Readers, ketemu lagi dengan saya! Wuaahh... tidak terasa saya sudah menekuni Kisah Lana sampai 20 chapter. Saya jadi terharu sendiri. Terima kasih atas dukungan readers selama ini, terima kasih atas waktunya, terima kasih atas review-nya. Kalau bukan karena dukungan readers, mungkin saya nggak bisa bertahan sampai selama ini. Ini dia chapter 20 yang udah ditunggu-tunggu. Selamat membaca!
Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho, tapi OC saya milik saya.
CHAPTER 20
Gina telah menemukan solusi mimpi buruknya.
Setelah dua hari menghabiskan waktu membaca banyak jurnal dan artikel tulisan ibunya, gadis itu mendapati dirinya berangkat tidur dalam keadaan cukup ngantuk dan begitu bangun ia mendapati hari sudah pagi. Ia menyadari dirinya tidak lagi terbangun di tengah malam karena mimpi buruk. Ia menyadari bahwa selama dua malam ini ia bahkan tidur tanpa mimpi. Setelah itu ia teringat bahwa ketika di London ia pun tidur tanpa mimpi setelah memecahkan kode rahasia Hades Sabara sampai larut malam. Ia hanya perlu membuat dirinya cukup lelah dan ngantuk sebelum tidur, dengan begitu ia bisa bangun keesokan paginya tanpa mimpi buruk. Jenius!
Itulah yang dilakukan Gina sejak saat itu. Ia membuat dirinya cukup lelah dan ngantuk sebelum tidur. Bagaimana caranya? Ia melakukannya dengan cara membaca tulisan-tulisan Erika sampai sedetil mungkin sehingga ia akan mendapati dirinya cukup lelah dan ngantuk setelah menyelesaikan dua atau tiga artikel ilmiah. Jika ia sudah merasa demikian, Gina takkan ragu untuk mematikan lampu kamarnya dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
Sebenarnya solusi yang ditemukannya bukan tidak berefek samping. Karena keseriusannya dalam membaca dan menelaah tulisan-tulisan ilmiah yang rumit, keesokan paginya Gina akan terbangun berkat dering alarm, tapi tubuhnya masih lelah. Kalau ia sudah dewasa, mungkin keadaannya akan lebih baik. Masalahnya adalah ia hanya anak kecil yang butuh waktu tidur lebih lama dari orang dewasa dan staminanya tidak sebesar orang dewasa. Karena itu, Gina akan mendapati dirinya dapat bertahan hingga sampai di sekolah, namun begitu pelajaran yang membosankan dimulai, ia akan tertidur di atas mejanya. Ia hanya akan berusaha untuk bertahan terjaga selama pelajaran bahasa Jepang dan olahraga karena pelajaran bahasa Jepang adalah satu-satunya pelajaran yang butuh dipelajarinya dan ia tidak mungkin bisa tidur dalam pelajaran olahraga karena pelajaran itu menuntut tubuhnya untuk terus bergerak. Beberapa kali Kirisaki-sensei dan guru-guru lain yang mengajarnya menegurnya bahkan sampai memberinya sanksi mengerjakan soal di papan tulis karena ia sering ketiduran di kelas, tapi Gina selalu berhasil mengerjakan semua soal yang diberikan kepadanya dengan sempurna. Setelah beberapa kali hal seperti itu terjadi, akhirnya para guru membiarkan Gina tertidur meskipun sedang dalam jam pelajaran.
Kirisaki-sensei dan teman-temannya menanyakan keadaannya. Mereka bertanya apakah ia baik-baik saja dan mengapa ia sering sekali tertidur di kelas, tapi Gina selalu menjawab bahwa ia baik-baik saja. Ia mengatakan pada mereka bahwa ia hanya sering mengantuk karena suka bangun pagi. Gina juga memberitahu mereka bahwa pamannya pun tahu kebiasaannya bangun pagi. Ken memang tahu kalau keponakannya suka bangun pagi, tapi ia tak tahu kalau keponakannya juga suka menghabiskan tenaga untuk mencerna artikel-artikel ilmiah tanpa jeda sampai mata dan otaknya lelah. Ken tidak tahu kalau Gina ngotot melakukan hal semacam itu demi mendapatkan tidur tanpa mimpi buruk.
Solusi Gina tidak bermasalah selama ia bisa tidur di sekolah dan selama ini ia bisa tidur saat jam pelajaran di kelas, jadi gadis itu tak pernah berniat mengubah taktik tidurnya. Alhasil, grup detektif cilik kini resmi memiliki putri pengantuk kedua.
"Apa sih yang kau lakukan sampai bisa jadi seperti Haibara?" tanya Conan suatu hari ketika anak-anak grup detektif cilik berkumpul di rumah Agasa untuk bermain game. Mitsuhiko dan Genta sibuk memelototi layar TV dengan jari-jemari mereka bergerak lincah di joystick masing-masing sementara Ayumi dengan antusias menonton permainan mereka. Ai sibuk di dapur menyiapkan makan siang, sedangkan Gina sendiri sedang menunggu Agasa mencetak file-file tulisan ilmiah Erika yang dimintanya untuk kedua kalinya beberapa hari yang lalu. Saat itulah Conan menanyainya tanpa diketahui anak-anak yang lain.
"Aku jadi seperti Ai bagaimana?" tanya Gina tak mengerti.
"Kau jadi terlihat selalu mengantuk di pagi hari," balas Conan. "Apa saja yang kau lakukan sampai kurang tidur begitu?"
"Ini dia, Gina-kun, tulisan ibumu." Agasa datang menyela percakapan mereka dan menyerahkan beberapa lembar kertas pada Gina yang segera diterima gadis itu dengan senang hati. Kemudian Gina memandang Conan dan mengayunkan lembaran kertas di tangannya.
"Learning," jawabnya, lalu segera duduk manis di sofa, memeriksa karya tulis ibunya yang baru saja dicetak oleh mesin printer. Conan mengernyit, lalu berjalan mengikuti Gina dan duduk di sampingnya.
"Kau tidak mengatakan bahwa kau memelajari semua tulisan ibumu, kan?" tanya detektif itu tak percaya.
"Actually I'm doing it right now," balas Gina.
"Ya, maksudku, kau tidak benar-benar memelajarinya, kan? Seperti... entahlah, mahasiswa yang harus mengerjakan tugas atau peneliti yang butuh referensi?"
"Yang terakhir."
Conan terbelalak. "Oi, kau tak mungkin serius."
Kali ini Gina menoleh menatap Conan. "Kenapa tidak? Aku butuh referensi tentang ibuku."
Conan memandang Gina beberapa saat, mendesah, lalu merebut tulisan-tulisan Erika Watanabe dari tangannya, membuat gadis itu terkejut.
"Hei, kembalikan!"
Conan menjauhkan tangannya dari jangkauan Gina. Ia bangkit dari sofa, berjalan menghindari tangan-tangan gadis itu sambil membaca salah satu jurnal. "RNA, DNA, protein, enzim. Memangnya kau tahu semua istilah ini?"
"Ribonucleic acid, deoxyribonucleic acid, senyawa organik terdiri dari rangkaian asam amino, protein yang berfungsi sebagai katalis reaksi kimia organik," jawab Gina mencoba memberitahu pemahamannya secara singkat atas semua istilah-istilah yang disebutkan Conan. "Bisakah kau kembalikan kertas-kertas itu padaku sekarang?"
Conan tampak tidak percaya. Ia berdehem, lalu bertanya lagi, "tadi kau bilang asam amino. Memangnya kau tahu apa itu asam amino?"
"Kalau aku tidak tahu, memangnya kau tahu?" Gina balik bertanya.
"Ya, aku tahu." Conan mengangguk. "Asam amino adalah senyawa organik yang memiliki gugus amina dan karboksil. Gugus amina adalah—"
"-NH2 dan gugus karboksil yang kau maksud adalah -COOH. Kalau kau saja tahu, kenapa aku tidak bisa tahu?" Gina merebut kertas-kertas itu dari tangan Conan yang tampak terkejut, lalu kembali duduk di sofa dan membaca. Conan mengerjapkan kedua matanya dan memandang Gina dengan takjub. Sebenarnya secerdas apa gadis kecil asal Inggris itu?
"Umurmu sebenarnya berapa, sih?" tanya Conan pelan ketika ia telah duduk di samping Gina lagi.
"Tujuh tahun," jawab Gina tanpa menoleh.
"Kau tidak seperti anak berumur tujuh tahun."
"Kalau begitu kau juga tidak. Atau jangan-jangan sebenarnya umurmu lebih dari tujuh tahun?"
Conan terdiam. Ia tak menyangka berdebat dengan Gina bisa semenyusahkan ini. Mungkin sebaiknya sejak saat ini ia lebih berhati-hati jika bicara dengan gadis itu.
Gina menganggap diamnya Conan sebagai tanda bahwa anak lelaki itu memutuskan untuk berhenti bertanya, jadi gadis itu pun memutuskan untuk tidak memperpanjang pembicaraan. Ia kembali fokus membaca karya tulis ibunya.
"Apa yang bisa kau ketahui tentang ibumu dengan memahami tulisan-tulisan ilmiahnya? Aku tidak yakin hasil penelitian bisa menggambarkan kepribadian ibumu," kata Conan lagi setelah beberapa saat terdiam.
"Paling tidak aku bisa tahu bidang apa yang dikuasai ibuku," jawab Gina. "Selain itu, lebih asyik memelajari tulisan-tulisan ini daripada memelajari buku pelajaran anak kelas 1 SD."
"Oh." Conan memasang tampang datarnya. Dalam hati ia juga tahu bagaimana membosankannya pelajaran kelas 1 SD, tapi ia tak menyangka ucapan semacam itu akan datang dari mulut gadis yang benar-benar duduk di kelas 1 SD. Kalau sekarang saja Gina sudah secerdas ini, akan secerdas apa dia saat dewasa nanti? Mungkin gadis itu akan lebih cerdas darinya, mungkin juga lebih cerdas dari Haibara. Conan tak bisa membayangkan.
"Ya sudah kalau kau memang suka memelajari tulisan-tulisan ibumu, tapi sebaiknya kau tidak kelepasan belajar akhir minggu nanti. Ingat, kita akan pergi kemping," kata Conan akhirnya sambil bangkit dari sofa.
"Ya, tenang saja," balas Gina. Ia juga tak punya rencana untuk membuat dirinya kelelahan ketika harus pergi kemping. Ia ingin menikmati waktu dengan bermain bersama teman-temannya, bukan dengan membaca tulisan ilmiah sekalipun tulisan itu adalah hasil pemikiran ibunya.
Kegiatan membaca Gina terputus ketika Ai mengumumkan bahwa makanan mereka telah siap. Gina dan anak-anak yang lain pun bergegas mengelilingi meja makan Agasa, duduk manis menyantap hidangan yang dibuat Ai. Gina harus mengakui bahwa Ai jago memasak, tidak seperti dirinya yang kemampuan memasaknya sangat minim. Di waktu makan bersama inilah, Gina melupakan jati dirinya sebagai gadis remaja. Ia tersenyum menikmati makanannya sambil sekali-sekali bercanda tawa dengan teman-temannya. Setelah waktu makan selesai, Gina menyempatkan diri bermain game melawan Ayumi yang berakhir dengan kekalahan Gina, kemudian barulah gadis asal Inggris itu pulang bersama teman-temannya.
Hari demi hari berlalu hingga tiba juga akhir minggu. Gina akan menghabiskan liburan akhir minggu dengan pergi kemping bersama Profesor Agasa dan grup detektif cilik. Malam hari sebelum berangkat, ia telah berkumpul di rumah Agasa bersama teman-temannya yang lain. Mereka berkumpul di sana agar keesokan harinya tidak perlu saling menunggu lagi untuk berkumpul sebelum berangkat.
Gina sedang bercakap-cakap dengan Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko, membicarakan tempat kemping mereka besok dan apa saja yang akan mereka lakukan. Gina tersenyum melihat ketertarikan anak-anak itu. Kemudian karena Conan dan Ai lagi-lagi memisahkan diri dan berbicara hanya berdua saja, Ayumi memutuskan untuk menghampiri mereka. Gina dan yang lain mengikuti di belakangnya. Mereka bisa sedikit menangkap percakapan Conan dan Ai yang langsung direspon oleh Ayumi.
"Apa? Apa yang membuatmu kepikiran?" tanya Ayumi setelah mendengar sepotong kata-kata Conan tentang sesuatu yang membuatnya kepikiran.
"Ah, tidak..." balas Conan, jelas tak ingin membahas apa yang dikatakannya barusan dengan anak-anak.
"Omong-omong, pelajar SMA yang tadi bersama Ran-san..."
"Oh iya, cowok yang belum kita kenal itu, kan?"
Percakapan Mitsuhiko dan Genta rupanya mampu mengalihkan perhatian Conan.
"Ran-neechan jalan bersama laki-laki tak dikenal?" tanyanya kaget.
"Kami melihatnya dalam perjalanan ke sini," kata Ayumi mengiyakan.
"Tapi bukankah orang itu perempuan?" kata Mitsuhiko ragu.
Cowok tak dikenal? Tapi tadi Mitsuhiko bilang orang itu perempuan, pikir Gina heran. Tak lama kemudian kedua matanya membesar karena menyadari sesuatu. Masumi Sera!
Conan tampak terhanyut sesaat dalam pikirannya sendiri sehingga Ai menyuruhnya menelepon Ran untuk memastikan jika ia memang kepikiran. Akhirnya bocah berkacamata itu pun menghubungi Ran lewat ponselnya, dikelilingi oleh anak-anak grup detektif cilik yang penasaran.
"Ah, Ran-neechan? Ini aku. Apakah aku mengganggu?" kata Conan mula-mula setelah terdengar suara Ran di seberang sana. Setelah beberapa saat, ia berkata lagi, "Aku tidak begitu peduli, sih, tapi Genta dan yang lain... mereka bilang Ran-neechan jalan bersama cowok tak dikenal..." Jeda lagi beberapa saat, kemudian tiba-tiba saja ekspresi Conan berubah kaget.
"Hei, jadi siapa cowok itu?" tanya Genta.
"Ayo beritahu kami!" kata Mitsuhiko antusias.
"Conan-kuuun!" desak Ayumi tak kalah antusias.
Bukannya menjawab, Conan malah meminta teman-temannya untuk diam. Ia tampak masih mendengarkan sesuatu dari ponselnya. Gina dan Ai yang tadinya berada agak jauh kini memutuskan untuk mendekat. Dilihat dari ekspresi Conan yang serius kemudian tiba-tiba saja terbelalak kaget, jelas sedang terjadi sesuatu di tempat Ran berada.
Setelah beberapa saat mendengarkan ponselnya, Conan akhirnya bicara. Ia mengatakan pada Agasa dan teman-temannya bahwa saat ini sedang terjadi kasus di Kantor Detektif Mouri. Ada tiga orang wanita penulis cerita misteri dan seorang pria yang membawa pistol dan bom. Pria itu meminta Detektif Mouri memecahkan kasus kematian adiknya yang adalah penulis novel misteri, Miku Sawaguri. Ia tidak percaya adiknya tewas bunuh diri. Ia yakin adiknya telah dibunuh dan pelakunya adalah salah satu dari ketiga wanita itu. Jika pelakunya telah diketahui, ia akan membunuh pelaku itu sekaligus bunuh diri dengan bom yang dililitkan di tubuhnya. Waktu yang diberikan untuk memecahkan kasus hanya sampai pagi karena pada pagi hari bom di tubuhnya akan meledak dan membahayakan semua orang di dekatnya.
Ai segera menyalakan laptop dan mencari informasi tentang orang-orang dalam kasus itu tanpa diminta. Berkat pencariannya, sekarang mereka semua tahu kalau pembunuhan Miku Sawaguri terjadi di sebuah ryokan bernama Furitsukaya. Ketika Miku terbunuh, kakaknya dan ketiga wanita itu juga ada di ryokan itu.
Profesor Agasa mengatakan bahwa ryokan itu juga dikunjungi pemilik kafe Poirot dan tetangga-tetangga sekitar Poirot. Agasa punya foto-foto semua orang itu karena pemilik Poirot mengirimkan foto-foto mereka padanya. Conan melihat hal ini sebagai peluang untuk mendapatkan informasi sehingga ia meminta Agasa, Ayumi, Gina, Genta, dan Mitsuhiko pergi menemui orang-orang itu dan menanyakan pada mereka apa saja yang dilakukan ketiga wanita tersangka sebelum dan sesudah pembunuhan. Beberapa menit kemudian, Gina sudah mendapati dirinya berada di dalam mobil Agasa bersama Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko. Mobil yang dikemudikan sang profesor itu melaju kencang menemui orang-orang yang ada dalam foto kiriman pemilik Poirot.
Gina dan teman-temannya mengajukan banyak pertanyaan tentang ketiga wanita tersangka pada orang-orang yang mereka temui. Mereka membahasnya di dalam mobil bersama Agasa. Setelah perjalanan wawancara mereka selesai, mereka kembali ke rumah Agasa untuk memberitahu hasil penyelidikan mereka pada Conan dan Ai.
"Wanita yang kurus dan berkacamata adalah orang yang sangat baik. Kami dengar ia dengan susah payah merapikan kembali shampoo dan conditioner yang berantakan di mana-mana," kata Mitsuhiko.
"Wanita yang pendek sangat suka onsen. Ia pergi ke onsen berkali-kali dalam sehari," kata Ayumi.
"Yang paling mencurigakan adalah wanita yang gemuk," kata Genta. "Ia meninggalkan kamar korban dengan wajah pucat. Seseorang melihatnya lewat celah pintu."
"Apakah orang itu melihatnya melalui pintu di seberang kamar Miku-san?" tanya Conan.
"Tidak. Kami dengar ruangan itu ada di sisi yang sama, selang tiga pintu dari kamarnya," jawab Mitsuhiko.
"Saat orang itu akan meninggalkan ruangannya, ia melihat wanita gemuk itu berlari ke arahnya dengan wajah ketakutan dan langsung menutup pintu," tambah Ayumi.
"Kami bahkan membawa foto saat pembunuhan itu terjadi," kata Genta sambil menyodorkan selembar foto.
"Kami diberitahu bahwa foto ini diambil saat polisi tiba di tempat kejadian, kamar nomor 205," tambah Mitsuhiko.
Gina tersenyum melihat Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko yang serius menanggapi tugas mereka mencari informasi. Mereka bisa mengingat semua informasi itu dengan baik meskipun mereka hanya anak-anak berusia tujuh tahun. Gina sendiri tidak yakin apakah ia bisa melakukan hal yang sama jika dirinya benar-benar berusia tujuh tahun.
Tak lama setelah itu, Conan menyadari bahwa pria pembawa bom telah menyadari kalau ponsel Ran masih tersambung. Tanpa pikir panjang, ia segera menggunakan suara Shinichi Kudo untuk menyelamatkan orang-orang di sana dari amukan si pria. Segera setelah Conan menggunakan suara Shinichi, Ai mendorong anak-anak untuk pergi tidur di kamar, termasuk Gina.
"Ah, tunggu!" kata Gina, teringat informasi yang belum disampaikan. "Ai, ada yang belum kami sampaikan."
"Eh?" Ai berhenti mendorong anak-anak dan memandang Gina.
"Banyak dari orang-orang yang kami temui mengatakan bahwa sekitar dua atau tiga hari lalu, ada seorang pria berambut cokelat yang mendatangi mereka dan menanyakan hal yang sama dengan yang kami tanyakan," kata Gina. "Orang itu juga punya sebuah buku dan foto tiga orang wanita. Ia bertanya apakah ada di antara ketiga wanita itu yang terlihat di ryokan membawa buku tulisan adiknya."
"Ah, iya, betul!" sahut Mitsuhiko membenarkan. "Mungkin orang itu adalah pria yang mengancam Ran-san dan Detektif Mouri."
Ai mengangguk sebagai respon. Setelah itu ia kembali mendorong teman-temannya ke arah kamar, menyuruh mereka untuk tidur agar besok tidak susah bangun. Gina, Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko menurut. Gina menurut karena ia tidak berminat mendengarkan analisis Conan alias Shinichi, tapi ia tak tahu mengapa anak-anak yang lain mau menuruti Ai.
Sesampainya di kamar di lantai atas, Gina, Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko segera berbaring di atas kasur. Anak-anak perempuan tidur di tempat tidur, sedangkan anak-anak laki-laki tidur di bawah, di futon cadangan milik Agasa.
"Hei, benarkah tidak apa-apa jika kita tidur duluan?" tanya Genta dengan suara pelan.
"Ayumi cemas sekali," kata Ayumi yang berbaring di sebelah Gina.
"Sudah, serahkan saja semuanya pada mereka bertiga," kata Gina.
"Kau tidak cemas, Gina?" tanya Genta.
"Cemas, sih, tapi tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk membantu. Bukankah kalian juga sama?" balas Gina. "Sekarang ini yang bisa membantu hanya Profesor, Conan, dan Ai. Tugas kita sebagai pencari informasi sudah selesai."
"I-iya, sih..." kata Mitsuhiko dengan berat hati.
"Ayo kita tidur. Besok kita harus bangun pagi-pagi untuk kemping. Kalian tidak ingin terlambat berangkat, kan?" kata Gina lagi. Ia harus membuat anak-anak itu tidur. Ia merasa tidak boleh mengacaukan pertunjukan analisis Conan dengan membuat mereka tetap terjaga dan malah kembali lagi dengan penasaran, apa lagi ketika Conan sedang beraksi menggunakan suara Shinichi.
"Benar, ayo kita tidur. Aku yakin mereka bisa menyelesaikan kasus. Conan-kun kan, pintar," kata Mitsuhiko meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya. Kita percayakan saja pada Conan-kun," kata Ayumi setuju.
Akhirnya anak-anak itu memutuskan untuk tidur, membuat Gina merasa lega. Ia pun ikut memejamkan mata. Ia juga berniat untuk tidur tapi rupanya ia tak kunjung tertidur bahkan ketika teman-temannya sudah terlelap. Gina takut. Ia belum cukup lelah untuk tidur nyenyak. Bagaimana jika mimpi buruknya datang lagi?
Tanpa terasa menit demi menit berlalu. Gina baru menyadari bahwa kasus telah berakhir ketika terdengar suara Ai, Conan, dan Agasa yang semakin lama semakin dekat. Mereka semua berjalan ke arah kamar. Gina pun segera memejamkan kedua matanya lagi, berpura-pura tidur.
"... Akan kukatakan pada mereka bahwa semalam detektif kenalanku datang membantu."
"Tentu saja kita harus meminta anak-anak itu untuk merahasiakan kedatangan 'kenalan Profesor'," terdengar suara Ai.
"Ya. Tolong, ya, Profesor, Haibara."
"Serahkan saja pada kami. Kau hanya perlu mengurus neechan-mu."
"Hahaha..." Conan tertawa hambar. Tak lama kemudian, Gina mendengarnya berkata, "mereka sudah tidur pulas seolah-olah tak terjadi apa-apa."
"Yah, mereka, kan, hanya anak-anak," kata Ai. Gina merasakan tekanan pada tempat tidurnya. Ai sedang naik bergabung dengannya dan Ayumi. "Ayo tidur. Besok kita harus bangun pagi."
"Haibara, pastikan kau bisa meyakinkannya juga," kata Conan.
"Siapa?"
"Gina. Dia cerdas. Kita harus berhati-hati di dekatnya."
"Aku tahu."
Setelah itu, Gina tak mendengar percakapan apa pun lagi. Semuanya sudah memutuskan untuk tidur. Gina tersenyum dalam hati, merasa tersanjung karena Conan dan Ai mengakui kecerdasannya, tapi senyum dalam hatinya itu hanya sesaat. Ketika ia menyadari bahwa suasana telah begitu sunyi, rasa cemas kembali menyelimutinya. Semua orang sudah tidur. Ia juga harus tidur, tapi ia takut, takut dengan mimpi buruknya. Pada akhirnya Gina hanya bisa berusaha tidur sambil berdoa pada Tuhan agar ia diselamatkan dari mimpi buruk. Ia sangat berharap dirinya bisa tidur nyenyak sampai besok pagi.
TBC
Omong-omong, ryokan kurang lebih adalah penginapan bergaya Jepang.
Seperti biasa, review please :)
