Dear readers, terima kasih sudah menyediakan waktu untuk membaca fanfic saya. Terima kasih buat yang udah bersedia ngasih review. Terima kasih juga karena udah setia menunggu saya update fanfic. Saya harap fanfic saya dapat berkenan di hati anda-anda sekalian. Ini dia chapter 14. Selamat membaca!
Disclaimer: Detektif Conan adalah milik Aoyama Gosho, tapi semua OC saya adalah punya saya.
CHAPTER 14
Anak-anak pergi ke ruang piano setelah Conan mengatakan bahwa semua hal tentang kasus kali ini mungkin akan menjadi lebih jelas di sana. Mereka tidak yakin apa yang ada di ruang piano dan mungkin saja si pelaku ada di sana, jadi mereka datang mengendap-endap tanpa suara dan mengintip pelan-pelan. Rupanya ruangan itu kosong. Hanya suara rekaman saja yang terdengar dari sana. Ai mematikan suara rekaman itu sementara Conan tampak memerhatikan piano. Tak lama kemudian, Mitsuhiko menyadari bahwa seluruh tas mereka hilang dan memberitahu hal itu pada teman-temannya, membuat anak-anak grup detektif cilik kaget dan bingung.
"Jadi bagaimana? Deduksimu itu," tanya Ai pada Conan. "Kau bilang semuanya akan jelas jika kita ke sini, kan?"
"Seharusnya begitu, tapi... entahlah, aku tak tahu lagi," kata Conan sambil duduk di atas kursi piano. "Mungkin kali ini kita benar-benar dalam masalah."
"Hei, Conan!"
"Aku tidak percaya kau mau main piano di saat seperti ini!"
Genta dan Mitsuhiko memandang Conan dengan jengkel sementara Ayumi tertawa pelan.
"Tapi tinggi kursinya tidak pas untukmu, kan?" kata Ayumi geli. "Padahal tadi pas untuk Ayumi dan Gina-chan."
"Benar juga. Berarti kursi itu bisa diatur," kata Gina, lalu ia merasa ada yang aneh. Sekarang kursi itu pas untuk orang dewasa, tapi tadi pas untuk anak kecil. Apakah anak laki-laki itu yang memainkan piano pertama kali?
"Mungkin kau bisa mengatur tinggi kursinya dengan tombol di bawah alas ini," kata Mitsuhiko sambil menyibak alas kursi. Conan memandangnya dalam diam, tampak sedikit terkejut sekaligus berpikir.
"Jadi? Apakah kita dalam masalah gara-gara pemain piano itu?" tanya Ai lagi pada Conan.
"Ya." Conan akhirnya tersenyum. Ia sudah tahu kebenaran di balik kasus ini. "Mereka adalah orang-orang yang luar biasa jenius sampai-sampai ada yang berharap agar mereka tidak pernah lahir!"
"O-orang yang luar biasa jenius?" Mitsuhiko terdengar cemas. "Kita berhadapan dengan orang seperti itu?"
"Ya..." Sekarang Conan mengatur tinggi kursi hingga pas untuk tubuh anak-anak. Setelah itu ia meminta anak-anak bernyanyi dengan iringan piano Ayumi atau Gina. Ia meminta mereka bernyanyi dengan gembira.
"Tapi siapa yang akan main piano? Ayumi atau Gina?" tanya Genta. Ayumi pun memandang piano dan Gina dengan bingung. Gina jadi tersenyum melihat mereka.
"Ayumi dan aku bisa bermain bersama-sama," kata Gina. "Kita akan bermain piano tiga tangan. Oke, Ayumi?"
"Oke!" balas Ayumi riang.
Maka itulah yang mereka lakukan. Ayumi bermain dengan dua tangan, sedangkan Gina mengikutinya dengan satu tangan. Dengan cara ini, musik yang mereka mainkan terdengar lebih kaya dan indah. Sambil bermain piano, mereka juga bernyanyi bersama Mitsuhiko dan Genta. Sementara itu, Ai dan Conan berjaga-jaga di luar ruang piano untuk menangkap si pianis misterius. Sesuai kata Conan, tak lama kemudian si pianis misterius datang mengintip ruang piano dan berhasil dipergoki oleh Conan dan Ai. Rupanya pianis misterius itu adalah seorang anak laki-laki. Tak lama setelah itu, listrik kembali menyala dan Conan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada anak itu sambil menjelaskan hasil deduksinya pada anak-anak yang lain.
Anak lelaki itu bernama Keita Onoda dan usianya tujuh tahun. Ia adalah murid kelas 1 di SD Haido. Dialah yang disebut Conan sebagai orang jenius, lebih tepatnya pianis jenius. Keita bisa berada di rumah ini karena diculik oleh ayah temannya. Temannya sendiri bernama Chiaki. Foto keluarga yang ditemukan Ayumi adalah foto keluarga Chiaki, menjawab pertanyaan Gina yang penasaran siapa sebenarnya gadis kecil dalam foto. Sekarang ia tahu kalau gadis itu adalah Chiaki.
Keita tidak menganggap dirinya diculik, tapi justru diselamatkan karena selama di rumah ayahnya Chiaki, ia bisa bermain sepuasnya tanpa perlu terus-menerus latihan piano untuk kompetisi yang akan segera datang. Anak itu juga menukar-nukar halaman buku harian karena ia kekurangan kertas untuk menggambar peta harta. Ia tidak ingin ayah Chiaki tahu kalau kertasnya diambil, jadi Keita tidak merobeknya. Ia mengambilnya dengan cara membuka staples perekat kertas. Karena ulahnya ini, halaman-halaman di buku harian jadi tidak teratur. Untuk masalah ini Gina sama sekali tidak tahu karena ia terlalu terpaku pada kata iri dan jenius bahkan sampai sekarang. Ia memandang Keita dengan perasaan sedih sekaligus prihatin. Ia berharap anak itu takkan bernasib sama dengan Lana.
Conan meminta lembar kertas yang Keita ambil karena ia ingin tahu apa yang ditulis ayahnya Chiaki di lembar itu. Segera setelah Keita memberikannya, Conan membacanya dengan bersuara sehingga anak-anak yang lain bisa mendengarnya, termasuk Gina, dan ketika telah mendengarnya, Gina terkejut.
Orang itu akan bunuh diri!
Conan juga tampaknya menyadari hal ini karena ia bertanya dengan panik apakah Keita tahu di mana pria itu berada, tapi Keita tidak tahu. Kemudian Ayumi dengan cemas mengatakan bahwa ia menemukan foto keluarga Chiaki di lantai koridor yang basah. Gina langsung menduga bahwa ayahnya Chiaki ada di kamar mandi dan tanpa berkata apa-apa, ia segera berlari ke sana sebelum teman-temannya bergerak.
Please... jangan mati, jangan mati...
Gina sampai di depan pintu kamar mandi dan mencoba membukanya, tapi ternyata terkunci. Ia menggedor-gedor pintu dengan panik.
"Paman! Kau mendengarku? Kau tidak boleh mati, Paman! Paman, open the door! Buka pintunya! Paman!"
Anak-anak yang lain berhasil menyusulnya dalam waktu singkat. Mereka mencoba mendobrak pintu, tapi usaha mereka sia-sia. Pintu itu takkan terbuka dengan tenaga anak-anak. Kemudian Conan membuat tanda-tanda di dinding menggunakan pulpennya, menimbulkan pertanyaan di benak anak-anak yang lain. Ketika ia meminta teman-temannya mengambilkan sepatunya, barulah Gina mengerti.
"Kau akan memanfaatkan pantulan bolamu," kata Gina. Conan mengangguk membenarkan.
"Kau yakin cara itu akan berhasil?" tanyanya cemas.
"Harus berhasil."
Tak lama kemudian Genta dan Mitsuhiko datang membawa sepatu Conan. Conan bergegas memakainya, lalu mengeluarkan bola sepak dari ikat pinggangnya dan menendangnya sekuat tenaga menggunakan sepatu supernya. Bola itu memantul-mantul di dinding sesuai tanda yang ia buat dan berhasil menjebol pintu kamar mandi. Gina langsung melesat masuk ke sana diikuti teman-temannya.
Gina mendapati ayah Chiaki terduduk tak sadarkan diri dengan tangan tenggelam dalam bathtub yang airnya telah berwarna kemerahan. Pemandangan itu sangat mengerikan bagi Gina, tapi ia terus melangkah mendekati pria itu meskipun tubuhnya berkeringat dingin dan gemetaran.
Please, jangan mati...
Gina mengecek pria itu dan lega karena mendapatinya masih bernapas. Setelah itu Conan segera melakukan pertolongan pertama sambil mengatakan pada Gina bahwa pria itu masih bisa diselamatkan, tapi ia juga menyatakan kebingungannya tentang bagaimana cara mereka yang anak-anak membawa pria itu ke rumah sakit. Untungnya saat itu juga Profesor Agasa tiba. Ia datang bersama ibunya Keita yang ditemuinya di tengah jalan. Profesor menawarkan bantuannya untuk membawa ayahnya Chiaki ke rumah sakit dengan mobil. Akhirnya kasus itu pun berakhir bahagia. Ayah Chiaki berhasil diselamatkan dan Keita bertemu lagi dengan ibunya.
Kasus itu membuat anak-anak tak bisa menyantap rebung hari itu juga di rumah Agasa karena begitu kasus benar-benar selesai bagi mereka (dalam artian ayah Chiaki sudah berada di rumah sakit dan mereka sudah memberikan keterangan pada polisi), hari sudah terlalu malam. Anak-anak terpaksa menunda acara makan rebung mereka sampai besok. Di hari esok itu jugalah, Conan mendapatkan kabar dari orang tuanya setelah acara makan rebung usai dan teman-temannya telah pulang ke rumah masing-masing. Kabar itu adalah kabar tentang Gina.
"Kami telah menyelidikinya sesuai permintaanmu," kata Yukiko pada Conan. Saat itu mereka ada di rumah Agasa dan Ai, jadi tentu saja kedua orang itu juga mendengarkan. "Nama Gina Shilmani memang ada dalam daftar warga London. Penampilan fisik dan usianya juga cocok. Anak itu memiliki ayah keturunan Pakistan-Inggris dan ibu keturunan Indonesia-Jepang. Kedua orang tuanya memang telah meninggal dalam kecelakaan mobil. Aku bahkan sempat mengunjungi makam mereka. Lalu anak itu juga adalah korban kecelakaan yang sama, tapi berhasil selamat sementara kedua orang tuanya dikabarkan meninggal di tempat kejadian. Aku dan Yusaku juga sudah menemukan rumah sakit tempat anak itu dirawat dan kami sudah mengeceknya. Dia dirawat di sana setelah kecelakaan itu dan dokter memang menyatakan bahwa dia amnesia."
"Bagaimana dengan Ken Watanabe? Benarkah dia adalah pamannya?" tanya Conan.
"Ya, Ken Watanabe adalah adik kandung ibunya. Aku sudah bicara dengan keluarga Gina di London untuk memastikan."
"Bagaimana dengan pekerjaan orang tuanya?"
"Mereka adalah pemilik restoran masakan timur tengah di London. Aku sudah ke sana. Restoran itu memiliki banyak pelanggan. Sekarang restoran itu diambil alih oleh sepupu ayahnya. Katanya sih, mereka akan memberikannya pada Gina-chan jika Gina-chan sudah cukup dewasa, itu pun jika Gina-chan mau. Sepupu ayahnya sendiri tidak punya keinginan melanjutkan bisnis restoran selama-lamanya. Katanya, jika saat dewasa nanti Gina-chan menolak restoran itu, dia akan menjualnya. Jadi bisa dibilang bisnis restoran itu dijalankannya demi Gina-chan."
"Apakah Gina mendapatkan keuntungan dari bisnis restoran itu sampai sekarang?"
"Ya, karena kata sepupu ayahnya, restoran itu tidak pernah jadi miliknya. Ia hanya membantu menjalankannya. Restoran itu adalah haknya Gina-chan, begitu katanya."
"Jadi anak itu tidak punya masalah secara finansial. Ia didukung oleh pamannya dan restoran orang tuanya," kata Ai.
"Tou-san dan Kaa-san juga menyelidiki kehidupan Gina sebelum ini, kan?" tanya Conan lagi.
"Oh, ya," Yukiko mengangguk. "Menurut keluarganya, Gina-chan adalah gadis yang baik dan periang. Kata mereka, ia tidak punya masalah bergaul dengan teman-temannya. Mereka juga mengatakan bahwa anak itu tidak pernah terlibat masalah, selalu jadi kebanggaan orang tuanya karena berprestasi."
"Apakah mereka juga mengatakan kalau anak itu jenius?"
"Tidak. Mereka hanya bilang bahwa Gina-chan adalah anak yang berprestasi di sekolah. Anak yang pintar."
"Bagaimana dengan kehidupan sekolahnya di Inggris?" tanya Ai.
"Kami tidak bisa mendapatkan data akademiknya, tapi kata guru-guru dan teman-temannya, Gina-chan adalah anak yang baik dan pintar. Itu saja," jawab Yukiko, "tapi ada yang sedikit aneh. Aku mencoba memancing dengan bertanya apakah kecerdasan Gina-chan bisa menyamai kakak-kakak kelasnya, tapi mantan wali kelasnya malah tertawa seolah-olah aku sedang bergurau. Katanya jika di dunia ini ada anak sehebat itu, anak itu pasti sudah masuk berita nasional."
"Kalau begitu memang aneh," kata Ai. "Anak itu jelas-jelas sangat cerdas. Tingkat kecerdasannya sudah lebih tinggi daripada anak kelas 1 SD."
"Satu lagi, Shin-chan. Kami sudah mencari informasi tentang anak itu di Scotland Yard," kata Yukiko.
"Bagaimana hasilnya? Anak itu pernah masuk ke sana karena penindasan?" tanya Conan.
"Sayangnya tidak ada yang seperti itu."
"Tidak ada?"
"Ya,tapi kemungkinan besar hal itu terjadi karena human error. Penindasan di kalangan anak muda bukan hal yang jarang terjadi di London. Ada kalanya polisi hanya mengumpulkan mereka untuk diberi nasihat atau ditahan di kantor polisi sampai orang tua atau wali mereka datang. Hal-hal seperti itu mungkin saja tidak tercatat, atau tercatat tapi cepat juga dihapus. Jika penindasannya tergolong berat, baru mereka lebih serius menanggapinya."
"Penindasan berat?"
"Misalnya sampai melukai korban secara fisik atau membuat korban mengidap masalah psikologis, atau bahkan mungkin sampai membuat korban meninggal."
"Oh..."
"Itu artinya, mungkin penindasan Gina tidak tergolong berat. Dia sendiri juga bilang kalau dia baik-baik saja setelah penindasan itu," kata Ai. "Selain itu dia juga bilang kalau saat penindasan itu terjadi, ada orang yang melihat dan segera melapor pada polisi. Mungkin karena itu juga kasusnya jadi ringan."
Conan mengangguk, namun ia masih berpikir. "Kaa-san, apakah kenalannya di London juga tahu kalau Gina bisa bermain piano?"
Yukiko mengangguk. "Neneknya yang mengajarinya bermain piano. Di rumahnya ada piano digital. Selain di rumah, anak itu juga belajar piano di sekolah."
"Bagaimana dengan permainannya? Apakah bagus?"
"Untuk anak seumurannya, menurutku dia cukup bagus," balas Yukiko.
"Cukup bagus?"
"Ya, menurut neneknya pun begitu. Aku juga menonton videonya saat ia main piano yang disediakan di jalanan London. Permainannya masih banyak kurangnya kalau dibandingkan dengan permainan pianis profesional, tapi untuk anak seumurannya, permainan itu cukup bagus."
Conan dan Ai saling pandang. Apa mereka tidak salah dengar?
"Kaa-san menontonnya dari mana?" tanya Conan lagi.
"Internet. Pamannya, Watanabe-san, punya akun di situs video. Ia merekam permainan Gina saat ia mengunjungi kakaknya di London. Oh ya, video itu diunggah kira-kira tiga bulan sebelum Gina dan kedua orang tuanya mengalami kecelakaan. Kau bisa melihatnya sendiri kalau mau."
Conan dan Ai saling pandang lagi. Permainan Gina hanya dinilai cukup bagus oleh Yukiko, sementara mereka terpesona pada permainan gadis kecil yang sama kemarin. Yukiko jelas tidak buta musik. Conan tahu ia bisa percaya pada pendapat ibunya, tapi kalau begitu, mengapa permainan Gina kemarin lebih dari sekedar cukup bagus?
"Haibara, tolong cari video itu," kata Conan. Tak ada salahnya jika ia memastikan sendiri. Ai juga setuju dan segera membuka laptop untuk mencari video itu. Dalam beberapa menit, Conan dan Ai sudah berada di depan layar laptop, menonton Gina memainkan piano di jalanan London. Permainannya saat itu mungkin hanya setingkat dengan Ayumi, bukan permainan hebat yang mereka dengar kemarin. Yukiko memang benar, tapi pertanyaan Conan dan Ai belum terjawab.
Mengapa permainan gadis itu kemarin bagus sekali? Apakah dalam waktu anggaplah sekitar empat bulan kemampuan bermain piano seorang anak kecil bisa meningkat setajam itu? Conan menyatakan unek-uneknya pada Yukiko dan ternyata Yukiko sendiri tak tahu jawabannya.
"Aku tak tahu sehebat apa permainan yang kalian dengar kemarin, jadi aku tak bisa memberikan penilaian yang pasti," kata Yukiko akhirnya, "tapi anak-anak memang lebih cepat menyerap pelajaran dibandingkan orang dewasa. Bukan tidak mungkin dalam tiga atau empat bulan seorang anak bisa lancar bermain piano jika rajin berlatih, apa lagi jika pada dasarnya anak itu memang berbakat. Mungkin hal itu bisa masuk ke dalam pertimbangan kalian."
Setelah memberikan laporan sekaligus mengantarkan oleh-oleh untuk Conan, Ai, dan Agasa, Yukiko pergi ke rumahnya sendiri di sebelah. Ia akan menginap di sana semalam sekalian membantu mengurus penyamaran Subaru sebelum besok terbang lagi ke Amerika. Sementara itu, Conan dan Ai sibuk berpikir di rumah Agasa. Ada beberapa hal yang tidak cocok dan meragukan tentang Gina dan hal-hal itulah yang membuat mereka berpikir.
Pertama, Yukiko bilang Gina adalah gadis yang baik, periang, dan tidak punya masalah dalam pergaulannya, tapi Gina yang mereka kenal tidak demikian. Gina yang mereka kenal memang gadis yang baik, tapi ia tidak periang. Ia justru cenderung pendiam. Selain itu, jika mengacu pada kata-kata gadis itu yang mengaku pernah ditindas, itu artinya ia pernah punya masalah dalam pergaulan, pernah terlibat masalah. Apa lagi gadis itu punya reaksi yang ekstrem terhadap kekerasan. Mana mungkin gadis periang yang tak pernah terlibat masalah bisa seperti itu?
Kedua, Yukiko bilang, wali kelas Gina menganggap Yukiko bergurau saat mantan aktris itu menanyakan apakah kecerdasan Gina bisa menyamai kakak kelasnya. Itu artinya di mata si wali kelas, kecerdasan Gina tidak setinggi itu, padahal Gina yang dikenal Conan dan Ai adalah gadis yang sangat cerdas yang levelnya bukan level anak kelas 1 SD lagi.
Ketiga, kasus penindasan Gina tidak terdaftar di Scotland Yard. Mungkin kasus Gina saat itu memang ringan karena gadis itu mengaku baik-baik saja setelah ditindas dan ada orang yang dengan cepat melapor ke polisi. Mungkin karena ringan itu jugalah kasusnya cepat dihapus dari riwayat kepolisian Scotland Yard. Tapi jika dikaitkan dengan poin pertama, muncul pertanyaan lagi di benak Conan dan Ai. Apakah Gina memang ditindas sekali itu saja? Apakah ia tidak pernah mengalami penindasan yang lebih berat?
Keempat, piano. Gina yang mereka lihat dalam video yang diunggah berbulan-bulan lalu jelas hanya pianis amatir yang baru belajar, tapi Gina yang mereka lihat kemarin dengan mata kepala mereka sendiri adalah pianis yang bisa menghasilkan permainan mengagumkan. Levelnya saat itu sudah jauh dari level amatir. Mungkin kata-kata Yukiko tentang anak-anak cepat belajar memang bisa jadi adalah penyebab peningkatan permainan piano Gina yang terlihat tajam sekali, tapi rasanya sulit bagi Conan dan Ai untuk mengabaikan hal ini.
"Yah, paling tidak sekarang kita tahu kalau gadis itu bukan korban APTX. Semua datanya benar-benar asli," kata Conan setelah mendiskusikan semua keanehan Gina dengan Ai dan Agasa.
"Air on the G String," kata Ai tiba-tiba, membuat Conan memandangnya dengan bertanya-tanya.
"Lagu itu ada hubungannya dengan masa lalu anak itu," kata Ai lagi, dan sekarang Conan mengerti.
Kemarin Gina mengakui bahwa Air on the G String telah menyelamatkannya lebih dari sekali. Menyelamatkannya dari apa, gadis itu juga tidak tahu. Ia masih amnesia. Pertanyaan itu jugalah yang menjadi misteri besar bagi Conan dan Ai. Sebenarnya apa yang dialami gadis itu di masa lalu? Apa yang membuat Gina menjadi Gina yang sekarang mereka kenal?
Mungkin Air on the G String akan menjawab pertanyaan mereka.
TBC
Well? Ada kritik? Saran? Jangan ragu untuk ngasih review, ya! Saya seneng banget kalo ada yang nge-review fanfic saya :)
Sekedar info, memang ada piano-piano yang disediakan di beberapa jalan di London dan piano-piano itu bebas dimainkan siapa saja. Jadi di sana juga ada istilah street piano.
Terima kasih sudah bersedia membaca chapter ini. See you in next chapter!
