Readers, jumpa lagi dengan saya! Terima kasih atas dukungan dan review-nya. Belakangan ini saya bisa cepet update karena emang lagi ada ide dan kalau nggak cepet-cepet ditulis nanti saya bisa lupa. Hehehe...

Selamat membaca dan jangan lupa review!


Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho, tapi OC saya milik saya.

CHAPTER 19

Gina mengunyah nasi karenya sambil mendengarkan ocehan anak-anak grup detektif cilik. Hari ini mereka semua berada di rumah Profesor Agasa, sedang menikmati kare buatan Subaru. Menurut cerita anak-anak grup detektif cilik, kemarin Subaru mengantarkan kare untuk mereka ke rumah Agasa setelah menyelesaikan kasus penculikan profesor itu. Rupanya kemarin Conan, Ai, Ayumi, Mitsuhiko, dan Genta tak sengaja bertemu dengan dua orang penjahat saat mereka sedang bermain petak umpet di dalam gedung terlantar. Para penjahat itu menyekap Agasa dan setelah menyadari bahwa anak-anak mengetahui tindak kejahatan mereka, mereka pun berniat membunuh anak-anak dan Agasa sekalian dengan cara membakar gedung. Conan berhasil melumpuhkan salah satu penjahat dengan jarum biusnya dan tak lama kemudian Subaru datang dengan melacak lencana anak-anak menggunakan kacamata pelacak jejak cadangan. Rupanya Subaru curiga ada sesuatu terjadi pada Agasa dan Ai karena lampu rumah mereka tidak menyala walaupun hari sudah gelap. Mereka pun tidak ada di rumah dan pintu rumah mereka tidak terkunci. Kecurigaannya itulah yang membuatnya berinisiatif mencari anak-anak dengan kacamata pelacak jejak cadangan.

"Tapi syukurlah Gina-chan tidak ikut dengan kami kemarin. Kalau ikut, mungkin Gina-chan juga akan berada dalam bahaya," kata Ayumi menutup cerita kasus kemarin. Gina hanya tersenyum membalas kata-katanya.

"Tapi apa sih, yang membuatmu pulang duluan kemarin? Grup detektif cilik kan, selalu pulang bersama-sama," kata Genta dengan nada agak sinis.

"Benar. Kemarin Conan-kun bahkan menceritakan kasusnya di Inggris. Dia menemukan pelaku pemboman di Wimbledon, lho!" tambah Mitsuhiko.

"Kalau soal Wimbledon, aku sudah tahu, kok. Soalnya aku ikut membantu Conan memecahkan kode si pelaku," kata Gina.

"Eh? Benarkah?" Mitsuhiko terbelalak, lalu memandang Conan meminta konfirmasi.

"Ya, dia memang membantu. Kami bertemu di London," jawab Conan, "tapi karena Gina harus ke Jepang duluan, dia tidak bisa ikut ke Wimbledon. Aku langsung mengabarinya sesampainya aku di Jepang."

"Tapi pertanyaanku belum terjawab. Kenapa kau pulang duluan kemarin, Gina?" tanya Genta.

Gina memandang Genta sesaat, lalu menjawab, "karena kasus."

"Kasus?" ulang Ayumi. Sekarang semua mata memandang Gina ingin tahu.

"Ya, kasus," kata Gina lagi sambil mengangguk. "Kasus ingatanku." Lebih tepatnya kasus ibuku—eh—ibunya Gina.

"Haah? Apa maksudmu?" tanya Genta setengah bingung setengah jengkel.

"Aku sedang mencoba mengingat-ingat keluargaku, jadi aku mencari tahu banyak hal tentang mereka. Itu sebabnya kemarin aku pulang duluan."

"Jadi apa persisnya yang kau lakukan kemarin?" tanya Ai.

"Aku membaca jurnal-jurnal ilmiah di internet," jawab Gina, membuat Conan, Ai, dan Agasa terbelalak kaget sementara ketiga anak lainnya tampak kebingungan.

"Apa itu jurnal ilmiah?" tanya Ayumi.

"Setahuku sih, jurnal ilmiah adalah tulisan hasil penelitian ilmuwan," kata Mitsuhiko. "Untuk apa kau membaca hal seperti itu, Gina-san?"

"Baru-baru ini aku diberitahu kalau ternyata ibuku adalah peneliti," jawab Gina, "makanya aku membaca jurnal ilmiah, siapa tahu ada nama ibuku di antara jurnal-jurnal itu."

"Oh, jadi kau mencari nama ibumu? Kau ingin tahu apakah ibumu pernah membuat jurnal, begitu?" tanya Agasa.

"Benar," balas Gina. "Oh, ya, Profesor, setelah ini bolehkah aku melihat koleksi majalah-majalah sainsmu? Siapa tahu ada nama ibuku di sana."

"Tentu saja boleh. Aku juga akan mencarikannya untukmu," jawab Agasa antusias. "Siapa nama ibumu? Mungkin aku kenal."

"Erika Shilmani. Sebelum menikah namanya Erika Watanabe," jawab Gina.

Agasa mengangguk. "Erika Shilmani atau Erika Watanabe, ya? Hmm... sepertinya aku belum pernah mendengar nama itu, tapi aku akan bantu mencarikannya untukmu."

"Terima kasih, Profesor."

"Ayumi juga akan bantu mencari!" kata Ayumi tiba-tiba dengan riang.

"Aku juga!" kata Mitsuhiko antusias. "Kita hanya perlu mencari nama Erika Shilmani atau Erika Watanabe, kan?"

"Eh?" Gina memandang anak-anak itu dengan kaget. "I-iya..."

"Kalau begitu mudah," kata Genta. "Kita akan mencari jurnal ibunya Gina bersama-sama!"

Gina terperangah melihat ketiga anak itu dengan semangat menawarkan bantuan mereka. Akhirnya ia tersenyum. "Terima kasih, ya. Kalau begitu aku mohon bantuan kalian."

Ketiga anak itu pun bersorak serempak dengan semangat, seolah-olah menyatakan bahwa Gina bisa menyerahkan semua urusan pada mereka.

"Omong-omong, apakah kemarin kau sudah menemukan jurnal dengan nama ibumu?" tanya Conan.

"Ya, tapi tidak banyak," jawab Gina.

"Jurnal seperti apa yang ditulis ibumu?"

"Bagaimana menceritakannya, ya?" Gina berpikir. "Pokoknya melibatkan hal-hal yang biologis. Kalau kau penasaran, kau bisa cari tahu sendiri di internet."

"Kalau begitu, mungkin Profesor tidak bisa banyak membantumu," kata Ai. "Kebanyakan majalah sains Profesor berisi tentang sains yang berhubungan dengan matematika dan fisika."

"Mungkin, tapi aku tetap ingin mencarinya," kata Gina lagi.

Setelah makan kare, siang itu Gina mencari-cari nama ibunya di antara koleksi jurnal dan majalah sains milik Agasa. Agasa dan anak-anak grup detektif cilik juga membantunya. Seperti kata Ai, koleksi jurnal dan majalah milik Agasa kebanyakan tentang sains fisika dan cabang-cabang ilmu fisika, jadi mereka kesulitan menemukan nama Erika Shilmani atau Erika Watanabe. Meskipun begitu, Gina cukup menikmati pencariannya. Ia jadi lebih tahu bidang yang dikuasai Agasa setelah melihat begitu banyaknya majalah dan jurnal ilmiah tentang mekanika, elektronika, termodinamika, geometri, dan komputasi. Pantas saja profesor tua itu bisa membuat alat-alat elektronik unik dan canggih untuk Conan dan anak-anak grup detektif cilik.

Setelah berkutat dengan jurnal-jurnal dan majalah-majalah sains fisika, akhirnya sampai juga Gina ke bagian yang lebih ke arah kimia dan biologi. Harapan Gina meningkat. Mungkin nama ibunya ada di antara semua jurnal dan majalah itu.

"Genetika, anatomi, biokimia, bioteknologi, imunologi..." kata Gina sambil melihat-lihat semua jurnal dan artikel-artikel itu. "Siapa sangka Profesor yang membuat segala peralatan canggih grup detektif cilik juga tertarik pada hal-hal seperti ini? Penemuanmu tidak sesuai dengan bidang-bidang ini, Profesor."

Agasa tertawa gugup. "Itu hanya sebagai tambahan wawasan saja, bukan benar-benar bidang keahlianku."

Gina tersenyum. Dalam hati ia tahu mengapa Agasa bisa punya semua jurnal dan artikel tentang bidang-bidang itu. Ia tahu kalau semua jurnal dan artikel itu adalah bahan bacaan Ai untuk menciptakan penawar APTX 4869.

"Sepertinya kau tahu banyak tentang sains," celetuk Ai tiba-tiba.

"Maksudmu?" tanya Gina.

"Kau tahu istilah-istilah genetika, anatomi, biokimia, bioteknologi, dan imunologi."

"Ya, aku tahu istilah-istilah itu. Memangnya kenapa?"

"Tidak banyak anak SD tahu hal-hal seperti itu."

"Tapi kau juga tahu, kan, Ai."

"I-iya, memang. Itu karena Profesor memberitahuku," kata Ai dengan nada sedikit gugup. Agasa dan Conan memandang kedua gadis yang bercakap-cakap itu dengan was-was. Gina hanya mengangguk sebagai respon untuk Ai, lalu kembali mencari-cari nama ibunya.

"Kau bisa tahu istilah-istilah itu dari mana?" tanya Conan.

"Aku suka membaca," jawab Gina singkat. Jawaban itu juga memberitahu secara tidak langsung bahwa pengetahuannya tentang istilah-istilah itu didapatkannya dari segala hal yang telah ia baca.

Conan tidak bertanya lebih jauh. Baik Ai maupun Profesor juga tidak mengatakan apa-apa sementara Ayumi, Mitsuhiko, dan Genta masih sibuk mencari sambil bicara satu sama lain, mengomel karena Genta mencampurkan jurnal yang sudah diperiksa dengan jurnal yang belum diperiksa. Gina, Conan, Ai, dan Agasa pun kembali pada pencarian mereka dalam diam.

Setelah lama mencari, akhirnya dengan gembira Mitsuhiko mengatakan bahwa ia telah menemukan nama Erika Watanabe. Gina dan yang lain bergegas mendekatinya. Gina mengambil jurnal yang dipegang Mitsuhiko dan melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa nama ibunya tertera di sana bersama beberapa nama peneliti lainnya.

"Terima kasih, Mitsuhiko," kata Gina gembira. "Ah, tapi masih ada tumpukan jurnal dan majalah yang belum diperiksa. Tolong bantu aku lagi, ya."

"Tentu saja," balas Mitsuhiko. Ia merasa senang dan bangga karena berhasil menemukan nama ibunya Gina. Penemuan Mitsuhiko rupanya membuat Ayumi dan Genta menjadi lebih bersemangat. Mereka juga ingin menemukan nama ibunya Gina, jadi kedua anak itu pun segera mencari lagi dengan lebih teliti.

Pada akhirnya, mereka semua hanya menemukan lima artikel ilmiah yang mencantumkan nama ibunya Gina. Setelah berhasil menemukan kelimanya, Gina minta izin untuk meng-copy-nya dengan mesin scanner rangkap fotokopi milik Agasa. Profesor Agasa tidak keberatan dan meng-copy semua jurnal itu untuk Gina. Tak lama setelah itu, Gina dan teman-temannya pun pulang.

Gina mengumpulkan semua karya ilmiah ibunya dengan semangat di kamarnya. Ia mencetak semua jurnal Erika yang ia temukan di internet kemarin, lalu mengumpulkannya bersama artikel-artikel yang ia temukan di rumah Agasa. Ia mendata semua judul-judul yang telah ia temukan dan menyusunnya berdasarkan urutan tanggal terbit. Setelah itu, ia mencoba mencari lagi di internet menggunakan komputer pamannya di ruang kerja selama beberapa jam, tidak begitu peduli dengan reaksi keheranan Miyuki yang melihatnya begitu sibuk dengan komputer. Pencarian keduanya tidak berjalan begitu baik. Ia menemukan beberapa judul karya ilmiah Erika, tapi ia tak bisa mengunduhnya secara gratis. Hanya bagian judul dan abstrak saja yang bisa dibaca gratis, maka Gina pun mencetak judul-judul dan abstrak itu. Mungkin nanti ia bisa minta tolong pada Agasa untuk mencarikan artikel utuhnya.

Tidak. Aku akan minta tolong padanya sekarang juga, pikir Gina akhirnya. Ia bergegas pergi menuju meja telepon dan memencet nomor telepon Agasa. Begitu terdengar suara Agasa di telepon, dengan bersemangat Gina meminta tolong padanya untuk mencarikan tulisan-tulisan ilmiah Erika yang tidak bisa diakses olehnya. Ia memberitahu semua judul artikel itu dan ketika mendengar Agasa akan membantunya dengan senang hati, Gina sangat bersyukur dan berterima kasih.

Setelah puas mencari artikel ilmiah di komputer, Gina menghabiskan waktu di kamarnya dengan membaca tulisan-tulisan ibunya. Memahami artikel ilmiah tidaklah mudah. Semua angka, simbol, grafik, dan istilah-istilah sains yang ada di sana membuat orang awam akan kebingungan. Gina tidak termasuk orang awam karena sebenarnya ia adalah Lana, gadis remaja jenius yang sejak kecil sudah diarahkan sebagai ahli sains, tapi tetap saja ia butuh bantuan internet lewat ponselnya untuk menerjemahkan istilah-istilah yang tak dipahaminya, entah itu karena ia lupa atau karena ia baru pertama kali mendengarnya. Setelah menghabiskan waktu lebih dari sejam untuk benar-benar memahami seluruh isi sebuah artikel, Gina memutuskan untuk membaca artikel-artikel yang lain lebih cepat karena ia tak mau membuang-buang waktu. Ia tak perlu memahami tulisan-tulisan itu secara rinci. Ia hanya perlu memahami apa maksud dan tujuan penelitian dalam artikel, bahan-bahan dan metode penelitian apa yang digunakan, lalu hasilnya secara singkat dan kesimpulan. Pada dasarnya semua itu sudah termuat dalam bagian abstrak. Ia hanya perlu melihat bagian isi untuk lebih memahaminya saja.

Ketika malam tiba dan Ken telah pulang, pria itu melihat keponakannya begitu betah mengurung diri di kamar, membaca lembaran-lembaran kertas yang tertumpuk di meja belajarnya. Miyuki memberitahunya bahwa sejak pulang dari sekolah, Gina menghabiskan waktu membaca entah apa di komputer ruang kerja, lalu membaca semua kertas yang ia kumpulkan. Miyuki juga bilang bahwa kemarin pun Gina melakukan hal yang kurang lebih sama sepulang sekolah. Karena penasaran, Ken akhirnya mendatangi Gina yang sedang asyik membaca di atas tempat tidur. Ia menanyakan apa yang sedang dibaca gadis itu.

"Jurnal Mum," jawab Gina sambil tersenyum.

"Jurnal ibumu?" ulang Ken heran.

"Ya," Gina mengangguk, lalu menunjuk tumpukan kertas di meja belajarnya. "Aku mengumpulkan banyak sekali tulisan Mum."

Ken berjalan menuju tumpukan kertas itu, memeriksanya sekilas. Memang benar, semua kertas itu adalah karya-karya ilmiah kakaknya. Ken tersenyum, lalu berjalan mendekati Gina dan duduk di tepi tempat tidurnya.

"Memangnya kau mengerti isinya? Ada banyak angka dan kata-kata sulit, kan?" tanya Ken.

Gina mengangguk. "Aku ingin mengerti, Paman, jadi aku pakai internet untuk mengartikan kata-kata yang sulit. Tapi tidak mengerti juga tidak apa-apa, yang penting aku sudah membaca tulisan Mum."

"Kau sampai sibuk seperti ini hanya karena tulisan ibumu," kata Ken sambil tersenyum geli. "Kau benar-benar ingin mengenal ibumu, ya?"

"Tentu saja!" balas Gina. "Aku sudah merasa tidak enak karena tak ingat apa-apa tentang Mum, jadi paling tidak aku ingin mengenal Mum dari tulisan-tulisannya."

Ken mengangguk-angguk. "Kebanyakan tulisan ibumu disimpan di rumah orang tua kami—kakek dan nenekmu, Gina—karena sebagian besar karya tulisnya dibuat saat ia masih di Jepang. Tapi kau sudah mengumpulkan banyak hanya dari internet. Kurasa itu artinya kau tidak butuh tulisan yang disimpan di rumah kakek dan nenekmu."

"Ah, sebenarnya beberapa kudapatkan dari koleksi jurnal Profesor Agasa," kata Gina, "tapi apa benar, Paman? Benarkah ada banyak tulisan Mum di rumah Kakek dan Nenek?"

Ken mengangguk. "Kau mau melihatnya? Tapi kau sudah punya sebanyak ini, Gina."

"Mungkin saja ada yang belum kumiliki," kata Gina lagi. "Paman, apakah aku boleh meminta tulisan-tulisan Mum yang ada di rumah Kakek dan Nenek?"

"Bukannya tidak boleh, sih, hanya saja..."

"Hanya saja?"

Ken menatap wajah keponakannya. Gadis kecil itu tampak begitu serius dengan permintaannya. Gina memang menginginkan karya-karya ibunya. Akhirnya Ken pun mendesah pelan.

"Hanya saja, kakek dan nenekmu tinggal di Indonesia," lanjut Ken. "Ah, kau tahu Indonesia? Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang besar sekali, jauh lebih besar daripada Jepang."

Gina tidak berkata-kata. Ia hanya diam mematung setelah mendengar kata-kata pamannya.

Indonesia? Indonesia yang negara tropis itu, yang terkenal dengan Pulau Bali-nya?

"Indonesia? Bali?" tanya Gina yang masih tak percaya.

"Ya! Bali!" jawab Ken sambil tersenyum. "Benar, di Indonesia ada pulau terkenal bernama Bali. Kakek dan nenekmu tidak tinggal di Bali, tapi di Pulau Jawa."

"Oh..." Gina mengangguk pelan, "tapi kenapa tulisan-tulisan Mum ada di Indonesia, padahal Mum membuatnya di Jepang?"

"Ah, begini, kau sudah tahu kan, kalau dulu kakek dan nenekmu tinggal di rumah ini bersama Paman dan ibumu?"

Gina mengangguk. Ia sudah tahu cerita itu.

"Tak lama setelah Paman mendapatkan pekerjaan, kakek dan nenekmu pindah ke Indonesia. Saat itu ibumu sudah tinggal di Inggris, Gina, dan kau sudah lahir. Nah, sejak saat itu Paman tinggal sendiri di rumah ini. Karena pekerjaan Paman rupanya membuat Paman jadi memiliki banyak kertas dan buku, mau tak mau kertas-kertas dan buku-buku lama harus Paman pindahkan dari rumah ini, termasuk tulisan-tulisan ibumu. Awalnya Paman ingin mengirimnya ke Inggris, tapi ibumu tidak setuju. Katanya rumahnya di Inggris juga rumah mertuanya dan ia tak mau memenuhi rumah mertuanya dengan barang-barang bekas, apa lagi saat itu ia sudah berhenti bekerja sebagai peneliti, jadi menurutnya tidak ada alasan bagi tulisan-tulisan hasil penelitiannya untuk dipindahkan ke Inggris. Tapi karena tulisan-tulisan penelitian ibumu adalah benda penting, baik Paman maupun ibumu tak mau membuangnya. Karena itu akhirnya semua karya tulis ibumu dikirim ke Indonesia setelah kakek dan nenekmu di sana menyetujuinya."

"Oh..." Gina mengangguk lagi. "Kalau begitu bolehkah tulisan-tulisan Mum dipindahkan ke sini lagi? Boleh ya, Paman?"

"Tentu saja boleh," Ken mengangguk. "Sekarang rumah ini sudah lebih leluasa dibandingkan dulu, jadi kupikir tulisan-tulisan ibumu bisa tinggal di sini, tapi..."

"Tapi?"

"Tapi tidak mungkin kita meminta kakek dan nenekmu memilah-milah tulisan-tulisan ibumu yang mungkin saja sudah berdebu di gudang mereka, lalu meminta mereka mengirimkannya ke sini. Itu tidak sopan, Gina. Kita yang membutuhkannya, jadi kitalah yang harus mengambilnya kecuali jika keadaan benar-benar mendesak. Nah, kita berdua sama-sama tahu kalau keadaan kita tidak sedang terdesak, jadi meminta mereka mengirimkannya ke sini sama sekali tidak pantas."

"Kalau begitu, bisakah kita ke Indonesia?" tanya Gina lagi.

"Bisa, tapi tidak dalam waktu dekat ini," jawab Ken. "Aku tak bisa mengantarmu ke sana, Gina. Aku sudah mengambil banyak cuti saat mengantarmu ke London. Aku juga tak mungkin membuat Nishiyama-san sendirian mengantarmu ke sana. Kakek dan nenekmu adalah orang tuaku, masa' aku tak mau datang menemui mereka dan malah membuat pengasuh datang sebagai penggantiku? Kau mengerti, Gina?"

Gina terdiam mendengar kata-kata pamannya. Semua yang dikatakan Ken memang benar. Gadis itu jadi teringat janjinya pada dirinya sendiri untuk tidak mengajukan permintaan egois lagi pada pamannya. Ia tidak bisa memaksa Ken untuk menemaninya ke Indonesia setelah pria itu telah berkorban banyak untuk menemaninya ke London. Ia harus menunggu sampai mereka berdua punya waktu yang tepat. Akhirnya, perlahan-lahan Gina mengangguk lagi, tanda bahwa ia telah memahami kata-kata pamannya.

"Tapi suatu hari nanti kita akan pergi ke sana, kan? Aku juga ingin bertemu dengan Kakek dan Nenek. Aku sama sekali tak pernah melihat mereka sejak keluar dari rumah sakit," kata Gina.

Ken mengangguk. "Ya, suatu hari nanti kita akan pergi ke sana."

Gina tersenyum, dalam hati merasa lega karena Ken telah menjanjikannya kunjungan ke Indonesia. Suatu hari nanti ia bisa melihat koleksi penelitian ibunya yang disimpan di sana.

"Oh, ya," kata Gina lagi setelah teringat sesuatu, "kalau sebagian besar tulisan Mum disimpan di Indonesia, sisanya disimpan di mana, Paman?"

"Oh," Ken tersenyum, "sisanya ada di rumah ini. Aku yang menyimpannya setelah ibumu meninggal. Semula karya-karya ibumu yang lain ada di Inggris."

Kedua mata Gina seketika berbinar-binar. "Bolehkah aku melihatnya, Paman?"

Ken mengangguk. "Aku menyimpannya di kamarku karena tidak banyak. Sebentar, ya, akan kuambilkan."

Ken beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar Gina. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan sebuah map plastik putih berisi lembaran-lembaran kertas dan majalah di dalamnya.

"Ini sisanya yang ada di Inggris," kata Ken sambil menyodorkan map itu pada Gina. Gina menerimanya dengan wajah berseri-seri seolah-olah baru saja mendapatkan mainan kesukaannya. Melihat ekspresi itu, mau tak mau Ken tersenyum. Sungguh aneh melihat seorang gadis kecil tersenyum seperti itu karena map berisi kertas-kertas dan majalah-majalah sains, tapi Ken tetap merasa senang saat melihatnya. Ia tahu bahwa Gina ingin mengenal ibunya lewat semua kertas dan majalah itu, jadi wajar saja bila benda-benda itu bisa membuat anak itu senang. Ia juga sudah mulai menerima kenyataan bahwa keponakannya adalah anak yang cerdas dan hobi membaca hal-hal berat berbau sains, jadi dalam benak Ken, mungkin saja wajah berseri-seri Gina saat ini juga disebabkan oleh passion-nya pada ilmu pengetahuan.

"Bolehkah aku menyimpannya, Paman?" tanya Gina lagi.

"Tentu saja. Semua yang ada di map itu adalah milik ibumu, jadi kau berhak menyimpannya," jawab Ken.

"Terima kasih, Paman!" Senyum Gina mengembang semakin lebar, lalu ia membuka map itu dengan semangat, melihat satu per satu karya-karya Erika yang ada di dalamnya.

Ken meninggalkan Gina setelah menasihati anak itu agar tidak membaca sampai terlalu malam. Gina menyanggupi, lalu kembali sibuk dengan seluruh karya tulis ibunya yang kini ada di tangannya. Ken hanya mengira bahwa Gina bersemangat mengumpulkan tulisan Erika karena gadis itu ingin mengenal ibunya. Ia sama sekali tidak tahu kalau keponakannya punya maksud lain dengan mengumpulkan semua tulisan Erika.

Gina ingin tahu penelitian apa yang dianggap berbahaya oleh Erika sampai-sampai wanita itu menghentikan karirnya dan gadis itu sedang menyelidikinya sekarang, diawali dengan mencari tahu semua penelitian yang pernah dilakukan ibunya.

TBC


Review please :)