Dear readers! Jumpa lagi dengan saya di chapter 17! Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca fanfic ini. Makasih banyak buat yang udah ngasih review. Terima kasih untuk dukungan readers selama ini. Silahkan membaca chapter 17 dan jangan lupa review ;)
Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho, tapi OC saya milik saya.
CHAPTER 17
Gina bersumpah bahwa permintaannya saat itu akan menjadi permintaan egois terakhirnya. Ia tidak akan merepotkan pamannya lagi dengan cara seperti itu. Ia tidak berpikir Ken akan membatalkan jadwal siarannya dan minta cuti demi mengantarnya ke London secepat mungkin. Gina tidak bermaksud mendesak Ken. Ia hanya minta pergi ke London. Masalah waktu bisa disesuaikan lagi, tapi ternyata Ken punya pendapat lain. Rupanya menurut pria itu, lebih cepat Gina ke London maka lebih baik. Rupanya permintaan Gina diterjemahkannya sebagai penyebab masalah berat badan gadis itu. Ken mengira Gina menjadi kurus karena homesick.
Karena ketergesa-gesaan Ken, maka di sinilah Gina sekarang, di London. Mereka berangkat dari Tokyo di hari ketiga setelah Gina mengajukan permintaannya. Ia izin bolos sekolah sementara pamannya mengambil cuti. Sehari setelah Gina meminta pergi ke London, Ken mengurus pembatalan siarannya dan pengambilan cutinya serta membeli tiket ke London. Keesokan harinya, tanpa diketahui Gina, Ken mengurus perizinan bolos sekolah anak itu. Ia mengatakan pada wali kelas Gina bahwa belakangan ini Gina tambah kurus dan berat badannya tak kunjung naik, jadi keluarganya berniat mengajaknya ke Inggris, siapa tahu suasana hati anak itu bisa lebih baik setelah berkunjung ke sana. Beruntung Kirisaki-sensei juga menyadari masalah berat badan Gina dan turut prihatin sehingga Gina diizinkan bolos dengan mudah. Ditambah beberapa hari libur setelah weekend yang akan datang, Gina bisa puas mengobati rasa rindunya akan negara kelahirannya. Malam itu juga, Ken mengagetkan keponakannya dengan tiket pesawat besok pagi. Gina pun langsung tergopoh-gopoh berkemas. Keesokan harinya sebelum take off, Gina baru memberitahu grup detektif cilik karena ia baru teringat mereka. Ia tidak memberitahu mereka satu per satu. Ia hanya memberitahu Mitsuhiko dan ia harap Mitsuhiko akan memberitahu yang lain.
Gina ingin ke London karena ia ingin bertemu keluarganya yang ada di sana, orang-orang yang paling tahu tentangnya, yang melihat pertumbuhan dan perkembangannya sebelum ia pindah ke Jepang. Ia ingin mengenal mereka sekaligus memperkenalkan mereka pada sosok Gina yang baru, Gina yang juga Lana. Ia ingin tahu akan seperti apa reaksi mereka jika mereka melihat Gina yang mereka kenal telah berubah. Apakah mereka akan tetap menerimanya dengan senang hati? Apakah mereka justru akan menjauh darinya, entah itu karena mereka takut padanya atau iri padanya karena kejeniusannya? Lana ingin tahu karena sekarang ia akan hidup sebagai Gina. Ia perlu memastikan siapa saja orang-orang yang akan menerimanya serta siapa saja orang-orang yang akan memusuhinya.
Selain untuk bertemu keluarganya, Gina ke London untuk berziarah ke makam orang tuanya. Entah mengapa ia merasa harus bertemu dengan mereka sekalipun pertemuan itu terjadi di pemakaman. Entah mengapa ia merasa harus bicara dengan mereka walaupun hanya dalam hati. Ia merasa harus memberitahu mereka bahwa putri mereka melarikan diri dan menitipkan tubuhnya pada Lana. Ia merasa harus bertanya apakah sekarang Gina yang asli telah bergabung bersama mereka. Kedengarannya konyol, tapi Gina merasa harus melakukan semua itu.
Tujuan utama Gina ke London hanyalah dua hal itu: bertemu keluarganya dan berziarah ke makam kedua orang tuanya. Sisa waktu yang dimilikinya di London berniat digunakannya untuk berjalan-jalan, bernostalgia dengan pemandangan ibukota Inggris.
Begitu tiba di London, Gina dan Ken menginap di rumah kakek dan nenek Gina yang tinggal di sana, di daerah Wandsworth. Kakek dan nenek Gina bersikap baik padanya dan bangga padanya ketika Ken menceritakan prestasi Gina di sekolah. Mereka berdua kelihatannya tidak begitu peduli pada hal-hal semacam itu karena mereka tampak gembira hanya dengan kedatangannya. Mereka bersemangat sekali menceritakan Gina di masa lalu dan sempat menyinggung bahwa Gina sedikit berubah sejak kecelakaan itu, tapi bagi mereka perubahannya adalah hal yang baik. Bagi mereka, memang sudah sebaiknya Gina tak bersikap kekanak-kanakan terus setelah kedua orang tuanya meninggal. Ia harus belajar untuk cepat mandiri.
Keesokan paginya, Gina dan Ken pergi berziarah. Mereka ke sana membawa sebuket bunga. Makam kedua orang tua Gina terletak bersebelahan satu sama lain. Gina melihat tanahnya telah ditumbuhi rerumputan hijau dan batu nisannya telah terpasang. Gina bisa membaca nama-nama mereka di sana. Erika Shilmani (née Watanabe) dan Abizar Shilmani. Di depan makam mereka, Gina mengatakan dalam hati bahwa ia adalah Lana Liu, bahwa putri mereka pergi dan menitipkan tubuhnya padanya. Ia bertanya pada mereka di dalam hati apakah saat ini Gina yang asli sedang bersama mereka, yang tentu saja tidak terjawab. Setelah dalam hati bicara dengan Abizar dan Erika, Gina berdoa untuk mereka. Ken juga melakukan hal yang sama. Sesekali ia bercerita pada Gina tentang Erika dan Abizar.
Setelah berziarah, Gina mengunjungi restoran orang tuanya bersama Ken. Restoran itu kini diambil alih oleh sepupu laki-laki ayahnya. Pria itu terlihat gembira dengan kedatangan mereka berdua. Ia mengajak mereka berkeliling restoran sambil beberapa kali mengatakan pada Gina bahwa suatu hari nanti restoran itu akan menjadi miliknya, akan menjadi tanggung jawabnya. Suatu hari nanti senyum para pelanggan akan tergantung pada usahanya. Pria itu juga tampak senang dengan perubahan Gina yang menurutnya lebih dewasa. Ia senang karena itu artinya Gina sudah menunjukkan tanda-tanda kesiapan awalnya sebagai calon pemilik restoran.
Keluarga Gina yang lain yang juga tinggal di London tidak tampak keberatan dengan perubahannya. Mereka mengaku menyukai Gina yang dulu, tapi Gina yang sekarang juga tidak masalah. Sudah sewajarnya Gina berubah menjadi lebih mandiri dan lebih dewasa setelah kedua orang tuanya meninggal. Gina hampir yakin semua orang di keluarganya akan menerimanya dengan senang hati sampai ia berkunjung ke rumah salah satu sepupu jauhnya yang memiliki seorang anak perempuan kelas 4 SD. Anak itu tampak tidak begitu senang ketika Ken menceritakan Gina yang lebih mandiri dan lebih pintar dibandingkan dulu dan semakin tak senang ketika Ken menceritakan kuis sudoku yang dimenangkan Gina. Setelah melihat piala-piala dan piagam-piagam kompetisi berbagai lomba yang umumnya adalah lomba dalam bidang akademik terpajang di salah satu sudut rumah, barulah Gina tahu mengapa anak itu tampak tidak menyukainya. Sekarang Gina telah menemukan orang yang mungkin saja akan memusuhinya.
Ada hal menarik yang ditemukan Gina selama ia mengunjungi sanak saudaranya di London. Ada seorang kerabat yang memiliki marga sama dengan marga aslinya, Liu, dan orang itu tinggal di tempat yang sama dengan daerah tempat tinggalnya di dunia nyata, yaitu di Westminster, namun di alamat rumah yang berbeda. Orang itu bernama Adam Liu, seorang penulis sekaligus software engineer. Adam adalah sepupunya Erika dan Ken. Setelah mengetahui pekerjaan Adam, Gina sangat terkejut. Adam masih muda, lebih muda dari Ken, namun ia telah meraih kesuksesan dalam dua karir. Ternyata ada orang jenius juga dalam keluarga Gina.
Ken tidak punya waktu cuti yang panjang, jadi setelah menginap dua malam, ia kembali ke Jepang. Gina ditinggalkannya di rumah kakek dan neneknya. Ia berjanji akan datang lagi dua hari sebelum waktu Gina kembali ke Jepang tiba, jadi hari-hari yang tersisa tanpa Ken digunakan Gina untuk berkeliling London sendirian atau bersama kakek-neneknya.
Gina mencari-cari sekolah Lana selama ia berada di London. Sekolah Lana ada di Kensington, jadi Gina pergi ke sana. Ia pergi sendirian tanpa kakek dan neneknya. Awalnya mereka cemas jika ia pergi ngeluyur sendirian, tapi setelah Gina bercerita bahwa anak-anak seusianya di Jepang sering pergi sendiri, mereka akhirnya memercayainya. Gina berhasil menemukan sekolahnya, namun orang-orang yang berada di sana sama sekali tak dikenalinya. Tempat yang seharusnya adalah sekolahnya seolah-olah menjadi sekolah lain di dunia Detektif Conan. Kemudian Gina mengunjungi rumah Lana di Westminster. Rumah itu ada, tapi pemiliknya bukan orang tua Lana. Ada orang lain yang tak dikenal Lana tinggal di sana.
Sepertinya Lana memang tidak eksis di dunia ini, batin Gina menyimpulkan, tapi ia tidak merasa kecewa dengan hal itu. Ia sudah punya dugaan kuat bahwa dirinya yang asli tidak ada di dunia Detektif Conan. Sebenarnya ia justru terhibur karena paling tidak klannya, Liu, eksis di dunia ini.
Petualangannya menelusuri jejak dirinya yang asli membuat Gina cukup lelah, namun juga senang. Ia bernostalgia dengan kota kelahirannya. Berada di London ternyata dapat membuatnya mengingat kenangan-kenangan menyenangkan yang belakangan ini selalu tertutup oleh semua kenangan buruknya.
Setelah puas menelusuri jejak Lana, Gina lebih banyak menghabiskan waktu berjalan-jalan untuk menghibur dirinya sendiri. Ia berkunjung ke tempat-tempat terkenal dan bangunan-bangunan ternama di London, makan di restoran teras bersama kakek-neneknya, naik bianglala London Eye, atau pergi ke toko-toko suvenir.
Tak terasa hari demi hari berlalu begitu cepat. Hari kepulangan Gina sudah semakin dekat. Gina tahu ia akan sangat merindukan London sekembalinya ia ke Tokyo, jadi ia benar-benar menghabiskan sisa waktunya di sana untuk dirinya sendiri di hari-hari terakhirnya. Ia berjalan-jalan sendiri, tidak lagi bersama kakek-neneknya.
Saat ini Gina sedang berada di Hyde Park, duduk di sebuah bangku sambil menghisap segelas cola yang baru saja ia beli ketika tiba-tiba seorang pria menepuk bahunya dari samping.
"Do you like London, little girl?"
Gina menoleh ke samping dan mendongak, mendapati seorang pria berkulit gelap berambut gimbal yang mengenakan topi berdiri di sana, tepat di sebelah bangku yang diduduki Gina. Pria itu tersenyum padanya. Gina tak bisa melihat matanya karena terhalang topi pria itu.
What's with him?
Gina tidak tahu mengapa, tapi ia tiba-tiba saja berkeringat dingin. Tak hanya itu, perutnya juga mulai terasa aneh. Gina tidak merasa nyaman dengan keberadaan pria itu.
"Who are you, uncle? Do you know me?" Gina memutuskan balik bertanya.
"Me?" pria itu masih tersenyum. "I'm just a man who knows many things about London and no, I don't think I know you, little girl. I just want to know whether you like London."
"Hmm... Do you like London, uncle?" Gina bertanya lagi, berusaha menyembunyikan rasa takutnya dan bicara setenang dan sepolos mungkin.
"I think I do. What about you?"
"Then, I think I do too," jawab Gina. Ia bertanya-tanya apa yang diinginkan pria mencurigakan ini. Apa yang diinginkannya dengan tiba-tiba menegur anak kecil yang sendirian? Jangan bilang kalau pria ini mau menculiknya.
"If so, you'd better give this to Scotland Yard," kata pria itu sambil menyodorkan secarik kertas pada Gina. Gina memandang kertas itu dengan heran, lalu dengan ragu-ragu ia mengambilnya dari pria itu.
"What is this?" tanya Gina pada pria itu. Pria itu lagi-lagi menampakkan senyumnya yang terkesan mengerikan.
"That's my book of revelation," jawabnya, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Gina. Ia pun berbisik, "soon, someone will die in London... right before your eyes..."
Gina terbelalak sementar pria itu menjauh. Seseorang akan mati di London? Di depan mataku? Gina tahu tubuhnya lagi-lagi bereaksi ekstrem. Ia takkan heran jika saat ini wajahnya sudah pucat pasi. Tiba-tiba ia teringat bahwa ia harus menanyakan apa maksud perkataan pria itu, tapi begitu Gina mendongak lagi, pria itu sudah tak ada di dekatnya.
Gina turun dari bangku, berlari ke sana-kemari mencari pria itu di antara kerumunan orang, namun ia tak berhasil menemukannya. Gina mendesah kecewa, lalu akhirnya memutuskan untuk melihat isi kertas itu.
A rolling bell rises me
I'm a long nosed wizard in a castle
My portion is a chilled boiled egg like a corpse
I finish up with a whole pickle
Now I remember to ask a cake to celebrate in advance
It rings again for my hatred
It tells me to finish everything piercing a white back with two swords.
"Apa ini? Puisi?" gumam Gina tak mengerti. Kenapa puisi seperti ini harus dilaporkan ke Scotland Yard? Apa hubungannya dengan orang yang akan mati di London? Apa pula maksud orang itu? Siapa yang akan mati? Kenapa orang itu akan mati di depan mataku?
"Book of revelation..." Gina tiba-tiba teringat kata-kata pria itu. 'His book of revelation'... tunggu dulu, tidak mungkin kalau puisi ini semacam kode, kan?
Gina memandang kertas yang dipegangnya dengan cemas. Kalau memang puisi ini adalah kode yang berkaitan dengan kematian seseorang, mengapa pria itu bisa memilikinya dan mengklaimnya sebagai his book of revelation? Seolah-olah kode puisi ini dibuat olehnya. Lagi pula mengapa harus Gina yang menyerahkannya ke Scotland Yard? Mengapa tidak ia lakukan sendiri saja? Dipikir bagaimana pun juga, pria itu jelas mencurigakan dan ada hubungannya dengan seseorang yang akan mati itu. Apa lagi senyumnya saat itu dan aura yang menyelimutinya bisa membuat Gina berkeringat dingin. Gina pernah merasakan aura menekan semacam itu sebelumnya, saat ia menjadi Lana. Saat seorang lelaki memaksa Lana berdiri di tepi atap, saat seorang lelaki mendorongnya jatuh dari atap gedung...
Wait.
Gina membeku.
Pria gimbal itu sama dengan lelaki yang dibenci Lana. Mereka sama-sama berdarah dingin.
Pria gimbal itu bisa jadi akan membunuh seseorang. Di depan matanya. Di depan mata Gina.
Apa salah Gina sehingga seseorang akan terbunuh di depan matanya?
Apakah pria itu punya dendam kesumat pada Gina? Atau mungkin pada keluarga Gina?
Apakah Gina sudah punya musuh bahkan sebelum Lana menghuni tubuhnya?
Tiba-tiba Gina menyadari bahwa jantungnya berdetak sangat cepat dan tangannya terasa sangat dingin. Tubuhnya lagi-lagi bereaksi karena memikirkan seseorang yang mungkin adalah penjahat berdarah dingin. Gina menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Tak ada gunanya ia panik di tengah jalan seperti ini. Jika orang-orang sampai menyadarinya, mungkin ia akan dikirim ke rumah sakit dan kakek-neneknya akan dipanggil. Sama sekali bukan ide bagus. Ia tidak ingin mencemaskan mereka, juga tidak ingin mencemaskan Ken yang seharusnya tiba di London hari ini.
Setelah merasa lebih baik, Gina pergi secepat mungkin ke Scotland Yard. Ia harus menyerahkan kertas yang dipegangnya itu pada polisi-polisi di sana. Ia harus melaporkan pria mencurigakan itu pada mereka.
Gina merasa sedikit lega ketika ia sampai di depan gedung Scotland Yard. Ia pun masuk ke dalamnya untuk melaporkan pria gimbal itu dan memberikan kertas di tangannya pada polisi, namun sesampainya di sana, ia melihat banyak anak-anak. Ada di antara mereka yang datang bersama orang dewasa. Mereka semua membawa kertas yang ukurannya kira-kira sama dengan kertas yang dipegang Gina. Gina sudah curiga saat melihat itu. Ia memastikan kecurigaannya dengan bertanya pada seorang anak dan melihat kertas yang dibawa anak itu.
Kertas itu berisi puisi yang sama dengan kertas yang dipegang Gina.
Anak itu mengatakan bahwa anak-anak lain yang berkumpul di Scotland Yard juga mendapatkan kertas yang sama. Mereka semua mendapatkannya dari seorang pria berkulit gelap dan berambut gimbal. Pria itu juga mengatakan bahwa ada seseorang yang akan mati di London, di depan mata mereka.
Apa maksudnya ini? Gina memandang kertasnya, lalu memandang anak-anak yang juga memiliki kertas yang sama dengan bingung sekaligus cemas. Kenapa anak-anak ini juga bertemu pria itu? Kenapa pria itu juga bilang kalau seseorang akan mati di London di depan mata mereka? Apakah orang yang akan mati lebih dari satu orang? Ataukah kematian orang itu akan diperlihatkan ke seluruh penjuru London sehingga akan ada banyak mata yang melihat?
Gina tidak jadi melapor. Ia memutuskan untuk menyimpan kertas itu untuk dirinya sendiri. Ia duduk lama di dalam gedung Scotland Yard, memikirkan pesan di balik baris-baris puisi mencurigakan itu. Selama ia duduk berpikir, Gina melihat ada anak-anak lain berdatangan satu demi satu untuk melaporkan kertas dan pria yang sama. Setelah merasa sudah terlalu lama berada di Scotland Yard, Gina akhirnya memutuskan untuk keluar. Ia sedang berjalan ke pintu keluar gedung sambil membaca puisi misterius itu untuk kesekian kalinya dalam hati ketika tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya.
"Gina?"
Gina berhenti. Ia mengalihkan pandangannya dari kertas yang dipegangnya menuju sosok anak lelaki berkacamata yang berdiri beberapa meter di depannya, sedang memandangnya dengan tatapan terkejut.
"Conan!" seru Gina, juga terkejut. "Kau di London! Apa yang kau lakukan di sini?"
"Ah... Paman Kogoro diundang seseorang yang tinggal di sini," jawab Conan, kemudian perhatiannya teralih pada kertas yang dipegang Gina. "Apa itu?"
"Hm? Oh..." Gina hendak menyodorkan kertas di tangannya pada Conan, lalu tiba-tiba ia mendapat ide. Conan ada di sini! Ia bisa minta tolong pada detektif cilik itu. "Benar juga! Mumpung kau di sini, bisakah kau memecahkannya? Eh—maksudku, kau datang bersama Paman Mouri, kan?"
"Memecahkan apa?"
"Puisi misterius." Kali ini Gina benar-benar menyodorkan kertasnya pada Conan. Conan mengambilnya dari tangan Gina dan membacanya. Seketika ia terkejut, lalu buru-buru mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya dan membandingkannya dengan kertas Gina. Melihat itu, Gina tiba-tiba saja punya dugaan.
"Jangan bilang kalau kau juga mendapatkan puisi yang sama," kata Gina. Conan memandang gadis itu beberapa detik, lalu mengangguk dengan serius.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan kertas ini?" tanya Conan.
"Seorang pria mencurigakan memberikannya padaku di Hyde Park. Dia bilang, seseorang akan mati di London, di depan mataku."
Conan terbelalak kaget. "Seperti apa pria itu? Kau lihat wajahnya?"
"Dia berkulit gelap dan berambut gimbal. Dia juga memakai topi. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena terhalang topinya," jawab Gina. "Kujamin kau mendapatkan kertasmu dari orang yang sama juga, iya, kan? Yang lain juga begitu."
"Yang lain?"
"Anak-anak itu," kata Gina lagi sambil menunjuk kerumunan anak-anak. "Mereka juga mendapatkan kertas yang sama dari pria itu. Mereka semua juga diberitahu olehnya bahwa seseorang di London akan mati di depan mata mereka. Kau juga sama, kan?"
Conan masih terbelalak menatap Gina, tampak sangat tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya. Ia bergegas berlari ke arah kerumunan, bertanya pada anak-anak di sana, lalu beberapa saat kemudian berjalan menghampiri Gina lagi yang sedari tadi hanya berdiri menontonnya.
"Kau benar," kata Conan akhirnya. "Mereka juga mendapatkan puisi yang sama dari pria itu."
Gina mengangguk. "Omong-omong tentang pria itu, apakah kau melihat wajahnya? Kau kan, sudah tahu kalau aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas."
"Oh, kalau soal itu, sih..." Conan menceritakan bagaimana ia bisa mendapatkan kertas itu. Rupanya kertas itu ia dapatkan dari seorang anak bernama Apollo. Apollo-lah yang bertemu dengan pria itu. Karena pertandingan tenis kakaknya akan segera dimulai, ia tidak bisa pergi ke Scotland Yard, jadi Conan menawarkan diri untuk membantunya.
"Memangnya pertandingan tenis lebih penting dari nyawa seseorang?" komentar Gina tak setuju setelah mendengar cerita Conan.
"Apa boleh buat, soalnya kakaknya adalah petenis profesional. Pertandingannya juga sangat penting bagi Apollo dan keluarganya," kata Conan.
"Petenis profesional? Siapa?"
"Minerva Glass, si ratu lapangan rumput."
Mendengar kata-kata terakhir Conan, Gina ternganga. Tiba-tiba saja ia ingat kasus ini, kasus ketika Conan berada di London, ketika ratu lapangan rumput bertanding.
"Wimbledon..." gumam Gina, tertegun. Conan yang melihatnya hanya tersenyum, mengira gadis itu mungkin akhirnya mengingat pertandingan tenis bergengsi yang sedang berlangsung di London, tapi dugaannya tidak benar-benar tepat. Gina memang teringat pertandingan Wimbledon yang sedang berlangsung, tapi yang lebih penting lagi, sekarang ia tahu apa yang akan terjadi. Ia tahu bahwa Minerva Glass akan kesulitan dalam pertandingan finalnya.
TBC
Wandsworth, Westminster, Wimbledon, dan Kensington adalah nama-nama daerah di London, mirip-mirip Beika dan Ekoda yang ada di Tokyo. Wimbledon juga adalah nama turnamen tenis tingkat dunia yang diselenggarakan di Wimbledon London.
Teruntuk Sweetblackpearl-san dan juga pembaca yang lain, saya ingin meluruskan bahwa cerita ini bukan cerita fantasi meskipun ada unsur fantasinya, makanya saya akan lebih fokus pada unsur adventure dan mystery, sesuai genre cerita ini.
Terakhir, terus dukung saya dan jangan lupa review! Seperti yang udah saya bilang sebelumnya, saya akan mendengarkan kritik dan saran yang membangun dengan senang hati. Review dari pembaca juga bisa menambah semangat saya dalam menulis cerita ini, so please review :)
Sampai jumpa di chapter berikutnya!
