Dear readers, terima kasih sudah menunggu. Terima kasih atas review-nya, atas saran dan dukungannya. Selamat menikmati chapter 16!
Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho, tapi OC saya milik saya.
CHAPTER 16
Gina mematikan komputer desktop milik Ken yang berada di ruang kerja. Ia baru saja menonton beberapa video tentang dirinya—video yang merekam Gina yang sesungguhnya—untuk entah keberapa kalinya. Kemarin untuk pertama kalinya Ken memperlihatkan semua video itu padanya. Alasan Ken menunda memberitahu Gina tentang video-video itu adalah karena pria itu takut semua video itu akan membuat Gina kaget. Ia tidak yakin anak yang amnesia bisa dicekoki banyak kenangan sekaligus.
Gina menyambut baik tawaran menonton video-video itu setelah belakangan ini semangatnya menurun gara-gara dihantui Air on the G String. Oh, ya, lagu yang seharusnya membuatnya tenang kini justru membuatnya ingin kabur dari sekolah gara-gara anak-anak grup detektif cilik. Semua bermula dari Ai dan Conan yang dengan penasaran bertanya macam-macam tentang apa saja yang diingatnya mengenai lagu ciptaan Bach itu. Gina tentu saja pura-pura tidak ingat apa pun selain bahwa lagu itu terasa familiar dan hangat di hatinya. Setelah itu anak-anak grup detektif cilik yang lain memintanya memainkan Air on the G String di ruang musik sepulang sekolah, lalu Ayumi minta diajari memainkan lagu itu, maka jadilah untuk beberapa hari Gina harus memainkan Air on the G String sepulang sekolah untuk mengajari Ayumi dan ditonton anak-anak grup detektif cilik yang lain. Lama-kelamaan Air on the G String membuatnya muak.
Menonton video-video Gina adalah ide bagus—sebuah pencerahan sekaligus penyegaran. Barangkali dengan menonton video-video itu, Lana bisa tahu seperti apa Gina yang sesungguhnya dan barangkali juga ceritanya tentang semua video itu bisa mengalihkan perhatian grup detektif cilik dari Air on the G String. Seharusnya Gina tidak pernah menyinggung masalah lagu itu di depan mereka. Sekarang ia benar-benar menyesal karena telah memberitahu mereka.
Dari keseluruhan tujuh video yang ditontonnya, Lana menyimpulkan bahwa Gina yang sebenarnya adalah anak yang periang dan supel, mirip Ayumi. Gina bisa bermain piano meskipun di dalam video ia masih pemula. Anak itu adalah anak yang aktif dan berprestasi, terbukti dari kemenangannya dalam lomba lari yang diadakan pada hari ulang tahun sekolahnya. Gina juga memiliki banyak teman dan disayangi keluarganya. Orang tua Gina adalah orang tua yang lemah lembut dan baik hati, selalu tampak bangga pada putri tunggal mereka. Gina terlihat sangat dekat dengan mereka, terlihat dari seringnya ia memeluk mereka. Gina juga ternyata akrab dengan Ken meskipun mereka jarang bertemu. Ken tampak beberapa kali menggendong Gina di punggungnya dan Gina terlihat begitu gembira, tersenyum dan tertawa bersama pamannya yang datang dari negeri sakura. Gina Shilmani dalam video adalah sebenar-benarnya anak-anak. Cahaya matanya memancarkan rasa penasaran dan semangat muda, sungguh berbeda dari cahaya matanya yang sekarang ketika Lana-lah yang mengambil alih tubuhnya. Cahaya penasaran dan semangat muda itu tak tampak lagi di matanya, digantikan oleh pandangan tajam dan dalam, penuh perhitungan dan kewaspadaan khas mata Lana.
Gina Shilmani yang sebenarnya bukan seorang jenius, tapi ia tetap seorang anak yang hebat. Keunggulannya adalah kepribadiannya yang mudah bergaul dan menerima orang lain, berkebalikan dengan Lana yang sejak mengalami penindasan berubah jadi tertutup dan tidak mudah memercayai orang lain. Gina mampu menarik perhatian banyak orang karena kepribadiannya yang terbuka dan keceriaannya yang menghibur. Anak itu sangat percaya diri. Lana bisa melihat betapa cerah masa depannya jika Gina tidak berubah, jika Gina tetap menjadi orang yang terbuka, ceria, dan percaya diri. Anak itu sama sekali tidak perlu kejeniusan untuk mendapatkan dunia.
Tapi dia pergi, meninggalkan tubuhnya di tangan seorang gadis remaja. Aku.
Kenapa?
Aku tak bisa jadi dia. Aku tak bisa jadi gadis yang supel dan periang sepertinya. Itu bukan aku.
Benar-benar bukan aku.
Hei, Gina, kau tidak membutuhkanku.
Aku tidak baik untukmu, percayalah.
Tubuhmu semakin kurus gara-gara mimpi burukku.
Kembalilah, dan biarkan aku beristirahat.
Aku yakin aku sudah mati. Aku jatuh, kau tahu? Jatuh dari atap bangunan yang sangat tinggi.
Manusia yang tak punya sayap jelas tidak akan selamat.
Makanya, berbaik hatilah padaku.
Kembalilah dan biarkan aku istirahat dengan tenang.
Lana terdiam sesaat di kursi, lalu mendesah. Ia merasa konyol karena dalam hati telah memanggil Gina yang asli dan memintanya untuk kembali. Mana mungkin Gina yang asli akan menjawabnya, kan?
That's too good to be true...
Gina turun dari kursi, lalu berjalan keluar dari ruang kerja. Ruang kerja adalah sebuah kamar kecil, lebih kecil dari kamar Gina, yang berisi sebuah lemari buku, sebuah meja belajar, komputer desktop, perlengkapan audio, dan printer merangkap scanner dan mesin fotokopi. Ruangan itu penuh dengan kabel-kabel segala peralatan elektronik yang disusun serapi mungkin oleh Ken agar tidak kusut dan tidak tertukar-tukar. Ruangan itu terletak tepat di sebelah kamar Ken dan sering sekali digunakan Ken untuk bekerja. Kali ini Gina yang menggunakannya ketika pamannya belum pulang.
Keluar dari ruang kerja, Gina berjalan ke dalam kamarnya. Di sana ia merebahkan diri di atas kasurnya, memandang langit-langit dengan tatapan datar. Ia pusing sekali belakangan ini. Hampir setiap malam ia mimpi buruk. Berat badannya tak kunjung naik. Ken dan Miyuki mencemaskannya. Ia telah melihat Gina yang asli. Empat hal itu yang membuatnya pusing.
Ia tak bisa berhenti bermimpi buruk. Ia tak bisa menghentikannya. Ia juga tak bisa minta tolong pada orang lain. Mana mungkin ia menceritakan mimpinya yang tentang pembunuhan dan penindasan seorang gadis SMA. Ia adalah seorang anak SD sekarang. Ia adalah Gina di mata orang-orang, bukan Lana. Selain itu, Gina di masa lalu adalah gadis kecil tanpa masalah yang selalu tertawa dan tersenyum bahagia, jadi tentu saja akan aneh jika mereka menemukannya bermimpi tentang penindasan dan pembunuhan.
Mimpi buruknya tak hanya menghantuinya setiap malam, tapi juga membuatnya bertambah kurus. Memang akhirnya ia selamat berkat perhatian Ken dan Miyuki, tapi sampai sekarang berat badannya tidak naik juga. Ia tahu betul hal ini membuat mereka berdua cemas. Mereka sering sekali bertanya apakah ia baik-baik saja, apakah ia punya masalah. Sebenarnya ia tidak baik-baik saja. Ia punya masalah, yaitu mimpi buruknya. Tapi mana mungkin ia mengatakan pada mereka soal mimpi buruknya yang tidak masuk akal untuk anak kelas 1 SD, apa lagi anak SD yang masa lalunya bahagia. Akhirnya ia hanya bisa berbohong dan berakting seyakin mungkin untuk mendukung kebohongannya.
Bukan hanya masalah berat badannya yang membuat Miyuki dan Ken cemas, Gina tahu itu. Mereka juga mencemaskan tingkah lakunya yang tidak seperti anak-anak pada umumnya. Gina baru menyadarinya ketika ia pergi berjalan-jalan untuk kesekian kalinya dengan Ken. Saat itu, Ken meluangkan banyak waktu hanya untuk berjalan-jalan dengannya beberapa hari. Saat itu juga, Ken mengamatinya dengan tidak biasa dan mendesah beberapa kali. Miyuki juga kelihatan frustasi dengan tingkah lakunya di rumah. Setelah Gina merenungkan apa yang salah dengan mereka, Gina malah mendapati bahwa dirinyalah yang salah. Ia bertingkah terlalu dewasa untuk anak umur tujuh tahun, karena itu mereka kelihatan sangat cemas. Tapi ia harus bagaimana? Ia tidak sanggup memaksakan diri mengoleksi buku cerita anak-anak atau majalah anak-anak, lebih-lebih main boneka. Ia tidak sehebat itu dalam berakting jadi anak-anak, jadi maaf saja, Ken dan Miyuki harus belajar menerimanya apa adanya.
Hal lain yang membuatnya pusing adalah Gina yang asli. Hal ini sudah tak usah ditanya lagi. Gina yang asli berkebalikan dengannya. Gina dan Lana bagai putih dan hitam, siang dan malam. Sekarang setelah mendapati kepribadian Gina berubah, apakah keluarganya masih bisa menerimanya, masih bersedia menerimanya? Apakah perubahannya tidak membuat mereka sedih? Lebih penting lagi, bagaimana perasaan Ken setelah tahu bahwa keponakannya berubah sejak mengalami kecelakaan? Apakah Gina menambah kecemasannya? Gina tak suka membuat orang cemas, apa lagi jika orang itu adalah orang yang disayanginya seperti Ken dan Miyuki.
Sebetulnya Gina sudah paham betul apa yang harus ia lakukan untuk membuat mereka tidak cemas. Sederhana saja, ia hanya perlu menyelamatkan dirinya sendiri. Ia harus menyelamatkan dirinya dari mimpi buruk, dari jeratan masa lalu, dari ketakutan yang masih tersisa dalam dirinya. Bagaimana cara menyelamatkan dirinya? Ia harus menghadapi masa lalunya, mimpi buruknya, dan ketakutannya. Ia harus mengalahkan mereka. Karena itu ia ngotot bertahan dalam grup detektif cilik meskipun trauma psikisnya membuatnya bereaksi berlebihan begitu melihat segala tindak kekerasan ataupun ketika berada satu atap dengan pelaku kriminalitas. Ia harus membuat dirinya berani. Ia tidak mungkin ketakutan seumur hidupnya. Oke, mungkin ia memang sudah mati, tapi ia tak mau ketakutan terus ketika harus menjadi Gina. Lagi pula, ia tidak bisa merusak tubuh Gina dengan ketakutan seorang Lana. Tidak boleh.
Masalahnya adalah melawan semua itu tidak semudah mengatakannya. Lana lelah terus berjuang, makanya tanpa sadar ia meminta Gina yang asli kembali dan membiarkannya beristirahat. Toh ia sudah mati. Ia yakin Lana Liu sudah meninggal. Ia berhak beristirahat dengan tenang, bukannya malah mengurus kehidupan seorang gadis kecil.
Ke mana Gina yang asli? Mengapa ia meninggalkan tubuhnya? Mengapa ia menyerahkan tubuhnya pada Lana? Gina bisa hidup bahagia tanpa Lana. Lana hanya akan membuatnya tambah kacau. Lana adalah seorang jenius dan orang jenius selalu ditakdirkan memiliki musuh. Orang jenius akan dihormati, tapi di saat yang sama juga akan dibenci. Apakah Gina yang asli berniat menyerahkan takdirnya pada hal seperti itu, seperti takdir Lana yang menyedihkan?
Itukah yang kau inginkan, Gina?
Gina memejamkan kedua matanya. Ingatan masa lalu Lana seketika berkelebat bagai kepingan-kepingan puzzle dalam pikirannya. Ia melihat semua hal yang membuatnya sakit hati, semua hal yang membuatnya takut, semua hal yang membuatnya sedih, dan semua hal yang membuatnya berani. Melihat semua itu dalam kepalanya membuat dada Gina terasa sesak dan panas. Jantungnya berdegup lebih kencang. Kedua tangannya mencengkram sprei. Pada akhirnya, Gina bisa merasakan kedua matanya basah. Sebelum air matanya benar-benar tumpah, ia segera membuka kedua matanya.
Gina lagi-lagi memandang langit-langit, kali ini dengan mata yang basah. Kedua tangannya perlahan-lahan berhenti mencengkram sprei dan akhirnya hanya terkulai di atas kasur. Pandangannya yang semula menyiratkan kesedihan perlahan-lahan menjadi lebih rileks. Gina menyeka air matanya, lalu bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan menuju sebuah pigura foto kecil di meja belajarnya. Gina meraih pigura berfoto itu, memandang tiga orang Shilmani yang tersenyum bahagia di sana dengan tatapan dalam.
Erika. Abizar. Gina.
Gina, jika memang ini yang kau inginkan, aku akan hidup dengan namamu, tapi aku tetap seorang Lana.
Tiba-tiba suara bel terdengar disusul langkah tergopoh-gopoh Miyuki. Gina bisa mengenal suara Ken yang menyapa wanita itu. Ia juga bisa mendengar langkah pamannya yang masuk ke dalam rumah. Gina sekali lagi menatap foto di tangannya, lalu perlahan-lahan meletakkannya lagi di atas meja. Setelah itu ia berbalik, keluar dari kamarnya dengan langkah-langkah yang mantap. Ia berhenti tepat di depan pamannya yang baru pulang kerja. Gina mendongak, menatap pamannya dengan pandangan mata yang tajam dan tegas.
"Paman, aku ingin ke London."
Lana telah memantapkan dirinya. Mulai sekarang, Gina adalah gadis jenius. Mungkin ia akan memiliki musuh, mungkin ia akan dibenci, tapi ia takkan kalah. Lana takkan membiarkannya kalah.
TBC
Jangan lupa review, ya! Saya selalu menunggu review dari para pembaca sekalian. Kritik dan saran yang membangun akan saya dengarkan dengan senang hati dan dukungan para pembaca akan menambah semangat saya dalam menulis cerita ini, so please review :)
Oh iya, karena aktivitas saya di dunia nyata sudah mulai lagi, saya mungkin tidak akan bisa cepat meng-update fanfic ini, jadi saya harap pembaca bersedia bersabar menunggu dan terus mendukung saya.
Sekian cuap-cuap saya di chapter ini. Sampai jumpa di chapter selanjutnya!
