu update secepet ini ya. Ehehe...

Selamat membaca dan jangan lupa review!


Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho

CHAPTER 12

Gina menikmati kehidupannya sebagai anak SD. Ia yang sebenarnya adalah Lana, remaja berusia 17 tahun, tak keberatan ketika orang-orang dewasa memperlakukannya seperti anak-anak. Ia juga tidak keberatan bermain permainan anak SD bersama teman-temannya. Ia justru merasa senang berada di tengah-tengah anak-anak itu. Bersama mereka, Gina merasa menjadi orang yang bebas sebebas-bebasnya. Ia tidak lagi berada di bawah bayang-bayang ketakutan dan tidak lagi berada di bawah intimidasi orang lain. Ia sebagai Gina adalah gadis kecil yang merdeka. Meskipun begitu, ada kalanya ia merasa bosan menjadi anak-anak.

Di sekolah, Gina hanya perlu serius ketika sedang belajar olahraga serta bahasa dan sejarah Jepang. Sisanya benar-benar membosankan. Ketika anak-anak itu belajar penjumlahan dan pengurangan bilangan puluhan, ia sudah bisa perkalian dan pembagian tingkat tinggi. Ketika anak-anak itu belajar kosakata bahasa Inggris, ia sudah lancar bicara dengan bahasa Inggris. Ketika anak-anak itu belajar menggambar dengan warna-warna sederhana (beberapa di antara mereka bahkan masih mewarnai sampai keluar garis batas), ia sudah bisa memadukan berbagai warna membentuk warna baru yang lebih indah. Ketika anak-anak itu belajar not balok, Gina sudah bisa memainkan lagu dengan partitur not balok.

Perbedaan kecerdasan Gina dengan teman-teman sekelasnya bahkan teman-teman satu sekolahnya sangat terlihat. Guru-gurunya juga menyadarinya. Gina tahu mereka bangga punya murid sepertinya, tapi di satu sisi mereka juga mencemaskannya, takut ada murid yang membencinya karena ia terlalu pintar atau semacamnya, apa lagi setelah mereka mendengar dari Kobayashi-sensei bahwa Gina pernah ditindas saat berada di London.

Sejauh ini, Gina berteman baik dengan anak-anak lain. Hubungannya dengan teman sekelasnya baik-baik saja. Ia bahkan punya beberapa teman dekat di antara mereka. Hubungannya dengan grup detektif cilik juga baik-baik saja. Tidak ada satu pun teman-temannya yang menindasnya. Kakak kelasnya pun tidak menindasnya meskipun Gina mendapati beberapa dari mereka memandangnya dengan tidak suka.

Sejujurnya, ketika tidak sengaja mendengarkan pembicaraan para guru tentangnya yang menyatakan kekhawatiran mereka bahwa Gina mungkin akan ditindas teman-temannya yang iri pada kecerdasannya, Gina jadi merinding. Ia merinding karena teringat kehidupannya sebagai Lana. Lana ditindas karena alasan yang sama persis. Lana adalah gadis remaja cerdas yang berhasil masuk ke SMA terkenal dengan beasiswa. Dalam waktu singkat kecerdasannya terbukti, mengalahkan kecerdasan teman-temannya bahkan kakak-kakak kelasnya. Mana ia tahu bahwa ternyata hal itu membuat dirinya dibenci, lalu ditindas mereka semua. Mana ia tahu kalau ternyata sekolah tutup mata atas kelakuan mereka hanya karena mereka punya uang dan kekuasaan. Mana ia tahu bahwa salah satu dari mereka bahkan membencinya sampai ke ubun-ubun hingga berniat membunuhnya—atau mungkin sudah membunuhnya—di sekolah. Semua itu hanya karena ia jauh lebih pintar dari mereka.

Tapi mereka hanya anak-anak SD. Mereka takkan berlaku sekeji itu. Mereka masih polos, batin Gina saat itu, menenangkan dirinya sendiri. Ia tidak ingin dirinya lagi-lagi dihantui ketakutan. Ia tidak ingin kebebasannya hilang hanya karena prasangkanya.

Gina berusaha menjalani kehidupan barunya senormal mungkin, sebahagia mungkin. Ia berusaha melupakan pengalaman buruk Lana Liu. Ia tidak ingin mengalami hal yang sama lagi.

"Huuff..." Gina mendesah, menutup buku tulisnya, lalu bersandar pada kursi meja belajarnya sambil memejamkan mata. Ia baru saja menyelesaikan PR matematikanya.

Kenapa aku harus teringat masa laluku lagi sekarang? pikir Gina, tak menyangka ia bisa teringat masa-masa menyedihkan Lana bahkan saat ia sedang mengerjakan soal matematika kelas 1 SD. Gina membuka buku tugasnya lagi untuk memeriksa, siapa tahu karena teringat masa lalunya, ia jadi salah menjawab. Setelah beberapa menit memeriksa, ia tersenyum lega karena rupanya semua jawabannya benar.

Gina beranjak dari kursi, memandang kalender yang tertempel di dinding tak jauh dari meja belajarnya. Ia melihat bahwa sebentar lagi adalah long weekend, akhir minggu yang panjang. Ada banyak hari libur di penghujung pekan. Hari sabtu dan minggu adalah hari libur, sedangkan hari senin diliburkan karena adalah hari olahraga. Ada tiga hari libur berturut-turut.

Apa yang akan dilakukannya selama itu? Berlibur bersama Ken? Jalan-jalan dengan grup detektif cilik?

Gina menghubungi Ayumi, menanyakan apa yang akan dilakukannya saat long weekend, dan gadis itu menjawab bahwa ia akan pergi jalan-jalan bersama kedua orang tuanya. Setelah menelepon Ayumi, Gina menjadi tahu bahwa long weekend nanti bukanlah hari-hari grup detektif cilik. Grup detektif cilik yang ia tahu selalu berlibur bersama-sama. Berarti sisanya tinggal Ken.

Gina ingin bicara pada Ken, bertanya pada pamannya apakah mereka akan pergi berlibur, tapi ia segera mengurungkan niatnya. Ken adalah penyiar berita, jadi seringkali ketika orang-orang libur kerja, ia justru harus masuk kerja untuk menyiarkan berita. Mana mungkin sebuah berita ditunda penyiarannya hanya karena tanggal merah di kalender, apa lagi jika berita itu penting terkait lalu lintas, cuaca, dan suasana tempat-tempat wisata di hari libur. Itulah konsekuensi pekerjaan Ken. Karena teringat hal itu, Gina akhirnya memilih diam dan menyibukkan diri membaca majalah-majalah koleksi Ken.

Gina mengambil pensilnya dan membuka lembar demi lembar majalah. Ia berniat mengerjakan kuis di majalah itu, entah itu soal cerita atau teka-teki silang. Apa saja yang bisa membuat otaknya berpikir. Kemudian, tiba-tiba ia terbelalak saat melihat tulisan di salah satu lembar majalah terbaru yang dipegangnya.

No way...

Senyum Gina merekah lebar. Dalam hitungan detik ia sudah melesat menggedor kamar pamannya. Apa pun yang terjadi, Ken harus tahu hal ini. Dia harus tahu.


"Gina-chan, ayo ke sini! Ombaknya datang!" Miyuki Nishiyama melambaikan tangannya pada Gina yang sedang memunguti cangkang kerang. Wanita itu berdiri di air laut dangkal dengan wajah berseri-seri. Gina yang mendengarnya tersenyum dan segera berlari menghampirinya. Ia berpegangan pada tangan Miyuki dan ketika ombak menghempas menabrak mereka, mereka berdua menjerit tertawa-tawa.

"Bukankah ini menyenangkan?" seru Miyuki dengan gembira.

"Ya!" sahut Gina sambil tersenyum lebar. Tentu saja menyenangkan. Pantai dan laut selalu jadi tempat liburan favorit banyak orang, termasuk Gina. Sudah lama Gina—atau lebih tepatnya Lana—tidak merasa sebahagia ini. Lana nyaris tak punya hari libur yang menyenangkan selama duduk di bangku SMA. Kegiatan wisata bersama sekolah selalu jadi malapetaka baginya dan hari libur biasa selalu menjadi waktunya untuk mengurung diri di rumah karena ketakutan.

Hari ini Gina dan Miyuki ada di Shizuoka, menghabiskan long weekend yang akhirnya tiba juga di pinggir laut. Mereka bisa berada di sini karena Gina memenangkan kuis sudoku di majalah yang hadiahnya adalah tiket menginap di hotel mewah di pinggir pantai Shizuoka untuk dua orang. Karena Ken harus bekerja meskipun tanggal kalender menunjukkan hari libur, maka Miyuki-lah yang bertugas menemani Gina. Gina tidak keberatan ditemani pengasuhnya walaupun ia akan lebih senang jika ada Ken. Tapi apa boleh buat, bukan? Pekerjaan selalu jadi nomor satu. Lagi pula, tak ada salahnya jika sekali-sekali ia menghabiskan waktu berharga bersama pengasuhnya. Miyuki selalu bersikap baik dan perhatian padanya, jadi sekarang adalah saat yang tepat bagi Gina untuk membalas budi.

Setelah lama bermain-main di pantai sampai puas, Gina dan Miyuki kembali ke hotel untuk istirahat. Hubungan mereka menjadi lebih baik sejak Gina semakin lancar berbahasa Jepang, jadi tidak ada lagi rasa enggan di antara mereka. Mereka menghabiskan sisa waktu sampai makan malam dengan tidur, nonton TV, dan bermain. Mereka bermain tebak-tebakan dan catur. Miyuki juga membawa buku cerita dan membacakannya untuk Gina, tapi Gina sama sekali tak tertarik mendengar dongeng anak-anak. Karena itu segera setelah Miyuki menyelesaikan satu cerita, Gina memintanya bercerita tentang dirinya sendiri. Rencana Gina berhasil. Miyuki pun mengabaikan semua buku dongeng itu dan mulai bercerita tentang masa kanak-kanaknya sebagai seorang gadis Jepang tulen.

Mereka pergi ke restoran hotel ketika waktu makan malam tiba. Mereka mendapatkan akomodasi makan malam mewah gratis di sana. Miyuki tampak tak bisa percaya ketika melihat semua hidangan di depan matanya, karena itu Gina yakin Miyuki nyaris tak pernah menyentuh makanan-makanan semacam itu. Gina sendiri juga jarang menyantap makanan mewah, baik saat ia masih sebagai Lana maupun saat ia sudah menjadi Gina. Mereka berdua pun makan dengan lahap dan semangat.

"Wow, makanannya enak sekali, ya?"

Gina tiba-tiba saja tertegun. Rasanya ia mengenal suara itu. Gina menoleh mencari-cari, lalu akhirnya ia tahu siapa pemilik suara itu. Ia memang mengenalnya. Suara itu adalah suara Ran.

Gina melihat Ran berada di restoran yang sama dengannya, duduk satu meja bersama Kogoro, Conan, dan Eri. Satu keluarga lengkap makan malam bersama. Apa artinya ini? pikir Gina. Eri tinggal terpisah dari Kogoro, jadi wanita itu jarang ada dalam manga. Kalau ada Eri sekarang, apakah artinya akan ada kasus?

Apa pun itu, Gina memutuskan menyapa mereka karena sekarang ia adalah teman Conan. Jadi ia pun memanggil Conan sambil melambaikan tangannya, lalu berlari ke meja mereka diikuti Miyuki yang bertanya-tanya.

"Gina-chan! Lama tak jumpa," sapa Ran ceria.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Conan terkejut.

"Aku sedang berlibur. Memangnya apa lagi?" balas Gina.

"Di mana Watanabe-san? Kau tidak bersamanya?"

"Paman harus kerja, jadi sekarang aku bersama pengasuhku," jawab Gina. Setelah itu, ia mengenalkan Miyuki pada Conan, Kogoro, Ran, dan Eri. Dalam kesempatan ini juga Ran mengenalkan Eri pada mereka berdua.

"Aku tak menyangka Watanabe-san akan mengirimmu liburan ke tempat semahal ini tanpa dirinya," kata Conan setelah perkenalan mereka berakhir.

"Memang tidak, kok. Kami ke sini karena menang undian," balas Gina.

"Oohh... menang undian, ya? Kami juga sama," kata Kogoro, lalu menunjuk Ran sambil memandang Miyuki dengan antusias, "Putriku ini berhasil menukar kupon undian dengan tiket menginap di hotel ini."

"Kalau begitu mirip dengan kami. Kami ada di sini karena Gina-chan memenangkan undian kuis sudoku," balas Miyuki.

"Sudoku?" ulang Eri tak percaya. "Gina-chan mengerjakan sudoku?"

Gina mengangguk sambil tersenyum khas anak-anak. Ketika melihatnya, Conan, Kogoro, Ran, dan Eri terbelalak tak percaya. Anak berusia 7 tahun mengerjakan sudoku! Sebenarnya siapa anak ini?

"Kalau begitu kau pasti pintar sekali, Gina-chan," puji Eri meskipun dalam benaknya ia masih kaget.

"Terima kasih, Bibi Eri," balas Gina sopan.

"Saya juga tak percaya saat Watanabe-san tiba-tiba mengatakan bahwa Gina-chan memenangkan kuis sudoku. Saya tak tahu kalau anak ini sehebat itu," kata Miyuki sambil membelai kepala Gina. "Kemudian saya bertanya apa bukan Watanabe-san yang mengerjakannya dan beliau bilang memang Gina yang mengerjakan sudoku itu. Setelah itu beliau bercerita bahwa Gina-chan hampir selalu mendapatkan nilai sempurna dalam pelajaran sekolah. Hahaha... saat itu saya benar-benar kaget."

"Conan-kun juga seperti itu!" kata Ran antusias. "Saya juga tak menyangka ada anak sepintar dia. Saya jarang melihatnya belajar, tapi nilai-nilainya selalu bagus."

"Benarkah? Saya juga jarang melihat Gina-chan belajar. Pekerjaannya di rumah hanya menonton TV dan membaca majalah koleksi Watanabe-san. Malah dia juga pernah membaca koran."

Sekarang baik Conan maupun Gina merasa tidak nyaman karena dijadikan bahan pembicaraan. Akhirnya Gina terpaksa mengingatkan Miyuki bahwa mereka harus kembali ke meja mereka karena belum selesai makan. Setelah itu, barulah kedua pihak memisahkan diri dan meneruskan urusan mereka masing-masing.

Conan dan keluarga Mouri masih tinggal di restoran ketika Gina dan Miyuki selesai makan malam. Gina menyadari kalau mereka tidak lagi menyantap hidangan, tapi hanya saling bicara satu sama lain. Kogoro sudah mulai kelihatan mabuk berat karena minuman beralkohol. Menyadari bahwa keluarga itu akan tinggal lebih lama, Gina dan Miyuki berpamitan pada mereka sebelum kembali ke kamar.

Sesampainya di kamar, Gina menuruti kata-kata pengasuhnya untuk menggosok gigi dan mencuci muka sebelum tidur. Setelah itu, barulah mereka tidur di tempat tidur masing-masing. Kamar mereka terdiri dari dua tempat tidur karena tiket mereka ditujukan untuk dua orang.

Miyuki dengan cepat terlelap, tapi Gina yang meskipun mengantuk tidak bisa tidur untuk waktu lama. Ia masih kepikiran soal Conan dan keluarganya Ran. Kalau ada Eri, artinya kehadiran mereka di hotel ini tidak biasa. Artinya bisa saja akan terjadi kasus. Kasus apa? Gina meragukan kasus yang terjadi kali ini akan menjadi kasus ringan karena yang terlibat adalah orang-orang dewasa. Tidak mungkin kasus kali ini hanya sebatas pencurian atau kehilangan barang. Artinya, mungkin saja sebentar lagi akan terjadi pembunuhan, perampokan, pemboman, apa pun yang besar dan mengerikan. Memikirkannya saja sudah membuat Gina gelisah.

Pada akhirnya Gina berhasil tidur karena bagaimana pun juga, tubuh kanak-kanaknya tak kuat diajak begadang semalaman, tapi waktu tidurnya ternyata tidak lama karena ada orang yang menggedor pintu kamarnya saat masih larut malam, membuat baik Gina maupun Miyuki terbangun. Miyuki membukakan pintu dan terkejut ketika melihat seorang pria berjas bersama pria lain berseragam polisi di baliknya. Gina juga terkejut dan mulai berpikir bahwa jangan-jangan memang terjadi kasus di hotel ini.

"Permisi, maaf mengganggu. Apakah anda yang bernama Miyuki Nishiyama?" tanya pria itu.

"Ya, benar," jawab Miyuki yang merasa gugup sekaligus cemas.

"Saya Inspektur Yokomizo dari kepolisian ingin menanyakan kesaksian anda terkait Kogoro Mouri dan Eri Kisaki," kata polisi itu sambil menunjukkan tanda pengenal polisinya. "Kami mendapatkan informasi bahwa anda bertemu keduanya di restoran saat makan malam tadi. Apakah itu benar?"

"Ya, itu benar," jawab Miyuki lagi.

Yokomizo? Tadi polisi itu bilang Yokomizo?

Gina berjalan mendekati pintu agar bisa melihat dan mendengar polisi itu lebih jelas dan ketika ia memang berhasil melihatnya dengan jelas, Gina mengerjapkan kedua matanya tak percaya. Ia melihat pria dewasa berambut ikal yang dikenalnya. Ia melihat Sango Yokomizo.

"Kapan tepatnya anda melihat mereka di restoran?" tanya Yokomizo.

"Ka-kapan? Erm... saya tidak tahu pasti, mungkin sekitar jam 9 malam. Kami meninggalkan restoran sekitar jam 10 dan saat itu mereka masih ada di sana," jawab Miyuki. "Kalau boleh saya tahu, ada apa dengan mereka?"

"Sedang ada kasus pembunuhan. Perkiraan kejadiannya adalah antara jam 10 sampai jam 11 malam. Saat ini pengacara Eri Kisaki menjadi salah satu tersangkanya."

Gina terbelalak. Dugaannya memang benar. Kasus pembunuhan telah terjadi. Tapi Eri adalah tersangkanya? Bagaimana mungkin? Kasus yang mana ini?

"Kisaki-san jadi tersangka? Bagaimana bisa?" Miyuki terkejut. Jelas saja ia terkejut. Tadi malam ia baru saja mengenal Eri Kisaki, pengacara yang juga adalah istri Detektif Kogoro Mouri yang terkenal. Mana mungkin istri seorang detektif tiba-tiba jadi tersangka.

"Mayat korban ditemukan di kamarnya dan setelah penyelidikan lebih lanjut, kami terpaksa memasukkan Pengacara Kisaki dalam daftar tersangka," jawab Yokomizo, membuat Gina berpikir lebih dalam.

Pembunuhan di hotel, mayat ditemukan di kamar Eri... yang mana? Kasus yang mana?

"Itu artinya anda tidak melihat Pengacara Kisaki lewat dari jam 10, benar begitu?" tanya Yokomizo lagi untuk memastikan.

"Y-ya," Miyuki mengangguk, "tapi itu karena kami pergi duluan."

Yokomizo mengangguk sambil mencatat, lalu bertanya lagi, "kenapa anda memutuskan makan malam saat jam 9? Tidakkah saat itu terlalu malam?"

"Eh?" Miyuki bingung sesaat, lalu buru-buru berkilah, "Bukan begitu. Saya dan Gina-chan sudah berada di restoran sejak sekitar jam 8 malam, hanya saja kami baru sadar kalau Detektif Mouri dan keluarganya ada di restoran sekitar jam 9 malam."

"Begitu? Itu artinya meja anda cukup jauh dari meja Detektif Mouri, ya?"

"Benar. Meja kami ada di pojok, di dekat jendela, tapi meja Detektif Mouri ada di bagian tengah restoran. Selain itu, saat itu saya belum pernah bertemu Detektif Mouri dan keluarganya. Gina-chan yang menyadari kalau mereka ada di sana."

Yokomizo membungkuk menatap Gina. "Kau yang bernama Gina?"

Gina mengangguk.

"Apakah Nishiyama-san mengatakan hal yang benar?"

"Ya," jawab Gina sambil mengangguk.

Sekarang Yokomizo mengangguk-angguk, lalu bertanya lagi pada Miyuki, "apa hubungan anda dengan Detektif Mouri dan Pengacara Kisaki?"

"Kalau itu kan, sudah saya bilang tadi. Saya baru bertemu mereka semalam. Conan-kun adalah teman Gina-chan di sekolah dan saat makan malam itu kami kebetulan bertemu dengan mereka," jawab Miyuki diiringi anggukan Gina.

"Dan hubungan anda dengan Gina-chan adalah...?"

"Saya pengasuhnya," jawab Miyuki lagi. Sekarang Yokomizo menatap Gina.

"Benar begitu, Gina-chan?" tanyanya.

"Ya," jawab Gina lagi-lagi sambil mengangguk.

"Boleh paman tahu nama lengkapmu?"

"Gina Shilmani," jawab Gina lagi dengan singkat.

Yokomizo mengangguk-angguk lagi sambil mencatat. Setelah itu, ia memandang Miyuki.

"Apakah anda tahu di mana kamar Detektif Mouri?" tanyanya.

"Tidak," jawab Miyuki dengan heran.

"Kamar Detektif Mouri ada di sana," kata Yokomizo sambil menunjuk sebuah kamar yang berbeda tiga pintu dengan kamar Gina dan Miyuki, membuat mereka berdua terkejut. Mereka sama-sama tak tahu kalau ternyata jarak kamar mereka sedekat ini. "Apakah anda benar-benar baru bertemu mereka semalam?"

"Tentu saja! Anda pikir saya berbohong?" balas Miyuki dengan suara sedikit meninggi. Ia mulai kesal karena merasa bahwa polisi itu mencurigainya.

"Bukan begitu. Kami hanya memastikan karena letak kamar kalian berdekatan walaupun anda mengaku baru bertemu Detektif Mouri tadi malam. Apa lagi Gina-chan adalah teman Conan-kun," kata Yokomizo.

"Saya benar-benar tidak tahu apa pun soal kamar Detektif Mouri. Kamar kami juga tidak kami pilih sendiri," kata Miyuki lagi.

"Apa maksud anda?"

"Kami memenangkan kuis berhadiah. Semua akomodasi kami diurus oleh penyelenggara kuis." Kemudian Miyuki menjelaskan lebih lanjut tentang kuis sudoku di majalah yang dimenangkan Gina. Yokomizo tampak mendengarkan dengan seksama dan sesekali mencatat meskipun tidak percaya kalau Gina bisa menyelesaikan soal sudoku. Ketika polisi itu bertanya apakah gadis kecil itu benar-benar menyelesaikannya, Gina mengangguk dan mengatakan bahwa ia bisa menyelesaikan soal sudoku lain malam ini juga jika Yokomizo tidak percaya. Mendengar kata-kata tantangan itu, Yokomizo akhirnya mau tak mau terpaksa percaya.

Terima kasih atas waktu dan informasinya, Nishiyama-san. Kau juga, Gina-chan," kata Yokomizo di akhir wawancaranya sambil menatap Miyuki dan Gina bergantian. "Oh, ya, untuk saat ini, Pengacara Kisaki tidur di kamar Detektif Mouri. Kalau ada apa-apa, tolong segera menghubungi polisi atau petugas hotel. Maaf telah mengganggu. Silahkan beristirahat kembali."

Yokomizo pun pergi. Miyuki menutup pintu kamar, lalu tiba-tiba saja ia merosot.

"Miyuki-san? Ada apa?" tanya Gina kaget.

"Ah, tidak apa-apa, Gina-chan, aku hanya terkejut. Tiba-tiba saja ada pembunuhan dan Kisaki-san adalah tersangkanya..." Miyuki tersenyum pada Gina, mencoba meyakinkan gadis kecil itu bahwa ia baik-baik saja meskipun pikirannya masih kacau karena terkejut.

"Tapi tidak mungkin Bibi Eri adalah pelakunya, kan? Bibi Eri adalah istrinya Paman Mouri," kata Gina mencoba menghibur pengasuhnya. Gadis itu tahu kalau pengasuhnya tidak benar-benar baik-baik saja. Senyum Miyuki tidak bisa menipu mata seorang Lana.

"Ya, kau benar. Tidak mungkin Kisaki-san adalah pelakunya. Tidak mungkin." Miyuki mengangguk-angguk, kali ini ia juga mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Eri bukan pelakunya. "Ayo kita tidur, Gina-chan. Besok pagi mungkin semuanya sudah lebih baik. Lupakan saja kasus yang baru kau dengar."

Maka Gina pun naik ke tempat tidurnya lagi. Setelah mematikan lampu, Miyuki juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua kembali tidur, tapi Gina tak bisa langsung terlelap. Ia berpikir keras tentang kasus yang terjadi saat ini. Kalau memang kasus kali ini ada dalam manga, ia harus bisa mengingatnya. Ia harus tahu siapa pelakunya. Ia sama sekali tidak merasa tenang berada di bangunan yang sama dengan pembunuh, terlebih pembunuh itu masih tidak diketahuinya. Gina berusaha mengingat, tapi rupanya kantuk mengalahkannya. Ia terlelap sebelum bisa mengingat apa pun.


Keesokan paginya, Gina merasa mual sekaligus kedinginan. Semalam ia bermimpi buruk, buruk sekali. Ia bermimpi tentang masa-masa kelam Lana. Ia bermimpi ditindas lagi oleh orang-orang keji itu dengan berbagai cara. Kemudian ia bermimpi terjun dari atap gedung ke lapangan. Ia memimpikan saat-saat terakhir Lana. Setelah semua peristiwa mengerikan itu lenyap, ia melihat sosok seseorang yang tersenyum jahat. Ia tak tahu siapa orang itu. Ia tak bisa melihat wajahnya selain senyum mengerikannya, tapi orang itu memegang mobil mainan. Apa pula artinya itu, Gina sama sekali tidak tahu. Ia tidak pernah ditindas dengan mobil mainan, jadi ia sama sekali tak paham mengapa mobil mainan itu muncul dalam mimpinya. Meskipun begitu, anehnya sosok itulah yang membuat Gina tersadar dari mimpinya. Sosok itulah yang membuatnya takut setengah mati dan mendapati dirinya terbangun di pagi hari dengan keringat dingin.

Miyuki terbangun tak lama kemudian dan kaget mendapati tubuh Gina gemetaran dibanjiri keringat dingin. Ia langsung menyalahkan pembunuhan yang terjadi tadi malam. Ia yakin kasus itu membuat Gina bermimpi buruk. Apa lagi yang bisa menyebabkan gadis kecil terbangun dalam keadaan seperti itu?

Gina tidak yakin dirinya bisa kuat berjalan sampai ke restoran karena jantungnya terus berdetak kencang dan perutnya masih terasa mual sehingga pada akhirnya ia dan Miyuki sarapan di dalam kamar. Setelah merasa lebih tenang, mereka berdua pergi berbelanja di toko-toko sekitar pantai dan hotel. Miyuki berharap dengan berbelanja, Gina akan melupakan mimpi buruknya, apa pun itu. Gina juga berharap begitu, tapi mana bisa ia melupakan mimpinya semudah itu ketika ia tahu bahwa telah terjadi pembunuhan di hotel tempatnya menginap? Entah mengapa Gina yakin bahwa orang yang membawa mobil mainan itu ada kaitannya dengan kasus kali ini karena penindasan Lana tak pernah melibatkan mobil, baik asli maupun mainan.

Miyuki dan Gina kembali ke hotel ketika waktu makan siang. Setelah menaruh barang-barang belanjaan mereka di kamar, mereka pergi makan siang di restoran. Saat itu mereka tidak banyak bicara. Mereka makan dalam diam. Gina sibuk memikirkan mimpinya, sementara Miyuki sibuk memikirkan keadaan Gina dan apa yang harus ia lakukan untuk menghibur anak itu. Di waktu makan siang inilah tiba-tiba Gina berhasil mengingat kasus kali ini. Ia segera ingat ketika tak sengaja kedua matanya melihat Conan menjatuhkan kecap dari kereta makanan yang didorong oleh entah itu koki atau pramusaji. Karena itu juga, akhirnya Gina mengerti mengapa ia melihat mobil mainan dalam mimpinya. Benda itu adalah benda yang penting dalam pembunuhan ini.

Tak lama setelah Gina menyadari kasus yang terjadi kali ini, Kogoro menyuruh Ran menghubungi Yokomizo. Ia mengatakan bahwa dirinya telah menyadari trik dan pelaku dari kasus pembunuhan itu. Ia mengatakan bahwa pertunjukan analisisnya akan dimulai.

"Wah, hebat! Detektif Mouri sudah memecahkan kasus itu," kata Miyuki, berharap Gina bisa terhibur dengan hal ini. "Pelakunya akan segera tertangkap. Kita tak perlu cemas."

Gina hanya mengangguk. Ia juga sudah tahu siapa pelakunya. Ia pun sudah tahu triknya. Ia sudah ingat semuanya. Kasus kali ini memang ada dalam manga dan ia pernah membacanya.

"Kira-kira siapa pelakunya? Kuharap bukan Kisaki-san," kata Miyuki lagi.

"Bibi Eri bukan pelakunya. Aku yakin," kata Gina.

"Ya, tentu saja." Miyuki tersenyum pada Gina. Ia tahu Gina sangat memercayai Eri. Ia sendiri juga percaya pada Eri.

Pertunjukan analisis Kogoro baru dilaksanakan ketika hari sudah malam. Miyuki dan Gina sama sekali tak menyangka kalau polisi juga meminta mereka hadir dalam pertunjukan itu. Menurut mereka, Miyuki dan Gina sudah selayaknya mendengarkan penjelasan Kogoro karena mereka berdua adalah saksi. Maka di sinilah mereka sekarang, di kamar Eri yang adalah TKP, untuk mendengarkan penjelasan Kogoro bersama para tersangka.

Kali ini Kogoro tidak menjadi Kogoro tidur. Gina tahu mengapa. Conan tidak membuatnya tidur karena hari ini adalah hari penting untuk Kogoro yang hanya terjadi sekali dalam setahun. Selama pertunjukan, sesekali Conan menyela, memberitahu petunjuk untuk Kogoro tanpa disadari orang lain, tapi Gina tahu walaupun ia berpura-pura tidak tahu. Kesimpulannya, pelakunya adalah suami korban yang menggunakan mobil-mobilan sebagai trik pembunuhan. Eri pun terbebas dari tuduhan.

Setelah pertunjukan analisis selesai, Miyuki dan Gina kembali ke kamar bersama Conan dan keluarga Mouri karena kamar mereka berdekatan satu sama lain. Pada saat inilah Gina menyaksikan Kogoro menyerahkan hadiah ulang tahun untuk Eri. Ia juga melihat Eri mencium pipi Kogoro sebelum pergi bersama hadiahnya. Tentu saja Miyuki juga melihat hal yang sama.

"Waah, ternyata walaupun tinggal terpisah, kalian berdua masih romantis," komentar Miyuki, membuat Ran berseri-seri tapi membuat Kogoro jadi salah tingkah.

"Tentu saja, Nishiyama-san. Mereka itu hanya malu-malu menunjukkannya," kata Ran ceria. Conan yang mendengarnya memasang wajah datar sementara Gina tersenyum geli.

"Oh, ya, terima kasih karena telah memecahkan kasus kali ini, Detektif Mouri. Anda tak tahu bagaimana berartinya pertolongan anda bagi kami," kata Miyuki lagi, membuat Kogoro memandangnya heran. Ran dan Conan pun demikian.

"Apa maksud anda? Anda tidak terlibat sebagai tersangka," kata Kogoro.

"Pembunuhan itu tampaknya berpengaruh pada Gina-chan karena semalam dia bermimpi buruk. Dia bangun dalam keadaan pucat dan berkeringat dingin, anda tahu? Anak ini bahkan tak mau keluar dari kamar karena takut tak kuat berjalan, jadi kami sarapan di kamar," kata Miyuki sambil mengusap-usap lembut kepala Gina. Gina terkejut mendengarnya, tapi tak bisa melakukan apa-apa selain diam dengan salah tingkah.

"Oh, begitukah?" kata Ran cemas. Ia lalu membungkuk di hadapan Gina dan tersenyum. "Kalau begitu sekarang kau tidak perlu bermimpi buruk lagi, Gina-chan. Pelakunya sudah ditangkap. Kau tenang saja."

Gina tersenyum dan mengangguk. Kogoro juga kemudian mengeluarkan kata-kata yang menghibur dengan gaya pamernya, membuat Gina tersenyum lebih lebar. Ia memang tersenyum, namun di saat bersamaan, ia jadi tidak menyukai dirinya sendiri. Ia telah membuat orang-orang di sekelilingnya mencemaskannya. Oh, andai saja Miyuki tutup mulut tentang mimpi buruknya!

Kogoro dan Ran bercakap-cakap dengan Miyuki setelah mereka yakin Gina telah terhibur, sementara itu, Gina sendiri tidak banyak bicara sepanjang perjalanan ke kamar sampai Conan mengajaknya bicara.

"Kemarin Inspektur Yokomizo datang ke kamarmu, kan?" tanyanya.

"Hm? Oh, ya," jawab Gina.

"Aku mendengar sedikit perbincangan kalian," kata Conan lagi.

"Oh..."

"Aku juga baru tahu saat itu kalau ternyata kamarmu dekat dengan kamar kami."

"Yeah."

"Omong-omong, kau benar-benar bisa mengerjakan sudoku?"

"Huh?" Gina terkejut dengan pertanyaan Conan yang tiba-tiba berubah arah. "Ya, tentu saja."

"Kau serius saat mengatakan bahwa kau bisa mengerjakannya dalam semalam?"

"Ya, biasanya sekitar satu jam."

"Satu jam?!" Conan memandang Gina dengan takjub. "Serius?"

Gina mengangguk. "Mau kubuktikan?"

"Ah, sudahlah, lupakan saja," kata Conan akhirnya. Ia benar-benar tak menyangka gadis kecil di sampingnya bisa secerdas itu. "Lalu, apa kau memang mimpi buruk gara-gara kasus itu?" tanyanya lagi.

Gina terdiam sesaat, lalu perlahan-lahan mengangguk. "Memalukan, sih, tapi itu memang benar."

"Kalau kau seperti ini, apa kau yakin bisa bertahan di grup detektif cilik?"

"Kedengarannya kau ingin mengusirku."

"Hei, tentu saja tidak. Aku justru berniat baik padamu."

Gina tersenyum. "Tenang saja. Aku bisa bertahan."

"Kau yakin?"

"Ya." Gina mengangguk. Melihat kesungguhan gadis itu, Conan tak bisa berkata apa-apa lagi. Pada akhirnya ia hanya bisa mengucapkan selamat malam ketika tiba waktunya bagi mereka untuk berpisah menuju kamar masing-masing.

Conan tahu dirinya mencurigai gadis itu, tapi di saat yang sama ia juga mencemaskannya. Reaksi Gina terhadap hal-hal keras seperti pembunuhan adalah reaksi yang menurutnya cukup ekstrem. Setahunya tidak ada anak-anak grup detektif cilik yang sampai seperti itu. Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko memang menjerit, panik, dan ketakutan ketika mereka menemukan mayat, tapi tidak ada di antara mereka yang sampai gemetaran dan tidak sanggup berjalan seperti cerita tentang Gina. Gina bahkan tidak melihat mayatnya! Gadis itu hanya mendengar bahwa saat itu sedang terjadi kasus pembunuhan. Kalau dipikir-pikir lagi, saat kasus percobaan bunuh diri seorang kakek belum lama ini pun, hanya Gina yang pucat pasi sementara anak-anak lain mungkin cemas, tapi tak sampai sepucat Gina. Mau tak mau, Conan jadi bertanya-tanya apakah reaksi berlebihan Gina ada hubungannya dengan masa lalunya yang katanya tak bisa diingatnya. Mau tak mau Conan jadi bertanya-tanya apakah gadis kecil itu benar-benar amnesia. Mau tak mau Conan jadi bertanya-tanya siapa sebenarnya gadis itu dan apa saja yang telah dialaminya.

Oh iya, dia pernah bilang kalau dulu dirinya pernah ditindas dan dibawa ke Scotland Yard, batin Conan. Apakah penindasan itu yang membuat Gina bereaksi seekstrem itu? Bisa saja Gina memiliki reaksi berlebihan karena jiwanya mengingat penindasan itu sekalipun otaknya tidak ingat. Ya, bisa saja gadis itu pernah mengalami hal yang begitu menakutkan. Otaknya mungkin saja tidak mengingatnya, tapi jiwanya ingat. Itu sebabnya Gina punya reaksi ekstrem terhadap tindak kekerasan. Hal semacam itu bisa saja terjadi.

Kalau memang Gina mengalami kejadian yang begitu buruk di masa lalu, kejadian apakah itu, yang sampai-sampai bisa membuatnya bereaksi seekstrem itu? Apakah ada hubungannya dengan organisasi hitam? Conan tak bisa menyingkirkan kemungkinan oganisasi hitam ada hubungannya dengan gadis itu. Belum. Alasannya adalah karena Gina terlalu pintar untuk gadis berusia tujuh tahun. Ia terlalu cerdas dan Conan tahu kalau organisasi hitam selalu berusaha mengumpulkan orang-orang yang cerdas dan berpengaruh. Alasan yang sama juga yang membuat Shiho Miyano menjadi anggota mereka. Bukan tidak mungkin jika organisasi juga menginginkan kecerdasan Gina.

Sekarang Conan punya pertanyaan lain. Mengapa gadis itu bersikeras ingin bertahan dalam grup detektif cilik, padahal ia tahu kalau grup itu bisa terlibat berbagai kasus kriminal? Padahal ia tahu kalau dirinya mudah sekali shock ketika dihadapi hal-hal berbau kekerasan, tapi mengapa ia malah merasa yakin bahwa dirinya bisa bertahan? Apa yang ada di pikiran Gina?

TBC


Review please :)