Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho, tapi OC saya milik saya.
CHAPTER 22
Gina tersenyum sambil menghirup aroma kare dalam-dalam. Hari ini ia sedang membuat kare bersama Ai dan Ayumi. Mereka membuat banyak sekali, satu panci besar. Semua ini demi Genta yang suka tambah porsi berkali-kali.
"Sekarang tinggal menunggu sampai matang," kata Ai setelah mencicipi sedikit.
"Ya!" balas Ayumi setuju.
"Sebelum itu, biarkan aku mencicipi dulu..." Agasa sudah memegang sendok sup, tapi Ai segera menampik tangannya.
"Mana ada orang yang mencicipi sambil membawa semangkuk nasi," kata Ai dingin.
"Pelit!"
Gina tersenyum geli melihat tingkah mereka berdua. Memasak bersama-sama seperti ini ternyata menyenangkan. Belakangan ini suasana hati Gina lebih baik dari biasanya. Ia tidak lagi mimpi buruk. Pada malam sebelum kemping mereka terakhir kali, ia tidak bermimpi buruk walaupun ia bermimpi cukup aneh: membaca manga Detektif Conan sambil bercakap-cakap dengan Sera dan Ran. Semua itu pasti karena kasus yang terjadi malam itu. Karena tidak bermimpi buruk lagi, Gina mendapati berat badannya perlahan-lahan naik. Ia memang masih kurus, namun tidak sekurus sebelumnya dan perkembangan ini membuat Ken dan Miyuki merasa lega sekaligus senang. Gadis kecil itu pun lega karena itu artinya tubuhnya telah lebih sehat dari sebelumnya. Selain itu, Gina juga merasa lebih baik karena belakangan ini ia sering menghabiskan waktu bersama grup detektif cilik. Bersama mereka membuatnya merasa lebih nyaman dan tenang.
Sementara anak-anak perempuan sibuk memasak, Conan sibuk mencari-cari harga yang cocok untuk vas antik milik Agasa di laptop. Ia berniat terus mencari sampai Genta dan Mitsuhiko kembali dari tugas berbelanja mereka. Tak lama kemudian, kedua anak yang ditunggu-tunggu itu datang juga. Mereka membawa empat kantong plastik besar penuh berisi macam-macam barang belanjaan.
Begitu mencium aroma kare, Genta langsung bersemangat ingin segera menyantapnya sampai-sampai ia bertanya apakah ia bisa memakan kare sebagai makanan pembuka, yang tentu saja langsung ditolak Ai dengan tajam. Penolakan Ai rupanya berdampak buruk bagi mood Genta. Ia merasa bosan dan memutuskan bermain bola di dalam rumah. Bola itu nyaris membahayakan vas antik Agasa, membuat Conan menegurnya, menyuruhnya berhenti, tapi tegurannya percuma saja. Genta tetap bermain bola dan akibatnya, bola itu masuk ke dalam panci kare dan mengotori Ayumi dan Gina yang berada di dekatnya. Ayumi langsung menangis sementara Gina memandang Genta dengan galak.
"How dare you..." Gina turun dari kursi yang dipanjatnya untuk memasak kare, lalu berjalan ke arah Genta dengan pandangan mata menakutkan. Kondisinya saat ini yang berlumuran kare membuatnya teringat salah satu adegan penindasan yang dialami Lana. Saat itu ia ditindas dengan dibanjur cairan campuran entah apa yang baunya sangat memuakkan. Lana yang saat itu hanya diam, tapi Lana yang sekarang berbeda. Lana yang sekarang sudah berani melawan dan sekarang ia akan melawan. Jadi, begitu telah sampai tepat di depan Genta yang takut-takut memandangnya, Gina mengayunkan salah satu tangannya, menampar pipi bocah gemuk itu dengan keras.
"Minta maaf!" kata Gina dengan suara dalam dan dingin. Tanpa ia sadari, semua orang di sekelilingnya memandangnya dengan kaget sekaligus takut. Siapa yang menyangka gadis pendiam seperti Gina bisa semengerikan ini ketika marah?
Genta dengan takut-takut meminta maaf. Bahkan setelah mendengar permintaan maafnya, Gina masih memandang Genta dengan galak.
"Kare itu panas," kata gadis itu masih dengan nada dingin. "Kalau sampai terkena kulit, aku dan Ayumi bisa terluka. Bagusnya kami berdua baik-baik saja karena karenya tidak sampai melukai kami. Kalau hal terburuk sampai terjadi, habislah kau."
Setelah itu Gina berbalik ke arah Ai. Suaranya yang awalnya dingin kini lebih bersahabat ketika meminta izin Ai untuk meminjam pakaiannya. Ai mengizinkan, tentu saja, tapi ia tak bisa menyembunyikan kekagetannya setelah menyaksikan kemarahan gadis asal Inggris itu. Gina tidak membentak. Suaranya saat marah tidak tinggi. Suaranya tetap tenang, namun dalam dan dingin disertai pandangan mata yang mengerikan. Ditambah aura mengancam di sekitarnya, pantas saja Genta merasa takut.
Karena Ayumi jauh lebih kotor dari Gina, maka gadis kecil itu harus mandi. Gina hanya perlu ganti baju karena hanya bajunya saja yang kotor. Setelah berganti pakaian, Gina pergi berbelanja bahan kare bersama teman-temannya sementara Profesor di rumah menemani Ayumi yang harus mandi. Ai memarahi Genta begitu mereka telah berada di luar rumah, tapi gadis ilmuwan itu tidak menamparnya atau memukulnya atau mencubitnya. Ai benar-benar hanya membentaknya. Setelah Ai puas mengomel (dan ternyata Conan dan Mitsuhiko kena omel juga karena suka belanja barang yang tidak perlu), mereka berlima berpencar. Ai, Mitsuhiko, dan Genta pergi ke supermarket, sedangkan Gina dan Conan pergi ke toko daging.
"Ai mengerikan juga kalau marah," komentar Gina setelah ia dan Conan sudah berada dalam jarak yang cukup jauh dari Ai, Genta, dan Mitsuhiko.
"Haha... Lihat siapa yang bicara," sindir Conan.
"Apa maksudmu? Aku tak pernah marah seperti itu," sahut Gina tak terima. Ia memang tak pernah marah sampai membentak seperti Ai. Jika dipikir-pikir lagi, rasanya ia nyaris tidak pernah marah.
"Yeah, tapi kau juga mengerikan kalau marah."
"Oh, ya?"
"Ya. Kau bahkan sampai menampar Genta."
"Oh, benar juga," kata Gina, baru menyadari perbuatannya. Gadis kecil itu menunduk memandang tangannya yang telah digunakannya untuk menampar temannya. Ia jadi merasa bersalah pada Genta. Ia pun heran sendiri dengan tindakannya. Ia tak pernah menggunakan kekerasan sebelum ini. "Hmm... aku harus minta maaf padanya nanti. Aku tak bermaksud menamparnya, kau tahu? Aku hanya terbawa emosi," kata Gina akhirnya.
"Katakan itu pada Genta."
Gina mengangguk. "Ya, aku akan mengatakannya nanti."
Conan memandang gadis yang berjalan di sampingnya dengan bertanya-tanya. Belum lama ini gadis itu tampak mengerikan karena marah, namun sekarang ia telah kembali seperti biasa seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Gina seolah-olah telah melupakan kesalahan Genta tadi. Anak itu bahkan terang-terangan mengatakan maksudnya untuk minta maaf pada Genta. Conan pun menilai bahwa Gina adalah orang yang tidak mudah marah, namun sekalinya marah akan sangat menakutkan. Mungkin peribahasa diam-diam menghanyutkan cocok untuk gadis itu. Di balik wataknya yang pendiam, Gina begitu berbahaya jika marah.
Sesuai rencana, Gina dan Conan pergi ke toko daging untuk membeli daging. Menurut Conan, di sana harganya lebih murah dibandingkan harga di supermarket. Setelah membeli daging, mereka pergi ke supermarket untuk berkumpul dengan anak-anak lain sesuai janji. Di sanalah masalah muncul. Conan langsung panik ketika mendengar dari Genta dan Mitsuhiko bahwa Ai terekam dalam video yang diunggah Agasa di internet. Bukan hanya Conan saja, Ai juga ikut-ikutan panik sambil bergumam beberapa kali bahwa seharusnya ia tak ada di video itu. Kedua remaja yang menyusut itu semakin panik ketika tahu bahwa Sera-lah yang menemukan Ai dalam video itu. Gina memerhatikan mereka dan mulai mengingat-ingat kasus apa yang terjadi kali ini.
Ai mencoba menghubungi Agasa dengan ponselnya, namun tidak kunjung dijawab. Dengan panik Conan bergegas berlari keluar dari supermarket, diikuti Ai yang sama paniknya serta Genta dan Mitsuhiko yang masih tak mengerti dengan apa yang terjadi. Gina tidak segera mengejar mereka karena ia kebingungan dengan barang-barang belanjaan yang ditinggalkan teman-temannya. Akhirnya Gina menitipkan semua barang belanjaan itu pada bagian penitipan barang sebelum berlari mengejar mereka, masih sambil mengingat-ingat kasus apa yang terjadi kali ini.
Pertanyaan Gina terjawab begitu ia sampai di rumah Agasa dan melihat pria tua itu terduduk lemas setelah pingsan beberapa menit. Ketika ia melihat tumpahan kopi serta karpet yang hilang bersama Ayumi, Gina semakin yakin kalau ingatannya tidak salah.
Penculikan Ayumi untuk mencuri karpet antik Agasa.
Gina sudah tahu kunci dari kasus ini, tapi ia merasa tidak seharusnya membeberkan semua itu pada teman-temannya. Siapa dia? Dia bukan detektif. Gina tak ingin disangka memiliki kemampuan analisis setara atau bahkan melebihi Conan karena nyatanya ia memang tidak sehebat itu dalam analisis kasus kriminal. Lagi pula, ia tak ingin Conan dan Ai semakin mencurigainya. Mereka sudah cukup curiga dengan kejeniusannya dalam bidang akademik serta kelakuannya yang terlalu dewasa untuk ukuran anak-anak.
Conan membuka laptop Agasa, mencari-cari video yang menurut teman-temannya merekam Ai. Setelah menemukan video itu, ia dan Ai terkejut karena mendapati wajah Ai yang yang terpantul di kacamata Agasa. Setelah melihat hal itu, mereka semua mau tak mau memiliki dugaan bahwa penculik salah mengira Ayumi sebagai Ai. Conan juga menambahkan teori penculikan Ayumi dengan mengatakan bahwa mungkin saja si penculik melilit Ayumi dengan karpet setelah melumpuhkan Agasa. Setelah itu Genta menyalahkan dirinya sendiri karena berpikir bahwa Ayumi diculik karena ia menendang bola ke dalam panci kare dan jika ia tak melakukan itu, mereka semua tak perlu meninggalkan rumah Agasa dan memberi kesempatan pada penculik untuk menculik Ayumi. Ai tidak setuju pada pendapat Genta dan justru menyalahkan dirinya sendiri dengan wajah panik dan ketakutan yang luar biasa. Setelah itu ia dan Conan berbisik-bisik, membuat Mitsuhiko dan Genta memandang mereka dengan heran dan penasaran sedangkan Gina hanya melihat mereka berdua sambil mendesah pelan.
Mereka ini. Kalau mau bicara tentang organisasi, seharusnya mereka tidak melakukannya sedekat ini dengan anak-anak...
Ai dan Conan berhenti berbisik-bisik setelah Genta dan Mitsuhiko menyela mereka. Setelah itu mereka semua memikirkan cara untuk menemukan Ayumi. Conan mengatakan bahwa ia tak bisa melacak Ayumi dengan kacamatanya karena lencana detektif Ayumi ada di rumah Agasa. Tak lama setelah itu, terdengar dering ponsel dari dalam vas. Anak-anak memeriksa isi vas itu dan mendapati ponsel Ayumi di sana ditempeli kertas bertuliskan "baca pesan dan ikuti petunjuk". Conan memeriksa isi pesan itu dan menemukan pesan yang dikirim oleh nomor Agasa. Saat itulah Agasa baru menyadari bahwa ponselnya dicuri.
"Jadi? Apa kata pesan itu?" tanya Gina.
"'Cari kucing ini! Seharusnya ada di sekitar sana. Kirim pesan ke ponsel ini jika kau menemukannya. Sebagai ganti kucing, putrimu akan dilepaskan. Tentu saja jika kau menghubungi polisi, nyawa putrimu akan melayang...'"
Gina dan teman-temannya melongok ingin melihat gambar kucing yang dimaksud Conan, seekor kucing berbulu kelabu.
"A-apa maksudnya itu?" tanya Mitsuhiko.
"A-apakah karena kucing itu mereka menculik Ayumi?" tambah Genta tak percaya.
"Sepertinya begitu..." jawab Conan.
"Paling tidak sekarang kita tahu bahwa jika kita tak segera menemukan kucing itu, Yoshida-san akan berada dalam bahaya," kata Ai.
Setelah itu Conan mengirimkan pesan yang diterima ponsel Ayumi itu kepada seluruh temannya. Mereka pun berpencar menjadi dua tim untuk mencari kucing dalam pesan itu. Mitsuhiko, Ai, dan Genta berada dalam satu tim, sedangkan tim yang lain terdiri dari Gina, Conan, dan Agasa. Mereka semua mencari sampai matahari hampir tenggelam, namun tak ada satu pun dari mereka yang berhasil menemukan kucing itu.
"Tidakkah sebaiknya kita bertanya lebih jauh bagaimana ciri-ciri kucing itu? Misalnya saja ukurannya. Kita tak tahu pasti kucing itu sebesar apa hanya lewat gambar itu. Mungkin juga sebaiknya kita bertanya tempat-tempat seperti apa yang biasa dikunjungi kucing itu dan apa saja yang disukainya. Kalau mencari seperti ini terus, sampai besok pagi pun mungkin kucing itu takkan ketemu," kata Gina dengan napas terengah-engah setelah berlarian berkeliling kota mencari kucing kelabu itu. Saat ini ia tengah mengambil napas sejenak bersama Agasa dan Conan.
"Aku sudah bertanya soal ukuran kucing itu, tapi sampai sekarang tak ada balasan," balas Conan yang juga ngos-ngosan.
"Apakah ada kontak lain dari penculik?" tanya Agasa.
"Tidak ada. Sama sekali tak ada kontak apa-apa."
"Ja-jangan-jangan mereka sudah menyerah mencari kucing itu dan Ayumi-kun sudah..."
"Jangan bodoh! Mana mungkin orang yang begitu inginnya menemukan kucing sampai menculik anak kecil akan menyerah begitu saja?" sergah Conan. Kemudian, tiba-tiba ponsel Ayumi yang dipegangnya berdering.
"Hei, apakah itu pesan dari penculik?" tanya Gina buru-buru.
"Y-ya, sepertinya begitu..." Conan membuka pesan itu untuk membacanya dan ketika ia telah membacanya, ia sangat terkejut. Ternyata si penculik telah menemukan kucing itu dan mengatakan bahwa Ayumi sudah dilepaskan di dekat pembuangan sampah di daerah apartemen blok 3. Conan segera menghubungi kelompok Ai yang mencari di sana. Setelah itu, ia, Agasa, dan Gina menunggu balasan dari Ai dan setelah Ai memberitahu mereka bahwa Ayumi telah ditemukan, barulah mereka merasa lega dan berjalan pulang ke rumah Agasa.
"Syukurlah, Ayumi-kun selamat," kata Agasa begitu mereka semua telah berkumpul kembali di rumahnya.
"Kelihatannya kau juga tidak terluka," kata Ai sambil memandang Ayumi dengan lega.
"Ya," balas Ayumi sambil tersenyum.
"Ponselku juga dikembalikan bersama Ayumi. Karpetku pun kembali dan walaupun bagian belakangnya kotor, bagian atasnya tidak ternoda sedikit pun," kata Agasa lagi sambil melirik karpet bermotifnya yang dikembalikan bersama Ayumi.
"Tapi penculik itu jahat sekali," komentar Genta.
"Benar! Mereka meminta bantuan kita untuk menemukan kucing itu dan sama sekali tak berterima kasih ketika kucing itu akhirnya ditemukan. Mereka malah membuang Ayumi-chan di tempat sampah," kata Mitsuhiko setuju.
"Mereka bilang kucing itu sangat berharga, lho," kata Ayumi.
"Eh?" Conan terkejut memandang Ayumi. "Kau mendengar suara pelakunya?"
"Ya, tapi suara mereka aneh dan tinggi," kata Ayumi lagi.
"Jadi mereka menggunakan gas helium!"
"Lalu, apakah para pelaku itu mengatakan hal lain?" tanya Ai.
"Mm... mereka sangat panik. Mereka bilang kucing itu adalah kucing kesayangan tuan mereka dan jika sampai hilang, mereka akan berada dalam masalah," jawab Ayumi. Kemudian ia menjelaskan lebih rinci mengenai para pelaku yang menculiknya setelah teman-temannya satu per satu terus mengajukan pertanyaan. Ayumi mengatakan pada mereka bahwa pelakunya terdiri dari dua orang dan mereka mengira Agasa memungut kucing tuan mereka. Para pelaku itu menggunakan semacam penutup kepala yang berlubang di bagian mata dan mulut. Mereka sempat mengeluarkan Ayumi dari gulungan karpet dan memberinya minuman, setelah itu mereka memasukkan Ayumi dalam gulungan karpet lagi dan menanyakan apakah ia bisa bernapas atau tidak setelah berada dalam gulungan. Mereka juga mengatakan pada Ayumi bahwa alasan mereka menggulungnya dalam karpet adalah karena mereka tidak membawa apa-apa selain kandang kucing.
Setelah mendengar cerita Ayumi, Ai pun menyimpulkan bahwa para pelaku itu kehilangan kucing tuan mereka yang kaya raya dan karena takut, mereka menculik Ayumi dan memaksa Agasa untuk membantu mereka mencari kucing itu, namun Conan tidak setuju dengan kesimpulan Ai. Menurutnya ada yang janggal dengan para pelaku itu. Menurutnya tidak mungkin para pelaku itu yakin dapat menerobos masuk ke rumah Agasa hanya berbekal sebuah stun gun jika mereka tidak tahu bahwa di rumah hanya ada Ayumi dan Agasa. Selain itu, anak-anak hanya keluar dalam waktu tak sampai 30 menit. Tidak mungkin dalam waktu sesingkat itu para pelaku bisa membuat Agasa pingsan, memeriksa seisi rumah dan memastikan bahwa tak ada kucing di sana, dan menahan Ayumi dengan gulungan karpet sekaligus. Apa lagi mereka juga berhasil menemukan ponsel Agasa dan Ayumi. Menurut Conan, para pelaku itu tahu bahwa rumah Agasa hanya dihuni oleh Ai dan Agasa dan bahwa kelima anak yang lain adalah teman-teman Ai yang sering bermain ke rumah mereka dan mereka semua memiliki ponsel.
"Tapi bagaimana mereka bisa tahu?" tanya Mitsuhiko.
"Profesor, apakah ada orang-orang yang datang ke sini baru-baru ini?" tanya Conan pada Agasa.
"Ya, tiga kali rumahku kedatangan tamu," jawab Agasa. Setelah itu Agasa melanjutkan bahwa para tamu itu datang setelah melihat video vasnya. Sementara Agasa menceritakan orang-orang yang yang pernah datang ke rumahnya untuk memeriksa vas antik, Gina menemukan noda kopi di telinga dan pakaian Ayumi. Ia berjalan mendekati karpet untuk memeriksa apakah ada noda kopi juga di atas karpet itu. Gina tidak menemukannya. Kemudian ia berjongkok untuk mengendusnya. Gina bisa mencium aroma kopi samar-samar, nyaris tak tercium. Jika karpet itu memang karpet yang dibawa keluar dari rumah Agasa, seharusnya karpet itu memiliki noda kopi dari baju Ayumi dan seharusnya aroma kopi yang tercium lebih kuat.
Sepertinya semua sesuai manga. Karpet ini memang palsu, batin Gina. Kemudian ia menoleh ke arah Conan yang sekarang sedang menonton video kucing russian blue Eri Kisaki yang rupanya sama persis dengan gambar kucing dari para penculik. Setelah itu Ai dan yang lain menyadari noda kopi di baju dan telinga Ayumi, mengalihkan perhatian Conan. Hanya beberapa detik setelah itu, Gina melihat Conan memandang karpet yang berada tepat di sebelah gadis itu yang masih berjongkok, lalu tak sengaja mata mereka saling bertatapan.
Conan menatap Gina agak lama, dalam hati ia bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan gadis itu dengan berjongkok di sisi karpet, namun setelah melihat gadis itu mengangguk serius padanya, Conan akhirnya mengerti. Gina juga menyadari kepalsuan karpet itu.
"Jadi, kau sudah memeriksa karpet ini?" tanya Conan pelan pada Gina ketika ia sudah berada di dekat karpet.
"Ya. Tak ada noda kopi. Bau kopi pun nyaris tak tercium," jawab Gina.
Conan berjongkok untuk memeriksa karpet itu dan seperti kata-kata Gina, ia memang tak melihat noda dan hanya mencium bau kopi yang sangat samar. Jika hidungnya tidak tajam, bau itu mungkin saja takkan tercium.
"Tidak salah lagi, motif penculikan mereka bukan karena kucing, tapi karena karpet ini," kata Conan akhirnya.
"Kau tahu siapa pelakunya?"
"Ya," balas Conan dengan senyum percaya dirinya. Setelah itu, ia melarang Ayumi untuk mandi dan mulai menjelaskan analisisnya tentang kebenaran di balik penculikan Ayumi. Berdasarkan hasil pemikirannya, Conan berpendapat bahwa pelakunya adalah pasangan suami-istri yang memeriksa vas antik hanya dengan kaca pembesar. Menurutnya pada saat itu mereka justru memeriksa karpet dengan kaca pembesar itu.
Ai bergegas browsing di internet, mencari alamat si pelaku yang berdasarkan teori Conan seharusnya memiliki toko karpet bahkan sebelum Conan menyuruhnya dan dalam waktu singkat, gadis itu telah menemukannya. Mereka semua pun menyusun rencana untuk menangkap para pelaku itu setelah mendapatkan konfirmasi dari Agasa bahwa foto orang yang ditemukan Ai memang foto pelaku.
Sesuai rencana yang mereka susun, Agasa dan anak-anak pergi ke toko milik pelaku dengan membawa karpet palsu. Karena si pelaku tidak ada, maka mereka pergi ke rumahnya setelah menanyakan alamatnya dari penjaga toko. Si pelaku mempersilahkan Agasa dan anak-anak masuk ke rumahnya setelah Agasa mengatakan bahwa ia ingin si pelaku mengecek karpet miliknya. Istri sang pelaku juga bersedia repot-repot membuatkan mereka minuman.
Si pelaku menyatakan bahwa karpet Agasa adalah karpet tiruan. Kemudian, Conan yang kini berada di dekat sebuah gulungan karpet yang ada di ruangan yang sama bertanya apakah gulungan karpet itu asli. Dengan gugup si pelaku mengiyakan, lalu kali ini Conan dan Ai menyinggung sebuah foto yang mereka temukan di dekat karpet, membuat anak-anak yang lain berkumpul mengelilingi mereka untuk melihat foto itu. Rupanya foto itu adalah foto karpet yang mirip dengan karpet Agasa. Anak-anak pun memutuskan untuk membuka gulungan karpet itu, lalu menemukan bahwa karpet itu adalah karpet yang mirip karpet palsu Agasa. Tak hanya sampai di situ, anak-anak juga memastikan bahwa mereka menunjukkan noda dan bau kopi serta bekas kopi di telinga Ayumi pada suami-istri pelaku pencurian itu, membuat pasangan itu akhirnya mengakui kejahatan mereka. Gina tidak begitu terlibat dalam aksi anak-anak. Ia hanya tersenyum menyaksikan mereka menyudutkan para pelaku bersama Agasa.
Agasa segera menelepon polisi begitu pasangan suami-istri itu mengakui perbuatan mereka. Tak lama kemudian polisi datang dan menggiring para pelaku ke kantor polisi. Agasa hendak membawa pulang karpetnya setelah ia memberikan keterangan kepada polisi, namun polisi melarangnya karena karpet itu adalah barang bukti. Polisi membutuhkannya untuk memproses kasus tersebut dan mungkin baru akan dikembalikan setelah beberapa bulan. Hal ini sangat jelas membuat Agasa sedih karena ia sudah punya niat ingin menjual karpet itu untuk memperbaiki mobilnya. Ia pun pulang bersama anak-anak dengan hati murung.
Gina meminta Agasa mampir ke supermarket untuk mengambil barang belanjaan mereka yang dititipkan di sana. Setelah sampai di sana, Gina dan anak-anak yang lain pun turun dari mobil untuk mengambil barang belanjaan. Di sanalah Gina meminta maaf pada Genta, menyatakan bahwa ia tidak bermaksud menamparnya dan bahwa ia terlalu terbawa emosi saat itu. Genta dengan salah tingkah mengangguk dan menyatakan bahwa ia memaafkannya. Ia juga minta maaf lagi karena telah mengacaukan acara makan kare mereka. Gina pun tersenyum dan mengangguk, lega karena sekarang ia dan Genta telah benar-benar berdamai. Setelah itu, mereka berjalan kembali ke mobil begitu semua barang belanjaan telah diambil. Sebelum masuk ke dalam mobil, Gina menghampiri Conan. Ada hal yang harus ia bicarakan dengannya demi kebaikan detektif gegabah itu.
"Sepertinya kau dan Ai juga punya rahasia, ya?" bisik Gina di telinga Conan, membuat detektif cilik itu terperanjat kaget.
"A-apa maksudmu?" tanya Conan sambil berusaha untuk sebisa mungkin terlihat tidak gugup.
"Kau dan Ai bisik-bisik berdua saja tadi. Mencurigakan," kata Gina lagi. "Kalau Ai juga punya rahasia denganmu, aku tak ragu Profesor juga punya rahasia dengan kalian."
"Kami hanya berbisik-bisik tentang penculikan Ayumi, kok," kilah Conan.
"Kalau begitu kalian tak perlu merahasiakannya dariku. Kalian tak perlu merahasiakannya dari Genta dan Mitsuhiko. Ayumi juga teman kami," balas Gina. "Conan, aku tidak bodoh. Aku tahu kalau ada hal lain yang kalian bicarakan."
Conan terpaku memandang Gina. Gadis itu balas memandangnya dengan serius, dengan ekspresi yang tidak biasanya ada di wajah anak-anak berusia tujuh tahun. Melihat Gina membuat Conan teringat pada Ai, gadis bertubuh anak-anak namun berjiwa dewasa. Gina yang sekarang tampak seperti itu, seperti orang dewasa yang berada dalam tubuh anak-anak. Tak hanya itu, Gina yang sekarang berada di depan matanya membuat Conan merinding, sama seperti ketika detektif itu pertama kali bertemu Ai. Siapa gadis di depannya ini? Conan tahu kalau Gina Shilmani memang jelas berusia tujuh tahun. Ia yakin kalau Gina Shilmani bukan korban APTX, jadi mengapa ia memiliki perasaan bahwa Gina sama seperti dirinya dan Ai? Siapa sebenarnya gadis kecil ini?
"Aku takkan memaksamu memberitahukan rahasia kalian padaku," kata Gina lagi. "Aku takkan ikut campur dengan rahasia kalian, tapi kalian harus lebih berhati-hati di dekatku. Jangan sampai aku malah mengetahui rahasia kalian karena kalian bertindak ceroboh, misalnya seperti bisik-bisik yang kalian lakukan tadi. I'm quite a clever girl and you already know that, Conan."
Gina tersenyum tipis, lalu berjalan mendahului Conan memasuki mobil Agasa. Conan masih terpaku memandang gadis itu. Ia terdiam, hanyut dalam kata-kata terakhir Gina yang masih terngiang di kepalanya hingga Mitsuhiko memanggilnya, membuat Conan tersadar dari lamunannya sendiri dan bergegas masuk ke mobil. Selama perjalanan pulang, diam-diam ia memandang Gina yang duduk di depan bersama Ayumi dengan tatapan mata yang tajam. Benak sang detektif dipenuhi pertanyaan dan keraguan tentang gadis asal Inggris itu. Dalam hatinya ia berkali-kali mengingatkan dirinya sendiri untuk segera memperingatkan Ai dan Agasa. Ia harus memperingatkan mereka untuk lebih berhati-hati di dekat gadis kecil itu.
TBC
Mumpung lagi luang, saya nyempetin diri buat ngelanjutin cerita ini, tapi masalahnya waktu luang saya sendiri juga terbatas, jadi mohon maaf apabila saya tiba-tiba berhenti update dalam waktu lama. Maafin saya yaa... Mudah-mudahan pembaca tetap setia menunggu kelanjutan fic ini. Terima kasih banyak atas dukungannya selama ini dan seperti biasa, review please ;)
