Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho, tapi OC saya milik saya.

CHAPTER 21

Beberapa hari kemudian setelah grup detektif cilik pulang kemping, Conan berkunjung ke rumah Agasa sendirian tanpa anak-anak grup detektif cilik yang lain. Ia ke sana untuk membicarakan hal penting dengan Ai dan Agasa. Ia ingin membicarakan Gina dan segala keanehannya yang mencurigakan dengan mereka berdua. Conan berniat menyelidiki gadis kecil itu lebih jauh setelah ia mengetahui bahwa ibunya adalah seorang peneliti. Baginya, fakta itu sudah cukup menambah kecurigaannya. Bayangkan saja, seorang anak kecil jenius yang kepribadiannya berubah drastis setelah amnesia karena kecelakaan mobil, pernah mengalami penindasan, dan ternyata ibunya seorang peneliti! Conan takut kalau anak itu ternyata punya hubungan dengan organisasi hitam melalui ibunya, makanya untuk memastikan, ia harus bicara dengan Ai dan Agasa.

"Ibunya bukan ilmuwan organisasi. Aku yakin," kata Ai setelah mendengar kecurigaan Conan akan ibunya Gina. "Kalau ibunya adalah peneliti di organisasi, sudah pasti aku akan tahu. Aku tahu semua ilmuwan yang mengerjakan proyek APTX bersamaku dan di antara mereka tidak ada yang bernama Erika Watanabe ataupun Erika Shilmani."

"Kau yakin?" tanya Conan ragu-ragu.

"Tentu saja, Kudo-kun. Apa kau lupa kalau aku adalah salah satu ilmuwan terbaik mereka sekaligus penanggung jawab proyek APTX? Sudah pasti aku mengenal semua orang yang terlibat dalam penelitian obat itu."

"Tapi kau memiliki jurnal-jurnal ilmiah Erika Watanabe."

"Ya, tapi hanya itu. Beberapa penelitiannya kebetulan saja menarik untuk kujadikan referensi penawar APTX."

"Jadi menurutmu anak itu tak ada hubungannya dengan organisasi?"

Ai mengangguk. "Dia memang mencurigakan, tapi aku ragu dia ada hubungannya dengan organisasi. Kita sudah menonton video-videonya dan menurutku keluarga bahagia seperti keluarganya mustahil punya urusan dengan organisasi. Kita pun sudah tahu kalau identitasnya asli, jadi dia juga bukan korban APTX. Untuk saat ini aku hanya bisa memikirkan bahwa dia adalah anak yang jenius dan cepat dewasa."

"Kalau begitu apa yang sudah terjadi padanya sehingga kepribadiannya bisa berubah sedrastis itu?" kata Conan lagi sambil berpikir. "Kenapa dia bereaksi ekstrem terhadap kejahatan? Penindasan apa yang dialaminya di masa lalu? Lalu dari mana kejeniusannya muncul jika saat di Inggris kemampuan akademiknya tidak sehebat itu?"

"Aku juga bertanya-tanya tentang hal itu. Anak itu membingungkan sekali," kata Ai setuju.

"Haibara, apakah mungkin anak itu berkepribadian ganda? Maksudku, mungkinkah hal itu terjadi setelah dia selamat dari kecelakaan mobil?"

"Kepribadian ganda?" Ai mengernyit. "Kau pikir anak itu menjadi lebih dewasa karena kepribadian ganda?"

Conan mengangguk. "Habis apa lagi? Dia bukan korban APTX, tapi kelakuannya sangat mirip dengan kita dan kecerdasannya sudah jauh melampaui anak SD. Kita sudah menonton video-videonya sebelum dia mengalami amnesia dan dia di masa lalu jelas-jelas tak seperti kita, Haibara."

"Kepribadian ganda, ya?" Ai merenung sesaat, berpikir. "Hmm... kurasa daripada disebut berkepribadian ganda, lebih cocok jika kita mengasumsikan bahwa kepribadiannya berubah."

"Kepribadiannya berubah?"

"Ya." Ai mengangguk. "Bukankah dia amnesia setelah mengalami kecelakaan? Menurutku dia mengalami amnesia disosiatif mengingat dia mampu mengembalikan ingatannya sedikit demi sedikit. Penderita amnesia disosiatif mungkin tidak mampu mengingat sebagian ingatan masa lalunya, seperti yang terjadi pada Gina-san, dan mungkin juga membentuk identitas baru karena kehilangan ingatan tersebut. Dengan kata lain, kepribadiannya berubah."

"Menurutmu hal itu yang terjadi pada Gina?"

"Mungkin saja. Malah menurutku besar kemungkinan hal itulah yang terjadi padanya karena keadaannya setelah selamat dari kecelakaan sama sekali berbeda. Dia tak hanya kehilangan ingatan dan terluka parah, tapi juga kehilangan kedua orang tuanya. Apa lagi kemudian dia harus tinggal di negara asing yang bahasanya pun asing di telinganya. Perubahan yang besar, bukan? Mungkin saja kepribadiannya yang sekarang terbentuk karena dia harus menghadapi hal-hal semacam itu."

"Tapi bisa juga ada kepribadian kedua yang terbentuk dalam dirinya, kan? Kepribadian kedua itu yang menyesuaikan diri dengan kondisinya sekarang."

"Itu juga mungkin, tapi sejauh yang kulihat, Gina-san tidak menampakkan kepribadian lamanya sedikit pun. Sejak aku mengenalnya, dia adalah gadis yang pendiam dan cerdas, bukan gadis periang seperti Yoshida-san, makanya aku ragu dia punya kepribadian ganda. Lebih masuk akal jika aku mengasumsikan bahwa kepribadiannya berubah," balas Ai lagi.

"Karena itu juga Gina yang sekarang lebih dewasa dan lebih cerdas dari sebelumnya, begitu maksudmu?"

"Ya."

"Tapi apa mungkin kecerdasannya bisa meningkat tajam? Dari laporan ibuku, Gina di masa lalu jelas bukan anak jenius, sementara Gina yang kita kenal sekarang adalah anak yang jenius, mungkin setingkat anak SMA, bahkan mungkin sama jeniusnya denganmu, Haibara. Kau sudah tahu kalau anak itu membaca jurnal-jurnal ilmiah seolah-olah jurnal-jurnal itu adalah buku pelajarannya di sekolah. Profesor juga pernah bilang pada kita bahwa menurut Watanabe-san, Gina lebih memilih buku-buku bertopik berat seperti sains dan politik. Aku bisa mengerti kalau kepribadiannya berubah, tapi kecerdasannya juga? Dan setajam ini? Apakah mungkin, Haibara?" tanya Conan bingung.

"Entahlah, Kudo-kun," jawab Ai sambil mengangkat bahu. "Aku bukan psikolog, jadi pengetahuanku tentang psikologi sangat terbatas."

Conan mendesah. "Sebenarnya siapa anak itu?"

"Gina-kun memang membingungkan, tapi bukankah yang terpenting adalah dia tak ada hubungannya dengan organisasi hitam?" sela Agasa yang sedari tadi lebih memilih diam mendengarkan. "Ai-kun yakin kalau ibunya bukan anggota organisasi dan anak itu jelas-jelas bukan korban APTX. Video-videonya juga tampak meyakinkan, jadi bukankah setidaknya kita bisa lega karena apa pun yang terjadi padanya di masa lalu, hal itu tidak berhubungan dengan organisasi hitam?"

Conan terdiam beberapa saat, lalu akhirnya mengangguk setuju. Agasa mungkin benar. Mungkin Gina memang tidak punya hubungan apa pun dengan organisasi hitam meskipun gadis itu dipenuhi kejanggalan. Kalau Ai yang mantan anggota organisasi dan sudah merasakan langsung punya keluarga yang berhubungan dengan organisasi bisa yakin bahwa anak itu tak terlibat organisasi, itu artinya anak itu memang tak terlibat organisasi.

"Karena dia sudah jelas tak ada hubungannya dengan organisasi, itu artinya kita tak perlu menyelidikinya lagi," kata Agasa lagi. "Anak itu mungkin punya masalah di masa lalunya, tapi kalian tak perlu ikut campur jika tak ada hubungannya dengan organisasi, kan?"

"Kau benar, Profesor. Lagi pula, apa pun masalah anak itu, kita akan tahu jika ingatannya telah kembali," kata Ai setuju. Kemudian ia menoleh memandang Conan. "Kudo-kun, aku setuju kalau kita semua harus berhati-hati di dekatnya, tapi kupikir kita tak perlu menyelidikinya lebih jauh. Kita tak perlu menambah masalah dengan terlibat kasus lain selain organisasi hitam. Lagi pula sejauh ini anak itu baik-baik saja. Kita tak perlu mengkhawatirkannya."

Setelah berpikir lagi beberapa saat, Conan akhirnya setuju. Ia memang masih penasaran dengan semua keanehan Gina serta misteri masa lalu gadis itu, tapi selama hal itu tak ada hubungannya dengan organisasi hitam, ia memang tak perlu menyelidikinya terlalu jauh. Lagi pula seperti kata Ai, selama ini Gina bak-baik saja, jadi ia tak perlu mencemaskan keanehan anak itu, dan suatu saat nanti ia akan tahu masalah Gina jika ingatan gadis itu telah kembali. Conan pun akhirnya memutuskan untuk tidak lagi memikirkan keanehan Gina dan memilih untuk menghargai privasi gadis itu. Ia akan menunggu hingga Gina kembali mengingat masa lalunya sambil tetap mengawasi gadis itu.

TBC


Dear readers, saya telah kembali! Maaf ya menunggu lama. Saya cukup sibuk dengan kehidupan saya sendiri, belum lagi saya juga punya fic lain yang harus ditulis. Makanya fic ini harus tertunda untuk waktu lama. Maafin saya yah...

Chapter ini emang pendek, tapi saya harap pembaca tidak kecewa dan tetap setia menunggu kelanjutan cerita ini. Habis gimana lagi? Kalau dipanjangin, ceritanya malah jadi aneh. Maafin saya lagi yaa...

Akhir kata, terima kasih karena telah menunggu fic ini dengan setia, terima kasih atas dukungan para pembaca selama ini, dan jangan lupa review :)