Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho, tapi OC saya milik saya.
CHAPTER 24
Grup detektif cilik menjadi aneh belakangan ini. Tiba-tiba saja mereka tertarik pada keluarga Gina, pada orang tua Gina. Mulanya Gina tak curiga sedikit pun ketika sepulang sekolah Ayumi bertanya padanya apakah semua tulisan Erika sudah berhasil dikumpulkannya dan Gina menjawab bahwa masih ada beberapa yang belum didapatkannya. Setelah itu Ai berkata bahwa ia bisa meminta bantuan Agasa lagi untuk mengumpulkan jurnal-jurnal Erika. Gina berterima kasih, tapi ia menolak dengan halus. Pasalnya Agasa telah sering membantunya dan sekarang ini tak ada lagi yang bisa dilakukan profesor itu untuk membantunya. Kemudian Mitsuhiko bertanya siapakah yang bisa membantunya jika Agasa sudah tidak bisa dan Gina pun menjawab bahwa kakek dan neneknya dari pihak ibunya bisa membantunya. Gina mengatakan bahwa kakek-neneknya menyimpan tulisan-tulisan Erika sewaktu masih muda, jadi mungkin ia tak hanya akan menemukan tulisan karya ilmiah saja. Mungkin saja ia juga akan menemukan buku harian ibunya di sana. Kemudian Conan nimbrung dengan menanyakan di mana kakek-neneknya tinggal karena ia pikir seharusnya Gina sudah mendapatkan apa yang diinginkannya jika mereka tinggal di Jepang, jadi Gina pun berterus terang memberitahu teman-temannya bahwa kakek-neneknya tinggal di Indonesia.
Setelah sesi tanya-jawab hari itu, Gina masih tidak curiga sedikit pun, tapi keesokan harinya anak-anak itu masih saja memperlihatkan rasa penasaran mereka pada orang tua Gina. Mereka mulai menanyakan pekerjaan Erika lebih rinci, seperti di mana tempat kerjanya, apa saja yang sudah ditelitinya, dan bidang apa yang dikuasainya. Mereka juga menanyakan pekerjaan Abizar, seperti usaha apa yang dijalaninya dan sudah berapa tahun restoran ayahnya Gina tersebut berdiri dan bagaimana nasibnya sekarang setelah pemiliknya meninggal dunia. Gina sendiri tidak tahu banyak tentang pekerjaan Erika dan Abizar. Gina tak tahu di mana Erika bekerja dan Gina tak begitu tahu sudah berapa lama restoran ayahnya berdiri, tapi ia tahu bidang apa yang dikuasai Erika setelah gadis itu membaca jurnal-jurnalnya. Ia juga tahu bagaimana nasib restoran ayahnya sekarang, yaitu dikelola oleh sepupu Abizar sampai Gina cukup umur untuk melanjutkan usaha tersebut.
Gina merasa semakin tidak nyaman dengan semakin seringnya mereka bertanya tentang orang tuanya sehingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk menjawab dengan lebih hati-hati. Terkadang ia malah tidak menjawab dengan alasan bahwa ia tak tahu atau tak ingat. Ia mulai curiga dan kecurigaannya menjadi semakin nyata ketika suatu hari sepulang sekolah dirinya mendapati Ai dan Conan berbisik-bisik berdua di belakang anak-anak yang lain setelah diskusi tentang orang tua Gina berakhir. Kecurigaannya semakin terbukti ketika di hari yang sama tiba-tiba saja Conan memutuskan untuk mampir ke rumah Agasa bersama Ai dengan alasan memperbaiki ikat pinggang bolanya. Anak-anak grup detektif cilik yang lain ingin ikut, tapi mereka punya acara sendiri di rumah masing-masing sehingga memutuskan untuk langsung pulang. Gina tidak punya alasan khusus, namun ia memutuskan untuk pulang karena perasaan tak nyamannya tentang Ai dan Conan.
Mereka akan memberitahu Profesor tentang orang tuaku, batin Gina sambil berjalan pulang ke rumahnya. Mereka mencurigaiku. Mereka mencurigai keluargaku. Kenapa mereka mencurigaiku sampai seperti itu?
Sesampainya di rumah, Gina menghabiskan waktu membaca koran yang baru datang tadi pagi sambil sekalian mengasah kemampuannya membaca huruf-huruf Jepang, tapi kepalanya tak bisa berhenti memikirkan tingkah aneh grup detektif cilik, terutama Ai dan Conan. Apa yang ingin diketahui kedua orang itu dari orang tua Gina? Gina sendiri sudah memberikan cukup banyak informasi tentang Erika dan Abizar pada mereka sebelum ia sempat mencurigai mereka. Ia memberitahu mereka bahwa penelitian Erika seringkali berhubungan dengan enzim dan genetika. Ia memberitahu mereka bahwa Abizar sudah merintis restorannya sebelum menikah walaupun Gina tak tahu pasti sudah berapa tahun restoran itu berdiri. Apa yang ingin diketahui Conan dan Ai dari semua informasi itu?
Tapi yang memulai perbincangan tentang orang tuaku bukan mereka, melainkan Ayumi. Yang sering bertanya padaku bukan mereka, melainkan Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko, jadi hanya kebetulan saja mereka mendapatkan informasi tentang orang tuaku, kan? Kalau memang begitu, kenapa mereka berdua terkesan seolah-olah sedang menyelidikiku? pikir Gina heran. Untuk beberapa saat ia menyerah membaca koran dan memutuskan untuk berbaring di atas sofa sambil memejamkan kedua matanya. Kepalanya masih dibuat pusing oleh keanehan grup detektif cilik hingga tiba-tiba saja sebuah gagasan terlintas di otaknya.
Jangan-jangan Conan dan Ai sudah mengatur supaya anak-anak itu jadi penasaran pada orang tuaku. Kalau anak-anak itu yang bertanya padaku, sudah jelas aku tidak akan curiga.
Gina mendesah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kalau gagasannya barusan memang benar, maka ia sudah berbuat salah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan anak-anak itu. Ia sudah melakukan kesalahan dengan tidak mencurigai pertanyaan-pertanyaan itu lebih cepat.
Tapi untuk apa mereka menanyakan orang tuaku? Untuk apa mereka menyelidiki keluargaku? pikir Gina lagi, masih belum mengerti mengapa Conan dan Ai perlu menyelidiki orang tuanya. Apakah karena kecerdasannya yang jauh di atas rata-rata maka mereka ingin menyelidiki orang tuanya? Untuk saat ini alasan tersebut terdengar paling masuk akal bagi Gina, tapi entah mengapa alasan itu tidak memuaskan batinnya. Ia merasa masih ada hal lain yang tidak diketahuinya, hal lain yang membuat Ai dan Conan memutuskan untuk menyelidiki Erika dan Abizar.
Memikirkan kemungkinan tersebut membuat Gina merasa cemas. Gadis itu tahu bahwa riwayat Erika dan Abizar bukan riwayat biasa karena Ken pernah bercerita bahwa Erika sempat dikejar-kejar semacam ilmuwan gila dan orang-orang perusahaan yang aneh karena sebuah penelitian "berbahaya dan tidak pantas" yang ditolaknya. Karena hal itu juga Abizar meminta Erika untuk berhenti kerja. Kedengarannya pasangan suami-istri itu baru bisa tenang setelah Erika memutuskan untuk berhenti kerja. Riwayat semacam itu jelas bukan riwayat sembarangan. Gina masih dalam tahap menyelidiki riwayat mereka, jadi ia tak bisa membiarkan orang lain tahu sebelum ia tahu. Ia tak boleh membuat Conan dan Ai mengetahui riwayat Erika dan Abizar lebih jauh.
Sejak memiliki teori tentang Conan dan Ai yang menyelidiki keluarganya, Gina tidak bisa tenang jika berada di dekat kedua remaja yang menyusut itu. Ia menjadi lebih pendiam dari sebelumnya dan lebih menjaga jarak dengan mereka. Ia masih bersikap santai dan bersahabat di depan Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko, namun ia selalu menjadi lebih waspada jika berhadapan dengan Conan dan Ai. Setelah beberapa kali hal semacam itu terjadi, Conan dan Ai pun menjadi sadar bahwa Gina bertingkah tidak biasa di dekat mereka, bahwa gadis asal Inggris itu tampak lebih berhati-hati di sekitar mereka.
"Dia sudah sadar," kata Ai suatu hari ketika ia hanya bersama Conan dan Agasa di rumah sang profesor. "Anak itu tahu bahwa kita sedang menyelidikinya."
"Ya, mungkin kau benar," balas Conan setuju, teringat bagaimana waspadanya Gina sekarang ketika bersama mereka berdua. "Dia jelas mencurigai kita, Haibara."
"Yang artinya kita kurang berhati-hati di sekitarnya."
"Atau dia terlalu pintar sampai bisa menyadari perbuatan kita."
Ai mendesah. "Jadi apa yang harus kita lakukan mulai sekarang?"
"Hmm..." Conan tidak langsung menjawab. Ia berpikir beberapa saat, lalu bergumam, "reaksinya yang mencurigai kita memang patut diperhatikan."
"Tentu saja, mengingat itu artinya kita tertangkap basah," balas Ai dengan wajah datar.
"Bukan begitu," kata Conan lagi. "Kalau dia sampai mencurigai kita hanya karena kita ingin tahu tentang orang tuanya, itu artinya ada sesuatu yang penting yang menurutnya tidak boleh kita ketahui, kan?"
"Tapi bisa saja dia bersikap seperti itu karena merasa privasinya terganggu, kan? Seperti sedang dimata-matai. Aku juga takkan suka jika mendapati ada orang yang begitu ingin tahu tentang keluargaku," kata Ai tidak setuju.
"Tapi kenapa dia harus merasa seperti itu ketika yang bertanya adalah kita berlima, teman-temannya sendiri? Bukankah itu aneh?"
"Itu wajar, kan? Dia sudah tahu kalau kita bukan anak-anak biasa, kalau kita sama cerdasnya dengan dia. Dia juga tahu kalau kita punya rahasia serius."
"Apakah menurutmu hanya karena temanmu punya rahasia serius, lantas kau akan mencurigainya ketika dia bertanya tentang orang tuamu?" tanya Conan. "Kalau tak ada apa-apa dengan orang tuamu, kau akan menceritakan orang tuamu padanya tanpa perlu berhati-hati, kan? Kau tak perlu curiga pada temanmu, kan?"
"I-iya, sih..."
"Ya, mungkin dia memang menganggap kita sama cerdasnya dengan dirinya, karena itu dia berhati-hati ketika kita bertanya tentang orang tuanya. Orang tuanya memiliki sejarah yang tidak boleh diceritakan kepada sembarang orang, karena itu dia bersikap waspada di sekitar kita, teman-temannya yang pintar. Karena itu dia bisa rileks di dekat Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko, namun lebih berhati-hati di dekat kita."
"Tunggu dulu, mungkinkah anak itu sudah tahu bahwa kitalah yang mengatur agar Yoshida-san, Kojima-kun, dan Tsuburaya-kun jadi tertarik pada orang tuanya?" tanya Ai dengan cemas.
"Bisa jadi." Conan mengangguk. "Kurasa keputusan kita untuk menyelidiki orang tuanya tidak salah. Memang ada sesuatu yang penting dalam riwayat mereka."
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Gina-san jelas tidak memercayai kita seperti dulu. Dia jelas-jelas mencurigai kita. Ini adalah masalah, Kudo-kun," kata Ai dengan serius.
"Ya, kau benar." Conan mendesah. Ia sendiri tak tahu bagaimana cara yang tepat untuk mengembalikan kepercayaan Gina pada mereka berdua. "Bagaimana menurutmu, Profesor?"
"Eh?" Agasa mengerjap kaget. Ia yang sejak tadi hanya mendengarkan dengan seksama kini tiba-tiba saja harus terlibat dalam pembicaraan. "Ah, bagaimana, ya? Memang kedengarannya cukup merepotkan. Hmm..." Agasa berpikir beberapa saat hingga ia akhirnya mendapatkan ide. "Bagaimana jika untuk sementara ini kalian berhenti membahas keluarganya? Kalian harus bersikap lebih bersahabat dengannya. Mungkin akan lebih baik jika kalian juga menceritakan tentang keluarga kalian sendiri dan melibatkan Ayumi-kun, Genta-kun, dan Mitsuhiko-kun, jadi paling tidak Gina-kun akan merasa bahwa bukan hanya dia yang harus bercerita tentang keluarganya."
"Tapi apa bisa berhasil?" tanya Ai ragu. "Kalau Gina-san memang sudah tahu bahwa sebenarnya kitalah yang membuat anak-anak itu jadi tertarik pada orang tuanya..."
"Dia mungkin punya dugaan, tapi jika kalian bisa membuat seolah-olah dugaannya salah, tidak akan ada masalah, bukan?" kata Agasa lagi. "Dia belum tahu. Dia hanya menduga. Bagaimana mungkin dia tahu jika dia tak bersama kalian saat kalian memengaruhi anak-anak itu?"
"Dia bisa bertanya pada anak-anak itu tentang apa saja yang terjadi selama dirinya tidak ada," jawab Ai, lagi-lagi dengan tampang datar.
"Paling anak-anak itu akan menjawab bahwa mereka membicarakannya karena mencemaskan dirinya yang sakit sehingga tak bisa makan cake di rumahku, lalu karena mencemaskannya, mereka jadi teringat tentang ibunya yang adalah peneliti. Toh memang dengan skenario itu kalian memengaruhi mereka."
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara. Ai dan Conan memikirkan saran Agasa dengan serius sementara sang profesor diam menunggu reaksi mereka. Akhirnya kedua remaja itu setuju untuk mengikuti saran Agasa karena mereka tidak punya solusi lain yang lebih baik.
Keesokan harinya, seperti saran Agasa, Ai dan Conan bersikap lebih bersahabat dan lebih membaur dengan anak-anak grup detektif cilik. Mereka tidak lagi bisik-bisik berdua dengan mencurigakan dan tidak lagi memandang Gina dengan wajah curiga dan waspada. Sesuai saran Agasa juga, mereka memancing percakapan tentang keluarga lagi, membuat Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko menceritakan keluarga mereka pada Gina. Conan juga bercerita bahwa kedua orang tuanya berada di luar negeri sementara Ai bercerita bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dan sekarang ia diasuh Agasa. Gina bisa saja bertanya lebih jauh tentang keluarga kedua remaja itu, tapi ia tidak melakukannya karena tak ingin membuat mereka jadi pembohong. Lagi pula, ia sudah berjanji tidak akan mencampuri rahasia mereka.
Setelah berpisah jalan dengan teman-temannya, Gina tak bisa menahan senyum gelinya. Hmph, tiba-tiba saja mengajak anak-anak itu membicarakan keluarga... jadi sekarang mereka berdua ingin menghilangkan kecurigaanku, ya? Too bad, I won't be fooled so easily...
Gina mengingat baik-baik dalam otaknya untuk senantiasa bersahabat tapi tetap berhati-hati dengan Ai dan Conan. Entah trik macam apa lagi yang akan mereka gunakan untuk menggali informasi darinya. Ia tak boleh membiarkan mereka tahu terlalu banyak tentang keluarganya, tidak sebelum ia mengetahui segala sesuatu tentang keluarganya sendiri.
Begitu tiba di rumah, seperti biasa Gina akan menyibukkan diri dengan majalah-majalah dan koran, menonton TV, atau sekedar mengobrol dengan Miyuki. Gina tidak berpikir bahwa malam itu Ken akan pulang membawa kejutan. Gina baru menyadarinya saat makan malam, ketika Miyuki sudah pulang. Ken tersenyum lebar padanya selama mereka menyantap makan malam, membuat Gina bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan pamannya. Ketika mereka berdua telah selesai makan, barulah Ken mengumumkan kejutannya.
"Gina, kau ingin bertemu kakek dan nenekmu di Indonesia, kan?" tanya Ken membuka percakapan.
"Eh? Ya," jawab Gina heran.
"Kalau begitu, pasti kau senang jika pamanmu mengatakan bahwa kau akan segera ke sana, kan?"
Gina terdiam memandang Ken. Ekspresi gadis itu menunjukkan bahwa ia sama sekali tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Apakah kita akan pergi ke Indonesia, Paman?"
"Benar!" jawab Ken riang. "Aku sudah membeli tiket untuk penerbangan ke Indonesia jumat nanti. Kita akan berangkat setelah kau pulang sekolah."
"Sungguh?" Gina masih tidak percaya, namun ketika melihat anggukan Ken yang meyakinkan, wajahnya pun berseri-seri. "Terima kasih, Paman!"
"Sama-sama, Gina," balas Ken juga dengan wajah berseri-seri, kemudian tiba-tiba ekspresinya berubah seolah-olah teringat sesuatu. "Ah, tapi aku harus mengingatkanmu untuk bersikap baik di sana. Kakekmu menderita penyakit stroke, jadi beliau kesulitan bicara dan menggerakkan tangan. Beliau juga tidak bisa berjalan normal. Kau juga sudah tahu kalau nenekmu sudah tua, kan? Makanya kau harus jadi anak baik dan tidak merepotkan mereka."
"Ya," kata Gina sambil mengangguk. Ia baru tahu kalau ternyata kakeknya di Indonesia menderita stroke. Gina jelas tak ingin merepotkan siapa pun, terlebih orang-orang tua dan sakit seperti kakek dan neneknya. "Oh, tapi akhir minggu nanti adalah jadwal kemping grup detektif cilik. Aku harus bilang pada teman-teman bahwa aku tak bisa ikut kemping minggu ini."
"Benarkah? Aku tidak tahu," kata Ken terkejut. "Tidak apa-apa jika kau tidak kemping dengan teman-temanmu, Gina?"
"Tidak apa-apa. Aku lebih ingin mengunjungi kakek dan nenek daripada pergi kemping," balas Gina sambil tersenyum meyakinkan.
Setelah percakapan itu, Gina membantu Ken mencuci piring dan sendok bekas makannya, lalu ia segera menelepon Agasa dengan telepon rumah Ken. Ia memberitahu profesor itu bahwa ia tak bisa ikut kemping minggu ini karena harus pergi ke Indonesia. Agasa terdengar terkejut mendengar penjelasannya, tapi pria tua itu tidak berkomentar dan berpesan pada Gina untuk berhati-hati dalam perjalanan. Setelah memberitahu Agasa, Gina masuk ke kamarnya untuk belajar, namun tak lama kemudian tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ayumi meneleponnya.
"Gina-chan, kau benar-benar takkan ikut kemping?" tanya gadis kecil itu lewat ponsel. Gina cukup kaget mendengar pertanyaannya. Mengapa Ayumi bisa tahu secepat ini?
"Ya, aku harus pergi ke rumah kakek dan nenekku," jawab Gina. "Omong-omong, kau tahu dari mana kalau aku tidak akan ikut kemping?" tanyanya kemudian.
"Ai-chan memberitahuku barusan," jawab Ayumi. "Kau yakin tidak mau ikut kemping? Kali ini kita akan kemping di Gunma, lho! Kita bisa melihat bunga sakura bermekaran! Kau tahu? Bunga sakura yang mekar itu cantik sekali!"
"Aku tahu, kok. Sakura memang cantik," balas Gina, "tapi maaf, Ayumi, aku benar-benar tidak bisa. Aku harus menemui kakek dan nenekku."
"Kenapa? Apakah mereka sakit?"
"Oh, bukan begitu," balas Gina lagi, sekarang ia heran mengapa Ayumi begitu inginnya kemping bersamanya. "Sejak sadar di rumah sakit, aku belum bertemu mereka sama sekali. Kau tahu kalau aku amnesia, kan? Aku tak ingat mereka sedikit pun. Makanya aku pikir aku harus bertemu mereka mumpung ada kesempatan seperti sekarang."
"Eeehh?" Suara Ayumi terdengar kecewa, membuat Gina semakin bertanya-tanya ada apa dengan gadis itu.
"Memangnya ada apa, Ayumi?" tanya Gina akhirnya, tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Oh, umm... tidak ada apa-apa! Ayumi hanya... umm..."
Gina mengangkat alis. "Kecewa?"
"Ah! Iya! Ayumi sedikit kecewa karena tidak bisa pergi dengan Gina-chan," sahut Ayumi. "Ini pertama kalinya kita bisa melihat sakura bersama-sama, tapi Gina-chan tidak akan ikut kemping, jadi Ayumi kecewa."
"O-oh... maaf..." Gina tak tahu harus berkata apa lagi. Haruskah ia menghibur Ayumi? Tapi mengapa ia harus menghiburnya hanya karena masalah sepele seperti ini?
"Tidak apa-apa, Gina-chan, Ayumi mengerti, kok," kata Ayumi lagi. "Oh iya, Ai-chan bilang kau akan pergi ke negara apa itu? Indo... Indo..."
"Indonesia," kata Gina.
"Ya! Indonesia! Bukankah di sana ada tulisan-tulisan ibumu juga, Gina-chan?"
"Begitulah."
"Kalau begitu mudah-mudahan kau bisa menemukan semua tulisan itu," kata Ayumi, "lalu sepulang dari sana, kau harus menceritakan padaku tentang ibumu, Gina-chan! Tentang kakek dan nenekmu juga!"
Gina tersenyum tanpa sadar. "Baiklah."
"Kalau begitu sudah dulu ya, Gina-chan! Semoga liburanmu di Indonesia akan menyenangkan!"
"Ya, terima kasih, Ayumi."
Gina memutuskan hubungan teleponnya dengan Ayumi. Ia memandang ponselnya sambil tersenyum. Mengetahui ada temannya yang merasa kehilangan dirinya membuatnya merasa lebih baik. Entah kapan terakhir kalinya Lana memiliki perasaan seperti ini. Ia sudah terlalu lama tidak punya teman.
Tiba-tiba Gina merasakan ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari Mitsuhiko.
Gina-san, Haibara-san bilang kau tidak akan ikut kemping akhir minggu nanti. Benarkah?
Gina tersenyum lagi. Pesan Mitsuhiko membuatnya merasa semakin berarti bagi teman-temannya. Tak lama kemudian datang pesan lagi, kali ini dari Genta, membuat Gina tersenyum lebih lebar. Ia pun menduga bahwa pesan dari Genta kurang lebih akan sama dengan pesan Mitsuhiko.
Oi, Gina, Haibara bilang kau tidak akan ikut kemping. Lagi-lagi kau tidak setia pada grup detektif cilik!
Dugaan Gina memang tepat, tapi ia tak bisa merasa tidak kesal setelah membaca pesan dari Genta. Bocah itu harus belajar untuk menghormati keputusan orang lain dan berhenti bersikap bossy. Meskipun kesal, pada akhirnya Gina tersenyum juga karena ia tahu bahwa Genta pun menganggap kehadirannya sangat berarti.
Lana Liu sangat bersyukur karena kali ini ia benar-benar tidak sendirian.
TBC
Ada komen? Saran? Kritik? Silahkan review ;)
