Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho, tapi OC saya milik saya.
CHAPTER 23
I made a mistake. Big mistake.
Gina mendesah ketika ia lagi-lagi merasakan tatapan waspada kedua temannya, Ai dan Conan, yang berjalan berdampingan di belakangnya sementara ia sendiri berjalan berdampingan dengan Ayumi di belakang Genta dan Mitsuhiko dalam perjalanan pulang sekolah. Sejak kasus karpet Profesor Agasa, kedua remaja yang menyusut itu seolah-olah menganggapnya sebagai tersangka kasus kriminal. Mereka tampak berhati-hati dan menjaga jarak meskipun masih bicara normal padanya. Anak-anak yang lain mungkin tak menyadari, tapi Gina sangat sadar kalau mereka berdua menjadi lebih waspada di sekitarnya.
Aku memang menyuruh mereka berhati-hati di depanku, tapi tak kusangka mereka akan bertindak waspada sampai sejauh ini, batin Gina. Dalam hati ia tahu kalau kepercayaan Conan yang telah ia dapatkan sebelumnya kini menghilang entah ke mana berkat kata-katanya sendiri. Mulutmu harimaumu. Sekarang Gina benar-benar paham arti peribahasa itu.
Sheesh... ini semua gara-gara ulahku waktu itu! Seharusnya aku tak memperingatkan Conan dengan cara seperti itu! batin Gina lagi. Ia pun tak habis pikir mengapa Ai dan Conan masih bertingkah sehati-hati itu meskipun kasus karpet Agasa sudah lama berlalu dan belum lama ini mereka menikmati film Gomera lagi bersama-sama di bioskop. Gina sudah berperilaku sealami mungkin, tidak terlalu dewasa, namun juga tidak kekanak-kanakan karena sifat kekanak-kanakan bukan sifatnya sejak awal dan Ai serta Conan sudah tahu itu. Acara nonton bareng mereka saat itu terasa baik-baik saja meskipun begitu pulang mereka harus berhadapan dengan kasus vandalisme mobil yang diselingi kisah romantis Chiba dan Miike. Mereka juga baru-baru ini pergi kemping bersama lagi setelah Conan mengalami kasus penculikan dan tak lama setelah itu mereka makan barbecue bersama di rumah sepasang suami-istri walaupun pada akhirnya mereka terjebak kasus lagi, tapi kelihatannya semua kegembiraan yang telah mereka lewati bersama tidak berpengaruh pada kecurigaan Ai dan Conan terhadap Gina.
Gina merasa Conan lebih mencurigainya dibandingkan Ai. Tatapan tajam detektif itu sering terasa menusuknya dari belakang, kapan pun dan di mana pun mereka berada. Kecurigaan Conan, apa pun itu, memang takkan terbukti. Apa yang bisa dicurigainya dari identitas Gina Shilmani yang jelas-jelas asli dan terdaftar dalam negara? Gina punya akte kelahiran dan paspor asli dari Inggris! Gina juga yakin kalau Conan yang berwatak realistis tidak akan sampai berpikir kalau tubuh Gina dihuni oleh jiwa Lana yang sudah remaja. Gina tak perlu khawatir pada identitasnya, tapi tetap saja, dicurigai itu sama sekali tidak enak, apa lagi jika dicurigai oleh teman sendiri.
Gina sudah berulang kali berpikir bahwa ia harus mengembalikan kepercayaan Conan dan Ai padanya. Mereka harus percaya padanya. Mereka harus tahu kalau Gina bukan musuh mereka. Tapi bagaimana caranya? Dipikir sedalam apa pun, Gina tak bisa menemukan jawabannya selain bahwa ia harus tetap berteman baik dengan mereka dan memenuhi janjinya pada Conan untuk tidak ikut campur dalam urusan rahasia mereka. Selain itu, kalau dipikir lebih jauh lagi, ia tidak mengkhianati kepercayaan mereka. Ia tidak mengkhianati pertemanan mereka selama ini. Ia hanya memberi mereka nasihat untuk berhati-hati dalam menjaga rahasia mereka. Bukankah hal semacam itu yang harus dilakukan seorang teman? Mengingatkan temannya jika temannya berbuat salah?
Pada akhirnya, Gina menghibur diri dengan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Conan dan Ai hanya sedang menuruti nasihatnya untuk berhati-hati di sekitarnya. Gina tak perlu merasa bersalah atau tertekan karena ia tidak melakukan kesalahan. Gina berharap kelakuan mereka yang selalu seolah-olah mencurigainya itu akan segera hilang dengan sendirinya.
Setelah diwaspadai selama ini, Gina merasa lebih terbiasa walaupun dalam hati ia masih merasa cukup kecewa. Ia sudah menerima kecurigaan teman-temannya dan ia sudah memutuskan akan memberikan kesempatan pada mereka untuk menilai dirinya. Karena itu, kali ini pun saat mereka pulang sekolah bersama, Gina bertingkah seolah-olah tak ada masalah di antara mereka, seolah-olah mereka masih berteman baik meskipun dalam hati ia merasa kecewa dan cukup lelah menghadapi kecurigaan mereka.
Begitu sampai di rumah, Gina bisa dengan cepat melupakan kecurigaan Ai dan Conan untuk sesaat karena ada tulisan-tulisan ilmiah Erika yang harus dipelajarinya. Jika sedang tidak memelajari tulisan Erika, Gina akan bermain dengan Miyuki, lagi-lagi beradu catur atau bermain teka-teki atau mendengarkan dongeng-dongeng yang diceritakan Miyuki. Terkadang Gina akan menonton Miyuki memasak di dapur dan malam harinya gadis itu akan belajar dan mengerjakan tugas atau mengisi teka-teki silang dan rubrik sudoku di majalah. Terkadang ia juga menemani pamannya menonton berita atau acara olahraga di televisi. Gina masih punya banyak kegiatan yang bisa mengalihkan perhatiannya dari kecurigaan Ai dan Conan.
Tapi pada akhirnya kesabaran Gina mencapai batas.
Ketika suatu hari grup detektif cilik menghampirinya di kelas 1-C pada jam istirahat untuk mengajaknya ke kantor polisi sebagai model pamflet 'pencegahan kejahatan terhadap anak-anak', gadis asal Inggris itu menolak tanpa pikir panjang dengan tegas sekaligus jengkel karena mood-nya sedang buruk gara-gara Conan yang masih dengan keras kepala mencurigainya.
"Eeehh? Kenapa?" tanya Ayumi tak mengerti.
"Kita kan, grup detektif cilik. Kita semua harus kompak!" tambah Genta tidak terima.
"Aku bukan orang Jepang," jawab Gina asal.
"Tapi ibumu orang Jepang, kan?" tanya Conan. "Kau masih anak-anak, artinya menurut hukum Jepang, kau belum wajib memilih kewarganegaraan. Selain itu, setahuku Inggris mengizinkan kewarganegaraan ganda, jadi sekarang kau masih berkewarganegaraan ganda, Inggris dan Jepang."
Kata-kata Conan membuat Lana tersadar kalau sekarang ia sedang menjadi Gina. Lana memang murni berkewarganegaraan Inggris, tapi Gina yang ibunya orang Jepang juga punya kewarganegaraan Jepang. Lana benar-benar lupa akan hal ini.
"Benar, Gina-san. Kau bisa menjadi model untuk kepolisian Jepang," kata Mitsuhiko setuju.
"Nah, no, thank you," tolak Gina lagi. "Aku tidak punya niat jadi model atau selebriti. Kalian saja yang pergi."
"T-tapi..." Ayumi tampak keberatan. Melihat wajah gadis itu, Gina menjadi merasa bersalah, tapi ia sudah bertekad untuk tidak ikut berfoto sebagai model bagi kepolisian Jepang. Bagaimana pun juga, ia bukan Gina, tapi Lana. Rasanya ada yang salah ketika ia menjadi model negara lain selain tanah airnya. Selain itu, belakangan ini berada di dekat Conan dan Ai membuatnya sering sekali bad mood. Gina ingin menghindari hal itu.
"Maaf, ya, tapi aku benar-benar tak mau," kata Gina lagi pada teman-temannya. "Lagi pula campur tanganku dalam kasus-kasus belum sebanyak kalian, jadi aku merasa tidak pantas menjadi model."
"Be-begitu, ya?" kata Mitsuhiko. Dari wajahnya, Gina tahu kalau bocah itu merasa kecewa dengan keputusannya.
"Maaf, ya, teman-teman," kata Gina lagi sambil membungkuk. Apa boleh buat. Ia sudah bertekad bulat kali ini.
"Ya sudah, kalau begitu kami takkan memaksamu," kata Ai mencoba mencairkan suasana yang sempat terasa muram. Conan juga kemudian mengatakan bahwa kalau memang Gina sudah membulatkan keputusan, grup detektif cilik akan menghargainya. Gina berterima kasih pada mereka karena telah menerima keputusannya. Setelah itu, anak-anak grup detektif cilik pun berjalan kembali ke kelas mereka. Ketika melihat mereka telah berbalik itulah, tiba-tiba Gina teringat sesuatu.
"Ai, Conan," panggilnya pada kedua remaja yang menyusut, "kalian berdua akan ikut difoto jadi model?"
Conan dan Ai berbalik memandang Gina, kemudian saling pandang satu sama lain. Mereka jelas tak mengerti mengapa tiba-tiba Gina bertanya seperti itu.
"Ya, aku ikut," kata Conan.
"Aku juga," kata Ai. "Memangnya ada apa?" tambahnya.
Gina mengerjap sesaat. "O-oh, tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu. Sudah, ya, aku kembali ke kelas," katanya sambil melambai singkat pada teman-temannya sebelum masuk ke kelas 1-C. Sekilas Gina menangkap pandangan curiga sekaligus heran di wajah Ai dan Conan. Gina tahu pertanyaannya barusan akan terdengar aneh bagi mereka. Mengapa ia hanya bertanya pada mereka? Mengapa ia peduli pada keputusan mereka? Mungkin pertanyaan semacam itu yang sekarang muncul di kepala Ai dan Conan.
Apa mereka benar-benar akan jadi model? pikir Gina setelah ia kembali duduk di bangkunya. Bukankah keputusan itu akan berbahaya? Wajah mereka akan tersebar luas ke seluruh Tokyo, bahkan mungkin ke seluruh Jepang. Bagaimana jika organisasi hitam melihat mereka? Well, Conan sudah terkenal sebagai KID Killer dan sejauh ini ia tidak mendapat masalah, tapi bagaimana dengan Ai? Bagaimana jika organisasi itu mengenali wajah masa kecilnya? Kalau sampai hal itu terjadi, identitas aslinya akan terbongkar dan nyawa orang-orang di sekitarnya akan berada dalam bahaya.
Masa' sih mereka mengabaikan bahaya sepenting itu? Masa' sih mereka serius mau jadi model?
Gina merasa cemas ketika memikirkan bahaya yang akan dihadapi jika sampai identitas Ai dan Conan diketahui organisasi gara-gara foto mereka di pamflet kepolisian, namun sejurus kemudian rasa cemas itu berkurang. Bukannya mulai berkeringat dingin seperti biasanya, Gina justru bisa menyunggingkan senyum acuh tak acuhnya.
Heh! Mana mungkin nyawa mereka dalam bahaya. Aku tahu betul kalau mereka masih punya banyak kasus di masa depan. Tak ada gunanya mencemaskan mereka, Lana. Lebih baik cemaskan dirimu sendiri yang terlanjur berteman dengan Sherry dan magnet mayat itu.
Gina masih bad mood jika memikirkan Ai dan Conan, jadi daripada memikirkan mereka dan membuat suasana hatinya tambah buruk, ia memilih untuk bercakap-cakap dengan teman sekelasnya sampai waktu istirahat usai.
Ketika hari pemrotetan tiba, Gina berada di rumahnya, sibuk membaca majalah-majalah Ken atau tulisan-tulisan Erika sementara teman-temannya pergi ke kantor polisi untuk menjadi model pamflet. Cuaca musim dingin yang menusuk tulang membuat Gina malas keluar rumah. Selain itu, sejak kemarin ia merasa tidak enak badan seolah-olah mau flu. Karena itu Gina memilih mengurung diri di rumah, bermalas-malasan di bawah kotatsu yang hangat. Ia sedang mengerjakan teka-teki silang dalam salah satu majalah Ken ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Mitsuhiko meneleponnya.
"Hello? Mitsuhiko?" kata Gina begitu ponselnya telah tersambung dengan ponsel Mitsuhiko. Detik berikutnya ia mendengar suara panik anak lelaki itu yang mengatakan bahwa Detektif Takagi disandera.
"Disandera bagaimana?" tanya Gina tak mengerti. Mitsuhiko pun menceritakan padanya bahwa seorang kakek mengirimkan tablet untuk Miwako dan ternyata tablet itu menampilkan video Takagi yang terikat dalam keadaan telentang di sebuah papan kayu dengan tali di sekeliling lehernya. Kalau sampai jatuh dari papan itu, Takagi akan tewas tercekik. Mereka masih tak tahu siapa nama pelakunya dan di mana Takagi disandera.
Takagi disandera? Gina mengingat-ingat kasus dalam manga yang sesuai dengan kasus kali ini. Takagi disandera... tablet... Memangnya ada kasus seperti itu?
Whatever. Toh pada akhirnya dia akan selamat selama ada Conan, batin Gina pada akhirnya. Ia merasa malas berpikir. "Mitsuhiko? Apakah polisi sudah mulai menyelidikinya?"
"Ya, sekarang polisi sedang ramai membahas kasus ini. Mereka ingin menyelamatkan Detektif Takagi," jawab Mitsuhiko lewat telepon.
"Apakah kau bersama Conan dan Ai? Apakah Profesor juga ada di sana?"
"Eh?" Mitsuhiko terdengar bingung sesaat. "Ada Conan-kun di sini. Profesor dan Haibara-san tidak ikut, soalnya Profesor sakit dan Haibara-san harus menemaninya di rumah."
"Oh, begitu..." Gina merasa lega karena mendapati Ai di rumah dan tidak jadi ikut difoto sebagai model kepolisian. Dengan begini, ia tidak perlu cemas identitas Ai akan diketahui organisasi.
"Memangnya ada apa dengan mereka?" tanya Mitsuhiko.
"A-ah, tidak ada apa-apa," balas Gina buru-buru. "Aku tak bisa ke sana, Mitsuhiko. Kelihatannya aku sedang tidak enak badan. Kalau butuh bantuanku, kau bisa meneleponku kapan saja." Setelah itu ia dan Mitsuhiko memutuskan hubungan telepon. Gina kembali mengerjakan teka-teki silangnya dengan santai, sama sekali tidak memikirkan kasus penculikan Takagi karena ia yakin semua akan baik-baik saja pada akhirnya.
Mitsuhiko baru meneleponnya ketika hari sudah malam. Anak lelaki itu menceritakan padanya bahwa Takagi masih belum ditemukan, begitu juga dengan pelakunya. Kepolisian Tokyo sedang gempar karena hal itu. Gina tidak berkomentar apa-apa. Ia hanya mendengarkan dan menutup perbincangan mereka dengan mengatakan pada Mitsuhiko bahwa Takagi akan baik-baik saja karena ia adalah seorang polisi yang kuat. Mitsuhiko sempat bertanya apakah Gina mau ikut ke kantor polisi bersama mereka besok karena mereka sudah berencana akan ke sana, tapi Gina menolak dengan alasan ia sakit. Ia memang sakit. Ia sudah mulai bersin-bersin. Hampir pasti besok ia takkan diizinkan keluar rumah oleh pamannya.
Sesuai dugaannya, keesokan paginya sakit Gina semakin parah. Bukan hanya bersin-bersin, ia juga demam dan pusing sehingga terpaksa menghabiskan waktu dengan berbaring di dalam kamarnya. Mitsuhiko mengabarkan padanya bahwa ia jadi ke kantor polisi bersama anak-anak detektif yang lain selain Ai. Ia juga memberikan ucapan semoga lekas sembuh untuk Gina. Gina berterima kasih atas perhatian temannya dan seperti kemarin, ia mengatakan pada Mitsuhiko untuk menghubunginya jika butuh bantuan.
Setelah berjam-jam berbaring di tempat tidurnya dengan bosan dan tak bertenaga, tiba-tiba saja ponsel Gina berdering lagi. Mitsuhiko mengiriminya sebuah gambar. Gina membuka pesan gambar itu dan melihat sosok Takagi dengan seekor burung bertengger di punggungnya.
Gina-san, kau tahu burung apa ini? Ini gagak, kan?
Gina memerhatikan gambar burung itu. Ini kan, jackdow, pikirnya. Eh, tapi jackdow juga termasuk gagak, sih.
Gina membalas pesan Mitsuhiko dengan mengatakan bahwa burung itu adalah gagak yang disebut jackdow. Gina juga menambahkan bahwa ia cukup sering melihat burung itu di Inggris.
Malam harinya, Mitsuhiko menelepon Gina lagi, mengatakan bahwa pelaku yang menyandera Takagi telah bunuh diri dan mereka telah menemukan lokasi tempat Takagi kemungkinan berada berkat burung gagak yang tampak dalam video. Seperti kata Gina, burung itu memang jackdow, gagak yang sering ditemukan di Eropa, namun langka sekali di Jepang dan sekalinya ada di Jepang, biasanya burung itu ditemukan di Hokkaido. Berdasarkan hal itu ditambah fenomena pilar matahari yang juga tampak di video, polisi akhirnya memutuskan untuk mencari Takagi di Hokkaido. Mitsuhiko menyatakan kecemasannya karena di papan kayu tempat Takagi terbaring terdapat bom yang aktif. Jika para polisi terlambat menemukan Takagi, maka pria itu akan tewas karena ledakan bom. Setelah menceritakan perkembangan kasus pada Gina, Mitsuhiko mengucapkan selamat malam sebagai penutup percakapan mereka.
Setelah selesai bicara dengan Mitsuhiko, Gina memandang ponselnya sesaat sebelum meletakkannya lagi di meja belajarnya. Kemudian dengan terhuyung-huyung gadis itu naik lagi ke atas tempat tidurnya dan segera berbaring di balik selimut tebalnya. Kedua matanya terasa panas dan kepalanya sangat pusing gara-gara demamnya yang belum turun. Sepertinya hari ini bukan hanya Takagi saja yang menderita, Gina pun menderita.
Gina merasa lebih baik keesokan paginya. Pusingnya sudah berkurang dan ia sudah tidak bersin-bersin lagi. Demamnya juga sudah turun. Gina sempat menanyakan pada Mitsuhiko tentang Takagi lewat ponsel dan anak lelaki itu menjawab bahwa para polisi masih mencari di Hokkaido. Baru ketika hari sudah cukup siang, Gina menerima pesan dari Mitsuhiko bahwa Takagi telah ditemukan dan diselamatkan oleh polisi. Gina tersenyum ketika membaca pesan itu, merasa lega karena ternyata kasus ini berakhir bahagia meskipun ia tidak bisa mengingatnya (lebih tepatnya ia malas mengingatnya karena flunya sudah cukup menyita perhatiannya). Setelah itu Gina menelepon Mitsuhiko untuk menanyakan lebih jauh bagaimana polisi bisa menemukan Takagi di Hokkaido. Mitsuhiko menjawab bahwa semua itu berkat bantuan analisis yang dilakukan Shiratori, Agasa, Conan, dan Ai. Mitsuhiko juga mengatakan bahwa keempat orang itu ke kantor polisi tadi pagi untuk menyampaikan analisis mereka. Kabar ini membuat Gina terkejut.
"Ai juga ikut ke kantor polisi?" tanyanya.
"Ya, bersama Profesor juga," balas Mitsuhiko dari ponselnya. Jawaban itu membuat Gina merasa cemas lagi karena ia takut jika Ai juga ikut difoto dalam pamflet kepolisian.
"Oh iya, apakah kalian jadi difoto untuk pamflet?" tanya Gina lagi.
"Ooh, itu? Kami sudah berfoto kemarin lusa. Sayang sekali kau dan Haibara-san tidak bisa ikut. Grup detektif cilik jadi kurang dua orang."
"O-oh, begitu ya..." Gina menghirup napas lega. Kalau begitu ia tak perlu mencemaskan soal Ai difoto untuk pamflet. Sekarang sudah jelas kalau Ai juga tak ikut pemrotetan. "Yang penting Detektif Takagi selamat. Terima kasih telah mengabariku, Mitsuhiko," kata Gina lagi. Kemudian Mitsuhiko menanyakan kabarnya dan apakah sakitnya sudah sembuh. Gina menjawab bahwa ia masih sakit, tapi keadaannya telah lebih baik dari kemarin. Setelah itu mereka berdua mengakhiri percakapan dengan Gina yang memutuskan hubungan telepon terlebih dahulu.
Bagus, Ai tidak ada dalam pamflet, batin Gina lega. Ia benar-benar tak bisa berhenti mencemaskan Conan dan Ai sekalipun ia tahu kalau jalan mereka dalam cerita Detektif Conan masih panjang, sekalipun ia yakin kalau kedua remaja yang menyusut itu takkan mati dalam waktu dekat. Kenyataan ini tidak membuat Gina senang. Sebaliknya, ia malah kesal karena perasaan semacam ini menghalanginya untuk membenci Conan dan Ai setelah semua kecurigaan mereka terhadapnya selama ini. Oh, betapa ia ingin sekali marah sejadi-jadinya pada mereka berdua! Tapi sayang, hatinya berkali-kali menolak hal semacam itu.
Gina mendesah, merasa bodoh karena memikirkan kedua korban APTX itu. Sekarang bukan saatnya untuk memikirkan mereka, tidak ketika ia sendiri sedang berjuang melawan virus-virus flu yang menyerang tubuhnya. Gina pun kembali tidur meringkuk di balik selimutnya dan baru bangun lagi sejam kemudian ketika Miyuki datang membawakannya bubur telur hangat untuk makan siang.
"Apa kata Gina-chan?" Ayumi memandang Mitsuhiko yang baru saja memutuskan hubungan di ponselnya dengan wajah berseri-seri. Anak-anak grup detektif cilik yang lain juga memandang anak lelaki itu dengan penasaran sambil menyantap cake mereka di rumah Agasa. Mereka semua berkumpul di rumah sang profesor untuk mendengar kabar tentang Takagi dan sekarang setelah Mitsuhiko mengabarkan Gina hal yang sama lewat telepon, Conan, Ai, Ayumi, dan Genta jadi ingin tahu apa komentar gadis asal Inggris itu.
"Dia bersyukur karena Detektif Takagi berhasil diselamatkan. Dia juga bilang kalau sakitnya tidak separah kemarin," jawab Mitsuhiko sambil tersenyum lebar.
"Benarkah? Syukurlah!" kata Ayumi gembira.
"Mitsuhiko, tadi sepertinya kalian membicarakan tentang Profesor. Memangnya apa yang dia katakan?" tanya Conan, teringat Mitsuhiko sempat berkata tentang semacam "bersama Profesor" pada Gina.
"Oh, Gina-san bertanya apakah Haibara-san juga ikut ke kantor polisi tadi pagi, jadi kukatakan bahwa Haibara-san juga pergi bersama Profesor ke sana," jawab Mitsuhiko.
"Pasti Gina-chan juga khawatir pada Profesor yang baru sembuh," kata Ayumi sambil tersenyum.
"Sudah jelas!" balas Genta setuju. Kemudian ia, Mitsuhiko, dan Ayumi dengan riang membicarakan bahwa andai saja Gina sehat dan bisa melihat video kasus Takagi bersama mereka, Takagi mungkin berhasil diselamatkan sejak kemarin. Mereka beranggapan bahwa Takagi tak bisa lebih cepat diselamatkan karena grup detektif cilik kurang kekuatan gara-gara anggotanya tidak lengkap. Sementara itu, Conan menyantap cake-nya sambil berpikir sendiri, membuat Ai memandangnya dengan bertanya-tanya namun tidak mengatakan apa-apa. Gadis ilmuwan itu tahu kalau ada hal tentang Gina yang mengganggu pikiran Conan dan ia akan bertanya tentang itu nanti jika Genta, Mitsuhiko, dan Ayumi sudah jauh dari jarak dengar.
Setelah selesai menyantap cake, Ayumi, Mitsuhiko, dan Genta dengan gembira bermain video game, memberi peluang bagi Ai dan Conan untuk mendiskusikan topik yang serius. Ai bertanya pada Conan apa gerangan yang sedang dipikirkan detektif itu dan apakah detektif itu sedang memikirkan hal-hal yang ada hubungannya dengan Gina. Conan terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk.
"Haibara, anak itu memang aneh," kata Conan.
"Kita berdua sudah tahu kalau dia anak yang aneh. Kita sudah tahu kalau ada hal-hal yang janggal tentangnya," balas Ai, namun ketika melihat ekspresi serius sang detektif, Ai jadi bertambah heran. "Ada apa? Kalau soal keanehannya, bukankah kita sudah sepakat untuk menunggu sampai ingatannya kembali?"
Conan memandang Ai sesaat tanpa berkata-kata. Ia memikirkan ucapan ilmuwan itu barusan. Memang benar, pada akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menunggu sampai ingatan Gina kembali bahkan meskipun rupanya Air on the G String belum cukup untuk mengembalikan ingatannya. Mereka membuat keputusan itu setelah Gina bercerita tentang video-videonya yang direkam Ken di masa lalu. Mereka bahkan bisa menontonnya secara online. Mereka melihat keluarga Gina di sana: kakek-neneknya dan ayah-ibunya, serta tentu saja Ken sendiri yang merekam video-video itu. Mereka juga melihat Gina bersama teman-temannya di sekolah lamanya. Gina jelas tak punya masalah dengan keluarganya maupun teman-temannya dan ia terlihat sangat baik-baik saja dalam video. Terlepas dari kejanggalan-kejanggalan Gina yang mereka temukan, mereka memutuskan untuk menunggu sampai ingatan anak itu kembali karena yang terpenting adalah Gina bukan korban APTX dan jika melihat latar belakangnya dari video-video itu, rasanya apa pun masalah yang pernah dialami gadis itu di masa lalu tidak mungkin berhubungan dengan organisasi hitam. Mereka berdua telah memutuskan untuk tidak menyelidik gadis kecil itu lebih jauh dan menghargai privasinya, tapi sekarang masalahnya jadi lebih rumit. Sekarang Conan jadi tak yakin kalau menunggu adalah keputusan terbaik. Ia menjadi ragu sejak Gina bicara padanya di akhir kasus pencurian karpet Agasa.
"Dia lebih dari sekedar anak jenius yang cepat dewasa, Haibara," kata Conan lagi dengan mimik lebih serius.
"Tapi dia bukan korban APTX, Kudo-kun. Kau terlalu paranoid."
"Aku tidak paranoid," bantah Conan. Ia sangat yakin kalau firasatnya tentang Gina bukan masalah paranoid. Ia tahu ada yang salah dengan anak itu.
"Kalau begitu apa? Kupikir kita sudah menerima teori amnesia disosiatif Gina-san yang bisa mengubah kepribadiannya."
"Ya, tapi teori itu tak bisa menjelaskan kecerdasannya yang meningkat terlalu tajam, jadi aku tak bisa sepenuhnya menerima teori itu," balas Conan tajam. "Selain itu, masih ada hal lain yang aneh..." Conan menyentuh dagunya dengan salah satu tangannya, kebiasaan yang selalu dilakukannya ketika sedang berpikir serius. "Haibara, kau ingat saat dia bertanya pada kita apakah kita akan ikut pemrotetan untuk pamflet kepolisian?"
"Ya. Saat itu pertanyaannya memang aneh. Untuk apa dia bertanya seperti itu pada kita?" kata Ai sambil mengangguk.
"Tadi dia juga menanyakan pada Mitsuhiko apakah kau dan Profesor datang ke kantor polisi tadi pagi. Dalam percakapan berikutnya kudengar Mitsuhiko membahas pemrotetan, jadi sudah jelas kalau Gina bertanya pada Mitsuhiko apakah kita semua sudah melakukan pemrotetan tepat setelah ia menanyakan apakah kau datang ke kantor polisi."
Kedua mata Ai membesar setelah ia memahami pemikiran Conan. "Kau ingin mengatakan bahwa dia...?"
Conan mengangguk. "Dia seolah-olah tahu kalau kau harus berhati-hati dengan fotomu."
"Tapi kenapa dia bisa tahu?" tanya Ai. Ia mulai merasa cemas.
"Mungkin dia menyadarinya saat kasus pencurian karpet Profesor. Saat itu kita sangat panik ketika melihat wajahmu ada dalam video Profesor," jawab Conan. "Di hari yang sama juga dia memperingatkanku untuk berhati-hati dalam menjaga rahasia kita," lanjutnya.
"Jadi dia tahu? Jangan bilang kalau dia juga tahu tentang organisasi," kata Ai dengan perasaan semakin cemas.
"Kurasa dia belum tahu tentang organisasi, tapi dia tahu bahwa kita punya rahasia yang serius. Dia juga pernah berkata padaku bahwa dia tak punya niat mencampuri urusan kita ataupun mencari tahu rahasia kita."
"Ya, aku ingat kau pernah mengatakan hal semacam itu padaku dan Profesor. Dia hanya memintamu untuk berhati-hati, jangan sampai karena kau ceroboh dia jadi tahu rahasia kita. Kau juga pernah bilang bahwa dia menekankan padamu bahwa dia adalah gadis yang cerdas," kata Ai, ingat betul percakapannya dengan Profesor dan Conan yang terjadi tak lama setelah kasus pencurian karpet berakhir dan sejak saat itu, baik ia maupun Conan bersikap lebih waspada di dekat Gina.
Conan mengangguk. "Kelihatannya dia bukan musuh dan kita bisa memercayainya, tapi..."
"Tapi?"
"Tapi... entahlah, Haibara. Aku tak bisa tenang jika memikirkannya," kata Conan akhirnya. "Aku memang sempat berpikir bahwa dia hanya anak-anak yang mungkin lebih dewasa dan lebih cerdas dari usianya, tapi dia yang saat itu—saat dia memperingatkanku untuk berhati-hati dalam menjaga rahasia—dia benar-benar membuatku merinding, seolah-olah aku tidak bicara dengan anak-anak, tapi justru dengan orang dewasa."
"A-apa?" Ai terbelalak. "Dia membuatmu apa?"
"Dia membuatku merinding, ya," kata Conan lagi sambil mengangguk serius. "Dia yang saat itu membuatku merinding karena seolah-olah aku bicara dengan orang dewasa, bukan anak-anak."
"Kau tidak mengatakan hal semacam itu padaku sebelumnya."
"Yeah, aku tak mau membebanimu dengan hal yang aku sendiri masih ragu."
Ai tak tahu harus berkata apa. Seorang anak kecil seperti Gina Shilmani mampu membuat Conan Edogawa alias Shinichi Kudo merinding? Conan jelas bukan orang penakut. Yang bisa membuatnya merinding hanya orang-orang organisasi hitam dan Kaitou KID. Benar, hanya orang-orang seberbahaya dan secerdik mereka, tapi sampai Gina Shilmani juga?
"Bukan hanya itu saja," lanjut Conan. "Senyum tipisnya saat itu, auranya ketika memarahi Genta—Haibara, dia mengerikan. Aku tahu kalau dia berbeda dari organisasi hitam, tapi tetap saja dia mengerikan. Ada yang salah dengan kepribadiannya yang baru. Aku jadi bertanya-tanya apakah semua hal membingungkan ini ada kaitannya dengan reaksi ekstremnya pada kekerasan. Maksudku, dia selalu pucat pasi dan berkeringat dingin jika melihat kekerasan, tapi saat marah dia bisa semenakutkan itu. Aneh, kan?"
Ai lagi-lagi terdiam, tak mampu berkata-kata. Di satu sisi ia tidak bisa membantah kata-kata Conan karena detektif itu memang benar, di sisi lain ia takjub melihat Conan segelisah ini ketika membicarakan orang lain, terlebih orang itu hanya anak kecil. Jarang sekali Conan bicara tentang orang lain padanya. Jarang sekali Conan mengemukakan ketidaknyamanannya terhadap orang lain padanya. Mungkin malah sekarang adalah pertama kalinya Ai mendapati Conan membicarakan orang yang menurutnya mencurigakan sekaligus mengerikan padanya. Ai tak pernah melihat Conan sebingung ini sebelumnya. Kalau Gina mampu membuat Conan sampai seperti ini, maka sudah jelas gadis asal Inggris itu memang bukan gadis sembarangan. Sudah jelas ada yang aneh dengan gadis itu.
"Lalu satu lagi, sepertinya dia juga memperhitungkan identitasku," tambah Conan tiba-tiba, membuat kedua mata Ai lagi-lagi membesar.
"Apakah maksudmu dia mencurigai identitasmu, Kudo-kun?" tanya Ai buru-buru.
"Bukan begitu." Conan menggeleng. "Dia juga bertanya padaku apakah aku akan ikut difoto untuk pamflet, ingat? Untuk apa dia menanyakan hal itu padaku? Aku sudah sering masuk berita sebagai KID killer. Lagi pula, saat kasus pencurian karpet Profesor, kita hanya panik karena wajahmu ada dalam video Profesor di internet, tak ada hubungannya denganku. Jadi kenapa dia harus bertanya apakah aku akan difoto untuk pamflet kepolisian? Dia seolah-olah tahu kalau kerahasiaan identitasku sama pentingnya dengan kerahasiaan identitasmu."
"Tapi dari mana dia bisa tahu hal semacam itu?" tanya Ai lagi dengan cemas.
"Entahlah, tapi mungkin saja karena dia pandai membaca situasi. Dia sudah tahu bahwa aku, kau, dan Profesor punya rahasia yang sama. Bukan hal yang aneh bila dia mengasumsikan bahwa jika identitasmu sangat penting sampai-sampai wajahmu tak boleh ada di video, maka hal yang kurang lebih sama juga berlaku untukku."
Untuk sesaat kedua remaja yang menyusut itu terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing hingga akhirnya Ai bersuara.
"Kudo-kun, anak itu berbahaya."
"Tidak. Dia tidak berbahaya." Conan menggeleng. "Aku yakin dia bisa dipercaya. Aku yakin kita bisa memegang janjinya untuk tidak berusaha mencampuri urusan kita ataupun rahasia kita."
"Tapi tadi kau sendiri yang bilang kalau dia mengerikan," kata Ai lagi.
"Ya, dia memang mengerikan. Dia mengerikan karena dia menyembunyikan sesuatu dari kita—setidaknya menurut firasatku begitu—dan jika memang demikian, maka anak itu adalah anak yang sangat mencurigakan," balas Conan lagi. "Haibara, apakah menurutmu kita harus menyelidikinya lagi? Aku tahu kalau kita sudah memutuskan untuk menunggu sampai ingatannya kembali karena yang terpenting adalah anak itu bukan korban APTX dan tak ada hubungannya dengan organisasi, tapi sekarang..."
"Sekarang keadaannya berbeda." Ai melanjutkan perkataan Conan yang menggantung. "Menurutmu begitu, kan?"
Conan mengangguk. "Aku tak bisa menyangkal bahwa mungkin saja ada hal yang lebih serius tentang gadis itu dan sejauh ini, mungkin kita baru tahu permukaannya saja."
"Hal yang lebih serius?"
"Ya." Conan lagi-lagi mengangguk. "Ada yang janggal dengan gadis itu, bukan? Reaksi ekstremnya terhadap kekerasan, misteri penindasan yang dialaminya, dan peningkatan kecerdasannya yang terlalu tajam. Kita sudah sepakat untuk tidak memikirkan hal-hal ini lebih jauh dan memilih untuk menunggu ingatannya kembali, tapi sejak aku merasakan aura anehnya saat itu—dia yang terkesan seperti kita, orang dewasa yang terjebak dalam tubuh anak-anak, padahal kita berdua yakin kalau dia bukan korban APTX—aku selalu merasa tidak nyaman, Haibara. Aku tak yakin teorimu tentang kepribadian baru akibat amnesia disosiatif itu bisa menjelaskan hal yang satu ini dan kau sendiri juga tak tahu mengapa kecerdasannya bisa meningkat setajam itu. Selain itu... yah, dengan semua keanehannya, aku takkan heran jika anak itu entah bagaimana pernah terlibat suatu kejahatan serius. Paling tidak kita harus benar-benar memastikan jika masalah anak itu tak ada hubungannya dengan organisasi hitam. Bukan begitu, Haibara?"
Ai terdiam sesaat, berpikir. Kemudian, akhirnya ia mengangguk perlahan-lahan.
"Mungkin kau ada benarnya," katanya setuju. "Baiklah, katakan saja kita akan menyelidikinya. Kau punya ide bagaimana kita akan melakukannya?"
"Sekarang kita tak bisa mengandalkan kedua orang tuaku lagi, jadi kita harus mencari tahu sendiri. Pertama-tama tentang orang tuanya. Kita harus menyelidiki riwayat orang tuanya."
"Caranya?"
"Ibunya adalah peneliti, bukan? Kita bisa memanfaatkan internet dan koneksi Profesor dengan ilmuwan-ilmuwan lain untuk mencari tahu tentang ibunya," jawab Conan. "Lalu untuk ayahnya, ibuku telah memberiku nama dan website restoran milik orang tua Gina. Ibuku juga pernah bilang kalau restoran itu dirintis ayahnya Gina. Kupikir kita bisa mencari tahu lewat website restoran itu sebagai langkah awal."
Ai mengangguk. "Menurutmu apakah anak itu akan curiga jika tiba-tiba kita tertarik pada orang tuanya?"
"Kurasa tidak jika kita melakukannya dengan tepat. Dia jelas takkan curiga jika Ayumi, Genta, atau Mitsuhiko yang menanyakan tentang orang tuanya padanya."
"Oh, jadi entah bagaimana, kita harus membuat anak-anak itu penasaran dengan orang tua Gina, ya?"
Conan menyeringai. "Tepat."
"Baiklah, Tantei-san, terserahmu saja, tapi kurasa aku tak perlu mengingatkanmu untuk tetap waspada di sekitarnya, bukan?"
"Aku tahu, tenang saja," balas Conan. "Mengapa kita tidak memengaruhi anak-anak itu sekarang? Jika beruntung, mungkin besok Gina akan menceritakan orang tuanya pada kita dengan senang hati."
Ai tersenyum tipis membalas seringai sang detektif. Ia pun turun dari kursi dan berjalan menuju ketiga anak yang sedang asyik bermain game diikuti Conan yang berjalan di sisinya. Keduanya bergabung dengan anak-anak itu dan menonton permainan seru mereka, namun otak para korban apotoxin itu sibuk memikirkan skenario yang akan membuat Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko tertarik pada orang tua Gina.
TBC
Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan oleh penulis, jadi review please :)
