Dear readers! Ketemu lagi dengan saya di chapter ini. Terima kasih udah mau nyempetin baca. Terima kasih buat yang udah ngasih review. Terima kasih atas saran dan dukungan para pembaca sekalian. Selamat menikmati chapter 15. Enjoy!
Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho, tapi OC saya punya saya.
CHAPTER 15
Ken mengamati keponakannya dengan cemas. Semakin hari ia melihat Gina semakin kurus. Dulu sewaktu ia bertemu Gina di rumah sakit, gadis itu juga kurus karena masih dalam pemulihan setelah mengalami kecelakaan, tapi setelah itu tubuhnya berangsur-angsur menggemuk hingga tampak ideal lagi. Ken tidak mengerti mengapa sekarang Gina kembali kurus, padahal gadis itu tidak sakit. Gadis itu makan dengan normal. Tak ada kesalahan dengan nafsu makannya. Ken juga yakin bahwa keponakannya tidak mengalami eating disorder karena selalu menghabiskan apa yang ada di piringnya sampai tak bersisa, jadi mengapa anak itu bisa semakin kurus dari hari ke hari?
Prestasi Gina di sekolah tidak terpengaruh sedikit pun oleh masalah berat badannya. Ken tahu itu karena ia menyempatkan diri membuka buku-buku pelajarannya saat anak itu sedang tidur atau ada di sekolah dan ternyata semua nilainya nyaris sempurna. Ia juga sempat mengawasi kerja Miyuki, memastikan bahwa sang pengasuh memperlakukan Gina dengan baik, dan memang demikian yang terjadi. Miyuki dan Gina semakin lama malah semakin akrab, jadi tak mungkin ada yang salah dengan cara mengasuh Miyuki. Tidak ada tanda-tanda bahwa Gina mengalami sesuatu yang salah di rumah. Ken juga menyempatkan diri ke sekolah Gina untuk menanyakan perkembangannya pada wali kelasnya, untuk diam-diam melihatnya saat gadis kecil itu belajar dan bermain, tapi sungguh, tak ada apa pun yang aneh di matanya selain bahwa gadis itu sering tidur di kelas saat pagi hari, tapi anak-anak lain juga banyak yang mengantuk dan tertidur di kelas saat masih pagi, jadi bagi Ken itu bukan masalah.
Kalau begitu apa yang salah? Mengapa keponakannya malah tambah kurus padahal Ken selalu memenuhi segala kebutuhannya?
Bukan hanya Ken yang mencemaskan Gina. Miyuki juga mencemaskannya. Bagaimana tidak? Ia melihat gadis itu hampir setiap hari. Ia yang menjaga gadis itu ketika pamannya tidak ada. Ia adalah pengasuhnya! Rasa-rasanya ia tidak melakukan kesalahan dalam pekerjaannya, tapi mengapa Gina seolah-olah ingin membuatnya berpikir bahwa ia melakukan kesalahan? Padahal ia mengasuhnya dengan baik, tapi mengapa anak itu malah semakin kurus?
Baik Ken maupun Miyuki pernah bertanya langsung pada Gina. Mereka bertanya apakah ia sakit, apakah ia mengalami masalah, mengapa ia semakin kurus saja, dan lain-lain, tapi jawaban Gina selalu sama. Ia tidak apa-apa, ia baik-baik saja. Gina mengatakannya dengan ringan, tanpa ragu dan tanpa beban, seolah-olah masalah berat badannya memang tak punya alasan khusus.
Ken tidak punya pilihan selain memberikan Gina bekal ekstra. Ia selalu memastikan Gina pergi ke sekolah membawa camilan berkalori tinggi. Jika ia harus berangkat kerja sebelum Gina pergi sekolah, maka tugas itu jatuh ke tangan Miyuki yang tak pernah lalai melaksanakannya. Cara itu tampaknya berhasil untuk beberapa waktu karena berat badan Gina tidak lagi menurun, tapi setelah hari demi hari berlalu, Ken dan Miyuki lagi-lagi cemas.
Berat badan Gina memang tidak turun lagi, tapi ternyata tidak naik juga. Anak itu masih saja terlihat kurus, tak kunjung ideal seperti semula.
"Gina, kalau kau punya masalah, kau bisa cerita pada Paman, okay?" kata Ken pada Gina suatu hari, ketika mereka sedang makan malam bersama.
"Okay," balas Gina sambil tersenyum heran. Ken yang melihat itu hanya bisa mendesah pelan. Jika melihat ekspresi Gina, gadis itu memang tampak tidak apa-apa, tampak baik-baik saja. Senyum heran itu adalah salah satu contohnya. Anak itu bisa tersenyum demikian pasti karena tidak memahami kata-katanya, tidak tahu kalau pamannya sedang mengkhawatirkannya. Seolah-olah anak itu memang merasa tidak punya masalah yang harus diceritakan.
Setelah makan malam, biasanya Ken akan mengurung diri di kamarnya atau di ruang kerjanya, menyiapkan bahan-bahan berita yang harus disiarkannya besok atau menyiapkan perlengkapannya jika ia harus pergi meliput berita di suatu tempat, tapi kali ini tidak. Ia memutuskan untuk memerhatikan jadwal keponakannya.
Seusai makan malam, biasanya Gina akan masuk ke kamar untuk mengerjakan PR atau belajar. Ken sudah beberapa kali melihat Gina tidak menutup pintu kamar ketika ia harus belajar, tapi setelah ia mengamati anak itu dalam beberapa hari, Gina memang punya kebiasaan tidak menutup pintu kamar saat belajar. Anak itu tidak peduli pada pintu. Ia hanya menutup pintu kamar saat harus berganti pakaian dan saat hendak tidur. Ken juga pada akhirnya sadar bahwa Gina hanya duduk untuk belajar dalam waktu tak sampai dua jam dan waktu belajarnya lebih banyak habis untuk bahasa dan sejarah Jepang. Setelah menyelesaikan PR dan belajar dan menyiapkan buku-buku untuk pelajaran besok, Gina akan keluar dari kamarnya, mengambil beberapa majalah langganan Ken dari ruang keluarga, lalu membawa semua majalah itu ke kamarnya. Gina akan membaca majalah-majalah itu atau mengerjakan kuis-kuis di dalamnya. Banyak majalah Ken yang berbahasa Inggris karena ia adalah penyiar berita berbahasa Inggris, jadi Gina tidak punya kesulitan berarti dalam membacanya. Ketika waktu tidur tiba, gadis itu akan menyimpan semua majalah yang dibawanya di bawah tempat tidurnya. Setelah itu ia akan menggosok gigi dan mencuci muka, lalu masuk ke dalam kamarnya. Ia selalu menutup pintu kamar dan mematikan lampu sebelum tidur. Ia bahkan tak repot-repot menyalakan lampu tidur yang disediakan Ken untuk jaga-jaga seandainya gadis kecil itu takut gelap. Kenyataannya, anak itu baik-baik saja berada di dalam kamar yang gelap gulita.
Ken baru sadar kalau selama ini Gina sering bangun sekitar jam 5-6 pagi dan mungkin karena itu Gina suka tidur di kelas saat pagi hari. Begitu bangun, Gina tak langsung menggosok gigi. Ia justru berkutat dengan majalah-majalah lagi sampai sekitar jam setengah tujuh, lalu mengembalikan semua majalah itu ke ruang keluarga. Kemudian barulah ia merapikan tempat tidur, lalu merapikan dirinya sendiri. Setelah itu, ia akan bergabung bersama pamannya di meja makan untuk sarapan, lalu pergi ke sekolah. Begitu pulang dari sekolah, biasanya Gina akan menghabiskan waktu bermain dengan teman-temannya selama satu sampai dua jam sebelum pulang ke rumah. Begitu sampai di rumah, ia akan mencicipi masakan Miyuki dan bermain dengan pengasuhnya itu. Ken mendapat laporan dari Miyuki bahwa Gina suka bermain catur dan sangat mahir dalam hal itu. Miyuki sering kalah melawannya. Gina tidak suka dibacakan dongeng, tapi ada kalanya ia mau mendengarkan dongeng Jepang. Ia lebih suka mendengarkan cerita pengalaman hidup Miyuki daripada mendengarkan cerita anak-anak. Gina suka menonton acara berita di TV, baik itu dalam bahasa Jepang ataupun Inggris. Ia juga suka menonton film dokumenter dan beberapa serial kartun. Miyuki pernah memergokinya menonton film drama yang jelas bukan untuk anak SD, tapi sejak saat itu, Gina tak pernah menonton drama lagi. Gina juga suka tidur siang dan biasanya akan tidur selama satu sampai dua jam.
Ken tak hanya meneliti jadwal harian Gina, ia juga meneliti kepribadian Gina lebih dalam. Hal ini dilakukannya saat mereka jalan-jalan bersama, entah itu ke festival, ke restoran, ke pusat perbelanjaan, ke toko buku, ke mana saja. Ken meneliti keponakannya dengan berusaha mencari tahu apa saja yang disukai anak itu dan bagaimana respon anak itu terhadap berbagai hal. Setelah beberapa kali berjalan-jalan dengan Gina, Ken akhirnya mengetahui seperti apa keponakannya.
Gina punya adab yang baik saat berada di tempat-tempat umum. Ia tidak berlari-lari tanpa aturan saat berada di sana. Ketika pergi ke dokter, ia tak pernah ribut, menangis, atau berlari-lari seperti anak-anak lain. Ia hanya duduk menunggu gilirannya dengan manis sambil belajar bahasa Jepang dengan Ken menggunakan huruf-huruf dan kata-kata di koran atau majalah. Gina tidak menangis ketika dokter mengambil darahnya, tidak menangis ketika dokter mencabut gigi susunya yang tanggal. Gina tidak pernah menyisakan makanan ketika makan di rumah maupun di restoran. Ia tidak pernah membiarkan mulutnya belepotan makanan, tidak pernah bicara sambil mengunyah di tempat umum, dan tidak pernah membiarkan makanan tercecer sampai keluar dari piringnya. Gina tahu cara menggunakan pisau, sendok, dan garpu, tapi ia masih dalam tahap belajar menggunakan sumpit. Gina tidak menyukai gaun pesta mewah, gaun pesta princess, atau apa pun itu yang biasanya diminati banyak anak perempuan seusianya. Ia lebih suka gaun pesta yang lebih "normal" dan normal versi Gina adalah gaun yang biasanya justru paling tidak disukai anak-anak karena menurut mereka terlalu sederhana. Gina tidak suka boneka barbie, tidak tertarik pada rumah dan istana boneka, tapi suka boneka jahit yang empuk dan berbulu. Gina tidak suka buku yang banyak gambar. Ia selalu memilih buku tulis yang bersampul polos, tanpa gambar-gambar kartun yang biasanya disukai anak-anak. Gina juga lebih memilih novel daripada buku cerita bergambar (walaupun ia tidak menolak manga), padahal anak seusianya biasanya tidak tertarik pada novel. Gina tidak tertarik pada majalah anak-anak. Ia lebih tertarik pada majalah sains, majalah politik, majalah kedokteran, terkadang majalah fashion (anak-anak maupun dewasa), dan semua majalah-majalah lain yang topiknya terlalu berat untuk anak SD. Ketika pergi ke perpustakaan kota, Gina juga nyaris tak pernah masuk ke bagian anak-anak. Ia malah lebih sering masuk ke bagian yang lebih cocok dikunjungi anak-anak SMP, SMA, dan mahasiswa.
Semua itu membuat Ken shock.
Oke, ia senang karena Gina tahu sopan santun dan adab di tempat umum. Ia senang karena Gina tidak cengeng hanya karena jarum suntik atau tang pencabut gigi. Ia tidak punya masalah dengan selera pakaian Gina yang sederhana, toh gadis itu terlihat cantik dan manis dengan pakaian seperti apa pun. Ia rasa ia juga bisa mengerti ketika Gina lebih suka buku bersampul polos. Mungkin keponakannya memang tidak menyukai hal-hal yang berlebihan. Tapi yang lainnya! Novel-novel itu! Majalah-majalah itu! Buku-buku itu! Dan acara-acara TV itu! Bukankah Gina hanya anak kecil berusia tujuh tahun? Mengapa ia bisa tertarik pada topik-topik berat seperti politik, sains, dan kedokteran? Mengapa ia bisa tertarik pada siaran berita?
Oke, Ken tahu kalau Gina bukan gadis kecil biasa. Ia tahu Gina adalah anak yang luar biasa cerdas karena nilai-nilainya nyaris selalu sempurna, jago main catur, dan bisa mengerjakan soal sudoku, tapi semua itu keterlaluan! Sejenius apa pun, seharusnya anak-anak tetaplah anak-anak. Seharusnya Gina-nya paling tidak mengagumi para princess, menyukai boneka barbie, bermain boneka dengan pengasuhnya (yang ia tahu tidak pernah terjadi), dan tertarik pada buku-buku cerita bergambar. Bukankah psikolog anak juga berpendapat bahwa anak-anak cenderung lebih menyukai gambar daripada huruf, lebih suka pemandangan berwarna-warni daripada sebaliknya? Mengapa Gina-nya harus berbeda 180 derajat? Sebenarnya apa yang diajarkan mendiang kakaknya dan mendiang kakak iparnya selama ini hingga membuat Gina bagaikan orang dewasa dalam tubuh anak-anak?
Tiba-tiba saja terlintas sebuah pemikiran di kepala Ken.
Apakah pola pikir Gina memang sedewasa itu? Jika memang begitu, sudah pasti Gina merasa seolah-olah ia tidak punya tempat selama ini. Tidak heran jika ia tertekan karena tak bisa menjadi dirinya sendiri. Ia berada di tengah anak-anak SD, tapi pola pikirnya dan pengetahuannya sudah jauh di atas anak SD. Tidak akan aneh jika karena itu juga Gina merasa frustasi. Apakah karena itu berat badan Gina bermasalah belakangan ini?
Selama ini mungkin Gina selalu mengaku baik-baik saja, tapi sebenarnya tidak. Meskipun pamannya memintanya berterus terang tentang masalahnya, Gina tak mungkin mengatakan bahwa ia punya pola pikir yang lebih dewasa dari anak-anak SD dan hal itu membuatnya frustasi. Memangnya apa yang bisa dilakukan orang dewasa? Mau berterus terang seperti apa pun, di mata orang dewasa ia tetaplah anak kecil. Ia akan tetap berada di gedung SD.
Pemikiran itu membuat Ken tertegun. Benarkah hal itu yang terjadi pada Gina? Jika iya, apa yang harus dilakukannya? Ia tidak bisa membuat Gina langsung loncat kelas begitu saja. Ia ragu sistem pendidikan Jepang akan mengizinkannya. Ia tidak bisa membuat Gina begitu saja berteman dengan anak-anak SMP dan SMA. Bagaimana kalau ia ditindas oleh mereka? Gina hanya anak kecil meskipun mungkin ia adalah anak yang jenius. Secara fisik, ia bukan tandingan anak-anak yang jauh lebih tua darinya.
Tapi tunggu, belum tentu sebenarnya Gina merasa seperti itu, kan? pikir Ken. Ia pernah melihat Gina bermain bersama anak-anak seusianya. Ia juga tahu kalau Gina senang bermain bersama anak-anak grup detektif cilik dan Profesor Agasa. Jadi sebenarnya Gina tidak sedewasa itu juga, kan?
Omong-omong, seperti apa Gina saat menghabiskan waktu bersama grup detektif cilik? batin Ken lagi. Ia tak pernah tahu apa saja yang persisnya dilakukan Gina ketika sedang bersama grup itu. Ia memang pernah dengar dari Gina kalau mereka pernah terlibat kasus pembunuhan, penculikan, dan pencurian, tapi karena grup detektif cilik selalu didampingi Profesor Agasa dan selalu dalam pengawasan Detektif Mouri, Ken tidak pernah mempermasalahkannya. Yang ingin ia ketahui adalah sebetah apa keponakannya bersama grup itu, seperti apa sikapnya selama bersama mereka. Mungkin ia bisa sekalian curhat pada Agasa. Kelihatannya profesor tua itu sudah berpengalaman mengasuh anak-anak. Karena itu, dua hari kemudian Ken bertamu di rumah Profesor Agasa ketika anak-anak masih berada di sekolah. Kebetulan juga, saat itu Subaru ada di sana untuk berbagi kare.
Biasanya Subaru akan langsung pulang setelah mengantar masakannya, tapi karena kali ini kunjungannya bersamaan dengan kedatangan Ken, ia pun memutuskan untuk bertamu di rumah Agasa lebih lama.
"Oohh... jadi belakangan ini Gina-kun punya masalah berat badan," kata Agasa setelah mendengarkan cerita Ken. "Ai-kun pernah bilang hal yang mirip padaku. Katanya Gina-kun kelihatan lebih kurus saat ia memakai seragam olahraga. Gina-kun selalu memakai pakaian longgar dan cenderung tertutup, jadi aku tak bisa melihat jelas ia tambah kurus atau tidak."
Ken mengangguk. "Anak itu selalu bilang bahwa ia tidak apa-apa, tapi saya ragu akan hal itu. Berat badannya tak juga kembali seperti semula."
"Jika kesehatannya tidak terganggu, mungkin tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan," kata Subaru. "Apakah Gina-chan menunjukkan tanda-tanda letih atau sakit? Atau mungkin saja prestasinya di sekolah menurun? Atau mungkin juga ada tanda-tanda eating disorder?"
"Tidak. Sama sekali tak ada yang seperti itu," jawab Ken. "Saya bahkan sudah mengunjungi sekolahnya dan mengamatinya seharian di sana, tapi dia kelihatan baik-baik saja."
"Kalau begitu, mungkin Gina-chan hanya anak yang aktif," kata Subaru lagi.
Ken terdiam, tampak menimbang-nimbang beberapa saat. Kemudian akhirnya ia bertanya, "Profesor, apakah ada masalah dengan Gina selama ia bermain bersama grup detektif cilik?"
"Eh?" Profesor agak terkejut. "Ah, tidak ada. Gina-kun selalu terlihat baik-baik saja. Ia juga senang bermain bersama anak-anak grup detektif cilik. Mereka berenam berteman akrab."
Ken mengangguk-angguk. "Sebenarnya, karena cemas, belakangan ini saya jadi lebih memerhatikan Gina. Jujur saja saya sempat shock setelah lebih mengenalnya."
"Shock? Kenapa?" tanya Agasa heran. Subaru juga tertarik dengan pernyataan ini. Kira-kira apa yang bisa membuat seorang paman menjadi shock setelah mengenal keponakannya?
"Gina tidak seperti kebanyakan anak seusianya," jawab Ken. "Dia punya selera yang aneh. Gina suka membaca majalah-majalah yang bertopik berat. Apakah anda percaya jika saya katakan bahwa Gina membaca majalah sains, majalah kedokteran, dan majalah politik? Gina tidak suka membaca majalah anak-anak. Dia juga lebih suka novel daripada buku cerita bergambar. Selain itu, anehnya dia juga suka menonton berita di TV."
"Tapi dia masih suka bermain, kan? Dengan boneka misalnya, atau dengan teman-temannya. Maksudku, selama ini dia senang bermain bersama grup detektif cilik, jadi kupikir dia masih normal," kata Agasa.
"Sejauh ini dia masih bermain dengan teman-temannya, tapi dia tidak pernah main boneka di rumah," jawab Ken lagi. "Dia tidak suka boneka kalau bukan boneka berjahit yang empuk dan bisa dijadikan bantal. Dia juga tidak mau rumah boneka."
"Yah... itu memang agak aneh," kata Subaru. "Sebenarnya, anak kelas 1 SD membaca majalah sains dan politik saja sudah aneh."
"Benar, kan?" Ken mendesah. "Aku tahu kalau anak itu jenius, tapi rasanya ada yang salah dengannya. Dia seperti orang dewasa yang berada dalam tubuh anak-anak. Yah, anda mungkin tidak paham. Maksud saya, mana mungkin ada anak seperti itu, kan?"
Agasa dan Subaru sama-sama tak tahu harus berkata apa. Mereka berdua mengenal orang dewasa yang terperangkap dalam tubuh anak-anak, tapi itu karena obat. Mereka bahkan tak percaya ada anak kecil sungguhan yang pola pikirnya seperti orang dewasa. Tidak mungkin ada hal semacam itu, kan? Apa lagi mereka tahu betul bahwa Gina memang anak berusia tujuh tahun asli berkat informasi dari Yukiko (Subaru mendengarkan lewat penyadap yang diam-diam dipasangnya di rumah Agasa). Sepertinya Ken terlalu berlebihan mendeskripsikan Gina.
"Anda bilang Gina-chan jenius," kata Subaru akhirnya. "Kenapa menurut anda begitu?"
"Sejauh yang saya tahu, semua nilainya selalu sempurna, kecuali bahasa dan sejarah Jepang. Anak itu juga suka mengerjakan sudoku dan main catur. Lalu bacaannya adalah bacaan berat seperti itu... Bagaimana mungkin dia tidak jenius?"
Agasa dan Subaru lagi-lagi terdiam. Benar kata Ken, semua ciri-ciri itu sudah menunjukkan bahwa Gina adalah anak yang jenius. Kecerdasannya mungkin setara dengan murid SMA, bahkan mungkin setara dengan Conan dan Ai. Fakta ini sulit dipercaya oleh mereka berdua. Apa mungkin ada anak sehebat itu? Conan dan Ai bisa dibilang anak jenius karena sebenarnya mereka sudah remaja, sudah di usia SMA (walaupun untuk anak SMA mereka tergolong jenius), tapi Gina adalah murni anak SD!
"Saya jadi berpikir jangan-jangan selama ini Gina frustasi berada di SD. Mungkin dia merasa terlalu pintar di sekolahnya dan ingin pergi ke tempat lain yang setara dengannya, tapi tidak bisa karena masih terlalu muda. Anda mengerti? Perasaan seperti tidak punya tempat," kata Ken lagi. "Jangan-jangan karena itu Gina punya masalah berat badan."
"Anda terlalu khawatir. Bukankah Gina-chan baik-baik saja sampai saat ini? Ia masih sehat, masih bisa beraktivitas normal, masih sering bermain bersama teman-temannya," kata Subaru.
"Yah... itu benar..."
"Kalau begitu tak usah terlalu cemas, Watanabe-san," hibur Agasa. "Gina-kun tidak apa-apa. Aku juga akan membantumu mengawasinya. Tenang saja."
"Saya juga akan membantu anda. Saya tinggal di sebelah, jadi saya juga bisa mengawasi anak-anak," kata Subaru.
Ken tersenyum. Sekarang setelah tahu lebih banyak tentang Gina, ia merasa tidak terlalu percaya diri bisa membesarkan anak itu sendirian. Jika Agasa dan Subaru memang bersungguh-sungguh ingin membantunya, ia sangat bersyukur.
"Terima kasih, Profesor, Okiya-san," kata Ken akhirnya. "Saya mohon bantuan anda berdua."
"Tentu saja, Watanabe-san. Kau bisa mengandalkan kami," balas Profesor Agasa.
Setelah itu, Ken bertamu beberapa menit lebih lama, mencicipi kare buatan Subaru sebelum pulang ke rumah. Ia sudah merasa lebih lega sekarang. Setidaknya ada yang bersedia membantu meringankan bebannya. Ken juga telah memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa dulu. Ia hanya akan memerhatikan dan mengawasi Gina sebaik yang ia bisa. Ia harap Gina memang tidak apa-apa.
TBC
Komentar? Kritik? Saran? Silahkan tulis di kolom review. Saya sangat menantikan review dari readers sekalian!
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya!
