Dear readers, ini dia chapter 18. Makasih ya untuk dukungannya dan review-nya. Makasih ya karena udah mau baca fanfic ini. Tak usah basa-basi lagi, saya ucapkan selamat membaca chapter 18!


Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho, tapi OC saya milik saya.

CHAPTER 18

Malam itu Gina tengkurap di atas tempat tidurnya. Kedua tangannya menahan kepalanya tetap tegak sementara pandangannya menunduk ke bawah, memandang sehelai kertas berisi puisi misterius yang mengandung pesan rahasia. Entah apa pesan rahasia itu, Gina belum tahu. Ia juga yakin Conan belum tahu. Kalau Conan belum tahu, maka Kogoro Mouri juga belum tahu. Itu artinya, si orang yang akan terbunuh di London masih misteri bagi semua orang. Seharusnya begitu, tapi Gina sudah tahu karena Lana yang menghuni tubuhnya sudah pernah membaca kasus ini di manga Detektif Conan.

Gina memang tahu. Ia tahu kalau ibunya Minerva-lah yang jadi target si pelaku, tapi bagaimana caranya sehingga Conan bisa sampai pada kesimpulan itu, Gina tidak tahu. Ia tidak ingat persis. Ia juga tak ingat apa-apa tentang arti dari puisi aneh yang dipelototinya ini. Kalau bukan karena telepon dari neneknya yang menyuruhnya pulang, ia pasti bisa lebih lama bersama Ran dan Kogoro, menjadi pemandu mereka berkeliling London mencari tempat-tempat mencurigakan yang mungkin dikunjungi pria gimbal itu.

Tadi sore, begitu keluar dari Scotland Yard bersama Conan, Gina bertemu Agasa, Kogoro, dan Ran. Gina dan Conan menerangkan situasi terkait puisi aneh dan pria gimbal itu di Scotland Yard pada mereka. Keduanya memberitahu mereka bahwa pria gimbal itu juga memberikan kertas yang sama pada anak-anak lain di tempat-tempat yang berbeda-beda. Setelah mendengarkan penjelasan Conan dan Gina, mereka semua akhirnya menduga bahwa pembunuhan yang dimaksud pria itu mungkin saja pembunuhan massal. Mereka pun memutuskan untuk mencari pria itu di London dan untuk menghemat waktu, mereka berpencar. Conan pergi dengan Agasa, sedangkan Gina memutuskan pergi bersama Ran dan Kogoro sebagai pemandu mereka karena beda dengan Conan dan Agasa, Ran dan Kogoro tidak terlalu lancar berbahasa Inggris. Karena itu Gina pikir dirinya yang bisa bahasa Inggris dan hafal London lebih baik pergi dengan mereka, namun pada akhirnya Gina harus meninggalkan mereka lebih dulu karena neneknya menyuruhnya pulang sebelum malam.

Paling tidak Gina sempat bertemu Minerva Glass di dekat patung Holmes dan mendengarkan kata-katanya tentang love is zero sebelum pulang. Ia tidak benar-benar rugi.

Gina melirik jam di kamarnya. Waktu sudah menunjukkan hampir jam 11 malam. Sudah selarut ini, batin Gina. Ia keasyikan dengan puisi anehnya sampai-sampai melupakan waktu. Ketika keluarganya sudah tidur semua, ia malah masih terjaga. Ia diam-diam terjaga, lebih tepatnya. Begitu yakin seluruh keluarganya (termasuk Ken yang baru sampai saat malam hari) sudah masuk ke kamar masing-masing dan sudah tidur, Gina menyalakan lampu kamarnya untuk memikirkan puisi misterius itu dan setelah selama ini ia berpikir, ia masih belum bisa memecahkannya.

Ah, lupakan saja. Toh Conan pasti akan memecahkannya, batin Gina lagi, sudah menyerah. Matanya sudah mengantuk. Ia tak yakin dirinya bisa terjaga lebih lama. Gina pun menyimpan kertasnya di bawah bantal, lalu menyetel alarm di ponselnya. Saat itulah, tiba-tiba ia tertegun.

Alarm. Jam.

"'A rolling bell rises me'... Rolling bell... rises me..." Gina terbelalak memandang ponselnya. Big Ben?

Dengan terburu-buru Gina mengambil kertas yang baru saja ia taruh di bawah bantalnya dan membacanya dengan teliti.

Kalau baris pertama artinya Big Ben, berarti baris kedua adalah... hmm... Let's see... 'I'm a long nosed wizard in a castle'... Kastil? Penyihir? Memangnya ada tempat begitu di London? Hmm... Gina terus berpikir. Long nosed wizard... in a castle... Wizard... castle... Wizard, apakah ada hubungannya dengan sihir? Apa mungkin baris ini ada hubungannya dengan Harry Potter? Jangan-jangan castle itu maksudnya Hogwarts?!

Hogwarts, ya? pikir Gina lagi. Hogwarts itu lokasi syutingnya berbeda-beda. Yang paling aku tahu hanya Katedral Durham, Katedral Gloucester, dan Kastil Alnwick, tapi semua tempat itu tidak di London. Lagi pula apa iya di Detektif Conan ada hal-hal berbau fantasi macam Harry Potter? Aku bahkan tak tahu jika Harry Potter eksis atau tidak di dunia ini. Mungkin bukan Hogwarts... Hmm...

'Long nosed wizard in a castle', 'long nosed wizard in a castle'... long nosed... in a castle... long nosed... castle... Long nosed and castle? Kedua mata Gina membesar. Long nosed! Castle! Elephant and Castle! Gina mengangguk-angguk semangat. Kedua matanya berbinar-binar. Ia pun segera membaca baris berikutnya.

"'My portion is a chilled boiled egg like a corpse'," gumam Gina. Tempat yang sesuai dengan baris ini adalah... mmm... aku tak mengerti maksud kata-kata chilled, boiled, dan corpse, tapi kalau tempat mirip telur sih, hanya itu, kan? London City Hall.

Gina masih ragu-ragu dengan jawabannya. Apa iya maksud dari pesan ini memang London City Hall? Meskipun begitu, Gina memutuskan untuk melihat baris selanjutnya.

'I finish up with a whole pickle'. Pickle? Acar, ya... Acar biasanya terbuat dari wortel, tomat, mentimun, cabai, bawang, apa lagi, ya? Tempat yang kira-kira mewakili semua itu di London... Oh! Kalau mentimun, sih, mirip dengan The Gherkin! Oke, untuk sementara baris keempat artinya The Gherkin.

Gina begitu bersemangat. Ia sudah memecahkan empat baris walaupun masih belum seratus persen yakin benar dengan tebakannya. Tapi semua tebakannya sejauh ini cukup masuk akal. Mungkin saja ia benar. Mungkin saja baris-baris puisi itu memang menunjukkan tempat-tempat tertentu, tempat-tempat yang ia tebak.

Lanjut. Baris kelima. 'Now I remember to ask a cake to celebrate in advance'. Cake, celebrate... Ha! This is definitely St. Bride's Church. Gina menganggukkan kepalanya dengan yakin. Baris keenam, 'It rings again for my hatred'. Apa yang bunyi lagi? Big Ben?

Gina mengernyit. Ia memang berpikir kalau suara yang berbunyi di baris keenam adalah suara jam Big Ben, tapi apa benar begitu? Dugaannya terdengar meyakinkan dan menjanjikan, tapi di saat yang sama ia juga tidak yakin karena tidak ada kata kunci yang pasti seperti baris-baris sebelumnya. Baris-baris sebelumnya jelas mencantumkan kata kunci cake, egg, pickle, long nosed, castle, dan rolling bell, tapi baris keenam ini tidak seperti itu. Selain itu, apa mungkin Big Ben disebutkan lagi setelah dilewati empat baris?

Lupakan dulu. Lanjut ke baris terakhir, pikir Gina akhirnya, memutuskan untuk memikirkan baris selanjutnya. 'It tells me to finish everything piercing a white back with two swords'. Apa ini? Tempat yang ada dua pedang dengan bagian belakang warna putih? Hmm... Bendera City of London ada pedangnya, tapi cuma satu. Pataka City of Westminster punya dua pedang, tapi latar belakangnya kuning keemasan. Apa yang punya dua pedang dengan bagian belakang putih?

Gina memikirkan baris terakhir begitu lama sampai-sampai kedua matanya terasa begitu berat dan ia terus-menerus menguap. Karena tak tahan lagi, Gina akhirnya menyerah. Ia memutuskan untuk tidur dan memikirkan baris terakhir itu besok. Gina pun meletakkan kertas puisinya di bawah bantal lagi dan mengatur alarm ponselnya, namun tiba-tiba jari-jemarinya yang lincah menekan tombol-tombol berhenti bergerak. Gina teringat sesuatu. Ia harus memberitahu Conan! Jadi jari-jemarinya yang semula mengatur waktu alarm kini mencari-cari nama Conan di daftar kontak. Gina segera menelepon Conan begitu kedua matanya telah menemukan nama anak lelaki berkacamata itu di daftar kontak. Gina menunggu beberapa saat sampai ia mendengar suara Conan di seberang sana.

"Halo?"

"Conan! Aku pikir aku tahu arti puisi itu!" kata Gina, berhati-hati agar suaranya tetap rendah supaya tidak terdengar keluarganya yang sedang tidur.

"Eh? Benarkah?"

"Ya," balas Gina. "Menurutku, puisi itu menunjukkan tempat-tempat."

"Aku pikir juga begitu. Baris yang pertama mungkin menunjukkan Big Ben."

"Yeah!" sahut Gina. "Ya, menurutku juga begitu. Aku juga sudah punya dugaan sampai baris keenam."

"Sungguh?"

"Ya. Dengar, ya, baris kedua mungkin berarti Elephant and Castle, soalnya ada kata-kata Long nosed dan castle. Omong-omong, Elephant and Castle itu nama daerah di London, nama jalan—oh, nama stasiun juga. Aku tak tahu pasti Elephant and Castle mana yang dimaksud."

"Baris ketiga bagaimana?"

"Menurutku sih, artinya London City Hall, soalnya bangunan itu mirip telur, tapi itu pun aku masih ragu. Aku tak mengerti maksud kata-kata chilled, boiled, dan corpse yang ada di baris ini," jawab Gina lagi. "Kemudian baris keempat mungkin The Gherkin, soalnya bentuknya mirip mentimun. Pickle—acar—bisa dibuat dari mentimun juga. Lalu baris kelima adalah Gereja St. Bride, soalnya bentuk gereja itu mirip kue tart pengantin. Banyak juga pengantin yang menikah di sana. Baris keenam menurutku Big Ben lagi, soalnya ada kata-kata 'it rings again'. Apa yang berbunyi lagi? Aku hanya bisa memikirkan Big Ben yang berbunyi lagi, tapi entahlah, yang ini juga aku tidak yakin. Apa mungkin dua lokasi yang sama disebutkan dalam dua baris berbeda yang jarak antarbarisnya berbeda jauh? Nah, aku hanya bisa menduga sampai sejauh ini. Aku masih tidak tahu arti baris terakhir," kata Gina panjang lebar, sesekali sambil menguap.

"O-oh, begitu... Yah, kau tahu London lebih baik daripada aku," kata Conan. "Tapi, hei, kau masih melek di jam segini hanya karena kode ini?"

"Ya, aku tak bisa tidur karena memikirkannya," jawab Gina, "tapi aku pun sudah sampai batas. Aku ngantuk sekali sekarang. Oh, apakah tadi kau tidur, Conan? Maaf kalau aku mengganggumu malam-malam begini."

"Tidak, kau justru sudah banyak membantu. Terima kasih, ya," balas Conan. "Sebaiknya kau tidur saja sekarang. Serahkan sisanya pada kami."

"Okay..." Gina menguap lagi. "Hei, Conan, besok kau akan datang menyelidiki tempat-tempat itu?"

"Eh? Oh... sepertinya tidak."

"Tidak?"

"Aku sedang tidak enak badan, jadi mungkin besok aku akan istirahat saja di hotel," jawab Conan. "Tapi tenang, aku akan memberitahu arti kode itu pada Paman Kogoro dan Ran-neechan, jadi mereka bisa memeriksanya besok. Bagaimana jika kau ikut saja dengan mereka?"

"Aku juga tidak bisa besok. Aku akan mengunjungi saudara-saudaraku di London untuk berpamitan karena lusa aku akan ke Jepang," kata Gina. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah di manga Conan memang sakit dalam kasus ini. "Tadinya aku pikir aku bisa meneleponmu untuk bertanya jika kau memang akan menyelidiki tempat-tempat itu besok, tapi ternyata tidak, ya? Bagaimana dengan Profesor?"

"Profesor akan tinggal bersamaku."

"Oh? I see..." Sekarang Gina mulai merasa ada yang aneh. Mengapa bukan Ran yang tinggal menemani Conan, tapi malah Agasa? "Kalau begitu aku akan bertanya lagi besok malam saja. Besok malam seharusnya kau sudah mendengar hasil penyelidikan mereka, kan?"

"Ya. Kalau begitu kita bicara lagi besok. Sekarang kau tidur saja," kata Conan.

"'Kay. Kau juga, istirahat yang baik. Cepat sembuh, ya," balas Gina, lalu ia menguap lagi. Ia benar-benar mengantuk. "Bye, Conan. Good night."

Gina memutuskan sambungan telepon, setelah itu ia berbaring telentang sambil berpikir. Aneh, batinnya di sela-sela kantuknya. Kenapa Profesor yang menemaninya dan bukan Ran?

Menurut Gina, rasa-rasanya tugas merawat anak kecil yang sakit lebih cocok dipegang oleh Ran daripada Agasa, kecuali jika ada hal penting yang harus dirahasiakan Conan dari Ran. Hal yang harus dirahasiakan Conan dari Ran biasanya berhubungan dengan organisasi hitam atau dengan identitas aslinya, yaitu Shinichi Kudo. Lana ingat betul kasus kali ini cuma tentang maniak bom yang ingin balas dendam pada Minerva Glass dengan cara membunuh ibu petenis itu, jadi tak mungkin organisasi hitam ada dalam kasus ini. Berarti hanya tinggal satu kemungkinan: Conan sedang menyembunyikan identitasnya sebagai Shinichi Kudo. Tapi memangnya apa yang perlu dicemaskan Conan tentang itu? Ran tidak terlihat sedang mencurigainya dan seingat Lana, Conan juga tidak minum paikaru atau obat penawar APTX secara tidak sengaja—

Aha.

Sekarang Gina yakin kalau Conan sedang dalam wujud Shinichi Kudo, makanya detektif itu tak berani pergi menyelidiki kode bersama Ran dan Kogoro. Makanya Agasa-lah yang menemaninya. Pasti Ai memberinya obat penawar percobaan untuk bisa terbang ke luar negeri karena Conan Edogawa tidak bisa punya paspor dan pengaruh obat penawar itu seharusnya cukup lama karena waktu tempuh Tokyo-London dengan pesawat bisa lebih dari 12 jam.

Tapi kenapa Conan harus repot-repot jadi Shinichi juga di London? pikir Gina lagi. Conan tidak perlu jadi Shinichi jika tidak sedang terdesak. Penyelidikannya bersama Profesor tadi sore juga seharusnya tidak mendesaknya untuk berubah jadi Shinichi kecuali—

Kecuali Ran menyadari bahwa Shinichi ada di Inggris.

Gina mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, cukup terkejut dengan analisisnya yang kemudian membuatnya mengingat peristiwa romantis di depan Big Ben yang pernah ia baca dalam manga Detektif Conan.

Can't believe I forgot the confession, batin Gina lagi. But then again, I never really paid attention to romance. Oh, well...

Gina memutuskan untuk berhenti berpikir karena kedua matanya sudah terasa sangat berat. Ia menggunakan sisa-sisa kesadarannya untuk mengatur alarm dan berdoa agar Tuhan menjaganya dari mimpi buruk. Setelah itu, dalam hitungan detik ia sudah tertidur lelap.


Keesokan harinya, sesuai agenda, Gina mengunjungi saudara-saudaranya di London ditemani Ken. Tidak ada hal istimewa yang terjadi selain bahwa mereka disambut ramah dan bahwa mereka berpamitan untuk kembali ke Jepang besok. Sepanjang waktu kunjungannya, Gina selalu terpikir teka-teki kode yang kemarin ia coba pecahkan. Ia penasaran apakah tebakannya tepat. Ia juga penasaran apa arti dari baris ketujuh. Ia pun penasaran dengan apa yang ada di tempat-tempat yang ada di kode itu. Ah, seandainya Conan tidak berubah jadi Shinichi! Mungkin saat ini detektif itu bisa menyelidiki bersama Ran dan Kogoro dan Gina bisa meneleponnya untuk memuaskan rasa penasarannya. Sekarang justru detektif itu harus pura-pura sakit dan Gina harus terus-menerus kepikiran dengan tebakannya.

Setelah mengunjungi saudara-saudaranya, Gina hanya sekedar berjalan-jalan dengan Ken. Mereka melihat-lihat pasar dan makan siang di restoran. Ken menanyakan apakah Gina sudah membeli oleh-oleh untuk teman-temannya dan tentu saja Gina menjawab sudah. Gadis itu sudah membelinya beberapa hari yang lalu ketika berjalan-jalan bersama kakek-neneknya.

"Bagaimana dengan wali kelasmu?" tanya Ken lagi. Kali ini Gina terdiam.

"Belum, ya?" terka Ken. Gina pun mengangguk pelan.

"Aku lupa sama sekali, Paman," kata Gina. Ia sama sekali tidak berpikir kalau gurunya harus diberikan oleh-oleh. "Apa yang harus kuberikan pada Kirisaki-sensei?"

Ken tersenyum. "Serahkan pada Paman. Ayo!"

Rupanya Ken membawa Gina ke sebuah toko porselen. Toko itu bukan sembarang toko juga. Toko itu adalah toko porselen Meissen yang terkenal.

"Bagaimana menurutmu? Cukup bagus?" tanya Ken pada Gina yang ternganga begitu sampai di depan toko Meissen. Tak pernah sedikit pun terlintas di benaknya bahwa Meissen bisa jadi oleh-oleh untuk siapa saja, termasuk gurunya. Barang pecah belah tak pernah ada di pikirannya, namun sekarang setelah melihat porselen Meissen berjajar cantik di etalase, Gina harus mengakui bahwa pamannya telah memilih tempat yang tepat.

"Sangat bagus, Paman," balas Gina. Kemudian, tak sengaja kedua matanya melihat sebuah logo di dinding toko Meissen. Trademark Meissen, dua buah pedang berlatar belakang putih.

'It tells me to finish everything piercing a white back with two swords'...

Gina terbelalak. Mungkinkah maksud dari baris ketujuh puisi aneh itu adalah Meissen? Toko Meissen?

Gina terburu-buru mengambil ponselnya dari saku, tergesa-gesa menekan kontak Conan. Ia tidak memedulikan Ken yang memandangnya dengan bingung. Ia hanya peduli pada Conan dan Meissen. Setelah mendengar suara Conan di seberang sana, Gina langsung bertanya apakah bocah berkacamata itu sudah memecahkan baris ketujuh.

"Ya, sudah. Jawabannya adalah Meissen. Paman Kogoro dan Ran-neechan sudah pergi ke sana," jawab Conan. "Ada apa?"

Gina mendesah lega. "Tidak apa-apa. Aku sedang di toko Meissen sekarang dan baru sadar kalau baris ketujuh mungkin saja berarti Meissen. Baguslah kalau kau sudah tahu sebelum aku. Omong-omong, apakah tebakanku yang lain tepat?"

"Ya, tepat sekali. Selamat."

"Haha... terima kasih. Apa saja yang sudah kalian dapatkan?"

"Bukankah kau akan menghubungiku tentang itu nanti malam?"

"Sudahlah, jawab saja!"

Maka Gina pun mendengarkan penjelasan Conan tentang pesan-pesan huruf yang ditemukan dalam berbagai benda yang ditemukan Ran dan Kogoro di semua tempat itu. Huruf-huruf itu ada di benda dekorasi di toko Meissen, di celana yang dipakai seorang pria di stasiun Elephant and Castle, di sebuah tutup saluran air di dekat Big Ben, di sebuah pulpen di The Gherkin, di sebuah boneka di London City Hall, dan di sebuah kertas dalam plastik di sekitar Gereja St. Bride. Huruf-huruf itu disimpulkan oleh Conan membentuk kata 'saturn' yang juga berarti saturday—sabtu. Kemungkinan besar si pelaku akan melancarkan aksinya pada hari sabtu, yaitu besok.

"Tapi pesannya belum selesai, kan? Apa arti Big Ben yang kedua kalau bukan pengulangan huruf?" kata Gina setelah mendengar penjelasan Conan.

"Entahlah. Aku dan Profesor juga masih memikirkannya," jawab Conan. "Omong-omong, apa yang kau lakukan di Meissen?"

"Ah, hanya mencari oleh-oleh," jawab Gina. "Besok aku akan kembali ke Jepang, jadi sepertinya aku tak bisa membantu kalian."

"Sebenarnya aku juga pulang besok, tapi naik pesawat sore. Memangnya kau naik pesawat jam berapa?"

"Siang. Berarti aku berangkat lebih dulu darimu."

"Sepertinya begitu," balas Conan. "Ya sudah, kau tak usah khawatir. Serahkan saja urusan di sini pada kami. Kau bisa pulang duluan."

"Okay."

Setelah bercakap-cakap dengan Conan lewat ponsel, Gina menjelaskan apa yang ia bicarakan dengan detektif cilik itu pada Ken. Ken sudah tahu kalau Conan, Kogoro, dan Ran ada di London berkat cerita gadis itu tadi malam. Ken juga tahu kalau mereka tengah memecahkan suatu kasus serius di London. Malah ia telah menduga bahwa kasus kali ini berhubungan dengan Hades Sabara, pembunuh berdarah dingin yang suka menggunakan bom dalam kejahatannya karena setahunya Hades Sabara adalah satu-satunya penjahat kelas kakap Inggris yang memberikan surat peringatan sebelum melaksanakan kejahatannya. Ken sudah memberitahu Gina tentang hal ini kemarin dengan harapan Gina akan berhati-hati dan tidak terlibat terlalu jauh, apa lagi setelah gadis kecil itu mungkin saja telah bertemu dengan Hades Sabara jika pria itulah yang ternyata memberikannya kertas berisi kode.

"Jadi besok dia akan beraksi." Ken mengangguk-angguk. "Sayangnya kita tak bisa bergerak gegabah. Salah sedikit saja, pria itu bisa mengubah target kejahatannya dan semua usaha Detektif Mouri akan sia-sia. Mungkin sebaiknya kita tidak melaporkan apa-apa sampai seluruh pesannya berhasil dipecahkan. Nah, sudah cukup tentang orang itu. Sekarang kita harus membeli oleh-oleh untuk gurumu."

Gina masuk ke toko Meissen mengikuti Ken. Gadis itu sangat takjub begitu berada di dalam sana. Porselen! Di mana-mana porselen! Semuanya tampak cantik dengan berbagai bentuk dan gambar-gambar yang menghiasi benda-benda berkelas itu. Gina dan Ken berkeliling untuk memilih dan akhirnya mereka setuju untuk membelikan satu set cangkir dan teko teh untuk Kirisaki-sensei. Setelah mereka memilih model yang kira-kira akan disukai oleh Kirisaki-sensei, mereka pun membelinya dan membayarnya di kasir.

Gina memerhatikan tingkah pamannya yang agak aneh selama mereka berada di toko Meissen. Ken tampak selalu tersenyum. Gina tahu senyum itu bukan senyum bahagia, tapi senyum itu juga bukan senyum sedih. Senyum itu lebih seperti senyum yang muncul karena mengenang sesuatu atau senyum karena merindukan sesuatu. Ketika mereka telah keluar dari toko, Gina pun bertanya mengapa Ken selalu tersenyum di dalam toko.

"Ah, kau memerhatikan, ya?" Ken tersenyum. "Kau tahu, Nee-san—ibumu—senang sekali datang ke toko Meissen ini."

"Really?" Gina baru tahu kalau ternyata ibunya penggemar Meissen, jadi ia merasa tertarik dan penasaran.

"Really." Ken mengangguk. Kemudian sambil berjalan menggandeng keponakannya ia melanjutkan, "Ibumu menyukai benda-benda seperti cangkir dan teko teh, sendok, piring, gelas-gelas... Ibumu juga suka melihat-lihat desain interior meskipun ia sendiri bukan seorang desainer interior. Peralatan makan di restoran orang tuamu kebanyakan dipilih oleh ibumu. Ibumu juga sering membantu mendesain interiornya."

"Kalau begitu apa yang dilakukan Dad?"

"Ayahmulah yang mendirikan dan mengelola restoran keluargamu. Ayahmu juga yang bertanggung jawab atas modal restoran dan gaji para koki dan pelayan. Ayahmulah yang memimpin restoran."

"Hmm..." Gina berpikir. "Sebenarnya apa latar belakang pendidikan mereka sehingga mereka memutuskan membuka restoran?"

"Ayahmu lulus dari jurusan pangan dan ibumu lulus dari jurusan biologi. Mereka berdua bisa saja menjadi ilmuwan seperti Profesor Agasa, tapi pada akhirnya mereka tidak memilih karir itu. Ayahmu memang punya bakat sebagai pengusaha dan saat kuliah ia memang belajar jadi pengusaha juga, jadi mungkin hal itulah yang membuatnya membuka restoran. Sementara itu ibumu pernah bekerja sebagai peneliti, tapi berhenti tak lama setelah menikah."

"Kenapa Mum berhenti?"

"Nee-san—ibumu—berhenti karena merasa pekerjaannya saat itu sudah tidak nyaman lagi untuknya."

"Kenapa tidak nyaman?"

Ken memandang Gina untuk beberapa saat, menimbang-nimbang. Kemudian akhirnya ia berkata, "Susah mengatakannya. Bagaimana, ya? Mmm... begini, dulu ibumu adalah peneliti yang hebat. Ibumu juga punya teman-teman sesama peneliti. Mereka berteman akrab di tempat kerja, ada juga yang telah menjadi akrab sejak masih kuliah. Mereka sering bertukar pikiran, mengerjakan proyek penelitian bersama-sama, sampai suatu hari, teman ibumu mengajukan penelitian yang tidak bisa disetujui oleh ibumu."

Gina memandang Ken dengan tambah penasaran. "Kenapa Mum tidak setuju?"

"Menurutnya penelitian itu berbahaya dan tidak pantas."

"Berbahaya? Tidak pantas?"

Ken mengangguk. "Paman juga tidak begitu paham mengapa penelitian itu dibilang berbahaya dan tidak pantas. Ibumu sendiri merasa sangat tidak pantas membicarakannya, jadi ia tak pernah membahas hal itu lebih jauh."

"Oh..." Gina agak kecewa. Ia masih tak tahu mengapa penelitian itu dianggap tidak pantas dan berbahaya oleh ibunya. "Kalau begitu, apakah Mum langsung berhenti sejak saat itu?"

"Tidak. Mulanya Nee-san hanya tidak mendukung penelitian itu saja, tapi lama-kelamaan hubungannya dengan temannya itu merenggang karena mereka jadi semakin sering berselisih paham. Akhirnya Nee-san benar-benar tidak pernah mengerjakan penelitian dengan temannya yang itu lagi sampai suatu hari Nee-san memutuskan untuk pindah kerja."

"Pindah kerja? Berarti belum berhenti, ya?"

"Ya. Ibumu hanya pindah kerja ke tempat yang menurutnya lebih tenang. Ibumu tak ingin berurusan lagi dengan temannya yang aneh itu. Nee-san bekerja sampai hampir 4 tahun di tempat yang baru. Di tahun-tahun ini juga Nee-san bertemu dengan ayahmu, kemudian akhirnya menikah dengannya. Setelah menikah, Nee-san masih tetap bekerja, tapi tidak lama. Akhir karirnya diawali dengan telepon dari temannya yang aneh itu. Kali ini ia mengatakan bahwa penelitiannya telah mendapatkan sponsor. Ia mengatakan bahwa ada sebuah perusahaan yang mengakui idenya dan akan membayarnya mahal untuk itu. Ia ingin Nee-san membantunya, tapi Nee-san tetap tidak mau. Setelah itu datang sebuah perusahaan yang menawarkan Nee-san meneliti proyek yang mirip dan tentu saja menjanjikan bayaran yang tinggi."

"Eh? Sampai seperti itu? Apakah Mum sangat hebat?" tanya Gina terkejut.

"Ya, ibumu sangat hebat. Dia selalu lulus cum laude dan cepat mendapatkan pekerjaan," kata Ken.

Wow, jadi ternyata bukan hanya Adam yang jenius. Erika juga jenius, batin Gina, takjub dengan keluarganya yang ternyata terdiri dari orang-orang cerdas. "Lalu apa yang terjadi pada Mum setelah orang-orang perusahaan itu datang?" tanya Gina lagi.

"Ibumu tetap menolak, tentu saja, tapi mereka orang-orang yang keras kepala, selalu datang dengan iming-iming, begitu kata Nee-san. Akhirnya Nee-san memutuskan berhenti kerja setelah ayahmu memintanya berhenti."

"Oh, jadi Dad yang meminta Mum berhenti kerja?"

"Begitulah, soalnya keadaan ibumu sudah seperti itu. Ayahmu tak pernah menyuruh ibumu berhenti kerja sebelumnya karena ibumu menyukai pekerjaannya, tapi karena ibumu terganggu terus di tempat kerjanya, ayahmu jadi takut. Apa lagi saat itu ibumu sedang hamil dirimu, Gina. Makanya ayahmu meminta ibumu berhenti kerja."

Gina mengangguk-angguk paham. "Setelah itu, apakah Mum tidak terganggu lagi?"

"Ya, setelah itu ibumu baik-baik saja," jawab Ken sambil tersenyum. "Tidak ada yang mengganggu ibumu lagi. Bisnis ayahmu juga berkembang dengan baik. Lalu kau lahir. Kedua orang tuamu benar-benar bahagia. Aku lega sekali mendapati ibumu baik-baik saja pada akhirnya. Kau tahu? Ibumu itu orang yang tertutup, jarang sekali membicarakan masalahnya bahkan pada keluarganya sendiri. Nee-san mau bercerita tentang temannya dan orang-orang perusahaan itu saja sudah membuatku senang."

"Oh..."

"Oh, ya, ibumu mulai bekerja lagi sekitar tiga tahun lalu," kata Ken lagi, "jadi karirnya tidak berhenti begitu saja. Bukankah itu bagus? Nee-san sudah tidak ketakutan lagi."

"Mum bekerja lagi? Kerja apa? Di mana?" tanya Gina bertubi-tubi, membuat Ken tersenyum geli.

"Ibumu bekerja menjadi asisten laboratorium di sekolah khusus perempuan."

"Setelah itu pun Mum baik-baik saja?"

"Ya, menurutku begitu."

"Teman Mum yang aneh itu tidak pernah datang lagi?"

"Entahlah, Nee-san tidak pernah cerita soal itu," jawab Ken, "tapi sejak kau lahir, semuanya berjalan normal. Baik Nee-san maupun Nii-san tidak tampak gelisah seperti sebelumnya. Kalaupun orang itu datang lagi, mungkin kedatangannya bukan tentang penelitian anehnya."

"Paman benar-benar tidak tahu penelitian apa itu?"

"Ya, sama sekali tidak tahu selain bahwa ide penelitian itu tidak pantas dan berbahaya."

"Tapi kalau tidak pantas kan..." Gina mengernyit, berpikir. "Kalau tidak pantas, artinya penelitian itu pasti akan ditolak masyarakat, bukan? Kenapa ada perusahaan yang mau mensponsorinya?"

"Entahlah, ibumu tak pernah membicarakan hal itu. Mungkin dia sendiri juga tidak tahu," balas Ken.

"Kenapa Mum tidak melapor polisi kalau penelitian itu berbahaya?"

"Ibumu tidak yakin melapor polisi akan menyelesaikan masalah. Begini, penelitian temannya belum jalan dan perusahaan yang mensponsori jelas-jelas adalah perusahaan legal. Oh, ya, mereka juga menyatakan pada ibumu bahwa penelitian itu tidak berbahaya dan untuk kepentingan umat manusia walaupun ibumu tidak percaya pada mereka. Dengan kata lain, ibumu tidak punya bukti yang kuat untuk dilaporkan ke polisi. Salah-salah ia sendiri yang akan dituntut di pengadilan."

"Perusahaan mana itu, Paman?"

"Kalau itu, sih, kau cari sekarang juga tidak akan ketemu. Perusahaan itu sudah tutup."

"Eh?" Gina terbelalak. "Kenapa?"

"Perusahaan itu harus tutup karena terjadi kecelakaan di pabrik dan laboratoriumnya. Semuanya terbakar habis."

"Kapan perusahaan itu terbakar?"

"Belum lama ini, kok. Yah, tapi saat itu kedua orang tuamu masih hidup."

"Bagaimana dengan temannya Mum?"

"Kalau itu aku tak tahu. Nee-san tak pernah membicarakannya dan aku tak pernah bertemu dengannya," jawab Ken.

"Oh..." Gina merasa sedikit kecewa dalam hati. Ia benar-benar penasaran dengan teman ibunya yang aneh itu. "Berarti Paman juga tak mengenal temannya Mum itu, ya?"

"Begitulah, tapi kalau wajahnya aku tahu. Nee-san pernah memperlihatkan fotonya padaku," jawab Ken, lalu ia memandang keponakannya dengan heran. "Memangnya kenapa kau tertarik pada hal-hal seperti ini?"

"Aku ingin tahu lebih banyak tentang Mum. Tentang Dad juga," jawab Gina. Itu jawaban yang jujur. Ia memang ingin tahu tentang orang tuanya, tentang keluarganya, dan tentang dirinya sendiri.

Ken tersenyum mendengar jawaban Gina. "Setelah dipikir-pikir lagi, mungkin kau bisa sepintar ini karena ayah dan ibumu juga pintar. Seharusnya aku tidak terkejut."

Gina hanya tersenyum mendengar komentar Ken. Aku sepintar ini karena aku adalah Lana, bukan Gina, katanya dalam hati.

"Saat ibumu pertama kali pindah ke Inggris, kami sekeluarga sangat cemas," kata Ken lagi. "Ibumu selalu tinggal di Jepang. Pernah juga tinggal di Indonesia, sih, tapi hanya untuk beberapa tahun saat ia masih SD. Selain itu, hanya sekali-sekali ia ke luar negeri untuk semacam studi banding dan seminar. Kami takut ibumu malah akan mendapat masalah yang lebih besar jika pergi ke luar negeri."

"Masalah yang lebih besar? Mum ke sini karena mendapat masalah di Jepang?" tanya Gina heran.

"Oh, ya, ibumu pindah ke Inggris karena ingin menjauhi temannya yang aneh itu. Jadi saat aku bercerita tentang ibumu pindah kerja, itu artinya ia juga pindah negara. Tempat kerjanya yang pertama ada di Jepang, yang kedua di Inggris. Makanya ibumu bisa bertemu dengan ayahmu," jawab Ken.

"Mum sampai pindah sejauh ini hanya karena temannya itu?"

"Ya," jawab Ken lagi, "tapi ternyata pindah ke sini tidak buruk juga bagi ibumu. Kecemasan kami terbukti salah karena ternyata ibumu baik-baik saja di sini, bahkan bisa mendapatkan suami yang baik pula."

Gina hanya terdiam. Setelah itu, baik ia maupun Ken tidak bicara lagi. Mereka berjalan dalam diam dengan Ken menggandeng tangan Gina. Ken tampak tersenyum di sepanjang jalan, teringat kenangan-kenangannya akan kakak perempuannya yang luar biasa sementara Gina lebih banyak termenung memikirkan cerita Ken barusan. Gina akui bahwa cerita tentang Erika Shilmani adalah cerita yang menarik. Baru kali ini ia mendengar cerita tentang seorang ilmuwan yang dikejar-kejar ilmuwan lain yang kedengarannya lebih gila. Ia juga penasaran dengan penelitian berbahaya yang ditawarkan kepada Erika. Mengapa penelitian itu disebut tidak pantas dan berbahaya sampai-sampai Erika sendiri tak mau menceritakannya lebih lanjut pada Ken, sampai-sampai wanita itu harus berhenti dari pekerjaannya agar tidak perlu berurusan dengan penelitian itu?

Sepertinya Gina harus menggali masa lalu ibunya lebih dalam lagi. Ia punya firasat bahwa riwayat sang ibu bukanlah riwayat sembarangan. Ia harus mengetahui penelitian berbahaya itu.

TBC


Fiuhh... chapter ini jadinya panjang banget. Saya nggak bisa mendekin chapter ini, jadi mudah-mudahan readers nggak capek bacanya, ya. Eheheh...

Seperti yang udah pembaca tahu, saya memperlihatkan sedikit misteri keluarga Gina di chapter ini. Silahkan berspekulasi sementara saya meramu bumbu misteri yang lain untuk chapter-chapter selanjutnya. Saya juga ingin tahu pendapat pembaca tentang chapter ini, jadi please review yaaa...

Oh, ya, kata "pataka" yang saya maksud adalah terjemahan dari "coat of arms", semacam logo daerah gitu. Saya nggak tau coat of arms itu apa kalo di bahasa Indonesia dan setelah searching2 di internet, ada beberapa orang yg ternyata berpendapat bahwa kata pataka lebih cocok dipakai untuk menerjemahkan coat of arms. Kalo masih bingung, coba aja tanya coat of arms City of Westminster ke om wiki.

See you next chapter, and please support me!