Hai readers! Ternyata saya masih sanggup cepet update, tapi tolong jangan berharap saya bakal terus-terusan update secepat ini yaaa...

Terima kasih buat readers yang udah nyempetin baca. Terima kasih buat yang udah ngasih review. Saya selalu nunggu kritik dan saran dari readers sekalian, lho.

Oke, gak usah basa-basi lagi. Selamat membaca dan jangan lupa review ;)


Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho. Saya cuman minjem buat fanfic saya.

CHAPTER 13

"Lana..." "Lana..." "Apa-apaan kalian semua?!"

"Lana?" "Lana..." "Dad..."

"Liu..." "Liu..." "Liu?"

"Bagus sekali, nilaimu stabil." "Jangan bohong!"

"Lana!" "Miss..." "Liu..."

"Mum..." "Mum..." "Apa?"

"Apa?" "Please..." "Hei, tegakkan punggungmu!"

"No school..." "Kasihan kau, Miss Know-it-all..."

"Miss Liu..." "No..." "Miss Liu!"

"No study..." "Dad..." "Lana Liu."

"Miss Liu..." "No..." "Lana Liu!"

"No pain..." "It's your fault for being genius!"

"Lana Liu..." "Practice."

"Help me..." "Help me..."

"Lana Liu?" "Practice!"

"Jangan banyak alasan!" "Please..."

"Anak zaman sekarang..." "PLEASE!"

Gina membuka kedua matanya dengan kaget. Napasnya terengah-engah. Ia terbelalak memandang langit-langit. Untuk beberapa saat ia tak tahu di mana ia berada, namun ketika ia merasakan tangannya mencengkram selimut, Gina akhirnya tahu. Ia berada di kamarnya.

Oh, hanya mimpi...

Gina mendesah lega. Ia duduk di atas kasurnya dan mengatur napas. Mimpi barusan sangat menyiksanya, sangat memakan energinya bahkan ketika ia sedang tidur. Tubuhnya dibanjiri keringat dingin. Lagi. Entah sudah berapa kali ia bangun bersimbah keringat dingin. Ia tak lagi menghitungnya saking seringnya hal semacam itu terjadi.

Gina menenangkan dirinya. Tubuhnya masih gemetaran dan terasa dingin. Not good, batinnya. Ia tahu ia harus segera tenang, jadi karena berpikir kegelapan dan keheningan kamar takkan membantunya, gadis itu beranjak dari tempat tidur dan menyalakan lampu, kemudian ia mendengarkan musik klasik Air on the G String kesukaaannya dari mp3 player di ponselnya. Strateginya cukup ampuh karena paling tidak gemetarannya hilang. Setelah itu, tubuhnya berangsur-angsur menghangat. Begitu yakin dirinya telah tenang, Gina menghela napas lega.

Aku takut tidur...

Gina mendesah lagi. Ia benar-benar tak ingin tidur sekarang, tidak setelah mimpi buruk itu. Ia tak ingin menyaksikan semua fragmen-fragmen ingatan mengerikannya. Betapa ia berharap dirinya benar-benar amnesia! Gina kesal pada dirinya sendiri karena semua yang bisa ia ingat hanya ingatan mengerikan, semua yang muncul dalam mimpinya hanya hal-hal yang menyakitkan. Mengapa ia masih harus terbayang-bayang oleh kehidupan Lana ketika ia menjalani hidup sebagai Gina? Tidak bisakah ia menjadi Gina tanpa perlu direpotkan oleh masa lalu Lana?

Gina melirik jam dinding di kamarnya. Jam setengah dua dini hari. Fajar masih berjam-jam lagi. Seharusnya ia tidur. Ya, seharusnya, karena pagi nanti ia akan membutuhkan tenaga untuk pergi bersama grup detektif cilik. Tapi bisakah ia tidur? Tidur dengan tenang tanpa mimpi yang membuang-buang tenaganya dengan percuma?

Tentu saja tidak. Aku takkan bisa tidur nyenyak.

Sejak kembali dari Shizuoka, Gina memang sering bermimpi buruk tanpa alasan yang jelas. Ia tidak begitu sering terlibat kasus. Malah belakangan ini ia tidak terlibat apa-apa. Ia bahkan tak bergabung dengan grup detektif cilik saat pencurian tanduk Kirin oleh Kaitou KID berlangsung (saat itu ia sakit flu dan ia justru bersyukur karena sakit saat itu. Ia tidak ingin memperbesar kemungkinan KID ditangkap) ataupun saat anak-anak itu berkunjung ke onsen yang berakhir dengan sebuah tragedi pembunuhan (saat itu Gina menghadiri acara ulang tahun teman sekelasnya dan ia bersyukur karena tak perlu menyaksikan pembunuhan itu). Tidak ada kasus yang datang menghampirinya. Semua kasus itu datang kepada Conan, bukan kepada dirinya. Jadi mengapa ia malah semakin sering bermimpi buruk?

Gina mencoba terjaga dengan mengerjakan teka-teki silang dan sudoku di majalah Ken yang ia bawa ke kamarnya, tapi sekuat apa pun Gina mencoba terjaga, pada akhirnya ia terlelap juga. Tubuh kecilnya tidak didesain untuk berjaga semalaman. Tubuh kecilnya didesain untuk tidur ketika malam agar bisa tumbuh lebih besar. Inilah kelemahan anak-anak.

Keesokan paginya, Gina terbangun karena alarmnya, tapi tetap saja barusan ia bermimpi buruk. Ia beruntung karena suara alarm menyelamatkannya dari dunia mimpinya yang menyeramkan.

Apakah aku akan terus-terusan bermimpi buruk? Apakah aku takkan bisa tidur nyenyak untuk selamanya?

Pemikiran itu sudah membuatnya sangat ketakutan dan ketika memikirkan Gina, ia merasa bersalah. Tidak adil jika tubuh Gina-lah yang harus tersiksa karena mimpi buruk Lana. Gina hanyalah gadis kecil biasa. Apa yang akan terjadi padanya di masa depan jika tubuhnya terus-menerus digerogoti mimpi buruk Lana?

Suara Ken dari luar membuat Gina tersadar dari lamunannya. Ia bergegas turun dari tempat tidur dan menyapa pamannya. Segera setelah ia bersih dan rapi, Gina bergabung bersama pamannya di meja makan untuk menyantap sarapan.

"Kalau kau masih lapar, kau boleh tambah, Gina," kata Ken. Gina yang mendengarnya hanya tersenyum, namun dalam hati ia bertanya-tanya. Ia bukan tipe orang yang suka tambah porsi. Ia selalu kenyang hanya dengan makan satu porsi. Seharusnya Ken sudah tahu itu sekarang, makanya ia bingung ketika tiba-tiba Ken menawarkannya untuk tambah porsi.

"Nih, makan ini." Ken menaruh telur mata sapi di piring Gina, membuat gadis itu harus makan dua telur mata sapi. "Kalau kurang, tambah lagi nasinya," kata Ken lagi.

"Paman, sudah cukup, kok. Paman tahu Gina selalu kenyang dengan satu porsi," kata Gina. Ia tidak menolak telur pemberian pamannya, tapi ia tak mau menambah nasi. Ia tidak mau kekenyangan.

"Mungkin menurutmu begitu, tapi kelihatannya tidak," kata Ken, kali ini terdengar lebih serius sehingga Gina memerhatikannya. "Belakangan ini kulihat kau tambah kurus. Apa saja yang kau lakukan di sekolah?"

Gina terperangah. Dirinya bertambah kurus? Benarkah? Ia tak tahu karena ia tidak begitu memerhatikan tubuhnya. Ia juga punya kebiasaan untuk tidak mengingat beratnya setelah menimbang. Lana tak pernah memusingkan berat badannya karena sebanyak apa pun ia makan, ia tidak akan bisa gemuk. Ia terlalu sering menghabiskan waktu untuk belajar dan menghadapi para penindas sehingga kalorinya selalu terpakai, tidak menyisakan sisa untuk disimpan.

"Gina? Apa saja yang kau lakukan di sekolah?" tanya Ken lagi ketika menyadari keponakannya tidak kunjung menjawab.

"Tidak ada," jawab Gina buru-buru setelah tersadar dari lamunannya. "Hanya belajar dan bermain seperti biasa," tambahnya.

"Begitu?" Ken mengamati Gina. "Tapi tetap saja kau tambah kurus. Sepertinya bermain dan belajar memakan energi lebih banyak dari yang kau kira. Kau harus makan lebih banyak, Gina. Tentu saja tidak harus nasi dan lauk pauk. Kau bisa membeli camilan di kantin sekolah, makan buah, minum susu atau minum jus. Kau mengerti?"

Gina mengangguk, lalu kembali melahap sarapannya. Ken masih memandangnya dengan tidak yakin. Ia ragu apakah gadis kecil itu memang mengerti kata-katanya, tapi untuk saat ini tak ada yang bisa ia perbuat.

Setelah selesai sarapan, Gina pamit berangkat ke rumah Profesor Agasa. Di sana ia akan bertemu anak-anak grup detektif cilik yang lain. Mereka berencana akan pergi memanen rebung bersama Profesor. Sesampainya di rumah Profesor Agasa, Gina melihat masih ada beberapa anak yang belum datang. Ia dan yang lain menunggu sampai rombongan mereka lengkap, lalu pergi ke tempat kemping menaiki mobil Agasa. Dua anak di depan, sisanya di belakang. Gina termasuk yang duduk di belakang. Ia cukup terkesan karena meskipun mobil Agasa adalah mobil kecil, bangku belakangnya dapat memuat empat orang anak berusia tujuh tahun.

Acara panen rebung mereka berjalan lancar dan menyenangkan. Gina dan teman-temannya berhasil memanen banyak. Mereka semua berseri-seri melihat hasil panen yang mereka kumpulkan. Mereka berencana akan menyantapnya dengan nasi di rumah Agasa.

Agasa dan anak-anak pulang setelah acara panen rebung mereka usai. Di tengah perjalanan pulang, tiba-tiba saja mobil Agasa mogok. Petugas derek mengatakan bahwa mobil Agasa harus dibawa ke bengkel karena kerusakannya bukan kerusakan ringan. Pada akhirnya Pofesor turun gunung bersama petugas derek dan mobilnya yang diderek, sementara anak-anak terpaksa menunggu sampai ia kembali. Rupanya Agasa harus pulang ke rumah untuk mengambil uang dan hal itu membuat anak-anak terpaksa menunggu sekitar dua jam lagi, padahal mereka telah menunggu satu setengah jam, belum lagi hujan turun, membuat anak-anak itu cukup kebasahan dan kedinginan meskipun berhasil mendapatkan tempat berteduh minimalis.

Saat mereka sedang menunggu, tiba-tiba terdengar alunan piano. Piano itu memainkan lagu klasik yang cukup familiar di telinga anak-anak dan sangat familiar di telinga Gina.

Air on the G String.

Karena hujan semakin deras, anak-anak pun memutuskan untuk berteduh di rumah pemilik piano itu. Mereka menekan bel, namun tak ada yang membukakan pintu. Ketika Genta mencoba membuka pintunya, rupanya pintu itu tidak terkunci. Anak-anak masuk dan mendapati rumah gelap sampai Conan menyalakan lampu. Ketika sudah terang, mereka melihat jejak keripik kentang di lantai. Anak-anak membicarakannya sampai Ayumi mengajak mereka ke sebuah ruangan. Ruangan itu berisi sebuah grand piano. Ketika melihatnya, Gina langsung mengenali kasus ini.

Kalau tidak salah, kasus ini ada hubungannya dengan penculikan anak-anak, batin Gina, tapi ia tidak bisa mengingat secara detil apa yang terjadi selain itu. Ia hanya ingat piano, Air on the G string, seorang anak laki-laki, dan buku harian yang entah isinya apa.

Anak-anak menjelajahi ruang piano. Ai melihat kumpulan CD musik klasik dan perlengkapan audio yang membuatnya berpikir bahwa permainan piano tadi mungkin hanya rekaman mengingat permainan itu sangat bagus, tapi teori itu segera dibantah Conan yang tahu betul bahwa permainan tadi mengandung suara sumbang yang disebabkan oleh piano di sana, jadi permainan tadi jelas-jelas dimainkan dengan piano itu. Setelah itu, Ayumi duduk di kursi piano, ingin mencoba memainkannya, tapi Conan melarangnya karena bisa saja mereka akan dimarahi pemiliknya. Tak lama setelah itu, Mitsuhiko berteriak ketakutan dan mengaku melihat seseorang bertubuh tinggi di balik pintu sedang mengintip mereka.

"Berarti orang itu adalah pemilik rumah ini, kan? Kita harus memberi salam padanya," kata Conan sambil berjalan ke pintu.

Salah. Orang itu adalah anak kecil, batin Gina sambil memandang Conan. Kemudian, Conan menyadari bahwa pintu terhalang sesuatu yang ternyata adalah semacam kereta dorong. Sementara Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko mulai ketakutan dan berpikir yang tidak-tidak, Gina duduk di depan piano, memandangnya untuk beberapa saat, lalu akhirnya memainkannya.

Air on the G String.

Gina sudah sangat hafal lagu ini. Lagu ini sudah berada di luar kepalanya. Jari-jemarinya bergerak sendiri tanpa ia perlu mengontrolnya. Ia bisa memainkannya sambil menutup mata dan ia bisa melakukannya karena Lana Liu sering sekali memainkan Air on the G String. Lagu ini yang membuat Lana bertahan ketika ditindas. Baginya lagu ini adalah lagu pembebasan. Ia membayangkan kelulusannya dari SMA ketika memainkan lagu ini. Karena itu ia tidak menyerah sampai suatu titik ketika ia sudah muak dan ingin bunuh diri. Pada titik itu, Air on the G String bukan penyelamatnya lagi. Tuhan-lah yang menolongnya melalui bisikan hati kecilnya dan Lana sungguh bersyukur atas hal itu, tapi ia takkan lupa hari-hari yang dilewatinya ketika ia bersabar dan bertahan hanya dengan memainkan Air on the G String.

Ketika Gina selesai bermain, ia mendengar tepuk tangan, membuat dirinya yang hanyut dalam lagu tersadar. Rupanya anak-anak yang lain sedari tadi menontonnya dalam diam. Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko langsung mengelilinginya dan memuji permainannya, sedangkan Conan dan Ai hanya diam terpana.

"Tadi itu permainan yang bagus," komentar Ai, komentar yang hanya bisa didengar Conan.

"Ya," balas Conan setuju. "Aku tahu aku harus melarangnya karena piano itu milik orang lain, tapi aku sampai lupa melakukannya karena permainannya bagus."

"Anak itu benar-benar aneh. Siapa dia sebenarnya?"

"Bukankah hal itu yang sedang kita cari tahu? Sabar saja."

Setelah menonton permainan piano Gina, anak-anak melihat ada ruangan lain yang diterangi cahaya lampu. Mereka semua ke sana dan mendapati bahwa ruangan tersebut adalah dapur dan ruang makan. Di atas meja terdapat beberapa jenis makanan yang baru dimakan setengahnya, sebotolo wine dengan gelas kosong yang terjungkir di dekatnya, serta sebuah buku kecil dan sebuah pulpen tak jauh dari buku itu. Ketika melihat buku itu, kedua mata Gina menajam.

The diary...

Conan membuka buku itu dan membaca lembar demi lembar sementara yang lain mendengarkannya. Pemilik buku itu menuliskan tentang seorang anak kecil, tentang rasa irinya pada Mozart, Bach, Beethoven, dan Chopin, lalu tentang keinginannya membunuh si anak kecil. Ayumi, Mitsuhiko, dan Genta jelas ketakutan ketika mendengar hal terakhir ini. Mereka menyuruh Conan segera membaca halaman berikutnya, tapi pada saat itu tiba-tiba terjadi mati lampu.

"Mati lampu?!" seru Ayumi setengah cemas setengah panik.

"Kalau tidak salah, di halaman tadi ada sesuatu yang merah, kan?" kata Mitsuhiko.

"Apa lagi isinya mengatakan 'maafkan aku, nak'..." tambah Ai.

Tulisan itu jadi sulit dibaca dan noda berwarna merah yang dikatakan Mitsuhiko hanya terlihat seperti noda hitam ketika dilihat tanpa cahaya lampu, jadi anak-anak menyalakan jam tangan senter mereka. Tak lama setelah itu, mereka mendengar Air on the G String lagi, membuat Ayumi, Mitsuhiko, dan Genta panik ketakutan dan mencoba lari. Conan buru-buru mencegah mereka jauh-jauh darinya, tapi ternyata hal itu tidak perlu karena Genta segera saja jatuh tersandung sesuatu. Gina dan Ai mengarahkan sinar jam tangan senter mereka ke arah benda yang membuat Genta tersandung.

Sebuah peti mati. Peti mati kecil. Tak hanya itu, ada sebuah sekop di atasnya, seolah-olah peti itu sudah disiapkan untuk segera dikubur.

Penampakan peti dan sekop itu sudah cukup untuk membuat semua anak-anak menduga bahwa anak kecil dalam buku harian itu telah mati dan berada di dalamnya. Kalau Gina belum membaca kasus ini dalam manga, ia pun akan berpikiran sama dengan mereka.

Conan yang merasa perlu mengintip isi peti mati itu meminta Ai menjauhkan anak-anak karena menurutnya, pemandangan mayat anak kecil dalam peti mati bukan hal yang seharusnya dilihat anak-anak. Ai melakukan apa yang diminta Conan. Ia menjauhkan Ayumi, Genta, Mitsuhiko, dan Gina sementara Conan memeriksa isi peti itu. Rupanya peti itu kosong, membuat Conan cukup terkejut namun juga lega, begitu juga dengan anak-anak yang lain. Sekarang mereka punya harapan bahwa anak dalam buku harian mungkin masih hidup di suatu tempat.

Setelah itu, sementara Conan dan anak-anak yang lain meributkan kenyataan bahwa tidak ada satu pun di antara mereka yang membawa ponsel (karena semuanya meninggalkan ponsel di dalam ransel dan semua ransel mereka ada di ruang piano), Gina memandang peti mati kecil yang terbuka di hadapannya. Ia bertanya-tanya apa yang terjadi pada Lana di dunia nyata. Apakah tubuhnya masih hidup seperti jiwanya saat ini, atau sudah mati dan terbaring sendirian di dalam peti mati yang terkubur di dalam tanah?

Tiba-tiba terdengar Air on the G String lagi.

Lagu itu menjadi tanda buruk bagi anak-anak sejak mereka menyadari keterlibatan mereka dalam kasus penculikan anak di rumah ini, tapi tidak bagi Gina. Ia hanya tak bisa membenci lagu itu setelah lagu itu membantu seorang Lana Liu menjalani hidupnya yang menyedihkan. Jadi, ketika anak-anak merasa cemas, Gina justru merasakan semacam kerinduan sekaligus rasa syukur. Ketika anak-anak itu ketakutan, Gina justru tersenyum tenang. Anak-anak menyadari ketenangannya yang tampak aneh ketika mereka justru merasa cemas, jadi setelah memutuskan rencana mereka untuk mencari si anak kecil sampai Agasa datang menjemput, Gina mendapati mereka bertanya padanya.

"Kenapa aku tenang?" Gina mengulang pertanyaan Mitsuhiko. "Kalau begitu kenapa kalian tidak tenang?" ia bertanya balik.

"Tentu saja karena anak kecil dalam buku itu sedang dalam bahaya!" kata Ayumi.

"Selain itu, pelakunya sedang bermain piano di sini!" tambah Genta.

Gina tersenyum. "Jangan kira aku tidak mencemaskan anak itu atau si pelaku. Asal kalian tahu, aku juga cemas. Air on the G String-lah yang membuatku tenang."

"Tapi lagu ini dimainkan si pelaku," kata Mitsuhiko.

"Mungkin," balas Gina lagi. "Tapi lagu ini juga yang berkali-kali telah menyelamatkanku. Mungkin karena itu aku bisa tenang."

"Menyelamatkanmu dari apa?" tanya Ai.

Gina terdiam sesaat. Ia sadar kalau dirinya sudah terlalu banyak bicara tentang Lana. Gina Shilmani seharusnya masih amnesia, bahkan mungkin juga tak mengenal Air on the G String. Sekarang teman-temannya pasti curiga kalau ia sudah mendapatkan ingatannya.

Oh well...

"Dari sesuatu yang tidak menyenangkan," jawab Gina akhirnya.

"Memangnya apa yang tidak menyenangkan?" tanya Ayumi.

Gina mengangkat bahu, pura-pura tidak tahu. "Tapi aku bisa merasakannya. Aku tahu lagu ini pernah menolongku lebih dari sekali."

Setelah mendengar kata-kata Gina, anak-anak kembali fokus mencari si anak dalam buku harian. Gina juga membantu mereka meskipun ia tahu anak itu akan selamat. Ia ingat betul anak itu selamat dalam manga, tapi ia tidak ingat apa yang terjadi setelah itu. Karena itu ia masih merasa cemas. Ia tidak tahu siapa yang menculik anak itu dan seperti biasanya, berada dalam satu bangunan dengan pelaku kriminalitas tidak pernah membuatnya nyaman. Kalau bukan karena Air on the G String dan kehadiran teman-temannya, mungkin saat ini ia sudah berkeringat dingin karena gelisah dan ketakutan.

Dalam pencarian mereka, anak-anak menemukan sebuah kertas penuh dengan gambar yang rupanya adalah peta harta dalam sebuah game, membuat mereka menyimpulkan bahwa anak yang diculik itu dikurung dalam ruangan dan tidak bisa melakukan apa pun selain bermain game. Setelah itu anak-anak kembali mencari dan tak sengaja kembali lagi ke dapur. Ketika mereka berada di sana, tanpa mereka sadari Ayumi menjauh dari mereka. Genta-lah yang pertama kali sadar bahwa Ayumi tidak ada, lalu segera setelah itu mereka menyadari bahwa Air on the G String yang mereka dengar sekarang bukanlah lagu yang dimainkan dengan piano. Mereka mulai mencemaskan keselamatan Ayumi. Mungkin saja Ayumi hanya tersesat, tapi mereka tak bisa memungkiri bahwa ada juga kemungkinan pelaku telah menemukannya. Mereka pun berbondong-bondong keluar dari dapur untuk mencari Ayumi, tapi pada akhirnya mereka kaget sendiri karena Ayumi tiba-tiba muncul dalam keadaan baik-baik saja. Tak hanya itu, Ayumi juga menemukan sebuah foto keluarga yang terdiri dari seorang wanita dewasa, seorang pria dewasa, dan seorang gadis kecil. Si wanita kelihatan sedang bermain semacam flute, si pria terlihat sedang bermain biola, dan si gadis kecil sedang bermain piano.

Gina mengernyit ketika melihat foto itu. Ia tahu ia pernah melihat gadis kecil di dalam foto itu. Siapa dia? Aku yakin sekali anak kecil yang diculik adalah anak laki-laki. Buku harian juga bilang begitu. Siapa anak perempuan ini?

Gina melihat Conan membaca buku harian lagi. Gadis itu pun memutuskan untuk ikut membaca. Ia berdiri di belakang Conan dan membaca bersamanya tanpa Conan sadari sementara Ai dan anak-anak lain entah membicarakan apa.

"Wait, what?" desis Gina setelah membaca ulang buku harian itu, membuat Conan terlonjak kaget karena tidak mengira Gina berada di belakangnya. "This is ridiculous! Bach dan Chopin lahir di era yang berbeda!"

Conan melirik Gina yang tampak tersinggung. Jelas saja Gina tersinggung. Bach dan Chopin adalah musisi kebanggaan Eropa, musisi berkelas dunia! Bagaimana mungkin orang yang bermain Air on the G String secara profesional tidak bisa membedakan zaman mereka?

Tapi dia benar. Chopin lahir saat Bach sudah lama meninggal, jadi tidak mungkin mereka berada di era yang sama, batin Conan. Ia kembali membaca buku harian itu, membiarkan Gina ikut membaca di belakangnya dalam diam.

Gina tak tahu apa lagi yang ditemukan Conan dalam buku harian itu. Ia tak peduli dan tidak perlu peduli karena tokoh utama ada di sini untuk memecahkan kasus, tapi tulisan di buku itu sangat mengganggunya. Bukan masalah Bach dan Chopin, tentu saja. Masalah itu bisa dengan mudah diabaikannya. Ini tentang masalah yang lain.

Gina terpaku pada dua kata: iri dan jenius.

Si pelaku merasa iri pada orang jenius, dalam hal ini musisi jenius. Si pelaku jelas-jelas berniat membunuh seorang anak lelaki. Jika menyambungkan kedua hal itu, Gina mendapati bahwa si pelaku ingin membunuh seorang anak laki-laki karena ia iri akan kejeniusan anak itu.

Si pelaku ingin membunuh anak itu karena anak itu jenius.

Lana Liu dibunuh oleh orang yang iri akan kejeniusannya.

Tanpa sadar Gina mendekap mulutnya dengan kedua tangannya. Ia mundur teratur dengan mata terbelalak. Napasnya tertahan. Ketika Conan berhasil menemukan jejak peta harta karun game dalam buku harian itu, Gina telah menurunkan tangannya dan telah kembali bernapas, namun ekspresi wajahnya kosong. Gadis itu menunduk memandang lantai dengan hati yang kacau.

Di dunia fiksi ini pun, ada orang-orang yang membenci orang jenius.

Di dunia fiksi ini pun, nyawa anak-anak jenius berada dalam ancaman.

Saat ini Gina Shilmani tak ada bedanya dengan Lana Liu. Mereka sama-sama jenius dan mereka akan selalu dibenci.

TBC


Terus dukung fanfic saya, ya, dan review please :)